Showing posts with label Erasmus Mundus. Show all posts
Showing posts with label Erasmus Mundus. Show all posts

Wednesday, September 19, 2012

.: Sukses beasiswa :. EMMC


Banyak kisah sukses tentang beasiswa, tapi yang orang-orang gak tau adalah cerita tsb biasanya diawali dengan banyak episode ketidaksuksesan sebelumnya.

Setelah mendapat beasiswa Erasmus Mundus pada tahun 2010-2011 untuk program Master ke Eropa, saya kembali ke Indonesia dan berharap banyak orang bisa mengikuti jejak yang sama.

Siapa sih yang gak mau dapet sekolah gratis ?

Apalagi ini ke Eropa, dimana kita bisa belajar beragam kultur yang berbeda dari tiap negara.

Selain itu, bisa jalan-jalan (traveling) yang kadang-kadang malah jadi alasan utama disamping alasan akademik : )

Terus terang, buat saya, kecintaan pada traveling juga yang membuat saya kekeuh nyari beasiswa di luar negri.

Beasiswa di tanah air mungkin tidak kalah seksi, tapi di luar negri biasanya mempunyai persyaratan sedikit berbeda seperti yang diminta institusi dalam negri.

Beasiswa yang saya dapat pertama kali adalah NFP (Netherland Fellowship Program) pada bulan Mei 2010 dan kedua kalinya adalah beasiswa Erasmus Mundus Master Course (EMMC) dari pemerintah Uni Eropa pada bulan September 2010 - Agustus 2011.

Pada tahun 2010, saya juga menjadi salahsatu kandidat yang berangkat ke Amerika Serikat untuk program beasiswa program master of public health dari USAID.
Tapi karena berbagai alasan, akhirnya saya memilih beasiswa dari Uni Eropa



Itu kisah suksesnya.

Dibalik itu, kisah tidak suksesnya juga banyak !


Perjuangan saya menjadi 'fakir' beasiswa dimulai sejak tahun 2008.

Saat itu saya sudah berniat untuk melanjutkan sekolah, tapi gak mau (atau gak mampu) pake duit sendiri.


Mencari beasiswa menjadi pilihan karena sepertinya hal itu sangat mungkin, walaupun prestasi saya selama kuliah S1 sebenernya biasa-biasa aja.

Kenapa mungkin ?

Ada beberapa persyaratan beasiswa yang umumnya diminta institusi, seperti kemampuan berbahasa asing (Inggris) atau surat motivasi (motivation letter/ statement).

Segala persyaratan itu bisa didapat kalau kita googling ke website institusi-nya langsung, atau konsorsium penyedia beasiswa, atau website bikinan alumni yang pernah dapet beasiswa (seperti yang dibuat alumni EM Indonesia).
Contoh, untuk Erasmus Mundus bisa dibaca infonya dalam situs ini :

(dalam bahasa Indonesia)

sementara official website dari Erasmus Mundus Master Course, ada di sini
http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/results_compendia/selected_projects_action_1_master_courses_en.php

Tentang beasiswa dari Pemerintah Belanda e.g. NFP bisa dilihat disini :


Hal-hal yang penting untuk para fakir beasiswa ....

Kemampuan berbahasa asing
 
Walaupun catatan akademik saya selama S1 gak terlalu mengesankan, tapi seengga-engganya kemampuan bahasa Inggris saya lumayan. Itu pikiran saya dulu sebelum mulai kirim banyak aplikasi untuk dapet beasiswa.
 
Kemampuan bahasa Inggris saya nilai agak lumayan karena pada saat TOEFL pertama (sebelum persiapan) skor saya sudah sekitar 550.

Setelah saya mempersiapkan diri (latihan sendiri di rumah dengan berbagai sumber daya yang ada : ) akhirnya skor TOEFL saya merambat naik .......... menjadi 554 !

Padahal skor yang diminta waktu itu adalah sekitar 560.

Link resmi untuk TOEFL tes ada disini
http://www.ets.org/toefl/

Tapi setelah tanya sana sini, ternyata IELTS merupakan metoda yang lebih acceptable buat saya.

 Akhirnya pindah haluan deh ke tes IELTS dan tembus skor 7.0

Ini dia link kalo mo tau apa itu makhluk yang namanya IELTS


Motivation letter

 Jaman sekarang pun, dengan adanya internet, segala sesuatu bisa dicari termasuk contoh motivation letter sebagai panduan (tapi bukan untuk dicontek !)

Banyak tips dan trik bagaimana bikin motivation letter yang bisa dicari dengan internet.

Motivation letter pun bisa dibikin bagus dengan sering latihan dan minta feedback temen.

