Sunday, January 25, 2015

.: The Art of Being Ignorant :. Milano - Gennaio 2015 [parte uno]

Tadinya tulisan ini mau saya kasi judul 'The advantage of being ignorant' ... tapi secara prinsip, lebih banyak mudarat-nya menjadi 'ignorant' daripada manfaatnya.

Seengga-engga itu yang saya rasakan selama tinggal 12 hari di Milan.

Dan perjalanan ke-sekian kalinya ke Milan tentunya bukan perjalanan traveling seperti biasanya.
Tapi lebih menjurus ke hubungan antarpersonal... yang... sepertinya gak usah diceritakan lebih jauh *ehem*

Jadi orang asing di negeri orang bukan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya pernah tinggal beberapa bulan di Belanda, Denmark, dan juga sempat meng-eksplor sejumlah negara baik di Eropa maupun sekitaran Asia.
Biasanya ada kosa kata tertentu yang akan saya pelajari, seperti 'Terima kasih', 'Maaf', 'Halo/ Selamat pagi' dst saat berpindah ke negara baru.

Mempelajari bahasa asing juga bagi saya sesuatu yang menarik dan bukan beban. Dari kecil saya memang familiar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Lalu sempat mempelajari bahasa Jepang selama SMU. Bahasa Jerman dan bahasa Prancis saat beberapa tahun silam. Dan sekarang bahasa Italia masuk ke dalam daftar. 

Saat tinggal di Belanda dan Denmark, saya memang tidak terlalu berusaha untuk mempelajari bahasa setempat karena ... 1) orang sana ampir semuanya ngerti bahasa Inggris. Bahkan tukang sapu jalan pun bisa diajak berkomunikasi pake Inggris. Mungkin cuman orang Belanda asli yang uzur banget gak familiar pake bahasa Inggris. 2) Bahasa Belanda mirip dengan bahasa Jerman. Dan bahasa Denmark juga mirip bahasa Jerman. So, kadang-kadang tanpa ngerti seluruh kalimat pun bisa ngerti artinya apa kalo orang ngomong. Walaupun seringnya ngeblank... 3) Gak kedengeran seksi, jadi gak tertarik untuk belajar serius.

Sebaliknya, saat pertama kali mengunjungi Italia di tahun 2010 (Bologna, dapet cheap flight Ryan Air cuman 20 Eur dari Weeze) saya langsung jatuh cinta dengan bahasa dan ampir segala sesuatu (terutama makanan, cuaca, dan karakter orang) tentang Italia.
Bisa dibilang mereka seperti bernyanyi ketika bicara.
Pesen kopi aja bisa jadi sesuatu yang romantis kalo diucapkan orang Itali : )

Bahasa Italia memang gak se-susah bahasa Prancis dalam pelafalan huruf/ kata. In fact, untuk orang Indonesia pelafalan bahasa Itali termasuk gampang.
Yang susah itu aturan grammar-nya. Mirip-mirip Prancis tapi ada yang bilang lebih susah.
Berbahagialah mereka mahasiswa kedokteran yang pernah belajar (sedikit) kata-kata Latin ketika kuliah. Karena bahasa Italia akarnya dari bahasa Latin juga.

Bagi mereka yang merasa belajar bahasa Inggris itu susah, maka mulailah untuk belajar bahasa lain yang aturannya lebih njelimet... bahasa Rusia mungkin, supaya ntar pas balik lagi belajar Inggris-nya pasti jadi berasa gampang banget.

Anyway,  sebelum melenceng lebih jauh dari judul ... berikut definisi dari Ignorant[adj.]: lacking knowledge or awareness in general.

And yes, it is normal being ignorant when one's went abroad.
Especially when they don't speak the same language.

Bahkan gak usah abroad, waktu saya PTT di Sumbawa aja (baru pindah pulau) orang setempat udah bisa ngata-ngatain saya di depan muka.
Simply because I didn't understand what they've said I didn't get mad or upset.

Ada beberapa keuntungan tentunya being ignorant di negri orang:

1) Kita gak ngerti apa yang orang laen omongin. Kadang kalo hal itu gak penting, maka seharusnya gak usah juga didengar.

Di Indonesia, banyak pembicaraan yang gak pengen saya dengar tapi mau gak mau terdengar.
Informasi gak penting seperti ini bisa jadi sampah emosional. Bikin kepikiran, tapi sebetulnya gak perlu dipikirin juga.

Omong-omong, bahasa Inggris punya 2 kata, hear and listen untuk dengar.
Yang kalo diterjemahkan bedanya cuman dikit. Hear: mendengar, listen: mendengarkan.

Selama di Milan, saya jadi jarang juga nonton TV yang isinya berita politik lokal. Walaupun aslinya saya peminat berita politik ketika di kampung halaman, baik lokal maupun internasional.
Informasi itu bisa jadi pedang bermata dua. Berguna dan juga bisa membawa petaka.
Jadi ada baiknya kalau kita gak ngerti bahasa setempat, mengurangi screen-time depan TV dan beban emosional untuk memikirkan masalah-masalah pelik di belahan dunia lain yang gak selalu relevan.

2) Beberapa hari yang lalu, kita abis dinner dan jalan kaki di seputaran Corso Buenos Aires (tempat shopping terkenal di Milan), ada seorang pria pake baju rapih dan jas doang (kita aja yang pake jaket masi kedinginan karena suhu 8 derajat Celsius) lagi duduk di pinggir jalan sambil pegang karton.
Saya tanya apa arti tulisan di karton yang dia pegang. Terjemahannya kurang lebih seperti ini: 
'Saya kehilangan pekerjaan dan punya 2 anak yang harus diberi makan'
Setelah itu saya jadi agak sedih. 
Kadang-kadang saya merasa dunia itu gak adil, karena selalu ada orang miskin, mereka yang kurang beruntung ...
Di Indonesia karena kita udah keseringan liat pengemis, anak jalanan, pengamen dst jadi mungkin malah kebal dengan perasaan kasihan. Malah saya sebel kadang, karena kepikiran koq ada orang tua yang tega-teganya membiarkan anak balita ngamen di jalanan, misalnya.

Tapi menginjakkan kaki di luar negri, terutama negara Eropa yang dianggap makmur, jadinya rasa kasihan itu muncul lagi.
Sempat penampakan gembel atau homeless jadi barang langka bagi saya selama tinggal di Kopenhagen. Sampe akhirnya saya short trip selama 1 minggu ke Budapest (Hongaria) dan penampakan itu kembali muncul. Langsung saya berteriak lagi (dalam hati tentunya, bukan di tengah kota Budapest) bahwa betapa tidak adilnya dunia ini.

Selama dua minggu di Milan, untuk pertama kalinya, tepatnya tiga hari yang lalu, saya menyaksikan seorang pengamen di metro. Seorang pria berumur pertengahan 40-an, tampang timur tengah dengan instrumen musik menyanyikan lagu berbahasa Italia, suaranya juga bagus (gak jelek-jelek amat pastinya). Dan sejauh mata saya memperhatikan gak ada seorang pun di dalam metro yang ngasi duit.
Suara hati saya membenarkan alasan tidak memberikan receh, karena: 'I totally didn't understand what he said.'

It's not always particularly beneficial for 'being ignorant' ... but at least we could forget temporarily that the world is an unfair place somewhere....



 

No comments: