Saturday, September 21, 2013

.: refleksi buat Indonesia :.

Si kancil suka mencuri timun
Ayo lekas ditangkap
Jangan diberi ampun

Dari sepenggal lagu anak-anak tersebut diceritakan bahwa ada kancil yang suka mencuri timun. Sehingga harus ditangkap dan dihukum.

Belum lagi dongeng untuk anak-anak yang mengisahkan harimau yang mengancam penduduk kampung. Sehingga para penduduk bersatu padu berusaha menangkap harimau (dan sisa ceritanya terlalu menyedihkan).

Apakah ini yang akan kita ajarkan kepada anak-anak kita ?

Bahwa binatang sering mengancam keberlangsungan hidup manusia ?

Padahal kenyataannya yang terjadi sering sebaliknya.

Di Indonesia, sebuah negara kepulauan yang banyak dikagum turis mancanegara karena keaneragaman bio hayati, ternyata penduduk aslinya kurang menghargai satwa aslinya.

Tidak heran dimasa depan, orang asing akan lebih mengenal kalau orangutan (pongo pygmaeus) adalah satwa yang berasal dari Malaysia atau bahkan Singapura.
Karena negara tetangga kita seperti lebih menghargai keberadaan satwa dan menyadari potensi tersebut bisa mendatangkan banyak pemasukan.

Di negeri kita, dimana pemerintahnya tidak terlalu peduli akan ancaman punahnya satwa endemik, kita sering melihat atau mendengar berita tentang pemburuan satwa demi memperluas kebun kelapa sawit.
Ini ironis sekali, terutama bagi saya yang saat berada diluar negri (dan berita tersebut sampai di mancanegara) - ketika teman-teman bule menanyakan, "Apakah tidak ada hukum yang berlaku untuk melindungi satwa terancam tsb?"
"Bagaimana dengan penduduk, apakah mereka tidak tahu bahwa satwa tersebut hampir punah dan nilainya jauh lebih tinggi daripada duit upahan untuk kebun kelapa sawit?"


Pertanyaan yang datang ke saya sesungguhnya sangat wajar.

Orang bule atau orang luar, bisa jauh lebih menghargai keaneka ragaman hayati daripada orang kita.
Simply karena mereka engga punya hal seperti itu di negeri mereka.

Gak semua negara bisa beruntung tinggal di permata khatulistiwa seperti Indonesia. Gak semua negara bisa punya hutan tropis yang kaya akan keaneka ragaman satwa dan hayati seperti kita.
Negara yang kaya seperti Singapura dan Jerman contohnya, menginvestasikan banyak duit untuk bikin 'hutan tropis' buatan, sebagai salahsatu sarana untuk menarik turis.

Karena kita hidup sangat berdekatan dengan segala 'kekayaan' itu, kita gak sadar bahwa itu harus dipelihara.

Dan sedihnya, kita emang gak pernah diajarkan sewaktu kita bersekolah entah di SD, SMP, atau SMU.

Coba saja kalau saya tanyakan, ada berapa guru yang Anda kenal pernah mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan hidup?
Seperti kalau mengunjungi suatu tempat wisata alam, harus menjaga kebersihan lingkungan, tidak merokok (ya asap rokok berbahaya bagi tumbuhan dan satwa, bukan hanya bagi manusia) dan tidak mengambil apapun dari alam (kecuali hanya mengambil gambar/ foto).

Saya pernah traveling dengan seorang kolega, lulusan S2 dari institusi ternama.
Kami berwisata laut, melakukan kegiatan seperti snorkeling dst.
Lalu dia kepikiran untuk mengambil bintang laut berwarna biru sebagai souvenir !
Bindung laut tsb rencananya akan dia simpan di dalam tas untuk dibawa pulang ke Jakarta.

Tentu saya menjelaskan, bahwa hal tersebut bukanlah ide yang baik.
Bintang laut tempatnya di laut, buken di lemari souvenir.
Mengambil mereka dari rumahnya, sama seperti membunuh mereka.
Karena beberapa jam tanpa air saja makhluk itu akan mati, belum juga pertimbangan bau busuk dari tas karena membawa bangkai.

Hanya foto dan kenangan yang boleh diambil dari laut, begitu yang saya sampaikan.
Untungnya teman saya tidak ngeyel terlalu lama dan langsung melempar bintang laut tsb ke laut.

Ini membuat saya berpikir, inikah wajah dari Indonesia sesungguhnya?
Dimana orang lulusan S2 saja, yang dianggap kaum intelek dan berpendidikan, tapi jauh dari prinsip menjaga alam, binatang dan lingkungan tempat hidupnya?

Dari banyak hal yang bisa saya pelajari saat traveling, hal yang paling membanggakan adalah ketika orang luar tau saya dari Indonesia, mereka langsung bilang: "Oh itu negara asalnya Orang Utan / Komodo ! "

Ya betul. Gambar Orang Utan lah yang tertera pada tiket masuk saat saya mengunjungi kebun binatang di Berlin dan Amsterdam.
Betapa bangganya saya berasal dari negeri indah yang namanya Indonesia ini.

Tapi sayang, sekembalinya ke Indonesia, kebanggaan saya tidak berlangsung lama. Karena mengetahui sesungguhnya kita sendiri tidak sadar untuk menjaga kekayaan alamnya.

Apakah karena masyarakat kita terlalu miskin? terlalu bodoh?

Apapun itu mudah-mudah dengan semakin banyak pengalaman yang kita dapat saat traveling, bisa membuat kita lebih sadar dan menghargai apa yang kita punya.


Turis: hanya mengunjungi suatu tempat, foto-foto, pulang meninggalkan sampah

Traveler: mengunjungi suatu tempat, belajar sesuatu dari tempat yang dikunjungi, pulang membawa pengalaman.




Friday, August 30, 2013

.: Perpignan - Barcelona :.

well ... it has been a long time i have not updated this abandon blog.

maklum aja kehidupan gw berlalu begitu cepat baik pada saat liburan, terlebih pada saat ada kerjaan
:)


cerita tentang Collioure aja belum sempet gw tambah eh udah keburu pindah negara aje.

langsung lompat ke Barcelona, salahsatu kota favorit gw di bagian Catalonia.
walaupun gw pernah kecopetan disini sampe ilang tas (beserta seluruh isinya) tapi still ini jadi tempat favorit yang pernah dikunjungi.
dengan berbagai alasan tentunya, cuaca yang pas, makanan, bangunan bersejarah, orang-orang tipikal Mediterania yang ramah. tapi terutama, trip kali ini lebih ke alasan praktis juga. karena gw mau ngejar pesawat ke Athena dan berangkat dari sini rasanya airport yang paling bisa dijangkau lewat Perpignan.


Dari Perpignan sendiri, gw berangkat nebeng mobil orang lewat situs car sharing BlaBlaCar [http://www.covoiturage.fr/] dengan alasan ekonomis.
Emang sih mesti daftar account dulu, tunggu verifikasi dan transaksi lewat kartu kredit.
Tapi pada akhirnya gw cuman bayar 12 Eur, jauh lebih murah daripada naek bus yang jatohnya bisa jadi 50 Eur.


Bersama gw ada 2 orang cewe laen yang nebeng bareng. Satu cewe asli Prancis dan satu lagi cewe Thailand yang lagi studi di Strasbourg (tapi lagi liburan ke selatan).
Cewe Thailand ini langsung nyangka kalo gw juga asal Thailand. Entah dari mana dia bisa berkesimpulan seperti itu. Karena kan biasanya gw lebih disangka asal Filipina : )

Sepanjang perjalanan si cewe Thai ngobrol ama temennya melulu. Gw mencuri-curi dengar tapi karena mereka seringnya ngobrol pake bahasa Prancis jadi susah juga ngupingnya... haha!
Akhirnya si cewe Prancis ngaku kalo bahasa Inggrisnya gak terlalu bagus, jadi malu kalo ngobrol pake bahasa Inggris sama gw.


Mereka juga terkagum-kagum karena gw berani jalan sendirian ke Barcelona (pada akhirnya gw ngaku kalo udah pernah 3x ngunjungin Bcn, dan pernah kecolongan pula).
Trus akhirnya mreka nanya-nanya juga deh.

Kalo pake car sharing seperti ini, point of departure and arrival ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (sang supir dan penebeng).

Dalam kasus gw, gak ada masalah dengan point of departure, tapi point of arrival ternyata berubah dari kesepakatan.
Yang seharusnya gw diturunkan di city centre (atau at least Metro stop yang ada elevator) jadinya malah di Poble sac. Ini karena sang supir juga gak terlalu ngerti jalan (oh ya dia juga padahal udah pinjem peta Bcn gue!)



Di metro stop Poble Sac ini gak ada elevator, cuman tangga semata. Akibatnya adalah gw mesti ngangkat koper yang ukuran medium (seberat 19 kgs, hello ?!?) naek turun tangga.

Sampe akhirnya nyampe di metro stop Marina, otot lengan gw udah terlatih dan lutut kena bentur beberapa kali.
Masih mending deh kalo gw masih muda dan gak mudah putus asa.
Dalam perjalanan malahan gw liat ada dua turis cewe asal UK yang udah marah dan nyerah tengah jalan.


Perlu diketahui gak semua metro stop di Barcelona dilengkapi dengan elevator atau akses untuk disabilitas. Metro stop yang gak ada elevator ini sebenernya tergambar dalam peta, jadi cukup ngintip aja kalo bawa koper besar cari yang ada elevator-nya.



Sayangnya supir yg gw tebengin gak peduli hal ini. Dasar cowo Prancis.
Mereka emang lebih gak gentleman dibanding cowo Italia.



Untuk hal satu ini, I vote for Italiano untuk kepedulian mereka sama cewe, walaupun mereka cenderung pleiboi.


next on .: Barcelona :. untold history ....

twentytu hostel tempat gw nginep ternyata hi-tech hostel yang canggih banget ! gak rugi deh nginep sini, more than my expectation. I gave them very good review on tripadvisor.

Marc, resepsionis disana juga udah pernah ke Indonesia dan dia bisa ngomong beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia. I think he's great and super nice! (I'm sure you will smile when you read this Marc ! : )

Luis, yang jadi tur guide free walking tour gw, juga ternyata pernah 2x ke Indonesia.

dan dia yang merekomendasikan the one and only Indonesian restaurant di Barcelona.






Tuesday, August 20, 2013

.: first bike ride ... to Collioure :.

hari ini diprediksikan kalau cuaca akan cerah dengan suhu sekitar 27 sampe 32 derajat celsius.
langit biru dan tanpa awan.
cuaca yang tepat buat piknik ke pantai !

tapi karena sekitar 5000 orang yang lagi liburan ke Prancis Selatan juga kemungkinan berpikiran sama, jadi B berkesimpulan lebih baik kita naek motor daripada pake mobil.
masalahnya kalau bawa mobil, bisa-bisa abis dua jam sendiri untuk cari parkir.


maklum orang Perancis itu ikut aturan, cuman parkir di kawasan yang boleh parkir.
kalo parkir sembarangan dendanya bisa 60 - 90 Euro.
jadi mungkin mereka pelit juga gak mau ilang duit atau mobilnya diderek, lebih baik ikut aturan kan... hahaha.

oke kembali ke cerita tentang acara ke pantai hari ini, daerah yang akan kita kunjungi adalah Collioure. Masih di regio Languedoc Rousillon tentunya.

apa kata Wikipedia tentang Collioure? ini gw kasi link-nya buat diintip :)

http://en.wikipedia.org/wiki/Collioure

sebelumnya kita pinjem motor dulu ke rumah ortunya B.
motor yang dimaksud adalah motorbike beneran 1000cc !
wuih gw gak pernah naek yang ginian. biasanya cuman naek motor bebek aja atau paling banter motor gedean dikit semacam honda tiger atau kawasaki ninja.

karena kita pake motor, jadi aturannya mesti pake helm full-face, celana panjang, jaket (fyi, suhunya padahal sama panasnya kaya Jakarta).

menurut B, angka kecelakaan lalu lintas (KLL) di Perancis akhir-akhir ini meningkat.
tahun lalu aja ada 1000 orang yang meninggal disebabkan oleh KLL.

hah! gw bilang, kalo 1000 orang untuk seluruh Prancis mah dikit atuh.
setelah gw liat, statistik di Indonesia menyebutkan ada sekitar 27 ribu orang lebih meninggal akibat KLL di tahun 2012. ya memang penduduk kita juga mungkin 6 kali lipat lebih banyak daripada jumlah penduduk Prancis... tapi ... kita sama-sama tau seberapa 'ngasal'nya orang Indo sama aturan lalu lintas.

lampu merah di-langgar, naek motor gak pake helm, belum boncengan 4 orang di motor.
pokonya waktu sakti bener orang kita mah, gak takut sama yang namanya cium aspal.


owya, ngomong-ngomong soal KLL, ini hasil pengamatan gw sewaktu kerja di kantor Jakarta dalam waktu 6 bulan:
- dua orang kolega jatuh dari motor saat dibonceng ojek (hasil: luka-luka dan keseleo)

- satu orang suami kolega jatuh dari motor pas ujan karena gak liat jalan bolong (hasil: luka parah)
- satu orang anak dari kolega meninggal saat naek motor gak pake helm, karena ketabrak truk.
- dan banyak insiden laennya yang kecil gak sempet gw inget. . .

itu semua secara statistik kasar aja.

tapi coba deh sekarang gw tanya, apakah ada yang punya kolega, kenalan, sodara deket, sodara jauh,  yang menderita kecelakaan lalu lintas dalam waktu sebulan ke belakang?

jawabannya, pasti ada. terutama kalau tinggal di Jakarta atau kota besar.

saking seringnya sampe kadang-kadang jadi hal yang biasa buat kita.

padahal itu gak biasa banget buat orang Eropa.
it's really a big thing.

waktu kuliah di Kopenhagen (Denmark) sering gw liat ada iklan layanan masyarakat yang menyerukan untuk hati-hati kalo pake sepeda di jalan.
ya aneh memang, pake sepeda kan pelan, koq bisa celaka.
nyatanya sering kecelakaan itu terjadi saat kita menyepelekan resiko dan menganggap aman.

sama juga waktu di Prancis, gw sempet liat iklan layanan masyarakat tentang hati-hati mengendarai motor di jalan. emang kedua iklan yang gw liat cukup ekstrim sih, dan juga dibantu sistem yang ketat.
alhasil kasus kecelakaan lalu lintas jadi lebih jarang.

ohya, gw pernah liat satu kali ada orang yang naek motor gak pake helm selama di Perpignan.
dan waktu itu B langsung heboh, dia bilang, gila itu orang mau mati kali yah.
selaen bisa kena tilang dan kehilangan SIM, yang namanya pake motor disini juga bisa jalan kenceng banget.

ehm . . . ternyata cukup banyak ngelanturnya dari topik awal soal piknik ke pantai.
maafkan untuk flight of ideas-nya.
mari kita lanjut. . .

setelah motorbike dan segala perlengkapan siap, maka kita cabut deh ke Collioure, dimana ribuan turis sudah menanti sambil sunbathing. . . hahaha.
perjalanan sejauh 14km ditempuh dalam waktu 12 menit saja kawan-kawan.
gak pake macet walaupun agak padat merayap waktu memasuki kawasan ini, maklum orang susah cari parkir mobil.

sedangkan kalo pake motor, cukup 5 menit aja udah nemu parkir yang strategis depan pantai.

udah kaya teri dijemur kering aja ni para bule

di sini juga tempat kastil terkenal .: Château Royal de Collioure :.
.: Château Royal de Collioure dari salahsatu frame di promenade :.

[ bersambung karena mau nyiapin diner ^ ^ ]

Saturday, August 10, 2013

.: nature adventure :. la vie en France 5

steph et marie (pacarnya steph) ngajak qta maen ke sungai hari ini.
maen ke sungai artinya kita bakal nyebur alias berenang, dan juga kemungkinan mancing.
walaupun untuk yang aktivitas yang disebut belakangan gw gak terlalu antusias.

waktu diajakin awalnya sih gw agak pesimistis buat berenang di alam. udah kebayang aje betapa dingin air sungai disini. meskipun suhu udaranya bisa anget sampe 30 derajat celsius pas summer, tapi buat orang Indonesia asli kaya gw suhu airnya masi tergolong dingin.
demi rasa suka gw sama marie (dia yang ngajak gw berkuda kapan hari) -atas nama persahabatan gw terima ajakan mereka.

ternyata gak nyesel sama sekali pergi ke tempat ini.
perjalanannya cuman sekitar 15 menit pake mobil dari Ortaffa, dan sampai lah kita ke tempat ini. 

masih harus jalan kaki dulu beberapa menit menembus pepohonan. sampe akhirnya kita ketemu sungai dan air terjun mini-nya.

ini beberapa foto yang gw dapet selama disana.



.: le tech d' Ortaffa :.
gada orang laen yang nyemplung disini selaen qta
steph udah bawa perlengkapan untuk nangkep ikan juga di sungai ini.
ternyata ada aturan disitu, ukuran ikan yang boleh ditangkap dan alat mancing yang digunakan. wuih ketat juga ya, yang kaya begituan aja diurusin.

ini hal yang menarik buat gw, mengingat negara Prancis itu terkenal dengan 'kebebasan'nya: punya pantai nudist, toleransi tinggi dengan kaum lesbi & homoseks. tapi koq mereka bisa peduli banget dengan alam dan penduduknya nurut ikut aturan itu.

bertolak belakang dengan negara kelahiran gw, yang katanya menyanjung-nyanjung moralitas dan agama. tapi payah banget kalo soal memelihara alam.
yang namanya tempat wisata alam di negara kita, cuman bertahan beberapa tahun aja. lalu kemudian gak menarik minat wisatawan lagi karena dikotori oleh sampah dan satwa yang didalamnya dieksploitasi habis-habisan. 



kalo kata B: negara kamu gak sempet ngurusin alam dan hewan, kebanyakan penduduk sih. jangankan ngurusin alam, pemerintahnya suru ngurus orangnya aja gak cukup waktu dan energi.


bener juga sih. 

makanya gw merindukan mentri kesehatan atau presiden yang bisa menerapkan gerakan keluarga kecil bahagia= 2 anak cukup.  

Thursday, August 8, 2013

.: music fest at perpignan :. la vie en france 4eme

saat musim panas tiba di perpignan biasanya digelar festival seni setiap hari kamis. namanya jeudis a perpignan
festival seni ini ada banyak variannya, bisa berbentuk grup musik, tarian, atau perpaduan musik dengan pertunjukan air mancur misalnya.
emang susah untuk digambarkan, karena mungkin gw gak tau apa padanan katanya dalam bahasa Indonesia… hehehe..

acaranya sendiri dimulai dari jam 20h sampai tengah malam di berbagai sudut strategis di Perpignan. spot yang dipakai biasanya berdekatan dengan pusat keramaian atau bagian kota yang artistik.
waktu kita dateng kesana sekitar jam 21h belum banyak orang yang dateng, tapi semakin malem semakin banyak pengunjung.
banyak juga anak-anak yang dibawa ortunya ikutan begadang sampe malem selama pertunjukan ini berlangsung.



semakin malem tambah banyak orang memenuhi pusat kota,
termasuk anak-anak juga (maklum disini gak ada tradisi pake pembantu : )

ada salahsatu video yang gw upload, isinya pertunjukan musik trio jazz dan ada anak kecil lagi asik nari-nari sendiri ngikutin irama.
il est très mignon




salahsatu performance yang paling memikat hati menurut gw adalah grup musik Hippocampus Jass Gang, di Place de La Loge.
Spot ini strategis banget karena tempatnya balai kota atau Hôtel de Vìlle.
sebenernya qta udah agak telat beberapa menit pas mereka mulai maen, dan cuman denger sekitar 3-4 lagu aja. tapi ugh dalam waktu singkat aja bisa menyimpulkan kalo mereka bener-bener keren!
mulai dari varian instrumen yang dipakenya, vokal si penyanyi cewe, plus latar belakang artistik, semuanya gw suka. top banget!




.: hippocampus jass gang :.
salahsatu penampilan ciamik di depan balai kota Perpignan
setelah diteliti lebih jauh, pantes aja grup music ini keren banget. ternyata mereka ikutan dalam jazz of the year atau jazz des annèes 20/30. enough said.
berikut gw sertakan beberapa link di youtube kalo mau tau lebih jauh tentang grup musik ini.
Hippocampus Jass Gang teaser 1 
Hippocampus Jass Gang teaser 2








Sunday, August 4, 2013

.: Les Angles :. la vie en france 3eme

ortunya B ngundang qta untuk nginep di chalet mereka yang terletak di Les Angles. 
[website tentang Les Angles ]
chalet sendiri mungkin terjemahannya semacam kabin atau vila kecil, biasanya dipake untuk tempat peristirahatan pas liburan winter atau summer.

my personal driver ; )
perjalanan kita makan waktu sekitar 1 jam lebih dari Ortaffa ke Les Angles.
ngelewatin banyak kota kecil yang cantik seperti Villefranche de Conflent dengan kastil tua dan bangunan medieval-nya.




sepanjang perjalanan ke Les Angles ini mata kita dimanjakan dengan pemandangan alam seperti pegunungan Pyreenees, danau, ataupun rumah kecil dengan peternakan dan kuda-kudanya yang cantik.

 kaya pemandangan di screensaver ya  : )
gampang banget jatuh cinta sama Prancis selatan, apalagi kalo dateng kesini pas summer. dimana langitnya selalu biru tanpa polusi dan mataharinya selalu hangat.
ah pokonya sempurna banget perjalanan ke Les Angles ini cuacanya.



bisa liat pegunungan pyreenees dari balkon

sampe Les Angles, chalet ortunya B ada di salahsatu bangunan di atas bukit. mereka ternyata udah nyiapin barbecue (sebagai catatan orang bule demen barbeque tiap kali cuaca bagus. akibatnya, sering banget selama disini gw ikutan acara bbq-an. minimal 1x seminggu deh). 
gak berapa lama kita langsung lunch dengan menu daging hasil bbq papanya B. 
qta lunch di meja kecil di balkon sambil menikmati sinar matahari.
wuih pokonya mantab banget makannya, berhubung lapar dan cuacanya agak dingin kaya lembang, tapi karena sinar matahari jadi masih tetep anget sih suhunya.

sorenya, kita (gw, B dan ortunya) keluar bentar untuk ngeliat beli baguette, juga belanja untuk persiapan besok mau piknik ke danau.

besoknya, ortu B udah nyiapin perbekalan untuk piknik, termasuk daging untuk dibikin barbecue (lagi-lagi!!!!)
di pinggir danau sini udah banyak banget orang yang berjemur dan nyebur pas kita dateng.
gw sempet nyobain juga berenang bentar, tapi gak tahan karena masi terbilang dingin. hebatnya, lumayan banyak anak kecil yang cuek aja nyebur dan kedinginan selama berenang. dasar bule.



.: another bbq in paradise :.
yang gw suka dari daerah sini, banyak banget kuda!
dan karena gw cinta mati sama hewan ini, jadi sering banget gw kenalan dan maen-maen sama mereka. entah itu kuda yang gw kenal karena punya temennya B atau kuda yang ketemu random di tempat piknik. 



d'autres chevaux ! !

Wednesday, July 31, 2013

piknik ke pantai .: la vie en france 2 :.

hari ini acara-nya adalah pergi piknik ke pantai !
 

prancis selatan emang terkenal dengan keindahan pantai-nya. kata B, banyak turis dari prancis bagian utara (e.g. normandie) yang sengaja berlibur disini saat musim panas.
dan suhu airnya juga termasuk hangat untuk berenang (ini menurut mereka para bule. menurut gw sih masih dingin dibanding pantai di indonesia).


il fait beau aujord'hui !

kalau acara ke pantai, biasanya selalu satu paket dengan piknik.
jadi kita berangkat ke supermarche dulu untuk belanja sandwich, buah, chips dan bawa minuman.
perlengkapan laen yang gak boleh ketinggalan adalah sunscreen.
disini matahari-nya panas banget dan kelembaban-nya rendah.
untuk kulit asia jadinya bikin kulit cepet kering : (
apalagi kalau musim panas seperti sekarang, sunsert-nya baru sekitar jam 8 malem. lumayan deh kalo terpapar sinar matahari lama, langsung keliatan tanned.

yang gak aneh juga di pantai sini, seperti di pantai eropa lainnya, adalah pemandangan orang yang berjemur telanjang dada. yup termasuk cewe juga maksudnya.
tapi tentunya disini buat orang udah biasa kalau pantai dipake untuk berjemur bahkan sampe telanjang atas bawah kalo perlu. gak ada orang yang bakal norak atau heboh seperti di indonesia.


picnique sur la mer



ohya, ngomong-ngomong tentang indonesia. mungkin gw satu-satunya orang indonesia yang pernah nyampe ke pantai ini, kata B.
masuk akal juga sih. secara ini bukan tempat destinasi utama buat turis indo, yang biasanya lebih suka berkunjung ke kota besar seperti paris, cannes, nice.

ini dia beberapa foto hasil perjalanan kemaren dalam rangka piknik ke pantai.

gak berapa lama setelah kita nyampe pantai, temen-temen B juga dateng dan gabung untuk mancing. ada juga yang bawa perlengkapan snorkeling.
padahal menurut gw sih, untuk snorkeling masih jauh lebih bagus pemandangan bawah laut di indonesia. tapi tentu aja disini lebih bersih.

toutoune a.ka sebastien a.ka mirza juga ikut, seperti biasa.
dia exciting banget liat air laut dan langsung nyebur sambil ngegonggong keras banget.


toutoune avec bu


.: couche du soleil a argeles :.

bizzare french life (la vie en france -premier)

just arrived few days ago in south of france, and my life completely different since what it was a week ago.

it felt weird how a week ago i was still wandering in Jakarta pollution's and traffic jam. My apartment located in the centre, with fantastic view on sunset (it's 11th floor btw)
I left my decent job in international health organization so I could have a break for 1-2 months vacation.


then just in a week, now i live in a jungle, nearly out of nowhere on south of france.
the village that i stay now, not even listed on the map!

i don't know how many population live here. only hav one neighbor so far within 10 meters distance.
i think more animals are actually live here than human.
and almost nobody speak english except B.
so it kinda feel a bit isolated even though yesterday i went out with B  et mes amis.
my lame french doesn't help at all apparently.

just this morning i realized i kinda miss rice and asian food.
french bread, salad and cheese start to make me sick : (
but i didn't tell B about it. although i did make yellow rice for both of us, for the sake of my eating habit as well.

and i have trained myself to poop outside!
what a progress!
although a bit disgrace to my professional acknowledgement, but there's no toilet nearby anyway. B said it's okay, the insects will digest it and it's all gone in few days.
all i need is get used to.

since we have an outdoor shower, with poorly warmed water from the pipe, i need also some time to get used to. standing naked with only birds sound on the top of your head, never across in my mind before.
at least i still have my precious l'occitane products to indulge when my pride hurt a bit.

i really don't mind live in nature like this.
just not sure how long i will stand without shopping malls, (or people who actually speak english).

.: showering outdoor under the trees :.


Sunday, July 28, 2013

.: Barcelona :. summer 2013

Setelah penerbangan panjang dengan Turkish Airlines dari CGK Jakarta dan stopover sebentar di Istanbul Ataturk Airport, akhirnya sampe juga gw di Barcelona El Prat.

.: pleasant flight with Turkish airlines :.
ati-ati sama pramugara nya yang cakep2, bikin keleyengan : )



Ini ke-tiga kalinya gw visit Barcelona airport, salahsatu airport terbesar di Spanyol. Mungkin lebih besar dan sibuk daripada Madrid. Karena Madrid juga termasuk pusat pemerintahan. Tapi yang jelas Barcelona lebih menarik buat turis, karena lebih banyak destinasi wisata disini.

Unlike kunjungan gw sebelumnya, sekarang gak banyak tempat yang ingin dikunjungi. Soalnya sebagian besar tempat-tempat wisata seperti Parc Guel, Sagrada di Familia, Montjuic, etc sudah pernah gw kunjungi tahun-tahun sebelumnya.

Kali ini gw cuman janjian untuk ketemu sama B karena dia bakal jemput sebelum kita bareng pake mobilnya ke Prancis.
Tapi kita rencanakan untuk spend 2 hari supaya bisa jalan bareng, ke pantai, ngeliat toko-toko yang lagi soldes di sekitaran La Rambla.

Baru aja gw sampe airport Barcelona El Prat ini dan lagi nunggu mobil B jemput di parkiran, udah kecolongan aje.
Ceritanya gini, ada bapak2 tua pake jas -dia gak pake bahasa Spanyol (karena gw ngerti dikit) maupun Inggris, maupun Prancis. Trus dia pura-pura nanya tentang microbus. Pertanyaan dia pun gak jelas. Sepertinya dia bertugas mengalihkan perhatian gw. Setelah itu tas gw ilang deh.
Tas itu emang gw tumpuk dengan backpack dan koper gw. Langsung lenyap dalam hitungan detik!

Untungnya sebelum gw keluar dari airport, karena tau bahwa Bcn ini rawan dengan copet, barang-barang berharga udah dipisahin.
Paspor, kartu kredit, duit semua ada di hidden pocket. HaPe juga aman karena udah dikantongin.
Lalu buku-buku dan jaket ada di tas besar.
Yang hilang sih, dompet isinya duit sekitar 60 Euro dan beberapa ratus rupiah.
Tas kosmetik isinya lipstik, lipglos, kertas minyak untuk muka, headset. Dan tab merk China yang gak mahal.
Paling berharga sebenernya ada kosmetik Clinique yang baru gw beli di Duty Free Istanbul airport, seharga 39 Eur :-(

Tapi ya sudahlah mau diapain lagi. Toh mau gw urus ke polisi juga barang-barang gw itu belum tentu balik.
Lagian gak ada yang berharga banget. Untunglah pas sebelum keluar airport itu yang penting-penting udah gw pisahin.

Owya ngomong-ngomong soal Bcn, temen gw juga pernah ilang iPad dan iPhone disini. Pokonya copet disini emang udah terkenal banget.
Terutama kalo ke daerah turistik seperti Parc Guel, biasanya mereka berkomplotan. Dengan modus pura-pura minta tolong, or nanya sesuatu.

Kayanya sebagai turis, lebih baik kita jutek aja deh skalian daripada sok baek mau nolong orang kaya gw akhirnya malah ilang tas.

Ya salah gw juga, kenapa itu tas gak gw bawa-bawa terus all the time.
Pake ditinggal segala, padahal cuman beberapa detik langsung melayang.

Kata B, biarin aja nanti elu kan bisa beli lipstik baru, tas baru dst.
Setelahnya kita parkir mobil dan pergi ke pantai deket metro stop Selva del Mar.
Ohya, normalnya parkir di dalam kota di Bcn itu mahal. Bisa kena 17Eur/ harinya.
Sedangnya kita bakal parkir mobil untuk 2 hari.
Setelah tanya info sana sini, ternyata ada parkir gratis di Carer d/Llul.
Lumayan banget deh dan tempatnya juga aman keliatannya. Karena banyak mobil-mobil mewah juga diparkir disitu.


.: piknik dulu bentar sebelom ke pantai :.

Wuih pantainya penuh banget sama orang yang berjemur ! Padahal itu jam 2 siang pas lagi panas terik-teriknya.
Yakin deh gak ada orang Indonesia selain gw kayanya yang waras mau ke pantai kalo jam segitu.
Biasa orang kita kan pake AC di ruangan, kalo lagi panas kaya di Jakarta sukanya payungan…. hihihi.

Gw udah pake sunscreen pun tetep gosong dalam waktu gak lama. Deket tempat kita berjemur ada 2 orang cewe Prancis yang lagi berjemur topless.
B godain gw, katanya pemandangan kaya gini pasti gak pernah elu liat kan di pantai di Indonesia.
Ah, gw bilang, bisa aja kalo elu turis bule di Bali mungkin gak ada yang peduli.
Tapi sebelnya orang lokal suka moto-motoin yang kaya gini, padahal kan gak sopan banget.

Malemnya, kita jalan di sekitaran port dan La Rambla sekalian cari dinner. Kalo bulan segini kan lagi summer sale, orang pada belanja kalap deh jadinya di pertokoan sekitaran situ.
Pengen juga ikutan sih, secara Zara sale 80%, juga Mango, Desigual (tapi gw gak terlalu suka brand ini), Bershka etc. Tapi duh ngantri kasirnya juga panjang!
Kaya ngantri sembako.


.: port Bcn at night :.

Jadi gw tahan-tahan tuh gak belanja, walopun ngiler. Atas nama penghematan setelah ilang tas dan juga demi solidaritas, karena masih banyak orang di negeri gw yang susah gak bisa makan.

Akhir kata, hari pertama gw sukses cuman belanja lipstik 1 buah aja.
I'm so proud of myself !

.: mejeng dulu depan La Rambla :.



Hari kedua, kita pergi ke pantai lagi. Yang deket hostel di La Rambla tapinya.
Sama penuh juga kaya pantai yang deket Selva del Mar.


.: istirahat dulu @placa catalunya sambil kasi makan burung :.


Dan di depan tempat kita berjemur ada segerombolan cowo-cowo Italian yang lagi berjemur juga, sambil ngobrol kenceng banget.
B sebel banget sama cowo-cowo ini karena ribut. Tapi gw sih santai aja menikmati pemandangan bagus… hehehe…
Ada satu cowo cuman pake kolor doang warna putih, bukan pake celana renang.
Mereka juga lumayan good looking with nice body koq :-)
Sayang hari kedua gw gak bawa kamera sama sekali ke pantai jadi gak bisa pura-pura foto pemandangan deh.

Karena besok kita udah mesti cabut ke Prancis, malem kedua dan terakhir di Bcn kita pake untuk date. Gw pake dress lalu kita cari restoran yang affordable di skitaran La Rambla.
Cuacanya lagi bagus banget di Bcn pas gw dateng, langitnya biru dan kalo malem juga sedikit berangin jadi gak panas.

Tapi yang sedikit masalah memang kelembaban rendah, jadi berasa kering banget udaranya. Kita gak keringetan kaya di Asia, tapi kulitnya jadi cepet kering dan gw mesti sering pake pelembab.

Walaupun demikian, Eropa selalu gampang bikin orang jatuh cinta dan pengen balik lagi dan lagi dan lagi . . . . . . . .

Saturday, July 27, 2013

Sukarno Hatta airport .: AUTOGATE :.

Ada yang pernah denger sistem imigrasi Autogate?

Atau mungkin pernah liat di airport laen selain di Indonesia?


Saya pernah liat sebelumnya waktu di Kamboja, rasanya waktu masuk lewat Phnom Penh.
Di situ kalau turis asing akan melewati petugas imigrasi yang memeriksa passport secara manual. Sedang penduduk aslinya atau pemegang paspor lokal bisa lewat Autogate yang memindai paspor mereka secara otomatis lewat mesin.

Nah, ternyata bandara Sukarno Hatta di Jakarta juga sudah memiliki sistem Autogate ini loh.

Entah sejak kapan, yang pasti terakhir kali saya melewati bandara di tanggal 27 Juli kemaren, petugas imigrasi sudah menyarankan untuk lewat Autogate ini.

Sebenernya waktu itu gak terlalu banyak juga orang yang antri di barisan untuk pemeriksaan manual lewat petugas imigrasi (cara biasanya). Tapi saya liat di Autogate sebelah kanan bener-bener kosong alias gak ada orang yang mengantri.

Lalu karena ada om-om tampang cokin (orang Indonesia I'm sure) yang mikir saya nyerobot antrian (padahal sy cuman mau tanya petugas) jadi sambil sedikit pundung timbul keinginan mencoba Autogate ini. Selain gak ada orang yang lewat sana, juga sepertinya lebih efisien karena gak makan waktu lama.

Heran juga karena petugas imigrasi gak semuanya menyarankan turis (domestik yang pergi keluar) untuk melewati Autogate ini. Padahal banyak petugas juga yang lagi nongkrong-nongkrong disitu.

Gimana caranya sistem Autogate ini?

Berikut pemaparan dari pengalaman saya:


1. Pertama kita harus mendaftarkan paspor kita ke petugas imigrasi. Mereka duduk di bagian belakang dari mesin Autogate-nya.
Saat mendaftar ini, paspor saya dilihat sampe halaman belakang. 
Petugas ybs juga menanyakan, tujuan pergi kemana, keperluannya apa, berapa lama dst.

2. Lalu sidik jari tangan akan diminta untuk dipindai. Data ini bakalan disimpan kedepannya.
Pertama 4 jari tangan kiri, lalu 4 jari tangan kanan, kemudian kedua jempol kiri kanan.

3. Setelahnya, disarankan oleh petugas untuk melakukan simulasi dengan mesin Autogate bohongan. Yang terletak di sebelah meja tempat petugas tadi. Kalo ada masalah atau tidak mengerti penggunaan, maka bisa langsung menanyakan kepada petugas.

4. Selanjutnya, kalau kita mahir menguasai cara scan paspor dengan mesin Autogate bohongan tsb- langsung deh kita teruskan dengan mesin Autogate yang beneran.
Bener-bener lebih cepet loh, kurang dari 1 menit sudah lewat pemeriksaan. Tanpa antri.

Tapi emang gak dapet cap kaya biasanya keluar lewat petugas imigrasi manual sih.

Ini sangat menguntungkan karena membuat bebas antrian. Apalagi kalo misalnya buru-buru ngejar pesawat.
Juga menandakan bahwa bagian imigrasi di Indonesia mau membuat perubahan supaya prosedur bisa lebih cepat dan efisien. Selain itu juga mengurangi kemungkinan korupsi kan....

Thumbs up untuk kemajuan seperti ini yang mempermudah kehidupan para pelancong :-)

Saturday, February 2, 2013

Cambodia (2) .: Siem Reap :.

Perjalanan gw ke Siem Reap dimulai dari sebuah travel agen di kota Phnom Penh.
Yup travel agen ini yang mengorganisir tiket gw pake bus dari Phnom Penh ke Siem Reap, termasuk pick up point dari hostel (kalau hostelnya di area sekitaran Sisowath Quay/ National Museum).

Lama perjalanan pake bus dari Phnom Penh ke Siem Reap katanya sekitar 5 jam.
Bus-nya campur ternyata, bukan bus khusus turis tapi ada orang lokalnya juga.
Dan karena tampang gw mirip orang lokal, jadi penumpang yang dudu sebelah gw juga sepertinya orang Khmer asli.

Sedangkan para bule biasanya nyari temen duduk sama bule lagi.
Sepanjang perjalanan gw bisa dengerin orang-orang bule yang ngobrol di deretan sebelah kanan dan belakang (abis mreka ngobrolnya kenceng banget).

Contohnya: cewe Belanda dan Australia di sebelah kanan yang ngomongin tentang pengalaman trip di Asia.
Kadang gw suka penasaran apa aja sih yang diomongin sama orang-orang bule ... ternyata banyak ngomongin yang gak penting juga, sama kaya orang kita... hehe..

Di tengah perjalanan kita berenti sebentar untuk makan siang.
Pas turun makan siang, gw kenalan sama cowo Jerman dan temennya cowo British.

Sebenernya cowo Jerman yang ngajak ngomong gw duluan, tapi later on gw memutuskan untuk lebih suka sama si cowo Brit soalnya rambutnya gelap… (hehe)
 


Stelah ngobrol lebih jauh dan tau kalo gw dari Indonesia, si cowo Brit ngomong gini: " Owh kalian punya film martial art yang keren banget kan?! Judulnya 'The Raid'. "
Gw: " Hah? Apaan? "
Co Brit: " The Raid. Itu film martial art dari Indonesia, terkenal banget. Jangan bilang deh kalo kamu gak tau, atau belum pernah nonton. "
Gw: " Waduh. Iya… hehe... belum nonton (malu)… Soalnya itu filem kan penuh kekerasan dan gw gak terlalu suka filem action. "
Co Brit: " Ih payah! Padahal nanti gw mau ke Indonesia loh buat belajar Selat. "
Gw: " What?!? Selat ?!? Apaan tuh?!? "
Co Brit: " Ya ituh martial art asli dari Indonesia yang ada di filem The Raid ! "
Gw: " Yaelah…. Silat kalee bukan Selat. Kalo Selat artinya beda atuh ! "
Co Brit: " Hmmmm perasaan buat gw sama aja kedengerannya koq .. "

Pas gw nyampe stasiun bus di Siem Reap … -hmmm biar gw gambarkan sedikit apa yang dimaksud dengan 'stasiun bus' disana.
Cuman sekedar tanah lapang dengan beberapa bus (pas gw nyampe) dan ada pondokan kecil yang diisi 1 ruang untuk admin dan 1 ruang semacam gudang untuk nyimpen barang-barang kiriman.
Nah itulah yang namanya stasiun bus di Siem Reap.
Jadi penasaran kan pengen cepet-cepet liat seperti apa kotanya.

Ternyata gw belum dijemput sama supir tuktuk dari hostel, padahal kemaren udah konfirmasi minta tolong mereka untuk jemput.
Sementara gw nunggu celingak celinguk di dipan deket stasiun bus ada cowo Khmer ngajak ngobrol dan kenalan.
Bahasa Inggris-nya mayan bagus dan keliatannya sih lebih muda sedikit dari gw. Trus dia bilang gini, " Gak aman kalau cewe cantik kaya kamu nunggu sendirian disini. "
Idih ! Norak banget. Tapi dia lumayan banyak tau tentang sejarah Kamboja jadi gw ladenin aja dia ngobrol. Dari hasil pembicaraan lebih jauh, dia emang suka nganter turis/ jadi guide karena dia punya tuktuk untuk disewakan.
Katanya sih, dia itu ketua asosiasi supir tuktuk di Siem Reap. Ceileh! Gaya banget.

Owya, walaupun norak dan ngomongnya gombal, tapi dia baek juga loh.
Dia nelefonin ke hostel gw untuk nanyain mana nih supir tuktuk yang harusnya jemput.
Dan dia juga ngasitau kalau butuh tuktuk atau ojek untuk ke kompleks Angkor nanti bisa sms/ kontak dia lewat Fb. Ntar bakalan dikasi harga 'diskon' (deuhhh…. bayar full juga padahal gak masalah koq).

Akhirnya gw sempet minta tolong dia nganter juga sih pas hari ke 3 di Angkor.
Dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, emang masi aja dia usaha untuk flirting. (nanti gw ceritain di part selanjutnya yah)

Anyway, hostel gw pertama ini gak di downtown banget. Tapi tempatnya enak, bersih, dan homey. Owner nya juga ramah dan helpful sama kebutuhan tamu.
Gw kasi review bagus di website untuk tempat ini, despite harga kamarnya yang murah tapi servis dan fasilitasnya oke.
Nama tempatnya Haks House.
Ownernya (Mr. Haks) juga ngasi pinjem gw sepeda gratisan, untuk dipake ke downtown. Gak jauh sih cuman 2-3 kilometer aja.
Naek sepeda di Kambodia lumayan agak challenging sebenernya, gak semua turis berani. Terutama di daerah downtown atau tengah kotanya. Soalnya disini aturannya gak jelas, mirip kaya di Jakarta sih. Tapi dalam skala yang lebih ringan, soalnya disana orang masi gak terlalu kenceng bawa kendaraan dan masi mau ngalah sama orang laen.

Sebelumnya di Phnom Penh juga gw udah nyobain pake sepeda untuk rute yang lebih jauh dan lama. Jadi keadaan di Siem Reap ini ampir gak ada apa-apanya.

Di malem pertama setelah gw nyampe Siem Reap, langsung deh gw ketemuan sama cewe Prancis namanya Mme. Kita kenalan waktu di Phnom Penh, karena nginep di satu guest house yang sama.
Orangnya asik banget, umurnya sekitar mid 30 atau awal 40an (gw gak enak nanya umur walaupun kita ngobrol banyak).
Walaupun orang Prancis tapi ngomong bahasa Inggrisnya bagus, ampir gak kedengeran logat Prancisnya. Ternyata dia emang udah berapa belas tahun tinggal di London. Dia juga lucu, pokonya jalan sama dia bikin ketawa melulu.

Dari hari pertama berjumpa gw udah suka sama dia, makanya kita janjian lagi untuk ketemu di Siem Reap. Setelahnya beberapa hari kemudian gw jalan bareng dia terus malemnya. Karena dia nginep di hotel yang beda & juga itinerary liat Angkor yang berbeda, jadi kita janjian ketemu pas menjelang sore/ malem doang.
Mme udah nyampe Siem Reap duluan waktu gw masi di Phnom Penh, jadi malem pertama gw nyampe bisa nanya-nanya dia gimana keadaan kota dan juga pengalaman dia di Angkor kompleks.
Dia bilang sih banyak orang yang pagi-pagi naek sepeda ke Angkor archeological complex, yang sebenernya emang gak terlalu jauh dari kotanya. Tapi kalo pagi lumayan dingin juga, dan kalo siang panas banget.
Nah, tadinya gw mau pake sepeda juga. Tapi jadi agak males, soalnya kalo cuacanya panas banget pas siang pasti jadinya cepet cape deh… (alesannn).

Jauh-jauh hari sejak di Phnom Penh (atau lebih tepatnya sejak masih di Indonesia), gw sudah merencanakan untuk catch sunrise dari temple selain Angkor Wat. Ini berdasarkan cerita cewe yang sharing kamar waktu di guesthouse yang sama dimana gw ketemu Mme.
Cewe UK ini bilang, bakal ada ribuan turis nongkrong di Angkor Wat untuk catch sunrise dan suasananya jadi ribut banget kaya pasar. Soalnya orang pada ngobrol  selama moment sunrise itu plus pada foto-foto. Suasananya jadi gak ambient lagi padahal tempatnya sendiri sih gw akui emang bagus.

So, sunrise pertama di Angkor complex gw nikmati dari Phnom Bakheng, temple yang ada di atas bukit.

Sebenernya Phnom Bakheng ini sendiri temple yang tergolong tua (dibangun sekitar tahun 889-900), jauh lebih tua daripada Angkor Wat yang dibangun pada tahun 1131- 1150.
Karena letaknya di atas bukit jadi kita harus jalan dulu sekitar 20 menit ke atas puncaknya.

Pas gw nyampe pagi sebelum matahari muncul (lebih tepatnya gw nyampe sana sekitar jam 5an) yang ada cuman gelap. Dan cuman ada 1 tuktuk laen yang juga ada disitu duluan.
Di situ gak keliatan apa-apa (asli gelap, abis gak ada lampu) cuman ada jalan setapak.
Yang lebih bagus lagi, gw gak bawa lampu atau apapun untuk bantu penglihatan. Selaen itu sang supir tuktuk  dengan santainya bilang dia bakal nunggu disitu sampe gw beres, yang artinya gw harus naek ke atas sendirian tanpa senter.
Dia bilang sih: 'Ikutin aja jalan setapaknya, pasti nyampe koq ke temple-nya'.

Oke deh, gw percaya sama dia. Tapi ini lewat hutan dan siapa yang jamin kalo gw gak akan diculik monyet selama dalam perjalanan ???

Akhirnya, gak berapa lama pas gw lagi celingak celinguk nyari jalan setapak muncul sepasang turis bule dari Jerman. Untungnya si cowo Jerman bawa lampu di kepala, jadilah gw sok kenal ngajak ngobrol duluan dengan nanya apakah mereka mau naek ke atas juga.

Si cewe Jerman nanya, apakah gw udah pernah kesini sebelumnya / tau jalannya (karena gw keliatan pede banget kali, udah jalan sendiri kagak bawa senter pula).
Ya gw jawab kalo gak pernah, tapi gw percaya dengan perkataan si supir tuktuk dan tinggal ngikutin jalan aja. Lagian supir tuktuk gw kayanya orang baek, dia juga belum dibayar sama gw (hehehe).

Nyampe atas Phnom Bakheng, tadinya gw agak kecewa karena banyak bangunan yang sedang dalam renovasi dan bentuknya lebih menyerupai reruntuhan daripada bangunan temple.
Coraknya sendiri lebih mendekati aliran Hindu (seperti Prambanan) daripada aliran Budha. Tapi karena suasana di atas sendiri sangat tenang (dan gelap, sebelum sunrise muncul) jadi gw menikmati aja suasananya.
Cuman ada sepasang cewe Belanda yang udah nyampe duluan dari kita (gw+pasangan Jerman) dan mereka juga udah mulai cari posisi yang enak untuk moto-moto dari atas.

Sejujurnya gw gak dapet banyak foto bagus pas sunrise-nya muncul, rada susah setting pencahayannya. Tapi untuk suasananya, wuih gak bisa dikalahkan.
Setelah sunrise muncul tambah banyak turis yang berdatangan dan moto-moto di atas jadi gw turun ke bawah karena udah males deh bersaing sama banyak orang.

Berikut beberapa koleksi foto hari pertama perjalanan gw di kompleks Angkor Wat:




catch sunrise @ Phnom Bakheng
.: Phnom Bakheng :. dibangun sekitar tahun 889 - 900 [masa pemerintahan Yasovarman I]
.: relief Apsara di Phnom Bakheng :. terlihat lebih montok, dan lebih 'berumur' 

perjalanan ke atas lewatin hutan semacam ini
(waktu gw nyampe subuh masih gelap gulita)
pulangnya gw ketemu sekeluarga monyet kecil yg lucu
pasukan dengan naga balustrade siap menyambut di depan pintu masuk kompleks Angkor   


danau buatan di sekeliling kompleks Angkor ini jg gak kalah menakjubkan sebenernya

Thursday, January 31, 2013

Cambodia (1) .: prelude :.

Perjalanan ke Cambodia atau Kamboja ini sebenernya udah dari awal bulan Januari kemaren.
Tapi biasalah, sibuk sama kerjaan baru dan emang gw agak pemalas untuk nulis detail perjalanan.
Padahal ini salahsatu perjalanan yang paling berkesan. Banyak ketemu temen baru yang menarik selama perjalanan. Trus juga pengalaman-pengalaman gak terlupakan seperti menikmati matahari terbit di kompleks candi Angkor.

Karena tulisan yang gw buat di notes gak terlalu sistematik, akhirnya gw kebingungan sendiri pas mau nulis ulang. Tulisan gw ternyata bener-bener random sampe penulisnya pun gak bisa baca... hehe..

Secara garis besar, perjalanan gw ke Kamboja dimulai dari Phnom Penh lalu berakhir di Siem Reap.

Hanya 4 hari aja dihabiskan di Phnom Penh, dan pada saat gw nyampe bandara cuacanya bagus banget! Pertanda yang bagus di awal : )
Hotel yang gw booking udah mengorganisir supaya ada orang yang jemput sewaktu gw nyampe di bandara internasional Phnom Penh.
Orangnya ramah dan baik banget, trus gw dibawa deh naek tuktuk ala Kamboja untuk pertama kalinya. Dalam waktu 10 menit aja semenjak gw nyampe di Kamboja, gw udah kehilangan topi yang telah menemani traveling selama 2 tahun lebih. Yup, topi gw hilang terbang dibawa angin pas naek tuktuk itu.

Hotel tempat gw nginep ini letaknya di tengah kota, resepsionisnya masih muda banget dan bahasa Inggris nya lumayan. Walaupun ada kata-kata yang gw gak ngerti kalo dia ngomong.. hehe.
Dia juga friendly jadi keesokan harinya gw minta dia ajarin beberapa kata dalam bahasa Khmer.

Semua orang (supir tuktuk, resepsionis, owner hotel) bilang kalo tampang gw kaya orang Khmer.
Jadi kalo gw diem gak mengeluarkan sepatah kata pun pasti orang akan ngajak ngomong pake bahasa Khmer.

Hari pertama gw nyampe hotel langsung tepar bobo di kamar selama beberapa jam. Abis flight gw dari Bandung trus beberapa jam transit di bandara Low Cost Kualalumpur. Lecek juga rasanya setelah bermalam bersama para budget traveler dari seluruh dunia.

Udah gitu keluar muter-muter kota Phnom Penh, yang sebenernya gak terlalu besar juga.

Mengetahui sejarah kelam Kamboja, dimana mereka mengalami pemerintahan komunis dibawah Pol Pot pada pertengahan tahun 1970-an, maka gw sedikit takjub melihat ternyata kota Phnom Penh sendiri lumayan maju infrastrukturnya.
Memang gak semaju kota besar laennya di Asia Tenggara, tapi lumayan lah. Jalanannya besar dan bersih, ampir gak liat kondisi jalan bolong seperti yang ada di jalan Pagarsih, Bandung.

Beberapa hari setelahnya, gw ketemu sama seorang arsitektur asal British (kita kenalan di taman) yang bilang kalo Phnom Penh emang bagian dari negara Kamboja yang kondisinya paling lumayan.
Sisanya di perifer masih terkesan sangat terbelakang dan miskin.
Siem Reap yang pusat turis karena deket sama kompleks Angkor pun gak berkembang seperti Phnom Penh. Hanya di pusat kotanya aja yang berdenyut karena aktivitas para turis.

Anyway, gw akan mulai cerita kali ini dari Siem Reap instead of Phnom Penh.
Bukannya Phnom Penh gak berkesan sih. Di sana gw sempet mengunjungi Tuol Sleng genocide museum, atau area S-21. Ada kesan campur aduk setelahnya; gak percaya, sedih, takjub, miris, dst.

Walaupun gw pernah mengunjungi kamp konsentrari di Dachau sebelumnya, tapi teteup aja gw gak terbiasa menyaksikan brutalisme secara sistemik yang terorganisir.

Bahkan menurut gw, Hitler agak sedikit lebih mending karena yang jadi target adalah orang Yahudi, atau kebangsaan lain (atau warganegara Jerman yang disabel).
Tapi Pol Pot mentarget semua orang Kamboja, yang dianggap musuh politiknya. Dan caranya walaupun sama-sama gak berperikemanusiaan tapi kadarnya lebih brutal. Menurut gw sih...

Seperti contohnya, orang-orang yang akan dibunuh dirantai kaya anjing, lalu digiring ke suatu tempat dan dipukulin sampe mati (karena mereka gak mau buang-buang peluru untuk ngebunuh orang).
Hitler masih agak mending karena caranya yang mengirim ke ruang gas pake sianida.
Tapi tentu aja, brutalisme diantara keduanya sama parahnya dan gak bisa ditolerir.
Selama kepemimpinan Pol Pot ini ditaksir ada sekitar 1,7 - 2 juta orang Khmer yang mati terbunuh.
Jumlah yang fantastis mengingat populasi rakyat Khmer yang ada saat itu cuma 6 - 7 juta.

Baiklah, supaya kita gak terlalu gloomy setelah baca cerita tentang genocide itu, maka akan gw suguhkan gambar-gambar dari Siem Reap . . . .



.: the glorious Angkor Wat :.


Memang ada orang yang bilang kalau Angkor Wat atau candi Angkor mirip sama Borobudur. Mungkin sih, tapi dengan skala yang jauh lebih besar! (Angkor sendiri artinya kota).
Untuk amateur archeological geek seperti gw, ini salahsatu pengalaman artgasm yang intens mengingat kompleks Angkor ini dibangun pada masa 9 abad setelah Masehi. Dimana mereka belum menemukan teknologi canggih yang bisa membantu manusia untuk proses konstruksi.

Yang jauh lebih impressive daripada bangunan candinya sendiri, sebenernya adalah danau buatan yang dibangun di sekeliling kompleks candi Angkor. Danau buatan manusia ini sengaja dibangun untuk keperluan irigasi, karena pada jaman dahulu ibukota dari Kampuchea (atau kerajaan Kamboja) emang terletak di Siem Reap.
Dan karena sistim irigasi yang tergolong maju pada jamannya itu, kerajaan di Siem Reap bisa bertahan hingga 8 abad (mulai abad ke 9 hingga 17 setelah Masehi).


.: dragon boat :.


Telah gw singgung sebelumnya, kalau banyak kata dalam bahasa Khmer yang sama atau mirip dalam bahasa Indonesia. Seperti contohnya Psar untuk pasar. Kata yang sama artinya : naga, garuda.
Seperti yang telah kita ketahui dalam pelajaran sejarah di SMA yang sangat membosankan, bahwa Indonesia di abad 7 -13 setelah Masehi juga merupakan kerajaan Hindu - Budha.
Ada banyak candi peninggalan kerajaan Hindu - Budha, dan salahsatu yang paling terkenal yaitu candi Borobudur (peninggalan kerajaan Budha) dan candi Prambanan (peninggalan kerajaan Hindu).

Bentuk bangunan candi yang gw liat di kompleks Angkor sendiri lumayan mengingatkan akan Prambanan (yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu).
Elemen seperti Garuda, Visnu, Hanoman juga bisa ditemui di bas relief candi-candi yang tersebar di kompleks Angkor.

Tapi ada satu elemen yang khas membedakan candi buatan Angkor, yaitu Apsara. Apsara bisa diartikan sebagai dewi khayangan yang tugasnya menghibur mereka yang masuk nirwana (surga).
Apsara ini digambarkan cantik dan bertelanjang dada, dengan perhiasan yang menarik.
Dalam bas relief di candi sekitar Angkor, sebegitu detailnya Apsara ini dilukiskan sampai perhiasan tiap perempuan berbeda.


.: Apsara relief in Bayon temple :.


.: Apsara relief in Angkor Wat :.

Menurut buku panduan wisata, bulan Januari dianggap saat paling tepat untuk turis mengunjungi Kamboja. Karena pada saat itu curah hujan sudah rendah (akhir musim penghujan), tapi juga cuaca belum terlalu panas.
Akibatnya tentu aja banyak turis berduyun-duyun dari seluruh penjuru dunia.
Gerombolan turis dari China, Taiwan, Jepang, Rusia, UK mendominasi sebagian dari pemandangan candi yang gw singgahi.
Gak heran kalau anak-anak kecil penjual cinderamata di kawasan Angkor ini jago beberapa bahasa sekaligus. Mereka bisa ngobrol pake bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Melayu dengan para turis. Sambil menawarkan dagangan secara persuasif, anak-anak ini juga suka ngajak maen turis yang sekiranya mau meladeni.

Karena banyak anak-anak kecil yang mencari nafkah padahal seharusnya sekolah, di Phnom Penh ada NGO yang berkampanye gerakan : Think Twice! Let adults earn, and children learn.
Lebih jauh tentang itu akan gw tulis dalam liputan khusus tentang Phnom Penh (kalo inget dan kalo sempet).




Sebagai penutup, gw mau cerita sedikit tentang monks atau biksu.
Karena bangunan candi dianggap bangunan tempat pemujaan bernilai sakral bagi pengikut Budha, maka banyak biksu juga yang berkunjung ke kompleks Angkor ini untuk berdoa.

Yang gw tau, sebagai biksu biasanya kita gak boleh bermewah-mewah. Hidup sesederhana mungkin, punya barang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan gaya hidup biksu yang ekstrem banget (menurut gw) adalah mereka menggantungkan dari orang untuk makanan sehari-hari.

Nah, dari sekian pertemuan dan pengamatan selama gw keliling di kompleks Angkor (maupun selama di Kamboja) ada yang cukup menarik. Yaitu, beberapa biksu yang gw temui punya kamera SLR yang canggih banget! Saking canggihnya sampe gw bertanya-tanya, siapa ya yang sekiranya ikhlas banget menyumbangkan kamera seperti itu. . . (gw mau minta juga : )