Sunday, December 11, 2011

[e-book] project

Beberapa orang bilang, kenapa gak ditulis buku aja ceritanya?

Alesan saya sih, untuk saat ini, sayang sama kertas karena pastinya harus naek cetak.

Lagian kepedean banget sih emang ada yang bakal beli kalau ternyata diterbitkan?

Tapi tiap bulan ada sekitar 1,000 pengunjung masuk ke bLog, jadi kepikir untuk bikin e-book aja.

Dengan e-book orang juga teteup bisa baca walaupun offline karena tinggal download.

Selain itu juga kalau mau di-print lalu disimpen atau dipinjemin ke orang laen buat baca juga masi bisa.

Cita-cita saya sih, semakin banyak orang baca e-book ini, semakin banyak orang yang termotivasi untuk 'belajar dari dunia' - dan bukan hanya sekedar jalan-jalan kalau melancong keluar negri ^^

Sunday, November 27, 2011

Eurail versus Pesawat

Sehubungan dengan pertemuan dengan anak-anak CS Bandung kemaren,
ada beberapa pertanyaan yang muncul dari beberapa orang yang mau traveling ke Eropa.

Pertanyaannya: "Murahan mana pake Eurail pass atau pesawat ?"

Sebenernya jawaban dari pertanyaan seperti ini udah ada banyak yang bahas di forum traveler (contohnya yang saya tau milis yahoogroup Indobackpacker).

Kalau berdasarkan pengalaman saya sih, jawaban untuk pertanyaan diatas adalah:
"Tergantung."

Tergantung dimana (negara) kita traveling, berapa banyak tempat yang kita kunjungi, berapa lama mau tinggal di tempat tersebut (short/ long stay).

Pake Eurail pass menurut saya baru masuk itungan ekonomis kalau travel plan kita banyaknya di Eropa bagian utara (Skandinavia, Jerman, Prancis, Swiss, Benelux) dan kita pengen mengunjungi banyak tempat dengan waktu tinggal yang pendek (short stay, 1 hari atau kurang).

Terus terang, saya sendiri belum pernah nyobain pake Eurail pass... hihihi... soalnya menurut saya selain Eurail pass gak murah-murah amat, juga travel plan saya cenderung long stay di suatu tempat (2-3 hari). Dan saya emang prefer dapet tempat dikit tapi tinggal rada lama disuatu kota supaya bisa bener-bener explore tempat tersebut.

Selain itu, kalau kita bisa dapet promo flight murah (budget flight) bisa jadi harga tiketnya juga jauh lebih murah daripada pake Eurail pass.

Contoh budget flight misalnya Ryanair (murah, tapi pelayanan-nya jelek. Don't expect anything deh kalo naek ini, sebenernya gak murah-murah amat karena ada biaya tambahan kalau kita pesen seat, tambah bagasi, dan belinya mepet!)

Budget flight lain ada; easyjet, flybe, germanwings (gak murah-murah amat kalau gak promo).
Kalo negara tujuan kita Eropa timur bisa juga pake Wizz air.
Di Skandinavia ada flysas dan norwegian air.

Salahsatu maskapai airline favorit saya di Eropa adalah airberlin :)
Airberlin sebenernya gak termasuk budget flight, karena diluar promo bisa lumayan mahal juga harga tiketnya.
Tapiiii. . . kalau lagi promo, bisa dapet tiket seharga 29 Eur (belum termasuk tax) ampir ke smua destinasi di Eropa. Promo ini bisa kita tau kalo kita langganan newsletter-nya airberlin atau kita udah jadi member (frequent flyer). Daftar member-nya juga gratis koq.
Enaknya pake Airberlin juga kalau kita udah jadi frequent flyer - bisa ngumpulin miles yang bisa dituker jadi tiket flight gratis (kalau point miles-nya udah banyak).
Diluar keuntungan jadi frequent flyer, Airberlin juga ngasi free baggage 20 kgs- yang artinya lumayan banget kalau kita traveling dengan koper ukuran besar.

Traveling pake pesawat ada enak dan ada gak enaknya juga sih.

Enaknya ya cepet nyampe, apalagi kalo negara tujuan-nya jauh contohnya kalo traveling dari negara belahan utara (e.g. Belanda) ke bagian selatan (Spanyol, Itali, Yunani).
Kan kalo misalnya pake Eurail/ jalan darat, kebayang deh mesti duduk berapa lama dalam perjalanan . . . dan, mending kalo dapet temen sperjalanan yang asik, kalo dapet orang random yang ternyata menyebalkan ?!?

Gak enaknya, kalo traveling pake pesawat kan mesti ada waktu yang dialokasikan untuk pergi ke airport (dan beberapa airport letaknya lumayan jauh dari kota).
Juga mesti ada waktu yang disiapkan untuk check in, masukin bagasi, boarding dllsb.

Pake pesawat juga ada resiko flight-nya cancelled karena cuaca jelek (hujan gede, salju, badai) dan kalo kita punya flight yang jadwalnya berdekatan- bisa ketinggalan flight berikutnya deh!
Ini pengalaman pribadi saya waktu taun lalu mau liburan Natal di Malta, taunya flight yang di Dusseldorf di-cancel dan kita ampir aja ketinggalan flight yang dari Milan!
sleeping in dussysleeping in Dusseldorf airport :: been there, done that!

Kadang juga, jadwal keberangkatan yang gak enak (terlalu pagi, atau terlalu malem) akhirnya bikin kita mesti nginep di airport supaya gak ketinggalan flight.
Untungnya, ada website yang kasi review gimana situasi airport tersebut-
apakah aman untuk tidur, gimana kondisi airportnya.
Ini dia website-nya :) http://www.sleepinginairports.net/

Walaupun pake pesawat ada gak enaknya, tapi aku tetep vote untuk travel pake pesawat sih!

I also like the sense of flying high, and see mountains or landscape from above ^^

sunset view from inside the plane :
one of the beauty of life!


:: mountains view from above ::

Sunday, November 13, 2011

Making dreams come true

Years ago I was collecting many beautiful pictures of landscapes all around the world. Unconsciously I built dreams to go there somewhere, I love seeing new places (well who's not?) but I didn't know when and how I could really go there somewhere.

At that moment I was just started my career as a medical doctor and I loved it.

I had this huge passion to save the world and I knew I had little time for myself to travel to the new places.

And just recently 3 years ago, I had a lump in my breast, which was painful.
As a doctor I knew that I hardly had any chance for getting breast cancer, we don't have such history in our family, I didn't use any hormone therapy and my lifestyle is pretty much healthier compare to average people.
But still, I had this feeling that it could be something serious and threatening.
I made few consultations to friends and performed ultrasonography exam for mammae.

It turned out to be 'just' simple cystic in my breast tissue.

No harm at all, but I keep gone through regular USG every 6 months or so.

It was 3 years ago, and it was one of the turning points of my life.
I knew that life is too short sometime.
In very young age I saw many people died, old or young- and life could be spent worth and well or reckless and careless.
And what if I were diagnosed with fatal disease such as breast cancer, would I ever regret of something I could have done when I was healthy ?

Then I made a breakthrough in my life, as if I will probably die tomorrow- I started traveling alone, abroad.
I chose Singapore, because there my bestfriend's lived and then from there to Thailand. I was traveling alone but made friends with people through my path.

I met a girl from Canada on my first day in Thailand and we traveled together for few days, one guy from UK, one guy from France, one German girl, one couple from USA. Basically I learned that friendship is beyond race, language, culture, skin color etc.

Couple of months after I traveled to Thailand, I even met this German girl again in Berlin! Apparently world is not as big as I thought, if you're making friends all over the world!


Few months ago, when I was in Cinque Terre, Italy- I took this picture in Manarola.

It was one of the five villages in the place.

manarolaManarola :: my heaven on earth experience :)

I heard that this is a beautiful place long before I made it there, but still I got the feel that it was too good to be true when I was actually there.
And I was traveling alone (I stayed in my friend's place but I didn't tell him that I was so overwhelming with my own thought and feeling. I just kept it for myself) -
most of the times I kept notes for my travel log.

But there were times that I just couldn't even write it down and amazed by the view and my own feeling's.


Life truly has been very kind to me.

Then just few weeks ago, I came back to my home country and it was all finished.

I saw the collections of pictures that I have taken, but I still got the same feeling, all those overwhelming and amazed.


Randomly I opened a folder in my laptop, contained pictures I've collected with
places I wanna see (someday).
And there was a pict of village in Cinque terre, I couldn't tell precisely whether it was Manarola or Riomaggiore, but I am sure it was in Cinque terre. This is the pict that I mention
(I suppose it was Manarola, but from different view)

Now I really believe the power of dreams, or wishes or whatever it is,

if you want it so bad... you might go there somewhere.
(And I'm not talking only about places but also goals, achievements etc).

Friday, November 11, 2011

Erasmus Mundus :: Key to the World

Hari Kamis kemarin ada dua peristiwa penting yang terjadi,

pertama : presentasi Erasmus Mundus di Hotel Hilton, Bandung

kedua : nolongin anjing yang ngelected di depan RSHS (tapi cerita selanjutnya soal ini bakal diposting di blog laen)

Kita hanya bahas soal Erasmus Mundus aja disini . . . kenapa ?

Karena beasiswa Erasmus Mundus itulah tiket untuk jalan-jalan ke berbagai tempat ke Eropa.

Kembali ke beberapa tahun yang lampau, saat gw memutuskan pengen sekolah lagi, selain butuh ilmu (untuk nolong lebih banyak orang) juga dengan sekolah kita bisa membuka wawasan tentang dunia.

Rasanya kalo seorang dokter gak sekolah, dunianya akan berputar di sekeliling tempat praktek aja- dan buat gw yang suka hal-hal dinamis dan banyak tantangan- that would be a dead end.

Pada saat itu sebenernya gw sudah dapet posisi yang lumayan nyaman di unit penelitan, juga banyak belajar tentang penelitian sosial- bidang yang sebelumnya gak populer di kalangan orang kedokteran (dan sekarang pun masih gak populer rasanya).
But for me, I found it that could be my world.

So the journey to find a scholarship begun when I decided to pursue a master degree in Public Health.

Contoh beberapa skema beasiswa untuk bidang Public Health ditawarkan oleh beberapa institusi negara maju yang punya kerjasama dengan Indonesia e.g. AusAid dari pemerintah Australia, USAid dari pemerintah USA , Chevening dari pemerintah UK, NFP/Stuned dari pemerintah Belanda, juga Erasmus Mundus dari pemerintah Uni Eropa.

Saat itu sih gw coba masukin aja aplikasi ke beberapa institusi selama masih memenuhi syarat, tapi terus terang kepingin banget sih dapet Erasmus Mundus, dengan alasan:

1. I love Europe! I've been there before and I'd like to go back again.
Gw suka dengan kekayaan kulturnya, orang-orangnya, variasi alamnya, pokonya so much to explore.

2. I love traveling! Dan skema Erasmus Mundus memang kita belajar di 2 institusi yang berbeda di 2 negara (at least) so traveling in between is a must :-)

3. Ada program yang memang sesuai sama interest gw, dalam hal ini tropEd : International Health Degree Program.

Tahun 2010 rupa-rupanya usaha kirim beberapa aplikasi akhirnya berbuahkan hasil (dan juga keberuntungan tahun Macan kali . . . hihi . . . apa hubungannya coba).

Sebenernya waktu itu aplikasi USAid juga ternyata tembus dan udah ikutan wawancara di Jakarta, pas dikonfirm mau diambil atau engga, rasanya lebih berat berangkat ke Eropah. . .
akhirnya dilepas deh (lagian kalo berangkat ke USA, tar gw mesti seriusan belajar! Kapan travelingnya dong . . .)

Jadi, adik-adik, untuk kalian yang punya cita-cita mulia untuk memajukan bangsa, skalian juga meningkatkan kapasitas akademis, silakan mempertimbangkan untuk apply beasiswa Erasmus Mundus.
And I assure it's also going to be a ticket for a whole new world of adventure !

Friday, October 28, 2011

International (Sign) Language

Languages really do catch my interest, for so long.

Indonesian is my mother tongue but I've learned English since I was young (approx. 10-11 years old). So it's been ages English has been my second language, but still I found out that I am not as good as native speakers (of course). I would rate my English fluency something between intermediate level to advance - but then, as long as I survive with my language capability (know how to order food, find direction, even in my case, doing a literature review) I know it's not a problem whether my degree of fluency is advance or not.

HungarianHungarian:: definitely not the easiest one

Just couple of years ago, I also interested in Deutsch (German) and Français (French).
I took a private lesson, and just when I was about to master (well, master my basic lesson- that's what I mean :) I had to leave to Europe for my master program.

But then I found out that my Deutsch was actually really crap in practice, because I couldn't understand what these Germans people were saying. My Français was a bit (slightly a bit) better cause I could understand a bit- at least I got the important point of conversation- but most of the times I kept using English instead of 'parlez Français' (when I was in French speaking area).

It's so lame... I think it's all just the matter of practice and confidence of making mistakes :-)
I'm sure if I settle longer in France or French speaking regions, I'd definitely enhance my Français competency :-)

I also learned a bit of phasa Thai when I was in Thailand (for short time), but every Thai people that I met told me that I had the right accent. So it was really encouraging :-)

Also a bit of Dutch when I was in Netherlands (I was there cumulatively for almost 5 months). I didn't really learn it the way I learned Deutsch or Français. My Dutch language lesson was basically because I hang around with friends and colleagues (and people around me in public spaces :-) who speak Dutch. But I came to conclusion that in Netherlands, almost all the people that I met could speak English very well, so I didn't have to learn Dutch at all :-)

Danish, even though I stayed in Denmark for more than 6 months- is something that I gave up to master. I know how to say basic things e.g. salutations, thanks, sorry, sale/discount, but that's all.
For me it's a bit frustrated to learn, for it pronunciation is tricky - and did not sound as beautiful as French or Italiano. Sorry Danes, but this is the fact from a foreigner.

DanishDanish:: not very encouraging either

Then I also love Itali. Mi amore Italia :-)
And Italiano is a very beautiful language, they also have a lot of meanings in sentences.
For example saying thanks in Italian is 'Grazie' (just like 'Merci' in Français) it has more meaning than just 'thanks' - it's more like 'grace' or 'mercy'. Showing more feelings of compassion and thankful. I just love it.
Not to mention the rhyme when people talked, or even argued about something.
And how they categorize feminine and masculine words/ nouns (similar like French), based on, what?
Anyway, this is the language I'd like to learn more in the future.

ItalianoItaliano:: the language of love!

Sorry it took so long to come to the point, that International Sign Language is totally almost left out in my to-do-list.
I had this motivation to learn from few years back then, it keeps coming on strong nowadays.
Then I found out that I could actually learned it by myself (thanks to google). They put so many videos about it in webs. So I'm going there now.
ISL :: image taken from shutterstock

We'll see how much I'm getting serious about this in the future.

Ciao ciao!

Wednesday, October 12, 2011

AMS - SIN - CGK

Amsterdam, Okt 12

Akhirnya tiba juga saatnya meninggalkan Amsterdam, seperti biasa poknya kalo meninggalkan suatu tempat pasti aja cuacanya jelek.

Deja vu kaya di Kopenhagen, kali ini cuaca di Amsterdam juga jelek, ujan, dingin, angin. Kombinasi yang pas biar gak kangen ama Belanda.

Trus pas mau naek bus dari Diemen ke station Diemen Zuid bus-nya juga penuh banget, smua orang kayanya males pake speda jadinya pake bus.
Sampe nyempil-nyempil deket pintu gituh.

Untungnya orang Belanda baek-baek dan penuh rasa kekeluargaan (gak kaya di Denmark) jadi masi ada orang yang ngasi tempat dan juga bantuin gw ngangkat koper seberat 24 kgs (lebih berat daripada setengah badan gw).

Then, nyampe Schipol janjian ama Alice.
Dia udah gw bilangin tadi malem pokonya gak boleh sedih.
Trus sebelum dia nganter check in, gw hibahkan topi winter yang sebelumnya direbut gw pas peristiwa Sinterklaas taun lalu :)
Topi yang sama-sama kita yang pengen, tapi akhirnya gw yang dapet.
Dan sekarang topi itu jadi punya dia karena gladly I won't have winter this year (hopefully).

Juga gw kasi sabun bio dari Genova (kenang-kenangan dan juga karena koper gw overloaded). Pada akhirnya pas ditimbang ternyata koper gw kelebihan 4 kgs! Tapi sama si petugas-nya boleh dicek in juga tanpa bayar kelebihan bagasi.
Gw juga kasi alasan yang reasonable kalo sebenernya gw udah punya niat mau upgrade overbaggage tapi cuman dikasi pilihan bayar pake Dutch PIN card, which was gak smua orang punya (jadi bukan salah gw donk gak bisa upgrade bagasi in advance).
Lagian kalo ngotot tetep disuru bayar juga, gw udah nyiapin alesan kalo berat badan gw kan cuman 40 kgs (sedangkan berat rata-rata orang normal 50 kgs) dan artinya jatah gw boleh dipake untuk excess baggage donk.
Or kalo alesan gak diterima juga, tadinya Alice yang bakal bawa balik barang-barang gw untuk dipaket.
Tapi untungnya boleh masuk juga. . .

Schipol Airport di Amsterdam sendiri jadi salahsatu airport favorit gw di Eropa, karena letaknya gak terlalu jauh dari kota. Juga gampang diakses dari Amsterdam, kalau pake train cuman 20 menit perjalanan dari Centraal station (tiket 6.50 Eur)
Selaen deket juga Schipol airport banyak tempat belanja-nya, baik di terminal kedatangan maupun keberangkatan :)
Memang rencananya gak mau belanja-belanja sih saat ini, karena udah gak ada jatah lagi di bagasi. Tapi bole dong liat-liat. . .
Schipol juga lumayan gede, jadi harus diperhatikan kalau misalnya udah check in, harus liat dimana gate keberangkatan kita. Kalo engga bisa lari-lari tuh pas deket waktu boarding.

Pas waktu gw mau berangkat juga ternyata ngantri banget untuk ngelewati passport check-nya, ngantri-nya bisa panjang banget (bisa 30 menit sendiri untuk ngelewatin immigration check ini). Dan, luckily kali ini petugas yang ngecek paspor gw bukan cuman baek dan gak rese, tapi dia juga bisa bahasa Indonesia. Si petugas bule ini sempet nanya: 'Kamu tinggal dimana?' (Gw jawab: Belanda en Denmark), lalu 'Ngapain disini?' (jawab: Kuliah) dan terakhirnya bilang 'Terima kasi' (pake bahasa Indo) pas ngebalikin paspor gw ^^
Kali aje pacar/istri/kecengan dia orang Indonesia jadi bisa dikit . . .

Okeh, inilah pertama kalinya gw naek Singapore Airlines.
Dan untuk penerbangan long haul flight Amsterdam - Jakarta ada transit di Singapur.
Sengaja pas transit kemaren pilihnya rada lamaan (6 jam) supaya bisa liat-liat Changi dan juga janjian ketemuan ama Mey, my very bestfriend for ages.

Biasanya sih penerbangan middle east (Emirates, Qatar, Etihad airways) jadi pilihan utama kalo traveling ke/dari Eropa - karena biasanya mreka punya penawaran tiket paling ekonomis.
Pernah juga sih pake KLM tapi ternyata setelan kursinya gak terlalu nyaman dan makanannya juga biasa aja. Tapi kenapa kali ini pake SQ simply bcos ada promo tiket one way cuman 500 Eur. Lagian reputasinya SQ kan lumayan terkenal juga, jadi skalian nyobain deh ^^

Review untuk Singapore Airlines: Overall ***

Friendliness (Steward/ress) ****
kecuali 1 cewe yang entah kenapa consistently ignored me, yang laen smuanya oke.


Makanan *** (sejujurnya Emirates lebih enak)


Comfortness *** (Layar monitor untuk nontonnya lebih kecil daripada Emirates)

Friday, October 7, 2011

Ketinggalan pesawat [ tragedi berulang ]

Oke. Mungkin sudah rencana Tuhan kalo selama Eurotrip summer kemaren sebenernya gw menghemat banyak pengeluaran (terutama akomodasi) karena nginep gratis di tempat temen-temen CS. Dan juga dari sekian banyak flight yang gw ambil ke beberapa tempat selama 1 bulan e.g. Copenhagen-Bergen, Bergen-Stockholm, Stockholm-Roma, Nice-Copenhagen, gak ada satupun flight yang ketinggalan atau bermasalah.

Ini tiba-tiba aja dalam 1 minggu gw kehilangan 250 Euro (jumlah yang gak sedikit buat gw) gara-gara ketinggalan 2 flights!

Begini ceritanya . . . .

#1. Ketinggalan flight pertama (Genova, Italia)

Ini kejadian di akhir September, saat itu gw udah seminggu lebih stay di tempat temen di Itali- sebelum rencananya berangkat ke Barcelona untuk acara konferensi International Health.
Untuk acara konferensi itu gw udah nyiapin presentasi poster (jauh-jauh hari, diprint di Amsterdam seharga 70 Eur dan dilipet pas masuk pesawat sama petugas Ryanair. Vervelend!)

Beberapa jam sebelum keberangkatan ke aeroporto di Genova (Christoforo Colombo), gw udah nyiap-nyiapin barang-barang apa aja yang mesti dibawa. Soalnya gak lucu kan kalo ketinggalan belum tentu bisa diambil lagi.
Karena abis konfrens di Barcelona itu bakalan terbang balik ke Amsterdam lalu balik ke Indonesia rencananya. Flight yang direncanakan kalo gak salah mestinya jam 1430, tapi karena persiapan untuk jalan kesana sekitar 1 jam jadi rencana berangkat dari rumah jam 1130an.

aeroporto di Genova aeroporto di Genova penuh kenangan

Ke airport nya sendiri bisa pake bus, ngambil di statiun Principe atau Brignole, Genova.
Makan waktu sekitar 30 menit perjalanan dan tiketnya bisa dibeli on the spot seharga 6 Eur.
Then, ampir mendekati waktu keberangkatan, semua udah siap, gw cabut deh keluar dan meninggalkan rumah temen gw itu. Dan pas udah siap-siap mau keluar dari apartemen-nya, baru nyadar kalo poster gw ketinggalan ! Iya poster seharga 70 Eur yang mesti dibawa untuk presentasi konfrens itu !

Langsung panik deh, karena gw udah gak punya kunci untuk masuk lagi apartement-nya :(
Meanwhile, pas temen gw ditelp untuk balik ke rumah (sekedar bukain pintu buat gw, supaya gw bisa ngambil poster) it would take him at least 1 hour to get there.
Jadi pada saat dia balik pun kalo semisalnya gw berangkat ke airport udah mepet banget waktunya untuk masuk ke gate.

Lemes deh, selaen tiket seharga 60 Eur melayang, juga artinya mesti rebook flight baru untuk terbang ke Barcelona besokannya.

Dan gw dapet dengan harga 150 Eur :(
pake Iberia, berangkat dari Genova malem banget dan nyampe Barcelona tengah malem gitu.

What an expensive lesson.

#2. Ketinggalan flight kedua (Barcelona)

Beberapa hari setelahnya, gw menghabiskan hari-hari di Barcelona untuk konfrens sekalian reuni ama temen-temen international health. Poknya hari-hari yang menyenangkan hal, apalagi Barcelona salahsatu kota favorit (dulu pernah kesini tahun 2009) karena indah dan murah.
Iya standarnya di Spanyol, walaupun Barcelona termasuk kota besarnya, tapi masi termasuk murah lah, dibanding standar harga di Amsterdam misal (kalo Denmark mah gak usah ditanya. Skandinavia pasti lebih tinggi lagi standarnya).

plaza catalunyarevisit plaza Catalunya @Barcelona

Flight dari Barcelona balik ke Amsterdam ini mestinya pagi jam 0830, tapi karena gw udah tau bahwa airport Barcelona ini termasuk gedhe dari ujung ke ujungnya, jadi musti berangkat lebih pagi. Dan banyak tempat shopping-nya juga, jadi kalo berangkat awal kan bisa liat-liat, or belanja (kalo emang bener ada yg worth untuk dibeli :-)

Udah bangun pagi-pagi, barang-barang sih udah siap dari semalem.
Pas turun ke resepsionis baru sadar ternyata jam gw 1 jam lebih telat dari jam dibawah!

Resepsionisnya masi santai lagi ngasi tau : 'Owh keburu koq ...'

Padahal udah cemas tuh, pasti gak keburu nih.
Akhirnya ngejar-ngejar bus untuk ke airport deh, untungnya gak pake ngetem atau macet.
Nyampe airport sih masih keburu, hanya ... SALAH TERMINAL !

Dan dari Terminal 1 ke Terminal 2 itu musti pake bus lagi, dan makan waktu sekitar 20 menit perjalanan karena mayan jauh.
Jadi pas gw nyampe Terminal 2 itu cek in udah boarding time, dan gak keburu deh biarpun lari-lari masuk ke dalem :(

Akhirnya rebooking lagi untuk penerbangan beberapa jam setelah, and cost me 100 Eur !

So, setelah menghemat-hemat pengeluaran tetep aja in the end of the trip ngeluarin total cost 250 Eur untuk rebooking tiket *sighed* nasib ... nasib ...

Monday, September 19, 2011

lost things [post gak penting]

Setelah kesana kemari di daratan Eropa, akhirnya gw sadar kalo banyak barang-barang yang intentionally atau unintentionally tercecer di beberapa tempat.

Biasanya sih barang-barang yang ketinggalan/ terpaksa ditinggal (karena bagasi penuh)/ alesan lainnya sehingga gak bisa dibawa- jadi alesan supaya bisa beli barang baru.
Maklum penyakit yang satu ini (shopholic tingkat moderate-low) masi suka kambuh-kambuhan.
Padahal tau kalo traveling mestinya gak usah bawa banyak-banyak, tapi masiiiiii aja suka beli-beli barang sepanjang jalan kenangan.

Anyway, kemaren pun jalan keliling 4 negara, 8 kota selama 27 hari dengan travel luggage (standar Ryanair, berat max. 10 kgs) sebenernya bisa. Toch baju-baju gw kan ukuran kecil dan pas lagi musim panas pula. Host gw yang di Itali pun (dia cowo padahal) terkagum-kagum karena barang-barang keperluan 1 bulan bisa masuk koper ituh.

Tapi banyak juga yang mesti direlakan, ini dia list-nya yang keinget (biar nanti gak nyariin, kalo tiba-tiba nyariin)

1. Piyama beludru ungu kesayangan & top coklat mango (direlakan di airport Skavsta Stockholm, gara-gara kelebihan 1 kg!)
2. Kemeja jins & sepatu crocs item (ditinggal di Roma, juga karena udah beli sendal)
3. Celana pendek pink von Dutch kesayangan (ditinggal di airport Charleroi, juga gara-gara kelebihan beberapa ratus gram! *grrrrr*)
4. Celana pendek jins, dress pink, jumpsuit bunga-bunga (ditinggal di Nijmegen, tempat temen)
padahal baru dipake beberapa bulan *hiks*

Itu semua berkat Ryanair yang strict banget timbangannya- tapi ternyata gak di semua airport dicek ama petugasnya. Kemaren balik dari Genova ternyata gak di-cek tuh, jadi lolos aja kalo bawa lebih dari 10 kgs mestinya.

Juga gara-gara pengen beli oleh-oleh terutama di Cannes dan Nice, karena daerah situ terkenal dengan sabun-nya (atau produk yang berbau lavender) jadinya konsumtif deh beli sabun bio.
Lapar mata dot com judulnya.
Trus juga event summer sale yang gila-gilaan di Stockholm bikin orang (kaya gw) ikut-ikutan pengen beli barang, padahal mah gak butuh-butuh amat.
Akhirnya beli celana juga deh (abis murah banget, cuman 50 SEK) dan juga beli stocking (aneh, gw tergila-gila ama stocking yang lucu-lucu, padahal jarang dipake juga).
Di Itali apalagi, semakin parah, terutama pas masuk Zara, dimana kaos-kaos cuman 4-10 Eur, lalu tas kulit 20 Eur.
Juga ada dress yang gw taksir banget, pas dicobain juga ukurannya pas (jarang-jarang loh), tapi setelah gw beli- nyampe rumah agak menyesal. Abis disini kan gw jarang pake dress juga, abis kemana-mana pake transportasi umum rempong deh pake dress.
Akhirnya ditukerin deh (untung blanja di luar kalo nyesel bisa dibalikin barangnya).

Kemaren ini waktu di Kopen, biasanya kalo belanja suka ditemenin Alice, temen gw yang orang Aussie. Dia jadi 'watch-dog'-nya kalo misalnya barang yang dibeli gak ada di-list kebutuhan, dia akan meng-counter argumen gw. Dan akhirnya gw bisa jadi gak beli.
Tapi kalo belanja sendiri, gawat deh... tak terkontrol... dan setelahnya suka agak menyesal.

Okeh, demikian seputar curhat gak penting soal material (ampir sama sekali tidak berhubungan dengan traveling :-)

Ciao ciao!

Riomaggiore, ITRiomaggiore, Cinque Terre, IT
[pemandangan pas depan station kereta-nya Riomaggiore nih]

In the end, gw gak merasa kehilangan apa-apa sih, karena dapet banyak pengalaman tak tergantikan juga.
'Siapa juga yang butuh barang-barang duniawi kalo udah nyampe heaven on earth' , itu dia suara hati gw waktu nyampe Cinque Terre, Italia. Tempat yang luar biasa bellissima (indah) sampe rasanya mo nangis pas nyampe sana
*lebay mode on*
Juga pas nyampe Cannes, tempat dimana artis-artis hollywod ngumpul pas festival film... rasanya gw jadi cewe paling beruntung (se-Indonesia paling engga), bisa nginep di villa yang menghadap langsung ke laut dan diajak touring ama temen CS along french riviera. Pengalaman tak terkatakan deh pokonya . . . . . . . . .

" Things are just things. Don't get too attached to them. "
[taken from SNOTM]

Friday, September 9, 2011

Genova, again

It's funny that during my second Eurotrip last summer I did not plan intentionally to stay in Genova for a long period. I thought I was just gonna pass it by from Firenze, before then continue the journey to French Riviera.
That's what I like from open plan (and being a single traveler, of course) that you could change your itinerary at the last minute by see what's in front of you.

It happened to me, I just suddenly fall in love with this place.
I fall in love with Italian Riviera, the constant perfect weather and the people.
I even manage to come back here, after a long journey from Amsterdam to Brussel, then Charleroi, to catch a budget flight (Ryanair took my pant away, just because I had 1 kilo excess baggage! Nasty airline. Now I really miss my Airberlin flight with free 20 kgs baggage.)
And a warm welcoming weather then reminds me so much why I want to be here.
Should I mentioned that when I left Amsterdam it was 12 degrees Celcius (with 52 km/h wind speed... yeah, I'm not made it up).

It's a pity that I was too busy after coming back from my 1 month Eurotrip, I didn't have time to summarize the journey (it's all still remain notes in my scrapbook) or write it down in this blog.
But it has been wonderful, magnificent trip in brief.
Almost unreal I would say.
I couldn't describe it in words because it's just too beautiful.

Anyway, in the end my academic life has struck me back to reality.
I spent one week more in Copenhagen to have my oral exam and graduation, then had flight to Germany. Been here and there (physically) in Netherlands, but basically my minds flew somewhere in Liguria.
This place is just intoxicating.

Camogli, Liguria
Camogli, Liguria
first night @ Italian Riviera 17072011

traveling notes :
Train ticket (one way) Firenze SMN - Genova Brignole 40Eur (mahal karena beli last minute, tapi bisa dipake berenti di Pisa)
Ryanair return ticket Charleroi (Brussel Zuid) - aeoroporto di Genova 20 Eur (belum termasuk bagasi, standar kabin cuman 10 kgs)
Train ticket (return) Amsterdam CS - Brussel Zuid/Midi 78 Eur
Ticket (combined train+bus, one way) Brussel Zuid/Midi - Charleroi l'aeroport
11.70 Eur
kaos Zara 4Eur; tas Zara 19 Eur; belt H&M 5 Eur
pizza (1 slice) 2.70 Eur; gelato 2 Eur

Friday, August 12, 2011

Italian stories(2) :: Get lost in Rome

So much to say about Rome!

Sampe gak tau mulai dari mana dulu yah ... hmmm . . . .

Gimana kalau mulai dari cerita gimana akhirnya gw memutuskan pergi ke Roma.

Alesan utama karena nemu tiket murah pake Ryanair dari Stokholm.
Emang murah sih tapi kalo pake budget flight macem Ryanair artinya musti merelakan barang-barang yang overload dibuang. Abis mereka strict banget soal aturan koper yang masuk kabin cuman boleh 10 kgs.

Waktu itu gw kelebihan beberapa ratus gram, dan akhirnya ngebuang 1 celana panjang (untuk tidur) lagian the rest of the journey will be warm. So I won't need it anyway!

Ini juga salahsatu pelajaran tentang kehidupan yang gw dapet selama traveling, yaitu

1. Sesungguhnya kita gak butuh banyak barang untuk bertahan hidup, jadi bawa yang penting-penting aja.

2. Barang yang kita bawa tapi gak kepake akhirnya cuman bikin cape aja, karena mesti dibawa-bawa sepanjang perjalanan.
Masih mending gw traveling 'hanya' selama 30 hari. Kebayang kan banyak orang membawa 'beban emosional' yang tidak penting selama bertahun-tahun.
Just let it go.

Waktu itu saya mendarat di airport Ciampino dari Skavsta, Stokholm. Keduanya sebenernya bukan bandara udara utama, tapi lebih airport untuk maskapai budget.
Karena bukan airport utama jadi letaknya gak deket banget sama kota, beda sama Fiumicino yang lebih deket sama pusat kotanya Roma.

Tapi kalau waktu traveling kita fleksibel gak masalah koq, tinggal naek bus ke Metro Line A. Anagnina (harga tiket 1,20 Eur) lalu disambung pake metro ke pusat kota Roma, st. Termini (1 Eur, single ticket).

Yang berasa bahwa saat itu saya officially sampai di Italia adalah pas naek metro dari airport Ciampino ke city centre ada bapak pengamen yang nyanyi lagu 'Santa Lucia' dengan suara soprano yang indah banget! Berasa nonton live opera dari kursi tempat duduk metro.
Priceless : )

Roma sendiri bukan cuman sekedar kota yang indah secara arsitektur, tapi juga punya nilai historikal yang tinggi.
Hampir semua bangunan kuno yang saya lihat disana, selalu aja ada cerita historis yang sangat menarik di belakangan.

Yang paling terkenal di kalangan turis tentunya kompleks bersejarah Colloseo (atau terkenal dengan nama Colloseum), Foro Romano (Forum Romanum) di bukit Palatine.

Ada juga monumen Vittorio, bangunan megah yang dibangun gak jauh dari kompleks bersejarah Forum Romanum. Tapi ada temen saya orang Italia asli, benci sama monumen Vittorio ini.
Menurut dia bangunan monumen Vittorio itu terlalu modern, gak cocok banget dibangun di kawasan historikal yang usianya beberapa abad.

Dia bilang bangunan bersejarah yang jadi objek turistik di Roma itu cuman sebagian kecil dari yang sudah diketemukan oleh arkeolog. Sisanya masih banyak yang sudah ditemukan tapi masih dipelajari, tapi tidak dibuka untuk umum.
Banyak juga yang diketahui tanpa sengaja, contohnya waktu pemerintah melakukan penggalian untuk bikin jalur metro baru ternyata eh malah ketemu situs bersejarah.


Akibatnya sekarang pemerintah Roma berhenti melakukan penggalian untuk mencari jalur metro karena malah akhirnya jadi penggalian situs bersejarah deh.

