Saturday, January 14, 2012

Book Review :: The art of war for women

Akhir tahun lalu saya membeli dua buku yang sebenernya dipilih secara random hanya karena alasan murah (harganya cuman 15rb-an) pas Gramedia end year sale di PvJ.
Bukannya saya gak mau beli buku yang mahal, tapi memang akhir akhir ini saya cenderung memilih untuk koleksi e-book demi keberlangsungan bumi kita (cieh cieh), kecuali . . . dengan alasan buku tersebut memang bermanfaat dan bisa dipinjamkan ke orang lain.

Salahsatu dari dua buku yang saya beli itu berjudul 'The Art of War for Women'.
Bukan 'seni berperang' yang sesungguhnya yang diulas dalam buku ini, walaupun naskah aslinya (ditulis oleh Sun Tzu) memang dimaksudkan untuk memenangkan strategi perang saudara yang berlangsung di Cina lebih dari 2500 tahun yang lalu.

Isinya filosofi untuk 'meraih kemenangan dalam karier dan kehidupan' yang memang diadaptasi dari strategi perang Sun Tzu sehingga sesuai dengan kebutuhan dan tantangan wanita jaman sekarang.

Surprisingly, ini buku ternyata bagus dan menarik banget. Juga relevan ketika dibaca di awal tahun dimana kita biasanya punya banyak resolusi yang ingin dijalankan.

Dikatakan ada beberapa prinsip yang utama dalam meraih kemenangan (karena jaman sekarang kita tidak lagi berperang, jadi kemenangan yang dimaksud adalah ketika mendapat tantangan dalam berkarier, berkeluarga atau menjalani kehidupan pada umumnya):
Salahsatu prinsip yang disebut pertama dan yang terpenting adalah 'Tao' yang bisa diartikan 'sang jalan, kebenaran, moralitas'.

Maksud dari prinsip ini adalah, jika tujuan awal kita selaras dengan Tao (segala sesuatu yang benar, baik, sesuai dengan moral) maka sebenarnya kesuksesan sudah ada di pihak kita.
Sebaliknya, jika tujuan kita melakukan sesuatu tidak selaras dengan Tao maka kemalangan/ kerugian lah yang akan berpihak.

Contohnya adalah orang yang ingin mengambil keuntungan secara cepat dengan cara menipu orang lain, atau menjual produk yang kualitas buruk untuk meraup keuntungan besar - maka ini bertentangan dengan Tao dan selayaknya tidak akan sukses (dalam waktu lama).

Oleh karena Tao tidak dapat dihalangi atau disembunyikan (kebenaran itu selalu muncul pada akhirnya) maka motivasi awal kita penting untuk menentukan berhasil atau tidaknya dalam memulai suatu karir atau bisnis.

Prinsip lain yang disebutkan dalam buku ini adalah 'Tien' (penempatan waktu, momentum).

Momentum atau waktu yang tepat merupakan poin penting dalam 'berperang'.
Seorang jendral yang berpengalaman tau kapan waktu untuk menyerang, bertahan atau berdiam (saat berdiam kita juga biasanya memikirkan strategi yang lebih baik).

Perusahaan yang akan meluncurkan suatu produk baru juga perlu memperhatikan prinsip 'Tien' ini.

Produk yang terlalu cepat diluncurkan misalnya, mungkin mempunyai keuntungan untuk meraih pasar terlebih dulu tapi mempunyai tantangan dalam merebut kepercayaan konsumen.
Sebaliknya produk yang diluncurkan belakangan bisa meraih keuntungan dari animo pasar yang sudah terbentuk sebelumnya, walaupun berarti memiliki lebih banyak kompetitor juga.

Selain soal penempatan waktu, ada suatu bahasan juga dalam buku ini yang mengingatkan tentang siklus pergantian waktu (musim gugur digantikan musim dingin, musim dingin digantikan musim semi, dan seterusnya).

Sama seperti 'ups and downs' yang alamiah juga terjadi dalam fase kehidupan manusia.

Kebanyakan orang mendapatkan hal terbaik dalam hidupnya (kekuatan, pengharapan, cinta kasih, inspirasi, solusi, inovasi) justru pada saat sedang berada dalam fase 'down'.
Mereka yang memasuki fase 'down' mendapat kesempatan untuk berefleksi, berkontemplasi, dan menyusun strategi untuk kehidupan yang lebih baik.


~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ *



summer in Manarolamusim panas di Manarola (IT)

Dulu saya pernah berpikir bahwa musim panas adalah musim favorit saya selama di Eropa, tapi ternyata tiap musim punya keindahannya tersendiri.

Musim gugur ternyata bisa indah juga saat pohon-pohon mengalami pergantian warna daun dari hijau, ke kuning, lalu menjadi jingga kemerahan.

Suhu udara yang tidak terlalu panas dan belum terlalu dingin di awal musim dingin untuk saya juga membawa kenyamanan tersendiri, terutama kalau kita senang bersepeda.


autumn in Berlinmusim gugur di Berlin (DE)

Kalau saya punya kesempatan untuk kembali lagi ke Italia, sepertinya awal/ pertengahan musim gugur adalah waktu yang tepat untuk mengeksplor negara penuh keindahan ini.
Soalnya, kalau musim panas ternyata suhu di Roma (juga di kota bagian selatan) bisa ekstrem banget sampe 40 derajat Celsius, bikin mau pingsan aja pas jalan-jalan . . . .

Musim dingin atau musim salju juga bisa terlihat indah (kalau pas turun salju dan semuanya terlihat putih, kaya di gambar-gambar kartu pos) dan juga bisa terasa sangat menyebalkan kalau yang ada cuman hujan terus-terusan dan angin gede (seperti pengalaman saya di Belanda, negri kincir angin).

Salju yang turun terlalu ekstrem sampai menyebabkan badai juga bisa mengganggu transportasi publik, akhirnya jalur tram terkubur, juga jalur kereta (train) antar kota terganggu, juga mobil pribadi tidak bisa beroperasi kalau salju terlalu parah menutupi jalan.
Belum juga jadwal penerbangan yang kacau gara-gara landasan terbang yang licin sehingga banyak flight tertunda.

winter in diemenmusim dingin di Amsterdam (NL)

Musim semi bisa dibilang jadi musim terfavorit banyak orang, juga menjadi favorit saya setelah merasakan ke-empat musim di Eropa.

Terutama setelah mengalami musim dingin yang panjang dan menyebalkan di negara Eropa bagian utama, rasanya kehangatan musim semi benar-benar jadi suatu anugerah.

Belum lagi pemandangan bunga-bunga yang bermekaran, dari segala sesuatu yang tadinya cuman abu-abu jadi penuh warna.

spring in Budapestmusim semi di Budapest (HU)

Sama juga seperti fase kehidupan manusia, ada saatnya kita penuh kebahagiaan, dikelilingi oleh teman, sahabat, keluarga atau orang-orang yang kita sayangi.
Ada juga saatnya kita merasakan kesedihan dan kesendirian.
Kedua-duanya bisa jadi pembelajaran buat kita, karena kita tau apa itu kebahagiaan saat kita mengetahui apa itu kesedihan.

Juga ada saatnya aktivitas kita penuh kesibukan, karir meningkat pesat, bos kita bergantung pada kerjaan kita dst.
Tapi juga ada saatnya kita perlu berdiam diri dan beristirahat, dan juga memikirkan apakah yang kita lakukan selama ini adalah memang hal yang kita inginkan, atau kita hanya ingin sekedar sibuk tanpa tahu apa yang ingin kita raih kedepannya.

Sama seperti beruang salju yang perlu tidur beristirahat selama masa musim dingin untuk mendapatkan kekuatannya, manusia juga tidak bisa terus menerus bekerja tanpa beristirahat.


~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~

Kembali ke Indonesia membuat hati nurani dan rasa sosialku kembali terasah.
Setelah sekian lama tinggal di negeri orang dimana segala sesuatu tampaknya sempurna dengan adanya sistem jaminan sosial masyarakat dari pemerintahnya-
Indonesia terlihat sebagai sebuah negara yang sebenernya kaya tapi berwajah miskin, milik segerombolan orang yang menjunjung kapitalisme.

Disinilah ada tukang batu yang umurnya 60 tahun lebih dengan gaji kurang dari 3 US dolar per hari sementara ada juga artis kaya umur 30 tahun memiliki koleksi tas bermerk seharga 3000 US dolar (per buah).
Ironis bukan?

Entah dimana rasa sosialisme kita, pastilah hilang di suatu tempat karena tayangan sinetron kita pun dibanjiri dengan rasa kapitalisme dimana mereka yang kaya dan bergelimang harta pasti bahagia.

Oke, memang ini sedikit ngelantur . . . dari review buku, lalu pergantian musim, dan sekarang protes soal keadilan.

Biarlah . . . namanya juga blog pribadi toh.

Balik lagi ke kontemplasiku soal Indonesia dan rasa keadilan.

Kembali ke negri sendiri setelah merasakan gimana enaknya (dan tidak enaknya) di negri orang bikin saya sadar kalau disinilah ada banyak peluang untuk membuka usaha.

Contohnya, membuka bisnis makanan diluar negri tidaklah mudah.
Ada aturan yang ketat soal standar kualitas makanan yang aman untuk dikonsumsi orang banyak.
Itulah sebabnya saya rasa pikset Ma Icih biarpun populer setengah mati di Bandung rasanya gak akan diimpor menembus pasar Eropa atau Amerika Serikat (yang ketat dengan Food & Drug Administration-nya).

Standar gaji pegawai yang rendah di Indonesia, juga menyebabkan banyak orang berwirausaha-
belum lagi disini tidak selalu disediakan jaminan asuransi kesehatan bagi pegawai.
Sehingga ini juga membuka peluang bagi provider/ penyedia layanan asuransi (baik dari pemerintah atau pihak swasta).

Tentunya, bisnis dokter/ kesehatan selalu menarik dimana tidak ada jaminan asuransi kesehatan dari negara.
Tarif dokter bisa dipatok sesukanya, tergantung apakah dokter tersebut populer/tidak, spesialis/tidak, letak praktek strategis/tidak- karena toh sistem user fees (pasien keluar duit sendiri kalau berobat) sesungguhnya memang sangat menguntungkan untuk penyedia layanan kesehatan.

Makin banyak orang sakit, semakin diuntungkanlah sebenarnya provider kesehatan.

Apa hubungan nya semua ini dengan book review The Art of War yang saya tulis sebelumnya?

Sederhana saja, sekarang saya ada di pihak promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
Inilah perubahan siklus dalam kehidupan saya, setelah mengalami hibernasi (proses akademis di negeri orang), keluar dari zona kuratif yang nyaman dan menguntungkan bagi seorang dokter.

Saya ada di sisi mereka yang tidak mampu mengeluarkan duit untuk berobat tapi berhak untuk mendapat informasi bagaimana menjaga kesehatan.

Kata teman saya, 'Kalau kamu tidak suka mengambil duit dari orang miskin, jadi Robin Hood saja. Jadilah dokter untuk orang kaya, supaya duit kamu bisa membantu orang miskin.'
(I still think it's unfair but maybe he's kinda right).




No comments: