Showing posts with label Bromo. Show all posts
Showing posts with label Bromo. Show all posts

Sunday, December 23, 2012

Places of 2012

Penghujung tahun 2012 sepertinya momen yang cocok untuk bikin tulisan tentang beberapa tempat yang sempat dikunjungi selama 12 bulan ke belakang.

Sebagian memang bukan tempat yang baru pertama kali dikunjungi, tapi tetap aja terkesan berbeda -karena perubahan yang sejalan dengan bertambahnya waktu (dan juga jumlah manusia, atau perilaku penduduk).

As always, karena tulisan sbb gak dimaksud untuk dijadikan panduan perjalanan (apalagi gw sadar koq bukan travel writer yang baik) melainkan sekedar kilas balik aja dari beberapa perjalanan yang gw lakukan selama setahun ini.

Here we go . . . . .   .    .

.: pollution, traffic jams, crowded population :.
#1. Jakarta, ID

Jakarta oh Jakarta.
Entah udah dari tahun kapan gw sering bolak balik ke kota ini, karena cuman makan waktu 2-3 jam perjalanan dari Bandung. Ini adalah salahsatu kota yang punya hubungan love and hate relationship sama gw. Love karena disini banyak kesempatan kerja kalau mau karir yang cepat berkembang, juga untuk penggila belanja (seperti gw, yang udah tobat-kumat) banyak diakomodasi oleh sejumlah mall.
Hate, dengan alasan yang jauh lebih banyak: macet, polusi (air, udara, suara), kesenjangan yang sangat lebar antara kaya-miskin, tata ruang kota yang semrawut dst dsb you name it all the problems that could ever exist in big city.

Yah kebanyakan kunjungan gw ke Jakarta selama tahun 2012 emang untuk keperluan bisnis. Karena kepaksa (dan juga ditanggung kantor) tentu tak terhindarkan pertemuan dengan segala hal yang sebenernya gw benci (macet, polusi, berisik) demi bisnis trip.
Jauh di dalam lubuk hati yang tedalam, sebenernya gw menyimpan rasa kagum dan juga kasihan sama sekian juta orang penduduk Jakarta, yang setiap hari mampu bertahan dengan segala permasalahannya.
Berangkat pagi pulang malem, menerjang kemacetan yang bikin putus asa orang kaya gw, belum lagi diperparah oleh banjir di kala musim hujan.

Somehow, dengan adanya pasangan Gub-Wagub baru- sepertinya banyak penduduk yang optimis akan ada perubahan berarti untuk Jakarta. Seperti juga gw, yang sangat terharu dengan pernyataan Jokowi yang mengedepankan semangat melayani sebagai seorang pemimpin.

Banyak hal yang berubah dari semenjak kunjungan gw pertama kalinya ke Jakarta (mungkin 25 tahun yang lalu). Tumbuhnya gedung-gedung pencakar langit, bertambahnya jumlah kendaraan pribadi di jalan, berkurangnya pepohonan di kawasan perkotaan.
Apalagi sekitar tahun 1998 dimana gejolak reformasi memanas, banyak pergolakan (dan pertumpahan darah) terjadi di sini.

Waktu itu umur gw masih 17 tahun dan baru masuk kuliah.
Dan angkatan '98 adalah salahsatu angkatan yang paling historis, dimana banyak temen-temen gw yang kuliah di luar negri mencari keamanan- sementara gw melanjutkan kuliah kedokteran di universitas negri.

Mudah-mudahan dibawah kepemimpinan yang benar, Jakarta (dan Indonesia) bisa dibawa ke perubahan yang lebih baik. Itu harapan gw untuk tahun mendatang.



.: soerabaja :.
#2. Surabaya, ID

Selama usia gw (yang terbilang masih muda ini : ) mungkin udah sekitar 3-4 kali mengunjungi Surabaya. Mostly untuk keperluan jalan-jalan tentunya.
Di tahun 2012 ini, kepindahan gw ke Surabaya berhubungan dengan pekerjaan.

Lokasi kerja gw sebenernya di Sidoarjo, tapi kantor provinsi ada di Surabaya.
Akibatnya sering banget wara wiri ke kota Pahlawan ini.

Pertama kalinya tinggal di Surabaya (untuk waktu yang lama) rasanya gak berasa jauh dari rumah. Makanannya oke, orang-orangnya ramah walaupun bicaranya medok (hehe), dan surprisingly infrastruktur kotanya termasuk maju (dibanding Bandung).
Sayangnya, walaupun termasuk kota besar- Surabaya gak punya sarana transportasi massal yang bisa diandalkan seperti contohnya busway/ KRL.
Ada sih kereta komuter, tapi frekwensinya kurang banyak. Angkot (yang disebut Len) juga gak terlalu populer dipake penduduk. Kebanyakan lebih suka pake kendaraan pribadi (motor/ mobil) atau pake taksi.
Padahal beberapa kali pengalaman gw pake Len selalu positif, gak ada pengalaman buruk- supirnya gak ugal-ugalan (gak kaya supir angkot 05 di Margahayu, Bandung) dan tarifnya fixed. Juga sebagai penumpang cewe, gw merasa aman walaupun pulang sendiri malem.

Salahsatu observasi gw juga, penduduk keturunan (Chinese) Surabaya terbilang eksklusif, gak berbaur/ mingling seperti layaknya di kota Bandung atau Jakarta.
Terus terang gw jadi agak sebel sama golongan yang seperti ini.
Entah kenapa, mungkin karena gw dibesarkan di keluarga yang berjiwa nasionalis jadinya gak pernah membeda-bedakan/ menganggap satu ras lebih superior dibanding yang lain.
Kalau udah lahir di Indonesia yah namanya tetap penduduk Indonesia.

However
, sedikit banyak jadinya gw merasa beruntung dilahirkan di Bandung yang mengakomodasi cita rasa nasionalis. Dengan pergaulan yang luas jadinya mudah buat gw untuk masuk ke golongan mana aja.

Tapi banyak hal yang gw kagumi dari Surabaya koq. Tata kotanya lebih jelas, pemkot memelihara bangunan jaman Belanda sebagai heritage sites, contohnya di kawasan Darmo, JMP, dan sekitar House of Sampoerna.
Pengalaman gw ikutan tur Surabaya Heritage Track yang merupakan corporate social responsibilty (CSR) dari House of Sampoerna, semakin memperkukuh keyakinan gw bahwa warisan budaya dipelihara dengan baik oleh pemkot-nya.

Waktu di Surabaya, gw sempet ketemuan dengan satu traveler asal Swiss- kita sebut aja namanya P.
Owya, seminggu sebelumnya P ini udah mengunjungi Bandung, kota kelahiran gw.
Lalu gw tanya, apa pendapat dia tentang Bandung dan Surabaya.
Dia bilang, (tentu aja) banyak banget perbedaannya. Pemkot Surabaya terlihat jelas perannya dalam mengurus kota. Sedang Bandung, seperti kota yang gak ada pemerintahnya.
Di Surabaya, ada city tourism centre/office - dimana kita bisa dapet informasi gratis tentang spot wisata, gimana kalau mau eksplor sendiri atau ikut tur dalam kota atau seputar Jatim. Bahkan tersedia leaflet gratis (dan ada website-nya juga). Informasi tsb paling engga dalam 2 bahasa: Indonesia dan Inggis.
Sedangkan pengalaman P di Bandung ? Dia ditawarin sama 1 petugas yang kerja di city tourism centre untuk ikut paket tur dan membayar sejumlah uang, pas dia mau nanya tentang informasi wisata.

Sebagai orang Bandung, tentunya gw merasa sangat MALU.
tapi yah emang begitulah pemkot Bdg. gak ada waktu untuk membenahi kota karena sibuk ngurusin Persib ...


.: beachwalk, Kuta :.
#3. Kuta-Legian, Bali, ID

Alasan utama kepergian gw ke Bali di tahun 2012 ini adalah: dapet tiket murah.
Ternyata budget flight macem AirAsia bikin orang jadi compulsively booking tiket yang belum tentu juga sesuai dengan kebutuhan.
Yah sebenernya Bali merupakan destinasi wisata yang gak membosankan walaupun sering dikunjungi.
Tapi kesan yang gw dapat semakin ke sini adalah, Bali yang semakin kapitalistik dan turistik.

Apalagi mungkin nama pulau Bali going international setelah dijadikan salahsatu lokasi shooting film Eat, Pray, Love (yang diambil dari buku dengan judul serupa).
Jadi banyak orang/ turis internasional umumnya, mengharapkan pengalaman spiritual yang sama, seperti pengalaman tokoh yang diperankan oleh Julia Roberts.
(btw gw sendiri belum baca buku maupun nonton film-nya, katanya sih bagus tapi .... )

Perubahan mencolok yang gw perhatikan, adalah di sepanjang jalan Legian, Kuta- banyak banget franchise toko swalayan (e.g. Indomart, Alphamart, dkk) setiap 50 meter.
Kesannya jadi acak-acakan, gak teratur dan lagi-lagi, mencerminkan semangat kapitalistik.
Apa memang gak ada aturan yang jelas tentang pendirian toko seperti itu?

Selain itu ada mall baru juga dibangun di dekat pinggiran pantai Kuta. Konsepnya hampir mirip dengan Centro yang juga dibangun dengan bagian menghadap pantai.
Tapi di Beachwalk, itu nama kawasan perbelanjaan yang baru dibangun tsb, lebih mengedepankan konsep Go Green. Ada pesan-pesan tentang menjaga kelestarian lingkungan dan menginisiasi penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi.
I like it.
Yang perlu diperhatikan oleh pengelola mall juga, mungkin supaya gak menyetel AC terlalu dingin di bagian dalam mall. Karena toh buat apa mendengungkan konsep Go Green tapi boros listrik dengan penggunaan AC yang berlebihan?



.: Bromo, Tengger :.
#4. Bromo, ID

Banyak hal yang bisa dikagumi dari Indonesia; makanan enak, cuacanya nyaman sepanjang tahun, dan kekayaan alam yang gak ada habisnya.
Salahsatu daerah kunjungan wisata yang cukup dikenal di kalangan turis internasional adalah Bromo. Yah, Bromo dan Ijen memang cukup dikenal sampe ke mancanegara berkat publikasi tulisan para pelancong asing yang mampir kesitu.

Wisatawan dalam negri sendiri biasanya hanya mengunjungi untuk melihat keindahan pemandangan Bromo (dan berfoto dengan latar belakang gunung sebagai buktinya : )
Sedang wisatawan luar biasanya juga mengenal lebih jauh tentang latar belakang penduduk asli yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger tsb.
Saat mengunjungi Bromo di awal Agustus 2012, penduduk asli sekitar Tengger memang sedang merayakan festival tahunan Kasada.
Walaupun saat itu sebagian besar umat muslim di belahan dunia sedang melaksanakan ibadah puasa, suasana demikian tidak terlihat di kawasan Bromo. Sebaliknya, suasana cukup ramai dengan banyaknya orang yang berjualan makanan/souvenir sehubungan dengan perayaan Kasada.

Indonesia memang unik, menyimpan berbagai macam kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda di setiap penjurunya. Sudah seharusnya kita belajar menghargai keperbedaan itu dan menjaganya sebagai suatu kekayaan daerah. 
Jadi, kenapa dong masih ada komplotan seperti FPI yang ingin supaya semuanya sama dan seragam?

.: changi airport :.
#5. Changi, SG

Katanya ini the best airport in the world.
Singapura tahun 1970 mungkin cuman sebuah kampung, gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Beda dengan Indonesia yang waktu itu sudah 25 tahun merdeka dan dalam masuk dalam tahap pembangunan oleh pimpinan Orde Baru.
Tapi di tahun 2012 ini, jelas sudah bahwa Singapura bergerak maju dengan sumber daya yang terbatas: Lahan terbatas, miskin akan sumber daya mineral, cuman segelintir penduduk (ya segelintir kalo dibanding penduduk Indonesia yang jumlahnya 230 juta) yang menghargai arti kata kerja keras.
Changi, yang menjadi tempat transit berbagai maskapai dari belahan penjuru dunia, sungguh dibangun dengan fasilitas yang jauh memenuhi syarat. Dengan fasilitas yang nyaman, yang bisa diakses oleh turis backpacker sampai tingkat para pebisnis, gak heran kalau Changi mendapat julukan bandara udara terbaik di seluruh dunia.

Yup, salut untuk Singapura dan ikon-nya yang mendunia. Walaupun tempat ini bukan top destinasi wisata bagi gw tapi Changi memang layak untuk dikunjungi sekalipun hanya buat transit.



.: malapascua :.
#6. Cebu, PH

Kalau gw bisa milih terlahir kembali, mungkin lebih cocok terlahir kembali sebagai orang Filipina. Yah mungkin kehidupan sebagai orang Kristen akan lebih mudah juga di Filipin, tapi manusia biasanya kan akan menjadi lebih kompetitif kalau dibesarkan dalam lingkungan yang menantang.
Mungkin itu juga yang bikin gw menjadi seperti apa adanya sekarang, karena terlahir di Indonesia.

Walaupun pemandangan alam Filipin kurang lebih mirip dengan Indonesia, tapi sepertinya pemerintah sana mengelola lebih profesional sebagai tujuan wisata.
Gampang banget cari informasi tentang tempat-tempat wisata di sana, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta.

Turis pun bisa memilih, mulai dari yang low cost budget seperti para backpacker traveler maupun turis berkantong tebal, cukup variatif pilihan wisata yang ada.

Di daerah Cebu dan Malapascua, dua tempat yang gw kunjungi, memang jadi tujuan utama turis untuk liburan. Banyak turis dari Hongkong, Korea, Jepang yang 'melarikan diri' kesini, untuk mencari cuaca yang lebih jinak saat musim dingin. Selain itu standar hidup yang gak terlalu mahal (bagi turis asing) bikin mereka gak malu-malu menghabiskan duit selama mengunjungi Cebu. Cebu city sendiri bertaburan banyak mall seperti Jakarta.

Secara personal, gw sendiri tergila-gila pedicure selama di Cebu karena murah banget.
Harga 1 paket pedicure yang pernah gw coba di mall adalah 90 Ph pesos ~ 20 rb rupiah.
Kalau di salon pinggir jalan malah ada yang 60 Ph pesos.
Gak heran kalo kebanyakan cewe di Cebu (yang gw liat) punya kuku kaki yang tertata rapih hasil pedicure di salon. Abis murah banget sih!

Cewe Filipina juga sangat memperhatikan penampilan, seengga-engganya kebanyakan yang gw liat di Cebu city. Mereka selalu keliatan dandan (pake make up), stylish, up to date (ngikutin mode) dan bawa cermin kecil ke mana-mana!

Seperti yang orang-orang juga bilang, mungkin lebih cocok kalau gw terlahir sebagai Filipina :-)

Wednesday, August 8, 2012

catper :: Bromo - Malang - Coban Rondo (Batu)

:: Prelude ::
Sebagai orang yang gak ngurusi hal-hal detail, terus terang gw gak berbakat kalo disuru nulis catatan perjalanan.
Tapi mengingat sejarah bagaimana susahnya nyari info kalo mau jalan-jalan domestik dalam negri sendiri (ironis kan?) akhirnya gw niatkan untuk nulis catper ini.

Semoga berguna buat temen-temen yang mau eksplorasi negeri sendiri.

Bromo is one of the place which make me proud of being Indonesian : )

Jadi, kenalilah negeri mu sendiri
( dan jangan habiskan ringgit di negeri tetangga, kalau belum nyampe Bromo ! )






Perjalanan dimulai dari Surabaya (terminal Bungurasih) ke Probolinggo
pake bus non-AC (tiket 14k IDR/ orang) atau kalau pake bus patas-AC (tiket 23k IDR/ org)
Lama perjalanan sekitar 2 jam, dengan asumsi gak macet sepanjang jalan.

Nyampe terminal Probolinggo, jalan keluar dikit ke arah pom bensin cari aja bison (biasanya warna biru kehijauan/ hijau kebiruan). Bison ini semacam elf/ minibus, entah kenapa populer namanya jadi bison. Isinya muat 12 orang bule atau 15 orang lokal, kenapa demikian?
Karena dalam bison yang kita tumpangi ini isinya 7 orang Prancis dan 6 orang lokal, tapi supir dan kernet-nya kekeuh pengen diisi 15 orang padahal orang-orang bule ituh badannya guedhe disuru nyempil tumpek blek di dalem bison. 

Mereka nungguin penumpang sampe penuh baru berangkat ke Cemoro Lawang (bayar 25k IDR/ orang). Ini setelah ngotot-ngototan dulu karena supir sempet minta 30k per orang kalau mau berangkat cepet #halah.
Lama perjalanan menuju Cemoro Lawang katanya skitar 1-1,5 jam.


WARNING: Banyak bus dari luar kota (Probolinggo/Malang) yang nurunin penumpang di travel agen sepanjang jalan menuju terminal supaya traveler bisa ditawarin dengan harga lebih mahal (75k IDR/ orang). Biasanya mereka akan bilang kalo pake bison itu waktu tempuhnya bakal lebih lama dan lebih baek pake minibus punya mereka kalo mau lebih cepet perjalanan.
And it's all bullshit.

 
on the way to Cemoro Lawang kita bakal disuguhi pemandangan ini


Di Cemoro Lawang bisa nginep di hotel atau di rumah penduduk (homestay).
Kisaran harga waktu kita kesana (pas Kasada festival) agak mahal, skitar 150k IDR per kamar (bisa diisi 4 orang, karena ada 2 bed ukuran besar).
Kalau malem di Cemoro Lawang ini suhunya bisa turun sampe 10 derajat Celcius, jadi paling enak tidur 1 ranjang berdua supaya anget.


pura di Bromo ini jadi venue penting pas acara Kasada


 Untuk liat sunrise di Bromo, ada 2 pilihan : Bisa pake jeep (sewa) atau trekking (total skitar 3 km sampe puncak).
Buat yang gak kuat trekking mending pake jeep aja, walaupun jalur trekking juga sebenernya gak terlalu menantang (hanya berdebu, jadi siap-siap masker/penutup hidup aja).

sunrise-nya udah mulai nongol sementara kita masi ngopi dalam perjalanan,
ini akibatnya kalo berangkat kesiangan !

Kita sendiri berangkat trekking agak siang (gara-gara males bangun) skitar jam 4am. Banyak orang (yang lebih rajin) udah berangkat dari jam 2 atau 3 dini hari.
Pas mau naek tangga ke puncaknya, udah banyak orang banget sampe susah mau ke atas saking padatnya jalur turun/naek.

jalur naek/turun ke puncak ini udah pasti gak mungkin dilalui ibu yang hamil tua saking curamnya


Sunrise dari Bromo emang indah banget.
Dan bikin gw bangga jadi orang Indonesia, karena punya kekayaan alam seperti ini :')


sunrise from the top :: Bromo, i'm so proud of you !


Sayang gw gak banyak ambil gambar yang bagus disini (gak konsen, terlalu banyak pengunjung, debunya bikin alergi dan kecapean pas nyampe atas #alesan).

Perjalanan pulang lewat savanah juga bagus, gak berasa kaya di Indonesia.
Sayang gw udah gak mood ambil gambar pas perjalanan pulang, karena bersin-bersin mulu (alergi debu kali). Tapi percaya deh, beneran bagus ! Bisa jadi tempat foto prewedding juga (kalo vendor-nya mau dibawa kesana... hehe)


Anyway, dari Cemoro Lawang ini kita turun lagi ke Probolinggo pake bison (sama harga 25k).

Sebenernya dari situ tadinya mau ke air terjun Madakaripura.
Kita udah punya kontak person orang yang bisa disewa elf-nya (harga 250k, muat utk 10-15 orang, rute bisa nego). Jadi silakan aja kalau butuh dia untuk perjalanan sekitar Bromo.
It's a good deal anyway.

Namanya mas Aris (no hp. 082 1412 56485)

Dari Probolinggo, got no plan. Akhirnya diputuskan ke Malang- lalu Batu karena disana (menurut peta) ada sumber air panas /natural hotspring.

Probolinggo ke Malang makan waktu 2 jam lebih pake bus (harga tiket 14k IDR, non-AC). 

Nyampe terminal Arjosari Malang, nanya-nanya ke travel agen situ yang memuaskan banget info-nya.
Mbak-nya helpful dan ini dia kontaknya:  Mitra Abadi Tour and Travel (di depan terminal tempat penumpang turun)
Nur Sutikno : 0817 538 025 |  0341- 489 541 |  0821 3370 4299

Menurut info si mbak di travel agen ada tempat kemping juga di daerah Batu, jadi kita mau nyoba kesana.
Namanya Cuban Rondo, tapi untuk kesana harus pake bus dari terminal Landungsari.

Dari terminal Arjosari ini ke terminal Landungsari pake bemo (yang tulisannya ADL) lama perjalanan skitar 45 menit, bayar 2.5k IDR/ orang (murah banget yak?)

Daerah skitaran terminal Landungsari ini lumayan rame, banyak tempat makan enak. Sayang pas bulan puasa banyak yg tutup kalo siang.

Untuk ke Cuban Rondo, dari terminal Landungsari ini kita musti naek bus arah Jombang/Kediri. Lama perjalanan skitar 30-45 menit, bayarnya 5k IDR/orang.
Turun depan patung sapi, dari situ bisa jalan kaki ke pos masuk Cuban Rondo (sekitar 2 kilometer lebih) atau naek ojek (5k IDR/ orang).

Tiket masuk wisata alam Cuban Rondo harganya 8k IDR/ orang, udah termasuk asuransi dan surcharge pelayanan & konservasi.
Tempatnya bersih banget, ada guide juga kalo qta mau trekking ke hutannya yang masi liar.
Trus mreka juga bisa bantuin kalo kita pengen nyobain paragliding/ rafting/ wisata alam laennya.

Kontak person disini namanya pak Kotikno : 0858 550 39263

Tempat kemping di Cuban Rondo ini bersih tapi MCK-nya filthy banget dan kalo malem cuman ada dua lampu doang yang nyala (di wc-nya). Creepy.
Tapi di depan ada slogan kalo petugas disana menjamin keamanan kita.
Dan memang aman koq. Lebih aman daripada jalan kaki sendirian tengah malem di Jakarta pastinya.


Dari tempat kemping kita, bisa jalan kaki juga (sekitar 2 km) ke air terjun.
Gak perlu bayar entrance fee lagi di tempat air terjun-nya karena udah termasuk tiket masuk wisata alam.
Aku suka tempat ini, daerah skitaran air terjun ini juga bersih banget, dan masih alami (katanya masih ada monyet juga yang bebas berkeliaran, tapi kita gak nemu).

Kalau pagi hutan ini rame sama suara binatang yang bersahut-sahutan (burung/monyet/makhluk hutan laennya).
Love it !

tempat kemping di Cuban Rondo, daerah Batu

Dari Cuban Rondo, kita nyobain ke Songgoriti juga. Karena disana katanya ada sumber air panas.
Bisa naek bemo turun di pom bensin, jalan ke dalemnya bisa pake bemo lagi atau kalo kuat ya jalan kaki (1.5 km lah)

Sayang sumber air panas-nya gak sesuai yang kita harapkan, karena ternyata gak bisa rendeman tapi cuman dibanjur pake gayung aja (murah sih tiket masuknya cuman 3k IDR)
Karena kadar belerangnya tinggi, jadi bisa dipake untuk terapi e.g. sakit kulit, atau encok dst.

Akhirnya kita cuman ke kolam renang aja di daerah Songgoriti ini.
Kolam renangnya sepi banget (orang kan pada puasa), isinya cuman kita berdua doang... serasa punya private swimming pool deh.
Pemandangan sekitar kolam renang juga enak buat dinikmati sambil berenang siang-siang (ngegosongin kulit supaya keliatan eksotis kaya cewe tropis #halah).


private swimming pool [at] Songgoriti

Owya tiket masuk ke kolam renang Songgoriti cuman 5k IDR

Pengennya sih ke Cangar, tempat natural hotspring yang letaknya agak jauh di Selekta. Soalnya kita sempet liat gambarnya bagus banget euy, kliatannya natural gitu tapi ternyata aksesnya lumayan susah :(
Karena kalau mau pake bemo/angkot cuman ada pagi pas waktu anak sekola, tus kalo mau ksana harus sebelum sore (tutupnya jam 5pm).

Agak menyesal juga sih kenapa kita gak rental sepeda motor aja supaya mobilitasnya lebih gampang.
Sebenernya emang udah coba nyari sepeda motor yang bisa disewa hanya penduduk sana agak takut untuk nyewain karena banyak kejadian ilang/ dicuri sama turis. Kesian deh.
Harganya juga ga terlalu negotiable, gak kaya di Bali.
Mungkin karena jarang juga turis yang kesini.

Stelah putus asa dan sadar kita gak bakal keburu ke Cangar hari itu akhirnya mending muter-muter aja di skitaran alun-alun Batu.

Alun-alun kota Batu ini salahsatu alun-alun paling bagus dan bersih yang pernah gw liat selama di Indonesia.
Keren! Salut untuk pemkot Batu !

Bahkan ada ruang khusus untuk merokok segala.

Di daerah sekitaran alun-alun Batu ini banyak tempat makan, baik bentuk kaki lima (di trotoar, harusnya gak bole tuh) maupun di kedai/ warung/ restauran yang bisa dilalui sambil jalan kaki.

Jalan kaki disini juga nyaman dan aman, gak liat sampah bertebaran sepanjang jalan. Trotoar nya akomodatif (gak banyak tukang kaki lima yang jualan liar, yang kita liat banyak ya cuman di sekitar alun-alun itu aja).
Lalu tiap beberapa puluh kilometer ada pos polisi.

