Showing posts with label volcano. Show all posts
Showing posts with label volcano. Show all posts

Tuesday, December 11, 2012

.: journey through volcano :.

yup, kali ini gue kembali dengan ulasan tentang pesona wisata negri sendiri.

iya minggu lalu gue menghilang ke sebuah lokasi wisata di jawa timur, yang cukup terkenal di kalangan turis (atau traveler) domestik maupun lokal.

ayo... ada yang bisa nebak gak apa ?

bukan. bukan baluran (tapi pengen juga sih ke sana suatu saat).
bukan pulau sempu juga. karena sekarang status pulau sempu sudah menjadi Cagar Alam. sehingga terbatas untuk dikunjungi. apalagi mengingat kebiasaan orang indonesia pada umumnya, kalo pergi wisata suka meninggalkan 'oleh-oleh' sampah di lokasi yang dikunjungi. akhirnya dengan update status terbaru Pulau Sempu menjadi kawasan Cagar Alam, maka dengan ini diputuskan untuk mencoret sempu dari list tempat wisata yang akan dikunjungi.
ini semua demi terjaganya ekosistem dan biodiversity di pulau Sempu selalu terjaga untuk kepentingan jangka panjang kedepannya. amin. (apaan sih ?!?!)
serius. jangan ke Pulau Sempu kalau cuman sekedar untuk wisata doang.
terserah orang laen mau bilang apa, tapi gue mendukung gerakan Save Sempu, Jangan ke Sempu - agar pemerintah yang korup yang gak mampu menjaga kelestarian alam (melainkan meng-eksploitasi tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan) gak mendapat keuntungan dari turis yang gak ngerti apa-apa.

selain itu, tanah Indonesia ini masih banyak pilihan tempat untuk dikunjungi selaen Sempu.

nah, sekarang karena kalian udah penasaran kira-kira lokasi apa yang udah gue kunjungi .... ehem ... proudly present : Kawah Ijen, sebagai mutiara pesona wisata taraf internasional di Jawa Timur.

udah lama pengen ke Kawah Ijen, akhirnya baru kesampean di penghujung tahun 2012.
tepat sebelum kembali ke kampung halaman di Bandung yang becek nan banjir di kala hujan akibat ulah Pemkot yang berkomitmen tinggi untuk korupsi selama jabatan masih dikandung hayat. (curcol sejenak, mudah-mudahan dibaca KPK).

Kawah Ijen, yang terletak di kawasan pegunungan Ijen (ya ealah!) merupakan danau air asam terbesar di ... eh dimana ya, tar gue gugel dulu sumber informasinya. oke ketemu, terbesar di seluruh dunia! nih gw kutip dari website-nya 'by far the largest acid lake on Earth'
Keren gak tuh!
Malaysia pasti gak punya yang kaya gini, karena mereka sirik makanya mereka suka mukulin/ perkosa TKI asal Indonesia, jelek-jelekin orang kita, plus mencuri reog Ponorogo dan tarian Pendet dari Bali.

Nah, daripada baca cerita gue yang gak nyambung, mendingan dibaca langsung aja di situs ybs

Untuk yang lebih suka baca dalam bahasa Indonesia (tenang, gue gak akan bilang kalo kalian gak ngerti bahasa Inggris : ) bisa baca ini

Seperti biasa, sebelum trip gue selalu baca info-info yang bisa dicari di internet.
Ternyata banyak juga sumber nya, baik dari sumber turis luar yang udah berkunjung maupun dari sumber lokal.
Sedikit malu juga sih, kadang temen -temen gue yang orang asing malah udah pernah kesini sedang kita sendiri orang lokal gak sebegitunya menghargai keindahan Ijen.

Okeh, lanjut. Setelah mencari info sana sini, tanya sana sini. Ternyata emang gak ada akses langsung dengan kendaraan umum untuk nyampe sana.
Gak seperti Bromo yang pengelolaannya jauh lebih terorganisir, bisa diakses pake kendaraan bison dari terminal Probolinggo.

Setelah tanya orang pun, mereka yang udah pernah kesana biasanya hitchhike truk milik perkebunan. Semisalnya pake elf pun yang berangkat dari terminal kota Bondowoso, ternyata jadwalnya gak reguler dan elf ini cuman sampe kawasan Sempol aja.

Kalau menelusuri lebih jauh, banyak paket tur yang diorganisir oleh travel agent baik dari Banyuwangi, Malang, maupun Bali untuk one day trip (atau lebih) ke Ijen.
Tapiiiii.... mahal bo! Kayanya mereka juga lebih mentarget turis asing.
Pas nyampe Paltuding pun gue perhatikan emang banyak turis asing yang nyampe sana lewat pake tur seperti ini. Asumsi gue pun diperkuat dengan wawancara informal kepada salahsatu supir yang nganter para turis bule oleh Pak Bambang (supir yang nganter kita, kenalan om).

Jadi, karena menyadari betapa ribetnya pergi ke Ijen tanpa adanya akses kendaraan umum, akhirnya om gue menawarkan untuk minjemin hardtop berikut supirnya buat nganter kita.
(tawaran yang langsung gue terima dengan senang hati).
Tentu aja ini berarti perjalanan gue gak termasuk purely backpacking ala gembel.
Tapi gue janji, masih ada bagian menarik untuk diceritakan koq : )

Perjalanan kita (gue dan 2 orang teman lainnya) dimulai dari Jember.
Sebenernya, kalau mau ke Ijen bisa diakses dari dua jalur/ kabupaten; Bondowoso atau Banyuwangi.
Saat kita berangkat padahal bertepatan dengan diselenggarakannya bike tour de Ijen yang lewatin jalur Banyuwandi.
Tapi banyak yang bilang kalau jalur yang Bondowoso lebih bagus, dengan pemandangan hutan-hutan pohon pinus. It was indeed a scenic journey on the way.

Sama seperti kawasan wisata Bromo yang diperebutkan oleh 4 kabupaten, kawasan wisata Ijen juga menjadi sengketa dua wilayah: Bondowoso dan Banyuwangi.
Rute lewat Banyuwangi sendiri tadinya susah dilalui karena terkenal jalannya yang jelek, tapi katanya beberapa hari kemaren diperbaiki. Mungkin berkaitan dengan event international bike tour  tadi.
Sedangkan rute lewat Bondowoso lebih pendek (apalagi kalau kita berangkat dari arah barat), kondisi jalan yang lumayan bagus, dan disuguhi pemandangan lebih indah.

Kalau dari Bondowoso, nantinya kita bakal masuk ke kawasan perkebunan (PTPN) sebelum lanjut ke pos pendakian di Paltuding.
Normalnya kita sebagai pengunjung/ traveler mesti lapor pas masuk ke kawasan ini, untuk perjalanan kami sudah diwakili oleh Pak Bambang (supir hardtop, kenalan om). Maklum beliau udah veteran banget bolak balik kawasan PTPN. 

Karena kita berangkat dari Jember sekitar jam 9 pagi, lama perjalanan ke Bondowoso dan ke kawasan Ijen sekitar 3-4 jam, jadi nginep dulu semalem di Jampit.
Kawasan perkebunan kopi di Jampit ini menghasilkan banyak pemasukan untuk masyarakat sekitarnya. Kalau dilihat-lihat mereka hidup cukup makmur, dibandingkan buruh penambang belerang yang kerja di kawasan kawah Ijen.
Dari hasil ngobrol-ngobrol dengan Pak Bambang dan juga guide yang nganter kita ke puncak gunung Ijen, mereka bilang kebanyakan buruh yang bekerja bolak balik ngangkut belerang itu memang berasal dari Banyuwangi.

Udah banyak foto dan liputan yang menceritakan tentang keras dan kejamnya hidup jadi buruh yang ngangkut belerang ini. 

 Salahsatu foto yang memenangkan penghargaan internasional oleh fotografer asal Lebanon saat berkelana ke Kawah Ijen: http://journals.worldnomads.com/scholarships/story/81251/Worldwide/Travel-Photography-Scholarship-2011-Winner-Announced!

Memang selaen keindahan alam di kawasan Ijen, hidup keseharian buruh penambang belerang yang bekerja di kawah Ijen juga jadi cerita yang bisa dijual.
Bayangin aja deh, gue dan temen yang gak cuman bawa badan aja susah payah treking sejauh 3 kilometer ke puncak (dengan kemiringan sudut 40-60 derajat).
Sedangkan para buruh itu harus membawa beban (hasil belerang yang ditambang) sebanyak kurang lebih 80 kilogram! Yang artinya 2x berat badan gue!
Sehari mereka bisa bolak balik 2 kali, maksimal 3 kali. Karena kalau lebih dari itu bakal kecapean.
Dan upah mereka berdasarkan berat/ banyaknya belerang yang dibawa pada saat turun.
Menurut pak Bambang (selaen jadi supir, beliau juga jadi narasumber gue selama perjalanan Ijen) para buruh itu harus libur setelah sehari kerja. Mereka gak boleh kerja dua hari berturut-turut misalnya. Karena kebayang dong dengan kondisi seperti itu mereka bisa cepet sakit kalo kerja tanpa istirahat.
Untuk orang normal yang kondisinya fit, naek dari pos Paltuding ke puncak dimana ada kawah Ijen bisa ngabisin waktu sekitar 1,5 - 2 jam. Yang artinya pulang pergi makan waktu 3-4 jam. 
Kalau mereka mulai pukul 5 pagi, bolak balik 2 kali berarti abis waktu 8 jam sehari untuk kerja. Tapi perjalanan balik karena beratnya belerang yang mereka bawa, para pekerja biasanya berenti beberapa kali. Ada tempat-tempat dimana mereka bisa berenti sambil naro keranjang berisi sulfur yang berat itu. Dan saat mereka istirahat itu biasanya beberapa orang (yang kesian) ngasi makanan/ rokok/ minum dst.
Kejam memang kehidupan ini. Dan bisa dibilang tidak adil.
Mengingat betapa banyaknya koruptor yang berkeliaran makan uang rakyat, sementara masih di belahan dunia yang sama sebagian orang begitu susahnya bertahan hidup.

Sebelum ngelantur lebih jauh, marilah kita lanjutkan kembali soal perjalanan ke Ijen ini.

Sampai di Jampit kita nginep semalem di guesthouse kepunyaan PTP. Tempatnya dibangun tahun 1928 untuk tempat peristirahatan tuan tanah jaman dulu (kali yeee).
Dan sekitarnya banyak taman yang indah serta terawat.
Pokoknya mengingatkan karangan gue jaman SD tentang berlibur ke rumah Nenek di desa.
(padahal gue gak punya nenek yang tinggal di desa, tapi waktu itu karangan gue dapet juara satu... hihihi).
Biar gak disangka bohong, nih gue kasih liat fotonya :

 .: view dari depan guesthouse kita :.
mirip gambar pemandangan yang suka dibikin waktu SD

Jaman dulu kan disini belum masuk listrik, jadi ada perapian di tengah rumah untuk penerangan dan juga sumber kehangatan (cieh, kesannya apaan gitu).
Maklum kalau malem hari, apalagi pas musim kemarau, suhunya bisa turun sampe dibawah 10 derajat Celcius.

Sore harinya gw jalan-jalan ke sekeliling guesthouse di daerah Jampit itu. Selaen berjejer kebun bunga warna warni di sepanjang jalan, juga banyak pepohonan pinus dkk di kawasan situ. Tus gue liat ada bangunan tua jaman Belanda yang agaknya kosong dan spooky.
Berhubung gue gak ada rencana buat wisata horor, jadi walau penasaran gue lewat aja tuh bangunan tanpa diintip.
Malemnya pak Bambang cerita, katanya dulu daerah sini emang pernah dipake untuk syuting film horor (judulnya apa dia gak tau. mungkin 'suster ngesot sambil kramas'). Dan bangunan spooky sempat dipake buat tempat nginep crew film yang bertugas.
Banyak kejadian aneh sewaktu mereka tinggal disitu e.g. salah seorang kru yang kesurupan dan munculnya orang tak dikenal dikenal yang katanya hantu.
Anyway, cerita dari temennya pak Bambang yang penduduk asli situ juga gak kalah seru.
Katanya dulu kawasan situ banyak harimau. Sayangnya sekarang udah punah (mungkin diburu warga, kesian ya). Juga pernah diketemukan ular seukuran batang pohon, yang bisa makan sapi hidup sekali telen.

Malemnya kita masih bisa lihat jelas bintang berserakan di atas langit. Itu karena polusi cahaya masih sedikit di kawasan Jampit.
Untungnya juga kalau dateng pas musim hujan, suhu udara jadi gak terlalu dingin pas malem.

Setelah bobo beberapa jam, kita siap berangkat jam 0230 dari Jampit ke pos pendakian Paltuding. Jalur yang kita lewati off road, motong kawasan perkebunan, melintasi kawah wurung yang katanya dulu penuh terisi air. Tapi sekarang jadi cekungan luas seperti savanah. Sempet juga kita kesana sorenya.

.: kawah wurung :.
mengingatkan gue akan savanah di afrika selatan (kayanya sih disana mirip gini juga)

Nyampe Paltuding, kita harus lapor ke petugas di pos-nya sebelum pendakian. Ngisi buku tamu dan bayar 5ribu per orang. Menurut gue ini tarif yang manusiawi.
Jadi inget kalo mau masuk kawasan Tangkuban Perahu mesti bayar mahal terlebih turis asing kena bayaran lebih mahal. Sungguh Pemda Jabar lebih bermental koruptor dan geje pemasukannya buat siapa.

Trekking ke atas puncak kawah Ijen sebenernya gak terlalu susah, jaraknya cuman sekitar 2,5 - 3 kilometer. Tapi buat yang belum terbiasa dengan jalur yang agak berpasir mesti pinter ngatur nafas. Sekitar 1 kilometer sebelum nyampe puncak Kawah Ijen, bakalan ada warung pondok bunder. Orang bisa istirahat dulu disitu sambil ngeliat kerajinan tangan yang terbuat dari belerang, bikinan orang setempat.
Harganya cukup 5 ribu saja. Underpriced kalo menurut gue, mengingat proses pengambilan belerang tsb yang lumayan extreme.

