Showing posts with label Italia. Show all posts
Showing posts with label Italia. Show all posts

Monday, February 2, 2015

those skinny feet that took me everywhere

Gak semua yang dibilang orang ke kita itu pasti benar.

Ini kesimpulan yang saya ambil sejak usia dini.

Dulu banget, tentunya sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya, orangtua jadi referensi tentang dunia ini. Apa apa yang kita gak ngerti pasti kita tanyain ke ibu/ayah atau mama/papa sebagai sumber informasi primer.

Dulu banget juga, saya yakin orang tua banyak mengajarkan hal-hal yang memang benar adanya. Tapi ada juga informasi yang kurang akurat atau bahkan 'kebohongan' yang mereka sampaikan ke anak-anaknya.

Salah satunya tentang Sinterklas.

Sampe umur 10 tahun lebih, saya percaya luar dalam bahwa Sinterklas memang benar-benar ada. Dan mereka bakal kasih kado ke anak-anak yang baik kelakuannya di akhir tahun.

Sehingga tiba saat dimana fakta yang sebenarnya terungkap… maka dunia pun serasa gempa sesaat. Ternyata… orangtua yang saya percaya selama ini tega membohongi anaknya sendiri.

Maka sejak usia dini saya pun memutuskan bahwa orangtua bukan lah (selalu) jadi sumber informasi yang dibutuhkan.
Beruntungnya, saya tidak pernah merasakan kekurangan sumber bacaan seperti buku, majalah, ensiklopedia ataupun media pertukaran informasi lainnya di masa kecil.

Setelah dewasa (FYI kedewasaan saya dimulai pada umur 18 tahun, saat resmi menjadi mahasiswa semester pertama fakultas kedokteran) banyak informasi yang saya butuhkan tidak lagi berasal dari kata-kata orang tua. Terutama karena pengalaman sebelumnya membuktikan bahwa mereka kadang-kadang (sengaja atau tidak) memberikan saya informasi yang salah.

Salah satunya yang dulu sering saya dengar:

'Orange bule itu jarang mandi, badannya bau keju.'

Sampe sekarang nenek dari pihak ibu saya pun masih suka meng-indoktrinasi dengan pemikiran serupa.

Pernyataan tersebut, kalau ditelaah lebih jauh dari kacamata peneliti sosial demografik misalnya:

'Orang bule yang mana?'
Apakah bule asal Eropa, Amerika, atau Australia.

Kalau yang dimaksud bule asal Eropa, Eropa belah mana?
Apakah orang Belanda, dimana nenek saya memang familiar dengan kebiasaan mereka yang jarang mandi (terutama saat musim dingin).
Atau orang bule Prancis yang memang menurut survey paling jarang ganti underwear dibandingkan cowo asal negara-negara lainnya di daratan Eropa.

Pernyataan diatas bisa dibilang entah terlalu meng-generalisasi, terlalu cepat mengambil kesimpulan, atau hanya prejudice semata.
Entahlah….

Tapi bisa dibilang pernyataan serupa muncul di belahan dunia mana pun.

Saat saya di Belanda, orang lokal punya prejudice sendiri tentang negara tetangga si orang Jerman. Temen-temen bule Belanda di kelas saya juga suka mengeluarkan pernyataan yang sedikit melecehkan tentang orang asal Belgia.

Di Belgia, temen bule saya menyinggung tentang negara Prancis yang mencuri 'Patat Vries' mereka dan menggantinya dengan nama 'French fries'.
Mereka yang di Prancis Utara bilang orang yang tinggal di Prancis Selatan lebih santai, tukang bermalas-malasan dst.
Lalu saat tinggal di Prancis Selatan, orang lokalnya membenci mereka yang berasal dari Prancis Utara (terutama dari kota besar seperti Paris) karena dianggap sombong, tidak sabaran, tidak mengerti kultur selatan yang ramah, penuh toleransi and so on.

Jadi, being a bit here, there and everywhere mengajarkan saya untuk tidak selalu percaya akan pernyataan pertama yang saya dengar ketika tiba di suatu daerah.

Atau in general, gak gampang percaya sama apa pun yang pernah kita dengar sebelumnya.

Mereka yang lebih tau duluan tentang suatu hal, bukan berarti mereka pasti benar.
Lagian ilmu pengetahuan aja selalu berubah… Contohnya orang jaman dulu percaya kalo bumi itu datar.
Dan ilmuwan pertama yang bikin pernyataan kalau bumi itu bulat langsung mendapat pertentangan dari pihak yang berkuasa (termasuk gereja, yang saat itu mengkategorikan sebagai ajaran sesat).

A bit skeptical and critical itu penting juga koq. Apalagi untuk spesies kita.
Itulah yang membedakan homo sapiens dengan makhluk bertulang belakang lainnya.
Secara proporsional, ukuran otak kita mungkin masih kalah dengan dolfin, mamalia dengan kecerdasan tinggi lainnya yang populasinya berkurang (bahkan terancam) karena keberadaan manusia.
Fortunately bukan ukuran otak (semata) yang menentukan kecerdasan, tapi lipatan-lipatan gyrus-nya. Dalam bahasa yang lebih dimengerti: Semakin sering kita menggunakan otak, akan semakin terasah kemampuannya.

Critical thinking, inevitably adalah bagian dari proses otak untuk terus berkembang.
Kebalikannya dari indoktrinasi.

Menerima mentah-mentah sebuah informasi tanpa mempertanyakan keabsahannya sungguh bertentangan dengan proses normal otak yang sehat.
Tapi tentu aja ada sebagian orang yang diuntungkan dengan teknik indoktrinasi.
Di filem-filem maupun kehidupan nyata, umumnya bila sebuah pihak ingin berkuasa (atau berniat melanggengkan kekuasan) maka kebebasan berpikir adalah haram adanya.

Indoktrinasi tentunya penting bagi kekuasaan absolut.
Mau contoh?
Liat aja Korea Utara. Di situ ada indoktrinasi dalam level ekstrim.

Contoh yang gak terlalu ekstrim adalah anggapan sebagian bangsa Indonesia yang berpikir bahwa pemimpin mesti berpostur tinggi, tegap, gagah, tegas dengan latar belakang militer.
(Dan bukannya ceking, kurus, tampang ndeso, dari rakyat sipil).

