Showing posts with label life in particular. Show all posts
Showing posts with label life in particular. Show all posts

Sunday, January 25, 2015

.: The Art of Being Ignorant :. Milano - Gennaio 2015 [parte uno]

Tadinya tulisan ini mau saya kasi judul 'The advantage of being ignorant' ... tapi secara prinsip, lebih banyak mudarat-nya menjadi 'ignorant' daripada manfaatnya.

Seengga-engga itu yang saya rasakan selama tinggal 12 hari di Milan.

Dan perjalanan ke-sekian kalinya ke Milan tentunya bukan perjalanan traveling seperti biasanya.
Tapi lebih menjurus ke hubungan antarpersonal... yang... sepertinya gak usah diceritakan lebih jauh *ehem*

Jadi orang asing di negeri orang bukan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya pernah tinggal beberapa bulan di Belanda, Denmark, dan juga sempat meng-eksplor sejumlah negara baik di Eropa maupun sekitaran Asia.
Biasanya ada kosa kata tertentu yang akan saya pelajari, seperti 'Terima kasih', 'Maaf', 'Halo/ Selamat pagi' dst saat berpindah ke negara baru.

Mempelajari bahasa asing juga bagi saya sesuatu yang menarik dan bukan beban. Dari kecil saya memang familiar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Lalu sempat mempelajari bahasa Jepang selama SMU. Bahasa Jerman dan bahasa Prancis saat beberapa tahun silam. Dan sekarang bahasa Italia masuk ke dalam daftar. 

Saat tinggal di Belanda dan Denmark, saya memang tidak terlalu berusaha untuk mempelajari bahasa setempat karena ... 1) orang sana ampir semuanya ngerti bahasa Inggris. Bahkan tukang sapu jalan pun bisa diajak berkomunikasi pake Inggris. Mungkin cuman orang Belanda asli yang uzur banget gak familiar pake bahasa Inggris. 2) Bahasa Belanda mirip dengan bahasa Jerman. Dan bahasa Denmark juga mirip bahasa Jerman. So, kadang-kadang tanpa ngerti seluruh kalimat pun bisa ngerti artinya apa kalo orang ngomong. Walaupun seringnya ngeblank... 3) Gak kedengeran seksi, jadi gak tertarik untuk belajar serius.

Sebaliknya, saat pertama kali mengunjungi Italia di tahun 2010 (Bologna, dapet cheap flight Ryan Air cuman 20 Eur dari Weeze) saya langsung jatuh cinta dengan bahasa dan ampir segala sesuatu (terutama makanan, cuaca, dan karakter orang) tentang Italia.
Bisa dibilang mereka seperti bernyanyi ketika bicara.
Pesen kopi aja bisa jadi sesuatu yang romantis kalo diucapkan orang Itali : )

Bahasa Italia memang gak se-susah bahasa Prancis dalam pelafalan huruf/ kata. In fact, untuk orang Indonesia pelafalan bahasa Itali termasuk gampang.
Yang susah itu aturan grammar-nya. Mirip-mirip Prancis tapi ada yang bilang lebih susah.
Berbahagialah mereka mahasiswa kedokteran yang pernah belajar (sedikit) kata-kata Latin ketika kuliah. Karena bahasa Italia akarnya dari bahasa Latin juga.

Bagi mereka yang merasa belajar bahasa Inggris itu susah, maka mulailah untuk belajar bahasa lain yang aturannya lebih njelimet... bahasa Rusia mungkin, supaya ntar pas balik lagi belajar Inggris-nya pasti jadi berasa gampang banget.

Anyway,  sebelum melenceng lebih jauh dari judul ... berikut definisi dari Ignorant[adj.]: lacking knowledge or awareness in general.

And yes, it is normal being ignorant when one's went abroad.
Especially when they don't speak the same language.

Bahkan gak usah abroad, waktu saya PTT di Sumbawa aja (baru pindah pulau) orang setempat udah bisa ngata-ngatain saya di depan muka.
Simply because I didn't understand what they've said I didn't get mad or upset.

Ada beberapa keuntungan tentunya being ignorant di negri orang:

1) Kita gak ngerti apa yang orang laen omongin. Kadang kalo hal itu gak penting, maka seharusnya gak usah juga didengar.

Di Indonesia, banyak pembicaraan yang gak pengen saya dengar tapi mau gak mau terdengar.
Informasi gak penting seperti ini bisa jadi sampah emosional. Bikin kepikiran, tapi sebetulnya gak perlu dipikirin juga.

Omong-omong, bahasa Inggris punya 2 kata, hear and listen untuk dengar.
Yang kalo diterjemahkan bedanya cuman dikit. Hear: mendengar, listen: mendengarkan.

Selama di Milan, saya jadi jarang juga nonton TV yang isinya berita politik lokal. Walaupun aslinya saya peminat berita politik ketika di kampung halaman, baik lokal maupun internasional.
Informasi itu bisa jadi pedang bermata dua. Berguna dan juga bisa membawa petaka.
Jadi ada baiknya kalau kita gak ngerti bahasa setempat, mengurangi screen-time depan TV dan beban emosional untuk memikirkan masalah-masalah pelik di belahan dunia lain yang gak selalu relevan.

2) Beberapa hari yang lalu, kita abis dinner dan jalan kaki di seputaran Corso Buenos Aires (tempat shopping terkenal di Milan), ada seorang pria pake baju rapih dan jas doang (kita aja yang pake jaket masi kedinginan karena suhu 8 derajat Celsius) lagi duduk di pinggir jalan sambil pegang karton.
Saya tanya apa arti tulisan di karton yang dia pegang. Terjemahannya kurang lebih seperti ini: 
'Saya kehilangan pekerjaan dan punya 2 anak yang harus diberi makan'
Setelah itu saya jadi agak sedih. 
Kadang-kadang saya merasa dunia itu gak adil, karena selalu ada orang miskin, mereka yang kurang beruntung ...
Di Indonesia karena kita udah keseringan liat pengemis, anak jalanan, pengamen dst jadi mungkin malah kebal dengan perasaan kasihan. Malah saya sebel kadang, karena kepikiran koq ada orang tua yang tega-teganya membiarkan anak balita ngamen di jalanan, misalnya.

Tapi menginjakkan kaki di luar negri, terutama negara Eropa yang dianggap makmur, jadinya rasa kasihan itu muncul lagi.
Sempat penampakan gembel atau homeless jadi barang langka bagi saya selama tinggal di Kopenhagen. Sampe akhirnya saya short trip selama 1 minggu ke Budapest (Hongaria) dan penampakan itu kembali muncul. Langsung saya berteriak lagi (dalam hati tentunya, bukan di tengah kota Budapest) bahwa betapa tidak adilnya dunia ini.

Selama dua minggu di Milan, untuk pertama kalinya, tepatnya tiga hari yang lalu, saya menyaksikan seorang pengamen di metro. Seorang pria berumur pertengahan 40-an, tampang timur tengah dengan instrumen musik menyanyikan lagu berbahasa Italia, suaranya juga bagus (gak jelek-jelek amat pastinya). Dan sejauh mata saya memperhatikan gak ada seorang pun di dalam metro yang ngasi duit.
Suara hati saya membenarkan alasan tidak memberikan receh, karena: 'I totally didn't understand what he said.'

It's not always particularly beneficial for 'being ignorant' ... but at least we could forget temporarily that the world is an unfair place somewhere....



 

Tuesday, February 21, 2012

Life :: Random things ::

Well, udah lama gak ngisi bLog ini,
tentunya karena ada kesibukan sehubungan dengan penentuan karir di masa depan
(Gaya banget ngomongnya, bilang aja nyari kerjaan baru : )

Tapi, your job is not your career.

Jadi nyari kerjaan baru gak selalu berhubungan dengan membangun karir.

Ok, karena masi belum official, saya jadinya gak akan ngebahas soal itu.
Lagian ini kan judulnya travel bLog (walaupun karir baru saya nanti mudah-mudahan masi mendukung hobi jalan-jalan tentunya *evil grin*).

Baru-baru ini ada perubahan rencana, soal tadinya mau launching e-book tapi sepertinya harus ditunda. Sori ya . . . ( Geer juga, emang banyak yang kecewa gara-gara gak jadi?!?)

Sebagai gantinya, ada proyek yang lain sih (masih rahasia juga) yang tujuannya bukan (hanya sekedar) teaser supaya orang Indonesia mau lebih exploring tapi lebih ke pembangunan karakter.
Karena melihat dan mencermati, kayanya itu yang lebih urgent untuk situasi bangsa Indonesia masa sekarang.

Anak-anak muda seperti kehilangan arah. Mereka gak tau apa yang benar dan apa yang salah karena generasi tua-nya juga tidak bisa menjadi contoh/ teladan yang benar.
Apa yang diajarkan di sekolah cuman teoritis, lalu di luar praktek yang mereka lihat jauh berbeda.

Sedih gak sih kalau di masa depan generasi muda kita akan menjadi jajahan dari produk globalisasi?
Anak-anak muda lebih peduli sama segala sesuatu yang sifatnya fisik daripada membangun karakter.

Mereka lebih menghargai orang yang punya gadget canggih daripada orang yang punya karakter tangguh.

Selama saya tinggal di Belanda (sekitaran Amsterdam), jarang saya lihat anak-anak kecil pegang Hp atau gadget canggih.
Disini anak-anak usia SD sudah mahir bermain dengan iPad maupun gadget canggih lainnya.

Di Bandung kawasan perkotaan, dianggap wajar kalau anak SMP sudah punya Hp/ Blackberry (padahal kebutuhan mereka apa sih? BBm-an sama temen yang setiap hari ketemu di sekolah?).
Sedangkan di Belanda, orang yang punya BB yah yang berhubungan sama bisnisnya.

Di kelas saya yang isinya 90% orang Belanda (sisanya 1 orang Spanyol, 1 dari Benin, 1 dari Australia dan 1 dari Indonesia- saya) cuman ada 1 orang yang punya Blackberry.
Dan gak ada yang punya iPhone!
Padahal kelas saya tuh tempat kursus dokter-dokter yang mau jadi Tropical doctors, dan mereka bayar kursus itu mahal banget (kalo saya sih gratis, dapet beasiswa : )
Buat mereka gadget canggih itu gak bikin seseorang jadi lebih cool.

Mereka emang cuman beli barang yang sesuai kebutuhan, dan yang namanya Fb, Twitter, dan yang laen-laennya itu gak populer.
Beberapa temen saya emang punya account profi seperti LinkedIn, tapi gak semua orang punya Fb misalnya.
Yang punya Fb juga gak narsis gonta-ganti status yang gak penting (seperti kebiasaan beberapa orang yang saya kenal di Indo).
Status mereka itu isinya biasanya ngasitau kalo mereka udah punya baby, pindah ke Afrika (tempat kerja baru) atau lebih ke announcement yang bisa dilihat oleh kenalannya.

Kalo orang-orang yang saya kenal di Indo, semua hal yang gak penting bisa jadi inspirasi untuk status Fb. Mulai dari kecengan yang kelakuannya aneh, sebel sama orang, marah-marah sama orang baru ketemu di jalan.
Emang sih silakan aja mo nulis apa pun kan emang account Fb punya sendiri.
Yang males paling ya temennya, yang kepaksa harus ngebaca.

Tapi kalo dipikir-pikir, kenapa sih gak ada temen-temen saya yang di Belanda/Denmark yang punya status norak/ gak jelas gitu.

Kemungkinan, ini baru kemungkinan aja karena hasil analisa saya semata sih.

Orang Belanda/Denmark itu punya satu karakter yang sama yaitu 'tough' . . . ehm terjemahan Indonesia-nya mungkin karakter keras, gak mau keliatan lembek.

Mungkin karena iklim di belahan bumi utara yang gak bersahabat juga yang bikin karakter orang-orang ini jadi gak terlalu sensitif.

Contohnya, waktu saya naek sepeda di Amsterdam, dalam suhu 14 derajat Celcius, dan kecepatan angin 20-30 km/jam. Duh buat saya waktu itu rasanya udah ampun-ampunan deh, apalagi buat yang badannya kecil kaya saya rasanya jarak tempuh 8-12 km tuh seperti gak nyampe-nyampe.
Apalagi yang namanya ujan tuh biasa banget di Belanda, di musim panas pun bisa muncul ujan.
Terlebih saat musim gugur atau winter.

Tapi nyatanya, temen-temen saya di Belanda atau Denmark tuh kayanya tetep aja pada naek sepeda. Emang sih mereka komplen soal cuaca jelek (dan mreka bilang selalu komplen sepanjang taun, karena ampir jelek terus).
Walopun cuaca jelek teteup aja temen-temen saya ini gada yang switching naek kendaraan umum keq. Katanya sih 'Ah lama-lama juga biasa, lagian itu kan cuman ujan air'.

Di Belanda/Denmark kalau saya perhatikan juga kalo cuman ujan kecil sih gada orang tuh yang pake payung atau jas hujan. Semua lalu lalang seakan-akan gak ada apa-apa.
Apalagi di Kopenhagen, tempat saya tinggal, temen-temen saya orang Denmark suka bilang kalo semangat Viking itu 'gak melempem', tangguh, dan pantang menyerah.
Mereka juga suka pake baju tipis padahal suhu masih dingin, katanya supaya badan mereka jadi kebiasa tus lama-lama jadi kuat deh.

Anak-anak kecil di Belanda dan Denmark juga gak dimanja.
Dari kecil dibiasain kena angin (duduk di sepeda) dan maen di salju walaupun dingin.

Viking code
Beda banget begitu saya balik Indo lagi.
Despite cuaca disini hampir sepanjang taun konstan hangat (always summer, kalo saya bilang ke temen-temen bule) tapi akibatnya mental bangsa kita juga jadi keenakan.

Kena ujan dikit langsung sakit. Lupa pake jaket langsung masuk angin.

Itu contoh sederhananya.

Contoh laennya juga banyak.

Dari sekolah kita diajar untuk menghargai hasil bukan proses.
Contohnya, guru selalu memperhatikan murid yang nilainya bagus, bukan yang aktif di kelas selama proses belajar.
Akibatnya, murid lebih termotivasi untuk nyontek (supaya dapet nilai bagus), ketimbang aktif mengikuti proses belajar mengajar.

Owya, ini juga saya rasakan waktu masuk kelas bule-bule ini pertama kali.
Saya merasakan sebagai orang Indo koq saya malu sekali untuk bertanya.
Saya takut salah kalau bertanya, atau pertanyaan saya termasuk 'pertanyaan bodoh' dst.

Akhirnya temen-temen bule saya bilang: 'There's no such thing as stupid question.'
Lagian kita disini kan sama-sama belajar.

Dan mreka para bule tuh independent thinkers sekali.
Itu karena sejak kecil yang namanya opini tuh sangat dihargai.
Opini anak kecil juga dianggap sama kaya orang dewasa.

Gak pernah saya denger kalo ada anak kecil ngomong tus orang dewasanya bilang:
'Ah kamu kan anak kecil, udah deh gak usah ikutan ngomong.'

Karena setiap opini dihargai, mereka juga berani untuk menentukan sikap.
Mereka juga gak suka 'ikut-ikutan'.
Kalau buat kamu cocok ya silakan, tapi belum tentu buat saya juga cocok.

Akibatnya emang kadang-kadang pas kerja kelompok susah sekali menyatukan beberapa independent thinkers ini, tapi yang bagusnya lagi, mereka juga fair banget.

Artinya, kita bisa bertengkar karena berbeda opini saat diskusi dalam kelas.
Tapi diluar kelas, it's all over. Kita jadi temen lagi, karena apa yang kita diskusikan tadi gak usah dibawa personal.

Pokonya semua pengalaman berharga selama saya menempuh studi diluar ini bikin saya kepikiran gimana membangun karakter bangsa Indonesia, terutama anak-anak generasi mudanya. Karena kan mereka yang nanti akan menggantikan generasi tua yang sudah korup dan gak bisa diapa-apain lagi (kecuali sama KPK).

Oke deh, itu dulu cerita tentang random things ya . . . hehehe . . . . kecewa deh gak ada cerita travelingnya ^^

Tuesday, August 9, 2011

Leaving Copenhagen!

:: Danes saved the day ! ::

Mon 08.08

Di tanggal cantik ini (yang katanya hoki menurut penanggalan Cina) gw meninggalkan Denmark karena program master yang udah beres.

Tapi rupa-rupanya cuaca gak bersahabat banget sama gw.
Tiba-tiba ujan gede banget pas sore deket waktu gw mo brangkat! Emang dari pagi perasaan udah gak enak sih, soalnya gw tau kalo pagi-pagi ada suara burung berkicau (dan kemaren-kemaren ini mereka selalu ribut, bikin orang kebangun aja) berarti cuaca bakal cerah.
Sedangkan hari ini pagi-pagi sepi banget.... saking sepi sampe bisa diperkirakan 90% confidence interval bahwa cuaca pasti jelek.
Lebih parah lagi, internet di rumah dari kemaren gak jalan!
Jadinya gw gak bisa ngecek weather forecast juga :-(

Karena masih ujan terus-terusan (bukan ujan yang bisa ditunggu, ujan awet kata orang Sunda) padahal udah gelisah pengen berangkat ke airport, jadilah gw putuskan untuk tetep berangkat walaupun ujan.
So, mulailah gw menurunkan 2 koper (1 koper ukuran gede yang beratnya setengah badan gw! dan 1 lagi ukuran kabin) dari lante 4 tempat gw tinggal.
Sebagai tambahan- di tempat gw tinggal gak ada lift- jadi lumayan sehat deh kalo mau olahraga tiap hari. Pantat dan betis gw ajah sekarang kenceng :-) digabung sama naek sepeda tiap hari... hehe..

Anyway, setelah usaha menurunkan 2 koper tersebut, mulailah perjuangan menembus hujan dari rumah menuju stasiun Metro. Yakin deh orang-orang yang ngeliat gw geret-geret koper dalam hati pasti kesian, mungkin dipikirnya : 'Duh ini cewe udah mungil, item, kurus, geret-geret koper segede itu, ditengah ujan pula!'
Tapi gw sih malah ngerasa lega meninggalkan Kopenhagen, karena kalo cuacanya bagus mungkin hati gw bakal lebih berat.

Then, nyampe stasiun metro- guess what . . .
Lift-nya rusak!
Belum pernah selama ampir lebih dari 6 bulan bolak balik stasiun metro itu lift-nya rusak, baru hari ini doank! Pas lagi bawa koper gede pula... Ajaib gak sih...

Tapi kalo Tuhan punya rencana apa pun bisa terjadi. . .

Selama beberapa lama tinggal disini sebenernya gw udah ngerasa bete banget sama kelakuan orang Denmark yang jutek, cold, nyebelin, egois, self-centered etc.
Hanya hari ini ada sesuatu yang beda.
Pas sedang berusaha susah payah (nurunin koper pake tangga), ada cowo bule yang bantuin gw! Dia ngomong pake bahasa Danish (dan honestly gak tau apa yang dia omongin, tapi gw ngerti dia mo bantuin gw), tus langsung aja tuh koper ukuran jumbo dijinjing ama dia dibawa turun tangga.
Langsung aja gw bilang: 'Tusind tak' (beribu terimakasih) berulang-ulang.

Nah, setelah beli tiket lalu turunlah gw pake eskalator dengan koper-koper itu.
Dan. . . tiba-tiba, ada 1 koper gw yang jatoh pas di eskalator!
Heboh banget deh, karena gw takut koper itu bikin celaka cowo (bule laen lagi) depan gw.
Gw udah bilang.. 'Sorry.. sorry ... ' takut aja dia marah atau bete.
Taunya dia malah bantuin pegangin tu koper sampe gw beres turun nyampe bawah. . . . Hari ini pokonya exceptionally mata hati gw dibukakan sama kelakuan baik orang Denmark :-)

Walaupun hari ini hari yang jelek (karena cuacanya) tapi hati gw hangat rasanya *bigsmile*
Karena tau bahwa selalu ada orang yang baek (di Denmark, atopun di mana ajah) yang mau nolong orang laen (despite tampang gw yang 'imigran' :-)

Thursday, August 4, 2011

One fine day in Kopenhagen

Setelah meninggalkan Kopenhagen ampir 1 bulan untuk liburan summer, dan balik sini lagi ternyata ada beberapa hal yang gak berubah :
1. Cuacanya masih unpredictable
2. (Sebagian besar) orang-orangnya, terutama real Danes, masih cold dan heartless.

What can I expect. This is a place where you could just take it or leave it.

Besides my few but painfully bad experiences with Danes, masih juga ada beberapa yang exceptional (tentunya).
Salahsatunya adalah landlady gw, qta sebut aja namanya Mrs. L.

Dia umurnya 65 tahun keatas tapi (seperti layaknya Danes) masih aktif pake sepeda kemana-mana, termasuk ke tempat kerjanya tiap hari. Orangnya sih milih-milih, gaul sama dia a bit tricky, soalnya dia sebenernya suka diskusi berbagai hal.
Mulai dari soal kultur, kebiasaan, makanan, sampe agama pun dia tertarik.
Dan dia juga lumayan sering traveling (maklum disini cuti mereka banyak per tahun-nya) dan dia jago bahasa Inggrisnya, selain Prancis juga.

Anyway, hari ini dia udah spare time untuk gw- karena beberapa hari gw akan meninggalkan Denmark (berhubung masa studi udah selesai. Cepet banget yah, rasanya waktu 1 tahun tuh cepet banget *hikshiks*).
Jadi semacam 'saying goodbye' gitu ama gw. Walopun gw bukan tipe orang yang suka 'say goodbye' in a proper way, it's just too hard.
Gw sempet bilang ama dia: 'Well we don't know. Maybe I'll come back again to Denmark.'
Tus dia bilang: 'Maybe. Maybe you'll getting married with Dane guy.'
Rasanya gw pengen replied 'Nej, tak' (Gak deh, terima kasih), tapi sebagai orang Asia gw masi sungkan.
Instead gw cuman senyum-senyum aja sambil bilang... 'Ehmm... yeah we'll see.'

So, hari ini dia ajak gw sesepedaan (yup, gw punya sepeda, pinjeman dari temen gw yang exceptionally nice Danish girl juga) ke deket pantai. FYI, rumah tempat gw tinggal tuh emang deket banget ama pantai, pake sepeda 15 menit langsung nyampe coastal deh. Once in a while kalo suntuk emang gw suka sesepedaan sambil menikmati pemandangan (=cowo2 berbodi oke keringatan + terengah2 :-)
Terus dia (Mrs. L, landlady gw) traktir gw makan salmon+kentang di Club Sailor deket tepi pantai.
Kita ngobrol segala macem, dia juga orangnya thoughtful -pas dia ngeliat baju gw tipis padahal cuacanya mulai dingin+windy, dia ngambilin selimut buat dipake. Dia sendiri malah gak dapet selimutnya gara-gara abis dipake orang laen.
Pokonya bisa dibilang dia itu masi tipikal Danes, yaitu kalo udah deket bakal bisa baek banget.

Balik rumah dia ngajak gw minum teh (karena gw gak minum kopi, I am so lame) dan snack manis.
Lalu ngobrol banyak hal lagi, termasuk konsul masalah kesehatan dia juga.
Dia juga cerita tentang cek up-nya dia terakhir ke dokter, ternyata dia bagian dari penelitian kohort selama 20 tahun or so, karena pernah diterapi hormon. Kohort ini at least sampelnya 2000 wanita!
Untuk gw yang punya sedikit pengalaman di riset, tentunya hal yang sangat menarik dan jadinya nanya-nanya banyak. Dia dapet cek up gratis (walopun kalo punya CPR, kartu ID sini yang berfungsi sebagai kartu asuransi kesehatan juga, semua orang bisa ke dokter gratis) termasuk cek marker dan MRI yang kalo di Indo (ya elah, bandingin ama Indo) termasuk resource yang mahal banget. Cek up ini ada yang 2 bulan sekali, 3 bulan sekali, 1 tahun sekali. MRI dan CT scan contohnya 1 tahun sekali.
Dia juga aware banget ama status kesehatannya. Ada sekumpulan file yang isinya kompilasi data-data kesehatan dia termasuk catetan dokter. Pas gw liat-liat rasanya keliatan banget kalo ini negara emang canggih dan kebanyakan duit ... hihihi...

Tapi ada shortcoming-nya juga. Menurut Mrs. L, dokter disini gak terlalu concern ama keluhan pasien.
Lalu anamnesis-nya singkat banget, langsung dirujuk ke pemeriksaan penunjang.
Mungkin karena mereka punya advanced technologies juga.
Dia sih ngerasa gak puas karena kalo ke dokter, dia pesimis ujung-ujungnya cuman direfer dari 1 spesialis ke spesialis yang laen. Padahal semuanya gratis juga dan tinggal bikin appointment doank.
Dia juga gak doyan minum antibiotik ato obat-obatan. Kalo bisa sih, kata dia, gak perlu minum obat bisa gak sembuh penyakitnya?
Hmmm.... ya gw jawab, ada yang musti pake obat ada yang emang sembuh sendiri kalo daya tahan tubuhnya membaik.

Well, anyway, malem ini stelah ngobrol panjang lebar sama dia, sayangnya qta jadi semakin deket pada saat mau berpisah... *hikshiks* then gw bilang: 'You should definitely come to my wedding day'.
Mrs. L : 'What??? You're gonna have a wedding?'
Gw: 'Yeah. Of course, someday. I don't have husband yet at this moment. But I just thought that if you should come to my wedding day, if I have.'

Yeah I'm gonna miss her definitely.
Your Fonts - Font Generator