Friday, October 3, 2014

mereka, kita, kamu, saya

" Iya, saya juga bilang sama anak saya. Kerja itu bukan hanya kerja keras, tapi juga kerja cerdas. Biar bapaknya cuman supir, anak-anak saya usahakan bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Mau ilmunya kepake, mau engga ... tapi kalau sudah lulusan perguruan tinggi seengga-engganya pola pikirnya beda. Cara bicaranya juga pasti beda. Bapaknya gak apa-apa jadi supir. Tapi anak-anak harus lebih baik dari bapaknya."

Saya mencuri dengar pembicaraan antara supir bis damri dan seorang ibu yang duduk di kursi depan.

Buat saya pengalaman saat naik transportasi umum memang membawa kesan tersendiri.
Saya jadi bisa belajar dari pengalaman orang lain, entah lewat cara observasi maupun metode mencuri dengar seperti contoh diatas.

Kadang saya juga bisa belajar, bahwa kearifan dan sifat mulia lainnya, bukan ekslusif dimiliki orang berpendidikan tinggi (saja) tapi juga oleh orang yang gak dianggap siapa-siapa.
Supir bus ini salahsatu supir favorit saya, karena dia ramah. Semua orang diajak ngobrol. Orang yang keliatan tersesat pun sering ditanya dan dibantu.
Bila ada penumpang turun dari bus, biasanya dia ngasi tau supaya hati-hati saat menyebrang jalan. Overall, kelakuannya mulia dalam pandangan saya.

Ironisnya, hari yang sama saya mendengar pembicaraan ini di atas bus, adalah hari setelah anggota DPR yang baru dilantik dan ramai-ramai rusuh sehingga diberitakan media keesokan harinya.

Sambil pura-pura baca buku, saya jadi tercenung selama perjalanan menuju tujuan dengan bus kota.

Anggota DPR itu identik dengan mereka yang total pendapatannya ratusan juga (datanya sekitar 1 milyar per tahun). Aneh tapi nyata, dengan penghasilan diatas rata-rata kebanyakan orang Indonesia anggota DPR juga banyak dikaitkan dengan pemberitaan negatif seperti korupsi.

Seakan-akan duit 1 milyar per tahun tidak cukup untuk memenuhi keinginan manusia.

Tidak ada batas untuk keserakahan manusia.

Demikian kata-kata bijak yang pernah saya dengar.

Perjalanan saya melintasi lebih dari 20 batas negara mengajarkan bahwa manusia di seluruh dunia pada dasarnya sama.

Mereka, siapapun orangnya, apapun warna kulit, ras maupun agamanya, mampu mengajarkan saya tentang sifat-sifat manusia.

Saya pernah ditolong oleh orang yang paling tidak disangka-sangka; diantar bapak tua lusuh dengan motor saat kesasar di Phuket, diberi sedekah koin recehan saat di Bologna, numpang mobil yang lewat di tengah gurun dalam perjalanan ke Little Petra.

Sifat jahat manusia juga yang bisa bikin saya bergidik, ketika beberapa bulan lalu membaca berita pembunuhan seorang anak kuliahan- secara sadis, oleh pasangan seusianya (yang ternyata teman main-nya juga!).

Binatang mungkin bisa membunuh mangsanya. Tapi mereka hanya melakukannya agar tidak lapar.

Hanya manusia yang bisa membunuh sesamanya karena motif balas dendam atau cemburu.

Kejahatan dan kebaikan sepertinya memang harus selalu ada di muka bumi ini. Seperti malam dan siang. Gelap dan terang. Sifat negatif dan positif.

Kecanduan dengan sebuah perjalanan bagi saya, bukan hanya sekedar melihat tempat baru. Angkor Wat yang saya lihat tahun ini, adalah Angkor Wat yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sebuah perjalanan jauh lebih berkesan dengan jiwa-jiwa di antaranya. Teman dekat seperjalanan saya, kadang bukanlah saudara sebangsa se-tanah air, tapi perempuan muda asal Cheko atau lelaki paruh baya asal Catalunya.

Jiwa-jiwa para petualang, mereka yang memahami arti sebuah perjalanan, tidak dibatasi oleh bahasa, kewarganegaraan, apalagi warna kulit.






Ini adalah sebuah tulisan yang didedikasikan kepada mereka: para pahlawan jiwa saya. Yang selalu mengajarkan tanpa henti, sifat-sifat terbaik dalam diri manusia.