Sunday, December 23, 2012

Places of 2012

Penghujung tahun 2012 sepertinya momen yang cocok untuk bikin tulisan tentang beberapa tempat yang sempat dikunjungi selama 12 bulan ke belakang.

Sebagian memang bukan tempat yang baru pertama kali dikunjungi, tapi tetap aja terkesan berbeda -karena perubahan yang sejalan dengan bertambahnya waktu (dan juga jumlah manusia, atau perilaku penduduk).

As always, karena tulisan sbb gak dimaksud untuk dijadikan panduan perjalanan (apalagi gw sadar koq bukan travel writer yang baik) melainkan sekedar kilas balik aja dari beberapa perjalanan yang gw lakukan selama setahun ini.

Here we go . . . . .   .    .

.: pollution, traffic jams, crowded population :.
#1. Jakarta, ID

Jakarta oh Jakarta.
Entah udah dari tahun kapan gw sering bolak balik ke kota ini, karena cuman makan waktu 2-3 jam perjalanan dari Bandung. Ini adalah salahsatu kota yang punya hubungan love and hate relationship sama gw. Love karena disini banyak kesempatan kerja kalau mau karir yang cepat berkembang, juga untuk penggila belanja (seperti gw, yang udah tobat-kumat) banyak diakomodasi oleh sejumlah mall.
Hate, dengan alasan yang jauh lebih banyak: macet, polusi (air, udara, suara), kesenjangan yang sangat lebar antara kaya-miskin, tata ruang kota yang semrawut dst dsb you name it all the problems that could ever exist in big city.

Yah kebanyakan kunjungan gw ke Jakarta selama tahun 2012 emang untuk keperluan bisnis. Karena kepaksa (dan juga ditanggung kantor) tentu tak terhindarkan pertemuan dengan segala hal yang sebenernya gw benci (macet, polusi, berisik) demi bisnis trip.
Jauh di dalam lubuk hati yang tedalam, sebenernya gw menyimpan rasa kagum dan juga kasihan sama sekian juta orang penduduk Jakarta, yang setiap hari mampu bertahan dengan segala permasalahannya.
Berangkat pagi pulang malem, menerjang kemacetan yang bikin putus asa orang kaya gw, belum lagi diperparah oleh banjir di kala musim hujan.

Somehow, dengan adanya pasangan Gub-Wagub baru- sepertinya banyak penduduk yang optimis akan ada perubahan berarti untuk Jakarta. Seperti juga gw, yang sangat terharu dengan pernyataan Jokowi yang mengedepankan semangat melayani sebagai seorang pemimpin.

Banyak hal yang berubah dari semenjak kunjungan gw pertama kalinya ke Jakarta (mungkin 25 tahun yang lalu). Tumbuhnya gedung-gedung pencakar langit, bertambahnya jumlah kendaraan pribadi di jalan, berkurangnya pepohonan di kawasan perkotaan.
Apalagi sekitar tahun 1998 dimana gejolak reformasi memanas, banyak pergolakan (dan pertumpahan darah) terjadi di sini.

Waktu itu umur gw masih 17 tahun dan baru masuk kuliah.
Dan angkatan '98 adalah salahsatu angkatan yang paling historis, dimana banyak temen-temen gw yang kuliah di luar negri mencari keamanan- sementara gw melanjutkan kuliah kedokteran di universitas negri.

Mudah-mudahan dibawah kepemimpinan yang benar, Jakarta (dan Indonesia) bisa dibawa ke perubahan yang lebih baik. Itu harapan gw untuk tahun mendatang.



.: soerabaja :.
#2. Surabaya, ID

Selama usia gw (yang terbilang masih muda ini : ) mungkin udah sekitar 3-4 kali mengunjungi Surabaya. Mostly untuk keperluan jalan-jalan tentunya.
Di tahun 2012 ini, kepindahan gw ke Surabaya berhubungan dengan pekerjaan.

Lokasi kerja gw sebenernya di Sidoarjo, tapi kantor provinsi ada di Surabaya.
Akibatnya sering banget wara wiri ke kota Pahlawan ini.

Pertama kalinya tinggal di Surabaya (untuk waktu yang lama) rasanya gak berasa jauh dari rumah. Makanannya oke, orang-orangnya ramah walaupun bicaranya medok (hehe), dan surprisingly infrastruktur kotanya termasuk maju (dibanding Bandung).
Sayangnya, walaupun termasuk kota besar- Surabaya gak punya sarana transportasi massal yang bisa diandalkan seperti contohnya busway/ KRL.
Ada sih kereta komuter, tapi frekwensinya kurang banyak. Angkot (yang disebut Len) juga gak terlalu populer dipake penduduk. Kebanyakan lebih suka pake kendaraan pribadi (motor/ mobil) atau pake taksi.
Padahal beberapa kali pengalaman gw pake Len selalu positif, gak ada pengalaman buruk- supirnya gak ugal-ugalan (gak kaya supir angkot 05 di Margahayu, Bandung) dan tarifnya fixed. Juga sebagai penumpang cewe, gw merasa aman walaupun pulang sendiri malem.

Salahsatu observasi gw juga, penduduk keturunan (Chinese) Surabaya terbilang eksklusif, gak berbaur/ mingling seperti layaknya di kota Bandung atau Jakarta.
Terus terang gw jadi agak sebel sama golongan yang seperti ini.
Entah kenapa, mungkin karena gw dibesarkan di keluarga yang berjiwa nasionalis jadinya gak pernah membeda-bedakan/ menganggap satu ras lebih superior dibanding yang lain.
Kalau udah lahir di Indonesia yah namanya tetap penduduk Indonesia.

However
, sedikit banyak jadinya gw merasa beruntung dilahirkan di Bandung yang mengakomodasi cita rasa nasionalis. Dengan pergaulan yang luas jadinya mudah buat gw untuk masuk ke golongan mana aja.

Tapi banyak hal yang gw kagumi dari Surabaya koq. Tata kotanya lebih jelas, pemkot memelihara bangunan jaman Belanda sebagai heritage sites, contohnya di kawasan Darmo, JMP, dan sekitar House of Sampoerna.
Pengalaman gw ikutan tur Surabaya Heritage Track yang merupakan corporate social responsibilty (CSR) dari House of Sampoerna, semakin memperkukuh keyakinan gw bahwa warisan budaya dipelihara dengan baik oleh pemkot-nya.

Waktu di Surabaya, gw sempet ketemuan dengan satu traveler asal Swiss- kita sebut aja namanya P.
Owya, seminggu sebelumnya P ini udah mengunjungi Bandung, kota kelahiran gw.
Lalu gw tanya, apa pendapat dia tentang Bandung dan Surabaya.
Dia bilang, (tentu aja) banyak banget perbedaannya. Pemkot Surabaya terlihat jelas perannya dalam mengurus kota. Sedang Bandung, seperti kota yang gak ada pemerintahnya.
Di Surabaya, ada city tourism centre/office - dimana kita bisa dapet informasi gratis tentang spot wisata, gimana kalau mau eksplor sendiri atau ikut tur dalam kota atau seputar Jatim. Bahkan tersedia leaflet gratis (dan ada website-nya juga). Informasi tsb paling engga dalam 2 bahasa: Indonesia dan Inggis.
Sedangkan pengalaman P di Bandung ? Dia ditawarin sama 1 petugas yang kerja di city tourism centre untuk ikut paket tur dan membayar sejumlah uang, pas dia mau nanya tentang informasi wisata.

Sebagai orang Bandung, tentunya gw merasa sangat MALU.
tapi yah emang begitulah pemkot Bdg. gak ada waktu untuk membenahi kota karena sibuk ngurusin Persib ...


.: beachwalk, Kuta :.
#3. Kuta-Legian, Bali, ID

Alasan utama kepergian gw ke Bali di tahun 2012 ini adalah: dapet tiket murah.
Ternyata budget flight macem AirAsia bikin orang jadi compulsively booking tiket yang belum tentu juga sesuai dengan kebutuhan.
Yah sebenernya Bali merupakan destinasi wisata yang gak membosankan walaupun sering dikunjungi.
Tapi kesan yang gw dapat semakin ke sini adalah, Bali yang semakin kapitalistik dan turistik.

Apalagi mungkin nama pulau Bali going international setelah dijadikan salahsatu lokasi shooting film Eat, Pray, Love (yang diambil dari buku dengan judul serupa).
Jadi banyak orang/ turis internasional umumnya, mengharapkan pengalaman spiritual yang sama, seperti pengalaman tokoh yang diperankan oleh Julia Roberts.
(btw gw sendiri belum baca buku maupun nonton film-nya, katanya sih bagus tapi .... )

Perubahan mencolok yang gw perhatikan, adalah di sepanjang jalan Legian, Kuta- banyak banget franchise toko swalayan (e.g. Indomart, Alphamart, dkk) setiap 50 meter.
Kesannya jadi acak-acakan, gak teratur dan lagi-lagi, mencerminkan semangat kapitalistik.
Apa memang gak ada aturan yang jelas tentang pendirian toko seperti itu?

Selain itu ada mall baru juga dibangun di dekat pinggiran pantai Kuta. Konsepnya hampir mirip dengan Centro yang juga dibangun dengan bagian menghadap pantai.
Tapi di Beachwalk, itu nama kawasan perbelanjaan yang baru dibangun tsb, lebih mengedepankan konsep Go Green. Ada pesan-pesan tentang menjaga kelestarian lingkungan dan menginisiasi penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi.
I like it.
Yang perlu diperhatikan oleh pengelola mall juga, mungkin supaya gak menyetel AC terlalu dingin di bagian dalam mall. Karena toh buat apa mendengungkan konsep Go Green tapi boros listrik dengan penggunaan AC yang berlebihan?



.: Bromo, Tengger :.
#4. Bromo, ID

Banyak hal yang bisa dikagumi dari Indonesia; makanan enak, cuacanya nyaman sepanjang tahun, dan kekayaan alam yang gak ada habisnya.
Salahsatu daerah kunjungan wisata yang cukup dikenal di kalangan turis internasional adalah Bromo. Yah, Bromo dan Ijen memang cukup dikenal sampe ke mancanegara berkat publikasi tulisan para pelancong asing yang mampir kesitu.

Wisatawan dalam negri sendiri biasanya hanya mengunjungi untuk melihat keindahan pemandangan Bromo (dan berfoto dengan latar belakang gunung sebagai buktinya : )
Sedang wisatawan luar biasanya juga mengenal lebih jauh tentang latar belakang penduduk asli yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger tsb.
Saat mengunjungi Bromo di awal Agustus 2012, penduduk asli sekitar Tengger memang sedang merayakan festival tahunan Kasada.
Walaupun saat itu sebagian besar umat muslim di belahan dunia sedang melaksanakan ibadah puasa, suasana demikian tidak terlihat di kawasan Bromo. Sebaliknya, suasana cukup ramai dengan banyaknya orang yang berjualan makanan/souvenir sehubungan dengan perayaan Kasada.

Indonesia memang unik, menyimpan berbagai macam kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda di setiap penjurunya. Sudah seharusnya kita belajar menghargai keperbedaan itu dan menjaganya sebagai suatu kekayaan daerah. 
Jadi, kenapa dong masih ada komplotan seperti FPI yang ingin supaya semuanya sama dan seragam?

.: changi airport :.
#5. Changi, SG

Katanya ini the best airport in the world.
Singapura tahun 1970 mungkin cuman sebuah kampung, gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Beda dengan Indonesia yang waktu itu sudah 25 tahun merdeka dan dalam masuk dalam tahap pembangunan oleh pimpinan Orde Baru.
Tapi di tahun 2012 ini, jelas sudah bahwa Singapura bergerak maju dengan sumber daya yang terbatas: Lahan terbatas, miskin akan sumber daya mineral, cuman segelintir penduduk (ya segelintir kalo dibanding penduduk Indonesia yang jumlahnya 230 juta) yang menghargai arti kata kerja keras.
Changi, yang menjadi tempat transit berbagai maskapai dari belahan penjuru dunia, sungguh dibangun dengan fasilitas yang jauh memenuhi syarat. Dengan fasilitas yang nyaman, yang bisa diakses oleh turis backpacker sampai tingkat para pebisnis, gak heran kalau Changi mendapat julukan bandara udara terbaik di seluruh dunia.

Yup, salut untuk Singapura dan ikon-nya yang mendunia. Walaupun tempat ini bukan top destinasi wisata bagi gw tapi Changi memang layak untuk dikunjungi sekalipun hanya buat transit.



.: malapascua :.
#6. Cebu, PH

Kalau gw bisa milih terlahir kembali, mungkin lebih cocok terlahir kembali sebagai orang Filipina. Yah mungkin kehidupan sebagai orang Kristen akan lebih mudah juga di Filipin, tapi manusia biasanya kan akan menjadi lebih kompetitif kalau dibesarkan dalam lingkungan yang menantang.
Mungkin itu juga yang bikin gw menjadi seperti apa adanya sekarang, karena terlahir di Indonesia.

Walaupun pemandangan alam Filipin kurang lebih mirip dengan Indonesia, tapi sepertinya pemerintah sana mengelola lebih profesional sebagai tujuan wisata.
Gampang banget cari informasi tentang tempat-tempat wisata di sana, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta.

Turis pun bisa memilih, mulai dari yang low cost budget seperti para backpacker traveler maupun turis berkantong tebal, cukup variatif pilihan wisata yang ada.

Di daerah Cebu dan Malapascua, dua tempat yang gw kunjungi, memang jadi tujuan utama turis untuk liburan. Banyak turis dari Hongkong, Korea, Jepang yang 'melarikan diri' kesini, untuk mencari cuaca yang lebih jinak saat musim dingin. Selain itu standar hidup yang gak terlalu mahal (bagi turis asing) bikin mereka gak malu-malu menghabiskan duit selama mengunjungi Cebu. Cebu city sendiri bertaburan banyak mall seperti Jakarta.

Secara personal, gw sendiri tergila-gila pedicure selama di Cebu karena murah banget.
Harga 1 paket pedicure yang pernah gw coba di mall adalah 90 Ph pesos ~ 20 rb rupiah.
Kalau di salon pinggir jalan malah ada yang 60 Ph pesos.
Gak heran kalo kebanyakan cewe di Cebu (yang gw liat) punya kuku kaki yang tertata rapih hasil pedicure di salon. Abis murah banget sih!

Cewe Filipina juga sangat memperhatikan penampilan, seengga-engganya kebanyakan yang gw liat di Cebu city. Mereka selalu keliatan dandan (pake make up), stylish, up to date (ngikutin mode) dan bawa cermin kecil ke mana-mana!

Seperti yang orang-orang juga bilang, mungkin lebih cocok kalau gw terlahir sebagai Filipina :-)

Thursday, December 13, 2012

get there and get lost [Ams, NL]

denger-denger katanya multiply mau ditutup ya ?

orang jadi mindahin semua tulisannya ke tempat semacam blogspot.

tulisan gue sendiri di multiply gak banyak sih, karena penggunaannya kurang friendly user buat orang gaptek seperti gue.

tapi ada beberapa yang lucu juga kalo dibaca lagi, jadi gue pindahin aja beberapa tulisan, sekedar untuk nostalgila : )

buat yang mau liat langsung link-nya di multiply bisa klik disini
http://derwanderlust.multiply.com/journal/item/5


tertanggal Nov 27, 2011

lokasi: Diemen, The Netherlands




Salah satu keahlian atau bawaan gue yang gak diragukan lagi adalah : get lost alias tersesat.

It is true that woman just not get along with map (at least in my case).

Jadi solusinya adalah, kalau gue sedang jalan sendirian -dan gak punya orang lain yang bisa diandalkan untuk bantuin baca peta- gak ada pilihan laen kecuali banyak bertanya daripada tersesat/ sotoy.

Untungnya di Belanda semua orang rata-rata ngerti bahasa Inggris, sampe tukang sapu jalan juga bisa.
Tapi sering juga karena malu banyak nanya terus terusan, gue tetep berusaha keras (sebisa mungkin) mencoba mengandalkan peta (dan akhirnya tersesat, juga).
Entah kenapa, tapi harus diakui ... kelemahan ini paling engga menghindarkan gue dari kemungkinan ngelamar profesi jadi supir truk (yang menurut epidemiologi HIV di Indonesia termasuk salahsatu kelompok resiko tinggi.)


Eniwei, akhir-akhir ini ada dua kejadian nyasar.
Baru 2 hari kemaren, pas ngambil Dutch residence permit di Orlyplein.
Karena gw abis balik dari Den Haag, jadi dari Den Haag Centraal langsung ambil train arah Ams Centraal dan turun di station Sloterdijk.

Nyampe Sloterdijk, kluar station udah liat peta sih.
Liat peta, dengan yakin gue (ternyata) menuju arah yang salah.
Setelah jalan 10 menit dan gak nemu alamat, lalu nanya orang (2 orang diantaranya gak yakin sama jawaban mereka).
Lalu masuk gedung, tanya satpam. Dia bilang deket sama station.
Akhirnya berjalan balik lagi ke arah station Sloterdijk dan ternyata dong..... gedung yang dicari letaknya pas sebelahan ama station ituh.
Ampun deh..... ada apa sih dengan kemampuan baca peta gue.

Kejadian kedua, baru berlangsung hari ini.
Dan ini hari pertama gw liat salju di Ams !!!! *yipppeeee*
Mayan dingin loh.... 1 drajad gitu loh. Tapi teteup harus brangkat keluar untuk reparasi sepeda.
(btw reparasi = bahasa blanda nya jg reparatie)
Jadi dibawalah itu sepeda- dituntun- sejauh 1.8 km, tapi gak kerasa sih, karena cuacanya adem.... kalo pake kostum yang mendukung sih gapapa.

Yang jadi masalah, nyari alamat yang dituju.....  walopun sudah konsul sama Google map (dan dicatet- gabung sama daftar blanjaan) sperti biasa gw mengalami disorientasi tempat lagi.

Tanya orang (stelah muter di tempat selama 5 menit), akhirnya ada cewe bilang lewat sono. Jalan 350 meter, koq rasanya belum nemu juga, tanya orang lagi. Taunya dia juga gak tau.

Trus ada opa2 yang di dalem rumah ngliatin gue, (kesian kali liat gue muter-muter gak jelas padahal di luar salju). Sepedanya gue parkir depan halaman dia tus gue samperin aja.

Dia baek deh, langsung keluar rumah. Tapi gak bisa bahasa Inggris ! Alamak...

Sementara bahasa Belanda gue hanya sebatas Dankje wel dan Goede morgen ajah, jadi kurang lebih ini hasil pembicaraan kita :

gue (pake bahasa Inggris): Permisi mau tanya kalo Boskriekoord itu belah mana ya?

opa (pake bahasa Belanda): Sepeda elu tuh ban nya kempes ! (sambil nunjuk sepeda gw)

g :  Ehmm... waduh gw gak ngerti. Jadi alamat ini masi jauh ya dari sini?

opa: Kalo mau sepedanya dipompa. Ada tempat reparasi sepeda deket sini. (dia bilang reparatie dan fiets.... aha!)

g : Iya, gw mau bawa sepeda ini ke tempat reparasi. Adanya di alamat ini. (sambil ngasi liat peta yang gue bawa)

opa: Ada tempat reparasi sepeda deket sini, elu bisa lurus kesana tus belok kanan. Deket gereja.

g : Oke makasih. Tapi, kalo alamat Boskriekoord itu dimana yah?

opa: OOOwwwwhhhhh Boskriekoord itu deket. Dari sini lurus, tus belokan ketiga yang ada meneer itu belok kanan. (Akhirnya..... nyambung juga walaupun beda bahasa )

g: Ok!  Dankje wel !



Si Opa baek juga mau bantuin gue, walopun dia gak bisa bahasa Inggris.
Mana dibelain mesti keluar rumah, dia gak pake jaket dan nawarin pengen pompa ban sepeda gue yang kempes lagi ! (Itu kalo gw gak salah nangkep, or mungkin aja gw salah interpretasi).

Okeh.

Sekarang kita masuk ke pelajaran bahasa Belanda.
Kalo bisa Inggris -ada kata yang mirip juga di Dutch
eg. geef - give , nee - no , pijp - pipe dst.

Kalo bisa Jerman- mirip juga sama bahasa Belanda.
eg. haben - heb, lessen - lees, kochen - koken dst.

Banyak kata Indo juga ada di bahasa Blanda eg.
persis, reparasi, komunikasi, birokrasi (smua yang berakhiran -si), gratis, bon, tas, dst.
Orang Blanda juga pake: 'toch?' 
dan surprisingly gue tau artinya.... karena sama kaya: '... iya toh?' (or kurang lebih spt itu).

Nah itu sebabnya selama 3 bulan tinggal kemampuan bahasa Belanda gue samasekali tidak berkembang. Karena gue mikir toh sudah menguasai Indo- Inggris- dan sedikit Jerman, jadi mestinya bisa survive tanpa belajar Dutch taal.

(dan ternyata asumsi itu salah besar).



Tuesday, December 11, 2012

.: journey through volcano :.

yup, kali ini gue kembali dengan ulasan tentang pesona wisata negri sendiri.

iya minggu lalu gue menghilang ke sebuah lokasi wisata di jawa timur, yang cukup terkenal di kalangan turis (atau traveler) domestik maupun lokal.

ayo... ada yang bisa nebak gak apa ?

bukan. bukan baluran (tapi pengen juga sih ke sana suatu saat).
bukan pulau sempu juga. karena sekarang status pulau sempu sudah menjadi Cagar Alam. sehingga terbatas untuk dikunjungi. apalagi mengingat kebiasaan orang indonesia pada umumnya, kalo pergi wisata suka meninggalkan 'oleh-oleh' sampah di lokasi yang dikunjungi. akhirnya dengan update status terbaru Pulau Sempu menjadi kawasan Cagar Alam, maka dengan ini diputuskan untuk mencoret sempu dari list tempat wisata yang akan dikunjungi.
ini semua demi terjaganya ekosistem dan biodiversity di pulau Sempu selalu terjaga untuk kepentingan jangka panjang kedepannya. amin. (apaan sih ?!?!)
serius. jangan ke Pulau Sempu kalau cuman sekedar untuk wisata doang.
terserah orang laen mau bilang apa, tapi gue mendukung gerakan Save Sempu, Jangan ke Sempu - agar pemerintah yang korup yang gak mampu menjaga kelestarian alam (melainkan meng-eksploitasi tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan) gak mendapat keuntungan dari turis yang gak ngerti apa-apa.

selain itu, tanah Indonesia ini masih banyak pilihan tempat untuk dikunjungi selaen Sempu.

nah, sekarang karena kalian udah penasaran kira-kira lokasi apa yang udah gue kunjungi .... ehem ... proudly present : Kawah Ijen, sebagai mutiara pesona wisata taraf internasional di Jawa Timur.

udah lama pengen ke Kawah Ijen, akhirnya baru kesampean di penghujung tahun 2012.
tepat sebelum kembali ke kampung halaman di Bandung yang becek nan banjir di kala hujan akibat ulah Pemkot yang berkomitmen tinggi untuk korupsi selama jabatan masih dikandung hayat. (curcol sejenak, mudah-mudahan dibaca KPK).

Kawah Ijen, yang terletak di kawasan pegunungan Ijen (ya ealah!) merupakan danau air asam terbesar di ... eh dimana ya, tar gue gugel dulu sumber informasinya. oke ketemu, terbesar di seluruh dunia! nih gw kutip dari website-nya 'by far the largest acid lake on Earth'
Keren gak tuh!
Malaysia pasti gak punya yang kaya gini, karena mereka sirik makanya mereka suka mukulin/ perkosa TKI asal Indonesia, jelek-jelekin orang kita, plus mencuri reog Ponorogo dan tarian Pendet dari Bali.

Nah, daripada baca cerita gue yang gak nyambung, mendingan dibaca langsung aja di situs ybs

Untuk yang lebih suka baca dalam bahasa Indonesia (tenang, gue gak akan bilang kalo kalian gak ngerti bahasa Inggris : ) bisa baca ini

Seperti biasa, sebelum trip gue selalu baca info-info yang bisa dicari di internet.
Ternyata banyak juga sumber nya, baik dari sumber turis luar yang udah berkunjung maupun dari sumber lokal.
Sedikit malu juga sih, kadang temen -temen gue yang orang asing malah udah pernah kesini sedang kita sendiri orang lokal gak sebegitunya menghargai keindahan Ijen.

Okeh, lanjut. Setelah mencari info sana sini, tanya sana sini. Ternyata emang gak ada akses langsung dengan kendaraan umum untuk nyampe sana.
Gak seperti Bromo yang pengelolaannya jauh lebih terorganisir, bisa diakses pake kendaraan bison dari terminal Probolinggo.

Setelah tanya orang pun, mereka yang udah pernah kesana biasanya hitchhike truk milik perkebunan. Semisalnya pake elf pun yang berangkat dari terminal kota Bondowoso, ternyata jadwalnya gak reguler dan elf ini cuman sampe kawasan Sempol aja.

Kalau menelusuri lebih jauh, banyak paket tur yang diorganisir oleh travel agent baik dari Banyuwangi, Malang, maupun Bali untuk one day trip (atau lebih) ke Ijen.
Tapiiiii.... mahal bo! Kayanya mereka juga lebih mentarget turis asing.
Pas nyampe Paltuding pun gue perhatikan emang banyak turis asing yang nyampe sana lewat pake tur seperti ini. Asumsi gue pun diperkuat dengan wawancara informal kepada salahsatu supir yang nganter para turis bule oleh Pak Bambang (supir yang nganter kita, kenalan om).

Jadi, karena menyadari betapa ribetnya pergi ke Ijen tanpa adanya akses kendaraan umum, akhirnya om gue menawarkan untuk minjemin hardtop berikut supirnya buat nganter kita.
(tawaran yang langsung gue terima dengan senang hati).
Tentu aja ini berarti perjalanan gue gak termasuk purely backpacking ala gembel.
Tapi gue janji, masih ada bagian menarik untuk diceritakan koq : )

Perjalanan kita (gue dan 2 orang teman lainnya) dimulai dari Jember.
Sebenernya, kalau mau ke Ijen bisa diakses dari dua jalur/ kabupaten; Bondowoso atau Banyuwangi.
Saat kita berangkat padahal bertepatan dengan diselenggarakannya bike tour de Ijen yang lewatin jalur Banyuwandi.
Tapi banyak yang bilang kalau jalur yang Bondowoso lebih bagus, dengan pemandangan hutan-hutan pohon pinus. It was indeed a scenic journey on the way.

Sama seperti kawasan wisata Bromo yang diperebutkan oleh 4 kabupaten, kawasan wisata Ijen juga menjadi sengketa dua wilayah: Bondowoso dan Banyuwangi.
Rute lewat Banyuwangi sendiri tadinya susah dilalui karena terkenal jalannya yang jelek, tapi katanya beberapa hari kemaren diperbaiki. Mungkin berkaitan dengan event international bike tour  tadi.
Sedangkan rute lewat Bondowoso lebih pendek (apalagi kalau kita berangkat dari arah barat), kondisi jalan yang lumayan bagus, dan disuguhi pemandangan lebih indah.

Kalau dari Bondowoso, nantinya kita bakal masuk ke kawasan perkebunan (PTPN) sebelum lanjut ke pos pendakian di Paltuding.
Normalnya kita sebagai pengunjung/ traveler mesti lapor pas masuk ke kawasan ini, untuk perjalanan kami sudah diwakili oleh Pak Bambang (supir hardtop, kenalan om). Maklum beliau udah veteran banget bolak balik kawasan PTPN. 

Karena kita berangkat dari Jember sekitar jam 9 pagi, lama perjalanan ke Bondowoso dan ke kawasan Ijen sekitar 3-4 jam, jadi nginep dulu semalem di Jampit.
Kawasan perkebunan kopi di Jampit ini menghasilkan banyak pemasukan untuk masyarakat sekitarnya. Kalau dilihat-lihat mereka hidup cukup makmur, dibandingkan buruh penambang belerang yang kerja di kawasan kawah Ijen.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan Pak Bambang dan juga guide yang nganter kita ke puncak gunung Ijen, mereka bilang kebanyakan buruh yang bekerja bolak balik ngangkut belerang itu memang berasal dari Banyuwangi.

Udah banyak foto dan liputan yang menceritakan tentang keras dan kejamnya hidup jadi buruh yang ngangkut belerang ini. 

 Salahsatu foto yang memenangkan penghargaan internasional oleh fotografer asal Lebanon saat berkelana ke Kawah Ijen: http://journals.worldnomads.com/scholarships/story/81251/Worldwide/Travel-Photography-Scholarship-2011-Winner-Announced!