Banyak bangunan di Roma juga termasuk dalam UNESCO World Heritage Sites karena situs bersejarahnya pabalatak, tersebar di beberapa tempat.
Sebenernya meng-eksplor kota Roma itu gak cukup cuman 3-4 hari karena banyak banget tempat bagus yang bisa dilihat. . . Mungkin seminggu pun gak cukup, yang pasti saya pengen suatu saat balik kesini lagi, entah spring atau autumn saat cuaca lebih bersahabat.


air mancur Trevi :: Fontana di Trevi ::
air mancur paling terkenal di dunia (katanya)
tourists crowd #1


Tapi yah highlight turis kan biasanya cukup ke Colloseo, Fontana di Trevi, Pantheon, Piazza di Spagna (Spanish steps), Museo di Vaticano, atau Basilica Santo Pietro.
Kalo turis udah nyampe sana dan bisa foto dengan latar belakang tempat tsb, biasanya udah dianggap 'sah' mengunjugi Roma deh : )


Piazza di Spagna:: Spanish steps ::
Piazza di Spagna
tourists crowd #2


Owh ya. . . . cowo-cowo disini (cowo Italia asli maksutnya, bukan turis yang berkunjung),
hmmm . . . cakep-cakep
. Yummy Latino :)
Dan tentu aja gak girlie seperti cowo Swedish.

Selaen itu di Italia juga masih ada perilaku gentlemen, seperti lelaki muda ngasi tempat duduk ke perempuan lebih tua (ini perilaku yang hampir musnah di Denmark rasanya).

Tips penting selama di Roma:

1. Cukup bawa botol kosong aja selama bepergian, karena banyak fontana/ sumber air yang bisa diminum di beberapa tempat. Contohnya di depan Colosseo atau di Piazza di Spagna.
Minum langsung dari situ juga boleh, hanya lebih enak kan kalau minum dari botol.

2. Mau masuk chiesa Basilica St. Peitro gak boleh pake celana pendek atau baju terbuka (keliatan bahu). Jadi jangan udah antri panjang taunya depan pintu gak boleh masuk sama penjaganya.
Solusinya kalau udah keburu kesana adalah, di depan jalan masuk Basilica St. Pietro ada banyak tukang dagang pashmina (harga 5 Eur, overprice sih, tapi masuk basilica gratis).

3. Kalau mau beli magnet kulkas untuk oleh-oleh, menurut gw tempat yang paling murah adalah sepanjang jalan dari Colloseo menuju ke monumen Vittorio, harganya bisa cuman 1 Eur/buah (kalau beli 5). Mungkin bisa ditawar lebih murah lagi kalau beli banyak.
Kalau di toko sekitar Fontana di Trevi itu udah lebih mahal, bisa 3-5 Eur/buah, tapi lebih variatif juga desainnya.

4. Katanya Roma termasuk kota pusat turis yang banyak copetnya (sama lah kaya di Paris atau Barcelona). Gada pengalaman buruk sama pickpocket selama disini, tapi pastikan aja barang bawaan aman selalu naek metro, lumayan penuh di line yang menuju pusat turis.


Sebenernya gw udah punya peta Roma sebelum memutuskan mau pergi kemana aja selama disana.
Masalahnya . . . kemampuan gw baca peta emang payah :(
Akhirnya tetep aja suka nyasar, contohnya pas mau pergi ke chiesa Basilica St. Pietro, eh malah jadinya nyasar ke Museo di Vaticani (yah letaknya emang deket, deket disini beberapa ratus meter, tetep aja bete kalau nyasar).

Karena kesasar, akhirnya gw malah masuk antrian untuk ke Museo di Vaticani, ini antrian buset banget, kaya antrian haji! Ada kali 1 kilometer doang untuk antri masuk museum-nya.
Buset ini para turis mau aja dikerjain sama Vatikan, gara-gara cuman mau liat lukisan di Sistine chapel karya Michael d'Angelo kali yah.

Pas kesasar perasaan gw emang udah bilang ini jalan ngaco deh, tapi bingung nanya ke siapa karena disana isinya turis doang!
Gak ada orang Italia-nya (katanya orang Roma benci turis selama musim panas, karena menuh-menuhin kota).

Akhirnya gw kenalan sama Anna & Dante, mereka mahasiswa jurusan tourism yang lagi magang jadi tour guide. Dante campuran USA sama Italian, makanya bahasa Inggris dia bagus banget, tapi tampangnya cakep kaya Italiano (pengen gw poto tapi norak banget yah).
Mereka nganterin gw menuju arah yang benar, yaitu pintu masuk chiesa Basilica St. Pietro.
Wah pokonya berkesan banget ketemu mereka walopun bentar, ini yang bikin hati gw tetap hangat sekalipun traveling sendirian ^^

Kata Anne & Dante, antrian turis hari ini (yang panjangnya udah 1 kilometer itu) gak ada apa-apanya dibanding hari sibuk. Biasanya turis ini udah nangkring dari pagi/subuh untuk ngantri karena kalo kesiangan akan tambah panjang tuh antrian.
Antrian panjang untuk masuk ke Museo di Vaticano ini bayarnya 14 Eur, tapi kalau mau cara yang lebih cepat bisa beli tiket seharga 26 Eur (shortcut gitu deh, tapi masih ngantri juga, hanya gak terlalu panjang).

Si temen gw orang Italia asli bilang kalau Vatikan tuh tajir banget cuman karena buka itu museum, karena pemasukan dari turis aja bisa berapa juta Euro.
Turis yang ngantri kan ribuan per hari. . .
Pokonya kepausan di Vatikan itu bisa cuman ongkang ongkang kaki doang kerjaannya, cukup dari tiket masuk.

Owh ya, karena gw menganut paham anti imperialis, makanya gw juga gak mau masuk museum ini.
Apalagi ngantri-nya tidak berperi kemanusiaan kaya gitu, walopun sebenernya gw penasaran sama Sistine Chapel-nya Michael d'Angelo *hiks*
Tapi masuk Basilica St. Pietro juga puas koq. Maklum orang Indonesia liat apa aja disana itungannya bagus . . . hehe

basilika Santo Petrus:: Basilica Santo Pietro ::

'Rome in July is a perfect place, if you wanna see tourists'


Beberapa expenses selama di Roma :

one way ticket (bisa dipake untuk naek metro) ~ 1 Eur
Lasagna (beli di deket Fontana di Trevi) 7 Eur, termasuk tip
Breakfast 3,20 Eur (brioches+minum)
postcard+ stamp 9 Eur
magnet kulkas 5 @1 Eur

Tuesday, August 9, 2011

Leaving Copenhagen!

:: Danes saved the day ! ::

Mon 08.08

Di tanggal cantik ini (yang katanya hoki menurut penanggalan Cina) gw meninggalkan Denmark karena program master yang udah beres.

Tapi rupa-rupanya cuaca gak bersahabat banget sama gw.
Tiba-tiba ujan gede banget pas sore deket waktu gw mo brangkat! Emang dari pagi perasaan udah gak enak sih, soalnya gw tau kalo pagi-pagi ada suara burung berkicau (dan kemaren-kemaren ini mereka selalu ribut, bikin orang kebangun aja) berarti cuaca bakal cerah.
Sedangkan hari ini pagi-pagi sepi banget.... saking sepi sampe bisa diperkirakan 90% confidence interval bahwa cuaca pasti jelek.
Lebih parah lagi, internet di rumah dari kemaren gak jalan!
Jadinya gw gak bisa ngecek weather forecast juga :-(

Karena masih ujan terus-terusan (bukan ujan yang bisa ditunggu, ujan awet kata orang Sunda) padahal udah gelisah pengen berangkat ke airport, jadilah gw putuskan untuk tetep berangkat walaupun ujan.
So, mulailah gw menurunkan 2 koper (1 koper ukuran gede yang beratnya setengah badan gw! dan 1 lagi ukuran kabin) dari lante 4 tempat gw tinggal.
Sebagai tambahan- di tempat gw tinggal gak ada lift- jadi lumayan sehat deh kalo mau olahraga tiap hari. Pantat dan betis gw ajah sekarang kenceng :-) digabung sama naek sepeda tiap hari... hehe..

Anyway, setelah usaha menurunkan 2 koper tersebut, mulailah perjuangan menembus hujan dari rumah menuju stasiun Metro. Yakin deh orang-orang yang ngeliat gw geret-geret koper dalam hati pasti kesian, mungkin dipikirnya : 'Duh ini cewe udah mungil, item, kurus, geret-geret koper segede itu, ditengah ujan pula!'
Tapi gw sih malah ngerasa lega meninggalkan Kopenhagen, karena kalo cuacanya bagus mungkin hati gw bakal lebih berat.

Then, nyampe stasiun metro- guess what . . .
Lift-nya rusak!
Belum pernah selama ampir lebih dari 6 bulan bolak balik stasiun metro itu lift-nya rusak, baru hari ini doank! Pas lagi bawa koper gede pula... Ajaib gak sih...

Tapi kalo Tuhan punya rencana apa pun bisa terjadi. . .