Perkara motivation letter, seringnya setelah saya mengarang yang sesuai dengan yang diminta oleh institusi, selalu ada teman/ kolega bule yang membantu memeriksa (tata bahasa, ejaan dst) juga memberi feedback atas isi surat tsb.

Pokonya buat saya waktu itu kayanya semuanya bisa dilakukan asal mau usaha deh.
 

Surat rekomendasi
 
Biasanya karena surat ini dikasi dari bos/ supervisor, atau orang yang pernah bekerja bareng, sebisa mungkin saya meminta dari orang-orang yang punya hubungan baik. Sehingga tentunya diharapkan akan memberikan rekomendasi yang baik juga.

Kalau orang/atasan terlalu sibuk untuk menulis sendiri surat rekomendasi, saya juga akan meminta ijin supaya saya bisa buat draft-nya untuk dia, dan nanti bisa langsung ditandatangan kalau disetujui.


 Owya, saking kepinginnya (skolah) dalam setahun saya bisa mengirim beberapa aplikasi beasiswa.
 
Contohnya, mengirim aplikasi beasiwa AusAID, USAID, aplikasi NFP ke Belanda, beasiswa Chevening ke UK, beasiswa DAAD ke Jerman, Erasmus Mundus ke negara di Uni Eropa.

Dan tentunya dari perjuangan yang dimulai tahun 2008 hingga 'pecah telor' di tahun 2010, ada banyak penolakan yang didapat.

Mulai dari penolakan halus ( ' kami menerima Anda sebagai murid, tapi harus membiayai sendiri ' ) hingga penolakan kasar (gak ada pengumuman sama sekali, entah itu aplikasi nyampe atau engga).

Yang pasti, selama belum keterima, saya akan coba masukkan lagi tahun depannya.

Tentu dengan peningkatan dan perbaikan dalam menyusun motivation letter, minta surat rekomendasi ke orang yang lebih berpengaruh, dan bikin aplikasi yang lebih rapih (eye catching) sehingga panitia juga gak males bacanya.

Itu sih sedikit tips dari saya : )


Biasanya untuk adik-adik yang tertarik dengan beasiswa EM, kami para alumni EM Indonesia sering touring ke universitas/ perguruan tinggi di kota-kota besar untuk sosialisasi program ini.

Dan selalu saya arahkan untuk masuk ke website / situs dimana banyak gambar-gambar tempat negara destinasi yang mereka inginkan untuk sekolah.

Tujuannya ?

Supaya mereka selalu ingat mimpi mereka dan mencari cara menuju kesana.




Semoga sukses untuk peraih beasiswa berikutnya !

Tuesday, March 20, 2012

Lagi :: Presentasi EM

Minggu kemaren ngebantuin (lagi) presentasi Erasmus Mundus, kali ini di Graha Sanusi Unpad. 
Walaupun saya termasuk lulusan Unpad, sayangnya cuman sebentar ngerasain Dipati Ukur (waktu ospek doang sama wisudaan), akibatnya saya emang gak ngerasa bonding sama Unpad Dipati Ukur.

Jatinangor buat saya lebih feels like home, biarpun dulu masih gersang, jauh dari kota, gada bioskop/ mall. 

Anyway, yang terasa berbeda saat presentasi EM kali ini dibanding yang terakhir kali di Hilton adalah . . . kerapihan organizer-nya/ panitia acaranya.

Waktu di Hilton akhir tahun kemaren memang presentasi EM sebagai bagian dari Holland Education Fair (HEF) 2012. Panitia-nya rapih banget organized acaranya, kita dari EM dikasih waktu 30 menit untuk ketemu audience: 15 menit untuk presentasi tentang beasiswa EM, lalu 15 menit untuk tanya jawab.
Saya rasa waktu itu audience yang dateng juga puas, karena materi yang ingin dipresentasikan tersampaikan, tapi juga kalau belum tercover masih dibantu oleh sesi tanya jawab.
Kalau dirasa kurang juga masih bisa menemui alumni EM di booth, dan bisa dapet flyer keterangan tentang beasiswa EM dan Uni Eropa.

Sedangkan kejadian di Unpad kemaren buat saya terasa gak profesional.
Memang sih panitia acaranya anak-anak kuliah, mereka mungkin masih perlu banyak belajar nanti ke depannya.

Begini ceritanya. . .
Seminggu sebelumnya, panitia memang sudah memberitahu bahwa akan ada presentasi tentang beasiswa di Grha Sanusi dan Erasmus Mundus dikasi kesempatan untuk presentasi, juga ada booth (standar ya kalo ini).

Saya menyanggupi permintaan untuk ngebantu presentasi EM di Unpad.
Lalu dihubungkan dengan seorang panitia sebagai kontak person.
Sehari sebelumnya, sudah dikonfirm lewat e-mail dan juga lewat SMS bahwa presentasi EM akan berlangsung sekitar jam 10an.

Pada hari H, saya tiba di Grha Sanusi Unpad jam 0945, ketemu dengan panitia.
Cek apakah mereka sudah punya slide untuk presentasi- ternyata sudah dan saya duduk dengan manis siap untuk dipanggil.

Ternyata jam 10 lebih baru selesai pidato pembukaan oleh Dekan FE Unpad, lalu tiba-tiba ada moderator (yang juga stand up comedian, gak tau deh siapa) dan memanggil beberapa orang perwakilan dari beasiswa, tapi gak disinggung sedikit pun soal Erasmus Mundus.

Bingung deh, lalu saya menanyakan ke panitia dan juga kontak person saya yang sudah menghubungi sehari sebelumnya.
Ternyata presentasi EM dipindah ke jam 1300 oleh panitia, kontak person saya juga gak tau soal itu.

Saya agak kecewa, karena sudah punya janji sekitar waktu makan siang, juga karena sudah mengusahakan on time tapi ternyata koq diundur tanpa pemberitahuan.
Lalu panitia minta maaf bla bla bla. . . .  saya bilang 'ya gapapa sih kalau saya dapet slot siang juga gak masalah. Jam berapa pun gak masalah. Tapi koq gak diberitahu sebelumnya, jadi saya keburu bikin janji sama orang laen'.

Bukan masalah minta maafnya, tapi juga profesionalitasnya, tolong ke depannya jadi masukan supaya gak terulang lagi seperti ini. Itu deh masukan yang saya bilang ke panitia.

Lalu saya bantu kolega dari EM (yang balik jauh jauh dari Denmark untuk bantu-bantu di Unpad, padahal dia alumnus ITB) di booth Erasmus Mundus, menjawab pertanyaan adik-adik yang tertarik soal beasiswa dan membagikan flyer.

Panitia bilang bisa memajukan slot presentasi EM dari jam 1300 jadi jam 1145.
Yauda deh pikir saya, seengga-engganya jadi gak telat banget ke janji berikutnya.

Lalu tiba-tiba jam 1130 lebih, panitia menghampiri saya dan bilang untuk maju aja ke depan sekarang karena waktunya kosong dan bisa diisi presentasi EM (?!?!)
Saat itu saya masih di booth juga melayani beberapa orang yang bertanya.

Jadi buru-buru deh saya maju ke depan, untuk presentasi.
Juga mengajak kolega saya siapa tau sempet tanya jawab.

Ternyata dengan slot waktu 10 menit, mepet banget waktunya bahkan untuk menyampaikan materi tentang beasiswa EM. Boro-boro ada quiz seperti waktu di Hilton, tanya jawab aja gak sempet.
Udah gitu slide presentasi belum beres, panitia di belakang udah ngasi tanda kalau harus di-cut karena waktu presentasi udah habis.
Daripada nanggung, saya bereskan saja presentasinya- biar audience juga gak kecewa dikasi tau cuman stengah stengah. Sebodo amat deh sama panitia, siapa suruh ngasi slot mepet.

Beres presentasi, saya sempet bilang kalau slot 10 menit presentasi tuh mepet banget, jadinya sori aja deh kalo molor karena daripada materi gak tersampaikan.

Panitianya malah bilang, ' Iya maaf soalnya kalo kelamaan kita takut orang-orang jadi bosen.'

What?!?!?
Gak ada yang bosen selama presentasinya masih in track dan rentang perhatian orang itu kan 20 menit.
Lagian slide presentasi EM penuh dengan gambar-gambar hasil traveling alumni EM :)

Padahal sebelumnya ada presentasi ngalor ngidul tentang beasiswa Djarum (emang sponsornya pabrik rokok . . . ckckck) yang lebih lama dari 20 menit dan entah isinya tepat sasaran gak.

Untung beasiswa ku dapetnya dari pemerintah Uni Eropa, jadi bebas deh kalo mau kampanye anti rokok juga gak merasa berkhianat ^^

Meladeni pertanyaan adik-adik saya tentang beasiswa Erasmus Mundus, bikin saya teringat ke masa lalu saat saya gigih menjadi fakir beasiswa : )

Saya bilang sama mereka, jaman dulu saya masukin aplikasi ke mana aja, mulai dari AusAID, USAID, Chevening, DAAD, NFP/Neso - pokonya mencoba segala macam cara menuju Roma, sampe akhirnya berjodoh dengan Erasmus Mundus di tahun 2010.

