Wednesday, December 17, 2014

.: Pemulung juga manusia :.

Kebiasaan baik apa yang kita adopsi ketika bepergian ke luar negri ?

Bagi saya, sebuah kebiasaan yang melekat ketika saya sempat tinggal di Eropa dan menetap hingga sekarang adalah kebiasaan memilah sampah domestik.

Baik di Belanda maupun Denmark (atau di kebanyakan negara Eropa), sampah rumah tangga yang dihasilkan orang biasanya harus dipisahkan menjadi beberapa kategori: sampah basah (organik), sampah kertas, sampah plastik (botol), dan sampah gelas. 

Masing-masing ada tempat sampahnya tersendiri karena penanganannya berbeda. Di Belanda dan Jerman bahkan beberapa jenis botol plastik berukuran besar bisa ditukarkan dengan uang jika dikembalikan ke toko.
 

Landlady saya di Kopenhagen pernah menjelaskan alasan environmental hingga ke isu global warming segala di belakang permasalahan sampah ini,  yang sebetulnya bukan hal baru bagi saya. Justru isu tersebut sangat familiar bagi saya, yang memang pecinta lingkungan jauh sebelum saya mengenal teknik memilah-milah sampah.

Sebaliknya, saya malah mengagumi pemahaman si landlady tentang isu lingkungan padahal umurnya 60 tahun lebih. 

Kalo diperhatikan memang kebanyakan teman-teman saya di Eropa concern sama masalah sampah serta isu berkaitan dengan alam atau lingkungan.
Seorang teman yang jelas-jelas mengaku atheis garis keras tapi peduli banget kalo urusan memilah sampah dan konsumen setia produk organik atau ramah lingkungan (eco-friendly).

Balik ke Indonesia, saya jadi merasa orang sini koq kebalikannya. Katanya kita bangsa yang beradab, dengan prinsip 'Kebersihan adalah sebagian dari iman' tapi kenyataannya di jalanan ada aja orang sembarangan buang sampah.
Mentang-mentang ada tukang sapu jalanan jadi suka seenaknya buang sampah. Padahal tukang bersihin jalan a.ka tukang sapu itu sama-sama juga manusia kaya kita. Jadi apa susahnya kalo kita sendiri yang buang sampah yang kita hasilkan di tempatnya.

Kebiasaan memilah sampah ini juga saya teruskan di rumah.
Paling engga saya bisa 'meracuni' orang rumah sebelum mengubah dunia.
Botol-botol plastik, bungkus minuman kemasan karton, atau bungkus kopi plastik instan saya kumpulkan di tempat terpisah.

Biasanya hari-hari tertentu ada pemulung yang lewat di depan rumah dan akan mengambil sampah botol plastik atau bungkus karton. Kadang miris rasanya dalam hati saya kalau melihat pemulung itu ngorek-ngorek sampah punya tetangga sebelah, mencari sesuatu yang bisa diambil dari sampah-sampah yang sudah tercampur segala macam kotoran.
Pemulung itu kan manusia juga kan ya.
Kenapa kita gak bisa bikin hidupnya lebih mudah dengan memilah-milah sampah supaya dia lebih bermartabat saat mengerjakan tugasnya.

Itu juga yang saya perhatikan saat tinggal di Eropa, tukang sampah di Kopenhagen misalnya, dengan mobil truknya yang canggih banget dan perlengkapannya yang menjamin keamanan kerja petugasnya.
Emang sih Denmark itu negara kaya dengan jumlah penduduk sedikit makanya bisa beli peralatan mahal untuk mengelola sampah.
Tapi untuk memanusiakan manusia sebenernya gak perlu belajar dari Eropa, karena di negara kita juga banyak orang-orang yang melihat sampah sebagai solusi dan bukan mata pencaharian.

Setahun ke belakang saya juga menjalin hubungan dengan ibu-ibu pengrajin sampah di Cibangkong yang membuat kerajinan tangan dari bekas bungkus minuman instant.
Bahkan mereka juga saya buatkan blog gratis untuk promosi [blog MyDarling]
Sudah sering hasil kerajinan tangan mereka saya bawa ke luar negri dan dihadiahkan kepada teman-teman yang saya kunjungi selama di Belanda, Belgia, Italia.


salah satu waste-based product dari bungkus kemasan kopi instan
.: taken from Mydarling-Bdg.blogspot.com :.
Teman-teman di Eropa yang saya beri hadiah tersebut tentunya sangat terkesan dengan pemberian saya.
Betapa tidak, orang kita bukan hanya berhasil menemukan solusi untuk pengelolaan sampah tapi juga merubahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual kembali.
Biasanya saya jelaskan lebih jauh juga ke mereka, kalau sampah sebetulnya masi menjadi masalah persisten di Indonesia. Tapi beberapa orang berhasil menjadi inisiator dan merubah yang tadinya merupakan masalah jadi mata pencaharian.


Saat orang-orang Indonesia punya kesempatan keluar negri, mereka seharusnya bisa mengadopsi kebiasaan baik yang dipunya negara tersebut. 
Gak ada orang Indonesia yang berani buang sampah ketika wisata ke Singapura misalnya, karena takut kena denda disana. Tapi balik lagi ke negaranya maka kebiasaan buang sampah pun dilanjutkan kembali...

Jalan-jalan keluar negri itu bisa jadi sebuah investasi, menambah pengalaman dan koneksi,  merubah mindset ... tapi bisa juga cuman jadi acara buang-buang duit juga ... kalo kita gak dapet apa-apa kecuali foto-foto selfie

So which one are yours ?




No comments: