Tuesday, March 3, 2015

Money management (so you could travel more ! )

Baru-baru ini seorang teman (well, beberapa orang sih) bertanya seperti ini:

" Apa sih kerjaan élu? Koq kayanya bisa jalan-jalan terus ? "


atau

" Duit élu koq gak abis-abis yah… bisa bolak-balik Eropa melulu… "

Kenyataannya : Hidup itu memang gak seindah gambar - gambar yang gw posting di sosial media *smile*

Tapi kita pasti bisa traveling dimana ada niat dan strategi untuk mewujudkannya.

Sebelum gw share beberapa tips dan trik supaya bisa bepergian tapi gak bangkrut ada sedikit prelude: kenapa traveling itu penting (dan kenapa menghabiskan duit untuk traveling itu perlu) sama pentingnya seperti investasi lainnya.

Kecanduan gw akan traveling sebenarnya muncul sejak usia muda (kesannya sekarang gw udah tuwir banget yaks)…. maksudnya muda di sini adalah awal 20an.

Tapi perjalanan pertama keluar negri sendiri baru dimulai tahun 2009.
Waktu itu gw solo backpacking ke Thailand. Iya murni sendirian aja ditemani backpack.
Setelah riset singkat tentang Thailand, gw berangkat untuk perjalanan selama 2 minggu, dengan short transit di Singapore selama beberapa hari.

Sedikit catatan: Sebelumnya gw udah sering wara-wiri sendiri Jawa-Bali-Lombok-Sumbawa. Dan tentunya masalah traveling sendirian sama di negri orang sedikit berbeda tapi kurang lebih survival skill-nya sama.

Singkat cerita, perjalanan pertama itu berkesan banget, serasa melihat dunia baru deh pokonya dan akhirnya gw pun ketagihan untuk mengeksplor banyak tempat baru di luar (maupun dalam negri).
Traveling mengajarkan banyak hal dalam hidup yang gak bisa kita pelajari selama kuliah, dan buat gw sih menambah wawasan, cara pandang terhadap hidup, manusia. 



Traveler's quote ~ Dalai Lama (captured in NL, 2010)

Nasehat yang bakal gw bagikan ke anak muda: Traveling is a must, foremost while you are young.

Setelah nasehat itu, biasa akan ada pertanyaan lanjutan. " Ya tapi traveling itu kan butuh duit. Lalu gimana kalo kita masi muda, duit masi minta ortu, belum punya penghasilan dst…."

Betul sih. Realistis aja, kalo duit masih minta ortu alias belum berpenghasilan sendiri ya salah satu jalan keluarnya adalah nabung.
Dan gak usah maksain jalan keluar negri yang budgetnya besar, coba traveling dalam negri dulu. Karena yang penting kan melatih independensi dan how to survive in a real world.
Ada satu catatan penting yang ingin gw tekankan terkait menabung ini.

Menabung sebetulnya bukan hanya tips bagi anak muda yang belum berpenghasilan.
Tapi juga bagi banyak orang yang sudah bekerja sekian lama dan punya penghasilan tetap tapi gak pernah punya dana khusus buat jalan-jalan. And I found it really sad actually

Ohya, tentang tabungan …. itu sebetulnya adalah sebagian kecil dari money / resources management, yang nantinya akan gw bahas lebih lanjut dibawah.

Kalau dari latar belakang akademis, sebetulnya gak dalam kompetensinya gw membahas soal money management. Terus terang belajar 5 tahun lebih di kedokteran gak bikin gw cerdas sama sekali dalam mengelola finansial.
Justru money / resources management ini gw pelajari secara otodidak, karena gw pernah (atau sering) mengalami masa-masa financial crises (mendekati kebangkrutan ).

Setelah menyadari kalau money / resources management itu penting bagi seorang manusia secara umum (termasuk dokter, kan dokter juga manusia) maka gw belajar untuk lebih bijaksana mengelola keuangan.

Ok kembali ke menabung.
Emang cara konvensional ini paling terkenal di Indonesia, karena dianggap aman dan juga paling mudah.
Nabung kan bisa bermodalkan hanya celengan (atau ditaro di bawah bantal) dan kalo mau lebih sistematis tentunya dengan buka tabungan di bank (lalu setor rutin bulanan/ mingguan).

Tapi kalo ditelaah lebih lanjut, nabung itu sebetulnya gak menguntungkan amat.
Duit kita di bank malah suka kena potongan administrasi per bulan, belum bunga yang dikasi bank kecil banget. Maksimal 7% per tahun (tergantung BI rate).
Lalu kalo ada keperluan mendadak (misal ada diskon akhir tahun, tiba-tiba pengen upgrade gadget dst) akhirnya tabungan itu jadi kepake deh buat hal laen.


Intinya, tabungan susah jadi jaminan bahwa nilai yang kita inginkan untuk terkumpul dalam sekian waktu itu bisa terwujud.
Betul kalau kita harus selalu punya tabungan, in any case, untuk menjamin tersedianya dana likuid. Hanya jangan dijadikan sarana untuk akumulasi nilai investasi terutama bila kita punya target dalam jangka waktu tertentu, misalnya.

Cara lain yang memungkinkan supaya dapet return lebih dibanding tabung bisa dengan membuka deposito, tapi syaratnya selalu ada jumlah minimal tertentu (sekian juta). Belum lagi dengan laju inflasi yang tinggi di negara kita akhirnya nilai uang yang dimiliki bakal mengalami penurunan.

Salah satu solusinya yang bisa gw rekomendasikan: Memulai alternatif investasi dengan cara yang lebih cerdik.
Pilihannya tentu banyak, silahkan disesuaikan dengan profil resiko masing-masing dan juga kesanggupan/ dana yang tersedia.

Buat anak kuliahan (dan ini juga yang gw sarankan kepada adek-adek sepupu yang minta nasehat gratis): Mulai dengan reksadana.
Informasi tentang reksadana jaman sekarang bisa dicari di mana-mana (asal punya kemauan dan mau putar otak dikit).
Memulai reksadana juga cukup dengan dana 100ribu per bulan, yang buat anak muda jaman sekarang setara dengan budget  2 - 3 kali nongkrong di cafe/ resto.

Masalahnya bagi anak muda -dan juga buat kebanyakan orang kita sih- banyak yang lebih suka menghabiskan duit untuk gaya hidup (baca: nongkrong di cafe, nyoba resto baru, beli barang mahal, upgrade gadget, dst you name it) daripada nabung demi bisa traveling 2 - 3 tahun ke depan.

Ya gw bilang gak salah juga kalau kita ingin menikmati duit yang udah jadi jerih payah hasil kerja kita. Bahkan dulu gw juga melakukan hal yang sama koq.
Pada saat gaji bulanan gw menyentuh 8 digit maka dalam seketika banyak barang bisa gw beli, baik dengan metoda cash / cicilan.
Untungnya gw gak terlalu suka barang cewe seperti sepatu, tas, atau aksesoris, tapi duit gw sempat habis lumayan banyak untuk kosmetik mahal.


Memang tiap kita punya kelemahan masing-masing. Ada yang duitnya abis untuk gadget sampe bela-belain nyicil demi punya iPh*ne terbaru misalnya. Atau ada sodara gw yang gajinya pas-pasan tapi demi gaya hidup nyicil untuk beli tas bermerk mahal.

Godaan terbesar buat gw ya sebetulnya traveling.
Tahun 2014 kemaren aja gw traveling ke beberapa tempat: Timteng (Yordania), Eropa (Italia, Belanda, Belgia), Asia Tenggara (Bangkok, Kamboja, Kuala lumpur, Bali-Jawa) yang kalau ditotal mungkin duit yang gw habiskan kurang lebih setara dengan harga 6 buah iP*one keluar terbaru (dibeli tunai!).


Might be one of the symptoms of traveling's addiction:
I really like the sense of flying high
Kenapa gw bisa bepergian sebenarnya bukan dialaskan sekedar niat untuk mengalokasikan budget untuk traveling aja. Tapi juga karena gw menghilangkan pengeluaran yang gak penting (selama beberapa bulan atau bahkan hampir 2 tahun).
Contoh sederhana, gw suka banget jalan kaki ke kantor (karena apartemen deket ke kantor) ketimbang naek angkutan umum.
Dan walaupun gaji gw memungkinkan untuk naek taksi tiap hari, tapi gw gak keberatan naek kendaraan umum juga- walaupun artinya menghilangkan kenyamanan, tentu saat situasi memungkinkan yah.

Gw juga gak terlalu suka menghabiskan uang untuk makan makanan di resto. Bagi gw makan enak itu penting, tapi makan enak dan mahal itu pilihan. Dan makan enak itu gak harus mahal kan...

Makan enak juga bisa gratis (ditraktir uni) ~Bordeaux, 2010

Kalo gw perhatiin sih yah, jaman sekarang orang cenderung konsumtif karena seperti ada 'keharusan' coba resto / cafe baru ini (kalo engga jadi berasa gak gaul). Belum juga di sini kita kurang lahan publik untuk bersosialisasi (kaya taman kalo di negara-negara Eropa) makanya seringnya orang pergi ke mall atau pusat perbelanjaan buat tempat nongkrong.
Akibatnya orang jadi konsumtif, pengen beli ini itu.
Anak-anak sejak kecil juga belajar jadi konsumtif (ya iyalah, liat orangtuanya kasih contoh).

Kesian juga sih orang kita.
Makanya kalo ada kesempatan dengan traveling keluar kita jadi bisa belajar gimana negara maju itu menghabiskan waktunya. Dan kebiasaan baik apa yang bisa kita tiru, sehingga kita jadi terbawa maju juga kaya mereka.



Amsterdam, on an exceptionally beautiful day (winter 2010)
 Sebagai contoh lainnya, saat di Belanda (karena gw sempat tinggal beberapa bulan di sana) banyak orang Belanda itu sebetulnya banyak duit. Gaji mereka pasti cukup buat hidup berlebihan. Ya emang di Amsterdam biaya hidup cenderung tinggi dibanding kota lain yang lebih kecil. Tapi kalo gw perhatikan, mereka (orang Belanda) tuh termasuk pelit.

Kalo beli makanan ternyata mereka suka nyari yang lebih murah alias diskonan (tapi kualitas masih lumayan bagus sih). Trus gw perhatikan temen-temen bule gw di kelas tuh hape-nya hape jadul semua. Cuman 1 orang yang punya iPhone (itu tahun 2010 yah). Buat mereka gadget itu gak perlu canggih, yang penting fungsinya.
Trus mereka hemat banget, kemana-mana pake sepeda (termasuk direkturnya institusi gw).

Ya emang (lagi-lagi) Belanda adalah salahsatu negara Eropa yang punya budaya bersepeda. Selain itu transportasi umum juga gak murah-murah amat.
Jadi pilihan paling ekonomis ya sebetulnya dengan bersepeda.


Tapiiiiii….. in general mereka emang pelit, hemat, gak berlebihan, bahkan gaya berpakaian juga biasa aja.
Justru kalo gw perhatikan murid-murid dari negara berkembang (Pakistan, Bangladesh, negara-negara Afrika) yang suka berpakaian jas/ formal pas kuliah.
Supaya terkesan penting dan keren kali yah.

Sedangkan yang bule-bule malah pake kaos/ atasan semi-formal.
Buat mereka 'isi' itu lebih penting daripada sekedar penampilan luar.


Walaupun hemat-cenderung pelit-.... orang Belanda (atau kebanyakan orang Eropa yang gw kenal) pasti mengalokasikan budget untuk traveling. Bahkan sampe mereka tua pun, penting buat selalu traveling dan liat tempat baru paling engga setahun sekali.
Ibu kos gw di Kopenhagen aja umurnya udah 60 tahun lebih pun masih niat banget traveling ke Afrika dan dia ngumpulin duit lama buat trip-nya itu.


To see at least one new place each year, is such a privilege ~ Cannes, FR (2011)

Nah ini yang gw pelajari dari kultur di sana.

Balik dari Eropa gw malah belajar kalo gengsi itu gak ada gunanya.
Gengsi will get you nowhere.

Jadi gak ada gunanya misalnya punya gadget terbaru dan tercanggih, tas sepatu branded, kalo semuanya cuman demi gengsi.
Sekali lagi gw tekankan, gak ada yang salah dengan me-reward diri sendiri atas hasil jerih payah kerja keras kita dengan barang bagus, tapi….. kalo cuman demi gengsi doang sih….

Kembali ke soal money / resources management, nasihat yang juga gw berikan kepada adek-adek sepupu (yang usianya jauh lebih mudah 1 dekade lebih) adalah: Mulai investasi sedini mungkin.

Ini mungkin terdengar klasik. Penyesalan selalu datang terlambat, karena gw baru mulai sungguh-sungguh berinvestasi di usia 30an.
Kalo gw bisa mengulang waktu 10 tahun ke belakang, saat di mana gw pertama kali mendapat penghasilan sendiri maka sedapat mungkin bakal diusahakan tertib menyisihkan budget buat reksadana walaupun hanya dengan 100 - 200rb per bulan.

Tentu penyesalan gak ada gunanya, makanya pelajaran ini selalu gw bagikan kepada sodara/ adek sepupu yang lebih muda. Terutama setelah mereka tergiur dengan foto-foto perjalanan gw ke berbagai negara *winks*

Ohya, di sini gw hanya membahas salah satu jenis investasi yang bisa dimulai sedini mungkin, dengan jumlah kecil, dan nilainya berpotensi membesar dalam jangka waktu lama.
Precaution-nya, selalu ada resiko dalam investasi jenis apa pun. Ini bisa ditanyakan ke mereka yang lebih ahli menjelaskan soal ini. Atau ke agen penjual reksa dana biar lebih akurat informasinya (bisa di bank atau perusahaan sekuritas).

Selain reksa dana ada banyak metoda lain untuk berinvestasi, misalnya beli saham (bila punya pengetahuan mencukupi), atau beli barang yang punya nilai investasi -emas, kata orang jaman dulu- atau surat berharga seperti obligasi, kalau dana mencukupi.

Sebuah nasihat berharga yang selalu gw ingat dari seorang konsultan dalam bidang keuangan: Di saat kita tidak punya cukup dana untuk membeli sebuah investasi, investasi awal selalu bisa kita mulai dari kepala.

Maksud beliau adalah, miliki pengetahuan tentang investasi sebelum kita punya cukup dana (atau sumber daya) untuk memulainya.
Bisa dengan baca buku (gratisan, di toko buku) atau browsing di dunia maya, menghadiri seminar (gratis, suka diadakan di kampus/ institusi pendidikan).
Intinya semua bisa dilakukan asal ada niat.

In short, traveling itu sendiri merupakan sebuah investasi bagi kita.
Di luar negri atau mereka yang ingin bekerja di organisasi luar, pengalaman traveling itu sering jadi poin penting. Pengalaman traveling itu menunjukkan seberapa penting kita mampu mengelola diri sendiri.

Makanya gak aneh kalo remaja bule biasanya mengambil waktu 1 tahun selepas college (gap year) khusus buat traveling, bahkan pada saat mereka punya budget yang terbatas. Karena hal itu bakalan penting juga buat mereka pas nyari kerjaan.

Di lain waktu, gw juga pengen share how to spend a budget wisely during traveling.
Yang sebetulnya udah banyak website ngebahas juga sih, beberapa bahkan memberi tips yang ekstrim banget sampe gak memperhitungkan faktor keamanan.

Tapi mungkin di dalam tulisan berikutan, supaya gak kepanjangan dan bosen bacanya : )

Monday, February 2, 2015

those skinny feet that took me everywhere

Gak semua yang dibilang orang ke kita itu pasti benar.

Ini kesimpulan yang saya ambil sejak usia dini.

Dulu banget, tentunya sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya, orangtua jadi referensi tentang dunia ini. Apa apa yang kita gak ngerti pasti kita tanyain ke ibu/ayah atau mama/papa sebagai sumber informasi primer.

Dulu banget juga, saya yakin orang tua banyak mengajarkan hal-hal yang memang benar adanya. Tapi ada juga informasi yang kurang akurat atau bahkan 'kebohongan' yang mereka sampaikan ke anak-anaknya.

Salah satunya tentang Sinterklas.

Sampe umur 10 tahun lebih, saya percaya luar dalam bahwa Sinterklas memang benar-benar ada. Dan mereka bakal kasih kado ke anak-anak yang baik kelakuannya di akhir tahun.

Sehingga tiba saat dimana fakta yang sebenarnya terungkap… maka dunia pun serasa gempa sesaat. Ternyata… orangtua yang saya percaya selama ini tega membohongi anaknya sendiri.

Maka sejak usia dini saya pun memutuskan bahwa orangtua bukan lah (selalu) jadi sumber informasi yang dibutuhkan.
Beruntungnya, saya tidak pernah merasakan kekurangan sumber bacaan seperti buku, majalah, ensiklopedia ataupun media pertukaran informasi lainnya di masa kecil.

Setelah dewasa (FYI kedewasaan saya dimulai pada umur 18 tahun, saat resmi menjadi mahasiswa semester pertama fakultas kedokteran) banyak informasi yang saya butuhkan tidak lagi berasal dari kata-kata orang tua. Terutama karena pengalaman sebelumnya membuktikan bahwa mereka kadang-kadang (sengaja atau tidak) memberikan saya informasi yang salah.

Salah satunya yang dulu sering saya dengar:

'Orange bule itu jarang mandi, badannya bau keju.'

Sampe sekarang nenek dari pihak ibu saya pun masih suka meng-indoktrinasi dengan pemikiran serupa.

Pernyataan tersebut, kalau ditelaah lebih jauh dari kacamata peneliti sosial demografik misalnya:

'Orang bule yang mana?'
Apakah bule asal Eropa, Amerika, atau Australia.

Kalau yang dimaksud bule asal Eropa, Eropa belah mana?
Apakah orang Belanda, dimana nenek saya memang familiar dengan kebiasaan mereka yang jarang mandi (terutama saat musim dingin).
Atau orang bule Prancis yang memang menurut survey paling jarang ganti underwear dibandingkan cowo asal negara-negara lainnya di daratan Eropa.

Pernyataan diatas bisa dibilang entah terlalu meng-generalisasi, terlalu cepat mengambil kesimpulan, atau hanya prejudice semata.
Entahlah….

Tapi bisa dibilang pernyataan serupa muncul di belahan dunia mana pun.

Saat saya di Belanda, orang lokal punya prejudice sendiri tentang negara tetangga si orang Jerman. Temen-temen bule Belanda di kelas saya juga suka mengeluarkan pernyataan yang sedikit melecehkan tentang orang asal Belgia.

Di Belgia, temen bule saya menyinggung tentang negara Prancis yang mencuri 'Patat Vries' mereka dan menggantinya dengan nama 'French fries'.
Mereka yang di Prancis Utara bilang orang yang tinggal di Prancis Selatan lebih santai, tukang bermalas-malasan dst.
Lalu saat tinggal di Prancis Selatan, orang lokalnya membenci mereka yang berasal dari Prancis Utara (terutama dari kota besar seperti Paris) karena dianggap sombong, tidak sabaran, tidak mengerti kultur selatan yang ramah, penuh toleransi and so on.

Jadi, being a bit here, there and everywhere mengajarkan saya untuk tidak selalu percaya akan pernyataan pertama yang saya dengar ketika tiba di suatu daerah.

Atau in general, gak gampang percaya sama apa pun yang pernah kita dengar sebelumnya.

Mereka yang lebih tau duluan tentang suatu hal, bukan berarti mereka pasti benar.
Lagian ilmu pengetahuan aja selalu berubah… Contohnya orang jaman dulu percaya kalo bumi itu datar.
Dan ilmuwan pertama yang bikin pernyataan kalau bumi itu bulat langsung mendapat pertentangan dari pihak yang berkuasa (termasuk gereja, yang saat itu mengkategorikan sebagai ajaran sesat).

A bit skeptical and critical itu penting juga koq. Apalagi untuk spesies kita.
Itulah yang membedakan homo sapiens dengan makhluk bertulang belakang lainnya.
Secara proporsional, ukuran otak kita mungkin masih kalah dengan dolfin, mamalia dengan kecerdasan tinggi lainnya yang populasinya berkurang (bahkan terancam) karena keberadaan manusia.
Fortunately bukan ukuran otak (semata) yang menentukan kecerdasan, tapi lipatan-lipatan gyrus-nya. Dalam bahasa yang lebih dimengerti: Semakin sering kita menggunakan otak, akan semakin terasah kemampuannya.

Critical thinking, inevitably adalah bagian dari proses otak untuk terus berkembang.
Kebalikannya dari indoktrinasi.

Menerima mentah-mentah sebuah informasi tanpa mempertanyakan keabsahannya sungguh bertentangan dengan proses normal otak yang sehat.
Tapi tentu aja ada sebagian orang yang diuntungkan dengan teknik indoktrinasi.
Di filem-filem maupun kehidupan nyata, umumnya bila sebuah pihak ingin berkuasa (atau berniat melanggengkan kekuasan) maka kebebasan berpikir adalah haram adanya.

Indoktrinasi tentunya penting bagi kekuasaan absolut.
Mau contoh?
Liat aja Korea Utara. Di situ ada indoktrinasi dalam level ekstrim.

Contoh yang gak terlalu ekstrim adalah anggapan sebagian bangsa Indonesia yang berpikir bahwa pemimpin mesti berpostur tinggi, tegap, gagah, tegas dengan latar belakang militer.
(Dan bukannya ceking, kurus, tampang ndeso, dari rakyat sipil).

Psikoanalisisnya?
Karena bangsa kita adalah bangsa yang pernah terjajah.
Terjajah selama 350 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Dan penjajahan itu masih menyisakan rekaman mental, bahwa postur orang Belanda (yang cenderung tinggi, tegap, karena diet mereka yang tinggi protein) lebih cocok memimpin dibanding rakyat pribumi (yang cenderung kurus, kering, karena kurang gizi dan kerja paksa).

Jadi revolusi mental memang diperlukan.
Terutama bagi mereka dengan 'mental terjajah'.

Yang kita kira benar selama ini: Pemimpin terlahir dengan figur tertentu, tinggi, tegap dan gagah seperti SBY (yang sempat) jadi idola kaum wanita* selepas pemilu 2004 lalu.
* Sayangnya penulis tidak termasuk dalam golongan mereka yang mengidolakan beliau.

Kenyataannya: Mereka yang berjiwa pemimpin tidak mempunyai kriteria fisik tertentu. Contohnya Suryadi Suryaningrat, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan banyak orang pribumi Nusantara bertampang ndeso lainnya ternyata mampu membawa perubahan signifikan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Maka pesan penutup dalam tulisan ini adalah: Gak semua yang dikatakan orang itu benar. Terutama kalau orang yang jadi referensi kita adalah mereka yang telah berhenti belajar. Atau mereka yang berguru pada ilmu yang outdated.

Hidup ini cuman sekali. Mungkin kita ada disini agar kita mampu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hidup.

You have mouth, you can ask.
You have eyes, you can read.
You have brain, you can think.
You have time, you can travel.

Camogli, Liguria (IT) autumn 2011

PS. And no, Denmark should not considered as one of the happiest places on earth.


Malapascua, Cebu (PH) summer 2012
Wadi Rum (JO) spring 2014
St. Cergue (CH) winter 2015
milano 02.feb.2015

Sunday, January 25, 2015

.: The Art of Being Ignorant :. Milano - Gennaio 2015 [parte uno]

Tadinya tulisan ini mau saya kasi judul 'The advantage of being ignorant' ... tapi secara prinsip, lebih banyak mudarat-nya menjadi 'ignorant' daripada manfaatnya.

Seengga-engga itu yang saya rasakan selama tinggal 12 hari di Milan.

Dan perjalanan ke-sekian kalinya ke Milan tentunya bukan perjalanan traveling seperti biasanya.
Tapi lebih menjurus ke hubungan antarpersonal... yang... sepertinya gak usah diceritakan lebih jauh *ehem*

Jadi orang asing di negeri orang bukan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya pernah tinggal beberapa bulan di Belanda, Denmark, dan juga sempat meng-eksplor sejumlah negara baik di Eropa maupun sekitaran Asia.
Biasanya ada kosa kata tertentu yang akan saya pelajari, seperti 'Terima kasih', 'Maaf', 'Halo/ Selamat pagi' dst saat berpindah ke negara baru.

Mempelajari bahasa asing juga bagi saya sesuatu yang menarik dan bukan beban. Dari kecil saya memang familiar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Lalu sempat mempelajari bahasa Jepang selama SMU. Bahasa Jerman dan bahasa Prancis saat beberapa tahun silam. Dan sekarang bahasa Italia masuk ke dalam daftar. 

Saat tinggal di Belanda dan Denmark, saya memang tidak terlalu berusaha untuk mempelajari bahasa setempat karena ... 1) orang sana ampir semuanya ngerti bahasa Inggris. Bahkan tukang sapu jalan pun bisa diajak berkomunikasi pake Inggris. Mungkin cuman orang Belanda asli yang uzur banget gak familiar pake bahasa Inggris. 2) Bahasa Belanda mirip dengan bahasa Jerman. Dan bahasa Denmark juga mirip bahasa Jerman. So, kadang-kadang tanpa ngerti seluruh kalimat pun bisa ngerti artinya apa kalo orang ngomong. Walaupun seringnya ngeblank... 3) Gak kedengeran seksi, jadi gak tertarik untuk belajar serius.

Sebaliknya, saat pertama kali mengunjungi Italia di tahun 2010 (Bologna, dapet cheap flight Ryan Air cuman 20 Eur dari Weeze) saya langsung jatuh cinta dengan bahasa dan ampir segala sesuatu (terutama makanan, cuaca, dan karakter orang) tentang Italia.
Bisa dibilang mereka seperti bernyanyi ketika bicara.
Pesen kopi aja bisa jadi sesuatu yang romantis kalo diucapkan orang Itali : )

Bahasa Italia memang gak se-susah bahasa Prancis dalam pelafalan huruf/ kata. In fact, untuk orang Indonesia pelafalan bahasa Itali termasuk gampang.
Yang susah itu aturan grammar-nya. Mirip-mirip Prancis tapi ada yang bilang lebih susah.
Berbahagialah mereka mahasiswa kedokteran yang pernah belajar (sedikit) kata-kata Latin ketika kuliah. Karena bahasa Italia akarnya dari bahasa Latin juga.

Bagi mereka yang merasa belajar bahasa Inggris itu susah, maka mulailah untuk belajar bahasa lain yang aturannya lebih njelimet... bahasa Rusia mungkin, supaya ntar pas balik lagi belajar Inggris-nya pasti jadi berasa gampang banget.

Anyway,  sebelum melenceng lebih jauh dari judul ... berikut definisi dari Ignorant[adj.]: lacking knowledge or awareness in general.

And yes, it is normal being ignorant when one's went abroad.
Especially when they don't speak the same language.

Bahkan gak usah abroad, waktu saya PTT di Sumbawa aja (baru pindah pulau) orang setempat udah bisa ngata-ngatain saya di depan muka.
Simply because I didn't understand what they've said I didn't get mad or upset.

Ada beberapa keuntungan tentunya being ignorant di negri orang:

1) Kita gak ngerti apa yang orang laen omongin. Kadang kalo hal itu gak penting, maka seharusnya gak usah juga didengar.

Di Indonesia, banyak pembicaraan yang gak pengen saya dengar tapi mau gak mau terdengar.
Informasi gak penting seperti ini bisa jadi sampah emosional. Bikin kepikiran, tapi sebetulnya gak perlu dipikirin juga.

Omong-omong, bahasa Inggris punya 2 kata, hear and listen untuk dengar.
Yang kalo diterjemahkan bedanya cuman dikit. Hear: mendengar, listen: mendengarkan.

Selama di Milan, saya jadi jarang juga nonton TV yang isinya berita politik lokal. Walaupun aslinya saya peminat berita politik ketika di kampung halaman, baik lokal maupun internasional.
Informasi itu bisa jadi pedang bermata dua. Berguna dan juga bisa membawa petaka.
Jadi ada baiknya kalau kita gak ngerti bahasa setempat, mengurangi screen-time depan TV dan beban emosional untuk memikirkan masalah-masalah pelik di belahan dunia lain yang gak selalu relevan.

2) Beberapa hari yang lalu, kita abis dinner dan jalan kaki di seputaran Corso Buenos Aires (tempat shopping terkenal di Milan), ada seorang pria pake baju rapih dan jas doang (kita aja yang pake jaket masi kedinginan karena suhu 8 derajat Celsius) lagi duduk di pinggir jalan sambil pegang karton.
Saya tanya apa arti tulisan di karton yang dia pegang. Terjemahannya kurang lebih seperti ini: 
'Saya kehilangan pekerjaan dan punya 2 anak yang harus diberi makan'
Setelah itu saya jadi agak sedih. 
Kadang-kadang saya merasa dunia itu gak adil, karena selalu ada orang miskin, mereka yang kurang beruntung ...
Di Indonesia karena kita udah keseringan liat pengemis, anak jalanan, pengamen dst jadi mungkin malah kebal dengan perasaan kasihan. Malah saya sebel kadang, karena kepikiran koq ada orang tua yang tega-teganya membiarkan anak balita ngamen di jalanan, misalnya.

Tapi menginjakkan kaki di luar negri, terutama negara Eropa yang dianggap makmur, jadinya rasa kasihan itu muncul lagi.
Sempat penampakan gembel atau homeless jadi barang langka bagi saya selama tinggal di Kopenhagen. Sampe akhirnya saya short trip selama 1 minggu ke Budapest (Hongaria) dan penampakan itu kembali muncul. Langsung saya berteriak lagi (dalam hati tentunya, bukan di tengah kota Budapest) bahwa betapa tidak adilnya dunia ini.

Selama dua minggu di Milan, untuk pertama kalinya, tepatnya tiga hari yang lalu, saya menyaksikan seorang pengamen di metro. Seorang pria berumur pertengahan 40-an, tampang timur tengah dengan instrumen musik menyanyikan lagu berbahasa Italia, suaranya juga bagus (gak jelek-jelek amat pastinya). Dan sejauh mata saya memperhatikan gak ada seorang pun di dalam metro yang ngasi duit.
Suara hati saya membenarkan alasan tidak memberikan receh, karena: 'I totally didn't understand what he said.'

It's not always particularly beneficial for 'being ignorant' ... but at least we could forget temporarily that the world is an unfair place somewhere....



 

Wednesday, December 17, 2014

.: Pemulung juga manusia :.

Kebiasaan baik apa yang kita adopsi ketika bepergian ke luar negri ?

Bagi saya, sebuah kebiasaan yang melekat ketika saya sempat tinggal di Eropa dan menetap hingga sekarang adalah kebiasaan memilah sampah domestik.

Baik di Belanda maupun Denmark (atau di kebanyakan negara Eropa), sampah rumah tangga yang dihasilkan orang biasanya harus dipisahkan menjadi beberapa kategori: sampah basah (organik), sampah kertas, sampah plastik (botol), dan sampah gelas. 

Masing-masing ada tempat sampahnya tersendiri karena penanganannya berbeda. Di Belanda dan Jerman bahkan beberapa jenis botol plastik berukuran besar bisa ditukarkan dengan uang jika dikembalikan ke toko.
 

Landlady saya di Kopenhagen pernah menjelaskan alasan environmental hingga ke isu global warming segala di belakang permasalahan sampah ini,  yang sebetulnya bukan hal baru bagi saya. Justru isu tersebut sangat familiar bagi saya, yang memang pecinta lingkungan jauh sebelum saya mengenal teknik memilah-milah sampah.

Sebaliknya, saya malah mengagumi pemahaman si landlady tentang isu lingkungan padahal umurnya 60 tahun lebih. 

Kalo diperhatikan memang kebanyakan teman-teman saya di Eropa concern sama masalah sampah serta isu berkaitan dengan alam atau lingkungan.
Seorang teman yang jelas-jelas mengaku atheis garis keras tapi peduli banget kalo urusan memilah sampah dan konsumen setia produk organik atau ramah lingkungan (eco-friendly).

Balik ke Indonesia, saya jadi merasa orang sini koq kebalikannya. Katanya kita bangsa yang beradab, dengan prinsip 'Kebersihan adalah sebagian dari iman' tapi kenyataannya di jalanan ada aja orang sembarangan buang sampah.
Mentang-mentang ada tukang sapu jalanan jadi suka seenaknya buang sampah. Padahal tukang bersihin jalan a.ka tukang sapu itu sama-sama juga manusia kaya kita. Jadi apa susahnya kalo kita sendiri yang buang sampah yang kita hasilkan di tempatnya.

Kebiasaan memilah sampah ini juga saya teruskan di rumah.
Paling engga saya bisa 'meracuni' orang rumah sebelum mengubah dunia.
Botol-botol plastik, bungkus minuman kemasan karton, atau bungkus kopi plastik instan saya kumpulkan di tempat terpisah.

Biasanya hari-hari tertentu ada pemulung yang lewat di depan rumah dan akan mengambil sampah botol plastik atau bungkus karton. Kadang miris rasanya dalam hati saya kalau melihat pemulung itu ngorek-ngorek sampah punya tetangga sebelah, mencari sesuatu yang bisa diambil dari sampah-sampah yang sudah tercampur segala macam kotoran.
Pemulung itu kan manusia juga kan ya.
Kenapa kita gak bisa bikin hidupnya lebih mudah dengan memilah-milah sampah supaya dia lebih bermartabat saat mengerjakan tugasnya.

Itu juga yang saya perhatikan saat tinggal di Eropa, tukang sampah di Kopenhagen misalnya, dengan mobil truknya yang canggih banget dan perlengkapannya yang menjamin keamanan kerja petugasnya.
Emang sih Denmark itu negara kaya dengan jumlah penduduk sedikit makanya bisa beli peralatan mahal untuk mengelola sampah.
Tapi untuk memanusiakan manusia sebenernya gak perlu belajar dari Eropa, karena di negara kita juga banyak orang-orang yang melihat sampah sebagai solusi dan bukan mata pencaharian.

Setahun ke belakang saya juga menjalin hubungan dengan ibu-ibu pengrajin sampah di Cibangkong yang membuat kerajinan tangan dari bekas bungkus minuman instant.
Bahkan mereka juga saya buatkan blog gratis untuk promosi [blog MyDarling]
Sudah sering hasil kerajinan tangan mereka saya bawa ke luar negri dan dihadiahkan kepada teman-teman yang saya kunjungi selama di Belanda, Belgia, Italia.


salah satu waste-based product dari bungkus kemasan kopi instan
.: taken from Mydarling-Bdg.blogspot.com :.
Teman-teman di Eropa yang saya beri hadiah tersebut tentunya sangat terkesan dengan pemberian saya.
Betapa tidak, orang kita bukan hanya berhasil menemukan solusi untuk pengelolaan sampah tapi juga merubahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual kembali.
Biasanya saya jelaskan lebih jauh juga ke mereka, kalau sampah sebetulnya masi menjadi masalah persisten di Indonesia. Tapi beberapa orang berhasil menjadi inisiator dan merubah yang tadinya merupakan masalah jadi mata pencaharian.


Saat orang-orang Indonesia punya kesempatan keluar negri, mereka seharusnya bisa mengadopsi kebiasaan baik yang dipunya negara tersebut. 
Gak ada orang Indonesia yang berani buang sampah ketika wisata ke Singapura misalnya, karena takut kena denda disana. Tapi balik lagi ke negaranya maka kebiasaan buang sampah pun dilanjutkan kembali...

Jalan-jalan keluar negri itu bisa jadi sebuah investasi, menambah pengalaman dan koneksi,  merubah mindset ... tapi bisa juga cuman jadi acara buang-buang duit juga ... kalo kita gak dapet apa-apa kecuali foto-foto selfie

So which one are yours ?