Wednesday, September 3, 2014

[Re]Finding Love

Tuhan itu baik.

Itu kesimpulan yang gw pelajari selama beberapa tahun ke belakang.
Walaupun belum layak dikategorikan sebagai makhluk yang relijius, tapi pengalaman gw selama ini membuktikan bahwa belajar tentang Tuhan itu gak dibatasi dalam ruang lingkup ruang ibadah, maupun tokoh pemimpin agama.

Ada beberapa peristiwa penting dalam kehidupan gw, khususnya di tahun 2014 ini yang semakin menguatkan perjalanan iman bersama Tuhan.

Diantaranya berkaitan dengan perjalanan ziarah gw ke beberapa tempat, seperti di Timur Tengah, Italia dan Belgia.

Bisa dibilang kalau kondisi finansial gw berkecukupan tahun ini (maksudnya, ada cukup duit kalau mau liburan) sehingga bisa melakukan perjalanan jauh ke beberapa tempat.

Perjalanan jauh pertama di tahun 2014 adalah ke Yordania di Timur Tengah. Negara yang terkenal terlebih saat mendekati pilpres (karena jadi tempat pelarian salahsatu kandidat capres di masa silam).
Yordania juga tempat yang penting bagi para peziarah dari latar belakang agama Nasrani maupun Islam. Selain mempunyai banyak situs bersejarah yang berkaitan dengan latar belakang sejarah agama monoteisme (Yahudi, Nasrani, maupun Islam) Yordania juga terkenal dengan situs arkeologikal warisan budaya suku Bedouin di Petra, Wadi Musa.

Perjalanan ke Yordania dimulai dari kerinduan gw yang teramat dalam untuk berziarah ke tempat yang biasanya hanya bisa gw bayangkan saat membaca cerita dari Alkitab, khususnya kitab Perjanjian Lama.

Dikisahkan saat bangsa Israel mengalami penjajahan lama dan tersiksa di Mesir, Tuhan memanggil mereka keluar lewat hambaNya Musa.
Setelah keluar dari Mesir, rencananya bangsa Israel akan memasuki tanah perjanjian (Kanaan). Perjalanan mereka keluar dari Mesir ke Kanaan melewati padang pasir yang berada di Yordania bagian selatan, seharusnya memakan waktu beberapa bulan saja.

Tapi dalam perjalanan tersebut, bangsa Israel (yang sudah menyaksikan bagaimana tangan Tuhan membebaskan mereka dari bangsa Mesir) malah bersungut-sungut dan meragukan kuasa Tuhan.
Terlebih mereka meragukan apakah mereka bisa memasuki tanah perjanjian setelah melihat bahwa penduduk asli Kanaan adalah bangsa raksasa, yang bertubuh besar.

Karena kurangnya iman mereka kepada Tuhan, satu generasi dihukum Tuhan. Mereka bukan saja harus berputar-putar selama 40 tahun di padang gurun, tapi satu generasi tersebut tidak diizinkan untuk memasuki tanah perjanjian.
Bahkan Musa, yang telah memimpin bangsa Israel keluar hanya diizinkan melihat tanah yang dijanjikan Tuhan tersebut dari atas gunung Nebo.
Gunung Nebo ini menjadi situs bersejarah yang selalu dipenuhi pengunjung saat kita di Yordania.

Tapi buat gw pribadi, ada satu tempat di Madaba yang sangat menggetarkan hati saat berkunjung kesana.
Waktu itu tepat sehari sebelum Paskah (hari bangkitnya Tuhan Yesus dari kematian, setelah disalibkan) jadi selain kami sebagai gerombolan turis, banyak juga pengunjung yang datang untuk berdoa.
Gw sendiri mengkategorikan diri sebagai peziarah, bagian napak tilas dari cerita-cerita Alkitab yang pernah gw baca atau dengar pada masa kecil.

