Tuesday, June 12, 2012

Brida

How do you know that a person is your soulmate ?

This is a question that everyone (include me) probably had in mind when they meet someone.

So this will be my new book (to read). Should have bought it long time ago !

Brida :: Paulo Coelho

“ When you find your path, you must not be afraid. You need to have sufficient courage to make mistakes. Disappointment, defeat, and despair are the tools God uses to show us the way.”

“ Don’t bother trying to explain your emotions. Live everything as intensely as you can and keep whatever you felt as a gift from God. The best way to destroy the bridge between the visible and invisible is by trying to explain your emotions.”

“ But how will I know who my Soulmate is?”
Brida felt that this was one of the most important questions she had ever asked in her life.

“ By taking risks” she said to Brida. ‘ By risking failure, disappointment, disillusion, but never ceasing in your search for Love. As long as you keep looking, you will triumph in the end.”

source:
http://paulocoelhoblog.com/2011/01/09/character-of-the-week-brida/

Monday, June 11, 2012

Past lives (if there's such)

I was not a believer for 'past lives' but as time goes by (or as I read more books about it) I begin doubt myself if there's such thing as it.

Few months ago, just when I left my hometown for a new job, a friend of mine gave me a book about a journey to Santiago de Compostella. It has somewhat mentioned slightly about past lives of the author. Although I was almost always skeptical about it, the book was not fiction-based at all.

On the same time, I bought Aleph (English version, since we still don't have it translated into Indonesian). Written by Paulo Coelho, I have intended to buy it long before when I was still in Italy (but then they didn't have the english version).

It still wrapped up in plastic seal until few weeks ago, when I started my self trip to Bali.
On the way to find myself (again).

The story of the book (I shouldn't mentioned it here) had affected me, I begin wondering what I had been in past lives.

Once when I was really young and began my medical study, I was about to drop out my study (I always wanted to be clothing designer, or vet, or artist) but then I had this dream.
It was too hard to forget, I still could remember it now.
I was standing in a bed and there was my very best friend (we've been together almost forever) she was lying on the bed, asking me to help.
If only I could saved one life during my whole career as a doctor, that would be hers. 
So here I am, few years after that vision, made it all the way as it destined.

There's also one dream, that made me wondering, whether I had been a nurse or also working in clinical in the past.
For sure I was in the middle of the war, and there's this soldier (and I loved him, or it felt like it) who dying in my arms. 
It might seems ridiculous, but I felt that he supposed to be my soulmate. 
Since we couldn't be together in past live, I really hope we could re-connect again in present live.




[ to be continued yah . . . ngantux . . . . mo pingsan dulu ]

PS. and for whoever think that you might be a soldier in the past lives (and died in the middle of the war, in the arms of a lady : )  have your ever thought that i am here waiting for you ?

Sunday, June 10, 2012

I am not a foreigner

Untuk pertama kalinya, setelah balik Indo - akhirnya ngetrip lagi.

Dan seperti biasa, gw ngetrip sendiri aja.

Booking tiket dari Surabaya ke Denpasar juga a bit unplanned (dan kompulsif)

Pada dasarnya bukan untuk jalan-jalan, tapi lebih bertujuan untuk istirahat.
Abis selama di Surabaya gw batuk parah (sampe suara ilang) tapi gak bisa istirahat total karena ada kerjaan di kantor. Juga di tempat kos sekarang (karena isinya abege a.ka anak kuliahan) seringnya ribut -gak pagi, siang atau malem. Jadi untunglah ada rencana liburan, biarpun artinya cuman pindah tempat kos ke Bali.

Gak nyangka ternyata Bali banyak berubah setelah sekian lama gak ditengok.

Pertama kali gw nyambangin Bali (kata ortu) adalah waktu masih jabang bayi, alias waktu dikandung dalam perut si mamah.
Waktu itu ortu ke Bali bawa mobil dari Jawa, road trip ke Bali.
Jadi kebayang kan kalo dari kecil gw udah punya 'ikatan' sama pulau Dewata.

Lalu skitar tahun 1990an (lupa, tapi gw inget waktu itu masih SD) gw ke Bali lagi, ke beberapa tempat termasuk Singaraja, Denpasar, Tanah Lot, Uluwatu dkk. Itu kebetulan pas om (adiknya papah) lamaran, jadi keluarga ikut kesana sekalian liburan. 
Gak lama tahun 1994an juga kesana, tapi kali ini agak mendadak. Karena engkong meninggal. Engkong gw ini walaupun agak nyentrik dan galak (seinget gw) tapi sangat dihormati sama anak-anaknya. Jadi pas beliau meninggal semua keluarga lagi-lagi ngumpul di Bali, melepas untuk terakhir kalinya. 
Gw gak terlalu inget juga kejadian waktu itu, yang gw inget adalah tubuhnya dikremasi -dan agak sereum juga waktu itu liat prosesnya.... Owya, yang gw inget pas proses kremasi adalah.... apinya panas dan besaaaarrr banget.

Setelah itu gw beberapa kali ke Bali, tahun 1997, 2000an dan setelah bom bali kedua (Kuta dan Legian sepiiiiiii banget ampir gak ada turis bule). Dan tahun 2006 / 07 juga kesana lagi.

Yang bisa gw liat pas kemaren terakhir kali ke Bali (palagi kali ini gw nginep di Poppies Lane, biasanya nginep di tempat sodara di Denpasar) adalah.... jadi semakin komersil, turistik dan inauthentic

Di daerah Kuta dan Legian, the most touristic spot, tiap 20 meter ada 'mart' entah Alfa/indo/minimart laennya. Gak ada yang salah sih dengan orang lokal yang mencari peluang usaha, tapi kesannya pabalatak gitu.

Setiap hari gw jalan kaki dari tempat gw nginep ke pantai Kuta atau Legian. My daily walk ini bisa 4 kilometer, pas pagi atau sore sambil mengobservasi kejadian apa aja di sekitaran.

Bisa gw liat kalau banyak cewe-cewe lokal yang agresif sama turis bule, mulai dari manggil-manggil sambil bilang: 'you're handsome' sampe noel/megang badan, narik-narik baju turis bule.

Duh, perasaan gw sebagai cewe Indo tuh gimana ya rasanya.

Sekali lagi, gw gak keberatan dengan cara sebagian orang mencari penghasilan dengan jual diri. Tapi kebayang deh kalo gw jadi cowo bule yang pengen liburan ke suatu tempat eksotik tapi malah diganggu seperti itu, kan gak nyaman juga.
Atau mungkin cowo suka digituin?
Entah lah.

Yang bikin gw sebel juga, karena gw disana jalan sendiri (dan gw emang sengaja gak mau kenalan sama orang, karena emang lagi pengen jalan sendiri) - banyak orang lokal yang nyangka gw mau hunting bule!
Duh kalo mau hunting bule sih ngapain mesti ke Kuta, dimana bule nya yang doyan party, atau bule Aussie yang logatnya kedengeran menyebalkan di kuping gw.

Selama gw disana, ada dua orang yang ngajak kenalan.
Pertama, cowo tampang asia (yang ngakunya dari Singapur) ngejar-ngejar gw di jalan, minta no hape. Udah gw tolak halus masi gak terima juga, akhirnya gw ngeloyor aja tinggalin. 
Kedua, pas gw lagi makan di rumah makan padang (iya selama 3 hari disana gw nyari masakan padang mulu! udah lama banget gak makan padang selama di surabaya).
Kali ini lelaki (umurnya 30an akhir kayanya) tampang asia juga, tapi ngakunya dari Kalifornia, USA. 
Dia bilang mo kenalan dan suka gw, lalu ngajak gw ke Kalifornia kalau mau.

Ya ampun.
Males banget deh.
Udah gw cuekin tapi dia keukeuh ngajak ngobrol.
While I just want to enjoy my food !

Akhirnya energi positif yang sudah gw kumpulkan selama kontemplasi di pantai Legian jadi buyar deh gara-gara cowo pushy ini.
Tus setelah gw bilang: 'you could pick any girl you want here but not me. leave me alone.' baru deh dia nyerah dan ngebiarin gw makan dengan tenang.

Entah kenapa selama gw jalan di sana banyak orang lokal yang ngajak ngomong gw pake bahasa inggris. Mereka bilang soalnya tampang gw mirip filipino, dan kalo cewe indo gak biasanya jalan sendiri.

Kadang trip kaya gini bikin gw krisis identitas.
Kalo ngetrip di luar ya gapapalah gak ada yang nyangka orang indo, karena we're all asian look the same. Sering disangkai orang thai pas di thailand. Juga sering disangka orang filipino selama di denmark.
Yang bener adalah pas gw di belanda, banyak yang nyangka orang indonesia (abis orang indo emang pabalatak di sana).

Anyway, tema ngetrip kali ini emang 'self-discovery'.
Once in a while, dalam hidup gw selalu mempertanyakan, apa sih yang gw pengen.
Dan apa sih yang sebenernya penting untuk dimiliki.
Atau apakah hal-hal yang selama ini gw kejar sebenernya bisa bikin gw lebih bahagia?
and so on, and so on.

Dan buku yang menyertai selama perjalanan ini adalah Aleph - ditulis sama engkong Paulo Coelho, pengarang favorit gw.
Setiap kali baca bukunya dia (Alchemist, 11 Minutes, The Winner Stands Alone dll) rasanya isinya seperti diperuntukkan buat gw seorang.

It's like his words speak directly thru my soul.

Secara gw bukan orang yang lebay, jadi kalo gak percaya silakan baca aja bukunya sendiri.
(ini bukan promosi loh)

Baru aja sore ini ada kejadian, gw chatting lewat skype sama seorang cowo yang gw kenal pas ngetrip tahun lalu di Budapest. Dia orang Latvia tapi sekarang kerja di UK.
Trus dia nanya, gimana rasanya sekarang setelah gw balik indo lagi, dan apakah gw kapok tinggal di luar.

Aneh juga, tapi selama tinggal di luar rasanya gw gak terlalu merindukan pengen balik indo.
Dan sekarang, pas jauh dari bandung gw juga gak terlalu merindukan rumah.

Kali aja gw udah terbiasa jauh dari rumah, 
dan buat gw ' a home is a place where your heart is, not a physical building. '

pantai Legian, Bali

 
 I am not a foreigner because I haven't been praying to return safely home, I haven't wasted my time imagining my house, my desk, my side of bed. I am not a foreigner because we are all travelling, we are all full of the same questions, the same tiredness, the same fears, the same selfishness, the same generosity. I am not a foreigner because, when I asked, I received. When I knocked, the door opened. When I looked, I found.

taken from Aleph. p270.


 
 

 




Saturday, June 9, 2012

Quotation


Be kind to yourself and others.
Come from love every moment you can.
Speak of love with others. Remind each other of your spiritual purpose.
Never give up hope.
Know that you are loved.

' The Path of Love ' - Deepak Chopra