Wednesday, December 17, 2014

.: Pemulung juga manusia :.

Kebiasaan baik apa yang kita adopsi ketika bepergian ke luar negri ?

Bagi saya, sebuah kebiasaan yang melekat ketika saya sempat tinggal di Eropa dan menetap hingga sekarang adalah kebiasaan memilah sampah domestik.

Baik di Belanda maupun Denmark (atau di kebanyakan negara Eropa), sampah rumah tangga yang dihasilkan orang biasanya harus dipisahkan menjadi beberapa kategori: sampah basah (organik), sampah kertas, sampah plastik (botol), dan sampah gelas. 

Masing-masing ada tempat sampahnya tersendiri karena penanganannya berbeda. Di Belanda dan Jerman bahkan beberapa jenis botol plastik berukuran besar bisa ditukarkan dengan uang jika dikembalikan ke toko.
 

Landlady saya di Kopenhagen pernah menjelaskan alasan environmental hingga ke isu global warming segala di belakang permasalahan sampah ini,  yang sebetulnya bukan hal baru bagi saya. Justru isu tersebut sangat familiar bagi saya, yang memang pecinta lingkungan jauh sebelum saya mengenal teknik memilah-milah sampah.

Sebaliknya, saya malah mengagumi pemahaman si landlady tentang isu lingkungan padahal umurnya 60 tahun lebih. 

Kalo diperhatikan memang kebanyakan teman-teman saya di Eropa concern sama masalah sampah serta isu berkaitan dengan alam atau lingkungan.
Seorang teman yang jelas-jelas mengaku atheis garis keras tapi peduli banget kalo urusan memilah sampah dan konsumen setia produk organik atau ramah lingkungan (eco-friendly).

Balik ke Indonesia, saya jadi merasa orang sini koq kebalikannya. Katanya kita bangsa yang beradab, dengan prinsip 'Kebersihan adalah sebagian dari iman' tapi kenyataannya di jalanan ada aja orang sembarangan buang sampah.
Mentang-mentang ada tukang sapu jalanan jadi suka seenaknya buang sampah. Padahal tukang bersihin jalan a.ka tukang sapu itu sama-sama juga manusia kaya kita. Jadi apa susahnya kalo kita sendiri yang buang sampah yang kita hasilkan di tempatnya.

Kebiasaan memilah sampah ini juga saya teruskan di rumah.
Paling engga saya bisa 'meracuni' orang rumah sebelum mengubah dunia.
Botol-botol plastik, bungkus minuman kemasan karton, atau bungkus kopi plastik instan saya kumpulkan di tempat terpisah.

Biasanya hari-hari tertentu ada pemulung yang lewat di depan rumah dan akan mengambil sampah botol plastik atau bungkus karton. Kadang miris rasanya dalam hati saya kalau melihat pemulung itu ngorek-ngorek sampah punya tetangga sebelah, mencari sesuatu yang bisa diambil dari sampah-sampah yang sudah tercampur segala macam kotoran.
Pemulung itu kan manusia juga kan ya.
Kenapa kita gak bisa bikin hidupnya lebih mudah dengan memilah-milah sampah supaya dia lebih bermartabat saat mengerjakan tugasnya.

Itu juga yang saya perhatikan saat tinggal di Eropa, tukang sampah di Kopenhagen misalnya, dengan mobil truknya yang canggih banget dan perlengkapannya yang menjamin keamanan kerja petugasnya.
Emang sih Denmark itu negara kaya dengan jumlah penduduk sedikit makanya bisa beli peralatan mahal untuk mengelola sampah.
Tapi untuk memanusiakan manusia sebenernya gak perlu belajar dari Eropa, karena di negara kita juga banyak orang-orang yang melihat sampah sebagai solusi dan bukan mata pencaharian.

Setahun ke belakang saya juga menjalin hubungan dengan ibu-ibu pengrajin sampah di Cibangkong yang membuat kerajinan tangan dari bekas bungkus minuman instant.
Bahkan mereka juga saya buatkan blog gratis untuk promosi [blog MyDarling]
Sudah sering hasil kerajinan tangan mereka saya bawa ke luar negri dan dihadiahkan kepada teman-teman yang saya kunjungi selama di Belanda, Belgia, Italia.


salah satu waste-based product dari bungkus kemasan kopi instan
.: taken from Mydarling-Bdg.blogspot.com :.
Teman-teman di Eropa yang saya beri hadiah tersebut tentunya sangat terkesan dengan pemberian saya.
Betapa tidak, orang kita bukan hanya berhasil menemukan solusi untuk pengelolaan sampah tapi juga merubahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual kembali.
Biasanya saya jelaskan lebih jauh juga ke mereka, kalau sampah sebetulnya masi menjadi masalah persisten di Indonesia. Tapi beberapa orang berhasil menjadi inisiator dan merubah yang tadinya merupakan masalah jadi mata pencaharian.


Saat orang-orang Indonesia punya kesempatan keluar negri, mereka seharusnya bisa mengadopsi kebiasaan baik yang dipunya negara tersebut. 
Gak ada orang Indonesia yang berani buang sampah ketika wisata ke Singapura misalnya, karena takut kena denda disana. Tapi balik lagi ke negaranya maka kebiasaan buang sampah pun dilanjutkan kembali...

Jalan-jalan keluar negri itu bisa jadi sebuah investasi, menambah pengalaman dan koneksi,  merubah mindset ... tapi bisa juga cuman jadi acara buang-buang duit juga ... kalo kita gak dapet apa-apa kecuali foto-foto selfie

So which one are yours ?




Tuesday, December 2, 2014

.: Borobudur & sebuah refleksi :.

taken on 12.08.2014

Borobudur.

Artinya candi atau biara yang terletak di atas gunung.

Jadi salah kalau kita sebut 'Candi Borobudur' karena dalam kata Borobudur itu sendiri sudah terkandung makna candi.

Itu kata seorang tourist guide, yang perkataannya kita curi-dengar saat mengobservasi bas-relief di situs Borobudur.

Untuk kesekian kalinya gw merasa bangga saat mengunjungi situs bersejarah warisan budaya dunia di Magelang, Jawa Tengah ini. Borobudur merupakan kompleks candi Budha terbesar di dunia (& situs wisata yang paling sering dikunjungi) dan telah menjadi magnet wisatawan asing maupun lokal selama beberapa dekade.

Ada yang berbeda dengan kunjungan kali ini, karena beberapa alasan:

1. Untuk pertama kalinya gw datang kesini bersama boyfriend bule, WN asal Eropa.
Ini bikin rasa kebanggaan semakin meningkat secara signifikan.
Tadinya dia ke Indonesia cuman mau liat Bali dan gak tertarik tentang Jawa Tengah ataupun Borobudur. Gak pernah denger katanya.
Trus gw kasih liat link Wikipedia tentang Borobudur dan dalam sekejap dia langsung berubah pikiran serta bilang, "Kita harus ke tempat ini ! "

Setelah nyampe tempatnya pun dia sangat terkagum-kagum dengan arsitektur kompleksnya, padahal seminggu sebelumnya kita udah liat banyak situs arkeologikal di kompleks Angkor, Kamboja.
Dan tetep, menurut dia, kompleks candi di Magelang ini lebih spektakuler dibanding Angkor. Juga sistem beli tiket dan transportasi yang kerjasama dengan pihak hotel lebih terorganisasi misalnya, dibandingkan saat kita masuk ke Angkor (memang di sana agak chaotic sih).

Tiket masuk untuk WN Asing jauh lebih mahal beberapa kali lipat daripada tiket untuk turis domestik (tentunya). Tapi juga layanan untuk turis asing lebih prima karena dapet suguhan air minum gratis (bisa pilih teh atau air mineral).

Pendapat bf gw tentang tiket yang lebih mahal ini sih katanya wajar.
Soalnya buat mereka (tamu asing) harga tersebut masih termasuk reasonable, lagi pula situs yang dikunjungi emang worth to visit, pelayanannya juga oke.

Perlu diingat saat masuk kompleks Angkor pun gw yang bertampang Khmer mesti bayar 20 USD cuman gara-gara paspornya warna ijo, sedang orang Khmer asli bisa masuk gratis.
Jadi gak perlu protes kalau tiket-tiket masuk situs wisata di Indonesia berbeda untuk turis asing dibandingkan turis domestik, karena toh di luar negri pun turis Indonesia kadang harus bayar lebih mahal koq dibanding turis lokal negara asalnya.
 

Harga yang lebih mahal itu gak akan mengurangi sedikit pun minat para turis asing untuk mengunjungi situs wisata di negri kita.
Seperti gw yang tetep masuk Petra walaupun harus bayar 60 Jordanian dinar (sekitar 900rb rupiah) untuk kunjungan beberapa jam aja.

