Thursday, January 31, 2013

Cambodia (1) .: prelude :.

Perjalanan ke Cambodia atau Kamboja ini sebenernya udah dari awal bulan Januari kemaren.
Tapi biasalah, sibuk sama kerjaan baru dan emang gw agak pemalas untuk nulis detail perjalanan.
Padahal ini salahsatu perjalanan yang paling berkesan. Banyak ketemu temen baru yang menarik selama perjalanan. Trus juga pengalaman-pengalaman gak terlupakan seperti menikmati matahari terbit di kompleks candi Angkor.

Karena tulisan yang gw buat di notes gak terlalu sistematik, akhirnya gw kebingungan sendiri pas mau nulis ulang. Tulisan gw ternyata bener-bener random sampe penulisnya pun gak bisa baca... hehe..

Secara garis besar, perjalanan gw ke Kamboja dimulai dari Phnom Penh lalu berakhir di Siem Reap.

Hanya 4 hari aja dihabiskan di Phnom Penh, dan pada saat gw nyampe bandara cuacanya bagus banget! Pertanda yang bagus di awal : )
Hotel yang gw booking udah mengorganisir supaya ada orang yang jemput sewaktu gw nyampe di bandara internasional Phnom Penh.
Orangnya ramah dan baik banget, trus gw dibawa deh naek tuktuk ala Kamboja untuk pertama kalinya. Dalam waktu 10 menit aja semenjak gw nyampe di Kamboja, gw udah kehilangan topi yang telah menemani traveling selama 2 tahun lebih. Yup, topi gw hilang terbang dibawa angin pas naek tuktuk itu.

Hotel tempat gw nginep ini letaknya di tengah kota, resepsionisnya masih muda banget dan bahasa Inggris nya lumayan. Walaupun ada kata-kata yang gw gak ngerti kalo dia ngomong.. hehe.
Dia juga friendly jadi keesokan harinya gw minta dia ajarin beberapa kata dalam bahasa Khmer.

Semua orang (supir tuktuk, resepsionis, owner hotel) bilang kalo tampang gw kaya orang Khmer.
Jadi kalo gw diem gak mengeluarkan sepatah kata pun pasti orang akan ngajak ngomong pake bahasa Khmer.

Hari pertama gw nyampe hotel langsung tepar bobo di kamar selama beberapa jam. Abis flight gw dari Bandung trus beberapa jam transit di bandara Low Cost Kualalumpur. Lecek juga rasanya setelah bermalam bersama para budget traveler dari seluruh dunia.

Udah gitu keluar muter-muter kota Phnom Penh, yang sebenernya gak terlalu besar juga.

Mengetahui sejarah kelam Kamboja, dimana mereka mengalami pemerintahan komunis dibawah Pol Pot pada pertengahan tahun 1970-an, maka gw sedikit takjub melihat ternyata kota Phnom Penh sendiri lumayan maju infrastrukturnya.
Memang gak semaju kota besar laennya di Asia Tenggara, tapi lumayan lah. Jalanannya besar dan bersih, ampir gak liat kondisi jalan bolong seperti yang ada di jalan Pagarsih, Bandung.

Beberapa hari setelahnya, gw ketemu sama seorang arsitektur asal British (kita kenalan di taman) yang bilang kalo Phnom Penh emang bagian dari negara Kamboja yang kondisinya paling lumayan.
Sisanya di perifer masih terkesan sangat terbelakang dan miskin.
Siem Reap yang pusat turis karena deket sama kompleks Angkor pun gak berkembang seperti Phnom Penh. Hanya di pusat kotanya aja yang berdenyut karena aktivitas para turis.

Anyway, gw akan mulai cerita kali ini dari Siem Reap instead of Phnom Penh.
Bukannya Phnom Penh gak berkesan sih. Di sana gw sempet mengunjungi Tuol Sleng genocide museum, atau area S-21. Ada kesan campur aduk setelahnya; gak percaya, sedih, takjub, miris, dst.

Walaupun gw pernah mengunjungi kamp konsentrari di Dachau sebelumnya, tapi teteup aja gw gak terbiasa menyaksikan brutalisme secara sistemik yang terorganisir.

Bahkan menurut gw, Hitler agak sedikit lebih mending karena yang jadi target adalah orang Yahudi, atau kebangsaan lain (atau warganegara Jerman yang disabel).
Tapi Pol Pot mentarget semua orang Kamboja, yang dianggap musuh politiknya. Dan caranya walaupun sama-sama gak berperikemanusiaan tapi kadarnya lebih brutal. Menurut gw sih...

Seperti contohnya, orang-orang yang akan dibunuh dirantai kaya anjing, lalu digiring ke suatu tempat dan dipukulin sampe mati (karena mereka gak mau buang-buang peluru untuk ngebunuh orang).
Hitler masih agak mending karena caranya yang mengirim ke ruang gas pake sianida.
Tapi tentu aja, brutalisme diantara keduanya sama parahnya dan gak bisa ditolerir.
Selama kepemimpinan Pol Pot ini ditaksir ada sekitar 1,7 - 2 juta orang Khmer yang mati terbunuh.
Jumlah yang fantastis mengingat populasi rakyat Khmer yang ada saat itu cuma 6 - 7 juta.

Baiklah, supaya kita gak terlalu gloomy setelah baca cerita tentang genocide itu, maka akan gw suguhkan gambar-gambar dari Siem Reap . . . .



.: the glorious Angkor Wat :.