Di kapel kecil dalam gereja St. George di Madaba ini, diletakkan patung Tuhan Yesus seukuran manusia sungguhan yang terbaring setengah telanjang, dengan bekas luka di sekujur tubuhNya.
Tepat pada saat gw memasuki ruangan untuk berdoa… hati gw sangat tersentuh, hingga langsung menangis bercucuran air mata.
" Inilah tubuh Tuhanku, yang menebus dosa dan kesalahanku" begitulah sebuah suara dalam hati gw berkata.

Dan disitu gw berdoa, untuk banyak hal… dan gw percaya karena kehadiran Tuhan yang begitu kuat di tempat ini maka doa-doa akan didengarkan.

Salahsatu permohonan yang gw naikkan disitu adalah supaya Tuhan menunjukkan pasangan/ jodoh gw di dalam kehidupan ini.

Sejujurnya ini bukan suatu permohonan yang pernah gw minta secara khusus sebelumnya. Karena gw tahu toh suatu saat Tuhan pasti akan memberi, yang terbaik pada waktuNya, sesuai rencanaNya.
Walaupun banyak orang sering menanyakan, "koq belum married" di umuran seperti gw tapi hal kaya gitu gak pernah bikin risau maupun galau.

Banyak orang yang married terburu-buru tanpa pikir panjang juga bisa cerai.
Sementara pernikahan buat gw adalah suatu komitmen yang serius bersama orang yang tepat, bukan karena dorongan kepepet ataupun paksaan dari pihak laen (kadang bahkan bukan dari pihak yang peduli sama kita, tapi malah orang yang gak mengenal kita dengan baik).

Di satu pihak, gw juga sangat bersyukur bahwa Tuhan memberi begitu banyak berkat dan kesempatan dalam hidup ini.
Gak pernah sekalipun sewaktu gw masi muda membayangkan bahwa gw bisa sekolah dan traveling keliling Eropa (berkali-kali pula), yang mana bagi kebanyakan orang Indonesia masih merupakan destinasi mahal.

Juga gak layak kalau gw bilang bahwa semua itu mungkin karena jerih payah gw semata. Walaupun keadaan finansial orangtua gw biasa-biasa aja, tapi toh yang sepertinya gak mungkin bagi manusia ternyata sangat mungkin bagi Tuhan.
Tuhan yang menciptakan banyak kemungkinan dan memberkati dengan limpahnya.

Beberapa bulan setelah ziarah ke Yordania, gw bertemu dengan seorang pria (yes, he is a real man. not a guy anymore) di Italia.
Dari awal kenalan, gw tahu bahwa kita punya passion yang sama untuk banyak hal e.g. melayani orang yang membutuhkan.
Kita sepakat bahwa apa yang kita punya, terutama dalam kelebihan, adalah untuk dibagikan kepada orang lain yang kurang beruntung.
Dan bahwa Tuhan serta spiritualitas adalah hal penting dalam hidup kita.

Berbekal dari pengalaman dan kesalahan yang pernah kita buat berdua di masa lalu, kita menyetujui bahwa hubungan yang sehat bukan hanya didasari cinta, tapi juga rasa hormat, kepercayaan, serta spiritualitas dan komitmen pada Tuhan.

Saat ini gw bisa menyatakan, bahwa dialah jawaban dari doa yang selama ini dipanjatkan. Tuhan yang Maha Mendengar bukan sekedar memberi pria yang baik sebagai calon pasangan hidup gw… tapi juga partner traveling dan teman bersekutu dalam doa.

Beberapa magical momen yang kita habiskan di Italia seperti sebuah pertanda bagi gw. Sebagai contoh saat mengunjungi Lago di Como (Lake Como) kita duduk di sebuah kursi di pinggir danau dan berbagi pengalaman tentang Tuhan, sementara secercah sinar seperti keluar dari pemandangan gunung di depan kita.





Dulu gw berpikir (dan hingga sekarang) bahwa Italia adalah satu satu tempat terindah di dunia. Tapi sesungguhnya tempat terindah di dunia adalah dimana hati kita, atau orang yang kita cintai berada.







No comments: