Showing posts with label traveling. Show all posts
Showing posts with label traveling. Show all posts

Tuesday, March 3, 2015

Money management (so you could travel more ! )

Baru-baru ini seorang teman (well, beberapa orang sih) bertanya seperti ini:

" Apa sih kerjaan élu? Koq kayanya bisa jalan-jalan terus ? "


atau

" Duit élu koq gak abis-abis yah… bisa bolak-balik Eropa melulu… "

Kenyataannya : Hidup itu memang gak seindah gambar - gambar yang gw posting di sosial media *smile*

Tapi kita pasti bisa traveling dimana ada niat dan strategi untuk mewujudkannya.

Sebelum gw share beberapa tips dan trik supaya bisa bepergian tapi gak bangkrut ada sedikit prelude: kenapa traveling itu penting (dan kenapa menghabiskan duit untuk traveling itu perlu) sama pentingnya seperti investasi lainnya.

Kecanduan gw akan traveling sebenarnya muncul sejak usia muda (kesannya sekarang gw udah tuwir banget yaks)…. maksudnya muda di sini adalah awal 20an.

Tapi perjalanan pertama keluar negri sendiri baru dimulai tahun 2009.
Waktu itu gw solo backpacking ke Thailand. Iya murni sendirian aja ditemani backpack.
Setelah riset singkat tentang Thailand, gw berangkat untuk perjalanan selama 2 minggu, dengan short transit di Singapore selama beberapa hari.

Sedikit catatan: Sebelumnya gw udah sering wara-wiri sendiri Jawa-Bali-Lombok-Sumbawa. Dan tentunya masalah traveling sendirian sama di negri orang sedikit berbeda tapi kurang lebih survival skill-nya sama.

Singkat cerita, perjalanan pertama itu berkesan banget, serasa melihat dunia baru deh pokonya dan akhirnya gw pun ketagihan untuk mengeksplor banyak tempat baru di luar (maupun dalam negri).
Traveling mengajarkan banyak hal dalam hidup yang gak bisa kita pelajari selama kuliah, dan buat gw sih menambah wawasan, cara pandang terhadap hidup, manusia. 



Traveler's quote ~ Dalai Lama (captured in NL, 2010)

Nasehat yang bakal gw bagikan ke anak muda: Traveling is a must, foremost while you are young.

Setelah nasehat itu, biasa akan ada pertanyaan lanjutan. " Ya tapi traveling itu kan butuh duit. Lalu gimana kalo kita masi muda, duit masi minta ortu, belum punya penghasilan dst…."

Betul sih. Realistis aja, kalo duit masih minta ortu alias belum berpenghasilan sendiri ya salah satu jalan keluarnya adalah nabung.
Dan gak usah maksain jalan keluar negri yang budgetnya besar, coba traveling dalam negri dulu. Karena yang penting kan melatih independensi dan how to survive in a real world.
Ada satu catatan penting yang ingin gw tekankan terkait menabung ini.

Menabung sebetulnya bukan hanya tips bagi anak muda yang belum berpenghasilan.
Tapi juga bagi banyak orang yang sudah bekerja sekian lama dan punya penghasilan tetap tapi gak pernah punya dana khusus buat jalan-jalan. And I found it really sad actually

Ohya, tentang tabungan …. itu sebetulnya adalah sebagian kecil dari money / resources management, yang nantinya akan gw bahas lebih lanjut dibawah.

Kalau dari latar belakang akademis, sebetulnya gak dalam kompetensinya gw membahas soal money management. Terus terang belajar 5 tahun lebih di kedokteran gak bikin gw cerdas sama sekali dalam mengelola finansial.
Justru money / resources management ini gw pelajari secara otodidak, karena gw pernah (atau sering) mengalami masa-masa financial crises (mendekati kebangkrutan ).

Setelah menyadari kalau money / resources management itu penting bagi seorang manusia secara umum (termasuk dokter, kan dokter juga manusia) maka gw belajar untuk lebih bijaksana mengelola keuangan.

Ok kembali ke menabung.
Emang cara konvensional ini paling terkenal di Indonesia, karena dianggap aman dan juga paling mudah.
Nabung kan bisa bermodalkan hanya celengan (atau ditaro di bawah bantal) dan kalo mau lebih sistematis tentunya dengan buka tabungan di bank (lalu setor rutin bulanan/ mingguan).

Tapi kalo ditelaah lebih lanjut, nabung itu sebetulnya gak menguntungkan amat.
Duit kita di bank malah suka kena potongan administrasi per bulan, belum bunga yang dikasi bank kecil banget. Maksimal 7% per tahun (tergantung BI rate).
Lalu kalo ada keperluan mendadak (misal ada diskon akhir tahun, tiba-tiba pengen upgrade gadget dst) akhirnya tabungan itu jadi kepake deh buat hal laen.


Intinya, tabungan susah jadi jaminan bahwa nilai yang kita inginkan untuk terkumpul dalam sekian waktu itu bisa terwujud.
Betul kalau kita harus selalu punya tabungan, in any case, untuk menjamin tersedianya dana likuid. Hanya jangan dijadikan sarana untuk akumulasi nilai investasi terutama bila kita punya target dalam jangka waktu tertentu, misalnya.

Cara lain yang memungkinkan supaya dapet return lebih dibanding tabung bisa dengan membuka deposito, tapi syaratnya selalu ada jumlah minimal tertentu (sekian juta). Belum lagi dengan laju inflasi yang tinggi di negara kita akhirnya nilai uang yang dimiliki bakal mengalami penurunan.

Salah satu solusinya yang bisa gw rekomendasikan: Memulai alternatif investasi dengan cara yang lebih cerdik.
Pilihannya tentu banyak, silahkan disesuaikan dengan profil resiko masing-masing dan juga kesanggupan/ dana yang tersedia.

Buat anak kuliahan (dan ini juga yang gw sarankan kepada adek-adek sepupu yang minta nasehat gratis): Mulai dengan reksadana.
Informasi tentang reksadana jaman sekarang bisa dicari di mana-mana (asal punya kemauan dan mau putar otak dikit).
Memulai reksadana juga cukup dengan dana 100ribu per bulan, yang buat anak muda jaman sekarang setara dengan budget  2 - 3 kali nongkrong di cafe/ resto.

Masalahnya bagi anak muda -dan juga buat kebanyakan orang kita sih- banyak yang lebih suka menghabiskan duit untuk gaya hidup (baca: nongkrong di cafe, nyoba resto baru, beli barang mahal, upgrade gadget, dst you name it) daripada nabung demi bisa traveling 2 - 3 tahun ke depan.

Ya gw bilang gak salah juga kalau kita ingin menikmati duit yang udah jadi jerih payah hasil kerja kita. Bahkan dulu gw juga melakukan hal yang sama koq.
Pada saat gaji bulanan gw menyentuh 8 digit maka dalam seketika banyak barang bisa gw beli, baik dengan metoda cash / cicilan.
Untungnya gw gak terlalu suka barang cewe seperti sepatu, tas, atau aksesoris, tapi duit gw sempat habis lumayan banyak untuk kosmetik mahal.


Memang tiap kita punya kelemahan masing-masing. Ada yang duitnya abis untuk gadget sampe bela-belain nyicil demi punya iPh*ne terbaru misalnya. Atau ada sodara gw yang gajinya pas-pasan tapi demi gaya hidup nyicil untuk beli tas bermerk mahal.

Godaan terbesar buat gw ya sebetulnya traveling.
Tahun 2014 kemaren aja gw traveling ke beberapa tempat: Timteng (Yordania), Eropa (Italia, Belanda, Belgia), Asia Tenggara (Bangkok, Kamboja, Kuala lumpur, Bali-Jawa) yang kalau ditotal mungkin duit yang gw habiskan kurang lebih setara dengan harga 6 buah iP*one keluar terbaru (dibeli tunai!).


Might be one of the symptoms of traveling's addiction:
I really like the sense of flying high
Kenapa gw bisa bepergian sebenarnya bukan dialaskan sekedar niat untuk mengalokasikan budget untuk traveling aja. Tapi juga karena gw menghilangkan pengeluaran yang gak penting (selama beberapa bulan atau bahkan hampir 2 tahun).
Contoh sederhana, gw suka banget jalan kaki ke kantor (karena apartemen deket ke kantor) ketimbang naek angkutan umum.
Dan walaupun gaji gw memungkinkan untuk naek taksi tiap hari, tapi gw gak keberatan naek kendaraan umum juga- walaupun artinya menghilangkan kenyamanan, tentu saat situasi memungkinkan yah.

Gw juga gak terlalu suka menghabiskan uang untuk makan makanan di resto. Bagi gw makan enak itu penting, tapi makan enak dan mahal itu pilihan. Dan makan enak itu gak harus mahal kan...

Makan enak juga bisa gratis (ditraktir uni) ~Bordeaux, 2010

Kalo gw perhatiin sih yah, jaman sekarang orang cenderung konsumtif karena seperti ada 'keharusan' coba resto / cafe baru ini (kalo engga jadi berasa gak gaul). Belum juga di sini kita kurang lahan publik untuk bersosialisasi (kaya taman kalo di negara-negara Eropa) makanya seringnya orang pergi ke mall atau pusat perbelanjaan buat tempat nongkrong.
Akibatnya orang jadi konsumtif, pengen beli ini itu.
Anak-anak sejak kecil juga belajar jadi konsumtif (ya iyalah, liat orangtuanya kasih contoh).

Kesian juga sih orang kita.
Makanya kalo ada kesempatan dengan traveling keluar kita jadi bisa belajar gimana negara maju itu menghabiskan waktunya. Dan kebiasaan baik apa yang bisa kita tiru, sehingga kita jadi terbawa maju juga kaya mereka.



Amsterdam, on an exceptionally beautiful day (winter 2010)
 Sebagai contoh lainnya, saat di Belanda (karena gw sempat tinggal beberapa bulan di sana) banyak orang Belanda itu sebetulnya banyak duit. Gaji mereka pasti cukup buat hidup berlebihan. Ya emang di Amsterdam biaya hidup cenderung tinggi dibanding kota lain yang lebih kecil. Tapi kalo gw perhatikan, mereka (orang Belanda) tuh termasuk pelit.

Kalo beli makanan ternyata mereka suka nyari yang lebih murah alias diskonan (tapi kualitas masih lumayan bagus sih). Trus gw perhatikan temen-temen bule gw di kelas tuh hape-nya hape jadul semua. Cuman 1 orang yang punya iPhone (itu tahun 2010 yah). Buat mereka gadget itu gak perlu canggih, yang penting fungsinya.
Trus mereka hemat banget, kemana-mana pake sepeda (termasuk direkturnya institusi gw).

Ya emang (lagi-lagi) Belanda adalah salahsatu negara Eropa yang punya budaya bersepeda. Selain itu transportasi umum juga gak murah-murah amat.
Jadi pilihan paling ekonomis ya sebetulnya dengan bersepeda.


Tapiiiiii….. in general mereka emang pelit, hemat, gak berlebihan, bahkan gaya berpakaian juga biasa aja.
Justru kalo gw perhatikan murid-murid dari negara berkembang (Pakistan, Bangladesh, negara-negara Afrika) yang suka berpakaian jas/ formal pas kuliah.
Supaya terkesan penting dan keren kali yah.

Sedangkan yang bule-bule malah pake kaos/ atasan semi-formal.
Buat mereka 'isi' itu lebih penting daripada sekedar penampilan luar.


Walaupun hemat-cenderung pelit-.... orang Belanda (atau kebanyakan orang Eropa yang gw kenal) pasti mengalokasikan budget untuk traveling. Bahkan sampe mereka tua pun, penting buat selalu traveling dan liat tempat baru paling engga setahun sekali.
Ibu kos gw di Kopenhagen aja umurnya udah 60 tahun lebih pun masih niat banget traveling ke Afrika dan dia ngumpulin duit lama buat trip-nya itu.


To see at least one new place each year, is such a privilege ~ Cannes, FR (2011)

Nah ini yang gw pelajari dari kultur di sana.

Balik dari Eropa gw malah belajar kalo gengsi itu gak ada gunanya.
Gengsi will get you nowhere.

Jadi gak ada gunanya misalnya punya gadget terbaru dan tercanggih, tas sepatu branded, kalo semuanya cuman demi gengsi.
Sekali lagi gw tekankan, gak ada yang salah dengan me-reward diri sendiri atas hasil jerih payah kerja keras kita dengan barang bagus, tapi….. kalo cuman demi gengsi doang sih….

Kembali ke soal money / resources management, nasihat yang juga gw berikan kepada adek-adek sepupu (yang usianya jauh lebih mudah 1 dekade lebih) adalah: Mulai investasi sedini mungkin.

Ini mungkin terdengar klasik. Penyesalan selalu datang terlambat, karena gw baru mulai sungguh-sungguh berinvestasi di usia 30an.
Kalo gw bisa mengulang waktu 10 tahun ke belakang, saat di mana gw pertama kali mendapat penghasilan sendiri maka sedapat mungkin bakal diusahakan tertib menyisihkan budget buat reksadana walaupun hanya dengan 100 - 200rb per bulan.

Tentu penyesalan gak ada gunanya, makanya pelajaran ini selalu gw bagikan kepada sodara/ adek sepupu yang lebih muda. Terutama setelah mereka tergiur dengan foto-foto perjalanan gw ke berbagai negara *winks*

Ohya, di sini gw hanya membahas salah satu jenis investasi yang bisa dimulai sedini mungkin, dengan jumlah kecil, dan nilainya berpotensi membesar dalam jangka waktu lama.
Precaution-nya, selalu ada resiko dalam investasi jenis apa pun. Ini bisa ditanyakan ke mereka yang lebih ahli menjelaskan soal ini. Atau ke agen penjual reksa dana biar lebih akurat informasinya (bisa di bank atau perusahaan sekuritas).

Selain reksa dana ada banyak metoda lain untuk berinvestasi, misalnya beli saham (bila punya pengetahuan mencukupi), atau beli barang yang punya nilai investasi -emas, kata orang jaman dulu- atau surat berharga seperti obligasi, kalau dana mencukupi.

Sebuah nasihat berharga yang selalu gw ingat dari seorang konsultan dalam bidang keuangan: Di saat kita tidak punya cukup dana untuk membeli sebuah investasi, investasi awal selalu bisa kita mulai dari kepala.

Maksud beliau adalah, miliki pengetahuan tentang investasi sebelum kita punya cukup dana (atau sumber daya) untuk memulainya.
Bisa dengan baca buku (gratisan, di toko buku) atau browsing di dunia maya, menghadiri seminar (gratis, suka diadakan di kampus/ institusi pendidikan).
Intinya semua bisa dilakukan asal ada niat.

In short, traveling itu sendiri merupakan sebuah investasi bagi kita.
Di luar negri atau mereka yang ingin bekerja di organisasi luar, pengalaman traveling itu sering jadi poin penting. Pengalaman traveling itu menunjukkan seberapa penting kita mampu mengelola diri sendiri.

Makanya gak aneh kalo remaja bule biasanya mengambil waktu 1 tahun selepas college (gap year) khusus buat traveling, bahkan pada saat mereka punya budget yang terbatas. Karena hal itu bakalan penting juga buat mereka pas nyari kerjaan.

Di lain waktu, gw juga pengen share how to spend a budget wisely during traveling.
Yang sebetulnya udah banyak website ngebahas juga sih, beberapa bahkan memberi tips yang ekstrim banget sampe gak memperhitungkan faktor keamanan.

Tapi mungkin di dalam tulisan berikutan, supaya gak kepanjangan dan bosen bacanya : )

Monday, February 2, 2015

those skinny feet that took me everywhere

Gak semua yang dibilang orang ke kita itu pasti benar.

Ini kesimpulan yang saya ambil sejak usia dini.

Dulu banget, tentunya sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya, orangtua jadi referensi tentang dunia ini. Apa apa yang kita gak ngerti pasti kita tanyain ke ibu/ayah atau mama/papa sebagai sumber informasi primer.

Dulu banget juga, saya yakin orang tua banyak mengajarkan hal-hal yang memang benar adanya. Tapi ada juga informasi yang kurang akurat atau bahkan 'kebohongan' yang mereka sampaikan ke anak-anaknya.

Salah satunya tentang Sinterklas.

Sampe umur 10 tahun lebih, saya percaya luar dalam bahwa Sinterklas memang benar-benar ada. Dan mereka bakal kasih kado ke anak-anak yang baik kelakuannya di akhir tahun.

Sehingga tiba saat dimana fakta yang sebenarnya terungkap… maka dunia pun serasa gempa sesaat. Ternyata… orangtua yang saya percaya selama ini tega membohongi anaknya sendiri.

Maka sejak usia dini saya pun memutuskan bahwa orangtua bukan lah (selalu) jadi sumber informasi yang dibutuhkan.
Beruntungnya, saya tidak pernah merasakan kekurangan sumber bacaan seperti buku, majalah, ensiklopedia ataupun media pertukaran informasi lainnya di masa kecil.

Setelah dewasa (FYI kedewasaan saya dimulai pada umur 18 tahun, saat resmi menjadi mahasiswa semester pertama fakultas kedokteran) banyak informasi yang saya butuhkan tidak lagi berasal dari kata-kata orang tua. Terutama karena pengalaman sebelumnya membuktikan bahwa mereka kadang-kadang (sengaja atau tidak) memberikan saya informasi yang salah.

Salah satunya yang dulu sering saya dengar:

'Orange bule itu jarang mandi, badannya bau keju.'

Sampe sekarang nenek dari pihak ibu saya pun masih suka meng-indoktrinasi dengan pemikiran serupa.

Pernyataan tersebut, kalau ditelaah lebih jauh dari kacamata peneliti sosial demografik misalnya:

'Orang bule yang mana?'
Apakah bule asal Eropa, Amerika, atau Australia.

Kalau yang dimaksud bule asal Eropa, Eropa belah mana?
Apakah orang Belanda, dimana nenek saya memang familiar dengan kebiasaan mereka yang jarang mandi (terutama saat musim dingin).
Atau orang bule Prancis yang memang menurut survey paling jarang ganti underwear dibandingkan cowo asal negara-negara lainnya di daratan Eropa.

Pernyataan diatas bisa dibilang entah terlalu meng-generalisasi, terlalu cepat mengambil kesimpulan, atau hanya prejudice semata.
Entahlah….

Tapi bisa dibilang pernyataan serupa muncul di belahan dunia mana pun.

Saat saya di Belanda, orang lokal punya prejudice sendiri tentang negara tetangga si orang Jerman. Temen-temen bule Belanda di kelas saya juga suka mengeluarkan pernyataan yang sedikit melecehkan tentang orang asal Belgia.

Di Belgia, temen bule saya menyinggung tentang negara Prancis yang mencuri 'Patat Vries' mereka dan menggantinya dengan nama 'French fries'.
Mereka yang di Prancis Utara bilang orang yang tinggal di Prancis Selatan lebih santai, tukang bermalas-malasan dst.
Lalu saat tinggal di Prancis Selatan, orang lokalnya membenci mereka yang berasal dari Prancis Utara (terutama dari kota besar seperti Paris) karena dianggap sombong, tidak sabaran, tidak mengerti kultur selatan yang ramah, penuh toleransi and so on.

Jadi, being a bit here, there and everywhere mengajarkan saya untuk tidak selalu percaya akan pernyataan pertama yang saya dengar ketika tiba di suatu daerah.

Atau in general, gak gampang percaya sama apa pun yang pernah kita dengar sebelumnya.

Mereka yang lebih tau duluan tentang suatu hal, bukan berarti mereka pasti benar.
Lagian ilmu pengetahuan aja selalu berubah… Contohnya orang jaman dulu percaya kalo bumi itu datar.
Dan ilmuwan pertama yang bikin pernyataan kalau bumi itu bulat langsung mendapat pertentangan dari pihak yang berkuasa (termasuk gereja, yang saat itu mengkategorikan sebagai ajaran sesat).

A bit skeptical and critical itu penting juga koq. Apalagi untuk spesies kita.
Itulah yang membedakan homo sapiens dengan makhluk bertulang belakang lainnya.
Secara proporsional, ukuran otak kita mungkin masih kalah dengan dolfin, mamalia dengan kecerdasan tinggi lainnya yang populasinya berkurang (bahkan terancam) karena keberadaan manusia.
Fortunately bukan ukuran otak (semata) yang menentukan kecerdasan, tapi lipatan-lipatan gyrus-nya. Dalam bahasa yang lebih dimengerti: Semakin sering kita menggunakan otak, akan semakin terasah kemampuannya.

Critical thinking, inevitably adalah bagian dari proses otak untuk terus berkembang.
Kebalikannya dari indoktrinasi.

Menerima mentah-mentah sebuah informasi tanpa mempertanyakan keabsahannya sungguh bertentangan dengan proses normal otak yang sehat.
Tapi tentu aja ada sebagian orang yang diuntungkan dengan teknik indoktrinasi.
Di filem-filem maupun kehidupan nyata, umumnya bila sebuah pihak ingin berkuasa (atau berniat melanggengkan kekuasan) maka kebebasan berpikir adalah haram adanya.

Indoktrinasi tentunya penting bagi kekuasaan absolut.
Mau contoh?
Liat aja Korea Utara. Di situ ada indoktrinasi dalam level ekstrim.

Contoh yang gak terlalu ekstrim adalah anggapan sebagian bangsa Indonesia yang berpikir bahwa pemimpin mesti berpostur tinggi, tegap, gagah, tegas dengan latar belakang militer.
(Dan bukannya ceking, kurus, tampang ndeso, dari rakyat sipil).

Psikoanalisisnya?
Karena bangsa kita adalah bangsa yang pernah terjajah.
Terjajah selama 350 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Dan penjajahan itu masih menyisakan rekaman mental, bahwa postur orang Belanda (yang cenderung tinggi, tegap, karena diet mereka yang tinggi protein) lebih cocok memimpin dibanding rakyat pribumi (yang cenderung kurus, kering, karena kurang gizi dan kerja paksa).

Jadi revolusi mental memang diperlukan.
Terutama bagi mereka dengan 'mental terjajah'.

Yang kita kira benar selama ini: Pemimpin terlahir dengan figur tertentu, tinggi, tegap dan gagah seperti SBY (yang sempat) jadi idola kaum wanita* selepas pemilu 2004 lalu.
* Sayangnya penulis tidak termasuk dalam golongan mereka yang mengidolakan beliau.

Kenyataannya: Mereka yang berjiwa pemimpin tidak mempunyai kriteria fisik tertentu. Contohnya Suryadi Suryaningrat, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan banyak orang pribumi Nusantara bertampang ndeso lainnya ternyata mampu membawa perubahan signifikan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Maka pesan penutup dalam tulisan ini adalah: Gak semua yang dikatakan orang itu benar. Terutama kalau orang yang jadi referensi kita adalah mereka yang telah berhenti belajar. Atau mereka yang berguru pada ilmu yang outdated.

Hidup ini cuman sekali. Mungkin kita ada disini agar kita mampu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hidup.

You have mouth, you can ask.
You have eyes, you can read.
You have brain, you can think.
You have time, you can travel.

Camogli, Liguria (IT) autumn 2011

PS. And no, Denmark should not considered as one of the happiest places on earth.


Malapascua, Cebu (PH) summer 2012
Wadi Rum (JO) spring 2014
St. Cergue (CH) winter 2015
milano 02.feb.2015

Wednesday, December 17, 2014

.: Pemulung juga manusia :.

Kebiasaan baik apa yang kita adopsi ketika bepergian ke luar negri ?

Bagi saya, sebuah kebiasaan yang melekat ketika saya sempat tinggal di Eropa dan menetap hingga sekarang adalah kebiasaan memilah sampah domestik.

Baik di Belanda maupun Denmark (atau di kebanyakan negara Eropa), sampah rumah tangga yang dihasilkan orang biasanya harus dipisahkan menjadi beberapa kategori: sampah basah (organik), sampah kertas, sampah plastik (botol), dan sampah gelas. 

Masing-masing ada tempat sampahnya tersendiri karena penanganannya berbeda. Di Belanda dan Jerman bahkan beberapa jenis botol plastik berukuran besar bisa ditukarkan dengan uang jika dikembalikan ke toko.
 

Landlady saya di Kopenhagen pernah menjelaskan alasan environmental hingga ke isu global warming segala di belakang permasalahan sampah ini,  yang sebetulnya bukan hal baru bagi saya. Justru isu tersebut sangat familiar bagi saya, yang memang pecinta lingkungan jauh sebelum saya mengenal teknik memilah-milah sampah.

Sebaliknya, saya malah mengagumi pemahaman si landlady tentang isu lingkungan padahal umurnya 60 tahun lebih. 

Kalo diperhatikan memang kebanyakan teman-teman saya di Eropa concern sama masalah sampah serta isu berkaitan dengan alam atau lingkungan.
Seorang teman yang jelas-jelas mengaku atheis garis keras tapi peduli banget kalo urusan memilah sampah dan konsumen setia produk organik atau ramah lingkungan (eco-friendly).

Balik ke Indonesia, saya jadi merasa orang sini koq kebalikannya. Katanya kita bangsa yang beradab, dengan prinsip 'Kebersihan adalah sebagian dari iman' tapi kenyataannya di jalanan ada aja orang sembarangan buang sampah.
Mentang-mentang ada tukang sapu jalanan jadi suka seenaknya buang sampah. Padahal tukang bersihin jalan a.ka tukang sapu itu sama-sama juga manusia kaya kita. Jadi apa susahnya kalo kita sendiri yang buang sampah yang kita hasilkan di tempatnya.

Kebiasaan memilah sampah ini juga saya teruskan di rumah.
Paling engga saya bisa 'meracuni' orang rumah sebelum mengubah dunia.
Botol-botol plastik, bungkus minuman kemasan karton, atau bungkus kopi plastik instan saya kumpulkan di tempat terpisah.

Biasanya hari-hari tertentu ada pemulung yang lewat di depan rumah dan akan mengambil sampah botol plastik atau bungkus karton. Kadang miris rasanya dalam hati saya kalau melihat pemulung itu ngorek-ngorek sampah punya tetangga sebelah, mencari sesuatu yang bisa diambil dari sampah-sampah yang sudah tercampur segala macam kotoran.
Pemulung itu kan manusia juga kan ya.
Kenapa kita gak bisa bikin hidupnya lebih mudah dengan memilah-milah sampah supaya dia lebih bermartabat saat mengerjakan tugasnya.

Itu juga yang saya perhatikan saat tinggal di Eropa, tukang sampah di Kopenhagen misalnya, dengan mobil truknya yang canggih banget dan perlengkapannya yang menjamin keamanan kerja petugasnya.
Emang sih Denmark itu negara kaya dengan jumlah penduduk sedikit makanya bisa beli peralatan mahal untuk mengelola sampah.
Tapi untuk memanusiakan manusia sebenernya gak perlu belajar dari Eropa, karena di negara kita juga banyak orang-orang yang melihat sampah sebagai solusi dan bukan mata pencaharian.

Setahun ke belakang saya juga menjalin hubungan dengan ibu-ibu pengrajin sampah di Cibangkong yang membuat kerajinan tangan dari bekas bungkus minuman instant.
Bahkan mereka juga saya buatkan blog gratis untuk promosi [blog MyDarling]
Sudah sering hasil kerajinan tangan mereka saya bawa ke luar negri dan dihadiahkan kepada teman-teman yang saya kunjungi selama di Belanda, Belgia, Italia.


salah satu waste-based product dari bungkus kemasan kopi instan
.: taken from Mydarling-Bdg.blogspot.com :.
Teman-teman di Eropa yang saya beri hadiah tersebut tentunya sangat terkesan dengan pemberian saya.
Betapa tidak, orang kita bukan hanya berhasil menemukan solusi untuk pengelolaan sampah tapi juga merubahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual kembali.
Biasanya saya jelaskan lebih jauh juga ke mereka, kalau sampah sebetulnya masi menjadi masalah persisten di Indonesia. Tapi beberapa orang berhasil menjadi inisiator dan merubah yang tadinya merupakan masalah jadi mata pencaharian.


Saat orang-orang Indonesia punya kesempatan keluar negri, mereka seharusnya bisa mengadopsi kebiasaan baik yang dipunya negara tersebut. 
Gak ada orang Indonesia yang berani buang sampah ketika wisata ke Singapura misalnya, karena takut kena denda disana. Tapi balik lagi ke negaranya maka kebiasaan buang sampah pun dilanjutkan kembali...

Jalan-jalan keluar negri itu bisa jadi sebuah investasi, menambah pengalaman dan koneksi,  merubah mindset ... tapi bisa juga cuman jadi acara buang-buang duit juga ... kalo kita gak dapet apa-apa kecuali foto-foto selfie

So which one are yours ?




Wednesday, April 30, 2014

Yordania .: Cherry yang ceria :.

Tulisan ini diikut sertakan dalam kompetisi travel blog #KompasTravelFair 2014.

Intro
Agak susah sebenarnya merangkum 2 minggu perjalanan hanya dalam 1000 kata. Tapi dalam setiap perjalanan selalu ada peristiwa berkesan atau pribadi unik yang tidak mudah dilupakan.
Buatku sendiri, kadang sebuah tempat menjadi lebih bermakna karena orang-orang yang kita temui di dalamnya.

Bukan Jepang atau Korea, melainkan negara-negara Timur Tengah yang menjadi destinasi impian saya selama ini.
Sedikit banyak cita-cita saya berwisata ke negeri padang pasir akibat dari dongeng masa kecil, diantaranya kisah Aladin dalam kisah 'Seribu Satu Malam'.
Latar belakang kisah tentang negeri penuh misteri dan eksotisme ala Timur Tengah akhirnya membawa saya dua dekade setelahnya berpetualang ke Yordania.

Yordania merupakah sebuah negara di kawasan yang berbatasan langsung dengan Mesir, Syria, Saudi Arabia, dan daerah konflik Palestina-Israel.
Tersohor dengan warisan situs arkeologikal purba di Petra, Yordania juga dikenal sebagai tanah suci.
Banyak paket tur dari Indonesia memasukkan Yordania sebagai bagian dari perjalanan tanah suci (atau 'Holyland tour').
Saya sendiri menginjakkan kaki di Yordania tanpa mengikuti paket tur seperti ini.  Berbekal tiket promo murah dari sebuah maskapai penerbangan dan ransel yang setia menemani, saya pun berangkat menuju Timur Tengah.

Petualangan saya dimulai dari kota Amman, ibu kota kerajaan Yordania. Memang bentuk negara ini masih berupa kerajaan dan kursi kekuasaan diwariskan ke generasi berikutnya.
Hari pertama di Amman saya bertemu seorang sahabat yang lama tinggal di Jerman untuk bergabung dalam petualangan ini.

Keesokan harinya kami berkenalan dengan seorang pemuda asal Irak yang akan berlibur di Yordania.
Ahmed, nama teman baru kami tersebut, ternyata seorang dokter gigi yang pernah mengenyam pendidikan di negara Eropa Timur. Selain fasih berbahasa Arab (bahasa ibunya) dan bahasa Inggris, dia juga menguasai bahasa Rusia.
Merasa cocok satu sama lain, Ahmed memutuskan bergabung dengan kami dalam perjalanan ini. Sedang kami tentunya sangat diuntungkan dengan kehadiran Ahmed, yang kemampuan bahasa Arab-nya ampuh menghindarkan kami dari berbagai modus penipuan selama di Yordania.

Beberapa tempat yang kerap dikunjungi turis selama di Yordania adalah Amman, Jerash (ibu kota Yordania kuno), Laut Mati, sungai Yordan, Madaba, Aqaba, Petra, dan padang gurun di Wadi Rum atau Wadi Araba. Kebanyakan pelancong seperti kami mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya dalam waktu singkat. Dan hotel tempat menginap pun kerap jadi ajang pertukaran informasi bagi para pelancong yang sudah atau akan berkunjung ke destinasi tertentu.

Saat kami menginap di sebuah hotel di Amman, saya berkenalan dengan seorang pelancong perempuan asal Tiongkok bernama Cherry. Cherry berumur sekitar pertengahan 20an dan rencananya akan berkelana sendiri selama dua minggu di Yordania. Kepribadiannya tampak ceria dan murah senyum, tetapi saat berbicara bahasa Inggrisnya agak sulit dimengerti. Walaupun kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas sepertinya Cherry selalu berhasil menemukan pilihan paling ekonomis untuk pergi ke suatu tempat.
Berbekal info dari pengalaman Cherry yang mengunjungi Laut Mati sehari sebelumnya, kami pun mengikuti petunjuk yang diberikan.


pose narsis di Laut Mati .: touchdown titik terendah bumi :.
Sukses berenang dan foto narsis di Laut Mati, tujuan kami selanjutnya adalah Wadi Musa, kota yang tak jauh letaknya dari situs arkeologikal Petra.
Saat berangkat menuju Wadi Musa, seorang pelancong asal Perancis bergabung dengan kami. Sehingga sekarang grup kami berjumlah 4 orang dari berbagai negara.
Setiba di Wadi Musa dan selesai menaruh barang di kamar hotel, kami melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota sambil menunggu waktu matahari terbenam.
Tidak berapa lama, kami melihat sesosok tubuh yang kami kenal, sedang berjalan  sendirian. Kami panggil dia untuk bergabung bersama kelompok kecil kami. Ya Cherry rupanya juga baru tiba di Wadi Musa

Cherry bercerita kalau hotelnya terletak sedikit jauh dari tempat kami menginap, dengan balkon menghadap ke barat sehingga para tamu bisa melihat Petra dari kejauhan. Kedengarannya menarik dan kita pun segera menginvasi hotel tempatnya menginap, sambil menikmati pemandangan gratis matahari terbenam dari atas balkon.


matahari terbenam di Wadi Musa
Pada hari-hari tertentu Petra dibuka malam hari. Dengan penerangan cahaya lilin, pengunjung dapat merasakan sensasi berbeda memasuki Petra di tengah gelapnya malam. Kami pun tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan berharga seperti ini.
Sekarang rombongan kami sudah berjumlah 6 orang, dengan tambahan Cherry dan seorang pelancong wanita asal Jerman.


.: Petra by night :. Treasury diterangi cahaya lilin di malam hari
Sambil berjalan kaki menuju Petra kami mengobrol, saling berbagi cerita tentang pengalaman selama berpetualang di Yordania maupun belahan dunia lain.
Saya katakan pada teman-teman bahwa Petra kabarnya akan tutup sementara untuk direnovasi;

I heard that Petra would be closed for renovation ” ucap saya.
 

Teman-teman yang lain merespon dengan berkata, bahwa betapa beruntungnya mereka bisa mengunjungi tempat ini sekarang.
Hanya Cherry seorang yang tampaknya kebingungan dengan perkataan saya. Dia rupanya tidak begitu mengerti apa maksud perkataan saya, walaupun sudah saya coba jelaskan.
Sepuluh menit kemudian teman-teman yang lain membantu menjelaskan apa maksud dari perkataan saya, dengan kalimat lain yang lebih sederhana. Bahkan Ahmed sempat mencoba menerjemahkan kalimat itu dengan bahasa tubuh.
Kami pun sadar, terlepas dari kemampuan bahasa Inggris-nya yang terbatas, kepribadian Cherry yang ceria dan keberanian tekadnya telah membawa dia untuk berpetualang kemana pun.

Beberapa hari terakhir di Yordania kami berempat (saya, sahabat, Ahmed dan teman asal Perancis) menghabiskan waktu di padang gurun Wadi Rum. Karena Ahmed pernah kesini sebelumnya kami mendapat harga diskon untuk paket tur padang pasir, yaitu 25 dinar per orang. 


Wadi Rum .: padang pasir ini dijadikan lokasi syuting beberapa film
di antaranya Transformers: Revenge of the Fallen
Dengan mobil sewaan kami pun mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan pemandu.
Saat mengunjungi salah satu situs terkenal sebagai lokasi syuting film 'Lawrence of Arabian' di tengah padang pasir, rupanya kami bertemu seorang teman lama. Tebak siapa yang kami temui disana? Ya lagi-lagi Cherry!

Keberadaan Cherry di situ rupanya tanpa direncanakan, sambil menunggu proses pembuatan visa Mesir katanya. Dari hasil ngobrol-ngobrol, ternyata dia hanya membayar 20 dinar saja untuk tur privat padang pasir seorang diri! 
Dia bilang sebetulnya tidak terlalu tertarik dengan tur seperti ini, tapi dia setuju karena harga yang ditawarkan tergolong murah.
Oh Cherry, tampaknya keberuntungan selalu menyertaimu!

Malam terakhir sebelum saya kembali ke tanah air, kami bertiga (saya, sahabat dan Ahmed) kembali berkumpul di Amman. Kami sempat berjanji jika waktu dan kesempatan mengijinkan maka akan berpetualang bersama lagi di masa mendatang.


Maybe we should see each other again in China !“ begitu kata Ahmed sambil tertawa.
Yes Ahmed“ saya pun mengiyakan.
Jika seorang Cherry saja bisa bertahan seorang diri di Yordania, maka kami yakin juga bisa!

Saturday, February 2, 2013

Cambodia (2) .: Siem Reap :.

Perjalanan gw ke Siem Reap dimulai dari sebuah travel agen di kota Phnom Penh.
Yup travel agen ini yang mengorganisir tiket gw pake bus dari Phnom Penh ke Siem Reap, termasuk pick up point dari hostel (kalau hostelnya di area sekitaran Sisowath Quay/ National Museum).

Lama perjalanan pake bus dari Phnom Penh ke Siem Reap katanya sekitar 5 jam.
Bus-nya campur ternyata, bukan bus khusus turis tapi ada orang lokalnya juga.
Dan karena tampang gw mirip orang lokal, jadi penumpang yang dudu sebelah gw juga sepertinya orang Khmer asli.

Sedangkan para bule biasanya nyari temen duduk sama bule lagi.
Sepanjang perjalanan gw bisa dengerin orang-orang bule yang ngobrol di deretan sebelah kanan dan belakang (abis mreka ngobrolnya kenceng banget).

Contohnya: cewe Belanda dan Australia di sebelah kanan yang ngomongin tentang pengalaman trip di Asia.
Kadang gw suka penasaran apa aja sih yang diomongin sama orang-orang bule ... ternyata banyak ngomongin yang gak penting juga, sama kaya orang kita... hehe..

Di tengah perjalanan kita berenti sebentar untuk makan siang.
Pas turun makan siang, gw kenalan sama cowo Jerman dan temennya cowo British.

Sebenernya cowo Jerman yang ngajak ngomong gw duluan, tapi later on gw memutuskan untuk lebih suka sama si cowo Brit soalnya rambutnya gelap… (hehe)
 


Stelah ngobrol lebih jauh dan tau kalo gw dari Indonesia, si cowo Brit ngomong gini: " Owh kalian punya film martial art yang keren banget kan?! Judulnya 'The Raid'. "
Gw: " Hah? Apaan? "
Co Brit: " The Raid. Itu film martial art dari Indonesia, terkenal banget. Jangan bilang deh kalo kamu gak tau, atau belum pernah nonton. "
Gw: " Waduh. Iya… hehe... belum nonton (malu)… Soalnya itu filem kan penuh kekerasan dan gw gak terlalu suka filem action. "
Co Brit: " Ih payah! Padahal nanti gw mau ke Indonesia loh buat belajar Selat. "
Gw: " What?!? Selat ?!? Apaan tuh?!? "
Co Brit: " Ya ituh martial art asli dari Indonesia yang ada di filem The Raid ! "
Gw: " Yaelah…. Silat kalee bukan Selat. Kalo Selat artinya beda atuh ! "
Co Brit: " Hmmmm perasaan buat gw sama aja kedengerannya koq .. "

Pas gw nyampe stasiun bus di Siem Reap … -hmmm biar gw gambarkan sedikit apa yang dimaksud dengan 'stasiun bus' disana.
Cuman sekedar tanah lapang dengan beberapa bus (pas gw nyampe) dan ada pondokan kecil yang diisi 1 ruang untuk admin dan 1 ruang semacam gudang untuk nyimpen barang-barang kiriman.
Nah itulah yang namanya stasiun bus di Siem Reap.
Jadi penasaran kan pengen cepet-cepet liat seperti apa kotanya.

Ternyata gw belum dijemput sama supir tuktuk dari hostel, padahal kemaren udah konfirmasi minta tolong mereka untuk jemput.
Sementara gw nunggu celingak celinguk di dipan deket stasiun bus ada cowo Khmer ngajak ngobrol dan kenalan.
Bahasa Inggris-nya mayan bagus dan keliatannya sih lebih muda sedikit dari gw. Trus dia bilang gini, " Gak aman kalau cewe cantik kaya kamu nunggu sendirian disini. "
Idih ! Norak banget. Tapi dia lumayan banyak tau tentang sejarah Kamboja jadi gw ladenin aja dia ngobrol. Dari hasil pembicaraan lebih jauh, dia emang suka nganter turis/ jadi guide karena dia punya tuktuk untuk disewakan.
Katanya sih, dia itu ketua asosiasi supir tuktuk di Siem Reap. Ceileh! Gaya banget.

Owya, walaupun norak dan ngomongnya gombal, tapi dia baek juga loh.
Dia nelefonin ke hostel gw untuk nanyain mana nih supir tuktuk yang harusnya jemput.
Dan dia juga ngasitau kalau butuh tuktuk atau ojek untuk ke kompleks Angkor nanti bisa sms/ kontak dia lewat Fb. Ntar bakalan dikasi harga 'diskon' (deuhhh…. bayar full juga padahal gak masalah koq).

Akhirnya gw sempet minta tolong dia nganter juga sih pas hari ke 3 di Angkor.
Dan seperti yang sudah diprediksi sebelumnya, emang masi aja dia usaha untuk flirting. (nanti gw ceritain di part selanjutnya yah)

Anyway, hostel gw pertama ini gak di downtown banget. Tapi tempatnya enak, bersih, dan homey. Owner nya juga ramah dan helpful sama kebutuhan tamu.
Gw kasi review bagus di website untuk tempat ini, despite harga kamarnya yang murah tapi servis dan fasilitasnya oke.
Nama tempatnya Haks House.
Ownernya (Mr. Haks) juga ngasi pinjem gw sepeda gratisan, untuk dipake ke downtown. Gak jauh sih cuman 2-3 kilometer aja.
Naek sepeda di Kambodia lumayan agak challenging sebenernya, gak semua turis berani. Terutama di daerah downtown atau tengah kotanya. Soalnya disini aturannya gak jelas, mirip kaya di Jakarta sih. Tapi dalam skala yang lebih ringan, soalnya disana orang masi gak terlalu kenceng bawa kendaraan dan masi mau ngalah sama orang laen.

Sebelumnya di Phnom Penh juga gw udah nyobain pake sepeda untuk rute yang lebih jauh dan lama. Jadi keadaan di Siem Reap ini ampir gak ada apa-apanya.

Di malem pertama setelah gw nyampe Siem Reap, langsung deh gw ketemuan sama cewe Prancis namanya Mme. Kita kenalan waktu di Phnom Penh, karena nginep di satu guest house yang sama.
Orangnya asik banget, umurnya sekitar mid 30 atau awal 40an (gw gak enak nanya umur walaupun kita ngobrol banyak).
Walaupun orang Prancis tapi ngomong bahasa Inggrisnya bagus, ampir gak kedengeran logat Prancisnya. Ternyata dia emang udah berapa belas tahun tinggal di London. Dia juga lucu, pokonya jalan sama dia bikin ketawa melulu.

Dari hari pertama berjumpa gw udah suka sama dia, makanya kita janjian lagi untuk ketemu di Siem Reap. Setelahnya beberapa hari kemudian gw jalan bareng dia terus malemnya. Karena dia nginep di hotel yang beda & juga itinerary liat Angkor yang berbeda, jadi kita janjian ketemu pas menjelang sore/ malem doang.
Mme udah nyampe Siem Reap duluan waktu gw masi di Phnom Penh, jadi malem pertama gw nyampe bisa nanya-nanya dia gimana keadaan kota dan juga pengalaman dia di Angkor kompleks.
Dia bilang sih banyak orang yang pagi-pagi naek sepeda ke Angkor archeological complex, yang sebenernya emang gak terlalu jauh dari kotanya. Tapi kalo pagi lumayan dingin juga, dan kalo siang panas banget.
Nah, tadinya gw mau pake sepeda juga. Tapi jadi agak males, soalnya kalo cuacanya panas banget pas siang pasti jadinya cepet cape deh… (alesannn).

Jauh-jauh hari sejak di Phnom Penh (atau lebih tepatnya sejak masih di Indonesia), gw sudah merencanakan untuk catch sunrise dari temple selain Angkor Wat. Ini berdasarkan cerita cewe yang sharing kamar waktu di guesthouse yang sama dimana gw ketemu Mme.
Cewe UK ini bilang, bakal ada ribuan turis nongkrong di Angkor Wat untuk catch sunrise dan suasananya jadi ribut banget kaya pasar. Soalnya orang pada ngobrol  selama moment sunrise itu plus pada foto-foto. Suasananya jadi gak ambient lagi padahal tempatnya sendiri sih gw akui emang bagus.

So, sunrise pertama di Angkor complex gw nikmati dari Phnom Bakheng, temple yang ada di atas bukit.

Sebenernya Phnom Bakheng ini sendiri temple yang tergolong tua (dibangun sekitar tahun 889-900), jauh lebih tua daripada Angkor Wat yang dibangun pada tahun 1131- 1150.
Karena letaknya di atas bukit jadi kita harus jalan dulu sekitar 20 menit ke atas puncaknya.

Pas gw nyampe pagi sebelum matahari muncul (lebih tepatnya gw nyampe sana sekitar jam 5an) yang ada cuman gelap. Dan cuman ada 1 tuktuk laen yang juga ada disitu duluan.
Di situ gak keliatan apa-apa (asli gelap, abis gak ada lampu) cuman ada jalan setapak.
Yang lebih bagus lagi, gw gak bawa lampu atau apapun untuk bantu penglihatan. Selaen itu sang supir tuktuk  dengan santainya bilang dia bakal nunggu disitu sampe gw beres, yang artinya gw harus naek ke atas sendirian tanpa senter.
Dia bilang sih: 'Ikutin aja jalan setapaknya, pasti nyampe koq ke temple-nya'.

Oke deh, gw percaya sama dia. Tapi ini lewat hutan dan siapa yang jamin kalo gw gak akan diculik monyet selama dalam perjalanan ???

Akhirnya, gak berapa lama pas gw lagi celingak celinguk nyari jalan setapak muncul sepasang turis bule dari Jerman. Untungnya si cowo Jerman bawa lampu di kepala, jadilah gw sok kenal ngajak ngobrol duluan dengan nanya apakah mereka mau naek ke atas juga.

Si cewe Jerman nanya, apakah gw udah pernah kesini sebelumnya / tau jalannya (karena gw keliatan pede banget kali, udah jalan sendiri kagak bawa senter pula).
Ya gw jawab kalo gak pernah, tapi gw percaya dengan perkataan si supir tuktuk dan tinggal ngikutin jalan aja. Lagian supir tuktuk gw kayanya orang baek, dia juga belum dibayar sama gw (hehehe).

Nyampe atas Phnom Bakheng, tadinya gw agak kecewa karena banyak bangunan yang sedang dalam renovasi dan bentuknya lebih menyerupai reruntuhan daripada bangunan temple.
Coraknya sendiri lebih mendekati aliran Hindu (seperti Prambanan) daripada aliran Budha. Tapi karena suasana di atas sendiri sangat tenang (dan gelap, sebelum sunrise muncul) jadi gw menikmati aja suasananya.
Cuman ada sepasang cewe Belanda yang udah nyampe duluan dari kita (gw+pasangan Jerman) dan mereka juga udah mulai cari posisi yang enak untuk moto-moto dari atas.

Sejujurnya gw gak dapet banyak foto bagus pas sunrise-nya muncul, rada susah setting pencahayannya. Tapi untuk suasananya, wuih gak bisa dikalahkan.
Setelah sunrise muncul tambah banyak turis yang berdatangan dan moto-moto di atas jadi gw turun ke bawah karena udah males deh bersaing sama banyak orang.

Berikut beberapa koleksi foto hari pertama perjalanan gw di kompleks Angkor Wat:




catch sunrise @ Phnom Bakheng
.: Phnom Bakheng :. dibangun sekitar tahun 889 - 900 [masa pemerintahan Yasovarman I]
.: relief Apsara di Phnom Bakheng :. terlihat lebih montok, dan lebih 'berumur' 

perjalanan ke atas lewatin hutan semacam ini
(waktu gw nyampe subuh masih gelap gulita)
pulangnya gw ketemu sekeluarga monyet kecil yg lucu
pasukan dengan naga balustrade siap menyambut di depan pintu masuk kompleks Angkor   


danau buatan di sekeliling kompleks Angkor ini jg gak kalah menakjubkan sebenernya

Sunday, December 23, 2012

Places of 2012

Penghujung tahun 2012 sepertinya momen yang cocok untuk bikin tulisan tentang beberapa tempat yang sempat dikunjungi selama 12 bulan ke belakang.

Sebagian memang bukan tempat yang baru pertama kali dikunjungi, tapi tetap aja terkesan berbeda -karena perubahan yang sejalan dengan bertambahnya waktu (dan juga jumlah manusia, atau perilaku penduduk).

As always, karena tulisan sbb gak dimaksud untuk dijadikan panduan perjalanan (apalagi gw sadar koq bukan travel writer yang baik) melainkan sekedar kilas balik aja dari beberapa perjalanan yang gw lakukan selama setahun ini.

Here we go . . . . .   .    .

.: pollution, traffic jams, crowded population :.
#1. Jakarta, ID

Jakarta oh Jakarta.
Entah udah dari tahun kapan gw sering bolak balik ke kota ini, karena cuman makan waktu 2-3 jam perjalanan dari Bandung. Ini adalah salahsatu kota yang punya hubungan love and hate relationship sama gw. Love karena disini banyak kesempatan kerja kalau mau karir yang cepat berkembang, juga untuk penggila belanja (seperti gw, yang udah tobat-kumat) banyak diakomodasi oleh sejumlah mall.
Hate, dengan alasan yang jauh lebih banyak: macet, polusi (air, udara, suara), kesenjangan yang sangat lebar antara kaya-miskin, tata ruang kota yang semrawut dst dsb you name it all the problems that could ever exist in big city.

Yah kebanyakan kunjungan gw ke Jakarta selama tahun 2012 emang untuk keperluan bisnis. Karena kepaksa (dan juga ditanggung kantor) tentu tak terhindarkan pertemuan dengan segala hal yang sebenernya gw benci (macet, polusi, berisik) demi bisnis trip.
Jauh di dalam lubuk hati yang tedalam, sebenernya gw menyimpan rasa kagum dan juga kasihan sama sekian juta orang penduduk Jakarta, yang setiap hari mampu bertahan dengan segala permasalahannya.
Berangkat pagi pulang malem, menerjang kemacetan yang bikin putus asa orang kaya gw, belum lagi diperparah oleh banjir di kala musim hujan.

Somehow, dengan adanya pasangan Gub-Wagub baru- sepertinya banyak penduduk yang optimis akan ada perubahan berarti untuk Jakarta. Seperti juga gw, yang sangat terharu dengan pernyataan Jokowi yang mengedepankan semangat melayani sebagai seorang pemimpin.

Banyak hal yang berubah dari semenjak kunjungan gw pertama kalinya ke Jakarta (mungkin 25 tahun yang lalu). Tumbuhnya gedung-gedung pencakar langit, bertambahnya jumlah kendaraan pribadi di jalan, berkurangnya pepohonan di kawasan perkotaan.
Apalagi sekitar tahun 1998 dimana gejolak reformasi memanas, banyak pergolakan (dan pertumpahan darah) terjadi di sini.

Waktu itu umur gw masih 17 tahun dan baru masuk kuliah.
Dan angkatan '98 adalah salahsatu angkatan yang paling historis, dimana banyak temen-temen gw yang kuliah di luar negri mencari keamanan- sementara gw melanjutkan kuliah kedokteran di universitas negri.

Mudah-mudahan dibawah kepemimpinan yang benar, Jakarta (dan Indonesia) bisa dibawa ke perubahan yang lebih baik. Itu harapan gw untuk tahun mendatang.



.: soerabaja :.
#2. Surabaya, ID

Selama usia gw (yang terbilang masih muda ini : ) mungkin udah sekitar 3-4 kali mengunjungi Surabaya. Mostly untuk keperluan jalan-jalan tentunya.
Di tahun 2012 ini, kepindahan gw ke Surabaya berhubungan dengan pekerjaan.

Lokasi kerja gw sebenernya di Sidoarjo, tapi kantor provinsi ada di Surabaya.
Akibatnya sering banget wara wiri ke kota Pahlawan ini.

Pertama kalinya tinggal di Surabaya (untuk waktu yang lama) rasanya gak berasa jauh dari rumah. Makanannya oke, orang-orangnya ramah walaupun bicaranya medok (hehe), dan surprisingly infrastruktur kotanya termasuk maju (dibanding Bandung).
Sayangnya, walaupun termasuk kota besar- Surabaya gak punya sarana transportasi massal yang bisa diandalkan seperti contohnya busway/ KRL.
Ada sih kereta komuter, tapi frekwensinya kurang banyak. Angkot (yang disebut Len) juga gak terlalu populer dipake penduduk. Kebanyakan lebih suka pake kendaraan pribadi (motor/ mobil) atau pake taksi.
Padahal beberapa kali pengalaman gw pake Len selalu positif, gak ada pengalaman buruk- supirnya gak ugal-ugalan (gak kaya supir angkot 05 di Margahayu, Bandung) dan tarifnya fixed. Juga sebagai penumpang cewe, gw merasa aman walaupun pulang sendiri malem.

Salahsatu observasi gw juga, penduduk keturunan (Chinese) Surabaya terbilang eksklusif, gak berbaur/ mingling seperti layaknya di kota Bandung atau Jakarta.
Terus terang gw jadi agak sebel sama golongan yang seperti ini.
Entah kenapa, mungkin karena gw dibesarkan di keluarga yang berjiwa nasionalis jadinya gak pernah membeda-bedakan/ menganggap satu ras lebih superior dibanding yang lain.
Kalau udah lahir di Indonesia yah namanya tetap penduduk Indonesia.

However
, sedikit banyak jadinya gw merasa beruntung dilahirkan di Bandung yang mengakomodasi cita rasa nasionalis. Dengan pergaulan yang luas jadinya mudah buat gw untuk masuk ke golongan mana aja.

Tapi banyak hal yang gw kagumi dari Surabaya koq. Tata kotanya lebih jelas, pemkot memelihara bangunan jaman Belanda sebagai heritage sites, contohnya di kawasan Darmo, JMP, dan sekitar House of Sampoerna.
Pengalaman gw ikutan tur Surabaya Heritage Track yang merupakan corporate social responsibilty (CSR) dari House of Sampoerna, semakin memperkukuh keyakinan gw bahwa warisan budaya dipelihara dengan baik oleh pemkot-nya.

Waktu di Surabaya, gw sempet ketemuan dengan satu traveler asal Swiss- kita sebut aja namanya P.
Owya, seminggu sebelumnya P ini udah mengunjungi Bandung, kota kelahiran gw.
Lalu gw tanya, apa pendapat dia tentang Bandung dan Surabaya.
Dia bilang, (tentu aja) banyak banget perbedaannya. Pemkot Surabaya terlihat jelas perannya dalam mengurus kota. Sedang Bandung, seperti kota yang gak ada pemerintahnya.
Di Surabaya, ada city tourism centre/office - dimana kita bisa dapet informasi gratis tentang spot wisata, gimana kalau mau eksplor sendiri atau ikut tur dalam kota atau seputar Jatim. Bahkan tersedia leaflet gratis (dan ada website-nya juga). Informasi tsb paling engga dalam 2 bahasa: Indonesia dan Inggis.
Sedangkan pengalaman P di Bandung ? Dia ditawarin sama 1 petugas yang kerja di city tourism centre untuk ikut paket tur dan membayar sejumlah uang, pas dia mau nanya tentang informasi wisata.

Sebagai orang Bandung, tentunya gw merasa sangat MALU.
tapi yah emang begitulah pemkot Bdg. gak ada waktu untuk membenahi kota karena sibuk ngurusin Persib ...


.: beachwalk, Kuta :.
#3. Kuta-Legian, Bali, ID

Alasan utama kepergian gw ke Bali di tahun 2012 ini adalah: dapet tiket murah.
Ternyata budget flight macem AirAsia bikin orang jadi compulsively booking tiket yang belum tentu juga sesuai dengan kebutuhan.
Yah sebenernya Bali merupakan destinasi wisata yang gak membosankan walaupun sering dikunjungi.
Tapi kesan yang gw dapat semakin ke sini adalah, Bali yang semakin kapitalistik dan turistik.

Apalagi mungkin nama pulau Bali going international setelah dijadikan salahsatu lokasi shooting film Eat, Pray, Love (yang diambil dari buku dengan judul serupa).
Jadi banyak orang/ turis internasional umumnya, mengharapkan pengalaman spiritual yang sama, seperti pengalaman tokoh yang diperankan oleh Julia Roberts.
(btw gw sendiri belum baca buku maupun nonton film-nya, katanya sih bagus tapi .... )

Perubahan mencolok yang gw perhatikan, adalah di sepanjang jalan Legian, Kuta- banyak banget franchise toko swalayan (e.g. Indomart, Alphamart, dkk) setiap 50 meter.
Kesannya jadi acak-acakan, gak teratur dan lagi-lagi, mencerminkan semangat kapitalistik.
Apa memang gak ada aturan yang jelas tentang pendirian toko seperti itu?

Selain itu ada mall baru juga dibangun di dekat pinggiran pantai Kuta. Konsepnya hampir mirip dengan Centro yang juga dibangun dengan bagian menghadap pantai.
Tapi di Beachwalk, itu nama kawasan perbelanjaan yang baru dibangun tsb, lebih mengedepankan konsep Go Green. Ada pesan-pesan tentang menjaga kelestarian lingkungan dan menginisiasi penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi.
I like it.
Yang perlu diperhatikan oleh pengelola mall juga, mungkin supaya gak menyetel AC terlalu dingin di bagian dalam mall. Karena toh buat apa mendengungkan konsep Go Green tapi boros listrik dengan penggunaan AC yang berlebihan?



.: Bromo, Tengger :.
#4. Bromo, ID

Banyak hal yang bisa dikagumi dari Indonesia; makanan enak, cuacanya nyaman sepanjang tahun, dan kekayaan alam yang gak ada habisnya.
Salahsatu daerah kunjungan wisata yang cukup dikenal di kalangan turis internasional adalah Bromo. Yah, Bromo dan Ijen memang cukup dikenal sampe ke mancanegara berkat publikasi tulisan para pelancong asing yang mampir kesitu.

Wisatawan dalam negri sendiri biasanya hanya mengunjungi untuk melihat keindahan pemandangan Bromo (dan berfoto dengan latar belakang gunung sebagai buktinya : )
Sedang wisatawan luar biasanya juga mengenal lebih jauh tentang latar belakang penduduk asli yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger tsb.
Saat mengunjungi Bromo di awal Agustus 2012, penduduk asli sekitar Tengger memang sedang merayakan festival tahunan Kasada.
Walaupun saat itu sebagian besar umat muslim di belahan dunia sedang melaksanakan ibadah puasa, suasana demikian tidak terlihat di kawasan Bromo. Sebaliknya, suasana cukup ramai dengan banyaknya orang yang berjualan makanan/souvenir sehubungan dengan perayaan Kasada.

Indonesia memang unik, menyimpan berbagai macam kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda di setiap penjurunya. Sudah seharusnya kita belajar menghargai keperbedaan itu dan menjaganya sebagai suatu kekayaan daerah. 
Jadi, kenapa dong masih ada komplotan seperti FPI yang ingin supaya semuanya sama dan seragam?

.: changi airport :.
#5. Changi, SG

Katanya ini the best airport in the world.
Singapura tahun 1970 mungkin cuman sebuah kampung, gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Beda dengan Indonesia yang waktu itu sudah 25 tahun merdeka dan dalam masuk dalam tahap pembangunan oleh pimpinan Orde Baru.
Tapi di tahun 2012 ini, jelas sudah bahwa Singapura bergerak maju dengan sumber daya yang terbatas: Lahan terbatas, miskin akan sumber daya mineral, cuman segelintir penduduk (ya segelintir kalo dibanding penduduk Indonesia yang jumlahnya 230 juta) yang menghargai arti kata kerja keras.
Changi, yang menjadi tempat transit berbagai maskapai dari belahan penjuru dunia, sungguh dibangun dengan fasilitas yang jauh memenuhi syarat. Dengan fasilitas yang nyaman, yang bisa diakses oleh turis backpacker sampai tingkat para pebisnis, gak heran kalau Changi mendapat julukan bandara udara terbaik di seluruh dunia.

Yup, salut untuk Singapura dan ikon-nya yang mendunia. Walaupun tempat ini bukan top destinasi wisata bagi gw tapi Changi memang layak untuk dikunjungi sekalipun hanya buat transit.



.: malapascua :.
#6. Cebu, PH

Kalau gw bisa milih terlahir kembali, mungkin lebih cocok terlahir kembali sebagai orang Filipina. Yah mungkin kehidupan sebagai orang Kristen akan lebih mudah juga di Filipin, tapi manusia biasanya kan akan menjadi lebih kompetitif kalau dibesarkan dalam lingkungan yang menantang.
Mungkin itu juga yang bikin gw menjadi seperti apa adanya sekarang, karena terlahir di Indonesia.

Walaupun pemandangan alam Filipin kurang lebih mirip dengan Indonesia, tapi sepertinya pemerintah sana mengelola lebih profesional sebagai tujuan wisata.
Gampang banget cari informasi tentang tempat-tempat wisata di sana, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta.

Turis pun bisa memilih, mulai dari yang low cost budget seperti para backpacker traveler maupun turis berkantong tebal, cukup variatif pilihan wisata yang ada.

Di daerah Cebu dan Malapascua, dua tempat yang gw kunjungi, memang jadi tujuan utama turis untuk liburan. Banyak turis dari Hongkong, Korea, Jepang yang 'melarikan diri' kesini, untuk mencari cuaca yang lebih jinak saat musim dingin. Selain itu standar hidup yang gak terlalu mahal (bagi turis asing) bikin mereka gak malu-malu menghabiskan duit selama mengunjungi Cebu. Cebu city sendiri bertaburan banyak mall seperti Jakarta.

Secara personal, gw sendiri tergila-gila pedicure selama di Cebu karena murah banget.
Harga 1 paket pedicure yang pernah gw coba di mall adalah 90 Ph pesos ~ 20 rb rupiah.
Kalau di salon pinggir jalan malah ada yang 60 Ph pesos.
Gak heran kalo kebanyakan cewe di Cebu (yang gw liat) punya kuku kaki yang tertata rapih hasil pedicure di salon. Abis murah banget sih!

Cewe Filipina juga sangat memperhatikan penampilan, seengga-engganya kebanyakan yang gw liat di Cebu city. Mereka selalu keliatan dandan (pake make up), stylish, up to date (ngikutin mode) dan bawa cermin kecil ke mana-mana!

Seperti yang orang-orang juga bilang, mungkin lebih cocok kalau gw terlahir sebagai Filipina :-)

Wednesday, September 19, 2012

.: Sukses beasiswa :. EMMC


Banyak kisah sukses tentang beasiswa, tapi yang orang-orang gak tau adalah cerita tsb biasanya diawali dengan banyak episode ketidaksuksesan sebelumnya.

Setelah mendapat beasiswa Erasmus Mundus pada tahun 2010-2011 untuk program Master ke Eropa, saya kembali ke Indonesia dan berharap banyak orang bisa mengikuti jejak yang sama.

Siapa sih yang gak mau dapet sekolah gratis ?

Apalagi ini ke Eropa, dimana kita bisa belajar beragam kultur yang berbeda dari tiap negara.

Selain itu, bisa jalan-jalan (traveling) yang kadang-kadang malah jadi alasan utama disamping alasan akademik : )

Terus terang, buat saya, kecintaan pada traveling juga yang membuat saya kekeuh nyari beasiswa di luar negri.

Beasiswa di tanah air mungkin tidak kalah seksi, tapi di luar negri biasanya mempunyai persyaratan sedikit berbeda seperti yang diminta institusi dalam negri.

Beasiswa yang saya dapat pertama kali adalah NFP (Netherland Fellowship Program) pada bulan Mei 2010 dan kedua kalinya adalah beasiswa Erasmus Mundus Master Course (EMMC) dari pemerintah Uni Eropa pada bulan September 2010 - Agustus 2011.

Pada tahun 2010, saya juga menjadi salahsatu kandidat yang berangkat ke Amerika Serikat untuk program beasiswa program master of public health dari USAID.
Tapi karena berbagai alasan, akhirnya saya memilih beasiswa dari Uni Eropa



Itu kisah suksesnya.

Dibalik itu, kisah tidak suksesnya juga banyak !


Perjuangan saya menjadi 'fakir' beasiswa dimulai sejak tahun 2008.

Saat itu saya sudah berniat untuk melanjutkan sekolah, tapi gak mau (atau gak mampu) pake duit sendiri.


Mencari beasiswa menjadi pilihan karena sepertinya hal itu sangat mungkin, walaupun prestasi saya selama kuliah S1 sebenernya biasa-biasa aja.

Kenapa mungkin ?

Ada beberapa persyaratan beasiswa yang umumnya diminta institusi, seperti kemampuan berbahasa asing (Inggris) atau surat motivasi (motivation letter/ statement).

Segala persyaratan itu bisa didapat kalau kita googling ke website institusi-nya langsung, atau konsorsium penyedia beasiswa, atau website bikinan alumni yang pernah dapet beasiswa (seperti yang dibuat alumni EM Indonesia).
Contoh, untuk Erasmus Mundus bisa dibaca infonya dalam situs ini :

(dalam bahasa Indonesia)

sementara official website dari Erasmus Mundus Master Course, ada di sini
http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/results_compendia/selected_projects_action_1_master_courses_en.php

Tentang beasiswa dari Pemerintah Belanda e.g. NFP bisa dilihat disini :


Hal-hal yang penting untuk para fakir beasiswa ....

Kemampuan berbahasa asing
 
Walaupun catatan akademik saya selama S1 gak terlalu mengesankan, tapi seengga-engganya kemampuan bahasa Inggris saya lumayan. Itu pikiran saya dulu sebelum mulai kirim banyak aplikasi untuk dapet beasiswa.
 
Kemampuan bahasa Inggris saya nilai agak lumayan karena pada saat TOEFL pertama (sebelum persiapan) skor saya sudah sekitar 550.

Setelah saya mempersiapkan diri (latihan sendiri di rumah dengan berbagai sumber daya yang ada : ) akhirnya skor TOEFL saya merambat naik .......... menjadi 554 !

Padahal skor yang diminta waktu itu adalah sekitar 560.

Link resmi untuk TOEFL tes ada disini
http://www.ets.org/toefl/

Tapi setelah tanya sana sini, ternyata IELTS merupakan metoda yang lebih acceptable buat saya.

 Akhirnya pindah haluan deh ke tes IELTS dan tembus skor 7.0

Ini dia link kalo mo tau apa itu makhluk yang namanya IELTS


Motivation letter

 Jaman sekarang pun, dengan adanya internet, segala sesuatu bisa dicari termasuk contoh motivation letter sebagai panduan (tapi bukan untuk dicontek !)

Banyak tips dan trik bagaimana bikin motivation letter yang bisa dicari dengan internet.

Motivation letter pun bisa dibikin bagus dengan sering latihan dan minta feedback temen.

Perkara motivation letter, seringnya setelah saya mengarang yang sesuai dengan yang diminta oleh institusi, selalu ada teman/ kolega bule yang membantu memeriksa (tata bahasa, ejaan dst) juga memberi feedback atas isi surat tsb.

Pokonya buat saya waktu itu kayanya semuanya bisa dilakukan asal mau usaha deh.
 

Surat rekomendasi
 
Biasanya karena surat ini dikasi dari bos/ supervisor, atau orang yang pernah bekerja bareng, sebisa mungkin saya meminta dari orang-orang yang punya hubungan baik. Sehingga tentunya diharapkan akan memberikan rekomendasi yang baik juga.

Kalau orang/atasan terlalu sibuk untuk menulis sendiri surat rekomendasi, saya juga akan meminta ijin supaya saya bisa buat draft-nya untuk dia, dan nanti bisa langsung ditandatangan kalau disetujui.


 Owya, saking kepinginnya (skolah) dalam setahun saya bisa mengirim beberapa aplikasi beasiswa.
 
Contohnya, mengirim aplikasi beasiwa AusAID, USAID, aplikasi NFP ke Belanda, beasiswa Chevening ke UK, beasiswa DAAD ke Jerman, Erasmus Mundus ke negara di Uni Eropa.

Dan tentunya dari perjuangan yang dimulai tahun 2008 hingga 'pecah telor' di tahun 2010, ada banyak penolakan yang didapat.

Mulai dari penolakan halus ( ' kami menerima Anda sebagai murid, tapi harus membiayai sendiri ' ) hingga penolakan kasar (gak ada pengumuman sama sekali, entah itu aplikasi nyampe atau engga).

Yang pasti, selama belum keterima, saya akan coba masukkan lagi tahun depannya.

Tentu dengan peningkatan dan perbaikan dalam menyusun motivation letter, minta surat rekomendasi ke orang yang lebih berpengaruh, dan bikin aplikasi yang lebih rapih (eye catching) sehingga panitia juga gak males bacanya.

Itu sih sedikit tips dari saya : )


Biasanya untuk adik-adik yang tertarik dengan beasiswa EM, kami para alumni EM Indonesia sering touring ke universitas/ perguruan tinggi di kota-kota besar untuk sosialisasi program ini.

Dan selalu saya arahkan untuk masuk ke website / situs dimana banyak gambar-gambar tempat negara destinasi yang mereka inginkan untuk sekolah.

Tujuannya ?

Supaya mereka selalu ingat mimpi mereka dan mencari cara menuju kesana.




Semoga sukses untuk peraih beasiswa berikutnya !

Your Fonts - Font Generator