Ini salahsatu kota di Indonesia yang kalo diliat turis luar gak malu-maluin.
Serasa berada di bagian lain dari Indonesia (yang selama ini identik dengan kotor, semrawut, tidak nyaman dll).

Bahkan bemo yang kita naekin pun jauh lebih bersih dan terawat, daripada bemo di Surabaya contohnya. Naek bemo di Surabaya itu udah mah mobilnya keluaran lama, dalam interior-nya juga kumuh (dan berdebu). Makanya di Surabaya cuman orang-orang yang berani dekil aja yang naek bemo.

Sambil nungguin temen gw lagi ngecek imel di warnet, sempet nyobain avocado juice di kedai depan jalan besar (gak tau nama jalan-nya tapi deket banget sama alun-alun kota). Ternyata enak banget, jus-nya kental dan rasanya pas banget ma selera, harganya pun cuman 4 rebu doang! Udah gitu di belakang kedai ada koko yang jualan-nya mayan cakep lagi bersihin kulkas (hhmm... apaan sih, gak nyambung blas)

Anyway, kalau dari kota Batu sini gak punya motor agak susah getting around.
Walaupun angkot/ bemo cukup banyak beredar sampe malem, tapi minibus/elf yang balik ke arah Cuban Rondo agak jarang.
Terakhir berangkat dari kota paling malem jam 8pm - jadi deh kita buru-buru mesti balik karena kalo kemaleman susah nemu kendaraan yang balik kearah sana.

Dalam perjalanan balik ke Cuban Rondo inilah sesuatu yang sangat disesalkan terjadi ...
Yaitu ... ketinggalan sate ayam di dalam kendaraan/ minibus yang kita tumpangi (hiks).

Padahal gw udah ngidam sate ayam ini, dan belinya lumayan mahal (12 rebu).
Salahsatu makanan termahal yang gw beli selama perjalanan ini.

Tapi dipikir-pikir mungkin emang rejeki-nya si bapak yang nganterin kita.
Berhubung kita penumpang terakhir dan dia emang dalam perjalanan balik ke rumah, jadi isinya cuman kita berdua doang di dalem mobilnya.

Akh ya sudah direlakan aja, itung-itung amal.
If it's not belong to me then it's fine.
Besok paginya, kita udah mesti balik lagi deh ke Malang.

Nyampe terminal Arjosari Malang, langsung ambil bus ke Surabaya.
Cukup bayar 10k IDR/ orang (tarif non-AC) langsung nyampe terminal Bungurasih Surabaya hanya dalam waktu 2 jam saja.

Keesokan harinya, gw baca di berita ternyata ada kecelakaan masal bus isi penumpang di daerah Sidoarjo yang ditabrak truk muatan barang, karena ada motor nyelonong.
Akibatnya 26 orang luka berat dan 8 orang langsung masuk kamar mayat.

Puji Tuhan kalo masih dilindungi oleh Yang Diatas selama dalam perjalanan.

Untuk teman-teman pengguna jalan, bila mengemudikan motor: Hati-hati ya jangan asal nyelonong, liat kiri-kanan kalau mau menyebrang.
Dan selalu patuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama.

Bagi mereka yang mengemudikan mobil/ kendaraan roda 4 lainnya :
Hati-hati bila ada motor nyelonong, jangan panik langsung banting setir.
Akibatnya bisa lebih fatal, apalagi kalo kiri-kanan ramai kendaraan.
Juga jangan menyetir kalau lagi ngantuk dan selalu patuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama,

Kenapa pesan-pesan ini gw masukan dalam bLog ?

Karena selama gw di Surabaya ini, udah sering banget jadi saksi mata maupun mendengar perstiwa kecelakaan lalu lintas karena kelalaian pengguna jalan.

Terutama karena tidak menaati lalu lintas (nabrak lampu merah), gak pakai lampu saat malam hari, ataupun etika berkendara yang tidak benar (gak pakai helm).

Walaupun dokter bisa jadi penggangguran kalau gak ada pasien/ orang sakit, tapi sesungguhnya buat kita miris juga kalo liat nyawa orang melayang gara-gara hal sepele.

Oke, sekian pesan tentang keselamatan di jalan dan cerita exploring daerah sputaran Jatim.


Tujuan trip berikutnya : Kawah Ijen !
Your Fonts - Font Generator