Selama beberapa lama tinggal disini sebenernya gw udah ngerasa bete banget sama kelakuan orang Denmark yang jutek, cold, nyebelin, egois, self-centered etc.
Hanya hari ini ada sesuatu yang beda.
Pas sedang berusaha susah payah (nurunin koper pake tangga), ada cowo bule yang bantuin gw! Dia ngomong pake bahasa Danish (dan honestly gak tau apa yang dia omongin, tapi gw ngerti dia mo bantuin gw), tus langsung aja tuh koper ukuran jumbo dijinjing ama dia dibawa turun tangga.
Langsung aja gw bilang: 'Tusind tak' (beribu terimakasih) berulang-ulang.

Nah, setelah beli tiket lalu turunlah gw pake eskalator dengan koper-koper itu.
Dan. . . tiba-tiba, ada 1 koper gw yang jatoh pas di eskalator!
Heboh banget deh, karena gw takut koper itu bikin celaka cowo (bule laen lagi) depan gw.
Gw udah bilang.. 'Sorry.. sorry ... ' takut aja dia marah atau bete.
Taunya dia malah bantuin pegangin tu koper sampe gw beres turun nyampe bawah. . . . Hari ini pokonya exceptionally mata hati gw dibukakan sama kelakuan baik orang Denmark :-)

Walaupun hari ini hari yang jelek (karena cuacanya) tapi hati gw hangat rasanya *bigsmile*
Karena tau bahwa selalu ada orang yang baek (di Denmark, atopun di mana ajah) yang mau nolong orang laen (despite tampang gw yang 'imigran' :-)

Saturday, August 6, 2011

single but not alone [or even lonely!]

'Ngapain sih jalan-jalan sendirian ?'
Mungkin itu pertanyaan sebagian orang pas tau kalo gw sering jalan (traveling) sendirian.

Ada banyak alasan, mulai dari alasan praktis (ngerencanain jadwal jalan untuk 1 orang lebih gampang daripada untuk 2 orang) sampe alasan personal (soalnya gw gak suka diatur, juga gak suka ngatur :-)

Emang bisa dibilang alesan yang terakhir lebih kuat, ini juga baru disadari akhir-akhir ini-
saat gw berkontemplasi dalam perjalanan: kenapa prefer jadi single traveler (walopun sebenernya gw gak masalah juga kalo gabung dalam grup, dan termasuk orang yang bisa diatur... mestinya :-)

Karena [1] jalan sendirian itu sangat fleksibel, bisa ngatur sendiri mau jalan kemana, mau liat apa, mau bangun jam berapa, makan apa, trus milih rute sesuka kita (juga nyasar sesuka hati),

[2] dengan jalan sendirian kita bisa belajar banyak hal: belajar how to survive (gimana beli tiket pake mesin, atau bahkan validasi tiket sebelum naek train), belajar bahasa lokal (ngedenger paling engga, kalo ngomong mungkin take some time), dan juga karena gw demen meng-observasi orang dan kebudayaan terasa lebih 'original'.

[3] dan jalan sendirian itu bukan artinya kita gak ketemu banyak temen!
Berhubung gw ikutan couchsurfing [CS], dan so far sekitar 95% pengalaman gw in between nice to excellent, jadinya sangat sangat ketagihan untuk on and on di komunitas ini :-D

Terlebih pengalaman summer trip gw kemaren, yang rutenya sebagai berikut:
Bergen [Norwegia] - Stockholm [Swedia] - Roma [Italia] - Firenze - Genova - Ventimiglia - Cannes [Prancis] - Nice.

Cuman di Bergen aja yang gw gak dihost sama orang dari CS, karena emang waktu itu gw nginep di rumah (ortunya) besfren yang asli asal sana.

Dan tentu aja pengalaman yang gw dapet selama CS-ing ini jauh banget lebih berkesan daripada jalan biasa nginep di hostel, ataupun ikutan tur.

Tentu aja exceptional karena, ini unplanned! So I have nothing to expect :-)

Sebagai contohnya adalah host gw di Firenze.
-Untuk latar belakang tempat, Firenze/Florence tuh ibukota regio Toscano/Tuscany.
Ini salahsatu tujuan destinasi gw untuk sekian lama karena gw pecinta museum dan kultur terutama seniman asal Italia e.g. Michaelangelo Buonarroti, Leonardo da Vinci, Botticelli yang karyanya bisa dicari di kota ini.
Juga Gallery Uffizi, sudah jadi wishlist gw (selaen Musee du Louvre, yang kesampean waktu taun 2009) - walopun host gw bilang masih banyak museum yang jauh lebih impressive daripada Uffizi.

Being italians, or basically born in this beautiful city- bisa dibilang terbiasa ngeliat karya artistik dimana-mana. Arsitektur medieval dari jaman Roman sampe neo Renaisans bisa diliat di tiap pelosok kota, mulai dari gereja, jembatan (ponte), piazza, dst ... sayangnya gw bukan orang yang bisa menjelaskan secara detail. Tapi kesimpulannya, kota ini indah banget!
Bagi gw bahkan Firenze lebih berkesan daripada Roma, padahal Roma sendiri in general sih indah (dan menyimpan banyak cerita historikal).

Ehmm... ok, setelah ngelantur dikit tentang Firenze, kembali ke host gw disini :-)
Dia latar belakangnya peneliti juga (PhD) dan karena gw sedikit banyak pernah berkecimpung di dunia penelitian, tentunya ada beberapa obrolan yang nyambung.
Tapi bukan itu yang bikin dia cool, yang cool adalah- malem pertama gw nyampe Firenze, dia langsung nyulik gw ke kawasan perbukitan (bareng ama temen2nya, yang sama gilanya) untuk swimming pool party! at midnight!! under the moonlight !!!
Mungkin kesannya gw melebih-lebihkan (mendramatisir) tapi emang beneran.

shared hammock:: sharing hammock w/ Ilja, after swimming pool party ::
photo taken by Diana, from Lithuania


Dia sendiri nanya (pertanyaan retoris lebih tepatnya): 'Berapa kali dalam hidup elu, elu bisa berenang tengah malem dibawah sinar bulan, di tempat yang indah kaya Firenze?'
Aih aih. . . . dasar orang Itali. Biar peneliti tetep aja berjiwa romantis.

Trus besokan malemnya, gw ngikut diner di rumahnya.
Tadinya sih gw pengen masakin sesuatu yang berbau Asia, tapi dia bilang gausah repot-repot.
Jadi akhirnya dia bikinin makanan buat kita berdua.
Masakannya gampang aja sih, cuman salad ama roti (minta tetangga pula)- tapi ya ampun saladnya enak banget. Tentunya ada wine juga, dan desert. (Buat orang Itali ama Prancis, makan tuh ritual yang special banget. Bukan asal kenyang doank, tapi ada seninya juga).
Sambil makan, qta ngomongin segala macem ngalor ngidul, mulai dari hal yang scientific dan rasional- sampe hal yang gak penting; contohnya waktu gw bilang honeymoon yang gw pengen adalah jalan ke selatan Italia pake karavan.
Dia langsung ketawa ngakak! Dia pikir gw bercanda waktu ngomong begitu *huh*
Dan sejak itu dia ngegodain gw, katanya: 'gypsy girl'.

Cerita selanjutnya adalah host gw di Cannes.
Cannes, Prancis tuh kota yang terkenal suka dipake untuk festival film international.
Gw agak ignorant soal tempat ini sebelumnya, karena ini a bit out of plan.
Tadinya gw pengen ke Marseille, tapi karena perubahan rencana (dan ini juga asiknya jalan sendiri, rencana bole berubah kapan aja :-) jadinya gw ganti rute ke Cannes (walopun tiket Ryanair angus, gapapa deh- dapet murah juga).

Host gw disini kerja di Villa deket pantai, dan ada swimming pool yang pemandangannya langsung ke arah pantai. Jadilah gw ikut menikmati fasilitas berenang gratis, tiap pagi (atau lebih tepatnya tiap siang :-) pas gw bangun tidur, daripada mandi gw mendingan langsung nyemplung ke kolam renang.
Host gw ini (qta sebut aja namanya J) udah pernah ke Indonesia dan pengalaman dia berkesan banget selama traveling di Indo (dan pengen balik lagi tentunya).
Dia juga masi inget beberapa kata, atau kalimat dalam bahasa Indo.
Trus tiba-tiba dia nyanyi sepotong bait lagu Indo, gw langsung kaget jadinya!
Abis kocak gitu deh . . . :-D

Seperti layaknya kebanyakan orang European (yang udah lama tinggal sendiri) dia jago masak, terlebih karena dia orang Prancis- masakannya enak!
Dia juga demen makan makanan Asia dan pas gw bikin nasi goreng (keahlian dasar yang selalu gw praktekan dimana saja saat diijinkan ... hehe) dia seneng banget!
Trus dia ngajakin gw belanja ke toko Asia dan disana ada manisan mangga (bikinan Thailand sih, gak nemu yang dari Bogor :-) dia langsung ketagihan!

Selama beberapa hari gw tinggal di Cannes kadang gw jalan sendirian juga karena dia sibuk ama kerjaan. Tapi kalau dia ada waktu, dia selalu coba ngajak gw mengeksplor sekeliling Cannes ama motor gedhe-nya. Kadang gw jadi berasa sedikit mirip seperti adegan Nicole Kidman dibonceng Tom Cruise di film Topgun . . . (hanya karena dia gak kaya Tom Cruise jadinya gw kembali ke alam nyata ... haha).
Cannes itu letaknya di pinggiran coastal, di French Riviera- jadi sepanjang kota itu kita bisa ngeliat garis pantai. Karena waktu itu cuacanya konstan bagus terus dan ada sinar matahari bisa dipastikan banyak banget turis bertebaran di pantai, maupun di penjuru kota.

panorama cannes from hillpanorama Cannes :: view from uphill
disini gak ada airport komersil, cuman ada airport khusus
tempat pesawat pribadi celebrities landing


Sebenernya gw gak suka kota yang terlalu turistik, terutama daerah pelosok kota (yang banyak pusat perbelanjaan, palagi ada summer sale- menggoda iman!) jadinya gw selalu mencari tempat-tempat yang unusual, yang kurang disukai turis tapi gak kalah menarik.

Owya, si J ini juga punya peralatan fotografi canggih !
Selaen kameranya profesional dia punya beberapa lensa (ada 1 wide lens-nya yang harganya 400 Eur, seharga kamera gw!). Trus dia ngasi liat beberapa hasil potonya di laptop.
Ternyata keren banget!
Pas gw nanya boleh gak gw minta beberapa hasil jepretannya, dia bilang gak boleh.
Soalnya suatu saat dia mau bikin exposition. Huhuhu. . . ultimate keren.

Akhirnya sebelum gw meninggalkan Cannes, gw ngeliat dia punya kartu anggota International Association Photojournalism- hmmm. . . . pantesan gak sembarangan koleksinya.

Pas gw cabut dari Cannes ini gw sampe nangis bombay sepanjang jalan karena sedih meninggalkan host gw yang udah jadi teman baek dan all those good memories :')
Entah kapan ketemu dia lagi, tapi rasanya mungkin aja sih, as the world is a small place for travelers like us . . .

stunningly French RivieraFrench Riviera landscape from my train *sighed*

Thursday, August 4, 2011

One fine day in Kopenhagen

Setelah meninggalkan Kopenhagen ampir 1 bulan untuk liburan summer, dan balik sini lagi ternyata ada beberapa hal yang gak berubah :
1. Cuacanya masih unpredictable
2. (Sebagian besar) orang-orangnya, terutama real Danes, masih cold dan heartless.

What can I expect. This is a place where you could just take it or leave it.

Besides my few but painfully bad experiences with Danes, masih juga ada beberapa yang exceptional (tentunya).
Salahsatunya adalah landlady gw, qta sebut aja namanya Mrs. L.

Dia umurnya 65 tahun keatas tapi (seperti layaknya Danes) masih aktif pake sepeda kemana-mana, termasuk ke tempat kerjanya tiap hari. Orangnya sih milih-milih, gaul sama dia a bit tricky, soalnya dia sebenernya suka diskusi berbagai hal.
Mulai dari soal kultur, kebiasaan, makanan, sampe agama pun dia tertarik.
Dan dia juga lumayan sering traveling (maklum disini cuti mereka banyak per tahun-nya) dan dia jago bahasa Inggrisnya, selain Prancis juga.

Anyway, hari ini dia udah spare time untuk gw- karena beberapa hari gw akan meninggalkan Denmark (berhubung masa studi udah selesai. Cepet banget yah, rasanya waktu 1 tahun tuh cepet banget *hikshiks*).
Jadi semacam 'saying goodbye' gitu ama gw. Walopun gw bukan tipe orang yang suka 'say goodbye' in a proper way, it's just too hard.
Gw sempet bilang ama dia: 'Well we don't know. Maybe I'll come back again to Denmark.'
Tus dia bilang: 'Maybe. Maybe you'll getting married with Dane guy.'
Rasanya gw pengen replied 'Nej, tak' (Gak deh, terima kasih), tapi sebagai orang Asia gw masi sungkan.
Instead gw cuman senyum-senyum aja sambil bilang... 'Ehmm... yeah we'll see.'

So, hari ini dia ajak gw sesepedaan (yup, gw punya sepeda, pinjeman dari temen gw yang exceptionally nice Danish girl juga) ke deket pantai. FYI, rumah tempat gw tinggal tuh emang deket banget ama pantai, pake sepeda 15 menit langsung nyampe coastal deh. Once in a while kalo suntuk emang gw suka sesepedaan sambil menikmati pemandangan (=cowo2 berbodi oke keringatan + terengah2 :-)
Terus dia (Mrs. L, landlady gw) traktir gw makan salmon+kentang di Club Sailor deket tepi pantai.
Kita ngobrol segala macem, dia juga orangnya thoughtful -pas dia ngeliat baju gw tipis padahal cuacanya mulai dingin+windy, dia ngambilin selimut buat dipake. Dia sendiri malah gak dapet selimutnya gara-gara abis dipake orang laen.
Pokonya bisa dibilang dia itu masi tipikal Danes, yaitu kalo udah deket bakal bisa baek banget.

Balik rumah dia ngajak gw minum teh (karena gw gak minum kopi, I am so lame) dan snack manis.
Lalu ngobrol banyak hal lagi, termasuk konsul masalah kesehatan dia juga.
Dia juga cerita tentang cek up-nya dia terakhir ke dokter, ternyata dia bagian dari penelitian kohort selama 20 tahun or so, karena pernah diterapi hormon. Kohort ini at least sampelnya 2000 wanita!
Untuk gw yang punya sedikit pengalaman di riset, tentunya hal yang sangat menarik dan jadinya nanya-nanya banyak. Dia dapet cek up gratis (walopun kalo punya CPR, kartu ID sini yang berfungsi sebagai kartu asuransi kesehatan juga, semua orang bisa ke dokter gratis) termasuk cek marker dan MRI yang kalo di Indo (ya elah, bandingin ama Indo) termasuk resource yang mahal banget. Cek up ini ada yang 2 bulan sekali, 3 bulan sekali, 1 tahun sekali. MRI dan CT scan contohnya 1 tahun sekali.
Dia juga aware banget ama status kesehatannya. Ada sekumpulan file yang isinya kompilasi data-data kesehatan dia termasuk catetan dokter. Pas gw liat-liat rasanya keliatan banget kalo ini negara emang canggih dan kebanyakan duit ... hihihi...

Tapi ada shortcoming-nya juga. Menurut Mrs. L, dokter disini gak terlalu concern ama keluhan pasien.
Lalu anamnesis-nya singkat banget, langsung dirujuk ke pemeriksaan penunjang.
Mungkin karena mereka punya advanced technologies juga.
Dia sih ngerasa gak puas karena kalo ke dokter, dia pesimis ujung-ujungnya cuman direfer dari 1 spesialis ke spesialis yang laen. Padahal semuanya gratis juga dan tinggal bikin appointment doank.
Dia juga gak doyan minum antibiotik ato obat-obatan. Kalo bisa sih, kata dia, gak perlu minum obat bisa gak sembuh penyakitnya?
Hmmm.... ya gw jawab, ada yang musti pake obat ada yang emang sembuh sendiri kalo daya tahan tubuhnya membaik.

Well, anyway, malem ini stelah ngobrol panjang lebar sama dia, sayangnya qta jadi semakin deket pada saat mau berpisah... *hikshiks* then gw bilang: 'You should definitely come to my wedding day'.
Mrs. L : 'What??? You're gonna have a wedding?'
Gw: 'Yeah. Of course, someday. I don't have husband yet at this moment. But I just thought that if you should come to my wedding day, if I have.'

Yeah I'm gonna miss her definitely.

Monday, July 11, 2011

Italian stories (1) :: Roma

Italia, I've been captivated by this territory for so long.

Last year I managed to visit Bologna and Venezia for the first time, it was beautiful places but at the same time very touristic.
I guess I felt the same when I was visiting Roma, which I could say probably the most touristic places in the whole Europe (or come second after Paris).

In general, I already fell in love with Italy, for several reasons.
Italian people are very warm (in my opinion) compare to north European of course (and I was staying in Denmark for a long time, so my definition of 'warm people' probably has a huge bias).

I remember the first time I visit Italy in 2010, I was arrived in Bologna airport.

At that moment, something went wrong with my cell phone so my SIM card was blocked!
I could not contacted my friend with my cell phone, so I tried to change my money with coins.


Unluckily, not every Italian understands English! Yes, it was really an effort just to exchange paper money for coins from people. I was a bit panic and even asking the information center was not very helpful.

In the end, I managed to get coins to make a call with public phone (with only Italian instruction) because these young Italians couples who understood English and even gave me 50 cents, for free. Sweet.


Anyway, so this is my second visit to Italy, but my first visit to Rome. And it was July, high season for the tourist. I was traveling alone and most of the times I felt I was trapped between these English-speaking tourists from the States, or UK.

Strange, I didn't feel like traveling in Italy at all.

People around me speak with obnoxious American/Bristish accents.
Hmmmm.... So that's the story how I developed resistance towards US/Brit accents (or the people, because then I could hear their pointless conversations accidentally).


Back to the reason why I love Italia, not just the people. But also the foods. I love pasta and pasta sauce and gellato and tiramisu (I love all the Italian desserts besides Tiramisu).

And the weather! It was a bit too hot even for a tropical girl like me, in the mid of July. I wish I could revisit Rome later during autumn or spring to experience more convenient weather.


Rome is on my top wish of travel lists, since I love the story of Roman history when I was young. When I was a kid, I was basically raised by comic books and one of them was Asterix.

I learned that Roman history conquered many places in Europe in the past, and Giulius Cesare as one of the big famous (or infamous) conquerors during that golden period of Roman emporium.

il Colloseoil Colosseo Amphiteatre :: built in ca. 70-80 AD

To actually visit this historical places where Colloseum, tombs, statues, ruins from hundreds, even thousands years ago felt like a dream come true for me!
It was half unreal, and half realisation from a pilgrim like me :)

It was too short to visit for 4 days actually, I actually missed Museo di Vaticano (because I didn't want to wasted time queue for 5-7 hours to get inside the Sistine Chapel- and will spend only couple of seconds only to see the ceiling painted by Michaelangelo Buonarotti.)

Not that I don't like works of art from this Italian maestro, but simply in the name of anti-hegemony I refused to give more money to Vatican.
All my Italian friends have warned me that Vatican has loads of money but still steal from tourists, in the name of religion or historical arts.

Shame.


BUT, I could say that I was happy enough to be around the city and surrounding areas, even though I missed the museum.
It was trully historical places all over the cities.


My host, an Italian man originally from Bari but has worked in Roma for years, told me that recently the government has stopped to dig a place to work on a new metro line.
Just because everytime they dig they found a new archeological sites.
Just as awesome as that.

My tips how to get around Roma is,
1. Bring a bottle for water (water could be get freely from the fountains almost everywhere).
2. Be careful of your belongings, especially when taking the public transport (metro). There are many pickpockets, don't look too 'flashy'.

3. Speak a bit of Italians (with the right accent!) it's so annoying when American tourist saying 'Grazie' and pronounce the 'z' wrongly !
4. It's so easily to get lost in this city, even with the map in your hands. Don't be shy to ask people. And if a guy asked you out for a coffee instead of giving the right direction, just lie to him and say you already have Italian boyfriend at home :-)
5. For those who wanna buy souvenirs, find a place a bit further from touristic places. Magnetic fridge should be cost 1 Eur if you find a right place.

Friday, July 8, 2011

Stockholm :: Beautiful guys [2]

Selain kotanya yang bersih, infrastrukturnya yang bagus, gedung-gedungnya yang kuno dan artistik serta fasilitas publiknya yang maju (seperti layaknya negara lain di Skandinavia) kesan gw tentang Stockholm yang laen adalah surprisingly cowo-cowo Stockholm juga beautiful guys :)

Ehm ... istilah 'beautiful guys' disini bukan artinya mereka overall good looking - walopun ada juga sih yang good looking, tapi lebih ke gaya dandannya yang . . . ahemm . . . . mereka pake celana pendek (pendek banget, setengah paha, dengan potongan kaya celana pendek untuk cewe), lalu rambutnya banyak yang gondrong (bukan gondrong acak-acakan kaya rockstar, tapi gondrong sebahu lebih, halus, berkilau, dan terawat!), paling penting . . . banyak yang bawa handbag! (yup shockingly handbag disini ternyata bukan buat cewe doank, tapi juga untuk cowo.)
Yeah emancipation works!

Tadinya gw bertanya-tanya apakah ini cuman 'kebetulan' doank nemu beberapa sampel cowo tipikal seperti itu, ternyata setelah ditotal selama 4 hari exploring Stockholm, ternyata sampelnya lumayan signifikan sehingga akhirnya gw bisa bikin statement kalo emang gaya mereka seperti itu. Ternyata masih banyak hal-hal di dunia ini yang belum gw ketahui.

Pas gw ngobrol sama temen-temen gw yang tinggal disitu, ehm rasanya mereka gak merhatiin itu . . . atau mereka terbiasa kali, sampe gak merhatiin lagi.

Sayangnya gw gak berani poto, karena gw takut nanti dianggep paparazzi dan mengganggu privasi- maklum buat orang Eropa utara kan privasi dijunjung tinggi banget.
Lagian tampang gw pada saat traveling itu seringnya dekil, kucel dan kalo moto-moto orang sembarangan kayanya bikin masalah aja . . .

Tapi setelah dipikir-pikir lagi, hmmm ... bisa aja sih gw pura-pura moto gedung :)
kan seru juga ngereview gimana style anak-anak muda di Eropa utara. . .

Anyway, sebelum gw ngelantur ke topik laen yang gak penting dan gak berhubungan dengan traveling - gimana kalo kita liat aja poto-poto hasil jepretan selama disana. . .

iklan yang gw gak ngerti apa artinya di dalem metro Stockholm


stockholm buildingbersih banget kan aer lautnya, ini laut bukan sungai/canal karena mereka emang kepulauan

view from the top!setelah nyasar sesepedaan, akhirnya gw nemu spot yang breathtaking ini dari atas kota Stockholm . . .
cocok untuk tempat foto prewedding ... hihi


Quick facts about Sweden :
1. Negara asalnya produk fashion merk H&M (makanya disini pas summer sale bahaya buat kantong! akhirnya panik belanja deh, abis jadi murah banget)

2. Mereka juga ngakunya keturunan Viking (tapi Viking versi lebih 'feminim' kali yah dibanding Denmark dan Norway . . . hehehe) Bahasanya mirip juga sama Danish dan Norwegian sih.
3. Sama juga kaya di Denmark, museum disini banyak yang gratis hari-hari tertentu.
Info tentang Museum apa aja yang gratis dan hari apa aja bisa nanya ke turis informasi atau digoogling di website.

Italian Vocabs

Bahasa Italia menurut gw salahsatu bahasa yang menarik untuk dipelajari (dan termasuk susah sih benernya) karena terdengar ekspresif dan indah didengar ^^

Pelajaran bahasa Italia gw dimulai dari Bologna dan Venezia, tahun 2010 waktu pertama kali nyampe Itali.
Yang wajib diketahui sih simple phrase seperti Buongiorno (selamat pagi), Grazie (terima kasih), Ciao (halo/ dagh), Prego (silahkan), permesso (permisi), scusi/scusa (maaf).

Banyak juga website yang ngasi clue untuk belajar bahasa Itali contohnya :
http://www.linguanaut.com/english_italian.htm

Atau yang lebih advance bisa liat disini :
http://www.iluss.it/schede_gram_free.html


Bahkan ada link dari BBC yang ngasi tips Italian phrase untuk situasi yang informal :)
http://www.bbc.co.uk/languages/italian/cool/pulling_flash.shtml

My free Italian lesson sebenernya gak masuk kamus, karena ini bahasa yang mestinya gak dipake sehari-hari alias vocab untuk swearing :)
However, kenapa gw masukin di blog ini, karena setelah belajar (tau) fakta ini, gw perhatiin banyak banget orang dijalan make kata-kata swearing ini!

Berikut contohnya :

Vafan Culo! (= f**k ass , ekspresi sangat menentukan, jadi make sure kalo pake ini mukanya juga harus beneran marah) bisa dipake kalo ada kendaraan yang seenaknya nyerobot jalur kita.

Porca Puttana!/Porca Troia!/Porca lainnya (porca=pig, jadi silahkan ditambahkan di depan kata apapun udah jadi kasar artinya) boleh dipakai juga kalo untuk ngedumel, misalnya nyari barang gak ketemu-ketemu.

Sei uno stronzo! kurang lebih artinya 'you are shit' ... jadi pake kalo bener-bener kesel sama orang/orang yang sangat menyebalkan

Pezzo di merda! (=piece of shit) ini paling tepat dipake kalo qta abis nginjek 'ranjau' dijalan, hasil buangan anjing yang suka diajak jalan-jalan sama majikannya :)

Sei un ciccione (m)/cicciona (f) artinya sih 'you are fat', tapi orang Itali kayanya bakalan tersinggung banget kalo dibilang gendut. Temenku bilang ini cocok dipake kalo sesama cowo maen sepak bola lalu mengumpat yang larinya paling lambat.

Tu non scopi !! artinya 'kamu impoten' ... hmm kebayang kan betapa marahnya orang Itali (yang sangat mengagung-agungkan machoisme) kalo dibilang ini, so ati-ati make yang satu ini

Selaen itu ada hal-hal yang lucu dari bahasa Itali yang gw tau seperti
tokoh kartun Popeye ternyata disana namanya Braccio di Ferro (=lengan dari besi).

Fakta lainnya yang penting : Orang (atau cowo) Itali juga termasuk romantis dan affectionate, dijamin bisa klepek-klepek deh kalo ada cowo Itali naksir qta (para cewe).

Mereka juga masih memperhatikan tata krama Galateo e.g. wanita harus jalan di depan lebih dulu, harus dibukain pintu, dikasi duduk (kalo naik kendaraan umum), pas dating disiapin kursi dengan pemandangan lebih nyaman etc.


Owya ini nasehat yang gw kasi untuk temen (cewe) gw yang jomblo :
"Get yourself an Italian man at least once in a lifetime, they're the best thing in the world that woman can get"
[Oktavia, 2011]
^^