2. Untuk pertama kalinya juga gw menikmati indahnya Borobudur di saat matahari baru aja terbit.
Beberapa kunjungan sebelumnya gw selalu nyampe Borobudur saat siang hari, kadang kalau cuaca terlalu panas kan jadi gak terlalu menikmati juga. Belum di siang hari udah terlalu banyak wisatawan datang berkunjung, terutama anak-anak usia sekolah yang sedang karyawisata misalnya.

Nikmatnya Borobudur di pagi hari saat matahari terbit adalah, suasananya ambient, suara kicauan burung menyambut kehadiran kita, serta belum banyak orang memasuki situs. Kebanyakan kalo gw perhatikan emang didominasi turis-turis asing, orang lokalnya hanya para turis guide, atau crew TV yang bikin dokumentasi).

Faktor belum banyak wisatawan dan pencahayaan yang alami dari surya di pagi hari ini memudahkan kita untuk mengambil gambar-gambar cantik dari berbagai sudut dalam situs Borobudur.

Lebih penting lagi daripada sekedar mengabadikan momen, gw dan bf bisa merasakan makna keberadaan Borobudur yang bukan sekedar tempat wisata karena nilai historikalnya, tapi situs ini juga termasuk tempat suci bagi mereka yang beragama Budha, agama mayoritas para nenek moyang kita di masa lampau.

Semasa gw muda, sama seperti anak muda Indonesia lainnya, kadang gw belum tersadarkan betapa 'bernilai'nya Borobudur di mata dunia umumnya, terutama di kalangan umat beragama Budha.

Sampai suatu momen mengubah pemikiran gw, yaitu perjalanan keluar negri perdana ke Thailand di tahun 2009. Saat itu gw bawa oleh-oleh miniatur Borobudur yang bisa kita beli di depan pelataran saat memasuki candi. Oleh-oleh ini gw kasih ke beberapa orang, diantaranya host selama di Bangkok.
Dia girang banget dan merasa terharu, katanya bagi umat Budha ziarah ke Borobudur adalah salahsatu cita-citanya selama masih hidup.

Jadi kalau selama ini gw memperlakukan Borobodur sebagai 'sekedar' tempat wisata, maka gw salah besar. Ada makna relijius di dalamnya. Sama kaya kalau kita memasuki gereja-gereja besar di Eropa, kadang ada larangan untuk mengambil gambar misalnya. Terutama saat di tempat ibadah dilaksanakan upacara keagamaan (e.g. misa).

Hebatnya, dan hal ini juga menimbulkan rasa respek yang mendalam bagi gw pribadi, umat Budha memang terkenal dengan rasa toleransinya yang tinggi.
Kalau kita belajar sejarah Indonesia di masa abad 8-14 (bahkan nama Indonesia belum ditemukan pada saat itu) dominasi agama Hindu-Budha tidak menghalangi masuknya agama-agama baru yang dibawa para pedagang India.

Kebayang gak sih, kalau para penguasa kerajaan Hindu-Budha merasa terancam dengan keberadaan ajaran baru yang dibawa para pendatang, maka hingga detik ini hanya akan ada 2 agama yang diakui secara sah di Indonesia.

Rasa toleransi tinggi ini terus menerus dibawa dan diwariskan oleh nenek moyang kita, hingga ke masa kemerdekaan. Oleh karena itulah falsafah 'Bhineka Tunggal Ika' dimasukkan ke dalam dasar-dasar negara Indonesia (betapa arifnya pemikir bangsa kita di masa awal kemerdekaan!).

Founding fathers atau para pendiri bangsa Indonesia sangat menyadari bahwa kemerdekaan kita diraih bukan karena kita berasal dari satu ras yang sama, atau satu agama yang sama, atau satu bahasa yang sama.
Melainkan karena rasa kesatuan yang kita miliki, walaupun dari Sabang hingga Merauke kita berbeda bahasa, suku, dan agama, tapi kita berhasil menyatukan asa untuk merdeka.

Kekuatan 'bersatu' ini tentunya sangat ditakuti pihak musuh yang ingin menaklukan Nusantara. Pelaut dari seluruh dunia juga mereka yang berkebangsaan Eropa mulai dari Portugis, Spanyol dan Belanda melakukan perdagangan dengan pribumi Nusantara. Memang sejak dari dulu kala (hingga sekarang) sumber daya alam yang kita miliki melimpah ruah sehingga menarik minat para investor dan pedagang.

Tapi hanya Belanda yang konsisten menjajah kita untuk sekian lama (katanya 350 tahun!) bukan karena jumlah mereka yang lebih banyak, melainkan karena mereka melihat kelemahan bangsa kita yang besar.
Kelemahan itu digunakan dalam politik adu domba, atau devide et impera, memecah belah.

Anak-anak bangsa kita dikategorikan: ada yang dibilang pribumi, keturunan Asia timur (Melayu peranakan Tiongkok), dan Indo-Belanda.
Dengan masing-masing peran yang berbeda, yang satu di dalam pemerintahan, satu lagi hanya diberi bagian untuk berdagang.
Penggunaan bahasa Belanda juga dilarang bagi pribumi.

Semuanya itu untuk memecah belah.
Karena rasa persatuan adalah musuh besar bagi penjajah.

Nah, kalau saja anak-anak muda kita jaman sekarang belajar sejarah Indonesia di masa lampau, maka sekarang mereka tidak akan mudah terpecah belah dengan isu-isu serupa.

Tidak ada yang baru dibawah matahari. Dan bangsa yang besar seharusnya belajar dari sejarah mereka.

Semua tulisan ini memang awalnya terinspirasi dari Borobudur, relief-relief yang tergambar di situs candinya bukan sekedar menyampaikan pesan tentang kebesaran nenek moyang kita. Tapi juga bisa mengingatkan bahwa bangsa kita tetap bertahan selama belasan abad karena dibangun di atas kemajemukan.

Friday, October 3, 2014

mereka, kita, kamu, saya

" Iya, saya juga bilang sama anak saya. Kerja itu bukan hanya kerja keras, tapi juga kerja cerdas. Biar bapaknya cuman supir, anak-anak saya usahakan bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Mau ilmunya kepake, mau engga ... tapi kalau sudah lulusan perguruan tinggi seengga-engganya pola pikirnya beda. Cara bicaranya juga pasti beda. Bapaknya gak apa-apa jadi supir. Tapi anak-anak harus lebih baik dari bapaknya."

Saya mencuri dengar pembicaraan antara supir bis damri dan seorang ibu yang duduk di kursi depan.

Buat saya pengalaman saat naik transportasi umum memang membawa kesan tersendiri.
Saya jadi bisa belajar dari pengalaman orang lain, entah lewat cara observasi maupun metode mencuri dengar seperti contoh diatas.

Kadang saya juga bisa belajar, bahwa kearifan dan sifat mulia lainnya, bukan ekslusif dimiliki orang berpendidikan tinggi (saja) tapi juga oleh orang yang gak dianggap siapa-siapa.
Supir bus ini salahsatu supir favorit saya, karena dia ramah. Semua orang diajak ngobrol. Orang yang keliatan tersesat pun sering ditanya dan dibantu.
Bila ada penumpang turun dari bus, biasanya dia ngasi tau supaya hati-hati saat menyebrang jalan. Overall, kelakuannya mulia dalam pandangan saya.

Ironisnya, hari yang sama saya mendengar pembicaraan ini di atas bus, adalah hari setelah anggota DPR yang baru dilantik dan ramai-ramai rusuh sehingga diberitakan media keesokan harinya.

Sambil pura-pura baca buku, saya jadi tercenung selama perjalanan menuju tujuan dengan bus kota.

Anggota DPR itu identik dengan mereka yang total pendapatannya ratusan juga (datanya sekitar 1 milyar per tahun). Aneh tapi nyata, dengan penghasilan diatas rata-rata kebanyakan orang Indonesia anggota DPR juga banyak dikaitkan dengan pemberitaan negatif seperti korupsi.

Seakan-akan duit 1 milyar per tahun tidak cukup untuk memenuhi keinginan manusia.

Tidak ada batas untuk keserakahan manusia.

Demikian kata-kata bijak yang pernah saya dengar.

Perjalanan saya melintasi lebih dari 20 batas negara mengajarkan bahwa manusia di seluruh dunia pada dasarnya sama.

Mereka, siapapun orangnya, apapun warna kulit, ras maupun agamanya, mampu mengajarkan saya tentang sifat-sifat manusia.

Saya pernah ditolong oleh orang yang paling tidak disangka-sangka; diantar bapak tua lusuh dengan motor saat kesasar di Phuket, diberi sedekah koin recehan saat di Bologna, numpang mobil yang lewat di tengah gurun dalam perjalanan ke Little Petra.

Sifat jahat manusia juga yang bisa bikin saya bergidik, ketika beberapa bulan lalu membaca berita pembunuhan seorang anak kuliahan- secara sadis, oleh pasangan seusianya (yang ternyata teman main-nya juga!).

Binatang mungkin bisa membunuh mangsanya. Tapi mereka hanya melakukannya agar tidak lapar.

Hanya manusia yang bisa membunuh sesamanya karena motif balas dendam atau cemburu.

Kejahatan dan kebaikan sepertinya memang harus selalu ada di muka bumi ini. Seperti malam dan siang. Gelap dan terang. Sifat negatif dan positif.

Kecanduan dengan sebuah perjalanan bagi saya, bukan hanya sekedar melihat tempat baru. Angkor Wat yang saya lihat tahun ini, adalah Angkor Wat yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sebuah perjalanan jauh lebih berkesan dengan jiwa-jiwa di antaranya. Teman dekat seperjalanan saya, kadang bukanlah saudara sebangsa se-tanah air, tapi perempuan muda asal Cheko atau lelaki paruh baya asal Catalunya.

Jiwa-jiwa para petualang, mereka yang memahami arti sebuah perjalanan, tidak dibatasi oleh bahasa, kewarganegaraan, apalagi warna kulit.






Ini adalah sebuah tulisan yang didedikasikan kepada mereka: para pahlawan jiwa saya. Yang selalu mengajarkan tanpa henti, sifat-sifat terbaik dalam diri manusia.




Wednesday, September 3, 2014

[Re]Finding Love

Tuhan itu baik.

Itu kesimpulan yang gw pelajari selama beberapa tahun ke belakang.
Walaupun belum layak dikategorikan sebagai makhluk yang relijius, tapi pengalaman gw selama ini membuktikan bahwa belajar tentang Tuhan itu gak dibatasi dalam ruang lingkup ruang ibadah, maupun tokoh pemimpin agama.

Ada beberapa peristiwa penting dalam kehidupan gw, khususnya di tahun 2014 ini yang semakin menguatkan perjalanan iman bersama Tuhan.

Diantaranya berkaitan dengan perjalanan ziarah gw ke beberapa tempat, seperti di Timur Tengah, Italia dan Belgia.

Bisa dibilang kalau kondisi finansial gw berkecukupan tahun ini (maksudnya, ada cukup duit kalau mau liburan) sehingga bisa melakukan perjalanan jauh ke beberapa tempat.

Perjalanan jauh pertama di tahun 2014 adalah ke Yordania di Timur Tengah. Negara yang terkenal terlebih saat mendekati pilpres (karena jadi tempat pelarian salahsatu kandidat capres di masa silam).
Yordania juga tempat yang penting bagi para peziarah dari latar belakang agama Nasrani maupun Islam. Selain mempunyai banyak situs bersejarah yang berkaitan dengan latar belakang sejarah agama monoteisme (Yahudi, Nasrani, maupun Islam) Yordania juga terkenal dengan situs arkeologikal warisan budaya suku Bedouin di Petra, Wadi Musa.

Perjalanan ke Yordania dimulai dari kerinduan gw yang teramat dalam untuk berziarah ke tempat yang biasanya hanya bisa gw bayangkan saat membaca cerita dari Alkitab, khususnya kitab Perjanjian Lama.

Dikisahkan saat bangsa Israel mengalami penjajahan lama dan tersiksa di Mesir, Tuhan memanggil mereka keluar lewat hambaNya Musa.
Setelah keluar dari Mesir, rencananya bangsa Israel akan memasuki tanah perjanjian (Kanaan). Perjalanan mereka keluar dari Mesir ke Kanaan melewati padang pasir yang berada di Yordania bagian selatan, seharusnya memakan waktu beberapa bulan saja.

Tapi dalam perjalanan tersebut, bangsa Israel (yang sudah menyaksikan bagaimana tangan Tuhan membebaskan mereka dari bangsa Mesir) malah bersungut-sungut dan meragukan kuasa Tuhan.
Terlebih mereka meragukan apakah mereka bisa memasuki tanah perjanjian setelah melihat bahwa penduduk asli Kanaan adalah bangsa raksasa, yang bertubuh besar.

Karena kurangnya iman mereka kepada Tuhan, satu generasi dihukum Tuhan. Mereka bukan saja harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun, tapi satu generasi tersebut tidak diizinkan untuk memasuki tanah perjanjian.
Bahkan Musa, yang telah memimpin bangsa Israel keluar hanya diizinkan melihat tanah yang dijanjikan Tuhan tersebut dari atas gunung Nebo.
Gunung Nebo ini menjadi situs bersejarah yang selalu dipenuhi pengunjung saat kita di Yordania.

Tapi buat gw pribadi, ada satu tempat di Madaba yang sangat menggetarkan hati saat berkunjung kesana.
Waktu itu tepat sehari sebelum Paskah (hari bangkitnya Tuhan Yesus dari kematian, setelah disalibkan) jadi selain kami sebagai gerombolan turis, banyak juga pengunjung yang datang untuk berdoa.
Gw sendiri mengkategorikan diri sebagai peziarah, bagian napak tilas dari cerita-cerita Alkitab yang pernah gw baca atau dengar pada masa kecil.

Di kapel kecil dalam gereja St. George di Madaba ini, diletakkan patung Tuhan Yesus seukuran manusia sungguhan yang terbaring setengah telanjang, dengan bekas luka di sekujur tubuhNya.
Tepat pada saat gw memasuki ruangan untuk berdoa… hati gw sangat tersentuh, hingga langsung menangis bercucuran air mata.
" Inilah tubuh Tuhanku, yang menebus dosa dan kesalahanku" begitulah sebuah suara dalam hati gw berkata.

Dan disitu gw berdoa, untuk banyak hal… dan gw percaya karena kehadiran Tuhan yang begitu kuat di tempat ini maka doa-doa akan didengarkan.

Salahsatu permohonan yang gw naikkan disitu adalah supaya Tuhan menunjukkan pasangan/ jodoh gw di dalam kehidupan ini.

Sejujurnya ini bukan suatu permohonan yang pernah gw minta secara khusus sebelumnya. Karena gw tahu toh suatu saat Tuhan pasti akan memberi, yang terbaik pada waktuNya, sesuai rencanaNya.
Walaupun banyak orang sering menanyakan, "koq belum married" di umuran seperti gw tapi hal kaya gitu gak pernah bikin risau maupun galau.

Banyak orang yang married terburu-buru tanpa pikir panjang juga bisa cerai.
Sementara pernikahan buat gw adalah suatu komitmen yang serius bersama orang yang tepat, bukan karena dorongan kepepet ataupun paksaan dari pihak laen (kadang bahkan bukan dari pihak yang peduli sama kita, tapi malah orang yang gak mengenal kita dengan baik).

Di satu pihak, gw juga sangat bersyukur bahwa Tuhan memberi begitu banyak berkat dan kesempatan dalam hidup ini.
Gak pernah sekalipun sewaktu gw masi muda membayangkan bahwa gw bisa sekolah dan traveling keliling Eropa (berkali-kali pula), yang mana bagi kebanyakan orang Indonesia masih merupakan destinasi mahal.

Juga gak layak kalau gw bilang bahwa semua itu mungkin karena jerih payah gw semata. Walaupun keadaan finansial orangtua gw biasa-biasa aja, tapi toh yang sepertinya gak mungkin bagi manusia ternyata sangat mungkin bagi Tuhan.
Tuhan yang menciptakan banyak kemungkinan dan memberkati dengan limpahnya.

Beberapa bulan setelah ziarah ke Yordania, gw bertemu dengan seorang pria (yes, he is a real man. not a guy anymore) di Italia.
Dari awal kenalan, gw tahu bahwa kita punya passion yang sama untuk banyak hal e.g. melayani orang yang membutuhkan.
Kita sepakat bahwa apa yang kita punya, terutama dalam kelebihan, adalah untuk dibagikan kepada orang lain yang kurang beruntung.
Dan bahwa Tuhan serta spiritualitas adalah hal penting dalam hidup kita.

Berbekal dari pengalaman dan kesalahan yang pernah kita buat berdua di masa lalu, kita menyetujui bahwa hubungan yang sehat bukan hanya didasari cinta, tapi juga rasa hormat, kepercayaan, serta spiritualitas dan komitmen pada Tuhan.

Saat ini gw bisa menyatakan, bahwa dialah jawaban dari doa yang selama ini dipanjatkan. Tuhan yang Maha Mendengar bukan sekedar memberi pria yang baik sebagai calon pasangan hidup gw… tapi juga partner traveling dan teman bersekutu dalam doa.

Beberapa magical momen yang kita habiskan di Italia seperti sebuah pertanda bagi gw. Sebagai contoh saat mengunjungi Lago di Como (Lake Como) kita duduk di sebuah kursi di pinggir danau dan berbagi pengalaman tentang Tuhan, sementara secercah sinar seperti keluar dari pemandangan gunung di depan kita.





Dulu gw berpikir (dan hingga sekarang) bahwa Italia adalah satu satu tempat terindah di dunia. Tapi sesungguhnya tempat terindah di dunia adalah dimana hati kita, atau orang yang kita cintai berada.







Friday, July 18, 2014

Kenapa MAS ?

Kemaren malam kita dikagetkan kembali oleh peristiwa jatuhnya pesawat MH17 di daratan Ukraina, yang kali ini (sialnya) kabarnya terkena tembak rudal oleh pihak milisi Pro-Rusia.
Terlepas dari siapa yang mengklaim perbuatan tersebut (dan sejauh ini baik dari pihak Ukraina maupun Rusia, sama-sama menyangkal) peristiwa ini membawa kehilangan yang sangat besar bagi sejumlah orang.

Sampai tulisan ini dibuat, sudah diberitakan sekitar 298 korban jiwa melayang dalam tragedi MH 17, dimana 283 diantaranya merupakan penumpang (280 dewasa, 3 bayi) dan 15 kru kabin.
Diperkirakan ada 12 orang warga negara Indonesia diantara para penumpang yang meninggal.

My deepest condolences goes out to those who affected by this shocking tragedy...

Tapi yang membuat saya merasa sangat kehilangan adalah, sekitar 108 orang dari penumpang MH17 merupakan akademisi, peneliti dan ilmuwan di bidang HIV-AIDS.
Mereka dalam perjalanan menuju konferensi AIDS internasional (International AIDS Conference) yang dimulai secara resmi tanggal 21 Juli mendatang di Melbourne.
Buat saya pribadi, mereka mendapat perhatian khusus karena inilah orang-orang yang mendedikasikan pemikiran, tenaga dan waktunya bagi ilmu dan kemanusiaan....

And I keep wondering... why some people tried to make this world as a better place
while some just like to kill other humans?
 
Secara statistik, bepergian dengan pesawat termasuk pilihan paling aman, dibandingkan moda transportasi lain seperti sepeda motor, mobil, atau kereta (train).
Kecelakaan pesawat merupakann peristiwa yang bisa dibilang jarang terjadi, tapi kalau terjadi bisa dipastikan fatal akibatnya. Dari banyak kasus, seringnya tubuh korban hancur akibat ledakan di udara ataupun jika ditemukan sulit dikenali karena terbakar.

Malaysian Airlines (MAS) sendiri menurut saya bukan maskapai yang abal-abal sehingga 'layak' mendapat musibah ini (well, sejujurnya tidak ada seorang pun yang 'layak' kena musibah).
MAS umumnya bermodal pesawat-pesawat keluaran baru dan canggih, seperti Boeing seri 777 atau 700. Pelayanan pre- dan in flight yang saya alami sewaktu berangkat dari Changi ke Dubai bulan April kemarin pun bisa dibilang memuaskan. Maskapai nasional negeri jiran ini punya branding yang cukup dikenal oleh dunia internasional. Buktinya, setelah tragedi hilangnya MH370 pun MAS tetap dipercaya untuk mengantarnya ratusan ilmuwan dan peneliti dari Eropa dalam perjalanan menuju konfrensi internasional.... which so sadly took them in the end of their journey :'(

This is certainly not a good year for MAS, mereka punya banyak tantangan ... salahsatunya mengembalikan kepercayaan publik tentang keselamatan dalam penerbangan.

Kenapa MAS ? Kenapa MH 370 yang hilang ? Kenapa MH 17 yang ditembak rudal ?

Itu semua rahasia (Tuhan) yang tentu aja gw gak tau jawabannya. Mungkin bahkan mereka yang punya semua fakta dan teori tentang peristiwa terkait pun belum tentu tau semua jawabannya.

taken on 14.04.2014
[on my way to Dubai]

For sure, bahkan gw pun (yang biasanya gak parno dan logical thinking) sekarang jadi mikir-mikir untuk milih MAS lagi setelah peristiwa ini ... at least for certain period of time.

Akan gw tutup tulisan ini dengan sebuah doa : Semoga keluarga, teman dan mereka yang ditinggalkan oleh korban mendapat kekuatan dan penghiburan dari Tuhan YME ... Amin.


Wednesday, April 30, 2014

Yordania .: Cherry yang ceria :.

Tulisan ini diikut sertakan dalam kompetisi travel blog #KompasTravelFair 2014.

Intro
Agak susah sebenarnya merangkum 2 minggu perjalanan hanya dalam 1000 kata. Tapi dalam setiap perjalanan selalu ada peristiwa berkesan atau pribadi unik yang tidak mudah dilupakan.
Buatku sendiri, kadang sebuah tempat menjadi lebih bermakna karena orang-orang yang kita temui di dalamnya.

Bukan Jepang atau Korea, melainkan negara-negara Timur Tengah yang menjadi destinasi impian saya selama ini.
Sedikit banyak cita-cita saya berwisata ke negeri padang pasir akibat dari dongeng masa kecil, diantaranya kisah Aladin dalam kisah 'Seribu Satu Malam'.
Latar belakang kisah tentang negeri penuh misteri dan eksotisme ala Timur Tengah akhirnya membawa saya dua dekade setelahnya berpetualang ke Yordania.

Yordania merupakah sebuah negara di kawasan yang berbatasan langsung dengan Mesir, Syria, Saudi Arabia, dan daerah konflik Palestina-Israel.
Tersohor dengan warisan situs arkeologikal purba di Petra, Yordania juga dikenal sebagai tanah suci.
Banyak paket tur dari Indonesia memasukkan Yordania sebagai bagian dari perjalanan tanah suci (atau 'Holyland tour').
Saya sendiri menginjakkan kaki di Yordania tanpa mengikuti paket tur seperti ini.  Berbekal tiket promo murah dari sebuah maskapai penerbangan dan ransel yang setia menemani, saya pun berangkat menuju Timur Tengah.

Petualangan saya dimulai dari kota Amman, ibu kota kerajaan Yordania. Memang bentuk negara ini masih berupa kerajaan dan kursi kekuasaan diwariskan ke generasi berikutnya.
Hari pertama di Amman saya bertemu seorang sahabat yang lama tinggal di Jerman untuk bergabung dalam petualangan ini.

Keesokan harinya kami berkenalan dengan seorang pemuda asal Irak yang akan berlibur di Yordania.
Ahmed, nama teman baru kami tersebut, ternyata seorang dokter gigi yang pernah mengenyam pendidikan di negara Eropa Timur. Selain fasih berbahasa Arab (bahasa ibunya) dan bahasa Inggris, dia juga menguasai bahasa Rusia.
Merasa cocok satu sama lain, Ahmed memutuskan bergabung dengan kami dalam perjalanan ini. Sedang kami tentunya sangat diuntungkan dengan kehadiran Ahmed, yang kemampuan bahasa Arab-nya ampuh menghindarkan kami dari berbagai modus penipuan selama di Yordania.

Beberapa tempat yang kerap dikunjungi turis selama di Yordania adalah Amman, Jerash (ibu kota Yordania kuno), Laut Mati, sungai Yordan, Madaba, Aqaba, Petra, dan padang gurun di Wadi Rum atau Wadi Araba. Kebanyakan pelancong seperti kami mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya dalam waktu singkat. Dan hotel tempat menginap pun kerap jadi ajang pertukaran informasi bagi para pelancong yang sudah atau akan berkunjung ke destinasi tertentu.

Saat kami menginap di sebuah hotel di Amman, saya berkenalan dengan seorang pelancong perempuan asal Tiongkok bernama Cherry. Cherry berumur sekitar pertengahan 20an dan rencananya akan berkelana sendiri selama dua minggu di Yordania. Kepribadiannya tampak ceria dan murah senyum, tetapi saat berbicara bahasa Inggrisnya agak sulit dimengerti. Walaupun kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas sepertinya Cherry selalu berhasil menemukan pilihan paling ekonomis untuk pergi ke suatu tempat.
Berbekal info dari pengalaman Cherry yang mengunjungi Laut Mati sehari sebelumnya, kami pun mengikuti petunjuk yang diberikan.


pose narsis di Laut Mati .: touchdown titik terendah bumi :.
Sukses berenang dan foto narsis di Laut Mati, tujuan kami selanjutnya adalah Wadi Musa, kota yang tak jauh letaknya dari situs arkeologikal Petra.
Saat berangkat menuju Wadi Musa, seorang pelancong asal Perancis bergabung dengan kami. Sehingga sekarang grup kami berjumlah 4 orang dari berbagai negara.
Setiba di Wadi Musa dan selesai menaruh barang di kamar hotel, kami melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota sambil menunggu waktu matahari terbenam.
Tidak berapa lama, kami melihat sesosok tubuh yang kami kenal, sedang berjalan  sendirian. Kami panggil dia untuk bergabung bersama kelompok kecil kami. Ya Cherry rupanya juga baru tiba di Wadi Musa

Cherry bercerita kalau hotelnya terletak sedikit jauh dari tempat kami menginap, dengan balkon menghadap ke barat sehingga para tamu bisa melihat Petra dari kejauhan. Kedengarannya menarik dan kita pun segera menginvasi hotel tempatnya menginap, sambil menikmati pemandangan gratis matahari terbenam dari atas balkon.


matahari terbenam di Wadi Musa
Pada hari-hari tertentu Petra dibuka malam hari. Dengan penerangan cahaya lilin, pengunjung dapat merasakan sensasi berbeda memasuki Petra di tengah gelapnya malam. Kami pun tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan berharga seperti ini.
Sekarang rombongan kami sudah berjumlah 6 orang, dengan tambahan Cherry dan seorang pelancong wanita asal Jerman.


.: Petra by night :. Treasury diterangi cahaya lilin di malam hari
Sambil berjalan kaki menuju Petra kami mengobrol, saling berbagi cerita tentang pengalaman selama berpetualang di Yordania maupun belahan dunia lain.
Saya katakan pada teman-teman bahwa Petra kabarnya akan tutup sementara untuk direnovasi;

I heard that Petra would be closed for renovation ” ucap saya.
 

Teman-teman yang lain merespon dengan berkata, bahwa betapa beruntungnya mereka bisa mengunjungi tempat ini sekarang.
Hanya Cherry seorang yang tampaknya kebingungan dengan perkataan saya. Dia rupanya tidak begitu mengerti apa maksud perkataan saya, walaupun sudah saya coba jelaskan.
Sepuluh menit kemudian teman-teman yang lain membantu menjelaskan apa maksud dari perkataan saya, dengan kalimat lain yang lebih sederhana. Bahkan Ahmed sempat mencoba menerjemahkan kalimat itu dengan bahasa tubuh.
Kami pun sadar, terlepas dari kemampuan bahasa Inggris-nya yang terbatas, kepribadian Cherry yang ceria dan keberanian tekadnya telah membawa dia untuk berpetualang kemana pun.

Beberapa hari terakhir di Yordania kami berempat (saya, sahabat, Ahmed dan teman asal Perancis) menghabiskan waktu di padang gurun Wadi Rum. Karena Ahmed pernah kesini sebelumnya kami mendapat harga diskon untuk paket tur padang pasir, yaitu 25 dinar per orang. 


Wadi Rum .: padang pasir ini dijadikan lokasi syuting beberapa film
di antaranya Transformers: Revenge of the Fallen
Dengan mobil sewaan kami pun mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan pemandu.
Saat mengunjungi salah satu situs terkenal sebagai lokasi syuting film 'Lawrence of Arabian' di tengah padang pasir, rupanya kami bertemu seorang teman lama. Tebak siapa yang kami temui disana? Ya lagi-lagi Cherry!

Keberadaan Cherry di situ rupanya tanpa direncanakan, sambil menunggu proses pembuatan visa Mesir katanya. Dari hasil ngobrol-ngobrol, ternyata dia hanya membayar 20 dinar saja untuk tur privat padang pasir seorang diri! 
Dia bilang sebetulnya tidak terlalu tertarik dengan tur seperti ini, tapi dia setuju karena harga yang ditawarkan tergolong murah.
Oh Cherry, tampaknya keberuntungan selalu menyertaimu!

Malam terakhir sebelum saya kembali ke tanah air, kami bertiga (saya, sahabat dan Ahmed) kembali berkumpul di Amman. Kami sempat berjanji jika waktu dan kesempatan mengijinkan maka akan berpetualang bersama lagi di masa mendatang.


Maybe we should see each other again in China !“ begitu kata Ahmed sambil tertawa.
Yes Ahmed“ saya pun mengiyakan.
Jika seorang Cherry saja bisa bertahan seorang diri di Yordania, maka kami yakin juga bisa!

Wednesday, April 16, 2014

Citadel and Roman theather .: Amman :. day 2

Hari kedua di Amman kita pergi ke Citadel dan Roman theather.

Kita = gw, temen asal Indonesia dan satu cowo asal Irak yang kenalan di Amman, namanya Ahmed.

Ahmed yang bakal traveling sekitar 2-3 minggu juga di Jordan tanpa fixed plan dan bilang pengen jalan bareng kita.
Dia pernah sekolah di Eropa timur, jadi selaen bisa bahasa Arab (bahasa ibunya), bahasa Inggrisnya tergolong bagus dan bisa bahasa Rusia juga. Di hari pertama kita kenalan sepertinya sih orangnya baek dan cocok buat jalan bareng (pada akhirnya kita traveling bareng bertiga selama 2 minggu berikutnya : )

Citadel ini letaknya di bagian berbukitnya kota Amman jadi harus jalan kaki dulu sekitar 20 menit cuman lumayan nanjak lanskapnya (bisa naek taksi juga kalo males jalan).
Sementara kita musti bayar 2 Jod untuk tiket masuk Citadel, Ahmed sebagai warga negara bangsa Arab cukup bayar 0.3 Jod (!!!)
Ini perbedaan yang belum terlalu signifikan, later on kebanyakan tempat wisata emang ngasi harga lebih murah untuk warganegara Arab dibanding turis biasa. Yang paling bikin keki adalah pas kita masuk Petra mesti bayar 50 Jod (800k IDR) meanwhile dia cukup 1 Jod saja.

FYI, 1 Jordanian dinar ampir sama kursnya kaya Euro, yaitu sekitar 16rb rupiah.

Anyway, Citadel ini tadinya merupakan pusat kotanya Amman di masa lampau. Karena dulunya daerah ini termasuk jajahan Romawi maka kebanyakan bangunan peninggalan yang ada bercirikan struktur bangunan Romawi. Contohnya kolum-kolum tinggi seperti yang ada di Pantheon Roma.

Dalam perjalanan ke Yordania kali ini, gw juga memulai Shinta & Rama project.

Jadi sebenernya proyek ini unofficially dimulai tahun 2009, waktu gw dan temen Eurotrip sambil pake CS.
Kita bawa beberapa wayang golek mini versi Shinta dan Rama, lalu kita kasi ke host yang udah menyediakan tempatnya buat kita.

Saat ini Shinta dan Rama udah 'tersebar' di Paris, Granada, Lisabon, Wadi Musa, Irak dst.

Tapi Shinta & Rama yang gw mulai pada saat di Yordania ini, lebih ke dokumentasi perjalanan sekaligus mengenalkan kultur lokal tempat gw berasal.
Misalnya, dengan wayang golek ini tentu orang bertanya-tanya tentang asalnya dan dari situ gw bisa cerita sedikit tentang daerah kelahiran gw.

Selaen itu juga, biasanya kalo berwisata gw agak malu untuk berfoto narsis : )
Bukannya apa-apa... karena sering jalan sendiri, rasanya aneh aja buat gw buat selfie (walaupun selfie udah ngetrend sekarang jadi sah-sah aja).
Jadi dengan Shinta & Rama sebagai model, kayanya lebih banyak keuntungan (at least buat orang laen) pada saat liat gambar-gambar yang gw hasilkan selama dalam perjalanan.

Well here are some examples :

Shinta at Citadel, Amman
Shinta enjoyed the city view from Citadel
She also made it to Roman theater in Jerash, on the north of Amman
(on courtesy of Ronico's)

While Rama tried to spot her from Mount Nebo
(on courtesy of Ronico's)

Unfortunately they didn't make it to Dead sea
(they couldn't swim, although it's very unlikely people get drown here)
But at least she made it to Petra
.... and had a good encounter with Sphinx
(on courtesy of Ronico's)



Kembali ke Amman downtown, hari ini kita rencananya mau masuk Roman theater.
Tapi pas nyampe sana ternyata udah mau tutup buat turis (tiket masuknya 1 Jod) dan stelah agak kecewa, jadinya kita hang around aja sekitaran situ.

Taunya Roman theater dipake buat acara kung fu apaan gitu, jadinya orang lokal boleh masuk gratis.
Akhirnya menyamarlah kita sebagai orang lokal... hehehe... dan berhasil masuk gratis, plus nonton acara pertunjukkan kung fu yang dibawakan oleh perserikatan negara-negara Timur Tengah.

Roman column at Amman
 
Roman theater used for Kung Fu championship



Tuesday, April 15, 2014

The capital of Jordan .: Amman :. day 1

Berhubung sekarang di Indonesia lagi hangat topik tentang capres... dan salahsatu dari capres yang ada punya hubungan dekat dengan Yordania, maka sepertinya momentum yang tepat juga untuk share cerita sedikit tentang perjalanan gw ke Yordania bulan kemaren (April 14- 29).


Ternyata VoA untuk masuk Jordan bukan 20 JOD sepertinya yang gw baca sebelumnya dari website. Sekarang udah jadi 40 JOD, which means harganya naek dua kali lipat dari sebelumnya!!!

Bukan cuman gw sendiri yang kaget, tapi juga turis-turis yang ngantri di depan gw.
Beberapa turis yang gw liat udah nyiapin lembaran 20 JOD, dan gw denger mereka ngomong (dengan ekspresi kaget): "What?! Sekarang jadi 40 dinar?!!"

You see, bahkan buat turis bule aja VoA segitu kemahalan apalagi buat turis dari negara kere seperti gw.

But anyway, karena gw udah terlanjur juga ngantri depan imigrasi dan gak ada pilihan selain masuk negara ini, jadilah gw merelakan 40 JOD hilang di depan meja petugas imigrasi pada beberapa menit pertama di negara ini (hiks hiks).

Begitu keluar dari pintu kedatangan di Queen Alia airport, gw disambut oleh sekelompok cowo-cowo tampang Timur Tengah yang bawa poster gede.
How nice! Rupanya mereka udah siap-siap menyambut kedatangan gw yang jauh-jauh terbang dari Indonesia : )

Later on, ternyata gerombolan cowo-cowo itu menyambut kedatangan penyanyi terkenal asal Mesir. Gw gak kenal siapa, tapi artis Mesir itu dateng cuman selisih 15 menit dari waktu gw keluar dari pintu terminal kedatangan.

Setelah tanya sono-sini (dan orang Jordan lumayan banyak yang ngerti bahasa Inggris) akhirnya gw berhasil menemukan dimana naek airport bus untuk tujuan kota Amman. Cara beli karcisnya bisa di loket atau langsung di bapa supirnya pas mau naek bus. Harganya sih sama yaitu 3.250 JOD

Di dalem airport bus, sambil ngetem nunggu bus-nya penuh (tapi busnya pasti berangkat tiap 30 menit walaupun gak penuh) gw ngobrol sama ibu-ibu muda yang bawa bayi sama anaknya cowo umur sekitar 9 tahun.
Anak cowonya cakep dan ngomong "I love you" sama gw…. hihihi
Ibu-ibu muda ini yang ngasi tau gw gimana caranya kalo mau ke city center, katanya suru pake taksi dan suami dia juga ngomong ke bapa supirnya (pake bahasa Arab) untuk turun di suatu tempat (kayanya sih 7th circle) sebelum bus-nya nyampe ke Tabarbour station. How nice!

These all are already good signs of a good trip : )

Suami si ibu ini kemudian ngasi gw info-info berharga seperti; hanya pake taxi yang warna kuning karena itu pake argo. Jangan mau kalo ditawarin pake taxi warna putih, soalnya suka nentuin harga seenaknya, apalagi sama turis.

Betul juga nasehat dia, karena begitu gw turun di 7th circle, langsung ada cowo gitu nawarin pake taxi dia (warna putih) dengan harga 5 JOD sampe ke city center.
Padahal tadi gw udah dibilangin, kalo pake taxi yang pake argo palingan cuman bayar 2.5 - 3 JOD untuk sampe ke downtown.

Akhirnya gw tolak dengan halus sambil ngomong "Shukron" (Makasih).
Taxi warna kuning yang gw naekin pun ternyata supirnya gak terlalu ngerti bahasa Inggris, jadi sedikit hopeless gw menjelaskan pengen dianter ke hotelnya (karena gw gak bisa Arabic). Tapi untungnya gw punya no telp hotelnya dan dikasi liat ke si supir. Masih bagus juga supir ini nelfonin orang hotel gw untuk nanya direction kesana.

Tapi udah gitu gw diturunin di depan Colosseum (karena supirnya bilang, 'udah deket koq dari sini') dan gw mesti jalan kaki beberapa ratus meter sampe akhirnya nemu hotel gw. This is not good at all karena gw bawa backpack 7kgs (yang sebetulnya gak terlalu berat, tapi hey… gw kan cuman 42 kgs juga).

Yowes, sebagai cewe backpacker sejati hal kaya gini gak akan meruntuhkan spirit petualangan gw.
Jadilah gw mulai jalan kaki ke arah hotel (yang gw gatau dimana tempatnya juga, karena gak punya peta) cuman bermodalkan alamat dan no telp orang hotel.
Sambil tanya sana sini tiap 50 meter ke orang, ternyata banyak juga yang mau nolongin gw. Bahkan ada bapak-bapak punya toko jam, dia nelfonin si yang punya hotel dan nganter gw beberapa meter untuk nunjukin arahnya… padahal gw perhatiin dia jalannya agak terpincang-pincang.
Dia juga bilang; " You're welcome here" dan setelahnya gw perhatikan "you're welcome" adalah kata-kata yang paling umum diucapkan orang Yordania ke turis : )))

Setelah ampir setengah jam kesasar akhirnya berhasil juga gw menemukan Cliff hotel. Padahal tempat itu pas banget sebrangnya Al-Hashem restoran, restoran yang terkenal banget di downtown karena Raja Jordan dan Ratu Rania pernah makan disitu.
Jadi kalo ngomong ke supir taxi "depan Al-Hashem" pasti ketemu dan gak mungkin kesasar.
Yah… masalahnya emang gw gatau. Namanya aja turis baru pertama kali kesana.

Cliff hotel ini adanya di lantai 2, sedangkan lantai 1 dipake coffee shop (dan later on kita sering banget ngopi-ngopi disana).
Walaupun tempatnya termasuk budget hotel, tapi review yang gw baca di booking.com untuk hotel ini selalu bagus. Terutama karena letaknya strategis banget di downtown, dan juga punya balkon yang menghadap jalan dimana ada Al-Hashem restoran.
Di bawah hotel ini banyak tempat nyari makan dan belanja. Ada bakery yang enak dan tempat jual sandwich falafel murah (cuman 0.350 dinar).

Sayangnya hotel ini (dan hampir semua tempat di Jordan mungkin) gak friendly sama non-smoker.
Ampir semua tempat umum di Jordan selalu penuh dengan kepulan asap rokok, termasuk di ruang berkumpulnya Cliff hotel.
Makanya gw termasuk jarang ngumpul-ngumpul juga sama sesama turis selama nginep disini.

Hari pertama di Amman ini gw tepar beberapa jam karena masi jetlag selepas perjalanan panjang dari Spore- Kuala lumpur - Dubai - Amman.

Gw sempet keluar bentar pas sore tapi dibuntuti selama beberapa ratus meter sama seorang bapak tua umur 50tahun dengan jaket dekil warna coklat. Walaupun gw udah mencoba untuk pura-pura masuk ke restoran dan ngabur ke pasar tapi orang itu terus ngikutin gw. Karena gw sereum (apalagi ini hari pertama) gw berenti di sebuah kios dan minta pertolongan ke bapak yang jualan disana, serta bilang kalo gw merasa ada orang yang ngebuntutin.
Dia ngasi kartu namanya dan bilang "you could call me anytime" terus dia juga menyarankan kalo orang itu masih ngikutin untuk lapor ke kantor polisi (deket situ juga) di sebrang bank of Arab. Mereka nanti bisa ngebuntutin orang itu dan kalo emang bener suspicious bisa ditangkep juga.

Well, selanjutnya gw jadi cepet-cepet jalan balik ke hotel dan memutuskan untuk tidur aja sambil menghilangkan jetlag, sambil nunggu temen yang dateng rada maleman.

Thursday, March 27, 2014

Mandi-nya turis Indonesia

Weekend kemaren gw bareng 2 temen kabur dari hiruk pikuk keramaian kota ke pantai Sawarna. 
Tadinya kita ngerencanain mau berangkat sendiri, ternyata setelah melakukan investigasi lumayan rempong kalo pake transportasi umum.
Kebetulan ada paket tur yang organize ke Sawarna berangkat dari Bandung tgl 21 malem dan balik 23 malem. So, bergabunglah kita ke tur ini, bersama sekitar 14 orang laennya (yang gak kita kenal tentunya).

