Sunday, September 30, 2012

.: Pendidikan :. Quo vadis ?

Saat membesarkan anak kita, kita harus ingat bahwa kita adalah penjaga masa depan.
Dengan meninggikan pendidikan mereka, kita meninggikan masa depan umat manusia, masa depan dunia ini.
~Mengutip Immanuel Kant

Baca berita di media dan nonton TV akhir-akhir ini emang bisa bikin galau.
Padahal update berita itu dibutuhkan biar setiap hari gak eneg seputar kerjaan.

Tapi koq syerem ya kalo tau anak jaman sekarang maenannya bunuh-bunuhan, tawuran demi membela nama sekola, senior menanamkan kekerasan pada juniornya dst.

Sebegitu suram- nya kah masa depan Indonesia, yang sudah tidak dijajah bangsa asing, kebingungan mau melawan siapa, sampe-sampe bangsa sendiri juga ditindas.

Seperti kasus kematian anak SMA yang baru-baru ini terjadi, ternyata guru-guru di SMA nya sudah lama mengetahui praktek dan jadwal tawuran. Tapi bukannya mencari solusi dengan mendamaikan, malah yang ada pembiaran.

Kalo gini, wall fb/ twitter orang-orang akan penuh dengan komentar yang 'menghakimi' bahwa si pelaku pembunuhan (yang anak SMA itu) wajib dihukum setimpal dengan perbuatannya.

Tapi kembali kepada pembentukan anak tindak pelaku tsb, memangnya ada anak kecil yang bisa tanpa rasa bersalah membunuh?

Normalnya sih engga. Kecuali kalo memang psikopat dari kecil, yang biasanya timbul dari perlakuan abusive yang dia terima sebelumnya.

Jadi, kalau ada sampe ada anak SMA yang tanpa rasa bersalah melakukan pembunuhan (bahkan merasa puas!!!) bukankah itu kesalahan kita semua?
Kesalahan orangtua, guru, teman, seniornya, masyarakat dan pemerintah- yang mengijinkan tawuran tsb terjadi (terulang!!!)

Sewaktu saya di Belanda, pernah ada siaran TV disana yang mengabarkan Indonesia sewaktu terjadi krisis moneter (tahun 1998) diikuti reformasi di pemerintahan.
Di situ tergambar peristiwa toko-toko dibakar dan dijarah, orang merusak bangunan umum, dan banyak pasukan polisi saling serang/ melempar batu dengan masyarakat sipil.

sumber gambar diambil dari :
http://maskolis.blogspot.com/2011/07/kerusuhan-mei.html
(keywords: gambar kerusuhan, hasil 1,390,000)

Teman-teman Belanda saya (yang kebanyakan atheist) menanyakan,
" Indonesia bukannya negara dengan penduduk muslim terbanyak? Di mana peran agama pada waktu (kejadian) itu? "

Tentu saja itu bukan pertanyaan yang bisa saya jawab dengan mudah.
Tapi saya bisa bilang, kalau agama di Indonesia itu sebuah keharusan.
Orang tidak boleh menjadi atheist/ tidak bertuhan di negeri ini, yang akibatnya banyak orang mempunyai agama (di KTP) tapi tidak mengerti apa esensi dari agama yang dianutnya.

Sebaliknya di Belanda/ kebanyakan negara di Eropa, orang boleh saja atheist/ agnostik, karena hak memeluk agama/ kepercayaan dianggap sebagai hak individual yang sangat dihormati dan dijaga (oleh negara).

Ada teman atheist saya yang suka mempertanyakan, kenapa sih orang-orang repot punya agama. Kata dia, agama itu cuman dibikin alasan satu negara berperang dengan negara yang lain.
Terlepas dari pandangan dia tentang agama, orangnya sangat sopan dan mencintai makhluk hidup (manusia, binatang, maupun tumbuhan). Dia tidak merokok, tidak minum alkohol, menghindari makan daging. Dan dia sangat menghargai teman-temannya yang memilih untuk beragama.

Terus terang, setelah merasakan betapa aman-nya hidup di negara-negara Eropa, saya sempat merasa takut untuk pulang ke Indonesia.

Saya sudah membayangkan, bahwa saya gak bisa pulang malam sendirian lagi (karena betapa tidak amannya negri ini untuk wanita).
Belum lagi kasus-kasus kejahatan di sarana publik yang saya baca/dengar dari media, sebelum saya kembali.

Ironis memang, di sebuah negri yang banyak dibangun sarana ibadah, tapi tidak menyediakan keamanan bagi penduduknya.

Jawaban untuk masalah kompleks ini, mungkin, salahsatunya adalah pendidikan.

Pendidikan, telah dipikirkan sebelumnya oleh ibu Kartini (pahlawan nasional kita) pada awal tahun 1900, sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk memerdekakan bangsa kita.

sumber gambar : Koleksi Tropen Museum
(dan gw nyampe situ thn 2010 *terharu)

Beliau melihat pada waktu itu, betapa miskin-nya kaum bumiputra, sehingga hanya orang tertentu saja yang bisa sekolah/ menempuh pendidikan.

Selanjutnya, kita ketahui bahwa sekolah dokter/STOVIA pada jaman itu, banyak melahirkan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan.

Hanya kaum cendekiawan yang bisa memikirkan konsep kemerdekaan.
Karena mereka yang miskin, tentu hanya berpikir untuk urusan perut belaka.

Rupanya 67 tahun semenjak kita memproklamasikan kemerdekaan RI, masih ada orang yang bermental 'miskin' yang memikirkan urusan perut belaka.
Mereka ini bisa saja orang yang terdidik, tapi kepintarannya dipakai untuk hal yang merugikan manusia lain (contohnya para koruptor).

Entah apa yang ada di pikiran anak SMA pelaku tawuran yang kerap terjadi di Jakarta, pastinya mereka tidak merasa beruntung di banding teman-temannya di pedalaman Indonesia bagian timur.
Padahal jika mereka mau menggunakan akal pikirannya untuk hal berguna, betapa ditakutinya bangsa kita oleh negara-negara tetangga.
Bayangkan, sumber daya manusia sejumlah 230 juta, yang kompeten dan mampu bersaing di dunia internasional !

Malaysia dan Singapura adalah 2 negara kecil yang belajar dari Indonesia setelah masa kemerdekaannya.
Kini bisa dibilang kalau mereka sudah mampu disamakan dengan negara maju lainnya (dari indikator pembangunan manusia/ Human Development Index).

Apa Indonesia tidak malu, terus-terusan berkutat dengan masalah tawuran, kisruh karena isu SARA, dan masalah tidak penting lainnya, sementara bangsa lain sudah berangkat ke bulan?

Padahal anak-anak muda kita banyak yang menjadi juara pada kompetisi tingkat internasional*.
Yang membuktikan, bahwa kapasitas kita sebenarnya sama dengan bangsa lainnya yang maju! 


Kita perlu berdoa dan sektor pendidikan harus berusaha keras, untuk negeri, yang tampaknya bergerak mundur akhir-akhir ini.


Soerabaya, akhir Sept 2012


Wednesday, September 19, 2012

.: Sukses beasiswa :. EMMC


Banyak kisah sukses tentang beasiswa, tapi yang orang-orang gak tau adalah cerita tsb biasanya diawali dengan banyak episode ketidaksuksesan sebelumnya.

Setelah mendapat beasiswa Erasmus Mundus pada tahun 2010-2011 untuk program Master ke Eropa, saya kembali ke Indonesia dan berharap banyak orang bisa mengikuti jejak yang sama.

Siapa sih yang gak mau dapet sekolah gratis ?

Apalagi ini ke Eropa, dimana kita bisa belajar beragam kultur yang berbeda dari tiap negara.

Selain itu, bisa jalan-jalan (traveling) yang kadang-kadang malah jadi alasan utama disamping alasan akademik : )

Terus terang, buat saya, kecintaan pada traveling juga yang membuat saya kekeuh nyari beasiswa di luar negri.

Beasiswa di tanah air mungkin tidak kalah seksi, tapi di luar negri biasanya mempunyai persyaratan sedikit berbeda seperti yang diminta institusi dalam negri.

Beasiswa yang saya dapat pertama kali adalah NFP (Netherland Fellowship Program) pada bulan Mei 2010 dan kedua kalinya adalah beasiswa Erasmus Mundus Master Course (EMMC) dari pemerintah Uni Eropa pada bulan September 2010 - Agustus 2011.

Pada tahun 2010, saya juga menjadi salahsatu kandidat yang berangkat ke Amerika Serikat untuk program beasiswa program master of public health dari USAID.
Tapi karena berbagai alasan, akhirnya saya memilih beasiswa dari Uni Eropa



Itu kisah suksesnya.

Dibalik itu, kisah tidak suksesnya juga banyak !


Perjuangan saya menjadi 'fakir' beasiswa dimulai sejak tahun 2008.

Saat itu saya sudah berniat untuk melanjutkan sekolah, tapi gak mau (atau gak mampu) pake duit sendiri.


Mencari beasiswa menjadi pilihan karena sepertinya hal itu sangat mungkin, walaupun prestasi saya selama kuliah S1 sebenernya biasa-biasa aja.

Kenapa mungkin ?

Ada beberapa persyaratan beasiswa yang umumnya diminta institusi, seperti kemampuan berbahasa asing (Inggris) atau surat motivasi (motivation letter/ statement).

Segala persyaratan itu bisa didapat kalau kita googling ke website institusi-nya langsung, atau konsorsium penyedia beasiswa, atau website bikinan alumni yang pernah dapet beasiswa (seperti yang dibuat alumni EM Indonesia).
Contoh, untuk Erasmus Mundus bisa dibaca infonya dalam situs ini :

(dalam bahasa Indonesia)

sementara official website dari Erasmus Mundus Master Course, ada di sini
http://eacea.ec.europa.eu/erasmus_mundus/results_compendia/selected_projects_action_1_master_courses_en.php

Tentang beasiswa dari Pemerintah Belanda e.g. NFP bisa dilihat disini :


Hal-hal yang penting untuk para fakir beasiswa ....

Kemampuan berbahasa asing
 
Walaupun catatan akademik saya selama S1 gak terlalu mengesankan, tapi seengga-engganya kemampuan bahasa Inggris saya lumayan. Itu pikiran saya dulu sebelum mulai kirim banyak aplikasi untuk dapet beasiswa.
 
Kemampuan bahasa Inggris saya nilai agak lumayan karena pada saat TOEFL pertama (sebelum persiapan) skor saya sudah sekitar 550.

Setelah saya mempersiapkan diri (latihan sendiri di rumah dengan berbagai sumber daya yang ada : ) akhirnya skor TOEFL saya merambat naik .......... menjadi 554 !

Padahal skor yang diminta waktu itu adalah sekitar 560.

Link resmi untuk TOEFL tes ada disini
http://www.ets.org/toefl/

Tapi setelah tanya sana sini, ternyata IELTS merupakan metoda yang lebih acceptable buat saya.

 Akhirnya pindah haluan deh ke tes IELTS dan tembus skor 7.0

Ini dia link kalo mo tau apa itu makhluk yang namanya IELTS


Motivation letter

 Jaman sekarang pun, dengan adanya internet, segala sesuatu bisa dicari termasuk contoh motivation letter sebagai panduan (tapi bukan untuk dicontek !)

Banyak tips dan trik bagaimana bikin motivation letter yang bisa dicari dengan internet.

Motivation letter pun bisa dibikin bagus dengan sering latihan dan minta feedback temen.

Perkara motivation letter, seringnya setelah saya mengarang yang sesuai dengan yang diminta oleh institusi, selalu ada teman/ kolega bule yang membantu memeriksa (tata bahasa, ejaan dst) juga memberi feedback atas isi surat tsb.

Pokonya buat saya waktu itu kayanya semuanya bisa dilakukan asal mau usaha deh.
 