Memang ada orang yang bilang kalau Angkor Wat atau candi Angkor mirip sama Borobudur. Mungkin sih, tapi dengan skala yang jauh lebih besar! (Angkor sendiri artinya kota).
Untuk amateur archeological geek seperti gw, ini salahsatu pengalaman artgasm yang intens mengingat kompleks Angkor ini dibangun pada masa 9 abad setelah Masehi. Dimana mereka belum menemukan teknologi canggih yang bisa membantu manusia untuk proses konstruksi.

Yang jauh lebih impressive daripada bangunan candinya sendiri, sebenernya adalah danau buatan yang dibangun di sekeliling kompleks candi Angkor. Danau buatan manusia ini sengaja dibangun untuk keperluan irigasi, karena pada jaman dahulu ibukota dari Kampuchea (atau kerajaan Kamboja) emang terletak di Siem Reap.
Dan karena sistim irigasi yang tergolong maju pada jamannya itu, kerajaan di Siem Reap bisa bertahan hingga 8 abad (mulai abad ke 9 hingga 17 setelah Masehi).


.: dragon boat :.


Telah gw singgung sebelumnya, kalau banyak kata dalam bahasa Khmer yang sama atau mirip dalam bahasa Indonesia. Seperti contohnya Psar untuk pasar. Kata yang sama artinya : naga, garuda.
Seperti yang telah kita ketahui dalam pelajaran sejarah di SMA yang sangat membosankan, bahwa Indonesia di abad 7 -13 setelah Masehi juga merupakan kerajaan Hindu - Budha.
Ada banyak candi peninggalan kerajaan Hindu - Budha, dan salahsatu yang paling terkenal yaitu candi Borobudur (peninggalan kerajaan Budha) dan candi Prambanan (peninggalan kerajaan Hindu).

Bentuk bangunan candi yang gw liat di kompleks Angkor sendiri lumayan mengingatkan akan Prambanan (yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu).
Elemen seperti Garuda, Visnu, Hanoman juga bisa ditemui di bas relief candi-candi yang tersebar di kompleks Angkor.

Tapi ada satu elemen yang khas membedakan candi buatan Angkor, yaitu Apsara. Apsara bisa diartikan sebagai dewi khayangan yang tugasnya menghibur mereka yang masuk nirwana (surga).
Apsara ini digambarkan cantik dan bertelanjang dada, dengan perhiasan yang menarik.
Dalam bas relief di candi sekitar Angkor, sebegitu detailnya Apsara ini dilukiskan sampai perhiasan tiap perempuan berbeda.


.: Apsara relief in Bayon temple :.


.: Apsara relief in Angkor Wat :.

Menurut buku panduan wisata, bulan Januari dianggap saat paling tepat untuk turis mengunjungi Kamboja. Karena pada saat itu curah hujan sudah rendah (akhir musim penghujan), tapi juga cuaca belum terlalu panas.
Akibatnya tentu aja banyak turis berduyun-duyun dari seluruh penjuru dunia.
Gerombolan turis dari China, Taiwan, Jepang, Rusia, UK mendominasi sebagian dari pemandangan candi yang gw singgahi.
Gak heran kalau anak-anak kecil penjual cinderamata di kawasan Angkor ini jago beberapa bahasa sekaligus. Mereka bisa ngobrol pake bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Melayu dengan para turis. Sambil menawarkan dagangan secara persuasif, anak-anak ini juga suka ngajak maen turis yang sekiranya mau meladeni.

Karena banyak anak-anak kecil yang mencari nafkah padahal seharusnya sekolah, di Phnom Penh ada NGO yang berkampanye gerakan : Think Twice! Let adults earn, and children learn.
Lebih jauh tentang itu akan gw tulis dalam liputan khusus tentang Phnom Penh (kalo inget dan kalo sempet).




Sebagai penutup, gw mau cerita sedikit tentang monks atau biksu.
Karena bangunan candi dianggap bangunan tempat pemujaan bernilai sakral bagi pengikut Budha, maka banyak biksu juga yang berkunjung ke kompleks Angkor ini untuk berdoa.

Yang gw tau, sebagai biksu biasanya kita gak boleh bermewah-mewah. Hidup sesederhana mungkin, punya barang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan gaya hidup biksu yang ekstrem banget (menurut gw) adalah mereka menggantungkan dari orang untuk makanan sehari-hari.

Nah, dari sekian pertemuan dan pengamatan selama gw keliling di kompleks Angkor (maupun selama di Kamboja) ada yang cukup menarik. Yaitu, beberapa biksu yang gw temui punya kamera SLR yang canggih banget! Saking canggihnya sampe gw bertanya-tanya, siapa ya yang sekiranya ikhlas banget menyumbangkan kamera seperti itu. . . (gw mau minta juga : )

3 comments:

agustinriosteris said...

Wowwww..... jangan-jangan bahasa thailand dan vietnam juga mirip bahasa indonesia hehhehhe

Saya juga pernah liat biksu pake HP touchscreen.. Tapi mungkin karena itu sumbangan jadi ga boleh ditolak (lagipula jarang yg akan nolak hehheheh)

ga sabar liat lanjutan cerita di cambodia ini..

Martiani Dona Oktavia said...

Link keren dari wikipedia

List of loan words in Indonesia
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_loan_words_in_Indonesian

Cek yang berasal dari bahasa Sanskrit, banyak banget kosakata yang sama!

No wonder.....

Martiani Dona Oktavia said...

Link keren dari wikipedia

List of loan words in Indonesia
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_loan_words_in_Indonesian

Bahasa Sansekerta sendiri jadi akar bahasa-bahasa yg mendominasi Asia Tenggara (Malay, Khmer, Thai, Filipino dst)
jadi pantes aja kalau banyak kata2 yg sama kalau berkunjung ke negara2 tsb :)