Memang selaen keindahan alam di kawasan Ijen, hidup keseharian buruh penambang belerang yang bekerja di kawah Ijen juga jadi cerita yang bisa dijual.
Bayangin aja deh, gue dan temen yang gak cuman bawa badan aja susah payah treking sejauh 3 kilometer ke puncak (dengan kemiringan sudut 40-60 derajat).
Sedangkan para buruh itu harus membawa beban (hasil belerang yang ditambang) sebanyak kurang lebih 80 kilogram! Yang artinya 2x berat badan gue!
Sehari mereka bisa bolak balik 2 kali, maksimal 3 kali. Karena kalau lebih dari itu bakal kecapean.
Dan upah mereka berdasarkan berat/ banyaknya belerang yang dibawa pada saat turun.
Menurut pak Bambang (selaen jadi supir, beliau juga jadi narasumber gue selama perjalanan Ijen) para buruh itu harus libur setelah sehari kerja. Mereka gak boleh kerja dua hari berturut-turut misalnya. Karena kebayang dong dengan kondisi seperti itu mereka bisa cepet sakit kalo kerja tanpa istirahat.
Untuk orang normal yang kondisinya fit, naek dari pos Paltuding ke puncak dimana ada kawah Ijen bisa ngabisin waktu sekitar 1,5 - 2 jam. Yang artinya pulang pergi makan waktu 3-4 jam. 
Kalau mereka mulai pukul 5 pagi, bolak balik 2 kali berarti abis waktu 8 jam sehari untuk kerja. Tapi perjalanan balik karena beratnya belerang yang mereka bawa, para pekerja biasanya berenti beberapa kali. Ada tempat-tempat dimana mereka bisa berenti sambil naro keranjang berisi sulfur yang berat itu. Dan saat mereka istirahat itu biasanya beberapa orang (yang kesian) ngasi makanan/ rokok/ minum dst.
Kejam memang kehidupan ini. Dan bisa dibilang tidak adil.
Mengingat betapa banyaknya koruptor yang berkeliaran makan uang rakyat, sementara masih di belahan dunia yang sama sebagian orang begitu susahnya bertahan hidup.

Sebelum ngelantur lebih jauh, marilah kita lanjutkan kembali soal perjalanan ke Ijen ini.

Sampai di Jampit kita nginep semalem di guesthouse kepunyaan PTP. Tempatnya dibangun tahun 1928 untuk tempat peristirahatan tuan tanah jaman dulu (kali yeee).
Dan sekitarnya banyak taman yang indah serta terawat.
Pokoknya mengingatkan karangan gue jaman SD tentang berlibur ke rumah Nenek di desa.
(padahal gue gak punya nenek yang tinggal di desa, tapi waktu itu karangan gue dapet juara satu... hihihi).
Biar gak disangka bohong, nih gue kasih liat fotonya :

 .: view dari depan guesthouse kita :.
mirip gambar pemandangan yang suka dibikin waktu SD

Jaman dulu kan disini belum masuk listrik, jadi ada perapian di tengah rumah untuk penerangan dan juga sumber kehangatan (cieh, kesannya apaan gitu).
Maklum kalau malem hari, apalagi pas musim kemarau, suhunya bisa turun sampe dibawah 10 derajat Celcius.

Sore harinya gw jalan-jalan ke sekeliling guesthouse di daerah Jampit itu. Selaen berjejer kebun bunga warna warni di sepanjang jalan, juga banyak pepohonan pinus dkk di kawasan situ. Tus gue liat ada bangunan tua jaman Belanda yang agaknya kosong dan spooky.
Berhubung gue gak ada rencana buat wisata horor, jadi walau penasaran gue lewat aja tuh bangunan tanpa diintip.
Malemnya pak Bambang cerita, katanya dulu daerah sini emang pernah dipake untuk syuting film horor (judulnya apa dia gak tau. mungkin 'suster ngesot sambil kramas'). Dan bangunan spooky sempat dipake buat tempat nginep crew film yang bertugas.
Banyak kejadian aneh sewaktu mereka tinggal disitu e.g. salah seorang kru yang kesurupan dan munculnya orang tak dikenal dikenal yang katanya hantu.
Anyway, cerita dari temennya pak Bambang yang penduduk asli situ juga gak kalah seru.
Katanya dulu kawasan situ banyak harimau. Sayangnya sekarang udah punah (mungkin diburu warga, kesian ya). Juga pernah diketemukan ular seukuran batang pohon, yang bisa makan sapi hidup sekali telen.

Malemnya kita masih bisa lihat jelas bintang berserakan di atas langit. Itu karena polusi cahaya masih sedikit di kawasan Jampit.
Untungnya juga kalau dateng pas musim hujan, suhu udara jadi gak terlalu dingin pas malem.

Setelah bobo beberapa jam, kita siap berangkat jam 0230 dari Jampit ke pos pendakian Paltuding. Jalur yang kita lewati off road, motong kawasan perkebunan, melintasi kawah wurung yang katanya dulu penuh terisi air. Tapi sekarang jadi cekungan luas seperti savanah. Sempet juga kita kesana sorenya.

.: kawah wurung :.
mengingatkan gue akan savanah di afrika selatan (kayanya sih disana mirip gini juga)

Nyampe Paltuding, kita harus lapor ke petugas di pos-nya sebelum pendakian. Ngisi buku tamu dan bayar 5ribu per orang. Menurut gue ini tarif yang manusiawi.
Jadi inget kalo mau masuk kawasan Tangkuban Perahu mesti bayar mahal terlebih turis asing kena bayaran lebih mahal. Sungguh Pemda Jabar lebih bermental koruptor dan geje pemasukannya buat siapa.

Trekking ke atas puncak kawah Ijen sebenernya gak terlalu susah, jaraknya cuman sekitar 2,5 - 3 kilometer. Tapi buat yang belum terbiasa dengan jalur yang agak berpasir mesti pinter ngatur nafas. Sekitar 1 kilometer sebelum nyampe puncak Kawah Ijen, bakalan ada warung pondok bunder. Orang bisa istirahat dulu disitu sambil ngeliat kerajinan tangan yang terbuat dari belerang, bikinan orang setempat.
Harganya cukup 5 ribu saja. Underpriced kalo menurut gue, mengingat proses pengambilan belerang tsb yang lumayan extreme.

.: kerajinan dari belerang :.
cuman 5 ribu aja, monggo dibantu yang mau jadi distributor

Sisa perjalanan sekitar 1 kilometer dari warung pondok bunder ke puncak gak kerasa karena pemandangannya bener-bener keren. Kita bisa liat lereng pegunungan di sebrang, mirip kaya pegunungan di New Zealand dalam film Lord of The Ring. Gue seketika merasa jadi hobbit dalam perjalanan mencari cincin... : )


bentar lagi ketemu cincin-nya  : )

Nyampe puncak, terjadilah peristiwa yang paling ditakutkan para fotografer.... yaitu .... batre kamera abis! Iya kamera SLR yang gue bawa ternyata totally run out of battery pas nyampe atas. Akhirnya cukup dengan modal kamera blackberry aja untuk mengabadikan keindahan Ijen. Tapi gak papa kan yang penting nyampe and it was absolutely stunning.

.: kawah Ijen :.
09 des 2012 (05.56)

Cuacanya sedikit berkabut pas nyampe atas, jadi gak terlalu jelas sunrise-nya. Mungkin karena kita juga agak kesiangan pas mulai trekking.
Tapi masih bisa dinikmati koq, walaupun anginnya keceng banget.

Sambil istirahat, gue memperhatikan banyak pengunjung yang foto narsis dengan latar belakang kawah. Mulai dari ababil sampe pasangan tua, juga banyak pengunjung asing (belanda, prancis, jerman, spanyol, australia, UK) yang tampaknya terpananya kaya gue.
Pas kita naek ke atas, sering juga berpapasan dengan buruh penambang belerang.
Sementara kita kedinginan pake baju 2 lapis karena suhunya pagi hari bisa 15 derajat Celsius, mereka malah banyak yang udah telanjang dada karena berkeringat.
Para buruh penambang ini memulai 'karir'nya sekitar umur 20an dan pensiun sekitar umur 50an. Paling tua mungkin 60an karena lebih dari itu mereka udah gak kuat lagi mungkin ngangkat beban 80 kg.

Rasanya susah dibayangkan ada orang yang seumur hidupnya bener-bener dihabiskan di tempat seperti itu untuk jadi penambang belerang. What a hard life for some people. 

Setelah perjalanan ke Kawah Ijen ini, gue mulai merenung apakah sebagai 'anak jaman sekarang' yang terlahir di kota bisa dibilang mental kita terlalu lemah untuk bekerja keras. Terlalu manja sama kehidupan. 
Pengennya kerjaan dapet yang nyaman, gak susah, gaji besar, gak mau lecek dst.
Padahal di sekitar kita masih banyak orang yang bener-bener harus kerja keras hanya demi upah yang pas-pasan untuk bertahan hidup. Owya mereka juga mungkin gak ditanggung asuransi kesehatan sekiranya tiba-tiba jatuh sakit. Bisa habis seluruh tabungan (kalau pun mereka punya) untuk membiayai pengobatan.
Padahal kerja di lingkungan dengan paparan gas sulfur terus menerus selama puluhan tahun pasti berpotensi untuk bikin penyakit kronis pada organ pernafasan para buruh kasar tsb.

Traveling seperti ini kadang bikin gue berpikir lebih keras, gimana caranya untuk membangun sistem kesehatan yang berpihak pada populasi seperti mereka.
Termasuk sistem pembiayaan kesehatan yang terjangkau buat orang yang penghasilannya pas-pasan. Juga pemberdayaan masyarakat supaya mereka gak harus terus menerus puluhan tahun bekerja kasar kaya gitu, tanpa ada jalan keluar menuju keadaan yang lebih baik. Tapi dengan cara memberikan kail dan bukannya ngasi ikan.
Empowerment dan sustainability. Itu aja kata kuncinya.
Hanya caranya seperti apa, gue masih belum tau sih.

Ada yang mau bantu ?






Wednesday, December 5, 2012

belum ada judul

Duh kemana aja gue akhir-akhir ini ?

Sampe gak sempet update blog ... pasti orang-orang kangen dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan gue selama ini (kepedean).

Jadi gini, bulan-bulan kemaren gue sangat sibuk. Sibuk kerjaan, sibuk traveling (ke Filipin), lalu sibuk persiapan untuk resign.

Iya. Memang gw resign dari kerjaan yang baru beberapa bulan aja.
Alasannya sebenernya udah gue tulis di blog laen lagi yang personal, karena demi menjaga nama baik pihak-pihak terkait, sebaiknya gak diceritain disini.

Anyway, anehnya, atau mungkin gak aneh juga sih. Justru gue merasa sangat bahagia setelah jobless ini. Bagi sebagian besar orang (yang gue kenal) mungkin jobless keadaan yang harus dikuatirkan.
Tapi buat gue malah suatu berkah.
Dimana gue punya banyak waktu melakukan hal-hal yang selama ini gak sempet dilakukan, saking waktunya tersita sama kerjaan.
Seperti baca novel, traveling ke tempat-tempat baru, bobo siang (priceless!), ngelamun di siang bolong dst.

Dan kemarin ini dalam sebuah perjalanan menuju suatu tempat (idih, sok rahasia banget), tiba-tiba aja gue merasa mellow.
Emang sebuah perjalanan selalu aja bikin gue berpikir dan merenung, entah itu perjalanan darat, laut maupun udara.
Kali ini gue merenungkan, betapa cepatnya waktu berlalu.
Tau-tau udah bulan Desember lagi. Udah mau akhir tahun lagi. Dan, di penghujung tahun ini banyak hal yang udah terjadi.

Lalu, gue kembali melihat catatan di awal tahun 2012.
Apa aja yang tadinya jadi resolusi untuk 2012, yang kesampean dan yang enggak.

Ternyata beberapa hal lumayan kesampean. Kenapa lumayan? Karena gak 100% seperti yang gue harapkan, tapi sudah ada proses menuju kesana.

Contohnya adalah resolusi untuk mengurangi belanja untuk hal-hal yang gak perlu.

Ehm, iya gue akui emang punya pertahanan sangat lemah untuk produk kecantikan. Jadi ada beberapa merk body lotion, bedak, parfum, sabun, krim muka, pelembab rambut dst - yang gue beli hanya berdasarkan dorongan emosional, bukan kebutuhan.

Itu sebabnya tiap kali belanja sebaiknya gue bawa temen sebagai 'polisi' yang bisa ngelarang gue beli ini itu yang gak perlu. (dulu 'polisi' gue adalah mantan pacar. yang ujung-ujungnya putus asa sama gue karena selalu nyari alesan supaya tetep bisa ngebeli barang yang dipengen).

Tapi, stelah gue evaluasi, ternyata tahun ini pencapaian gue gak terlalu parah.
Ada memang beberapa barang yang gue beli karena kompulsif, tapi gak parah koq.

Selain itu, gw juga punya target untuk traveling ke tempat wisata domestik dan internasional. Domestik udah beberapa tempat di Jatim, dan akhirnya Oktober kemaren gue juga nyampe ke Filipin. Negeri dimana sering banget orang nyangka gue berasal dari sana.
Dipikir-pikir, mungkin cocoknya gue terlahir sebagai orang Filipin. Karena gue terlahir dari keluarga berlatar belakang Kristen, lalu bahasa Inggris gue lumayan bagus (walaupun gak pernah ikutan les formal) dan secara fisik memang katanya gue lebih mirip orang Filipin.

Waktu di Thai gue sempet disangka orang Filipin. Waktu di Kopenhagen juga gitu. Bahkan sewaktu di Filipin, gue selalu diajak ngomong pake bahasa lokal.
Owya ada sopir taksi di Jakarta juga nyangka gue orang Filipin. Nah loh.

Belum sempet sih upload foto maupun ulasan cerita tentang perjalanan ke Cebu kemaren. Walopun sebenernya banyak pengalaman menarik yang pengen dibagikan.
Keburu sibuk kerjaan pas baru pulang ngetrip dan akhirnya gak mood nulis :'(

Baru aja kemaren gue diajak tante yang tinggal di Jember maen ke pantai Papuma. Pantai-nya jenis berbatu- batu dan sebenernya bukan tempat yang ideal untuk berenang. Lokasinya indah koq bisa jadi tempat pacaran (dan emang banyak orang pacaran pas kesono) asal jangan terlalu deket tebing. Tapi ombaknya gede banget. GEDE banget sampe ada warning sign dimana-mana. Gak boleh berenang, gak boleh terlalu deket pantai, dan gak boleh foto di atas batu-batu.

Setiap kali melihat tempat wisata di Indonesia seperti juga di Papuma ini, gue selalu semakin cinta sama Indonesia.
Sama kekayaan alamnya, cuacanya yang selalu hangat, bahkan pas musim ujan pun.
Juga orang-orangnya yang ramah, makanannya enak dan murah.

Pokoknya, semakin sering gue jalan keluar negri, semakin lah gue menyadari kalo ada hal-hal yang selalu bikin gue pengen pulang ke Indonesia.

Banyak temen-temen gue yang bilang, keren kalo udah jalan-jalan ke banyak tempat diluar negri. Makanya orang biasanya bangga kalo bisa keluar negri dan pasang status/ foto di fesbuk, untuk ngasi liat ke orang laen.

Tapi buat gue, semakin sering keluar negri, malah bikin gue sedikit malu kalo ketemu orang luar yang pernah ke Indonesia, ke tempat yang belum pernah gue kunjungi.

Ada temen bule di kantor, orang New Zealand dan Belanda, yang udah nyampe banyak pulau di Indonesia. Sedang gue ? Baru nyampe 6 aja diantara sekian banyak pulau yang kita punya.

Waktu gue ke sebuah pulau yang indah (katanya) di bagian utara Cebu, sebenernya gue agak kecewa. Karena menurut standar gue cewe Indonesia yang pernah ke banyak pantai di Indonesia, sebenernya pantai itu biasa aja. 
Ya emang bagus sih, pasirnya putih, lautnya biru jernih. Mirip sama pantai Sekotong di selatan Lombok. Atau Kiluan di Lampung. Atau banyak tempat lainnya lagi di Indonesia.

Tapi memang di Filipina itu yang namanya pantai bersih dan dikelola pemerintah dengan profesional.
Ada aturan untuk menjaga keberlangsungan ekosistem disana. Juga penginapan yang berdekatan dengan pantai harus memenuhi standar tertentu, mesti menjaga kebersihan sumber airnya (AMDAL), gak boleh sembarangan bikin warung es degan pinggir pantai.

Gak seperti di pantai Senggigi, dimana-mana bisa kita lihat resor mewah, bahkan pada tempat yang seharusnya gak boleh dibangun pemukiman. Juga banyak sampah berserakan bekas makan orang di pinggir pantai, termasuk sampah teh botol yang dibuang gitu aja sama pedagang (!!!!!!!)

Dan terus terang gue malu, kadang-kadang, sebagai warganegara Indonesia, harus menjelaskan kepada temen-temen yang bule. Betapa rendah kesadaran orang Indonesia untuk menjaga lingkungannya untuk tetap bersih.
Padahal kalo pantai kita bersih, tentu aja turis akan nyaman dan tertarik untuk mengunjungi.

Yah gue kadang alesan, 'orang Indonesia kan banyak yang pendidikan rendah, jadi gak ngerti pentingnya buang sampah pada tempatnya.'
Walaupun kenyataannya banyak orang dengan pendidikan tinggi juga masih buang sampah sembarangan!

Selain itu Filipin juga aman untuk turis. Seenggaknya di bagian Cebu yang gue kunjungi sih.
Temen gue orang Filipin bilang, dia pengen maen ke Indonesia karena katanya terkenal indah, banyak tempat wisata yang bagus.
Gue bilang, yah memang, tapi agak bahaya dibanding disini.
" Ow yah ? " dia tanya, " Emang disana apa yang bikin gak aman ? "

Lalu gue mulai dengan kesan waktu pertama kali nyampe Filipin, gue liat banyak cewe-cewe berkeliaran pake baju seksi dan trendy naek jeepney (kendaraan umum) pulang malem sendiri, tanpa ada yang godain di jalan. Dan bahwa keadaan itu hampir gak mungkin terjadi di Indonesia, kecuali di Bali mungkin.
Dan gue juga cerita kalo banyak wanita jadi korban pelecehan/ pemerkosaan di angkutan umum, padahal mereka sudah mengenakan pakaian tertutup.

Si temen Filipino itu agaknya mikir-mikir lagi untuk ke Indonesia. Padahal gue belum loh nyampe ke cerita tentang kerusuhan yang suka terjadi atas nama agama atau kelompok tertentu yang mengatasnamakan agama untuk 'mentertibkan'.
Owya ngomong-ngomong dia juga gay. Tapi gay di Filipin sangat diterima, dan mereka gak canggung untuk mengekspresikan di tempat umum.


.: bersambung :.