Thursday, February 23, 2012

:: Film 'bau' medis ::

Akhir-akhir ini saya tergila-gila sama serial 'Trauma' yang diputer di stasiun TV swasta tiap malem.

Memang banyak alasan yang bikin film ini bagus untuk ditonton, para pemaen enak diliat (kalo dibilang semua cakep engga juga sih), alur ceritanya menarik gak bikin bosen, atau terlalu cepet sampe gak ngerti, tapi juga intens sama intervensi medis. Dan karena film ini bercerita tentang profesi medis, asik aja ngeliatnya - mengingatkan sama masa-masa dulu waktu masih pegang pasien di rumah sakit (huhuhu... sok nostalgila deh).

Walaupun dari dulu saya penggemar e.r (emergency room) juga - yang naskahnya ditulis oleh Michael Crichton (dia dokter juga, walaupun lebih terkenal sebagai penulis novel e.g. Jurassic Park, Congo dst) dan serial medis laennya seperti scrubs (yang sebenernya lebih banyak cerita drama-nya).

Melihat orang luar negri (lebih tepatnya mungkin orang USA, abis yang bikin serial medis emang kebanyakan dari sini) yang begitu canggihnya punya teknologi untuk life-saving sampe pake helikopter (seperti di serial Trauma) jadi agak sirik juga.

Agak sirik karena dua hal; pertama, kenapa sih teknologi atau sistem kesehatan kita gak bisa semaju seperti mereka. Satu lagi, kenapa sih kita gak punya serial medis dalam negri yang keren (atau seengga-engganya mendidik masyarakat supaya lebih pintar) seperti mereka.

Ehm . . . sejujurnya ada beberapa channel stasiun TV swasta yang ampir-ampir gak pernah ditonton karena tiap kali isinya gak mutu. Apalagi kalo jam prime time (waktu orang makan malem) biasanya saluran TV penuh sinetron dengan target ibu-ibu.

Alur ceritanya gak masuk akal, yang penting pake aktor/aktris cakep atau cantik.
Pokonya nonton 5 menit aja channel ini udah bikin kesel, pengen protes tapi gak tau ke siapa.

Lalu waktu itu ada temen dokter juga posting di wall Fb dia, yang protes kenapa di dalam sinetron ada dokter (peran 'dokter' tentunya, aslinya artis doang pake jas dokter) yang bilang kalo ginjal itu harus ditransfusi ???!???!???

Tentu aja untuk orang-orang yang ngerti medis fakta-fakta yang gak akurat ini bikin kesel.
Emang sih namanya sinetron, alur ceritanya aja gak masuk akal, kenapa juga detail yang lainnya mesti masuk akal?
*grgrgrgr*

Padahal kalau si sutradara atau siapa pun itu yang bertanggung jawab bikin sinetron mau usaha dikit mestinya dia bikin riset dikit. Gimana sih prosedur kalau mau nolong orang yang gagal ginjal, misalnya. Dan mustinya istilahnya transplantasi bukan transfusi.
Dan transplantasi ginjal prosedurnya gak semudah seperti ganti ban bocor di mobil.

Itu sih kalau yang bikin sinetron emang punya tujuan mulia pengen membuat tontonan yang mendidik atau mencerdaskan penonton ya.

Tapi yah, it's real life hey, mereka kan cuman mau duit duit duit.
Makanya sistemnya juga kejar tayang, gak penting isinya apa.
Toh orang yang nonton juga gak ngerti apa artinya istilah tadi.


Kembali ke dampak tayangan sinetron yang tidak mendidik tadi - ada sebuah contoh nyata (dari cerita seorang kolega juga yang menangani pasien) ada seorang pasien yang menyangka dirinya anak angkat dan minta dicek DNA segala hanya karena golongan darahnya beda sama orang tuanya.

Kesian sekali emang, gak semua orang ngerti pelajaran biologi waktu SMA (atau bolos waktu pelajaran tsb) tentang rhesus dkk. Tapi kebodohan itu jadi semakin didramatisir oleh tontonan sinetron soal anak angkat, anak ketuker waktu lahir, dan sterusnya.

Mungkin nanti, di masa depan, saat kebutuhan tontonan yang lebih masuk akal mulai tumbuh, perlu dipikirkan supaya saya berganti profesi untuk jadi penulis naskah yang berbau medis seperti Michael Crichton.

Karena sebenernya dunia medis yang sesungguhnya menarik juga koq, gak kalah banyak intrik-nya seperti sinetron. Ada banyak persaingan, tantangan, tapi sekaligus juga penuh pencitraan di mata orang 'luar'.
Selain itu juga, ada tujuan mulia supaya orang awam bisa membedakan apa yang menjadi hak-nya sebagai pasien - dan tidak mau dibodohi oleh kalangan medis itu sendiri.

Untuk sementara, saya cuman bisa menulis curhat-an di blog ini aja dulu sambil bilang dalam hati, 'Yah namanya juga Indonesia. . .'

Sori ya lagi-lagi bukan soal traveling . . . hehe :D

Tuesday, February 21, 2012

Life :: Random things ::

Well, udah lama gak ngisi bLog ini,
tentunya karena ada kesibukan sehubungan dengan penentuan karir di masa depan
(Gaya banget ngomongnya, bilang aja nyari kerjaan baru : )

Tapi, your job is not your career.

Jadi nyari kerjaan baru gak selalu berhubungan dengan membangun karir.

Ok, karena masi belum official, saya jadinya gak akan ngebahas soal itu.
Lagian ini kan judulnya travel bLog (walaupun karir baru saya nanti mudah-mudahan masi mendukung hobi jalan-jalan tentunya *evil grin*).

Baru-baru ini ada perubahan rencana, soal tadinya mau launching e-book tapi sepertinya harus ditunda. Sori ya . . . ( Geer juga, emang banyak yang kecewa gara-gara gak jadi?!?)

Sebagai gantinya, ada proyek yang lain sih (masih rahasia juga) yang tujuannya bukan (hanya sekedar) teaser supaya orang Indonesia mau lebih exploring tapi lebih ke pembangunan karakter.
Karena melihat dan mencermati, kayanya itu yang lebih urgent untuk situasi bangsa Indonesia masa sekarang.

Anak-anak muda seperti kehilangan arah. Mereka gak tau apa yang benar dan apa yang salah karena generasi tua-nya juga tidak bisa menjadi contoh/ teladan yang benar.
Apa yang diajarkan di sekolah cuman teoritis, lalu di luar praktek yang mereka lihat jauh berbeda.

Sedih gak sih kalau di masa depan generasi muda kita akan menjadi jajahan dari produk globalisasi?
Anak-anak muda lebih peduli sama segala sesuatu yang sifatnya fisik daripada membangun karakter.

Mereka lebih menghargai orang yang punya gadget canggih daripada orang yang punya karakter tangguh.

Selama saya tinggal di Belanda (sekitaran Amsterdam), jarang saya lihat anak-anak kecil pegang Hp atau gadget canggih.
Disini anak-anak usia SD sudah mahir bermain dengan iPad maupun gadget canggih lainnya.

Di Bandung kawasan perkotaan, dianggap wajar kalau anak SMP sudah punya Hp/ Blackberry (padahal kebutuhan mereka apa sih? BBm-an sama temen yang setiap hari ketemu di sekolah?).
Sedangkan di Belanda, orang yang punya BB yah yang berhubungan sama bisnisnya.

Di kelas saya yang isinya 90% orang Belanda (sisanya 1 orang Spanyol, 1 dari Benin, 1 dari Australia dan 1 dari Indonesia- saya) cuman ada 1 orang yang punya Blackberry.
Dan gak ada yang punya iPhone!
Padahal kelas saya tuh tempat kursus dokter-dokter yang mau jadi Tropical doctors, dan mereka bayar kursus itu mahal banget (kalo saya sih gratis, dapet beasiswa : )
Buat mereka gadget canggih itu gak bikin seseorang jadi lebih cool.

Mereka emang cuman beli barang yang sesuai kebutuhan, dan yang namanya Fb, Twitter, dan yang laen-laennya itu gak populer.
Beberapa temen saya emang punya account profi seperti LinkedIn, tapi gak semua orang punya Fb misalnya.
Yang punya Fb juga gak narsis gonta-ganti status yang gak penting (seperti kebiasaan beberapa orang yang saya kenal di Indo).
Status mereka itu isinya biasanya ngasitau kalo mereka udah punya baby, pindah ke Afrika (tempat kerja baru) atau lebih ke announcement yang bisa dilihat oleh kenalannya.

Kalo orang-orang yang saya kenal di Indo, semua hal yang gak penting bisa jadi inspirasi untuk status Fb. Mulai dari kecengan yang kelakuannya aneh, sebel sama orang, marah-marah sama orang baru ketemu di jalan.
Emang sih silakan aja mo nulis apa pun kan emang account Fb punya sendiri.
Yang males paling ya temennya, yang kepaksa harus ngebaca.

Tapi kalo dipikir-pikir, kenapa sih gak ada temen-temen saya yang di Belanda/Denmark yang punya status norak/ gak jelas gitu.

Kemungkinan, ini baru kemungkinan aja karena hasil analisa saya semata sih.

Orang Belanda/Denmark itu punya satu karakter yang sama yaitu 'tough' . . . ehm terjemahan Indonesia-nya mungkin karakter keras, gak mau keliatan lembek.

Mungkin karena iklim di belahan bumi utara yang gak bersahabat juga yang bikin karakter orang-orang ini jadi gak terlalu sensitif.

Contohnya, waktu saya naek sepeda di Amsterdam, dalam suhu 14 derajat Celcius, dan kecepatan angin 20-30 km/jam. Duh buat saya waktu itu rasanya udah ampun-ampunan deh, apalagi buat yang badannya kecil kaya saya rasanya jarak tempuh 8-12 km tuh seperti gak nyampe-nyampe.
Apalagi yang namanya ujan tuh biasa banget di Belanda, di musim panas pun bisa muncul ujan.
Terlebih saat musim gugur atau winter.

Tapi nyatanya, temen-temen saya di Belanda atau Denmark tuh kayanya tetep aja pada naek sepeda. Emang sih mereka komplen soal cuaca jelek (dan mreka bilang selalu komplen sepanjang taun, karena ampir jelek terus).
Walopun cuaca jelek teteup aja temen-temen saya ini gada yang switching naek kendaraan umum keq. Katanya sih 'Ah lama-lama juga biasa, lagian itu kan cuman ujan air'.

Di Belanda/Denmark kalau saya perhatikan juga kalo cuman ujan kecil sih gada orang tuh yang pake payung atau jas hujan. Semua lalu lalang seakan-akan gak ada apa-apa.
Apalagi di Kopenhagen, tempat saya tinggal, temen-temen saya orang Denmark suka bilang kalo semangat Viking itu 'gak melempem', tangguh, dan pantang menyerah.
Mereka juga suka pake baju tipis padahal suhu masih dingin, katanya supaya badan mereka jadi kebiasa tus lama-lama jadi kuat deh.

Anak-anak kecil di Belanda dan Denmark juga gak dimanja.
Dari kecil dibiasain kena angin (duduk di sepeda) dan maen di salju walaupun dingin.

Viking code
Beda banget begitu saya balik Indo lagi.
Despite cuaca disini hampir sepanjang taun konstan hangat (always summer, kalo saya bilang ke temen-temen bule) tapi akibatnya mental bangsa kita juga jadi keenakan.

Kena ujan dikit langsung sakit. Lupa pake jaket langsung masuk angin.

Itu contoh sederhananya.

Contoh laennya juga banyak.

Dari sekolah kita diajar untuk menghargai hasil bukan proses.
Contohnya, guru selalu memperhatikan murid yang nilainya bagus, bukan yang aktif di kelas selama proses belajar.
Akibatnya, murid lebih termotivasi untuk nyontek (supaya dapet nilai bagus), ketimbang aktif mengikuti proses belajar mengajar.

Owya, ini juga saya rasakan waktu masuk kelas bule-bule ini pertama kali.
Saya merasakan sebagai orang Indo koq saya malu sekali untuk bertanya.
Saya takut salah kalau bertanya, atau pertanyaan saya termasuk 'pertanyaan bodoh' dst.

Akhirnya temen-temen bule saya bilang: 'There's no such thing as stupid question.'
Lagian kita disini kan sama-sama belajar.

Dan mreka para bule tuh independent thinkers sekali.
Itu karena sejak kecil yang namanya opini tuh sangat dihargai.
Opini anak kecil juga dianggap sama kaya orang dewasa.

Gak pernah saya denger kalo ada anak kecil ngomong tus orang dewasanya bilang:
'Ah kamu kan anak kecil, udah deh gak usah ikutan ngomong.'

Karena setiap opini dihargai, mereka juga berani untuk menentukan sikap.
Mereka juga gak suka 'ikut-ikutan'.
Kalau buat kamu cocok ya silakan, tapi belum tentu buat saya juga cocok.

Akibatnya emang kadang-kadang pas kerja kelompok susah sekali menyatukan beberapa independent thinkers ini, tapi yang bagusnya lagi, mereka juga fair banget.

Artinya, kita bisa bertengkar karena berbeda opini saat diskusi dalam kelas.
Tapi diluar kelas, it's all over. Kita jadi temen lagi, karena apa yang kita diskusikan tadi gak usah dibawa personal.

Pokonya semua pengalaman berharga selama saya menempuh studi diluar ini bikin saya kepikiran gimana membangun karakter bangsa Indonesia, terutama anak-anak generasi mudanya. Karena kan mereka yang nanti akan menggantikan generasi tua yang sudah korup dan gak bisa diapa-apain lagi (kecuali sama KPK).

Oke deh, itu dulu cerita tentang random things ya . . . hehehe . . . . kecewa deh gak ada cerita travelingnya ^^

Saturday, January 14, 2012

Book Review :: The art of war for women

Akhir tahun lalu saya membeli dua buku yang sebenernya dipilih secara random hanya karena alasan murah (harganya cuman 15rb-an) pas Gramedia end year sale di PvJ.
Bukannya saya gak mau beli buku yang mahal, tapi memang akhir akhir ini saya cenderung memilih untuk koleksi e-book demi keberlangsungan bumi kita (cieh cieh), kecuali . . . dengan alasan buku tersebut memang bermanfaat dan bisa dipinjamkan ke orang lain.

Salahsatu dari dua buku yang saya beli itu berjudul 'The Art of War for Women'.
Bukan 'seni berperang' yang sesungguhnya yang diulas dalam buku ini, walaupun naskah aslinya (ditulis oleh Sun Tzu) memang dimaksudkan untuk memenangkan strategi perang saudara yang berlangsung di Cina lebih dari 2500 tahun yang lalu.

Isinya filosofi untuk 'meraih kemenangan dalam karier dan kehidupan' yang memang diadaptasi dari strategi perang Sun Tzu sehingga sesuai dengan kebutuhan dan tantangan wanita jaman sekarang.

Surprisingly, ini buku ternyata bagus dan menarik banget. Juga relevan ketika dibaca di awal tahun dimana kita biasanya punya banyak resolusi yang ingin dijalankan.

Dikatakan ada beberapa prinsip yang utama dalam meraih kemenangan (karena jaman sekarang kita tidak lagi berperang, jadi kemenangan yang dimaksud adalah ketika mendapat tantangan dalam berkarier, berkeluarga atau menjalani kehidupan pada umumnya):
Salahsatu prinsip yang disebut pertama dan yang terpenting adalah 'Tao' yang bisa diartikan 'sang jalan, kebenaran, moralitas'.

Maksud dari prinsip ini adalah, jika tujuan awal kita selaras dengan Tao (segala sesuatu yang benar, baik, sesuai dengan moral) maka sebenarnya kesuksesan sudah ada di pihak kita.
Sebaliknya, jika tujuan kita melakukan sesuatu tidak selaras dengan Tao maka kemalangan/ kerugian lah yang akan berpihak.

Contohnya adalah orang yang ingin mengambil keuntungan secara cepat dengan cara menipu orang lain, atau menjual produk yang kualitas buruk untuk meraup keuntungan besar - maka ini bertentangan dengan Tao dan selayaknya tidak akan sukses (dalam waktu lama).

Oleh karena Tao tidak dapat dihalangi atau disembunyikan (kebenaran itu selalu muncul pada akhirnya) maka motivasi awal kita penting untuk menentukan berhasil atau tidaknya dalam memulai suatu karir atau bisnis.

Prinsip lain yang disebutkan dalam buku ini adalah 'Tien' (penempatan waktu, momentum).

Momentum atau waktu yang tepat merupakan poin penting dalam 'berperang'.
Seorang jendral yang berpengalaman tau kapan waktu untuk menyerang, bertahan atau berdiam (saat berdiam kita juga biasanya memikirkan strategi yang lebih baik).

Perusahaan yang akan meluncurkan suatu produk baru juga perlu memperhatikan prinsip 'Tien' ini.

Produk yang terlalu cepat diluncurkan misalnya, mungkin mempunyai keuntungan untuk meraih pasar terlebih dulu tapi mempunyai tantangan dalam merebut kepercayaan konsumen.
Sebaliknya produk yang diluncurkan belakangan bisa meraih keuntungan dari animo pasar yang sudah terbentuk sebelumnya, walaupun berarti memiliki lebih banyak kompetitor juga.

Selain soal penempatan waktu, ada suatu bahasan juga dalam buku ini yang mengingatkan tentang siklus pergantian waktu (musim gugur digantikan musim dingin, musim dingin digantikan musim semi, dan seterusnya).

Sama seperti 'ups and downs' yang alamiah juga terjadi dalam fase kehidupan manusia.

Kebanyakan orang mendapatkan hal terbaik dalam hidupnya (kekuatan, pengharapan, cinta kasih, inspirasi, solusi, inovasi) justru pada saat sedang berada dalam fase 'down'.
Mereka yang memasuki fase 'down' mendapat kesempatan untuk berefleksi, berkontemplasi, dan menyusun strategi untuk kehidupan yang lebih baik.


~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ *



summer in Manarolamusim panas di Manarola (IT)

Dulu saya pernah berpikir bahwa musim panas adalah musim favorit saya selama di Eropa, tapi ternyata tiap musim punya keindahannya tersendiri.

Musim gugur ternyata bisa indah juga saat pohon-pohon mengalami pergantian warna daun dari hijau, ke kuning, lalu menjadi jingga kemerahan.

Suhu udara yang tidak terlalu panas dan belum terlalu dingin di awal musim dingin untuk saya juga membawa kenyamanan tersendiri, terutama kalau kita senang bersepeda.


autumn in Berlinmusim gugur di Berlin (DE)

Kalau saya punya kesempatan untuk kembali lagi ke Italia, sepertinya awal/ pertengahan musim gugur adalah waktu yang tepat untuk mengeksplor negara penuh keindahan ini.
Soalnya, kalau musim panas ternyata suhu di Roma (juga di kota bagian selatan) bisa ekstrem banget sampe 40 derajat Celsius, bikin mau pingsan aja pas jalan-jalan . . . .

Musim dingin atau musim salju juga bisa terlihat indah (kalau pas turun salju dan semuanya terlihat putih, kaya di gambar-gambar kartu pos) dan juga bisa terasa sangat menyebalkan kalau yang ada cuman hujan terus-terusan dan angin gede (seperti pengalaman saya di Belanda, negri kincir angin).

Salju yang turun terlalu ekstrem sampai menyebabkan badai juga bisa mengganggu transportasi publik, akhirnya jalur tram terkubur, juga jalur kereta (train) antar kota terganggu, juga mobil pribadi tidak bisa beroperasi kalau salju terlalu parah menutupi jalan.
Belum juga jadwal penerbangan yang kacau gara-gara landasan terbang yang licin sehingga banyak flight tertunda.

winter in diemenmusim dingin di Amsterdam (NL)

Musim semi bisa dibilang jadi musim terfavorit banyak orang, juga menjadi favorit saya setelah merasakan ke-empat musim di Eropa.

Terutama setelah mengalami musim dingin yang panjang dan menyebalkan di negara Eropa bagian utama, rasanya kehangatan musim semi benar-benar jadi suatu anugerah.

Belum lagi pemandangan bunga-bunga yang bermekaran, dari segala sesuatu yang tadinya cuman abu-abu jadi penuh warna.

spring in Budapestmusim semi di Budapest (HU)

Sama juga seperti fase kehidupan manusia, ada saatnya kita penuh kebahagiaan, dikelilingi oleh teman, sahabat, keluarga atau orang-orang yang kita sayangi.
Ada juga saatnya kita merasakan kesedihan dan kesendirian.
Kedua-duanya bisa jadi pembelajaran buat kita, karena kita tau apa itu kebahagiaan saat kita mengetahui apa itu kesedihan.

Juga ada saatnya aktivitas kita penuh kesibukan, karir meningkat pesat, bos kita bergantung pada kerjaan kita dst.
Tapi juga ada saatnya kita perlu berdiam diri dan beristirahat, dan juga memikirkan apakah yang kita lakukan selama ini adalah memang hal yang kita inginkan, atau kita hanya ingin sekedar sibuk tanpa tahu apa yang ingin kita raih kedepannya.

Sama seperti beruang salju yang perlu tidur beristirahat selama masa musim dingin untuk mendapatkan kekuatannya, manusia juga tidak bisa terus menerus bekerja tanpa beristirahat.


~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~

Kembali ke Indonesia membuat hati nurani dan rasa sosialku kembali terasah.
Setelah sekian lama tinggal di negeri orang dimana segala sesuatu tampaknya sempurna dengan adanya sistem jaminan sosial masyarakat dari pemerintahnya-
Indonesia terlihat sebagai sebuah negara yang sebenernya kaya tapi berwajah miskin, milik segerombolan orang yang menjunjung kapitalisme.

Disinilah ada tukang batu yang umurnya 60 tahun lebih dengan gaji kurang dari 3 US dolar per hari sementara ada juga artis kaya umur 30 tahun memiliki koleksi tas bermerk seharga 3000 US dolar (per buah).
Ironis bukan?

Entah dimana rasa sosialisme kita, pastilah hilang di suatu tempat karena tayangan sinetron kita pun dibanjiri dengan rasa kapitalisme dimana mereka yang kaya dan bergelimang harta pasti bahagia.

Oke, memang ini sedikit ngelantur . . . dari review buku, lalu pergantian musim, dan sekarang protes soal keadilan.

Biarlah . . . namanya juga blog pribadi toh.

Balik lagi ke kontemplasiku soal Indonesia dan rasa keadilan.

Kembali ke negri sendiri setelah merasakan gimana enaknya (dan tidak enaknya) di negri orang bikin saya sadar kalau disinilah ada banyak peluang untuk membuka usaha.

Contohnya, membuka bisnis makanan diluar negri tidaklah mudah.
Ada aturan yang ketat soal standar kualitas makanan yang aman untuk dikonsumsi orang banyak.
Itulah sebabnya saya rasa pikset Ma Icih biarpun populer setengah mati di Bandung rasanya gak akan diimpor menembus pasar Eropa atau Amerika Serikat (yang ketat dengan Food & Drug Administration-nya).

Standar gaji pegawai yang rendah di Indonesia, juga menyebabkan banyak orang berwirausaha-
belum lagi disini tidak selalu disediakan jaminan asuransi kesehatan bagi pegawai.
Sehingga ini juga membuka peluang bagi provider/ penyedia layanan asuransi (baik dari pemerintah atau pihak swasta).

Tentunya, bisnis dokter/ kesehatan selalu menarik dimana tidak ada jaminan asuransi kesehatan dari negara.
Tarif dokter bisa dipatok sesukanya, tergantung apakah dokter tersebut populer/tidak, spesialis/tidak, letak praktek strategis/tidak- karena toh sistem user fees (pasien keluar duit sendiri kalau berobat) sesungguhnya memang sangat menguntungkan untuk penyedia layanan kesehatan.

Makin banyak orang sakit, semakin diuntungkanlah sebenarnya provider kesehatan.

Apa hubungan nya semua ini dengan book review The Art of War yang saya tulis sebelumnya?

Sederhana saja, sekarang saya ada di pihak promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Inilah perubahan siklus dalam kehidupan saya, setelah mengalami hibernasi (proses akademis di negeri orang), keluar dari zona kuratif yang nyaman dan menguntungkan bagi seorang dokter.

Saya ada di sisi mereka yang tidak mampu mengeluarkan duit untuk berobat tapi berhak untuk mendapat informasi bagaimana menjaga kesehatan.

Kata teman saya, 'Kalau kamu tidak suka mengambil duit dari orang miskin, jadi Robin Hood saja. Jadilah dokter untuk orang kaya, supaya duit kamu bisa membantu orang miskin.'
(I still think it's unfair but maybe he's kinda right).




Sunday, December 11, 2011

[e-book] project

Beberapa orang bilang, kenapa gak ditulis buku aja ceritanya?

Alesan saya sih, untuk saat ini, sayang sama kertas karena pastinya harus naek cetak.

Lagian kepedean banget sih emang ada yang bakal beli kalau ternyata diterbitkan?

Tapi tiap bulan ada sekitar 1,000 pengunjung masuk ke bLog, jadi kepikir untuk bikin e-book aja.

Dengan e-book orang juga teteup bisa baca walaupun offline karena tinggal download.

Selain itu juga kalau mau di-print lalu disimpen atau dipinjemin ke orang laen buat baca juga masi bisa.

Cita-cita saya sih, semakin banyak orang baca e-book ini, semakin banyak orang yang termotivasi untuk 'belajar dari dunia' - dan bukan hanya sekedar jalan-jalan kalau melancong keluar negri ^^