Wednesday, April 30, 2014

Yordania .: Cherry yang ceria :.

Tulisan ini diikut sertakan dalam kompetisi travel blog #KompasTravelFair 2014.

Intro
Agak susah sebenarnya merangkum 2 minggu perjalanan hanya dalam 1000 kata. Tapi dalam setiap perjalanan selalu ada peristiwa berkesan atau pribadi unik yang tidak mudah dilupakan.
Buatku sendiri, kadang sebuah tempat menjadi lebih bermakna karena orang-orang yang kita temui di dalamnya.

Bukan Jepang atau Korea, melainkan negara-negara Timur Tengah yang menjadi destinasi impian saya selama ini.
Sedikit banyak cita-cita saya berwisata ke negeri padang pasir akibat dari dongeng masa kecil, diantaranya kisah Aladin dalam kisah 'Seribu Satu Malam'.
Latar belakang kisah tentang negeri penuh misteri dan eksotisme ala Timur Tengah akhirnya membawa saya dua dekade setelahnya berpetualang ke Yordania.

Yordania merupakah sebuah negara di kawasan yang berbatasan langsung dengan Mesir, Syria, Saudi Arabia, dan daerah konflik Palestina-Israel.
Tersohor dengan warisan situs arkeologikal purba di Petra, Yordania juga dikenal sebagai tanah suci.
Banyak paket tur dari Indonesia memasukkan Yordania sebagai bagian dari perjalanan tanah suci (atau 'Holyland tour').
Saya sendiri menginjakkan kaki di Yordania tanpa mengikuti paket tur seperti ini.  Berbekal tiket promo murah dari sebuah maskapai penerbangan dan ransel yang setia menemani, saya pun berangkat menuju Timur Tengah.

Petualangan saya dimulai dari kota Amman, ibu kota kerajaan Yordania. Memang bentuk negara ini masih berupa kerajaan dan kursi kekuasaan diwariskan ke generasi berikutnya.
Hari pertama di Amman saya bertemu seorang sahabat yang lama tinggal di Jerman untuk bergabung dalam petualangan ini.

Keesokan harinya kami berkenalan dengan seorang pemuda asal Irak yang akan berlibur di Yordania.
Ahmed, nama teman baru kami tersebut, ternyata seorang dokter gigi yang pernah mengenyam pendidikan di negara Eropa Timur. Selain fasih berbahasa Arab (bahasa ibunya) dan bahasa Inggris, dia juga menguasai bahasa Rusia.
Merasa cocok satu sama lain, Ahmed memutuskan bergabung dengan kami dalam perjalanan ini. Sedang kami tentunya sangat diuntungkan dengan kehadiran Ahmed, yang kemampuan bahasa Arab-nya ampuh menghindarkan kami dari berbagai modus penipuan selama di Yordania.

Beberapa tempat yang kerap dikunjungi turis selama di Yordania adalah Amman, Jerash (ibu kota Yordania kuno), Laut Mati, sungai Yordan, Madaba, Aqaba, Petra, dan padang gurun di Wadi Rum atau Wadi Araba. Kebanyakan pelancong seperti kami mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya dalam waktu singkat. Dan hotel tempat menginap pun kerap jadi ajang pertukaran informasi bagi para pelancong yang sudah atau akan berkunjung ke destinasi tertentu.

Saat kami menginap di sebuah hotel di Amman, saya berkenalan dengan seorang pelancong perempuan asal Tiongkok bernama Cherry. Cherry berumur sekitar pertengahan 20an dan rencananya akan berkelana sendiri selama dua minggu di Yordania. Kepribadiannya tampak ceria dan murah senyum, tetapi saat berbicara bahasa Inggrisnya agak sulit dimengerti. Walaupun kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas sepertinya Cherry selalu berhasil menemukan pilihan paling ekonomis untuk pergi ke suatu tempat.
Berbekal info dari pengalaman Cherry yang mengunjungi Laut Mati sehari sebelumnya, kami pun mengikuti petunjuk yang diberikan.


pose narsis di Laut Mati .: touchdown titik terendah bumi :.
Sukses berenang dan foto narsis di Laut Mati, tujuan kami selanjutnya adalah Wadi Musa, kota yang tak jauh letaknya dari situs arkeologikal Petra.
Saat berangkat menuju Wadi Musa, seorang pelancong asal Perancis bergabung dengan kami. Sehingga sekarang grup kami berjumlah 4 orang dari berbagai negara.
Setiba di Wadi Musa dan selesai menaruh barang di kamar hotel, kami melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota sambil menunggu waktu matahari terbenam.
Tidak berapa lama, kami melihat sesosok tubuh yang kami kenal, sedang berjalan  sendirian. Kami panggil dia untuk bergabung bersama kelompok kecil kami. Ya Cherry rupanya juga baru tiba di Wadi Musa

Cherry bercerita kalau hotelnya terletak sedikit jauh dari tempat kami menginap, dengan balkon menghadap ke barat sehingga para tamu bisa melihat Petra dari kejauhan. Kedengarannya menarik dan kita pun segera menginvasi hotel tempatnya menginap, sambil menikmati pemandangan gratis matahari terbenam dari atas balkon.


matahari terbenam di Wadi Musa
Pada hari-hari tertentu Petra dibuka malam hari. Dengan penerangan cahaya lilin, pengunjung dapat merasakan sensasi berbeda memasuki Petra di tengah gelapnya malam. Kami pun tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan berharga seperti ini.
Sekarang rombongan kami sudah berjumlah 6 orang, dengan tambahan Cherry dan seorang pelancong wanita asal Jerman.


.: Petra by night :. Treasury diterangi cahaya lilin di malam hari
Sambil berjalan kaki menuju Petra kami mengobrol, saling berbagi cerita tentang pengalaman selama berpetualang di Yordania maupun belahan dunia lain.
Saya katakan pada teman-teman bahwa Petra kabarnya akan tutup sementara untuk direnovasi;

I heard that Petra would be closed for renovation ” ucap saya.
 

Teman-teman yang lain merespon dengan berkata, bahwa betapa beruntungnya mereka bisa mengunjungi tempat ini sekarang.
Hanya Cherry seorang yang tampaknya kebingungan dengan perkataan saya. Dia rupanya tidak begitu mengerti apa maksud perkataan saya, walaupun sudah saya coba jelaskan.
Sepuluh menit kemudian teman-teman yang lain membantu menjelaskan apa maksud dari perkataan saya, dengan kalimat lain yang lebih sederhana. Bahkan Ahmed sempat mencoba menerjemahkan kalimat itu dengan bahasa tubuh.
Kami pun sadar, terlepas dari kemampuan bahasa Inggris-nya yang terbatas, kepribadian Cherry yang ceria dan keberanian tekadnya telah membawa dia untuk berpetualang kemana pun.

Beberapa hari terakhir di Yordania kami berempat (saya, sahabat, Ahmed dan teman asal Perancis) menghabiskan waktu di padang gurun Wadi Rum. Karena Ahmed pernah kesini sebelumnya kami mendapat harga diskon untuk paket tur padang pasir, yaitu 25 dinar per orang. 


Wadi Rum .: padang pasir ini dijadikan lokasi syuting beberapa film
di antaranya Transformers: Revenge of the Fallen
Dengan mobil sewaan kami pun mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan pemandu.
Saat mengunjungi salah satu situs terkenal sebagai lokasi syuting film 'Lawrence of Arabian' di tengah padang pasir, rupanya kami bertemu seorang teman lama. Tebak siapa yang kami temui disana? Ya lagi-lagi Cherry!

Keberadaan Cherry di situ rupanya tanpa direncanakan, sambil menunggu proses pembuatan visa Mesir katanya. Dari hasil ngobrol-ngobrol, ternyata dia hanya membayar 20 dinar saja untuk tur privat padang pasir seorang diri! 
Dia bilang sebetulnya tidak terlalu tertarik dengan tur seperti ini, tapi dia setuju karena harga yang ditawarkan tergolong murah.
Oh Cherry, tampaknya keberuntungan selalu menyertaimu!

Malam terakhir sebelum saya kembali ke tanah air, kami bertiga (saya, sahabat dan Ahmed) kembali berkumpul di Amman. Kami sempat berjanji jika waktu dan kesempatan mengijinkan maka akan berpetualang bersama lagi di masa mendatang.


