Showing posts with label backpacking. Show all posts
Showing posts with label backpacking. Show all posts

Wednesday, April 30, 2014

Yordania .: Cherry yang ceria :.

Tulisan ini diikut sertakan dalam kompetisi travel blog #KompasTravelFair 2014.

Intro
Agak susah sebenarnya merangkum 2 minggu perjalanan hanya dalam 1000 kata. Tapi dalam setiap perjalanan selalu ada peristiwa berkesan atau pribadi unik yang tidak mudah dilupakan.
Buatku sendiri, kadang sebuah tempat menjadi lebih bermakna karena orang-orang yang kita temui di dalamnya.

Bukan Jepang atau Korea, melainkan negara-negara Timur Tengah yang menjadi destinasi impian saya selama ini.
Sedikit banyak cita-cita saya berwisata ke negeri padang pasir akibat dari dongeng masa kecil, diantaranya kisah Aladin dalam kisah 'Seribu Satu Malam'.
Latar belakang kisah tentang negeri penuh misteri dan eksotisme ala Timur Tengah akhirnya membawa saya dua dekade setelahnya berpetualang ke Yordania.

Yordania merupakah sebuah negara di kawasan yang berbatasan langsung dengan Mesir, Syria, Saudi Arabia, dan daerah konflik Palestina-Israel.
Tersohor dengan warisan situs arkeologikal purba di Petra, Yordania juga dikenal sebagai tanah suci.
Banyak paket tur dari Indonesia memasukkan Yordania sebagai bagian dari perjalanan tanah suci (atau 'Holyland tour').
Saya sendiri menginjakkan kaki di Yordania tanpa mengikuti paket tur seperti ini.  Berbekal tiket promo murah dari sebuah maskapai penerbangan dan ransel yang setia menemani, saya pun berangkat menuju Timur Tengah.

Petualangan saya dimulai dari kota Amman, ibu kota kerajaan Yordania. Memang bentuk negara ini masih berupa kerajaan dan kursi kekuasaan diwariskan ke generasi berikutnya.
Hari pertama di Amman saya bertemu seorang sahabat yang lama tinggal di Jerman untuk bergabung dalam petualangan ini.

Keesokan harinya kami berkenalan dengan seorang pemuda asal Irak yang akan berlibur di Yordania.
Ahmed, nama teman baru kami tersebut, ternyata seorang dokter gigi yang pernah mengenyam pendidikan di negara Eropa Timur. Selain fasih berbahasa Arab (bahasa ibunya) dan bahasa Inggris, dia juga menguasai bahasa Rusia.
Merasa cocok satu sama lain, Ahmed memutuskan bergabung dengan kami dalam perjalanan ini. Sedang kami tentunya sangat diuntungkan dengan kehadiran Ahmed, yang kemampuan bahasa Arab-nya ampuh menghindarkan kami dari berbagai modus penipuan selama di Yordania.

Beberapa tempat yang kerap dikunjungi turis selama di Yordania adalah Amman, Jerash (ibu kota Yordania kuno), Laut Mati, sungai Yordan, Madaba, Aqaba, Petra, dan padang gurun di Wadi Rum atau Wadi Araba. Kebanyakan pelancong seperti kami mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya dalam waktu singkat. Dan hotel tempat menginap pun kerap jadi ajang pertukaran informasi bagi para pelancong yang sudah atau akan berkunjung ke destinasi tertentu.

Saat kami menginap di sebuah hotel di Amman, saya berkenalan dengan seorang pelancong perempuan asal Tiongkok bernama Cherry. Cherry berumur sekitar pertengahan 20an dan rencananya akan berkelana sendiri selama dua minggu di Yordania. Kepribadiannya tampak ceria dan murah senyum, tetapi saat berbicara bahasa Inggrisnya agak sulit dimengerti. Walaupun kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas sepertinya Cherry selalu berhasil menemukan pilihan paling ekonomis untuk pergi ke suatu tempat.
Berbekal info dari pengalaman Cherry yang mengunjungi Laut Mati sehari sebelumnya, kami pun mengikuti petunjuk yang diberikan.


pose narsis di Laut Mati .: touchdown titik terendah bumi :.
Sukses berenang dan foto narsis di Laut Mati, tujuan kami selanjutnya adalah Wadi Musa, kota yang tak jauh letaknya dari situs arkeologikal Petra.
Saat berangkat menuju Wadi Musa, seorang pelancong asal Perancis bergabung dengan kami. Sehingga sekarang grup kami berjumlah 4 orang dari berbagai negara.
Setiba di Wadi Musa dan selesai menaruh barang di kamar hotel, kami melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota sambil menunggu waktu matahari terbenam.
Tidak berapa lama, kami melihat sesosok tubuh yang kami kenal, sedang berjalan  sendirian. Kami panggil dia untuk bergabung bersama kelompok kecil kami. Ya Cherry rupanya juga baru tiba di Wadi Musa

Cherry bercerita kalau hotelnya terletak sedikit jauh dari tempat kami menginap, dengan balkon menghadap ke barat sehingga para tamu bisa melihat Petra dari kejauhan. Kedengarannya menarik dan kita pun segera menginvasi hotel tempatnya menginap, sambil menikmati pemandangan gratis matahari terbenam dari atas balkon.


matahari terbenam di Wadi Musa
Pada hari-hari tertentu Petra dibuka malam hari. Dengan penerangan cahaya lilin, pengunjung dapat merasakan sensasi berbeda memasuki Petra di tengah gelapnya malam. Kami pun tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan berharga seperti ini.
Sekarang rombongan kami sudah berjumlah 6 orang, dengan tambahan Cherry dan seorang pelancong wanita asal Jerman.


.: Petra by night :. Treasury diterangi cahaya lilin di malam hari
Sambil berjalan kaki menuju Petra kami mengobrol, saling berbagi cerita tentang pengalaman selama berpetualang di Yordania maupun belahan dunia lain.
Saya katakan pada teman-teman bahwa Petra kabarnya akan tutup sementara untuk direnovasi;

“ I heard that Petra would be closed for renovation ” ucap saya.
 

Teman-teman yang lain merespon dengan berkata, bahwa betapa beruntungnya mereka bisa mengunjungi tempat ini sekarang.
Hanya Cherry seorang yang tampaknya kebingungan dengan perkataan saya. Dia rupanya tidak begitu mengerti apa maksud perkataan saya, walaupun sudah saya coba jelaskan.
Sepuluh menit kemudian teman-teman yang lain membantu menjelaskan apa maksud dari perkataan saya, dengan kalimat lain yang lebih sederhana. Bahkan Ahmed sempat mencoba menerjemahkan kalimat itu dengan bahasa tubuh.
Kami pun sadar, terlepas dari kemampuan bahasa Inggris-nya yang terbatas, kepribadian Cherry yang ceria dan keberanian tekadnya telah membawa dia untuk berpetualang kemana pun.

Beberapa hari terakhir di Yordania kami berempat (saya, sahabat, Ahmed dan teman asal Perancis) menghabiskan waktu di padang gurun Wadi Rum. Karena Ahmed pernah kesini sebelumnya kami mendapat harga diskon untuk paket tur padang pasir, yaitu 25 dinar per orang. 


Wadi Rum .: padang pasir ini dijadikan lokasi syuting beberapa film
di antaranya Transformers: Revenge of the Fallen
Dengan mobil sewaan kami pun mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan pemandu.
Saat mengunjungi salah satu situs terkenal sebagai lokasi syuting film 'Lawrence of Arabian' di tengah padang pasir, rupanya kami bertemu seorang teman lama. Tebak siapa yang kami temui disana? Ya lagi-lagi Cherry!

Keberadaan Cherry di situ rupanya tanpa direncanakan, sambil menunggu proses pembuatan visa Mesir katanya. Dari hasil ngobrol-ngobrol, ternyata dia hanya membayar 20 dinar saja untuk tur privat padang pasir seorang diri! 
Dia bilang sebetulnya tidak terlalu tertarik dengan tur seperti ini, tapi dia setuju karena harga yang ditawarkan tergolong murah.
Oh Cherry, tampaknya keberuntungan selalu menyertaimu!

Malam terakhir sebelum saya kembali ke tanah air, kami bertiga (saya, sahabat dan Ahmed) kembali berkumpul di Amman. Kami sempat berjanji jika waktu dan kesempatan mengijinkan maka akan berpetualang bersama lagi di masa mendatang.


“Maybe we should see each other again in China !“ begitu kata Ahmed sambil tertawa.
“Yes Ahmed“ saya pun mengiyakan.
Jika seorang Cherry saja bisa bertahan seorang diri di Yordania, maka kami yakin juga bisa!

Saturday, February 2, 2013

Cambodia (2) .: Siem Reap :.

Perjalanan gw ke Siem Reap dimulai dari sebuah travel agen di kota Phnom Penh.
Yup travel agen ini yang mengorganisir tiket gw pake bus dari Phnom Penh ke Siem Reap, termasuk pick up point dari hostel (kalau hostelnya di area sekitaran Sisowath Quay/ National Museum).

Lama perjalanan pake bus dari Phnom Penh ke Siem Reap katanya sekitar 5 jam.
Bus-nya campur ternyata, bukan bus khusus turis tapi ada orang lokalnya juga.
Dan karena tampang gw mirip orang lokal, jadi penumpang yang dudu sebelah gw juga sepertinya orang Khmer asli.

Sedangkan para bule biasanya nyari temen duduk sama bule lagi.
Sepanjang perjalanan gw bisa dengerin orang-orang bule yang ngobrol di deretan sebelah kanan dan belakang (abis mreka ngobrolnya kenceng banget).

Contohnya: cewe Belanda dan Australia di sebelah kanan yang ngomongin tentang pengalaman trip di Asia.
Kadang gw suka penasaran apa aja sih yang diomongin sama orang-orang bule ... ternyata banyak ngomongin yang gak penting juga, sama kaya orang kita... hehe..

Di tengah perjalanan kita berenti sebentar untuk makan siang.
Pas turun makan siang, gw kenalan sama cowo Jerman dan temennya cowo British.

Sebenernya cowo Jerman yang ngajak ngomong gw duluan, tapi later on gw memutuskan untuk lebih suka sama si cowo Brit soalnya rambutnya gelap… (hehe)
 


Stelah ngobrol lebih jauh dan tau kalo gw dari Indonesia, si cowo Brit ngomong gini: " Owh kalian punya film martial art yang keren banget kan?! Judulnya 'The Raid'. "
Gw: " Hah? Apaan? "
Co Brit: " The Raid. Itu film martial art dari Indonesia, terkenal banget. Jangan bilang deh kalo kamu gak tau, atau belum pernah nonton. "
Gw: " Waduh. Iya… hehe... belum nonton (malu)… Soalnya itu filem kan penuh kekerasan dan gw gak terlalu suka filem action. "
Co Brit: " Ih payah! Padahal nanti gw mau ke Indonesia loh buat belajar Selat. "
Gw: " What?!? Selat ?!? Apaan tuh?!? "
Co Brit: " Ya ituh martial art asli dari Indonesia yang ada di filem The Raid ! "
Gw: " Yaelah…. Silat kalee bukan Selat. Kalo Selat artinya beda atuh ! "
Co Brit: " Hmmmm perasaan buat gw sama aja kedengerannya koq .. "

Pas gw nyampe stasiun bus di Siem Reap … -hmmm biar gw gambarkan sedikit apa yang dimaksud dengan 'stasiun bus' disana.
Cuman sekedar tanah lapang dengan beberapa bus (pas gw nyampe) dan ada pondokan kecil yang diisi 1 ruang untuk admin dan 1 ruang semacam gudang untuk nyimpen barang-barang kiriman.
Nah itulah yang namanya stasiun bus di Siem Reap.
Jadi penasaran kan pengen cepet-cepet liat seperti apa kotanya.

Ternyata gw belum dijemput sama supir tuktuk dari hostel, padahal kemaren udah konfirmasi minta tolong mereka untuk jemput.
Sementara gw nunggu celingak celinguk di dipan deket stasiun bus ada cowo Khmer ngajak ngobrol dan kenalan.
Bahasa Inggris-nya mayan bagus dan keliatannya sih lebih muda sedikit dari gw. Trus dia bilang gini, " Gak aman kalau cewe cantik kaya kamu nunggu sendirian disini. "
Idih ! Norak banget. Tapi dia lumayan banyak tau tentang sejarah Kamboja jadi gw ladenin aja dia ngobrol. Dari hasil pembicaraan lebih jauh, dia emang suka nganter turis/ jadi guide karena dia punya tuktuk untuk disewakan.
Katanya sih, dia itu ketua asosiasi supir tuktuk di Siem Reap. Ceileh! Gaya banget.

Owya, walaupun norak dan ngomongnya gombal, tapi dia baek juga loh.
Dia nelefonin ke hostel gw untuk nanyain mana nih supir tuktuk yang harusnya jemput.
Dan dia juga ngasitau kalau butuh tuktuk atau ojek untuk ke kompleks Angkor nanti bisa sms/ kontak dia lewat Fb. Ntar bakalan dikasi harga 'diskon' (deuhhh…. bayar full juga padahal gak masalah koq).

Akhirnya gw sempet minta tolong dia nganter juga sih pas hari ke 3 di Angkor.
Dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, emang masi aja dia usaha untuk flirting. (nanti gw ceritain di part selanjutnya yah)

Anyway, hostel gw pertama ini gak di downtown banget. Tapi tempatnya enak, bersih, dan homey. Owner nya juga ramah dan helpful sama kebutuhan tamu.
Gw kasi review bagus di website untuk tempat ini, despite harga kamarnya yang murah tapi servis dan fasilitasnya oke.
Nama tempatnya Haks House.
Ownernya (Mr. Haks) juga ngasi pinjem gw sepeda gratisan, untuk dipake ke downtown. Gak jauh sih cuman 2-3 kilometer aja.
Naek sepeda di Kambodia lumayan agak challenging sebenernya, gak semua turis berani. Terutama di daerah downtown atau tengah kotanya. Soalnya disini aturannya gak jelas, mirip kaya di Jakarta sih. Tapi dalam skala yang lebih ringan, soalnya disana orang masi gak terlalu kenceng bawa kendaraan dan masi mau ngalah sama orang laen.

Sebelumnya di Phnom Penh juga gw udah nyobain pake sepeda untuk rute yang lebih jauh dan lama. Jadi keadaan di Siem Reap ini ampir gak ada apa-apanya.

Di malem pertama setelah gw nyampe Siem Reap, langsung deh gw ketemuan sama cewe Prancis namanya Mme. Kita kenalan waktu di Phnom Penh, karena nginep di satu guest house yang sama.
Orangnya asik banget, umurnya sekitar mid 30 atau awal 40an (gw gak enak nanya umur walaupun kita ngobrol banyak).
Walaupun orang Prancis tapi ngomong bahasa Inggrisnya bagus, ampir gak kedengeran logat Prancisnya. Ternyata dia emang udah berapa belas tahun tinggal di London. Dia juga lucu, pokonya jalan sama dia bikin ketawa melulu.

Dari hari pertama berjumpa gw udah suka sama dia, makanya kita janjian lagi untuk ketemu di Siem Reap. Setelahnya beberapa hari kemudian gw jalan bareng dia terus malemnya. Karena dia nginep di hotel yang beda & juga itinerary liat Angkor yang berbeda, jadi kita janjian ketemu pas menjelang sore/ malem doang.
Mme udah nyampe Siem Reap duluan waktu gw masi di Phnom Penh, jadi malem pertama gw nyampe bisa nanya-nanya dia gimana keadaan kota dan juga pengalaman dia di Angkor kompleks.
Dia bilang sih banyak orang yang pagi-pagi naek sepeda ke Angkor archeological complex, yang sebenernya emang gak terlalu jauh dari kotanya. Tapi kalo pagi lumayan dingin juga, dan kalo siang panas banget.
Nah, tadinya gw mau pake sepeda juga. Tapi jadi agak males, soalnya kalo cuacanya panas banget pas siang pasti jadinya cepet cape deh… (alesannn).

Jauh-jauh hari sejak di Phnom Penh (atau lebih tepatnya sejak masih di Indonesia), gw sudah merencanakan untuk catch sunrise dari temple selain Angkor Wat. Ini berdasarkan cerita cewe yang sharing kamar waktu di guesthouse yang sama dimana gw ketemu Mme.
Cewe UK ini bilang, bakal ada ribuan turis nongkrong di Angkor Wat untuk catch sunrise dan suasananya jadi ribut banget kaya pasar. Soalnya orang pada ngobrol  selama moment sunrise itu plus pada foto-foto. Suasananya jadi gak ambient lagi padahal tempatnya sendiri sih gw akui emang bagus.

So, sunrise pertama di Angkor complex gw nikmati dari Phnom Bakheng, temple yang ada di atas bukit.

Sebenernya Phnom Bakheng ini sendiri temple yang tergolong tua (dibangun sekitar tahun 889-900), jauh lebih tua daripada Angkor Wat yang dibangun pada tahun 1131- 1150.
Karena letaknya di atas bukit jadi kita harus jalan dulu sekitar 20 menit ke atas puncaknya.

Pas gw nyampe pagi sebelum matahari muncul (lebih tepatnya gw nyampe sana sekitar jam 5an) yang ada cuman gelap. Dan cuman ada 1 tuktuk laen yang juga ada disitu duluan.
Di situ gak keliatan apa-apa (asli gelap, abis gak ada lampu) cuman ada jalan setapak.
Yang lebih bagus lagi, gw gak bawa lampu atau apapun untuk bantu penglihatan. Selaen itu sang supir tuktuk  dengan santainya bilang dia bakal nunggu disitu sampe gw beres, yang artinya gw harus naek ke atas sendirian tanpa senter.
Dia bilang sih: 'Ikutin aja jalan setapaknya, pasti nyampe koq ke temple-nya'.

Oke deh, gw percaya sama dia. Tapi ini lewat hutan dan siapa yang jamin kalo gw gak akan diculik monyet selama dalam perjalanan ???

Akhirnya, gak berapa lama pas gw lagi celingak celinguk nyari jalan setapak muncul sepasang turis bule dari Jerman. Untungnya si cowo Jerman bawa lampu di kepala, jadilah gw sok kenal ngajak ngobrol duluan dengan nanya apakah mereka mau naek ke atas juga.

Si cewe Jerman nanya, apakah gw udah pernah kesini sebelumnya / tau jalannya (karena gw keliatan pede banget kali, udah jalan sendiri kagak bawa senter pula).
Ya gw jawab kalo gak pernah, tapi gw percaya dengan perkataan si supir tuktuk dan tinggal ngikutin jalan aja. Lagian supir tuktuk gw kayanya orang baek, dia juga belum dibayar sama gw (hehehe).

Nyampe atas Phnom Bakheng, tadinya gw agak kecewa karena banyak bangunan yang sedang dalam renovasi dan bentuknya lebih menyerupai reruntuhan daripada bangunan temple.
Coraknya sendiri lebih mendekati aliran Hindu (seperti Prambanan) daripada aliran Budha. Tapi karena suasana di atas sendiri sangat tenang (dan gelap, sebelum sunrise muncul) jadi gw menikmati aja suasananya.
Cuman ada sepasang cewe Belanda yang udah nyampe duluan dari kita (gw+pasangan Jerman) dan mereka juga udah mulai cari posisi yang enak untuk moto-moto dari atas.

Sejujurnya gw gak dapet banyak foto bagus pas sunrise-nya muncul, rada susah setting pencahayannya. Tapi untuk suasananya, wuih gak bisa dikalahkan.
Setelah sunrise muncul tambah banyak turis yang berdatangan dan moto-moto di atas jadi gw turun ke bawah karena udah males deh bersaing sama banyak orang.

Berikut beberapa koleksi foto hari pertama perjalanan gw di kompleks Angkor Wat:




catch sunrise @ Phnom Bakheng
.: Phnom Bakheng :. dibangun sekitar tahun 889 - 900 [masa pemerintahan Yasovarman I]
.: relief Apsara di Phnom Bakheng :. terlihat lebih montok, dan lebih 'berumur' 

perjalanan ke atas lewatin hutan semacam ini
(waktu gw nyampe subuh masih gelap gulita)
pulangnya gw ketemu sekeluarga monyet kecil yg lucu
pasukan dengan naga balustrade siap menyambut di depan pintu masuk kompleks Angkor   


danau buatan di sekeliling kompleks Angkor ini jg gak kalah menakjubkan sebenernya

Sunday, November 27, 2011

Eurail versus Pesawat

Sehubungan dengan pertemuan dengan anak-anak CS Bandung kemaren,
ada beberapa pertanyaan yang muncul dari beberapa orang yang mau traveling ke Eropa.