Melihat muka mereka yang jauh lebih muda (dan juga polos serta lugu .. hehe) bikin saya jadi ingin memotivasi mereka kalau kuliah S2 di luar negri itu sangat menyenangkan.
Gak traumatik seperti kuliah S2 disini yang bikin kita males ketemu dosen, atau tugas thesis yang bikin stres (thesis diluar juga bisa bikin stres, tapi dalam kadar sewajarnya).

Dengan kuliah diluar kita bisa menikmati interaksi dengan temen-temen dari luar, belajar membangun networking (secara global :) punya pengalaman international dan tentu aja kesempatan traveling. It's priceless hey!

Saya juga membagikan beberapa kartu nama ke adik-adik yang ingin tau lebih jauh soal travel blog saya, hanya demi teaser tentunya.

Mudah-mudahan saat melihat foto dan cerita jalan-jalan di luar, mereka juga bisa lebih semangat untuk memburu beasiswa EM ^^

Buat yang ingin tau lebih banyak soal beasiswa Erasmus Mundus, bisa masuk ke link dibawah- dirintis oleh para alumni EM Indonesia.

http://emundus.wordpress.com/


Good luck !

Friday, November 11, 2011

Erasmus Mundus :: Key to the World

Hari Kamis kemarin ada dua peristiwa penting yang terjadi,

pertama : presentasi Erasmus Mundus di Hotel Hilton, Bandung

kedua : nolongin anjing yang ngelected di depan RSHS (tapi cerita selanjutnya soal ini bakal diposting di blog laen)

Kita hanya bahas soal Erasmus Mundus aja disini . . . kenapa ?

Karena beasiswa Erasmus Mundus itulah tiket untuk jalan-jalan ke berbagai tempat ke Eropa.

Kembali ke beberapa tahun yang lampau, saat gw memutuskan pengen sekolah lagi, selain butuh ilmu (untuk nolong lebih banyak orang) juga dengan sekolah kita bisa membuka wawasan tentang dunia.

Rasanya kalo seorang dokter gak sekolah, dunianya akan berputar di sekeliling tempat praktek aja- dan buat gw yang suka hal-hal dinamis dan banyak tantangan- that would be a dead end.

Pada saat itu sebenernya gw sudah dapet posisi yang lumayan nyaman di unit penelitan, juga banyak belajar tentang penelitian sosial- bidang yang sebelumnya gak populer di kalangan orang kedokteran (dan sekarang pun masih gak populer rasanya).
But for me, I found it that could be my world.

So the journey to find a scholarship begun when I decided to pursue a master degree in Public Health.

Contoh beberapa skema beasiswa untuk bidang Public Health ditawarkan oleh beberapa institusi negara maju yang punya kerjasama dengan Indonesia e.g. AusAid dari pemerintah Australia, USAid dari pemerintah USA , Chevening dari pemerintah UK, NFP/Stuned dari pemerintah Belanda, juga Erasmus Mundus dari pemerintah Uni Eropa.

Saat itu sih gw coba masukin aja aplikasi ke beberapa institusi selama masih memenuhi syarat, tapi terus terang kepingin banget sih dapet Erasmus Mundus, dengan alasan:

1. I love Europe! I've been there before and I'd like to go back again.
Gw suka dengan kekayaan kulturnya, orang-orangnya, variasi alamnya, pokonya so much to explore.

2. I love traveling! Dan skema Erasmus Mundus memang kita belajar di 2 institusi yang berbeda di 2 negara (at least) so traveling in between is a must :-)

3. Ada program yang memang sesuai sama interest gw, dalam hal ini tropEd : International Health Degree Program.

Tahun 2010 rupa-rupanya usaha kirim beberapa aplikasi akhirnya berbuahkan hasil (dan juga keberuntungan tahun Macan kali . . . hihi . . . apa hubungannya coba).

Sebenernya waktu itu aplikasi USAid juga ternyata tembus dan udah ikutan wawancara di Jakarta, pas dikonfirm mau diambil atau engga, rasanya lebih berat berangkat ke Eropah. . .
akhirnya dilepas deh (lagian kalo berangkat ke USA, tar gw mesti seriusan belajar! Kapan travelingnya dong . . .)

Jadi, adik-adik, untuk kalian yang punya cita-cita mulia untuk memajukan bangsa, skalian juga meningkatkan kapasitas akademis, silakan mempertimbangkan untuk apply beasiswa Erasmus Mundus.
And I assure it's also going to be a ticket for a whole new world of adventure !

Your Fonts - Font Generator