Maybe we should see each other again in China !“ begitu kata Ahmed sambil tertawa.
Yes Ahmed“ saya pun mengiyakan.
Jika seorang Cherry saja bisa bertahan seorang diri di Yordania, maka kami yakin juga bisa!

Wednesday, April 16, 2014

Citadel and Roman theather .: Amman :. day 2

Hari kedua di Amman kita pergi ke Citadel dan Roman theather.

Kita = gw, temen asal Indonesia dan satu cowo asal Irak yang kenalan di Amman, namanya Ahmed.

Ahmed yang bakal traveling sekitar 2-3 minggu juga di Jordan tanpa fixed plan dan bilang pengen jalan bareng kita.
Dia pernah sekolah di Eropa timur, jadi selaen bisa bahasa Arab (bahasa ibunya), bahasa Inggrisnya tergolong bagus dan bisa bahasa Rusia juga. Di hari pertama kita kenalan sepertinya sih orangnya baek dan cocok buat jalan bareng (pada akhirnya kita traveling bareng bertiga selama 2 minggu berikutnya : )

Citadel ini letaknya di bagian berbukitnya kota Amman jadi harus jalan kaki dulu sekitar 20 menit cuman lumayan nanjak lanskapnya (bisa naek taksi juga kalo males jalan).
Sementara kita musti bayar 2 Jod untuk tiket masuk Citadel, Ahmed sebagai warga negara bangsa Arab cukup bayar 0.3 Jod (!!!)
Ini perbedaan yang belum terlalu signifikan, later on kebanyakan tempat wisata emang ngasi harga lebih murah untuk warganegara Arab dibanding turis biasa. Yang paling bikin keki adalah pas kita masuk Petra mesti bayar 50 Jod (800k IDR) meanwhile dia cukup 1 Jod saja.

FYI, 1 Jordanian dinar ampir sama kursnya kaya Euro, yaitu sekitar 16rb rupiah.

Anyway, Citadel ini tadinya merupakan pusat kotanya Amman di masa lampau. Karena dulunya daerah ini termasuk jajahan Romawi maka kebanyakan bangunan peninggalan yang ada bercirikan struktur bangunan Romawi. Contohnya kolum-kolum tinggi seperti yang ada di Pantheon Roma.

Dalam perjalanan ke Yordania kali ini, gw juga memulai Shinta & Rama project.

Jadi sebenernya proyek ini unofficially dimulai tahun 2009, waktu gw dan temen Eurotrip sambil pake CS.
Kita bawa beberapa wayang golek mini versi Shinta dan Rama, lalu kita kasi ke host yang udah menyediakan tempatnya buat kita.

Saat ini Shinta dan Rama udah 'tersebar' di Paris, Granada, Lisabon, Wadi Musa, Irak dst.

Tapi Shinta & Rama yang gw mulai pada saat di Yordania ini, lebih ke dokumentasi perjalanan sekaligus mengenalkan kultur lokal tempat gw berasal.
Misalnya, dengan wayang golek ini tentu orang bertanya-tanya tentang asalnya dan dari situ gw bisa cerita sedikit tentang daerah kelahiran gw.

Selaen itu juga, biasanya kalo berwisata gw agak malu untuk berfoto narsis : )
Bukannya apa-apa... karena sering jalan sendiri, rasanya aneh aja buat gw buat selfie (walaupun selfie udah ngetrend sekarang jadi sah-sah aja).
Jadi dengan Shinta & Rama sebagai model, kayanya lebih banyak keuntungan (at least buat orang laen) pada saat liat gambar-gambar yang gw hasilkan selama dalam perjalanan.

Well here are some examples :

Shinta at Citadel, Amman
Shinta enjoyed the city view from Citadel
She also made it to Roman theater in Jerash, on the north of Amman
(on courtesy of Ronico's)

While Rama tried to spot her from Mount Nebo
(on courtesy of Ronico's)

Unfortunately they didn't make it to Dead sea
(they couldn't swim, although it's very unlikely people get drown here)
But at least she made it to Petra
.... and had a good encounter with Sphinx
(on courtesy of Ronico's)



Kembali ke Amman downtown, hari ini kita rencananya mau masuk Roman theater.
Tapi pas nyampe sana ternyata udah mau tutup buat turis (tiket masuknya 1 Jod) dan stelah agak kecewa, jadinya kita hang around aja sekitaran situ.

Taunya Roman theater dipake buat acara kung fu apaan gitu, jadinya orang lokal boleh masuk gratis.
Akhirnya menyamarlah kita sebagai orang lokal... hehehe... dan berhasil masuk gratis, plus nonton acara pertunjukkan kung fu yang dibawakan oleh perserikatan negara-negara Timur Tengah.

Roman column at Amman
 
Roman theater used for Kung Fu championship



Tuesday, April 15, 2014

The capital of Jordan .: Amman :. day 1

Berhubung sekarang di Indonesia lagi hangat topik tentang capres... dan salahsatu dari capres yang ada punya hubungan dekat dengan Yordania, maka sepertinya momentum yang tepat juga untuk share cerita sedikit tentang perjalanan gw ke Yordania bulan kemaren (April 14- 29).


Ternyata VoA untuk masuk Jordan bukan 20 JOD sepertinya yang gw baca sebelumnya dari website. Sekarang udah jadi 40 JOD, which means harganya naek dua kali lipat dari sebelumnya!!!

Bukan cuman gw sendiri yang kaget, tapi juga turis-turis yang ngantri di depan gw.
Beberapa turis yang gw liat udah nyiapin lembaran 20 JOD, dan gw denger mereka ngomong (dengan ekspresi kaget): "What?! Sekarang jadi 40 dinar?!!"

You see, bahkan buat turis bule aja VoA segitu kemahalan apalagi buat turis dari negara kere seperti gw.

But anyway, karena gw udah terlanjur juga ngantri depan imigrasi dan gak ada pilihan selain masuk negara ini, jadilah gw merelakan 40 JOD hilang di depan meja petugas imigrasi pada beberapa menit pertama di negara ini (hiks hiks).

Begitu keluar dari pintu kedatangan di Queen Alia airport, gw disambut oleh sekelompok cowo-cowo tampang Timur Tengah yang bawa poster gede.
How nice! Rupanya mereka udah siap-siap menyambut kedatangan gw yang jauh-jauh terbang dari Indonesia : )

Later on, ternyata gerombolan cowo-cowo itu menyambut kedatangan penyanyi terkenal asal Mesir. Gw gak kenal siapa, tapi artis Mesir itu dateng cuman selisih 15 menit dari waktu gw keluar dari pintu terminal kedatangan.

Setelah tanya sono-sini (dan orang Jordan lumayan banyak yang ngerti bahasa Inggris) akhirnya gw berhasil menemukan dimana naek airport bus untuk tujuan kota Amman. Cara beli karcisnya bisa di loket atau langsung di bapa supirnya pas mau naek bus. Harganya sih sama yaitu 3.250 JOD

Di dalem airport bus, sambil ngetem nunggu bus-nya penuh (tapi busnya pasti berangkat tiap 30 menit walaupun gak penuh) gw ngobrol sama ibu-ibu muda yang bawa bayi sama anaknya cowo umur sekitar 9 tahun.
Anak cowonya cakep dan ngomong "I love you" sama gw…. hihihi
Ibu-ibu muda ini yang ngasi tau gw gimana caranya kalo mau ke city center, katanya suru pake taksi dan suami dia juga ngomong ke bapa supirnya (pake bahasa Arab) untuk turun di suatu tempat (kayanya sih 7th circle) sebelum bus-nya nyampe ke Tabarbour station. How nice!

These all are already good signs of a good trip : )

Suami si ibu ini kemudian ngasi gw info-info berharga seperti; hanya pake taxi yang warna kuning karena itu pake argo. Jangan mau kalo ditawarin pake taxi warna putih, soalnya suka nentuin harga seenaknya, apalagi sama turis.

Betul juga nasehat dia, karena begitu gw turun di 7th circle, langsung ada cowo gitu nawarin pake taxi dia (warna putih) dengan harga 5 JOD sampe ke city center.
Padahal tadi gw udah dibilangin, kalo pake taxi yang pake argo palingan cuman bayar 2.5 - 3 JOD untuk sampe ke downtown.

Akhirnya gw tolak dengan halus sambil ngomong "Shukron" (Makasih).
Taxi warna kuning yang gw naekin pun ternyata supirnya gak terlalu ngerti bahasa Inggris, jadi sedikit hopeless gw menjelaskan pengen dianter ke hotelnya (karena gw gak bisa Arabic). Tapi untungnya gw punya no telp hotelnya dan dikasi liat ke si supir. Masih bagus juga supir ini nelfonin orang hotel gw untuk nanya direction kesana.

Tapi udah gitu gw diturunin di depan Colosseum (karena supirnya bilang, 'udah deket koq dari sini') dan gw mesti jalan kaki beberapa ratus meter sampe akhirnya nemu hotel gw. This is not good at all karena gw bawa backpack 7kgs (yang sebetulnya gak terlalu berat, tapi hey… gw kan cuman 42 kgs juga).

Yowes, sebagai cewe backpacker sejati hal kaya gini gak akan meruntuhkan spirit petualangan gw.
Jadilah gw mulai jalan kaki ke arah hotel (yang gw gatau dimana tempatnya juga, karena gak punya peta) cuman bermodalkan alamat dan no telp orang hotel.
Sambil tanya sana sini tiap 50 meter ke orang, ternyata banyak juga yang mau nolongin gw. Bahkan ada bapak-bapak punya toko jam, dia nelfonin si yang punya hotel dan nganter gw beberapa meter untuk nunjukin arahnya… padahal gw perhatiin dia jalannya agak terpincang-pincang.
Dia juga bilang; " You're welcome here" dan setelahnya gw perhatikan "you're welcome" adalah kata-kata yang paling umum diucapkan orang Yordania ke turis : )))

Setelah ampir setengah jam kesasar akhirnya berhasil juga gw menemukan Cliff hotel. Padahal tempat itu pas banget sebrangnya Al-Hashem restoran, restoran yang terkenal banget di downtown karena Raja Jordan dan Ratu Rania pernah makan disitu.
Jadi kalo ngomong ke supir taxi "depan Al-Hashem" pasti ketemu dan gak mungkin kesasar.
Yah… masalahnya emang gw gatau. Namanya aja turis baru pertama kali kesana.

Cliff hotel ini adanya di lantai 2, sedangkan lantai 1 dipake coffee shop (dan later on kita sering banget ngopi-ngopi disana).
Walaupun tempatnya termasuk budget hotel, tapi review yang gw baca di booking.com untuk hotel ini selalu bagus. Terutama karena letaknya strategis banget di downtown, dan juga punya balkon yang menghadap jalan dimana ada Al-Hashem restoran.
Di bawah hotel ini banyak tempat nyari makan dan belanja. Ada bakery yang enak dan tempat jual sandwich falafel murah (cuman 0.350 dinar).

Sayangnya hotel ini (dan hampir semua tempat di Jordan mungkin) gak friendly sama non-smoker.
Ampir semua tempat umum di Jordan selalu penuh dengan kepulan asap rokok, termasuk di ruang berkumpulnya Cliff hotel.
Makanya gw termasuk jarang ngumpul-ngumpul juga sama sesama turis selama nginep disini.

Hari pertama di Amman ini gw tepar beberapa jam karena masi jetlag selepas perjalanan panjang dari Spore- Kuala lumpur - Dubai - Amman.

Gw sempet keluar bentar pas sore tapi dibuntuti selama beberapa ratus meter sama seorang bapak tua umur 50tahun dengan jaket dekil warna coklat. Walaupun gw udah mencoba untuk pura-pura masuk ke restoran dan ngabur ke pasar tapi orang itu terus ngikutin gw. Karena gw sereum (apalagi ini hari pertama) gw berenti di sebuah kios dan minta pertolongan ke bapak yang jualan disana, serta bilang kalo gw merasa ada orang yang ngebuntutin.
Dia ngasi kartu namanya dan bilang "you could call me anytime" terus dia juga menyarankan kalo orang itu masih ngikutin untuk lapor ke kantor polisi (deket situ juga) di sebrang bank of Arab. Mereka nanti bisa ngebuntutin orang itu dan kalo emang bener suspicious bisa ditangkep juga.

Well, selanjutnya gw jadi cepet-cepet jalan balik ke hotel dan memutuskan untuk tidur aja sambil menghilangkan jetlag, sambil nunggu temen yang dateng rada maleman.