Showing posts with label akademis. Show all posts
Showing posts with label akademis. Show all posts

Sunday, September 30, 2012

.: Pendidikan :. Quo vadis ?

Saat membesarkan anak kita, kita harus ingat bahwa kita adalah penjaga masa depan.
Dengan meninggikan pendidikan mereka, kita meninggikan masa depan umat manusia, masa depan dunia ini.
~Mengutip Immanuel Kant

Baca berita di media dan nonton TV akhir-akhir ini emang bisa bikin galau.
Padahal update berita itu dibutuhkan biar setiap hari gak eneg seputar kerjaan.

Tapi koq syerem ya kalo tau anak jaman sekarang maenannya bunuh-bunuhan, tawuran demi membela nama sekola, senior menanamkan kekerasan pada juniornya dst.

Sebegitu suram- nya kah masa depan Indonesia, yang sudah tidak dijajah bangsa asing, kebingungan mau melawan siapa, sampe-sampe bangsa sendiri juga ditindas.

Seperti kasus kematian anak SMA yang baru-baru ini terjadi, ternyata guru-guru di SMA nya sudah lama mengetahui praktek dan jadwal tawuran. Tapi bukannya mencari solusi dengan mendamaikan, malah yang ada pembiaran.

Kalo gini, wall fb/ twitter orang-orang akan penuh dengan komentar yang 'menghakimi' bahwa si pelaku pembunuhan (yang anak SMA itu) wajib dihukum setimpal dengan perbuatannya.

Tapi kembali kepada pembentukan anak tindak pelaku tsb, memangnya ada anak kecil yang bisa tanpa rasa bersalah membunuh?

Normalnya sih engga. Kecuali kalo memang psikopat dari kecil, yang biasanya timbul dari perlakuan abusive yang dia terima sebelumnya.

Jadi, kalau ada sampe ada anak SMA yang tanpa rasa bersalah melakukan pembunuhan (bahkan merasa puas!!!) bukankah itu kesalahan kita semua?
Kesalahan orangtua, guru, teman, seniornya, masyarakat dan pemerintah- yang mengijinkan tawuran tsb terjadi (terulang!!!)

Sewaktu saya di Belanda, pernah ada siaran TV disana yang mengabarkan Indonesia sewaktu terjadi krisis moneter (tahun 1998) diikuti reformasi di pemerintahan.
Di situ tergambar peristiwa toko-toko dibakar dan dijarah, orang merusak bangunan umum, dan banyak pasukan polisi saling serang/ melempar batu dengan masyarakat sipil.

sumber gambar diambil dari :
http://maskolis.blogspot.com/2011/07/kerusuhan-mei.html
(keywords: gambar kerusuhan, hasil 1,390,000)

Teman-teman Belanda saya (yang kebanyakan atheist) menanyakan,
" Indonesia bukannya negara dengan penduduk muslim terbanyak? Di mana peran agama pada waktu (kejadian) itu? "

Tentu saja itu bukan pertanyaan yang bisa saya jawab dengan mudah.
Tapi saya bisa bilang, kalau agama di Indonesia itu sebuah keharusan.
Orang tidak boleh menjadi atheist/ tidak bertuhan di negeri ini, yang akibatnya banyak orang mempunyai agama (di KTP) tapi tidak mengerti apa esensi dari agama yang dianutnya.

Sebaliknya di Belanda/ kebanyakan negara di Eropa, orang boleh saja atheist/ agnostik, karena hak memeluk agama/ kepercayaan dianggap sebagai hak individual yang sangat dihormati dan dijaga (oleh negara).

Ada teman atheist saya yang suka mempertanyakan, kenapa sih orang-orang repot punya agama. Kata dia, agama itu cuman dibikin alasan satu negara berperang dengan negara yang lain.
Terlepas dari pandangan dia tentang agama, orangnya sangat sopan dan mencintai makhluk hidup (manusia, binatang, maupun tumbuhan). Dia tidak merokok, tidak minum alkohol, menghindari makan daging. Dan dia sangat menghargai teman-temannya yang memilih untuk beragama.

Terus terang, setelah merasakan betapa aman-nya hidup di negara-negara Eropa, saya sempat merasa takut untuk pulang ke Indonesia.

Saya sudah membayangkan, bahwa saya gak bisa pulang malam sendirian lagi (karena betapa tidak amannya negri ini untuk wanita).
Belum lagi kasus-kasus kejahatan di sarana publik yang saya baca/dengar dari media, sebelum saya kembali.

Ironis memang, di sebuah negri yang banyak dibangun sarana ibadah, tapi tidak menyediakan keamanan bagi penduduknya.

Jawaban untuk masalah kompleks ini, mungkin, salahsatunya adalah pendidikan.

Pendidikan, telah dipikirkan sebelumnya oleh ibu Kartini (pahlawan nasional kita) pada awal tahun 1900, sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk memerdekakan bangsa kita.

sumber gambar : Koleksi Tropen Museum
(dan gw nyampe situ thn 2010 *terharu)

Beliau melihat pada waktu itu, betapa miskin-nya kaum bumiputra, sehingga hanya orang tertentu saja yang bisa sekolah/ menempuh pendidikan.

Selanjutnya, kita ketahui bahwa sekolah dokter/STOVIA pada jaman itu, banyak melahirkan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan.

Hanya kaum cendekiawan yang bisa memikirkan konsep kemerdekaan.
Karena mereka yang miskin, tentu hanya berpikir untuk urusan perut belaka.

Rupanya 67 tahun semenjak kita memproklamasikan kemerdekaan RI, masih ada orang yang bermental 'miskin' yang memikirkan urusan perut belaka.
Mereka ini bisa saja orang yang terdidik, tapi kepintarannya dipakai untuk hal yang merugikan manusia lain (contohnya para koruptor).

Entah apa yang ada di pikiran anak SMA pelaku tawuran yang kerap terjadi di Jakarta, pastinya mereka tidak merasa beruntung di banding teman-temannya di pedalaman Indonesia bagian timur.
Padahal jika mereka mau menggunakan akal pikirannya untuk hal berguna, betapa ditakutinya bangsa kita oleh negara-negara tetangga.
Bayangkan, sumber daya manusia sejumlah 230 juta, yang kompeten dan mampu bersaing di dunia internasional !

Malaysia dan Singapura adalah 2 negara kecil yang belajar dari Indonesia setelah masa kemerdekaannya.
Kini bisa dibilang kalau mereka sudah mampu disamakan dengan negara maju lainnya (dari indikator pembangunan manusia/ Human Development Index).

Apa Indonesia tidak malu, terus-terusan berkutat dengan masalah tawuran, kisruh karena isu SARA, dan masalah tidak penting lainnya, sementara bangsa lain sudah berangkat ke bulan?

Padahal anak-anak muda kita banyak yang menjadi juara pada kompetisi tingkat internasional*.
Yang membuktikan, bahwa kapasitas kita sebenarnya sama dengan bangsa lainnya yang maju! 


Kita perlu berdoa dan sektor pendidikan harus berusaha keras, untuk negeri, yang tampaknya bergerak mundur akhir-akhir ini.


Soerabaya, akhir Sept 2012


Friday, November 11, 2011

Erasmus Mundus :: Key to the World

Hari Kamis kemarin ada dua peristiwa penting yang terjadi,

pertama : presentasi Erasmus Mundus di Hotel Hilton, Bandung

kedua : nolongin anjing yang ngelected di depan RSHS (tapi cerita selanjutnya soal ini bakal diposting di blog laen)

Kita hanya bahas soal Erasmus Mundus aja disini . . . kenapa ?

Karena beasiswa Erasmus Mundus itulah tiket untuk jalan-jalan ke berbagai tempat ke Eropa.

Kembali ke beberapa tahun yang lampau, saat gw memutuskan pengen sekolah lagi, selain butuh ilmu (untuk nolong lebih banyak orang) juga dengan sekolah kita bisa membuka wawasan tentang dunia.

Rasanya kalo seorang dokter gak sekolah, dunianya akan berputar di sekeliling tempat praktek aja- dan buat gw yang suka hal-hal dinamis dan banyak tantangan- that would be a dead end.

Pada saat itu sebenernya gw sudah dapet posisi yang lumayan nyaman di unit penelitan, juga banyak belajar tentang penelitian sosial- bidang yang sebelumnya gak populer di kalangan orang kedokteran (dan sekarang pun masih gak populer rasanya).
But for me, I found it that could be my world.

So the journey to find a scholarship begun when I decided to pursue a master degree in Public Health.

Contoh beberapa skema beasiswa untuk bidang Public Health ditawarkan oleh beberapa institusi negara maju yang punya kerjasama dengan Indonesia e.g. AusAid dari pemerintah Australia, USAid dari pemerintah USA , Chevening dari pemerintah UK, NFP/Stuned dari pemerintah Belanda, juga Erasmus Mundus dari pemerintah Uni Eropa.

Saat itu sih gw coba masukin aja aplikasi ke beberapa institusi selama masih memenuhi syarat, tapi terus terang kepingin banget sih dapet Erasmus Mundus, dengan alasan:

1. I love Europe! I've been there before and I'd like to go back again.
Gw suka dengan kekayaan kulturnya, orang-orangnya, variasi alamnya, pokonya so much to explore.

2. I love traveling! Dan skema Erasmus Mundus memang kita belajar di 2 institusi yang berbeda di 2 negara (at least) so traveling in between is a must :-)

3. Ada program yang memang sesuai sama interest gw, dalam hal ini tropEd : International Health Degree Program.

Tahun 2010 rupa-rupanya usaha kirim beberapa aplikasi akhirnya berbuahkan hasil (dan juga keberuntungan tahun Macan kali . . . hihi . . . apa hubungannya coba).

Sebenernya waktu itu aplikasi USAid juga ternyata tembus dan udah ikutan wawancara di Jakarta, pas dikonfirm mau diambil atau engga, rasanya lebih berat berangkat ke Eropah. . .
akhirnya dilepas deh (lagian kalo berangkat ke USA, tar gw mesti seriusan belajar! Kapan travelingnya dong . . .)

Jadi, adik-adik, untuk kalian yang punya cita-cita mulia untuk memajukan bangsa, skalian juga meningkatkan kapasitas akademis, silakan mempertimbangkan untuk apply beasiswa Erasmus Mundus.
And I assure it's also going to be a ticket for a whole new world of adventure !

Your Fonts - Font Generator