Pertanyaannya: "Murahan mana pake Eurail pass atau pesawat ?"

Sebenernya jawaban dari pertanyaan seperti ini udah ada banyak yang bahas di forum traveler (contohnya yang saya tau milis yahoogroup Indobackpacker).

Kalau berdasarkan pengalaman saya sih, jawaban untuk pertanyaan diatas adalah:
"Tergantung."

Tergantung dimana (negara) kita traveling, berapa banyak tempat yang kita kunjungi, berapa lama mau tinggal di tempat tersebut (short/ long stay).

Pake Eurail pass menurut saya baru masuk itungan ekonomis kalau travel plan kita banyaknya di Eropa bagian utara (Skandinavia, Jerman, Prancis, Swiss, Benelux) dan kita pengen mengunjungi banyak tempat dengan waktu tinggal yang pendek (short stay, 1 hari atau kurang).

Terus terang, saya sendiri belum pernah nyobain pake Eurail pass... hihihi... soalnya menurut saya selain Eurail pass gak murah-murah amat, juga travel plan saya cenderung long stay di suatu tempat (2-3 hari). Dan saya emang prefer dapet tempat dikit tapi tinggal rada lama disuatu kota supaya bisa bener-bener explore tempat tersebut.

Selain itu, kalau kita bisa dapet promo flight murah (budget flight) bisa jadi harga tiketnya juga jauh lebih murah daripada pake Eurail pass.

Contoh budget flight misalnya Ryanair (murah, tapi pelayanan-nya jelek. Don't expect anything deh kalo naek ini, sebenernya gak murah-murah amat karena ada biaya tambahan kalau kita pesen seat, tambah bagasi, dan belinya mepet!)

Budget flight lain ada; easyjet, flybe, germanwings (gak murah-murah amat kalau gak promo).
Kalo negara tujuan kita Eropa timur bisa juga pake Wizz air.
Di Skandinavia ada flysas dan norwegian air.

Salahsatu maskapai airline favorit saya di Eropa adalah airberlin :)
Airberlin sebenernya gak termasuk budget flight, karena diluar promo bisa lumayan mahal juga harga tiketnya.
Tapiiii. . . kalau lagi promo, bisa dapet tiket seharga 29 Eur (belum termasuk tax) ampir ke smua destinasi di Eropa. Promo ini bisa kita tau kalo kita langganan newsletter-nya airberlin atau kita udah jadi member (frequent flyer). Daftar member-nya juga gratis koq.
Enaknya pake Airberlin juga kalau kita udah jadi frequent flyer - bisa ngumpulin miles yang bisa dituker jadi tiket flight gratis (kalau point miles-nya udah banyak).
Diluar keuntungan jadi frequent flyer, Airberlin juga ngasi free baggage 20 kgs- yang artinya lumayan banget kalau kita traveling dengan koper ukuran besar.

Traveling pake pesawat ada enak dan ada gak enaknya juga sih.

Enaknya ya cepet nyampe, apalagi kalo negara tujuan-nya jauh contohnya kalo traveling dari negara belahan utara (e.g. Belanda) ke bagian selatan (Spanyol, Itali, Yunani).
Kan kalo misalnya pake Eurail/ jalan darat, kebayang deh mesti duduk berapa lama dalam perjalanan . . . dan, mending kalo dapet temen sperjalanan yang asik, kalo dapet orang random yang ternyata menyebalkan ?!?

Gak enaknya, kalo traveling pake pesawat kan mesti ada waktu yang dialokasikan untuk pergi ke airport (dan beberapa airport letaknya lumayan jauh dari kota).
Juga mesti ada waktu yang disiapkan untuk check in, masukin bagasi, boarding dllsb.

Pake pesawat juga ada resiko flight-nya cancelled karena cuaca jelek (hujan gede, salju, badai) dan kalo kita punya flight yang jadwalnya berdekatan- bisa ketinggalan flight berikutnya deh!
Ini pengalaman pribadi saya waktu taun lalu mau liburan Natal di Malta, taunya flight yang di Dusseldorf di-cancel dan kita ampir aja ketinggalan flight yang dari Milan!
sleeping in dussysleeping in Dusseldorf airport :: been there, done that!

Kadang juga, jadwal keberangkatan yang gak enak (terlalu pagi, atau terlalu malem) akhirnya bikin kita mesti nginep di airport supaya gak ketinggalan flight.
Untungnya, ada website yang kasi review gimana situasi airport tersebut-
apakah aman untuk tidur, gimana kondisi airportnya.
Ini dia website-nya :) http://www.sleepinginairports.net/

Walaupun pake pesawat ada gak enaknya, tapi aku tetep vote untuk travel pake pesawat sih!

I also like the sense of flying high, and see mountains or landscape from above ^^

sunset view from inside the plane :
one of the beauty of life!


:: mountains view from above ::

Saturday, January 8, 2011

Malta :: Valetta

St. Julian port
Malta, Valletta, backpacker, Europe, cheap travel, budget travel, budget, trip, backpacking
Saking kecilnya ini pulau dari kota satu ke kota laen bisa cuman jalan kaki doang.
Ibukota Malta, Valetta - juga dimana ada terminal bus (terminus) yang ngehubungin Valetta ke kota laen termasuk Luqa, airport utama di Malta.
Dari Valetta ini, in walking distance aja udah bisa dapet 3 kota dalam waktu 1 jam... kebayang kan betapa kecilnya kota disini.

Kita juga nginep di Valetta ini, dengan alasan kepraktisan aja kalo mau jalan-jalan jadi gampang ngambil busnya. Juga karena kita dapet hostel yang homey banget, jadi males pindah-pindah lagi. Karena bukan musim liburan/high season, harga kamarnya juga dapet diskon sama yang punya. Trus asiknya disini karena ada dapur jadi qta bisa masak juga, yang artinya bisa ngehemat pengeluaran untuk makan dan bisa makan nasi sesuai dengan perut orang indo
:-)

Valetta at night

Malta, Valletta, backpacker, Europe, cheap travel, budget travel, budget, trip, backpacking
Tiap sudut kota di Valetta bisa dibilang bagus. Terutama kalo malem pas ada lampu-lampu kuning. Mereka disini bangunannya pake batu limestone - mirip sama bangunan di Bordeaux.
Karena kalo musim panas disini bisa panas banget sampe 30 derajat Celsius lebih, makanya kalo bangunan pake limestone jadinya lebih adeum pas lagi panas.

Tapi kalo pas qta dateng kmaren kan winter tuh, kalo diem di dalem rumah malah berasa dingin dan gloomy :(
Mana gak tiap bangunan punya heater lagi... walopun winter disini paling dingin cuman 10 C.


Gak kaya di negara Europe yang lebih maju, orang-orang Malta juga punya budaya fastfood.
Bener-bener mirip Indo deh :-)
Mungkin karena disini fastfood identik dengan kemapanan, dan juga bahan makanan (kalo memang niat masak) gak murah banget dibanding beli diluar.
Akhirnya orang juga jadi lebih milih makan diluar, gak ribet & gak banyak cucian (ni alesan orang rumah gw sih). Bahkan pas hari natal/ taun baru masih aja ada restoran fastfood yang buka. Ini sih bener-bener langka kalo di Belanda/Jerman...
Malta, Valletta, backpacker, Europe, cheap travel, budget travel, budget, trip, backpacking

Tuesday, May 18, 2010

Going to Amsterdam (part one)

Yes, I will be going in the end of this month to my (half) ancestor's country : The Netherlands.

Where I will spend approx. 3 weeks of my sexual reproductive health course (during the day) and sightseeing the beautiful city of Amsterdam (during evening).

I hope the weather won't be so cold during my stay there.


It's going to be spring/ beginning of summer and I expect at least I could wear one of my summer outfits :-)


Then again, I should not have overexpectation about the weather in Amsterdam, as it said that even on July/August (the peak of summer) average high temperature is only 21.8º Celcius -and doesn't feel like I would wear any tank top on such a day.


I made a small research about Ams thou'


And, this one, is always one of my favorite :


http://en.wikipedia.org/wiki/Amsterdam

H minus 1 sebelum keberangkatan & gw bahkan belum ngepak backpacker 65 liter untuk traveling nanti !

Tapi koper 20 kgs sih uda full (bahkan rada kuatir entar bakal overbagage (I hope not)


List barang2 yang bakal dibawa di backpack tsb (karena pake KLM bole bawa barang ke kabin max. 12 kgs included laptop, kamera dst)


1. Laptop + charger + hardisk external
2. Digicam + charger
3. Celana panjang (cukup 1 potong aja) + jaket
4. Travel kit (bawa cairan max 1 liter masuk kabin) : sabun, sampo, lotion
5. Kaos rapih (1 potong aja) + baju utk bobo
6. Sikat gigi + odol + make up kit
7. Tupperware utk minum (air kan gratis tinggal ambil dr keran)
8. Pocket belt + dkk
9. Dokumen penting (termasuk diantaranya paspor, invitation letter, bukti booking tiket, surat dari uni, dst)
10. Handuk, underwear, kaos kaki
11. Obat2an pribadi
12. Raincoat, payung
13. HP + charger
14. Tas kecil
15. Peta + instruction book dari uni + log book pribadi (buat nulis2)
16. Sepatu (baru, gak tega utk masukin ke bagasi.... masi anget soalnya, walopun gak penting jg masuk kabin)
17. Buku bacaan (utk di pesawat biar gak manyun, sengaja beli ke Gramed kemaren:-)

Lalu sudah menyusun itinerary kasar selama disana :


minggu 1 : explore Ams (yang mesti dikunjungi kayanya flea market, soalnya gw doyan barang2 secondhand, terutama yang murah & masi bagus)


minggu 2 (weekend) : visit Belgium, maybe Antwerp, ada beberapa orang yang dikenal.... termasuk Prof. Meheus tapi aneh aja tiba2 visiting dia dalam rangka maen mah.... hihihi


minggu 3 : maybe Maastricht, lalu ke Essen, lalu ke Bologna (huhuy, Italy here I come)



Mudah2an gak bangkrut gara2 kebanyakan belanja (baju titipan orang2, kan gw sedang memulai usaha sebagai personal buyer amatiran.... hehehe)


H&M lagi spring/summer sale soalnya

Sepatu mulai dari 10-25€ (skitar 115 - 280k IDR lah)
Baju/blus mulai dari 8-20€
Terusan/dress mulai dari 15€
Swimsuit (top doank) mulai dari 2€ !

Bikin gw panik aja & pengen blanja blanja blanja compulsively....


Huhuhuhu.... parah.



Thursday, February 25, 2010

Krakatau trip [part one]

H minus 7 sebelum keberangkatan gw udah sibuk konsul ke mbah google untuk tanya soal sejarah dari Krakatau atau terkenal dengan Krakatoa ini.
Ternyata tante Wiki juga punya cerita yang lumayan lengkap (ada animasi simulasi dari meletusnya Krakatau di tahun 1800-an hingga keadaan situs tersebut di masa sekarang) dan gimana dari hasil letusan tersebut bisa sampai membuat ribuan orang meninggal, bahkan katanya, letusan Krakatau ini bikin perubahan iklim juga, dashyat bener.

Bisa dibilang termasukan letusan yang termasuk dashyat dalam kurun waktu beberapa abad.
Konon, letusan di tahun 1883 ini sampe kedengeran di Australia, juga memusnahkan semua populasi yang ada di Lampung dan Banten.

Ratusan (atau ribuan) mayat-mayat orang yang meninggal ini juga terbawa sapuan ombak sampai ke belahan Afrika...... ckckckck...

Anyway, dibalik latar belakang ceritanya yang dramatis, saat ini pecahan dari Krakatau (gunung Rakata) masih berstatus gunung berapi aktif.


Waktu mamah gw tau, kalau anaknya mau kemping di Krakatau, dia tanya: "Kempingnya dimana? "

Jawab(J): " Ya disitunya."
Mamah (M): " Emang gunung berapinya udah gak aktif ?"
J: " Gatau. Mungkin. "
M: "Koq mungkin sih? Apa gak bahaya? Emang boleh? "

J: " Udah deh mam. Pokonya ada orangnya yang ngurus bilang boleh. "


Lalu, H minus 2 sebelum final day, I already got very very excited.

Konsolidasi dengan anggota tim yang lain juga udah beres.
Backpack 55 liter, isi sleeping bag (ampir gak kepake), matras pinjeman, alat masak dll, all set up.

Dan seperti biasa, kalo menjelang mau trip gini, gw suka gak bisa tidur !

Oh..oh..oh...
udah kepikiran betapa menyenangkan ketemu alam (liar) dan segala penghuninya.... Ha ha ha... Lebay.

Lalu, final day has come eventually.
Karena kita mesti berangkat dari terminal Leuwi Panjang sebelum jam 18, (terpaksa) gw ijin kantor jam 16.

Juga ngajak Noor, intern dari Belanda yang lagi magang di kantor, terlibat dalam persekongkolan ini... Ha ha ha.

Ternyata ujan gede..... sounds like not a good beginning.

Gw, Noor, dan Dios masuk bus Bandung - Merak dalam keadaan basah deh jadinya.

Still a long way to go menuju Pelabuhan Merak, dimana kita mesti nyebrang lagi ke Lampung.


Catatan Tiket bus (eksekutif) Bandung - Merak : 50,000 IDR.
Lama perjalanan : 5 jam lebih (spare waktu 6 jam deh biar aman)


Nyampe sana almost midnight, lalu kenalan ama anak-anak laen, managed to find something to eat (midnight snack?!?)