.: kerajinan dari belerang :.
cuman 5 ribu aja, monggo dibantu yang mau jadi distributor

Sisa perjalanan sekitar 1 kilometer dari warung pondok bunder ke puncak gak kerasa karena pemandangannya bener-bener keren. Kita bisa liat lereng pegunungan di sebrang, mirip kaya pegunungan di New Zealand dalam film Lord of The Ring. Gue seketika merasa jadi hobbit dalam perjalanan mencari cincin... : )


bentar lagi ketemu cincin-nya  : )

Nyampe puncak, terjadilah peristiwa yang paling ditakutkan para fotografer.... yaitu .... batre kamera abis! Iya kamera SLR yang gue bawa ternyata totally run out of battery pas nyampe atas. Akhirnya cukup dengan modal kamera blackberry aja untuk mengabadikan keindahan Ijen. Tapi gak papa kan yang penting nyampe and it was absolutely stunning.

.: kawah Ijen :.
09 des 2012 (05.56)

Cuacanya sedikit berkabut pas nyampe atas, jadi gak terlalu jelas sunrise-nya. Mungkin karena kita juga agak kesiangan pas mulai trekking.
Tapi masih bisa dinikmati koq, walaupun anginnya keceng banget.

Sambil istirahat, gue memperhatikan banyak pengunjung yang foto narsis dengan latar belakang kawah. Mulai dari ababil sampe pasangan tua, juga banyak pengunjung asing (belanda, prancis, jerman, spanyol, australia, UK) yang tampaknya terpananya kaya gue.
Pas kita naek ke atas, sering juga berpapasan dengan buruh penambang belerang.
Sementara kita kedinginan pake baju 2 lapis karena suhunya pagi hari bisa 15 derajat Celsius, mereka malah banyak yang udah telanjang dada karena berkeringat.
Para buruh penambang ini memulai 'karir'nya sekitar umur 20an dan pensiun sekitar umur 50an. Paling tua mungkin 60an karena lebih dari itu mereka udah gak kuat lagi mungkin ngangkat beban 80 kg.

Rasanya susah dibayangkan ada orang yang seumur hidupnya bener-bener dihabiskan di tempat seperti itu untuk jadi penambang belerang. What a hard life for some people. 

Setelah perjalanan ke Kawah Ijen ini, gue mulai merenung apakah sebagai 'anak jaman sekarang' yang terlahir di kota bisa dibilang mental kita terlalu lemah untuk bekerja keras. Terlalu manja sama kehidupan. 
Pengennya kerjaan dapet yang nyaman, gak susah, gaji besar, gak mau lecek dst.
Padahal di sekitar kita masih banyak orang yang bener-bener harus kerja keras hanya demi upah yang pas-pasan untuk bertahan hidup. Owya mereka juga mungkin gak ditanggung asuransi kesehatan sekiranya tiba-tiba jatuh sakit. Bisa habis seluruh tabungan (kalau pun mereka punya) untuk membiayai pengobatan.
Padahal kerja di lingkungan dengan paparan gas sulfur terus menerus selama puluhan tahun pasti berpotensi untuk bikin penyakit kronis pada organ pernafasan para buruh kasar tsb.

Traveling seperti ini kadang bikin gue berpikir lebih keras, gimana caranya untuk membangun sistem kesehatan yang berpihak pada populasi seperti mereka.
Termasuk sistem pembiayaan kesehatan yang terjangkau buat orang yang penghasilannya pas-pasan. Juga pemberdayaan masyarakat supaya mereka gak harus terus menerus puluhan tahun bekerja kasar kaya gitu, tanpa ada jalan keluar menuju keadaan yang lebih baik. Tapi dengan cara memberikan kail dan bukannya ngasi ikan.
Empowerment dan sustainability. Itu aja kata kuncinya.
Hanya caranya seperti apa, gue masih belum tau sih.

Ada yang mau bantu ?






Wednesday, August 8, 2012

catper :: Bromo - Malang - Coban Rondo (Batu)

:: Prelude ::
Sebagai orang yang gak ngurusi hal-hal detail, terus terang gw gak berbakat kalo disuru nulis catatan perjalanan.
Tapi mengingat sejarah bagaimana susahnya nyari info kalo mau jalan-jalan domestik dalam negri sendiri (ironis kan?) akhirnya gw niatkan untuk nulis catper ini.

Semoga berguna buat temen-temen yang mau eksplorasi negeri sendiri.

Bromo is one of the place which make me proud of being Indonesian : )

Jadi, kenalilah negeri mu sendiri
( dan jangan habiskan ringgit di negeri tetangga, kalau belum nyampe Bromo ! )






Perjalanan dimulai dari Surabaya (terminal Bungurasih) ke Probolinggo
pake bus non-AC (tiket 14k IDR/ orang) atau kalau pake bus patas-AC (tiket 23k IDR/ org)
Lama perjalanan sekitar 2 jam, dengan asumsi gak macet sepanjang jalan.

Nyampe terminal Probolinggo, jalan keluar dikit ke arah pom bensin cari aja bison (biasanya warna biru kehijauan/ hijau kebiruan). Bison ini semacam elf/ minibus, entah kenapa populer namanya jadi bison. Isinya muat 12 orang bule atau 15 orang lokal, kenapa demikian?
Karena dalam bison yang kita tumpangi ini isinya 7 orang Prancis dan 6 orang lokal, tapi supir dan kernet-nya kekeuh pengen diisi 15 orang padahal orang-orang bule ituh badannya guedhe disuru nyempil tumpek blek di dalem bison. 

Mereka nungguin penumpang sampe penuh baru berangkat ke Cemoro Lawang (bayar 25k IDR/ orang). Ini setelah ngotot-ngototan dulu karena supir sempet minta 30k per orang kalau mau berangkat cepet #halah.
Lama perjalanan menuju Cemoro Lawang katanya skitar 1-1,5 jam.


WARNING: Banyak bus dari luar kota (Probolinggo/Malang) yang nurunin penumpang di travel agen sepanjang jalan menuju terminal supaya traveler bisa ditawarin dengan harga lebih mahal (75k IDR/ orang). Biasanya mereka akan bilang kalo pake bison itu waktu tempuhnya bakal lebih lama dan lebih baek pake minibus punya mereka kalo mau lebih cepet perjalanan.
And it's all bullshit.

 
on the way to Cemoro Lawang kita bakal disuguhi pemandangan ini


Di Cemoro Lawang bisa nginep di hotel atau di rumah penduduk (homestay).
Kisaran harga waktu kita kesana (pas Kasada festival) agak mahal, skitar 150k IDR per kamar (bisa diisi 4 orang, karena ada 2 bed ukuran besar).
Kalau malem di Cemoro Lawang ini suhunya bisa turun sampe 10 derajat Celcius, jadi paling enak tidur 1 ranjang berdua supaya anget.


pura di Bromo ini jadi venue penting pas acara Kasada


 Untuk liat sunrise di Bromo, ada 2 pilihan : Bisa pake jeep (sewa) atau trekking (total skitar 3 km sampe puncak).
Buat yang gak kuat trekking mending pake jeep aja, walaupun jalur trekking juga sebenernya gak terlalu menantang (hanya berdebu, jadi siap-siap masker/penutup hidup aja).

sunrise-nya udah mulai nongol sementara kita masi ngopi dalam perjalanan,
ini akibatnya kalo berangkat kesiangan !

Kita sendiri berangkat trekking agak siang (gara-gara males bangun) skitar jam 4am. Banyak orang (yang lebih rajin) udah berangkat dari jam 2 atau 3 dini hari.
Pas mau naek tangga ke puncaknya, udah banyak orang banget sampe susah mau ke atas saking padatnya jalur turun/naek.

jalur naek/turun ke puncak ini udah pasti gak mungkin dilalui ibu yang hamil tua saking curamnya


Sunrise dari Bromo emang indah banget.
Dan bikin gw bangga jadi orang Indonesia, karena punya kekayaan alam seperti ini :')


sunrise from the top :: Bromo, i'm so proud of you !


Sayang gw gak banyak ambil gambar yang bagus disini (gak konsen, terlalu banyak pengunjung, debunya bikin alergi dan kecapean pas nyampe atas #alesan).

Perjalanan pulang lewat savanah juga bagus, gak berasa kaya di Indonesia.
Sayang gw udah gak mood ambil gambar pas perjalanan pulang, karena bersin-bersin mulu (alergi debu kali). Tapi percaya deh, beneran bagus ! Bisa jadi tempat foto prewedding juga (kalo vendor-nya mau dibawa kesana... hehe)


Anyway, dari Cemoro Lawang ini kita turun lagi ke Probolinggo pake bison (sama harga 25k).

Sebenernya dari situ tadinya mau ke air terjun Madakaripura.
Kita udah punya kontak person orang yang bisa disewa elf-nya (harga 250k, muat utk 10-15 orang, rute bisa nego). Jadi silakan aja kalau butuh dia untuk perjalanan sekitar Bromo.
It's a good deal anyway.

Namanya mas Aris (no hp. 082 1412 56485)

Dari Probolinggo, got no plan. Akhirnya diputuskan ke Malang- lalu Batu karena disana (menurut peta) ada sumber air panas /natural hotspring.

Probolinggo ke Malang makan waktu 2 jam lebih pake bus (harga tiket 14k IDR, non-AC). 

Nyampe terminal Arjosari Malang, nanya-nanya ke travel agen situ yang memuaskan banget info-nya.
Mbak-nya helpful dan ini dia kontaknya:  Mitra Abadi Tour and Travel (di depan terminal tempat penumpang turun)
Nur Sutikno : 0817 538 025 |  0341- 489 541 |  0821 3370 4299

Menurut info si mbak di travel agen ada tempat kemping juga di daerah Batu, jadi kita mau nyoba kesana.
Namanya Cuban Rondo, tapi untuk kesana harus pake bus dari terminal Landungsari.

Dari terminal Arjosari ini ke terminal Landungsari pake bemo (yang tulisannya ADL) lama perjalanan skitar 45 menit, bayar 2.5k IDR/ orang (murah banget yak?)

Daerah skitaran terminal Landungsari ini lumayan rame, banyak tempat makan enak. Sayang pas bulan puasa banyak yg tutup kalo siang.

Untuk ke Cuban Rondo, dari terminal Landungsari ini kita musti naek bus arah Jombang/Kediri. Lama perjalanan skitar 30-45 menit, bayarnya 5k IDR/orang.
Turun depan patung sapi, dari situ bisa jalan kaki ke pos masuk Cuban Rondo (sekitar 2 kilometer lebih) atau naek ojek (5k IDR/ orang).

Tiket masuk wisata alam Cuban Rondo harganya 8k IDR/ orang, udah termasuk asuransi dan surcharge pelayanan & konservasi.
Tempatnya bersih banget, ada guide juga kalo qta mau trekking ke hutannya yang masi liar.
Trus mreka juga bisa bantuin kalo kita pengen nyobain paragliding/ rafting/ wisata alam laennya.

Kontak person disini namanya pak Kotikno : 0858 550 39263

Tempat kemping di Cuban Rondo ini bersih tapi MCK-nya filthy banget dan kalo malem cuman ada dua lampu doang yang nyala (di wc-nya). Creepy.
Tapi di depan ada slogan kalo petugas disana menjamin keamanan kita.
Dan memang aman koq. Lebih aman daripada jalan kaki sendirian tengah malem di Jakarta pastinya.


Dari tempat kemping kita, bisa jalan kaki juga (sekitar 2 km) ke air terjun.
Gak perlu bayar entrance fee lagi di tempat air terjun-nya karena udah termasuk tiket masuk wisata alam.
Aku suka tempat ini, daerah skitaran air terjun ini juga bersih banget, dan masih alami (katanya masih ada monyet juga yang bebas berkeliaran, tapi kita gak nemu).

Kalau pagi hutan ini rame sama suara binatang yang bersahut-sahutan (burung/monyet/makhluk hutan laennya).
Love it !

tempat kemping di Cuban Rondo, daerah Batu

Dari Cuban Rondo, kita nyobain ke Songgoriti juga. Karena disana katanya ada sumber air panas.
Bisa naek bemo turun di pom bensin, jalan ke dalemnya bisa pake bemo lagi atau kalo kuat ya jalan kaki (1.5 km lah)

Sayang sumber air panas-nya gak sesuai yang kita harapkan, karena ternyata gak bisa rendeman tapi cuman dibanjur pake gayung aja (murah sih tiket masuknya cuman 3k IDR)
Karena kadar belerangnya tinggi, jadi bisa dipake untuk terapi e.g. sakit kulit, atau encok dst.

Akhirnya kita cuman ke kolam renang aja di daerah Songgoriti ini.
Kolam renangnya sepi banget (orang kan pada puasa), isinya cuman kita berdua doang... serasa punya private swimming pool deh.
Pemandangan sekitar kolam renang juga enak buat dinikmati sambil berenang siang-siang (ngegosongin kulit supaya keliatan eksotis kaya cewe tropis #halah).


private swimming pool [at] Songgoriti

Owya tiket masuk ke kolam renang Songgoriti cuman 5k IDR

Pengennya sih ke Cangar, tempat natural hotspring yang letaknya agak jauh di Selekta. Soalnya kita sempet liat gambarnya bagus banget euy, kliatannya natural gitu tapi ternyata aksesnya lumayan susah :(
Karena kalau mau pake bemo/angkot cuman ada pagi pas waktu anak sekola, tus kalo mau ksana harus sebelum sore (tutupnya jam 5pm).

Agak menyesal juga sih kenapa kita gak rental sepeda motor aja supaya mobilitasnya lebih gampang.
Sebenernya emang udah coba nyari sepeda motor yang bisa disewa hanya penduduk sana agak takut untuk nyewain karena banyak kejadian ilang/ dicuri sama turis. Kesian deh.
Harganya juga ga terlalu negotiable, gak kaya di Bali.
Mungkin karena jarang juga turis yang kesini.

Stelah putus asa dan sadar kita gak bakal keburu ke Cangar hari itu akhirnya mending muter-muter aja di skitaran alun-alun Batu.

Alun-alun kota Batu ini salahsatu alun-alun paling bagus dan bersih yang pernah gw liat selama di Indonesia.
Keren! Salut untuk pemkot Batu !

Bahkan ada ruang khusus untuk merokok segala.

Di daerah sekitaran alun-alun Batu ini banyak tempat makan, baik bentuk kaki lima (di trotoar, harusnya gak bole tuh) maupun di kedai/ warung/ restauran yang bisa dilalui sambil jalan kaki.

Jalan kaki disini juga nyaman dan aman, gak liat sampah bertebaran sepanjang jalan. Trotoar nya akomodatif (gak banyak tukang kaki lima yang jualan liar, yang kita liat banyak ya cuman di sekitar alun-alun itu aja).
Lalu tiap beberapa puluh kilometer ada pos polisi.

Ini salahsatu kota di Indonesia yang kalo diliat turis luar gak malu-maluin.
Serasa berada di bagian lain dari Indonesia (yang selama ini identik dengan kotor, semrawut, tidak nyaman dll).

Bahkan bemo yang kita naekin pun jauh lebih bersih dan terawat, daripada bemo di Surabaya contohnya. Naek bemo di Surabaya itu udah mah mobilnya keluaran lama, dalam interior-nya juga kumuh (dan berdebu). Makanya di Surabaya cuman orang-orang yang berani dekil aja yang naek bemo.

Sambil nungguin temen gw lagi ngecek imel di warnet, sempet nyobain avocado juice di kedai depan jalan besar (gak tau nama jalan-nya tapi deket banget sama alun-alun kota). Ternyata enak banget, jus-nya kental dan rasanya pas banget ma selera, harganya pun cuman 4 rebu doang! Udah gitu di belakang kedai ada koko yang jualan-nya mayan cakep lagi bersihin kulkas (hhmm... apaan sih, gak nyambung blas)

Anyway, kalau dari kota Batu sini gak punya motor agak susah getting around.
Walaupun angkot/ bemo cukup banyak beredar sampe malem, tapi minibus/elf yang balik ke arah Cuban Rondo agak jarang.
Terakhir berangkat dari kota paling malem jam 8pm - jadi deh kita buru-buru mesti balik karena kalo kemaleman susah nemu kendaraan yang balik kearah sana.

Dalam perjalanan balik ke Cuban Rondo inilah sesuatu yang sangat disesalkan terjadi ...
Yaitu ... ketinggalan sate ayam di dalam kendaraan/ minibus yang kita tumpangi (hiks).

Padahal gw udah ngidam sate ayam ini, dan belinya lumayan mahal (12 rebu).
Salahsatu makanan termahal yang gw beli selama perjalanan ini.

Tapi dipikir-pikir mungkin emang rejeki-nya si bapak yang nganterin kita.
Berhubung kita penumpang terakhir dan dia emang dalam perjalanan balik ke rumah, jadi isinya cuman kita berdua doang di dalem mobilnya.

Akh ya sudah direlakan aja, itung-itung amal.
If it's not belong to me then it's fine.
Besok paginya, kita udah mesti balik lagi deh ke Malang.

Nyampe terminal Arjosari Malang, langsung ambil bus ke Surabaya.
Cukup bayar 10k IDR/ orang (tarif non-AC) langsung nyampe terminal Bungurasih Surabaya hanya dalam waktu 2 jam saja.

Keesokan harinya, gw baca di berita ternyata ada kecelakaan masal bus isi penumpang di daerah Sidoarjo yang ditabrak truk muatan barang, karena ada motor nyelonong.
Akibatnya 26 orang luka berat dan 8 orang langsung masuk kamar mayat.

Puji Tuhan kalo masih dilindungi oleh Yang Diatas selama dalam perjalanan.

Untuk teman-teman pengguna jalan, bila mengemudikan motor: Hati-hati ya jangan asal nyelonong, liat kiri-kanan kalau mau menyebrang.
Dan selalu patuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama.

Bagi mereka yang mengemudikan mobil/ kendaraan roda 4 lainnya :
Hati-hati bila ada motor nyelonong, jangan panik langsung banting setir.
Akibatnya bisa lebih fatal, apalagi kalo kiri-kanan ramai kendaraan.
Juga jangan menyetir kalau lagi ngantuk dan selalu patuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama,

Kenapa pesan-pesan ini gw masukan dalam bLog ?

Karena selama gw di Surabaya ini, udah sering banget jadi saksi mata maupun mendengar perstiwa kecelakaan lalu lintas karena kelalaian pengguna jalan.

Terutama karena tidak menaati lalu lintas (nabrak lampu merah), gak pakai lampu saat malam hari, ataupun etika berkendara yang tidak benar (gak pakai helm).

Walaupun dokter bisa jadi penggangguran kalau gak ada pasien/ orang sakit, tapi sesungguhnya buat kita miris juga kalo liat nyawa orang melayang gara-gara hal sepele.

Oke, sekian pesan tentang keselamatan di jalan dan cerita exploring daerah sputaran Jatim.


Tujuan trip berikutnya : Kawah Ijen !

Thursday, February 25, 2010

Krakatau trip [part one]

H minus 7 sebelum keberangkatan gw udah sibuk konsul ke mbah google untuk tanya soal sejarah dari Krakatau atau terkenal dengan Krakatoa ini.
Ternyata tante Wiki juga punya cerita yang lumayan lengkap (ada animasi simulasi dari meletusnya Krakatau di tahun 1800-an hingga keadaan situs tersebut di masa sekarang) dan gimana dari hasil letusan tersebut bisa sampai membuat ribuan orang meninggal, bahkan katanya, letusan Krakatau ini bikin perubahan iklim juga, dashyat bener.

Bisa dibilang termasukan letusan yang termasuk dashyat dalam kurun waktu beberapa abad.
Konon, letusan di tahun 1883 ini sampe kedengeran di Australia, juga memusnahkan semua populasi yang ada di Lampung dan Banten.

Ratusan (atau ribuan) mayat-mayat orang yang meninggal ini juga terbawa sapuan ombak sampai ke belahan Afrika...... ckckckck...

Anyway, dibalik latar belakang ceritanya yang dramatis, saat ini pecahan dari Krakatau (gunung Rakata) masih berstatus gunung berapi aktif.


Waktu mamah gw tau, kalau anaknya mau kemping di Krakatau, dia tanya: "Kempingnya dimana? "

Jawab(J): " Ya disitunya."
Mamah (M): " Emang gunung berapinya udah gak aktif ?"
J: " Gatau. Mungkin. "
M: "Koq mungkin sih? Apa gak bahaya? Emang boleh? "

J: " Udah deh mam. Pokonya ada orangnya yang ngurus bilang boleh. "


Lalu, H minus 2 sebelum final day, I already got very very excited.

Konsolidasi dengan anggota tim yang lain juga udah beres.
Backpack 55 liter, isi sleeping bag (ampir gak kepake), matras pinjeman, alat masak dll, all set up.

Dan seperti biasa, kalo menjelang mau trip gini, gw suka gak bisa tidur !

Oh..oh..oh...
udah kepikiran betapa menyenangkan ketemu alam (liar) dan segala penghuninya.... Ha ha ha... Lebay.

Lalu, final day has come eventually.
Karena kita mesti berangkat dari terminal Leuwi Panjang sebelum jam 18, (terpaksa) gw ijin kantor jam 16.

Juga ngajak Noor, intern dari Belanda yang lagi magang di kantor, terlibat dalam persekongkolan ini... Ha ha ha.

Ternyata ujan gede..... sounds like not a good beginning.

Gw, Noor, dan Dios masuk bus Bandung - Merak dalam keadaan basah deh jadinya.

Still a long way to go menuju Pelabuhan Merak, dimana kita mesti nyebrang lagi ke Lampung.


Catatan Tiket bus (eksekutif) Bandung - Merak : 50,000 IDR.
Lama perjalanan : 5 jam lebih (spare waktu 6 jam deh biar aman)


Nyampe sana almost midnight, lalu kenalan ama anak-anak laen, managed to find something to eat (midnight snack?!?)


Then ngantri tiket fery, untuk nyebrang ke Lampung. (Tiket dibeliin ama Utine, EO-nya trip)
Fery-nya lumayan crowded, karena long wiken kali yah, tapi overall masi bisa dibilang nyaman, dibanding nyebrang dari Banyuwangi ke Gilimanuk.

Untuk masuk ke ruangan AC, mesti nambah 5,000 IDR lagi (tapi AC-nya gak terlalu berasa juga sih) but somehow, I coped with the situation and got sleep.


Nyampe Pelabuhan Bakauheni (Lampung) yang ternyata far more advanced dari Pelabuhan Merak. It was quite surprising. Dan bersih. Dan fasilitasnya mirip pelabuhan Batam kalo qta mau nyebrang ke Singapur.
Okelah.

Dari pelabuhan Bakauheni ini mesti pake perahu lagi untuk ke pulau Sabesi, yang letaknya udah lumayan deket ama pulau sekitar anak Krakatau entar.

Utine dah carter angkot untuk a whole team, dari situ ke tempat perahu bawa kita ternyata lumayan cepet.
Spare waktunya 1 jam dan gw rasa perjalanan less than that, soalnya qta jalan subuh dan jalan di Lampung ternyata lurus, gak banyak mobil, dan gak banyak bolong.
Bisa dibilang supir angkor disini pada jago ngebut (dan gw rasa mereka bakalan stress kalo disuruh jadi supir angkot di Bandung).

Pas nyampe tempat kita ngumpul untuk nyebrang ke Sabesi ituh, after a while sunrise muncul.... Ugh ugh ugh....


So beautiful.
And it's only a beginning of our trip.
" Gunung-nya udah keliatan dari sini ! " (Norak mode on)

Berlangsunglah sesi poto-poto (baik poto pemandangan maupun poto versi narsis :-)
tapi terus terang, baru kali ini gw merasa gak pede mengeluarkan digicam Kodak gw (padahal dia udah menemani petualangan gw ke 2 benua) dan mulai mikir-mikir (serius) untuk punya SLR juga.
*Hmmmmh*

Manusia emang gak pernah puas.
Lanjut.... Akhirnya setelah loading barang-barang, kapal kita berangkat deh.

Your Fonts - Font Generator