Tuesday, December 11, 2012

.: journey through volcano :.

yup, kali ini gue kembali dengan ulasan tentang pesona wisata negri sendiri.

iya minggu lalu gue menghilang ke sebuah lokasi wisata di jawa timur, yang cukup terkenal di kalangan turis (atau traveler) domestik maupun lokal.

ayo... ada yang bisa nebak gak apa ?

bukan. bukan baluran (tapi pengen juga sih ke sana suatu saat).
bukan pulau sempu juga. karena sekarang status pulau sempu sudah menjadi Cagar Alam. sehingga terbatas untuk dikunjungi. apalagi mengingat kebiasaan orang indonesia pada umumnya, kalo pergi wisata suka meninggalkan 'oleh-oleh' sampah di lokasi yang dikunjungi. akhirnya dengan update status terbaru Pulau Sempu menjadi kawasan Cagar Alam, maka dengan ini diputuskan untuk mencoret sempu dari list tempat wisata yang akan dikunjungi.
ini semua demi terjaganya ekosistem dan biodiversity di pulau Sempu selalu terjaga untuk kepentingan jangka panjang kedepannya. amin. (apaan sih ?!?!)
serius. jangan ke Pulau Sempu kalau cuman sekedar untuk wisata doang.
terserah orang laen mau bilang apa, tapi gue mendukung gerakan Save Sempu, Jangan ke Sempu - agar pemerintah yang korup yang gak mampu menjaga kelestarian alam (melainkan meng-eksploitasi tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan) gak mendapat keuntungan dari turis yang gak ngerti apa-apa.

selain itu, tanah Indonesia ini masih banyak pilihan tempat untuk dikunjungi selaen Sempu.

nah, sekarang karena kalian udah penasaran kira-kira lokasi apa yang udah gue kunjungi .... ehem ... proudly present : Kawah Ijen, sebagai mutiara pesona wisata taraf internasional di Jawa Timur.

udah lama pengen ke Kawah Ijen, akhirnya baru kesampean di penghujung tahun 2012.
tepat sebelum kembali ke kampung halaman di Bandung yang becek nan banjir di kala hujan akibat ulah Pemkot yang berkomitmen tinggi untuk korupsi selama jabatan masih dikandung hayat. (curcol sejenak, mudah-mudahan dibaca KPK).

Kawah Ijen, yang terletak di kawasan pegunungan Ijen (ya ealah!) merupakan danau air asam terbesar di ... eh dimana ya, tar gue gugel dulu sumber informasinya. oke ketemu, terbesar di seluruh dunia! nih gw kutip dari website-nya 'by far the largest acid lake on Earth'
Keren gak tuh!
Malaysia pasti gak punya yang kaya gini, karena mereka sirik makanya mereka suka mukulin/ perkosa TKI asal Indonesia, jelek-jelekin orang kita, plus mencuri reog Ponorogo dan tarian Pendet dari Bali.

Nah, daripada baca cerita gue yang gak nyambung, mendingan dibaca langsung aja di situs ybs

Untuk yang lebih suka baca dalam bahasa Indonesia (tenang, gue gak akan bilang kalo kalian gak ngerti bahasa Inggris : ) bisa baca ini

Seperti biasa, sebelum trip gue selalu baca info-info yang bisa dicari di internet.
Ternyata banyak juga sumber nya, baik dari sumber turis luar yang udah berkunjung maupun dari sumber lokal.
Sedikit malu juga sih, kadang temen -temen gue yang orang asing malah udah pernah kesini sedang kita sendiri orang lokal gak sebegitunya menghargai keindahan Ijen.

Okeh, lanjut. Setelah mencari info sana sini, tanya sana sini. Ternyata emang gak ada akses langsung dengan kendaraan umum untuk nyampe sana.
Gak seperti Bromo yang pengelolaannya jauh lebih terorganisir, bisa diakses pake kendaraan bison dari terminal Probolinggo.

Setelah tanya orang pun, mereka yang udah pernah kesana biasanya hitchhike truk milik perkebunan. Semisalnya pake elf pun yang berangkat dari terminal kota Bondowoso, ternyata jadwalnya gak reguler dan elf ini cuman sampe kawasan Sempol aja.

Kalau menelusuri lebih jauh, banyak paket tur yang diorganisir oleh travel agent baik dari Banyuwangi, Malang, maupun Bali untuk one day trip (atau lebih) ke Ijen.
Tapiiiii.... mahal bo! Kayanya mereka juga lebih mentarget turis asing.
Pas nyampe Paltuding pun gue perhatikan emang banyak turis asing yang nyampe sana lewat pake tur seperti ini. Asumsi gue pun diperkuat dengan wawancara informal kepada salahsatu supir yang nganter para turis bule oleh Pak Bambang (supir yang nganter kita, kenalan om).

Jadi, karena menyadari betapa ribetnya pergi ke Ijen tanpa adanya akses kendaraan umum, akhirnya om gue menawarkan untuk minjemin hardtop berikut supirnya buat nganter kita.
(tawaran yang langsung gue terima dengan senang hati).
Tentu aja ini berarti perjalanan gue gak termasuk purely backpacking ala gembel.
Tapi gue janji, masih ada bagian menarik untuk diceritakan koq : )

Perjalanan kita (gue dan 2 orang teman lainnya) dimulai dari Jember.
Sebenernya, kalau mau ke Ijen bisa diakses dari dua jalur/ kabupaten; Bondowoso atau Banyuwangi.
Saat kita berangkat padahal bertepatan dengan diselenggarakannya bike tour de Ijen yang lewatin jalur Banyuwandi.
Tapi banyak yang bilang kalau jalur yang Bondowoso lebih bagus, dengan pemandangan hutan-hutan pohon pinus. It was indeed a scenic journey on the way.

Sama seperti kawasan wisata Bromo yang diperebutkan oleh 4 kabupaten, kawasan wisata Ijen juga menjadi sengketa dua wilayah: Bondowoso dan Banyuwangi.
Rute lewat Banyuwangi sendiri tadinya susah dilalui karena terkenal jalannya yang jelek, tapi katanya beberapa hari kemaren diperbaiki. Mungkin berkaitan dengan event international bike tour  tadi.
Sedangkan rute lewat Bondowoso lebih pendek (apalagi kalau kita berangkat dari arah barat), kondisi jalan yang lumayan bagus, dan disuguhi pemandangan lebih indah.

Kalau dari Bondowoso, nantinya kita bakal masuk ke kawasan perkebunan (PTPN) sebelum lanjut ke pos pendakian di Paltuding.
Normalnya kita sebagai pengunjung/ traveler mesti lapor pas masuk ke kawasan ini, untuk perjalanan kami sudah diwakili oleh Pak Bambang (supir hardtop, kenalan om). Maklum beliau udah veteran banget bolak balik kawasan PTPN. 

Karena kita berangkat dari Jember sekitar jam 9 pagi, lama perjalanan ke Bondowoso dan ke kawasan Ijen sekitar 3-4 jam, jadi nginep dulu semalem di Jampit.
Kawasan perkebunan kopi di Jampit ini menghasilkan banyak pemasukan untuk masyarakat sekitarnya. Kalau dilihat-lihat mereka hidup cukup makmur, dibandingkan buruh penambang belerang yang kerja di kawasan kawah Ijen.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan Pak Bambang dan juga guide yang nganter kita ke puncak gunung Ijen, mereka bilang kebanyakan buruh yang bekerja bolak balik ngangkut belerang itu memang berasal dari Banyuwangi.

Udah banyak foto dan liputan yang menceritakan tentang keras dan kejamnya hidup jadi buruh yang ngangkut belerang ini. 

 Salahsatu foto yang memenangkan penghargaan internasional oleh fotografer asal Lebanon saat berkelana ke Kawah Ijen: http://journals.worldnomads.com/scholarships/story/81251/Worldwide/Travel-Photography-Scholarship-2011-Winner-Announced!

Memang selaen keindahan alam di kawasan Ijen, hidup keseharian buruh penambang belerang yang bekerja di kawah Ijen juga jadi cerita yang bisa dijual.
Bayangin aja deh, gue dan temen yang gak cuman bawa badan aja susah payah treking sejauh 3 kilometer ke puncak (dengan kemiringan sudut 40-60 derajat).
Sedangkan para buruh itu harus membawa beban (hasil belerang yang ditambang) sebanyak kurang lebih 80 kilogram! Yang artinya 2x berat badan gue!
Sehari mereka bisa bolak balik 2 kali, maksimal 3 kali. Karena kalau lebih dari itu bakal kecapean.
Dan upah mereka berdasarkan berat/ banyaknya belerang yang dibawa pada saat turun.
Menurut pak Bambang (selaen jadi supir, beliau juga jadi narasumber gue selama perjalanan Ijen) para buruh itu harus libur setelah sehari kerja. Mereka gak boleh kerja dua hari berturut-turut misalnya. Karena kebayang dong dengan kondisi seperti itu mereka bisa cepet sakit kalo kerja tanpa istirahat.
Untuk orang normal yang kondisinya fit, naek dari pos Paltuding ke puncak dimana ada kawah Ijen bisa ngabisin waktu sekitar 1,5 - 2 jam. Yang artinya pulang pergi makan waktu 3-4 jam. 
Kalau mereka mulai pukul 5 pagi, bolak balik 2 kali berarti abis waktu 8 jam sehari untuk kerja. Tapi perjalanan balik karena beratnya belerang yang mereka bawa, para pekerja biasanya berenti beberapa kali. Ada tempat-tempat dimana mereka bisa berenti sambil naro keranjang berisi sulfur yang berat itu. Dan saat mereka istirahat itu biasanya beberapa orang (yang kesian) ngasi makanan/ rokok/ minum dst.
Kejam memang kehidupan ini. Dan bisa dibilang tidak adil.
Mengingat betapa banyaknya koruptor yang berkeliaran makan uang rakyat, sementara masih di belahan dunia yang sama sebagian orang begitu susahnya bertahan hidup.