Then ngantri tiket fery, untuk nyebrang ke Lampung. (Tiket dibeliin ama Utine, EO-nya trip)
Fery-nya lumayan crowded, karena long wiken kali yah, tapi overall masi bisa dibilang nyaman, dibanding nyebrang dari Banyuwangi ke Gilimanuk.

Untuk masuk ke ruangan AC, mesti nambah 5,000 IDR lagi (tapi AC-nya gak terlalu berasa juga sih) but somehow, I coped with the situation and got sleep.


Nyampe Pelabuhan Bakauheni (Lampung) yang ternyata far more advanced dari Pelabuhan Merak. It was quite surprising. Dan bersih. Dan fasilitasnya mirip pelabuhan Batam kalo qta mau nyebrang ke Singapur.
Okelah.

Dari pelabuhan Bakauheni ini mesti pake perahu lagi untuk ke pulau Sabesi, yang letaknya udah lumayan deket ama pulau sekitar anak Krakatau entar.

Utine dah carter angkot untuk a whole team, dari situ ke tempat perahu bawa kita ternyata lumayan cepet.
Spare waktunya 1 jam dan gw rasa perjalanan less than that, soalnya qta jalan subuh dan jalan di Lampung ternyata lurus, gak banyak mobil, dan gak banyak bolong.
Bisa dibilang supir angkor disini pada jago ngebut (dan gw rasa mereka bakalan stress kalo disuruh jadi supir angkot di Bandung).

Pas nyampe tempat kita ngumpul untuk nyebrang ke Sabesi ituh, after a while sunrise muncul.... Ugh ugh ugh....


So beautiful.
And it's only a beginning of our trip.
" Gunung-nya udah keliatan dari sini ! " (Norak mode on)

Berlangsunglah sesi poto-poto (baik poto pemandangan maupun poto versi narsis :-)
tapi terus terang, baru kali ini gw merasa gak pede mengeluarkan digicam Kodak gw (padahal dia udah menemani petualangan gw ke 2 benua) dan mulai mikir-mikir (serius) untuk punya SLR juga.
*Hmmmmh*

Manusia emang gak pernah puas.
Lanjut.... Akhirnya setelah loading barang-barang, kapal kita berangkat deh.

Tuesday, November 24, 2009

How to level out the world

I am believe I am just lucky.

That's my attitude to face all the goodness in life.

In other words, I am luckier than most of people in my hometown, even in my home country.

That's also the line I was telling to my friend when we walked down the path on beautiful garden of Alhambra or alongside a beautiful beach in Phuket.



sagrada di familiaSagrada di Familia, Barcelona

king's palaceAlhambra, Granada

[inside] Notre Dame, Paris

Sacre Couer, Paris

This is one of my favorites stories, taken from Stories for Parents, Children and Grandchildren - Volume 1 - by my favorite author, as well, Paulo Coelho.
Once when Confucius was travelling with his disciples, he heard tell of a very intelligent boy living in a particular village. Confucius went to see and talk to him and he jokingly asked: 'How would you like to help me do away with all the irregularities and inequalities in the world? 'But why' asked the boy. 'If we flattened the mountains, the birds would have no shelter. If we filled up the deep rivers and the sea, the fish would die. If the head of the village had as much authority as the madman, no one would know where they were. The world is vast enough to cope with the differences.'

Mesquita in Cordoba

autumn has just started in Porto

The disciples left feeling greatly impressed by the boy's wisdom, and as they journeyed towards the next town, one of them commented that all children should be like that. Confucius said:

'I've known many children who, instead of playing and doing the things appropriate to their age, were busy trying to understand the world. Not one of those precocious children did anything of any great significance later in life because they had never experienced the innocence and healthy irresponsible of childhood.'
keywautumn in Berlinautumn in Berlin
ords: Coelho, books, stories, traveling, backpacker, backpacking, Europe, Eurotrip

Wednesday, November 11, 2009

street music ala Parisien



Stasiun kereta di Paris beda banget ya sama stasiun Kebon Kawung di Bandung.

Selain stasiun-nya lebih bersih, yang ngamen juga elit pisan.... ini anak-anak skolah musik kayanya.

Alhasil para pengunjung (termasuk kita, para traveler kere :-) pada nonton dan ngasi duit ... dengan rela tentunya -gak pake intimidasi.
street music, Paris, Gard du Nord, station, entertainment, traveler, traveling, backpacker, backpacking, Eurotrip, Europe, France, cheap travel

Thursday, October 22, 2009

things that (might) happened..

Cerita #3 : Nyasar di Lisabon


We're sorry we cannot provide this traveling story in English.
Selama di Portugal, walopun kita punya map tapi masih suka ajah nyasar. Akhirnya kita mesti sering-sering nanya orang kalo mau ke suatu tempat. Untungnya, orang-orang Portugal termasuk yang ramah dan helpful (love them!) However, masih ada juga kendala biarpun udah nanya ke (beberapa) orang. Love this part of Portugal!

Seperti waktu di Lisboa, sempet satu hari kita mengalami sesuatu yang gak direncanakan banget.
Dan fatal untuk seorang traveler. Yaitu, kehabisan uang tunai.
Moreover, waktu itu lagi weekend (hari Sabtu malem mau ke Minggu kalo gak salah)
temenku berkali-kali nyoba ngambil tunai di ATM tapi gak berhasil.

Setelah beberapa kali nyoba di tempat ATM yang berbeda (dan jalan beberapa ratus meter di malam yang dingin, kelaperan- gak punya uang buat beli makan.... sedihnya.... begini toh rasanya jadi gembel di negara orang) akhirnya berhasil juga ngambil uang di ATM
!!! The story might end up with the title: How to survive without money in Lisbon :-)
Lalu kita me-reward dengan makan paket hemat di KFC mallnya Lisboa, di deket Parque des Naçoes.
(Salahsatu KFC paling enak yang pernah gue makan ! gara-gara kelaperan :-)

Langkah berikutnya adalah nyari penginepan, karena mau nyari emergency host juga udah gak mungkin.
Kita udah punya hostel yang dituju dan alamatnya, tapi nanya ke orang-orang koq beda-beda sih jawabannya ?!?

Ada yang bilang, mesti naek train antar kota dulu satu stasiun, ada yang bilang jalan kaki ajah 'gak terlalu jauh koq', ada yang bilang belok kiri, ada yang bilang belok kanan.

Lah, malah tambah bingung kita dan nyasar (LAGI) deh.

Karena udah pegang uang cash, akhirnya sih kita memutuskan naek taksi (
tiket kereta yang udah keburu dibeli, kita pake ilegal besok paginya :-) dan ternyata orang yang ngasi tau kita pertama kali yang bener kasi petunjuknya
!!
Banyak bertanya koq malah sesat di jalan......
keywords: travel, traveling, cheap travel, funny experience, Eurotrip, Europe, Lisboa, Lisbon, Lissabon, Portugal, backpacker, backpacking

Thursday, October 15, 2009

Things that (might) happened. . . [cerita lucu #2]

Cerita lucu #2. Diusir (lagi-lagi) Lifeguard di Tavira
We're sorry that we cannot provide this story, about funny traveling experience, in English, it might not pretty well told in other language. And this uniquely interesting in certain culture only.
The one and only 'beach moment' kita selama Eurotrip ini adalah di pantai sebelah selatan Portugal.

Nama kotanya Tavira, dari kota kecil yang bagus ini kalau mau ke pantainya harus naek boat lagi selama setengah jam perjalanan. Boatnya berangkat dari pelabuhan di kota dan tiket pulang-perginya gak mahal sih.


Kita udah dikasi tau sebelumnya sama beberapa kenalan bahwa pantai di Tavira ini bakalan bagus dan termasuk 'hidden paradise' untuk para turis. Terutama gue, si anak pantai, tentu aja menantikan momen 'sun, sand and sea' ini.

Nyampe stasiun kreta, kita nyari hostel (dan nyasar, walopun udah nanya orang sana-sini, abis nanya orang Portugis pake bahasa Inggris susah juga. Dia gak ngerti, giliran dia nerangin pake bahasa Portugis, kita yang gak ngerti).


Untung di hostel, resepsionisnya okeh banget Inggrisnya, dan informatif juga.
Ditanya segala tau (termasuk dimana cari tempat makan yang murah ;-)


Pas besokannya ke pantai, kita naek boat pagi biar bisa nikmatin lama disana.

Nyampe sana, pantainya bersih dan lumayan oke, lautnya biru dan langitnya cerah (tapi airnya masih aja dingin.... brrrrrr)


Kenapa gue bilang lumayan ? Karena pantai di selatan Lombok juga sebenernya ada yang bagus kaya gini, cuman gak sebersih di Portugal.
Dan disini lebih banyak nemu cowok-cowok cakeup versi Portugal juga....... *HALAH*


Anyway, orang laen mah pada bawa handuk pantai untuk berjemur, payung untuk berteduh, kita cuman bawa bekel makan siang doang.
Sunblock pun dapet gratisan dari cewe Turki yang barangnya ketinggalan....hihihi..

Karena gak bawa payung, disana ada sih zona payung yang bisa disewa. Tapi berhubung mau menghemat Euro, kita nyari aja payung orang yang gak kepake. Setelah 1-2 jam berjemur (sekalian bobo siang, anginnya enak.... adem :-) kita makan siang, maen-maen aer, dan berjemur lagi ..... tiba-tiba ada lifeguard nyamperin kita.
Trus dia ngomong pake bahasa Portugis : 'bla...bla.... bla.... '
Gue + partner mana ngerti, kita bilang aje : "Sorry, we don't understand Portuguese. Do you speak English ?"

Si lifeguard-nya keliatan frustasi gituh ngomong sama kita yang pasang tampang gak ngerti alias bego, sambil ngedumel dia ninggalin kita balik ke pos-nya. Kita ngebahas, 'Tadi dia bilang 'prohibido', emangnya kita salah apa?'

Tau-tau si Lifeguard balik lagi sama temennya, kali ini temennya yang ngomong sama kita (pake Inggris yang lumayan dimengerti sama kita),
dia bilang: " Eh lu berdua tuh dilarang diem disini. Ini payung punya kita, untuk lifeguard. Kalo elu mau pake payung ya pake yang sebelah sana, bisa sewa."
Barulah kita ngerti......... owh gitu toh maksutnya.
(Padahal dari tadi kita juga udah bikin asumsi sih, kali aja ni payung punya si Lifeguard abis enak gitu posisinya strategis....) keywords: traveling, travel, backpacking, backpacker, cheap travel, Portugal, Tavira, Portuguese, beach, sun, sea, sand, Europe, Eurotrip, vacation, experience

beach in TaviraPantai di selatan Portugal yang sebenernya biasa aja di banding pantai di selatan Lombok

PS. Cowo-cowo Portugal (or yang gue temui selama di Portugal) emang cakep-cakep!
Christiano Ronaldo itu gak ada apa-apanya dibanding cowo sebelah gue yang lagi berjemur -sambil telanjang dada...... ehemmmm.... tapi ada cewenya gituh deh.


Sunday, October 4, 2009

Cerita luchu saat ngetrip (bahasa Indonesia version only)

Sans souci, Postdam
#1. Diusir satpam di Sans Souci, Postdam

Cerita bermulai dari suatu hari yang panas di Jerman, di akhir bulan September (jarang-jarang!) aku pengen ke Postdam, liat istana Sans Souci.
So berangkatlah kita dari Berlin menuju Postdam, setelah menyiapkan bekal buat makan siang juga disana (yang nyiapin temenku sih, aku bantu ngabisin aja :-)
Sampai sana, cuaca bener-bener cerah ! Langit biru, mataharinya hangat...

Setelah muter-muter istana, karena tambah siang tambah panas, juga efek dari perut kenyang abis makan siang, akhirnya kita memutuskan untuk tidur siang di rumput depan istana musim panas Sans souci yang empuk.
(setelah Eurotrip berakhir pun, kesimpulan gak berubah, rumput Postdam emang yang paling enak untuk dipake tidur siang!)

Tidur siangnya enak banget, dibawah bayangan pohon, sampe akhirnya kita dibangunin sama dua orang satpam: 'Sori, kalian dilarang bobo disini.'
Kita masih coba ngedebat lagi dengan bilang: 'Tapi gue liat disana ada juga tuh orang yang bobo, jadi kita pikir boleh.' (emang bener)
Satpamnya bilang lagi: 'Oke, nanti orang itu juga kita usir.'

Berakhir deh tidur siang kita yang nikmat.

Catatan : karena gue gak bisa bahasa Jerman, dan satpam itu ngomongnya pake Deutsch, jadi gue mah bisa pura-pura pasang tampang bego (
yah kalo ada aturan tertulis pun, emang gue gak ngerti artinya ... )

funny stories, Eurotrip, Europe, backpacking, backpacker, Indonesia, traveler, traveling, trip, cheap travel, Postdam, Sans Souci, Germany, Berlin

Friday, October 2, 2009

coming back home : Munich - Dubai


it feels like a dream and its time to wake up.

realizing my vacation has come to the end, I wept in my seat on the flight back home.
the sunset has seen my tears down on my face.
for it has been a great journey, a fantastic adventure, with such a partner and it was all must come to an end somehow.
I hardly say goodbye to the things, especially to those nice things happened, but he has made me saying it loud.

i already miss it all.
the weather in Portugal. autumn in Berlin. smell of olive tree in Andalusia.

a French friend told me that French people didn't say goodbye, instead they would say, 'Au revoir'
means 'see you later'.


so I'd say
Au revoir.

pertama, harus diakui bahwa ada masalah psikologis yang belum terselesaikan.
namanya perpisahan.
dan itu pasti selalu, akan terjadi, pada semua cerita.
terutama cerita yang bagus.

tiba-tiba aja jadi sedih.
untuk semua hal-hal menyenangkan yang telah dialami dan harus kembali ke realita.


itulah konsekuensinya jadi orang dewasa.

aku kecanduan.
sama traveling.
parah parah parah.


keywords: Muenchen, Dubai, Eurotrip, backpacker, backpacking, Germany, Europe

Thursday, October 1, 2009

Muenchen : Dachau Concentration Camp

memorial siteDachau Concentration Camp, Germany

The words 'Arbeit Macht Frei' (Work Makes Free) written in the front gate of Dachau Concentration Camp, the first concentration camp that established by Nazi back then on the beginning of World War II.

It was not feel scary at all when you're visiting the place with hundreds of visitors altogether, until I watched the documentary movies (yes it was gratis) and informed how this story begun.

Started from the end of the World War I and how Nazi was won the election
(lesson learned: democracy didn't always chose the 'nice' party), and how was this anti-Semit movement leading to death of millions people during period 1933 - 1945.


It is a long story to be retold, yet intensely intriguing.


tulisannya : May the example of those who were exterminated here between 1933-1945
because they resisted Nazism help to unite the living to defence of peace and freedom
and in respect for their fellow men

'Never Again'
marked in four different language in the memorial site of Dachau concentration camp.


My friend recited 'History belongs to the winner'.

Means the winner could reshape the history, which is normally occurred in any countries in the world.
But Germany took the fact that even the democracy had chosen the dictator, they also learned from history that it should never happened again.

Waktu kita di Muenchen, ada dua pilihan : satu, pergi ke Salzburg (kotanya Mozart) dimana disana bisa ngeliat kota-kota tua ala Eropa.

Atau pilihan kedua, Dachau, salahsatu kamp konsentrasi pertama yang didirikan Nazi pada jaman diktator Hitler berkuasa.

Karena udah bosen liat kota-kota tua, akhirnya aku lebih milih Dachau.
Dan pengen tau juga tentang sejarahnya kenapa ini dan itu terjadi.

Sebelumnya, aku udah riset kecil-kecilan dengan bantuan tante Wikipedia dan om Google untuk cerita tentang kamp konsentrasi, dan juga ngobrol sama beberapa orang yang udah pernah ke Dachau sebelumnya.


Tips dari mereka : pulang dari Dachau, harus dilanjutkan sama kegiatan yang entertaining. Supaya gak frustrated dan kepikiran udahnya.

It was a good advice indeed.

gas chamberini dia salahsatu kamar gas (chamber room)
yang dipake untuk ngebunuh tahanan secara massal,
sebelum dimasukkin kesini tahanan mesti dicukur dulu rambutnya dan disuru telanjang

gross krematoriumgambar mayat orang-orang yang ditumpuk
karena krematorium udah gak cukup lagi menampung orang yang mati

Kamp konsentrasi Dachau memang pertamanya dibuat untuk tujuan tempat kerja orang-orang pengangguran, pengemis, debil (sebelum akhirnya jadi tempat 'pembuangan' orang Yahudi) dimana mereka suruh bangun jalan, infrastruktur, dan peralatan perang Jerman- yang waktu itu memang lagi perang dunia kedua.

Disini ada audioguide yang bisa dipinjem, untuk tau keterangan tentang arti masing-masing tempat yang kita lewatin.
Pas kita kesana juga ada semacam pameran visualnya, bisa lihat dokumentasi yang berhubungan dengan peristiwa Nazi, sejarah terbentuknya kamp konsentrasi, perang dunia pertama dan kedua.


Juga ada memorabilia yang berhubungan dengan kamp konsentrasinya; baju tahanan, alat bekas percobaan yang dilakukan tenaga medis Jerman ke para tahanan.


Banyak juga visual guide yang cerita gimana perlakukan tentara atau bahkan dokter-dokter Nazi yang memperlakukan tahanan secara gak manusiawi.
Tahanan yang mencoba melarikan diri biasanya ditembak mati ditempat.
Tahanan yang 'nakal' mencoba melawan juga dihukum berat supaya jadi 'contoh' buat tahanan laen supaya nurut sama tentara Nazi.
Juga banyak tahanan yang stres di tempat ini karena beban kerja mereka yang gak manusiawi juga situasi tempat tahanan yang mirip kandang binatang, akhirnya mereka mencoba bunuh diri dengan cara menabrak pagar penjagaan yang emang dialiri listrik.

Kita ke Dachau ini udah dateng pagi banget, tapi masih aja enggak sempet ngeliat semua bagiannya. Sampe akhirnya pas lagi liat gambar-gambar di pamerannya, tiba-tiba udah dikasi tau sama satpamnya kalau mereka mau tutup.


Gak kerasa banget.

Abis seru banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari sejarah Jerman dan kamp konsentrasi ini.
Baik dari segi historikalnya juga dampak sosialnya ke kehidupan Jerman sekarang.

Pas balik ke Muenchen lagi,
Rathaus (=gedung walikota) yang kalo siang warnanya polos sekarang tiba-tiba jadi warna warni kena permainan cahaya lampu.

Waktu itu masih Oktoberfest juga, jadi rame banget banyak orang di jalan.
Lumayan untuk bikin gak kepikiran soal jutaan orang yang mati di kamp konsentrasi.

rathausRathaus warna-warni banyak lampunya

Info harga: Tiket XXL dari Munich ke Dachau ~ 11.80 €

keywords : Dachau KZ, Munich, Muencheh, Germany, Bavaria, Oktoberfest, Eurotrip, Europe, backpacking, backpacker

Wednesday, September 30, 2009

München : Octoberfest





Beer or Wine ?


Occasionally (or most of the times), people living in Germany drink beer on special event. But on Octoberfest, it is so legally, established, organized event that you can have beers as much as your capability and get drunk heavily but it would be still okay. I think Homer and his friends would set this place as their playground (for a month). The name is Octoberfest but it started on September until early of October. When I get there, it was almost reached the peak, the last week of Octoberfest. We could see in the street people get dressed in traditional Bavarian's style, and as soon as we arrived at the fest, found some people already got drunk (it was 4pm, quite early to get loaded for me) a litre of beer (it's Octoberfest anyway!) costs 9,60 €.
No wonder it will always be such an occasion for Deutschland !

Contrary to the fact above, I found out very few of Parisiens (or if they really exist then I didn't notice) nor Spanish/ Portuguese people drink beer on special occasion. Instead, they prefer wine as a company for food. Porto also has this strong, sugary wine, uniquely produced in the area, name Port Wine. It was saying that French women could eat much but they still thin because they drink red wine. Don't know much whether it's a fact or just a myth but I do love wine better than beer.



keywords : Munich, München, Octoberfest, German, Bavaria, Europe, Eurotrip, backpacker, backpacking, Port Wine
Your Fonts - Font Generator