Sungguh gw bukannya anti-sosial tapi kadang gw males ikut tur sama orang gak dikenal, juga karena jadwalnya diatur-atur. Artinya gak bisa maen-maen aer di pantai kalo bukan waktunya dan mesti selalu bareng-bareng orang serombongan.
Tapi ada enaknya juga sih, kita cewe-cewe jadi gak mesti pusing mikir transport kesana kemari, bisa dapet banyak tempat dalam waktu pendek (kalo engga pasti kita males-malesan…hehehe) dan ada yang nyiapin makan ^^




.: on courtesy of Martha's iPhone .: taken by Aa Uus :.


Anyway, gw bukan mau cerita in detail soal perjalanan ke Sawarna, yang tentu aja menyenangkan karena toh namanya juga beach weekend escapade.
Tapi gw mau bahas tentang anggota laen yang ngetrip bareng kemaren.

Emang wajar dalam satu kelompok, atau dalam cerita pewayangan, selalu ada tokoh yang jadi pihak antagonis, ya kan?

Seperti di sinetron-sinetron, gak rame kalo gak ada ibu mertua yang nyebelin atau cerita Rama-Shinta gak lengkap tanpa kehadiran Rahwana.

Nah dalam trip kali ini tokoh antagonis muncul dalam bentuk pasangan alay.

Kenapa gw bilang pasangan alay, karena kelakuannya masih alay banget.
Penampakannya sebagai berikut: si cowo (model rambutnya mengingatkan gw sama Haf*ts yang ngebunuh Ade S*ra) selama perjalanan continuously smoking!
Ini anak padahal umurnya paling sekitar 25 tahun, tapi udah parah gitu ngerokoknya... paru-parunya pasti bolong pas umur 40.

Pacarnya cewe (sok) modis yang berangkat buat kegiatan outdoor seperti eksplor Gua (caving) aja mesti dandan abis.
Gw gak against cewe dandan, karena itu boleh banget dilakukan kalo emang situasinya cocok.
Tapi gw sebel liat cewe lebay, yang heboh dandan lengkap padahal tujuannya cuman pas difoto bisa bagus untuk upload di sosmed.

Ohya, tapi yang bikin antagonis dari ni cewe bukan penampilannya yang heboh, tapi dari kelakuannya yang nyebelin. Cara ngomongnya gak enak dan gak sopan.
Sebisa mungkin gw dan temen-temen gak berinteraksi banyak sama annoying couple ini.

Udah gitu, kan kamar mandi di tempat kita nginep cuman ada 2. Tentu aja 2 kamar mandi itu buat dipake bareng-bareng sama 17 orang yang nginep disitu.
Nalar gue sih, karena ni kamar mandi bersama (dan bukan punya sendiri kaya di rumah) jadi kalo mandi gak usah pake lama yah harusnya.
Walaupun aslinya di rumah gw punya banyak ritual kaya pake body scrub, facial muka, this and that tapi gak bisa gitu kalo di toilet umum.

Nah ini si cowo (iye cowo tuh) mandinya pake lama pula! Gw bingung ngapain aja kalo cowo lama di kamar mandi, kan kalo keramas aja rambutnya dikit.

Tanggal 22 Maret itu kan Water day yang diperingati secara internasional.
To save water, gw biasanya gak pernah mandi pagi- terutama kalo udah tau jadwalnya bakal outdoor (ke pantai, eksplor gua).
Bukannya bakal kotor lagi yah stelahnya, jadi ngapain mandi juga.
Buat gw, yang wajib itu mandi kalo udah nyampe rumah tus gak bakal kemana-mana lagi, atau sebelum bobo.

Nah, herannya banyak orang-orang yang selama trip ini pake mandi 3x sehari!

Anyway, setelah gw pikir-pikir ya emang kaya gitulah mayoritas orang Indonesia kalo berwisata ke alam.

Gak mikir soal menjaga kebersihan alam, pake aer sesuka-sukanya karena merasa udah bayar biaya trip, yang penting dirinya sendiri bersih, wangi dan oke kalo difoto.

Waktu kita eksplor Gua Lalay masih di sekitaran Sawarna, guide-nya (Aa Uus) bilang tadinya dalem Gua itu banyak banget kelelawarnya. Lalu setelah banyak turis keluar masuk, makin lama makin dikit aja kelelawar yang tinggal di dalam Gua. Penyebabnya: banyak yang diburu untuk makanan (sadis banget yang makan kelelawar) dan karena bau parfum manusia!
Wewangian dari manusia, seperti bau parfum, ternyata mengganggu buat kelelawar.
Makanya jangan pake mandi maupun bau-bauan artifisial kalo mau eksplor alam.

Gw pun kalo acaranya dekat dengan alam selalu bawa sabun dan sampo yang organik, atau eco- concious product.
Kebayang kan kalo air buangan dari turis-turis yang berkunjung, trus mandi pake sampo dst, terbuang ke laut di deketnya.
Air yang udah tercemar bahan-bahan gak ramah lingkungan itu bakal berbahaya buat hewan laut yang tinggal di dalemnya. Ujung-ujungnya manusia juga yang bakal kena dampaknya kan kalo lingkungan kita tercemar.

Menurut gw, salah satu bentuk kemunafikan seorang manusia adalah, ngakunya religius tapi bisa sangat tidak peduli terhadap alam.
Gimana bisa peduli sama sebuah sosok yang invisible seperti Tuhan, kalo sama lingkungan yang keliatan di sekitarnya aja dia gak peduli.

Oke, walaupun esmosi tapi gw masi sempet ambil poto-poto selama disana ....






 

Overall, tempat ini sama sekali engga gw rekomendasikan buat orang kota... terutama buat mereka yang gak punya kepedulian sama lingkungan.

Tuesday, March 25, 2014

Visa ditolak Kedutaan Jerman (!!!!!)

Aplikasi visa gw ditolak Kedutaan Jerman !

Kali ini gw mau cerita soal pengalaman apply visa untuk visit temen lewat Kedutaan Jerman di Jakarta.

Sebelumnya gw udah pernah 5x kali dapet visa Schengen, termasuk residence dan working permit sewaktu studi S2 di Denmark. Visa Schengen yang pertama kali gw punya juga dapetnya dari Kedutaan Jerman di Jakarta. Waktu itu apply tahun 2009 dengan kondisi keuangan yang pas-pasan dan sponsor gw (atau bf pada saat itu) juga status kerjaannya di Jerman belum semapan sekarang.

Jadi dengan riwayat dulu-dulu pernah dapet Schengen visa serta sekarang kondisi keuangan gw lebih bagus, wajar aja kalo gw merasa pede bakal dapet visa lagi.

Karena gw udah tau dan ngerti banget orang Jerman itu aslinya ngikut aturan makanya semua persyaratan dokumen yang diminta gw lengkapin selengkap-lengkapnya.
Walaupun secara status employment at the moment gw emang jobless, tapi payment terakhir yang gw dapet saat kontrak konsultan di organisasi international (Nov 2013) setara dengan gaji lulusan S2 kerja setahun di institusi pemerintahan.

Makanya gw berasa aneh bin gak percaya waktu paspor dibalikin dengan disertai lembar penolakan visa. Selain kaget, karena gw gak nyangka banget, juga cape udah bolak balik Jakarta 3x buat urusan visa dan kesel sama petugas di Kedutaan Jerman yang jutek!
 

Gini kronologi ceritanya:

Tanggal 11 Maret 2014, sesuai dengan appointment yang udah dibuat, gw dateng ke Kedutaan Jerman untuk submit dokumen yang diperlukan untuk apply visit visa.
Waktu itu appointment gw dijadwalkan untuk jam 11.30 - 11.45 tapi nyatanya gw baru dipanggil untuk submit dokumen sekitar jam 13.30 (!!!!!)
Seinget gw waktu dulu apply Schengen visa pertama kalinya di Kedutaan Jerman kondisinya lebih organized dan gak pake nunggu lama deh.
Entah kenapa yang sekarang ini koq lebih kacaw…

Nah si mbak yang nanganin dokumen gw ini orangnya masih muda sih, perawakannya pendek, gemuk, bibirnya tebel eh jutek banget ngomongnya. Tapi dia ramah banget kalo sama cowo/ bapak2 agen travel yang barengan juga submit dokumen sama gw! Pake ketawa-ketawa segala pula.
Giliran gw maju tampangnya berubah jadi judes, udah gitu kertas gw dibalikkinnya pake dilempar-lempar segala. Menurut gw sih gak sopan yah, masa petugas front officer gitu sih.

Selaen itu contract letter sebagai bukti status employment terakhir gw sama organisasi internasional juga gak diambil sama dia.
Alesan dia, karena pada saat ini status gw jobless jadinya gak relevan untuk menyertakan itu. Hmmmm…. menurut gw sih gak ada salahnya disubmit karena toh sebagai bukti bahwa sebelum jadi jobless kan gw punya kerjaan yang valid dan bayarannya memuaskan.