Sebelum ngelantur lebih jauh, marilah kita lanjutkan kembali soal perjalanan ke Ijen ini.

Sampai di Jampit kita nginep semalem di guesthouse kepunyaan PTP. Tempatnya dibangun tahun 1928 untuk tempat peristirahatan tuan tanah jaman dulu (kali yeee).
Dan sekitarnya banyak taman yang indah serta terawat.
Pokoknya mengingatkan karangan gue jaman SD tentang berlibur ke rumah Nenek di desa.
(padahal gue gak punya nenek yang tinggal di desa, tapi waktu itu karangan gue dapet juara satu... hihihi).
Biar gak disangka bohong, nih gue kasih liat fotonya :

 .: view dari depan guesthouse kita :.
mirip gambar pemandangan yang suka dibikin waktu SD

Jaman dulu kan disini belum masuk listrik, jadi ada perapian di tengah rumah untuk penerangan dan juga sumber kehangatan (cieh, kesannya apaan gitu).
Maklum kalau malem hari, apalagi pas musim kemarau, suhunya bisa turun sampe dibawah 10 derajat Celcius.

Sore harinya gw jalan-jalan ke sekeliling guesthouse di daerah Jampit itu. Selaen berjejer kebun bunga warna warni di sepanjang jalan, juga banyak pepohonan pinus dkk di kawasan situ. Tus gue liat ada bangunan tua jaman Belanda yang agaknya kosong dan spooky.
Berhubung gue gak ada rencana buat wisata horor, jadi walau penasaran gue lewat aja tuh bangunan tanpa diintip.
Malemnya pak Bambang cerita, katanya dulu daerah sini emang pernah dipake untuk syuting film horor (judulnya apa dia gak tau. mungkin 'suster ngesot sambil kramas'). Dan bangunan spooky sempat dipake buat tempat nginep crew film yang bertugas.
Banyak kejadian aneh sewaktu mereka tinggal disitu e.g. salah seorang kru yang kesurupan dan munculnya orang tak dikenal dikenal yang katanya hantu.
Anyway, cerita dari temennya pak Bambang yang penduduk asli situ juga gak kalah seru.
Katanya dulu kawasan situ banyak harimau. Sayangnya sekarang udah punah (mungkin diburu warga, kesian ya). Juga pernah diketemukan ular seukuran batang pohon, yang bisa makan sapi hidup sekali telen.

Malemnya kita masih bisa lihat jelas bintang berserakan di atas langit. Itu karena polusi cahaya masih sedikit di kawasan Jampit.
Untungnya juga kalau dateng pas musim hujan, suhu udara jadi gak terlalu dingin pas malem.

Setelah bobo beberapa jam, kita siap berangkat jam 0230 dari Jampit ke pos pendakian Paltuding. Jalur yang kita lewati off road, motong kawasan perkebunan, melintasi kawah wurung yang katanya dulu penuh terisi air. Tapi sekarang jadi cekungan luas seperti savanah. Sempet juga kita kesana sorenya.

.: kawah wurung :.
mengingatkan gue akan savanah di afrika selatan (kayanya sih disana mirip gini juga)

Nyampe Paltuding, kita harus lapor ke petugas di pos-nya sebelum pendakian. Ngisi buku tamu dan bayar 5ribu per orang. Menurut gue ini tarif yang manusiawi.
Jadi inget kalo mau masuk kawasan Tangkuban Perahu mesti bayar mahal terlebih turis asing kena bayaran lebih mahal. Sungguh Pemda Jabar lebih bermental koruptor dan geje pemasukannya buat siapa.

Trekking ke atas puncak kawah Ijen sebenernya gak terlalu susah, jaraknya cuman sekitar 2,5 - 3 kilometer. Tapi buat yang belum terbiasa dengan jalur yang agak berpasir mesti pinter ngatur nafas. Sekitar 1 kilometer sebelum nyampe puncak Kawah Ijen, bakalan ada warung pondok bunder. Orang bisa istirahat dulu disitu sambil ngeliat kerajinan tangan yang terbuat dari belerang, bikinan orang setempat.
Harganya cukup 5 ribu saja. Underpriced kalo menurut gue, mengingat proses pengambilan belerang tsb yang lumayan extreme.