Psikoanalisisnya?
Karena bangsa kita adalah bangsa yang pernah terjajah.
Terjajah selama 350 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Dan penjajahan itu masih menyisakan rekaman mental, bahwa postur orang Belanda (yang cenderung tinggi, tegap, karena diet mereka yang tinggi protein) lebih cocok memimpin dibanding rakyat pribumi (yang cenderung kurus, kering, karena kurang gizi dan kerja paksa).

Jadi revolusi mental memang diperlukan.
Terutama bagi mereka dengan 'mental terjajah'.

Yang kita kira benar selama ini: Pemimpin terlahir dengan figur tertentu, tinggi, tegap dan gagah seperti SBY (yang sempat) jadi idola kaum wanita* selepas pemilu 2004 lalu.
* Sayangnya penulis tidak termasuk dalam golongan mereka yang mengidolakan beliau.

Kenyataannya: Mereka yang berjiwa pemimpin tidak mempunyai kriteria fisik tertentu. Contohnya Suryadi Suryaningrat, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan banyak orang pribumi Nusantara bertampang ndeso lainnya ternyata mampu membawa perubahan signifikan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Maka pesan penutup dalam tulisan ini adalah: Gak semua yang dikatakan orang itu benar. Terutama kalau orang yang jadi referensi kita adalah mereka yang telah berhenti belajar. Atau mereka yang berguru pada ilmu yang outdated.

Hidup ini cuman sekali. Mungkin kita ada disini agar kita mampu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hidup.

You have mouth, you can ask.
You have eyes, you can read.
You have brain, you can think.
You have time, you can travel.

Camogli, Liguria (IT) autumn 2011

PS. And no, Denmark should not considered as one of the happiest places on earth.


Malapascua, Cebu (PH) summer 2012
Wadi Rum (JO) spring 2014
St. Cergue (CH) winter 2015
milano 02.feb.2015

Sunday, January 25, 2015

.: The Art of Being Ignorant :. Milano - Gennaio 2015 [parte uno]

Tadinya tulisan ini mau saya kasi judul 'The advantage of being ignorant' ... tapi secara prinsip, lebih banyak mudarat-nya menjadi 'ignorant' daripada manfaatnya.

Seengga-engga itu yang saya rasakan selama tinggal 12 hari di Milan.

Dan perjalanan ke-sekian kalinya ke Milan tentunya bukan perjalanan traveling seperti biasanya.
Tapi lebih menjurus ke hubungan antarpersonal... yang... sepertinya gak usah diceritakan lebih jauh *ehem*

Jadi orang asing di negeri orang bukan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya pernah tinggal beberapa bulan di Belanda, Denmark, dan juga sempat meng-eksplor sejumlah negara baik di Eropa maupun sekitaran Asia.
Biasanya ada kosa kata tertentu yang akan saya pelajari, seperti 'Terima kasih', 'Maaf', 'Halo/ Selamat pagi' dst saat berpindah ke negara baru.

Mempelajari bahasa asing juga bagi saya sesuatu yang menarik dan bukan beban. Dari kecil saya memang familiar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Lalu sempat mempelajari bahasa Jepang selama SMU. Bahasa Jerman dan bahasa Prancis saat beberapa tahun silam. Dan sekarang bahasa Italia masuk ke dalam daftar. 

Saat tinggal di Belanda dan Denmark, saya memang tidak terlalu berusaha untuk mempelajari bahasa setempat karena ... 1) orang sana ampir semuanya ngerti bahasa Inggris. Bahkan tukang sapu jalan pun bisa diajak berkomunikasi pake Inggris. Mungkin cuman orang Belanda asli yang uzur banget gak familiar pake bahasa Inggris. 2) Bahasa Belanda mirip dengan bahasa Jerman. Dan bahasa Denmark juga mirip bahasa Jerman. So, kadang-kadang tanpa ngerti seluruh kalimat pun bisa ngerti artinya apa kalo orang ngomong. Walaupun seringnya ngeblank... 3) Gak kedengeran seksi, jadi gak tertarik untuk belajar serius.

Sebaliknya, saat pertama kali mengunjungi Italia di tahun 2010 (Bologna, dapet cheap flight Ryan Air cuman 20 Eur dari Weeze) saya langsung jatuh cinta dengan bahasa dan ampir segala sesuatu (terutama makanan, cuaca, dan karakter orang) tentang Italia.
Bisa dibilang mereka seperti bernyanyi ketika bicara.
Pesen kopi aja bisa jadi sesuatu yang romantis kalo diucapkan orang Itali : )

Bahasa Italia memang gak se-susah bahasa Prancis dalam pelafalan huruf/ kata. In fact, untuk orang Indonesia pelafalan bahasa Itali termasuk gampang.
Yang susah itu aturan grammar-nya. Mirip-mirip Prancis tapi ada yang bilang lebih susah.
Berbahagialah mereka mahasiswa kedokteran yang pernah belajar (sedikit) kata-kata Latin ketika kuliah. Karena bahasa Italia akarnya dari bahasa Latin juga.

Bagi mereka yang merasa belajar bahasa Inggris itu susah, maka mulailah untuk belajar bahasa lain yang aturannya lebih njelimet... bahasa Rusia mungkin, supaya ntar pas balik lagi belajar Inggris-nya pasti jadi berasa gampang banget.

Anyway,  sebelum melenceng lebih jauh dari judul ... berikut definisi dari Ignorant[adj.]: lacking knowledge or awareness in general.

And yes, it is normal being ignorant when one's went abroad.
Especially when they don't speak the same language.

Bahkan gak usah abroad, waktu saya PTT di Sumbawa aja (baru pindah pulau) orang setempat udah bisa ngata-ngatain saya di depan muka.
Simply because I didn't understand what they've said I didn't get mad or upset.

Ada beberapa keuntungan tentunya being ignorant di negri orang:

1) Kita gak ngerti apa yang orang laen omongin. Kadang kalo hal itu gak penting, maka seharusnya gak usah juga didengar.

Di Indonesia, banyak pembicaraan yang gak pengen saya dengar tapi mau gak mau terdengar.
Informasi gak penting seperti ini bisa jadi sampah emosional. Bikin kepikiran, tapi sebetulnya gak perlu dipikirin juga.

Omong-omong, bahasa Inggris punya 2 kata, hear and listen untuk dengar.
Yang kalo diterjemahkan bedanya cuman dikit. Hear: mendengar, listen: mendengarkan.

Selama di Milan, saya jadi jarang juga nonton TV yang isinya berita politik lokal. Walaupun aslinya saya peminat berita politik ketika di kampung halaman, baik lokal maupun internasional.
Informasi itu bisa jadi pedang bermata dua. Berguna dan juga bisa membawa petaka.
Jadi ada baiknya kalau kita gak ngerti bahasa setempat, mengurangi screen-time depan TV dan beban emosional untuk memikirkan masalah-masalah pelik di belahan dunia lain yang gak selalu relevan.

2) Beberapa hari yang lalu, kita abis dinner dan jalan kaki di seputaran Corso Buenos Aires (tempat shopping terkenal di Milan), ada seorang pria pake baju rapih dan jas doang (kita aja yang pake jaket masi kedinginan karena suhu 8 derajat Celsius) lagi duduk di pinggir jalan sambil pegang karton.
Saya tanya apa arti tulisan di karton yang dia pegang. Terjemahannya kurang lebih seperti ini: 
'Saya kehilangan pekerjaan dan punya 2 anak yang harus diberi makan'
Setelah itu saya jadi agak sedih. 
Kadang-kadang saya merasa dunia itu gak adil, karena selalu ada orang miskin, mereka yang kurang beruntung ...
Di Indonesia karena kita udah keseringan liat pengemis, anak jalanan, pengamen dst jadi mungkin malah kebal dengan perasaan kasihan. Malah saya sebel kadang, karena kepikiran koq ada orang tua yang tega-teganya membiarkan anak balita ngamen di jalanan, misalnya.

Tapi menginjakkan kaki di luar negri, terutama negara Eropa yang dianggap makmur, jadinya rasa kasihan itu muncul lagi.
Sempat penampakan gembel atau homeless jadi barang langka bagi saya selama tinggal di Kopenhagen. Sampe akhirnya saya short trip selama 1 minggu ke Budapest (Hongaria) dan penampakan itu kembali muncul. Langsung saya berteriak lagi (dalam hati tentunya, bukan di tengah kota Budapest) bahwa betapa tidak adilnya dunia ini.

Selama dua minggu di Milan, untuk pertama kalinya, tepatnya tiga hari yang lalu, saya menyaksikan seorang pengamen di metro. Seorang pria berumur pertengahan 40-an, tampang timur tengah dengan instrumen musik menyanyikan lagu berbahasa Italia, suaranya juga bagus (gak jelek-jelek amat pastinya). Dan sejauh mata saya memperhatikan gak ada seorang pun di dalam metro yang ngasi duit.
Suara hati saya membenarkan alasan tidak memberikan receh, karena: 'I totally didn't understand what he said.'

It's not always particularly beneficial for 'being ignorant' ... but at least we could forget temporarily that the world is an unfair place somewhere....



 

Wednesday, January 25, 2012

[bukan] cerita cinta :: bagian dua ::

cerita ini lanjutan dari tulisan yang judulnya

jadi buat yang udah baca sebelumnya . . . ini dia kelanjutannya . . .


Ada satu destinasi yang sebenernya gak seriusan gw rencanakan tapi berakhir sangat berkesan dan exceptional, yaitu pas ke Genoa, kota pelabuhan di Italian Riviera (daerah selatan sebelah barat, berbatasan dengan Prancis) 
Dari sini juga asal pelaut Christoforus Colombus (nama aslinya dalam bahasa italia= Christoforo Colombo) yang pernah menjelajah berbagai benua termasuk Amerika.

Host gw yang di Firenze bilang sebenernya gak ada apa-apa di Genoa kecuali kapal-kapal punya orang kaya di pelabuhan (dan dia bilang mending dilewat aja).

Owya, sebenernya waktu di Firenze sebenernya gw pengen stay lebih lama tapi ternyata pas mau booking hostel/hotel semuanya udah penuh.
Karena summer holiday jadi susah banget nyari kamar kosong, penuh sampe 1-2 minggu ke depan! Akhirnya gw cuman stay tiga hari dan kepaksa cabut lebih awal.

Akibatnya gw malah nyampe ke Genoa lebih awal dari yang direncanakan.
Selaen itu host pas disana setelah dikontak juga bilang gada masalah dengan kedatangan gw yang lebih awal dari jadwal.
Dia bakal jemput gw nanti kalo udah nyampe train station di Genoa, katanya.
(baik ya?)

Kalo gw liat profil-nya di CS sih gak banyak yang bisa diceritain/ Orangnya keliatan juga suka traveling tapi lebih ke explore alam e.g. gunung, lokasi taman konservasi (dari poto-potonya).
Tampangnya sih lumayan, yang pasti keliatan Italian banget  :-)

Dari awal pun gw bisa bilang kalo cowo ini hatinya baik, dia nawarin kalo butuh info apapun soal Italia boleh nanya ke dia (dan sebenernya semua bisa di-gugel jaman sekarang).
Untuk pertama kalinya selama ngetrip sendirian di luar negri ada orang yang baru  dikenal mau jemput pas gw nyampe di train station.
Ternyata . . . . selain orangnya baek dia lumayan good looking dengan sepasang mata hijau yang bagus banget kaya boneka (hehehe... kesannya koq jadi gak gagah), hidungnya juga  mancung kaya patung Yunani.
Badannya sih gak terlalu tinggi tapi kenceng berotot karena dia suka maen sepak bole. Tinggi badannya sekitar 6 kaki (pas gw nanya ternyata 'cuman' 177 cm, tapi teteup aja berasa tinggi soalnya gw mungil seperti Cleopatra... :-)

Kita sebut aja si cowo charming seperti aktor film Italia klasik ini dengan nama M.
Malem pertama gw nyampe Genoa ini langsung gw 'diculik' dia ke daerah deket pantai sekitar 1 jam dari situ namanya Camogli.

It was indeed a breathtaking place.

Lalu gak jauh dari situ ada kios yang jual es krim alias Gelatteria.
Sejujurnya gw belom makan malem waktu itu dan udah lewat waktu makan malem (skitar jam 11 malem waktu gw nyampe train station Principe di Genoa) jadi gw menolak tawaran untuk beli gelatto.
Agak menyesal juga sih, karena pas nyobain beberapa suap dari M ternyata itu salah satu es krim paling enak yang pernah gw coba!

Berkesan banget buat gw malem itu, karena multiple combined factors;
cuacanya pas lagi bagus (walau malem hari tapi gak terlalu dingin), pemandangannya indah, temen jalannya juga menyenangkan, dan pembicaraannya juga menarik.

Kebanyakan orang-orang yang gw temui sepanjang perjalanan selalu menarik, in a way mereka enak diajak ngobrol (kecuali 1 cowo Australi yang gw kenal selama di Stokholm. Yang gak terlalu nyambung ngobrolnya).

Tapi M ini sangat exceptional buat gw karena selain ngobrolnya nyambung personality-nya berasa 'hangat' (mungkin karena dia juga orang Italia yang secara umum emang lebih hangat daripada orang di utara).

Bahasa Inggris dia gak terlalu lancar dan pronunciation-nya kadang gak jelas plus aksen Italia kental, yang somehow bikin jadi lebih seksi!
Dia juga punya banyak cerita lucu dan walaupun kadang suka keliatan sedikit keeping a distance di awal tapi lama-lama mencair juga (terutama setelah 1-2 gelas wine  :-)
Ow yah, he was indeed preparing a dinner for me the night after.
 
M nanya apakah mau nyoba masakan dia (lagian gw gak pernah nolak kalau ada cowo yang nawarin untuk masak) lalu dia bikin pasta pake anchovy, yang ternyata enakkk banget!

Besokannya gw gantian nyoba bikin nasi goreng tapi gagal. Hiks.
Kata M sih nasi gorengnya enak dan tetep dia abisin (tapi gw yakin dia bilang itu cuman supaya gw gak kecewa).

Selama 4 hari yang menyenangkan gw tinggal di Genoa lebih lama dari yang direncanakan.
Rasanya jadi berat banget mesti cabut dari kota ini :'(
Tapi the trip must go on, even for me it's so natural to say goodbye these days . . . unfortunately it always harder when you get along with someone you just met.

Beberapa bulan setelah kunjungan gw ke Genoa, akhirnya gw memutuskan untuk balik lagi di bulan September- alasan utamanya karena gw homeless- apartement di Kopen udah beres kontraknya sejak awal Agustus, tapi gw masi harus stay di eropa karena ada konfrens di Barcelona pas awal Oktober.

In short words, I stayed here and there in different places (or countries) for 2 months.

Kesannya sih menyenangkan, pindah-pindah ke beberapa kota di Eropa dengan alasan gak punya tempat tinggal tetap.

Ada gak enaknya, itu pasti. Enaknya juga ada.
Yang pasti karena keadaan gak punya tempat tinggal tetap ini akhirnya gw memutuskan untuk balik aja ke Genoa, then again setelah nanya M juga gak keberatan.
Soalnya dia punya kamar kosong (yang emang dipake khusus untuk tamu), dan dia juga jomblo (dia bilang keadaan gak memungkinkan untuk punya pacar karena dia terlalu sibuk sama kerjaan).
Hehe... Sebenernya gak ada hubungan dengan dia punya kamar kosong dan status kejombloan dia.

Yang bikin gw memutuskan untuk nebeng di tempat dia, karena optimis aja  bahwa cowo yang hatinya baik seperti setengah malaikat ini bakal membuka rumahnya untuk cewe homeless dari negara dunia ketiga.

Lagian gw coba untuk gak merepotkan dia selama tinggal disana, nawarin untuk belanja barang-barang keperluan sehari-hari, beberes rumah (dia udah punya housemaid juga yang dateng seminggu sekali), dan masak dinner (lebih seringnya dia order pizza). Hmmm kalo dia order pizza gw suka ikutan minta juga, abis pizza a la Italia itu kulitnya tipis, crunchy, isi atasnya penuh, jauh lebih enak daripada pizza a la US yang tebel. Poko gak rugi deh jauh-jauh ke Italia untuk nyobain pizza....heuheuheu.

Jauh di dalem hati gw, sebenernya pengen banget bawa pulang cowo kaya gini untuk calon menantu buat mamah gw.
Apa daya bagasi SQ jatahnya cuman 20 kgs, jadi gak bisa bawa barang banyak-banyak apalagi bawa cowo.

Selaen penampilan fisiknya yang menarik, M juga humanitarian.
Dia pengen suatu saat bisa tinggal dan kerja volunteer buat anak-anak di Afrika (kalo udah gak butuh duit, katanya).

Owya, karena dia juga traveler dan explorer,  kadang kita suka ngobrol ngalor ngidul soal tempat-tempat yang pengen kita kunjungi suatu saat di masa depan.
Gw juga boleh dapet akses ke foto-foto hasil dia traveling ke beberapa tempat di Amerika Selatan dan Afrika (lalu dibajak, gw bilang siapa tau suatu saat mau buka pameran foto :-)

Kita juga sama-sama pecinta binatang. 
Kalau bisa reinkarnasi dia mau terlahir lagi sebagai elang, sedang gw mau terlahir kembali sebagai lumba-lumba.
Wah sayang sekali kita gak berada dalam medium yang sama.

Air dan Udara.

(Sebenernya gw juga gak keberatan kalau terlahir kembali sebagai elang, karena gw juga seneng terbang pake pesawat tapi gw gak suka makan ular.
Dulu waktu SD kita belajar tentang piramida makanan, elang itu makanannya ular kan? Atau kalau reinkarnasi mungkin gw bisa jadi elang pertama yang diet vegetarian).

Tapi untungnya di dunia sekarang kita masih sama-sama hidup di darat.

Dua hari sebelum cabut dari Genoa, gw berpikir mau ngasi sesuatu buat M.
For he's been really nice to me and he has cured my heart.
Lewat dia, gw jadi bisa belajar lagi bahwa ada juga cowo di dunia ini yang bisa dipercaya dan juga percaya sama gw.
Akhirnya gw beliin dia novel The Alchemist karangan Paulo Coelho (dalam bahasa Italia, tentunya).

Waktu M nganterin gw ke airport, gw berusaha sekuat tenaga supaya gak nangis atau bertampang sedih karena mesti meninggalkan Genoa dan host gw yang udah taking care of me very well

Dan gw juga gak mau say goodbye.
Instead, gw bilang kalo kapanpun dia mau maen ke Indonesia pasti akan selalu diterima dengan tangan terbuka. 
Siapatau juga kita bakalan ketemu di salahsatu lokasi travel destination kita di masa depan. 

Life has take me unexpectedly to places I have never imagined before.
I might never know will I ever see him again in the future.
But even for a short moment, he has been a blessing to my life
.

Grazie mille.



PS. gw juga sempet bikin video (dan diaplot) di youtube yang intinya tentang cerita kenapa hati gw ketinggalan di genova (cieh). tapi gak gw embedded disini. buat yang mau liat silakan buka link-nya langsung aja ya
disini 

Sunday, January 22, 2012

[bukan] cerita cinta :: bagian satu ::

Tulisan ini untuk beberapa orang (temen-temen gw) yang menanyakan apakah gw pernah 'deket' sama cowo laen (selaen ex bf) selama gw tinggal di luar.
Sebelumnya gw mau bilang kalau sebenernya agak tidak nyaman kalau harus ngebahas masalah personal kaya gini, baik in public (ditulis dalam bLog pula) maupun kalo face-to-face interview (yup, temen-temen gw curious banget soal ini, apalagi stelah gw putus pas awal taun kemaren).

Tapi stelah gw melewati fase broken heart, fall in love, separation etc dan berkontemplasi, juga dapet mimpi aneh . . . akhirnya gw berkesimpulan apa pun yang terjadi dalam hidup biarlah menjadi pembelajaran.
Baik untuk gw sendiri, dan siapatau juga berguna untuk orang lain.
Layaknya sebuah pelajaran, seperti pengalaman, gak ada salahnya kalau dibagikan.

So here the story goes. . . .

Dimulai dari awal taun 2011 pas gw putus sama bf (alasannya rahasia deh, poko qta uda ngebicarain sblum putus, intinya putus baik-baik, at least dari pihak gw).
Stelah putus pun walaupun gw sedih dan merasa kehilangan tapi tuntutan akademis di kuliah bikin gak bisa murung dan galau kelamaan.
Lagian temen-temen gw di Kopen biarpun jumlahnya dikit yang deket banget tapi mreka baek, kita mayan sering ketemuan kalau weekend dan curhat.
Ada dua yang paling deket sama gw di kelas, A cewe asal Aussie tapi udah lama tinggal di London, sama satu lagi MB cewe asal Norwegia.

Lalu di bulan Januari itu juga, gw masuk kelas persiapan untuk nulis thesis.
Soalnya memang rencananya spring kita harus mulai cari data (atau collecting data) dan summer harus udah submit thesis.
Aje gile poko timetable-nya . . . mepet banget sampe kadang gw berasa ketar-ketir gimana kalo thesis sampe gak beres gara-gara tight schedule banget. Gak mau deh pokonya tinggal lebih lama dari yang direncanakan cuman buat ngurusin thesis, mending kalo buat jalan-jalan mah.
Tapi kata coordinator program (dia orang Filipino yang helpful) encourage kalau kebanyakan studen biasanya berhasil lulus walaupun dengan jadwal yang mepet. 
So nothing to worry about.

Di kelas persiapan itulah gw kenalan sama satu cowo Danish (kelahiran Denmark) kita sebut aja namanya T. Seumuran gw juga sih, cuman beda beberapa bulan.
Kenalannya pun caranya aneh, tadinya dia tuh duduk di belakang gw selama course
Trus sepanjang course itu gw denger suara orang nguap terus-terusan (sampe kesel dengerinnya).
Lalu udahnya gw liatin siapa sih orangnya, eh taunya ini orang lumayan cute dan keliatannya baik.
Udahnya kita kenalan dan ngobrol bentar, dia bilang kenal sama satu studen orang Indonesia juga (taun lalu sempet sekelas) dan ajaibnya, dia tau kalo Indonesia taun kapan pernah kena tsunami plus gempa.

Dia nanya apakah gw anak baru dan apakah butuh bantuan how to getting around the town (how nice!)
Tentulah gw pake kesempatan bagus ituh, soalnya gw emang pengen meng-explore Kopen dan juga kadang gw butuh translator jadi punya kenalan orang lokal is a huge advantage.

Beberapa hari kemudian, gw bawa peta Kopen dan minta dia ngasitau tourist highlights. Sebenernya nyari di google dan wiki juga ada, tapi rasanya lebih klop juga kalo nanya orang.
Trus dia ngasi tanda gitu di map gw, sambil bilang 'Kapan-kapan kalo gw ada waktu juga kita bisa ketemuan trus gw bawa elu muter-muter'.
Yah gw rasa it's not a bad idea, punya temen orang lokal berarti memperkecil kemungkinan gw nyasar pula : )

Trus pas gw cerita ke A (temen gw half Aussie) dia langsung heboh gitu, dia langsung berkesimpulan; 'You got a date!'
Waktu itu gw gak merasa it's a date, cuman lebih sepertinya dia mau bantuin supaya gw merasa betah aja dengan Kopen.
Lagian minggu-minggu awal tinggal di Kopen gw berasa masi galau karena kangen juga meninggalkan Amsterdam yang udah homy banget :'(

Lalu tibalah hari yang sudah ditentukan, kita ketemuan di suatu tempat, trus dia bawa gw ke beberapa tempat (padahal waktu itu bulan Jan masi banyak salju di Kopen, suhunya masi skitar 1-5 derajat Celcius) termasuk Kongens Nyrtorv dan public library Black Diamond yang terkenal.
Kita sempet masuk juga ke Black Diamond (karena gw kedinginan) udah gitu dia cerita tentang sejarah perpus itu, juga sedikit sejarah tentang Kopen).


perpus Black Diamond bagian dalam

Stelah short tour itu, qta sempet kluar bareng beberapa kali trus dia juga sempet bawain gw bekel makan siang lengkap (rye bread, roti item ala Jerman isi acar yang rasanya kaya karet tapi bikin kenyang, plus buah pir dan crackers pake madu buat dessert).
Temen-temen gw yang biasanya makan siang bareng langsung curiga donk. . . . abis  gw yang biasanya bekel nasi goreng koq bisa tiba-tiba bawa lunch ala orang Denmark.

Tapi si T ini suka aneh deh, satu hari dia emang bisa tiba-tiba sweet & nice, besokannya mood-nya berubah sampe gw serem sendiri karena dia bete entah kenapa.
Yang bikin tambah bingung, kalo lagi ngambek gw bingung mesti ngapain karena dia gak mau ngomong penyebabnya apa; apakah gw mesti nemenin dia karena dia pengen curhat atau mending ditinggal sendirian etc. Dia gak ngomong apa-apa tapi kalo ditinggal sendirian juga bisa ngambek. Parah.
Sering juga dia inkonsisten perkataan sama perbuatannya, kadang kalo mood-nya lagi bagus dia bisa bilang, 'Maybe you could be my Indonesian wife'
tapi sebenernya dia gak siap untuk hubungan yang serius karena suka tiba-tiba menghilang.
Trus dia juga suka bikin janji-janji mau nganterin/ nemenin gw ke suatu acara misalnya, lalu di-cancel karena dia bilang ada temennya lagi kena masalah lah, ibunya minta pengen dikunjungi. And it happened many times.
In short : orang yang perkataannya gak bisa dipegang.
On top of all, emosi dia yang moody lebih parah daripada cewe lagi datang bulan.

Pernah ada satu kejadian yang bikin gw merasa serem banget sama kepribadian dia yang ababil itu, sampe gw kapok dalem hati gak mau ketemu lagi.
Gak lama seudah kejadian itu dia bikin statement official juga, lebih baik kita gak usah ketemuan lagi.
Jadi klop deh sama keputusan yang emang gw ambil sebelumnya.
(Owh ya, satu lagi, cowo ini juga gak pernah minta maaf kalo punya salah!
Tapi kata temen gw ini karakteristik Danish pride, yang gak suka 'dipersalahkan')

Beberapa bulan setelah lama gak ketemu dia sempet nelefon gw  2-3 kali dan ngajak  ketemuan, tapi gw udah males dan nyari-nyari alesan gak mau ketemu.

Lagian pas emang waktu itu pas bulan-bulan gw sibuk mau ngambil data penelitian dan nyusun thesis.

bagian depan Black Diamond,
tempat gw nyari inspirasi pas nulis thesis
Insiden gw sama cowo Danish ini sempet bikin gw agak traumatis untuk deket lagi sama cowo for a while.
Traumatized sama cowo in general dan traumatized sama cowo Denmark in particular.
Menurut gw  dia cowo yang egois, emotionally  unstable a.ka. moody dan juga unpredictable (not in a surprising pleasant way) yang pernah gw kenal dalam konteks romantic life.
Dan semua itu bisa gw simpulkan dalam waktu hanya beberapa bulan aja kontak sama dia.

Then I told to myself, it's time to stop thinking about love and focus on my academic live.

Besides that's why I was there anyway.

Kalo semua cowo di dunia kaya T lebih baik gw menjomblo aja dan kalo suatu saat gw mau punya anak kan tetep bisa ngambil sperma calon ayah dari bank donor sperma (lalu dibikin in vitro fertilization deh).
Tapi tentu aja itu cuman worst scenario alias khayalan tingkat tinggi dalam kepala gw semata, karena kan gak semua cowo di dunia parah seperti dia.


Months go by lalu awal Mei gw balik ke Indo untuk penelitian dan balik Kopen lagi awal Juni untuk mulai analisis data, plus nulis thesis.
Waktunya cuman 1 bulan untuk bikin full version thesis!
(Lebih tepatnya 22 hari, karena harus disubmit tanggal 27 Juni).

Kegiatan gw selama 22 hari itu cuman mencari inspirasi, analisis data, ngetik, makan, tidur, cari inspirasi lagi, sedikit berkeluh kesah sama temen-temen dan ibu kos gw, lalu mencari inspirasi, baca referensi (ke perpus), dst.
Pokonya rada ajaib kalo diinget lagi sekarang gimana caranya gw bisa beresin itu dalam waktu kurang dari 1 bulan.

Kalau gw lagi stres akut, yang gw inget adalah summer trip yang udah gw rencanakan- karena bulan Juli udah masuk liburan summer dan rencananya mau dihabiskan di luar Kopen untuk traveling dari utara (Norwegia, Swedia) ke selatan (Italia, Prancis).

Enaknya juga kalo sekolah di luar negeri (terutama di Kopenhagen) adalah public space-nya yang nyaman.
Kalo gw lagi suntuk masalah akademik nongkrong aja di taman, atau laut (15 menit pake sepeda dari tempat tinggal gw), atau spot-spot yang menenangkan aura gw sambil cari inspirasi.
Udah gitu pas masuk Juni cuaca-nya juga mulai anget . . . jadi udah enak banget berkeliaran tanpa baju tebel.
In fact bisa pake summer dress yang tipis sambil sunbathing dan kena sinar matahari emang bisa bikin lebih bahagia kan . . . Hasil akhirnya poko walo stress sama kegiatan akademik tapi gw masih sangat menikmati prosesnya, juga enjoying life and summer ^^
 


Pantai Amager yang deket banget dari tempat gw tinggal,
gak terlalu bagus sih tapi lumayan lah daripada engga ada :(

Akhir Juni beres submit thesis, gw dan temen-temen kuliah bikin gathering-
sedikit perayaan karena beres satu tugas sebelum nanti defend thesis di awal Agustus. 
Biasa kalo gathering di sini identik sama acara minum-minum, tapi gak selalu ada makanan (Paling makanan kecil doang).
Teteup aja sih sangat menyenangkan, terbebas dari satu beban.
Pas ngumpul-ngumpul kita juga saling cerita mau ngapain aja nanti pas libur summer selama sebulan. Iya di Uni kita libur musim panasnya emang mulai cepet dan termasuk lama juga.
Temen gw ada yang ngambil intern di WHO, ada juga yang ke Jerman untuk nikah (!) sama calon suaminya, ada yang pulang kampung ke rumahnya di Skandinavia juga.

Sejujurnya, biaya hidup di Kopen tuh termasuk tinggi jadi kalo misalnya gak ngapa-ngapain (gak kuliah atau kerja) mending skalian aja traveling ke selatan.
Soalnya biaya hidup di selatan (Italia, Prancis, Spanyol, Portugal dkk) biasanya lebih murah.
Lagian rencana gw sih CS-ing selama perjalanan, jadi menekan biaya akomodasi juga.

Cuman tujuan pertama aja di Bergen (Norway) gw gak pake CS karena memang rencananya nginep di tempat temen kuliah yang emang asli sana.
Sisanya (Stokholm, Roma, Firenze, Genoa, Cannes, Nice) pake CS.
Besides it's a great way to meet great people.

Pas gw mulai summer trip ini samasekali gak kepikiran untuk love adventure juga, although host gw kebanyakan cowo.
Entah kenapa nyari host cowo lebih gampang daripada nyari host cewe di CS.
Juga dari beberapa request yang dibikin emang host cowo yang ngasi respons juga.

Anyway, indeed sepanjang perjalanan gw ketemu orang-orang yang menyenangkan.
Mulai dari temen-temen dan keluarga besfren di Bergen. Lalu host gw yang superbaek di Roma (juga sempet dinner bareng sama temen-temennya).
Full moon swimming pool midnight party sama host gw di Firenze (bareng temennya dia yang gila juga, plus dua cewe traveler dari Lithuania).
Touring de Cannes sama cowo Prancis (yang pernah traveling ke Indonesia juga) juga dinner bareng sama temen-temennya (plus satu cewe traveler asal US).

Florence atau Firenze :: salah satu kota favorit gw di Italia, dan juga tempat gw diajak midnight swimming pool party


Cerita selanjutnya :
Genoa atau Genova yang tadinya gak jadi tempat destinasi utama malah jadi salahsatu tempat favorit gw selama trip, karena manusia setengah malaikat yg jadi host gw selama di sana :-)



Sori baru sempet nulis lg (sok sibuk) , lanjutan ceritanya bisa dibaca di sini
http://traveler-tale.blogspot.com/2012/01/bukan-cerita-cinta-bagian-dua.html

Friday, August 12, 2011

Italian stories(2) :: Get lost in Rome

So much to say about Rome!

Sampe gak tau mulai dari mana dulu yah ... hmmm . . . .

Gimana kalau mulai dari cerita gimana akhirnya gw memutuskan pergi ke Roma.

Alesan utama karena nemu tiket murah pake Ryanair dari Stokholm.
Emang murah sih tapi kalo pake budget flight macem Ryanair artinya musti merelakan barang-barang yang overload dibuang. Abis mereka strict banget soal aturan koper yang masuk kabin cuman boleh 10 kgs.

Waktu itu gw kelebihan beberapa ratus gram, dan akhirnya ngebuang 1 celana panjang (untuk tidur) lagian the rest of the journey will be warm. So I won't need it anyway!

Ini juga salahsatu pelajaran tentang kehidupan yang gw dapet selama traveling, yaitu

1. Sesungguhnya kita gak butuh banyak barang untuk bertahan hidup, jadi bawa yang penting-penting aja.

2. Barang yang kita bawa tapi gak kepake akhirnya cuman bikin cape aja, karena mesti dibawa-bawa sepanjang perjalanan.
Masih mending gw traveling 'hanya' selama 30 hari. Kebayang kan banyak orang membawa 'beban emosional' yang tidak penting selama bertahun-tahun.
Just let it go.

Waktu itu saya mendarat di airport Ciampino dari Skavsta, Stokholm. Keduanya sebenernya bukan bandara udara utama, tapi lebih airport untuk maskapai budget.
Karena bukan airport utama jadi letaknya gak deket banget sama kota, beda sama Fiumicino yang lebih deket sama pusat kotanya Roma.

Tapi kalau waktu traveling kita fleksibel gak masalah koq, tinggal naek bus ke Metro Line A. Anagnina (harga tiket 1,20 Eur) lalu disambung pake metro ke pusat kota Roma, st. Termini (1 Eur, single ticket).

Yang berasa bahwa saat itu saya officially sampai di Italia adalah pas naek metro dari airport Ciampino ke city centre ada bapak pengamen yang nyanyi lagu 'Santa Lucia' dengan suara soprano yang indah banget! Berasa nonton live opera dari kursi tempat duduk metro.
Priceless : )

Roma sendiri bukan cuman sekedar kota yang indah secara arsitektur, tapi juga punya nilai historikal yang tinggi.
Hampir semua bangunan kuno yang saya lihat disana, selalu aja ada cerita historis yang sangat menarik di belakangan.

Yang paling terkenal di kalangan turis tentunya kompleks bersejarah Colloseo (atau terkenal dengan nama Colloseum), Foro Romano (Forum Romanum) di bukit Palatine.

Ada juga monumen Vittorio, bangunan megah yang dibangun gak jauh dari kompleks bersejarah Forum Romanum. Tapi ada temen saya orang Italia asli, benci sama monumen Vittorio ini.
Menurut dia bangunan monumen Vittorio itu terlalu modern, gak cocok banget dibangun di kawasan historikal yang usianya beberapa abad.

Dia bilang bangunan bersejarah yang jadi objek turistik di Roma itu cuman sebagian kecil dari yang sudah diketemukan oleh arkeolog. Sisanya masih banyak yang sudah ditemukan tapi masih dipelajari, tapi tidak dibuka untuk umum.
Banyak juga yang diketahui tanpa sengaja, contohnya waktu pemerintah melakukan penggalian untuk bikin jalur metro baru ternyata eh malah ketemu situs bersejarah.


Akibatnya sekarang pemerintah Roma berhenti melakukan penggalian untuk mencari jalur metro karena malah akhirnya jadi penggalian situs bersejarah deh.

Banyak bangunan di Roma juga termasuk dalam UNESCO World Heritage Sites karena situs bersejarahnya pabalatak, tersebar di beberapa tempat.
Sebenernya meng-eksplor kota Roma itu gak cukup cuman 3-4 hari karena banyak banget tempat bagus yang bisa dilihat. . . Mungkin seminggu pun gak cukup, yang pasti saya pengen suatu saat balik kesini lagi, entah spring atau autumn saat cuaca lebih bersahabat.


air mancur Trevi :: Fontana di Trevi ::
air mancur paling terkenal di dunia (katanya)
tourists crowd #1


Tapi yah highlight turis kan biasanya cukup ke Colloseo, Fontana di Trevi, Pantheon, Piazza di Spagna (Spanish steps), Museo di Vaticano, atau Basilica Santo Pietro.
Kalo turis udah nyampe sana dan bisa foto dengan latar belakang tempat tsb, biasanya udah dianggap 'sah' mengunjugi Roma deh : )


Piazza di Spagna:: Spanish steps ::
Piazza di Spagna
tourists crowd #2


Owh ya. . . . cowo-cowo disini (cowo Italia asli maksutnya, bukan turis yang berkunjung),
hmmm . . . cakep-cakep
. Yummy Latino :)
Dan tentu aja gak girlie seperti cowo Swedish.

Selaen itu di Italia juga masih ada perilaku gentlemen, seperti lelaki muda ngasi tempat duduk ke perempuan lebih tua (ini perilaku yang hampir musnah di Denmark rasanya).

Tips penting selama di Roma:

1. Cukup bawa botol kosong aja selama bepergian, karena banyak fontana/ sumber air yang bisa diminum di beberapa tempat. Contohnya di depan Colosseo atau di Piazza di Spagna.
Minum langsung dari situ juga boleh, hanya lebih enak kan kalau minum dari botol.

2. Mau masuk chiesa Basilica St. Peitro gak boleh pake celana pendek atau baju terbuka (keliatan bahu). Jadi jangan udah antri panjang taunya depan pintu gak boleh masuk sama penjaganya.
Solusinya kalau udah keburu kesana adalah, di depan jalan masuk Basilica St. Pietro ada banyak tukang dagang pashmina (harga 5 Eur, overprice sih, tapi masuk basilica gratis).

3. Kalau mau beli magnet kulkas untuk oleh-oleh, menurut gw tempat yang paling murah adalah sepanjang jalan dari Colloseo menuju ke monumen Vittorio, harganya bisa cuman 1 Eur/buah (kalau beli 5). Mungkin bisa ditawar lebih murah lagi kalau beli banyak.
Kalau di toko sekitar Fontana di Trevi itu udah lebih mahal, bisa 3-5 Eur/buah, tapi lebih variatif juga desainnya.

4. Katanya Roma termasuk kota pusat turis yang banyak copetnya (sama lah kaya di Paris atau Barcelona). Gada pengalaman buruk sama pickpocket selama disini, tapi pastikan aja barang bawaan aman selalu naek metro, lumayan penuh di line yang menuju pusat turis.


Sebenernya gw udah punya peta Roma sebelum memutuskan mau pergi kemana aja selama disana.
Masalahnya . . . kemampuan gw baca peta emang payah :(
Akhirnya tetep aja suka nyasar, contohnya pas mau pergi ke chiesa Basilica St. Pietro, eh malah jadinya nyasar ke Museo di Vaticani (yah letaknya emang deket, deket disini beberapa ratus meter, tetep aja bete kalau nyasar).

Karena kesasar, akhirnya gw malah masuk antrian untuk ke Museo di Vaticani, ini antrian buset banget, kaya antrian haji! Ada kali 1 kilometer doang untuk antri masuk museum-nya.
Buset ini para turis mau aja dikerjain sama Vatikan, gara-gara cuman mau liat lukisan di Sistine chapel karya Michael d'Angelo kali yah.

Pas kesasar perasaan gw emang udah bilang ini jalan ngaco deh, tapi bingung nanya ke siapa karena disana isinya turis doang!
Gak ada orang Italia-nya (katanya orang Roma benci turis selama musim panas, karena menuh-menuhin kota).

Akhirnya gw kenalan sama Anna & Dante, mereka mahasiswa jurusan tourism yang lagi magang jadi tour guide. Dante campuran USA sama Italian, makanya bahasa Inggris dia bagus banget, tapi tampangnya cakep kaya Italiano (pengen gw poto tapi norak banget yah).
Mereka nganterin gw menuju arah yang benar, yaitu pintu masuk chiesa Basilica St. Pietro.
Wah pokonya berkesan banget ketemu mereka walopun bentar, ini yang bikin hati gw tetap hangat sekalipun traveling sendirian ^^

Kata Anne & Dante, antrian turis hari ini (yang panjangnya udah 1 kilometer itu) gak ada apa-apanya dibanding hari sibuk. Biasanya turis ini udah nangkring dari pagi/subuh untuk ngantri karena kalo kesiangan akan tambah panjang tuh antrian.
Antrian panjang untuk masuk ke Museo di Vaticano ini bayarnya 14 Eur, tapi kalau mau cara yang lebih cepat bisa beli tiket seharga 26 Eur (shortcut gitu deh, tapi masih ngantri juga, hanya gak terlalu panjang).

Si temen gw orang Italia asli bilang kalau Vatikan tuh tajir banget cuman karena buka itu museum, karena pemasukan dari turis aja bisa berapa juta Euro.
Turis yang ngantri kan ribuan per hari. . .
Pokonya kepausan di Vatikan itu bisa cuman ongkang ongkang kaki doang kerjaannya, cukup dari tiket masuk.

Owh ya, karena gw menganut paham anti imperialis, makanya gw juga gak mau masuk museum ini.
Apalagi ngantri-nya tidak berperi kemanusiaan kaya gitu, walopun sebenernya gw penasaran sama Sistine Chapel-nya Michael d'Angelo *hiks*
Tapi masuk Basilica St. Pietro juga puas koq. Maklum orang Indonesia liat apa aja disana itungannya bagus . . . hehe

basilika Santo Petrus:: Basilica Santo Pietro ::

'Rome in July is a perfect place, if you wanna see tourists'


Beberapa expenses selama di Roma :

one way ticket (bisa dipake untuk naek metro) ~ 1 Eur
Lasagna (beli di deket Fontana di Trevi) 7 Eur, termasuk tip
Breakfast 3,20 Eur (brioches+minum)
postcard+ stamp 9 Eur
magnet kulkas 5 @1 Eur
Your Fonts - Font Generator