Anyway, setelah itu gw nunggu dia input data, kemudian bayar 60 Eur untuk biaya visa (yang kalo dikurskan dalam rupiah saat itu 970,000 IDR !!!!)
Nunggu sekitar 15 menit lalu dia ngasi lembaran kertas sebagai kwitansi dan untuk pengambilan visa kalo jadi.
Trus dia bilang tar no telp gw harus standby karena kedutaan bakal nelp untuk ngecek.

Besoknya (tgl 12 Maret) gw dapet telfon pagi-pagi dari kedutaan yang verifikasi beberapa hal.
Seperti nanyain hubungan gw dengan si pengundang (udah kenal lama dari 2005), status kerjaan gw saat ini (gw bilang contract break), riwayat pernah tinggal di Eropa (thn 2010-11) and so on.

Rasanya sih gak ada yang mencurigakan, karena tahun 2009 pas gw pertama kali kesana kan sponsor gw udah mendaftarkan nama gw ke kantor pemerintahan setempat. Jadi data-data gw udah masuk di kantor pemerintahan Jerman, dan asumsi gw sih mestinya gada masalah.

Nah, menurut kwitansi yang gw terima itu, seharusnya paspor gw udah bisa diambil tanggal 17 Maret. Dengan harapan visa udah tertempel disana, sesuai dengan rencana semula.

Maka kembalilah gw mengunjungi kantor Kedutaan Jerman di Jakarta pada tanggal 17 Maret untuk ngambil paspor.
Tau-tau pas gw ngantri di loket bawah, bapaknya bilang kalo paspor gw belum ada. Hah!
Aneh bin ajaib, karena gw gak pernah mengalami hal ini sebelumnya dalam soal pengurusan visa.
Lalu dia bilang kalo gw pengen tau masalahnya, silakan aja naek ke atas dan nanya di petugas loket 5.

Jadi naeklah gw ke atas ke lantai 2, mbak yang di loket 5 ini lagi melayani beberapa orang juga yang urusan visa-nya bermasalah e.g. kurang dokumen, diminta kasi liat dokumen asli, proses verifikasi masi meragukan dst.
Pas giliran gw maju, gw tanyakan apa yang jadi masalah sehingga aplikasi visa gw koq masi belum beres. Dan gw juga bilang kenapa butuh visa ini jadi cepet karena paspornya mau gw pake untuk apply visa ke Kedutaan Mesir (dan ini butuh waktu lama bisa 2 - 3 minggu).

Mbak yang kali ini baek dan helpful, dia bilang kalo emang gw butuh paspornya silakan aja kasi bukti booking reservasi flight nanti paspornya bakal dibalikin (walaupun proses visanya belum beres).
Si mbak-nya sendiri gak tau apa yang jadi masalah dalam pengurusan aplikasi gw, gak ada dokumen yang kurang ataupun gw diminta untuk bawa dokumen tambahan. Dia cuman bilang kalo paspor gw saat ini masih ada di atasannya dia (entah apa maksudnya itu ?!?).

Gw nanya lagi, jadi kalo kondisinya gitu, berapa lama dong kira-kira proses visanya bisa selesai?
Jawabnya: gak tau. (HAH!?!?)

So, kepergian gw ke Jakarta yang semula untuk ngambil visa ternyata hasilnya nihil.
Gw kembali ke Bandung dengan tangan kosong :(
Apalagi besoknya (tgl 18 Maret) Kedutaan Jerman juga tutup, maka berkuranglah satu hari efektif yang gw punya untuk ngurus visa.
Sponsor gw di Jerman juga heran kenapa bisa extend gitu prosesnya, dan dia nulis e-mail (dalam bahasa Jerman) ke Kedutaan untuk nanya hal apa yang bikin lama & dokumen apa yang kurang sehingga mesti dilengkapi dst.

Besoknya gw bikin booking reservasi flight tiket Jkt - Cairo - Dusseldorf, yang berguna untuk apply visa Mesir dan juga buat pinjem paspor gw di Kedutaan Jerman.

Tanggal 20 Maret, balik lagi ke Kedutaan Jerman. Kali ini mau ngambil paspor karena kalo pengurusan visa Schengen gak jelas kapan beresnya, mendingan gw urus aja visa Mesir yang lebih jelas masa depannya.
Ternyata pas giliran gw ambil paspor, kembali gw berhadapan dengan mbak jutek yang ngelayanin waktu pertama kali submit dokumen.

Dia ternyata bisa ramah juga dan cengengesan sama 2 cowo anak kuliahan yang ngantri di depan gw. Eh giliran gw yang ngomong balik lagi muka juteknya.
Ampun nih orang keliatan banget ya subjektifnya….

Anyway, dia bilang kalo visa gw belum beres (Ya ya gw udah tau) tapi gw bilang kalo gw cuman mau pinjem paspor karena butuh untuk ngurus visa ke Kedutaan Mesir juga.

Trus gw nanya, koq bisa lama dan apa yang mesti gw lakukan untuk mempercepat urusan tsb?
Dia as always, dengan juteknya bilang gak tau, karena paspor gw masi ditahan atasannya (ya ya gw pernah denger alesan itu sebelumnya).

Ya udah gw bilang, saat ini gw butuh paspornya dibalikin karena mau apply visa ke Kedutaan Mesir sekalian mumpung di Jakarta. Jadi bukti booking reservasi ke Cairo-nya gw kasi supaya paspor gw bisa balik.

Udah gitu dia menghilang ke belakang loket (ohya untuk urusan ngambil paspor kaya gini doang, gw mesti nunggu 30 menit! Ini namanya Kedutaan Jerman  sudah beradaptasi dengan cara kerja orang indo yang lelet).

Tau-tau begitu dia balik, dia bilang kalo udah ada kepastian dari atasannya untuk hasil aplikasi visa gw. Dan saat itu dia bawa lembaran tulisannya "Refusal of Visa" dan langsung deh gw kesel. Kenapa dia gak ngomong di awal-awal atau mesti wasting time karena abis dari situ kan gw masih harus buru-buru ke Kedutaan Mesir (saat itu udah jam 11.30 dan Kedutaan Mesir tutup jam 12 untuk urusan apply visa).

Untunglah gw udah kontak-kontakan dulu by e-mail sama petugas di Kedutaan Mesir yang aslinya tuh orangnya cantik, baek dan helpful banget.
Kebalikannya dari petugas pendek, gendut, judes di Kedutaan Jerman itu.
Urusan visa Mesir gw malah sepertinya lebih mulus daripada urusan Schengen yang harusnya bisa lebih profesional.

Ada 3 poin alasan yang dikasi Kedutaan Jerman kenapa aplikasi visa gw ditolak. Dan ketiganya gak bisa gw terima karena semua dokumen yang diminta sudah gw sertakan. Bahkan contract letter untuk bukti history of employment pun udah gw kasi, walaupun akhirnya dibalikin sama front officer (tapi kan itu bukan salah gw, bukannya gw gak mau atau gak bisa ngasih gitu).

Jadi saat ini gw sedang mengajukan banding (atau istilahnya 'appeal') ke pihak Kedutaan Jerman, plus menyertakan dokumen tambahan yang belum disubmit waktu aplikasi kemaren. Termasuk scanned version dari Schegen visa yang dipunya sebelumnya, sebagai bukti bahwa gw punya good track record selama gw dapet Schengen visa.

Dan gw juga merasa they were being unfair towards my application. Soalnya gw liat applicant yang ngantri sebelumnya, kalo ada document yang kurang lengkap atau mencurigakan, petugasnya akan bilang dan applicant dikasi waktu untuk membuktikan bahwa bukti yang dia punya itu valid.

Sedangkan untuk kasus gw, gak ada notifikasi apa pun dari pihak Kedutaan yang bilang kalo dokumennya kurang, atau kesempatan untuk membuktikan bahwa aplikasi gw engga suspicious.

Saat ini sih jadinya gw udah males berangkat ke Jerman dan kalo bukan gara-gara temen ngundang sebenernya Jerman gak akan jadi negara favorit untuk dikunjungi.
Masalahnya ada pada orang-orangnya yang cold dan jutek, makanannya gak enak, constantly bad weather almost all the time etc.

Yah mungkin udah merupakan pertanda jug, untuk gak menghabiskan duit gw di Eropa (lagi) and looking for other destinations I have never been for traveling.


~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.~~.:*:.

Revised:

Akhirnya visa Schengen gw granted juga setelah 2 minggu dari tanggal pengajuan appeal atau naek banding. And I did visit Germany (again) on summer 2014, a short trip before went to Amsterdam.

Being always the top 3 most reviewed article, I presented you this pict.
He's indeed my own dog, and yes he just look sad occasionaly during photosession