.: kerajinan dari belerang :.
cuman 5 ribu aja, monggo dibantu yang mau jadi distributor

Sisa perjalanan sekitar 1 kilometer dari warung pondok bunder ke puncak gak kerasa karena pemandangannya bener-bener keren. Kita bisa liat lereng pegunungan di sebrang, mirip kaya pegunungan di New Zealand dalam film Lord of The Ring. Gue seketika merasa jadi hobbit dalam perjalanan mencari cincin... : )


bentar lagi ketemu cincin-nya  : )

Nyampe puncak, terjadilah peristiwa yang paling ditakutkan para fotografer.... yaitu .... batre kamera abis! Iya kamera SLR yang gue bawa ternyata totally run out of battery pas nyampe atas. Akhirnya cukup dengan modal kamera blackberry aja untuk mengabadikan keindahan Ijen. Tapi gak papa kan yang penting nyampe and it was absolutely stunning.

.: kawah Ijen :.
09 des 2012 (05.56)

Cuacanya sedikit berkabut pas nyampe atas, jadi gak terlalu jelas sunrise-nya. Mungkin karena kita juga agak kesiangan pas mulai trekking.
Tapi masih bisa dinikmati koq, walaupun anginnya keceng banget.

Sambil istirahat, gue memperhatikan banyak pengunjung yang foto narsis dengan latar belakang kawah. Mulai dari ababil sampe pasangan tua, juga banyak pengunjung asing (belanda, prancis, jerman, spanyol, australia, UK) yang tampaknya terpananya kaya gue.
Pas kita naek ke atas, sering juga berpapasan dengan buruh penambang belerang.
Sementara kita kedinginan pake baju 2 lapis karena suhunya pagi hari bisa 15 derajat Celsius, mereka malah banyak yang udah telanjang dada karena berkeringat.
Para buruh penambang ini memulai 'karir'nya sekitar umur 20an dan pensiun sekitar umur 50an. Paling tua mungkin 60an karena lebih dari itu mereka udah gak kuat lagi mungkin ngangkat beban 80 kg.

Rasanya susah dibayangkan ada orang yang seumur hidupnya bener-bener dihabiskan di tempat seperti itu untuk jadi penambang belerang. What a hard life for some people. 

Setelah perjalanan ke Kawah Ijen ini, gue mulai merenung apakah sebagai 'anak jaman sekarang' yang terlahir di kota bisa dibilang mental kita terlalu lemah untuk bekerja keras. Terlalu manja sama kehidupan. 
Pengennya kerjaan dapet yang nyaman, gak susah, gaji besar, gak mau lecek dst.
Padahal di sekitar kita masih banyak orang yang bener-bener harus kerja keras hanya demi upah yang pas-pasan untuk bertahan hidup. Owya mereka juga mungkin gak ditanggung asuransi kesehatan sekiranya tiba-tiba jatuh sakit. Bisa habis seluruh tabungan (kalau pun mereka punya) untuk membiayai pengobatan.
Padahal kerja di lingkungan dengan paparan gas sulfur terus menerus selama puluhan tahun pasti berpotensi untuk bikin penyakit kronis pada organ pernafasan para buruh kasar tsb.

Traveling seperti ini kadang bikin gue berpikir lebih keras, gimana caranya untuk membangun sistem kesehatan yang berpihak pada populasi seperti mereka.
Termasuk sistem pembiayaan kesehatan yang terjangkau buat orang yang penghasilannya pas-pasan. Juga pemberdayaan masyarakat supaya mereka gak harus terus menerus puluhan tahun bekerja kasar kaya gitu, tanpa ada jalan keluar menuju keadaan yang lebih baik. Tapi dengan cara memberikan kail dan bukannya ngasi ikan.
Empowerment dan sustainability. Itu aja kata kuncinya.
Hanya caranya seperti apa, gue masih belum tau sih.

Ada yang mau bantu ?






4 comments:

fathurohman arif jarwokatro said...

wah mantep ini om...


tar kalo ke ijen lagi nyempetin ke kawah wurung ah :D

Pippi Lifeshine said...

Perkenalkan saya Pippi tinggal di Surabaya.

Saya sudah pernah ke Kawah Ijen, memamk begitu adanya medan menuju kesana memamk berat. Saya terkesan membaca tulisan ini.

Yogi BNI said...

refrensinya mantap omm

MD said...

nice to know it helps ...

btw ini bukan bro tapi sist :)

boleh kan cewe ikutan jadi penjelajah kawah juga :D