Surat rekomendasi
 
Biasanya karena surat ini dikasi dari bos/ supervisor, atau orang yang pernah bekerja bareng, sebisa mungkin saya meminta dari orang-orang yang punya hubungan baik. Sehingga tentunya diharapkan akan memberikan rekomendasi yang baik juga.

Kalau orang/atasan terlalu sibuk untuk menulis sendiri surat rekomendasi, saya juga akan meminta ijin supaya saya bisa buat draft-nya untuk dia, dan nanti bisa langsung ditandatangan kalau disetujui.


 Owya, saking kepinginnya (skolah) dalam setahun saya bisa mengirim beberapa aplikasi beasiswa.
 
Contohnya, mengirim aplikasi beasiwa AusAID, USAID, aplikasi NFP ke Belanda, beasiswa Chevening ke UK, beasiswa DAAD ke Jerman, Erasmus Mundus ke negara di Uni Eropa.

Dan tentunya dari perjuangan yang dimulai tahun 2008 hingga 'pecah telor' di tahun 2010, ada banyak penolakan yang didapat.

Mulai dari penolakan halus ( ' kami menerima Anda sebagai murid, tapi harus membiayai sendiri ' ) hingga penolakan kasar (gak ada pengumuman sama sekali, entah itu aplikasi nyampe atau engga).

Yang pasti, selama belum keterima, saya akan coba masukkan lagi tahun depannya.

Tentu dengan peningkatan dan perbaikan dalam menyusun motivation letter, minta surat rekomendasi ke orang yang lebih berpengaruh, dan bikin aplikasi yang lebih rapih (eye catching) sehingga panitia juga gak males bacanya.

Itu sih sedikit tips dari saya : )


Biasanya untuk adik-adik yang tertarik dengan beasiswa EM, kami para alumni EM Indonesia sering touring ke universitas/ perguruan tinggi di kota-kota besar untuk sosialisasi program ini.

Dan selalu saya arahkan untuk masuk ke website / situs dimana banyak gambar-gambar tempat negara destinasi yang mereka inginkan untuk sekolah.

Tujuannya ?

Supaya mereka selalu ingat mimpi mereka dan mencari cara menuju kesana.




Semoga sukses untuk peraih beasiswa berikutnya !

Wednesday, August 8, 2012

catper :: Bromo - Malang - Coban Rondo (Batu)

:: Prelude ::
Sebagai orang yang gak ngurusi hal-hal detail, terus terang gw gak berbakat kalo disuru nulis catatan perjalanan.
Tapi mengingat sejarah bagaimana susahnya nyari info kalo mau jalan-jalan domestik dalam negri sendiri (ironis kan?) akhirnya gw niatkan untuk nulis catper ini.

Semoga berguna buat temen-temen yang mau eksplorasi negeri sendiri.

Bromo is one of the place which make me proud of being Indonesian : )

Jadi, kenalilah negeri mu sendiri
( dan jangan habiskan ringgit di negeri tetangga, kalau belum nyampe Bromo ! )






Perjalanan dimulai dari Surabaya (terminal Bungurasih) ke Probolinggo
pake bus non-AC (tiket 14k IDR/ orang) atau kalau pake bus patas-AC (tiket 23k IDR/ org)
Lama perjalanan sekitar 2 jam, dengan asumsi gak macet sepanjang jalan.

Nyampe terminal Probolinggo, jalan keluar dikit ke arah pom bensin cari aja bison (biasanya warna biru kehijauan/ hijau kebiruan). Bison ini semacam elf/ minibus, entah kenapa populer namanya jadi bison. Isinya muat 12 orang bule atau 15 orang lokal, kenapa demikian?
Karena dalam bison yang kita tumpangi ini isinya 7 orang Prancis dan 6 orang lokal, tapi supir dan kernet-nya kekeuh pengen diisi 15 orang padahal orang-orang bule ituh badannya guedhe disuru nyempil tumpek blek di dalem bison. 

Mereka nungguin penumpang sampe penuh baru berangkat ke Cemoro Lawang (bayar 25k IDR/ orang). Ini setelah ngotot-ngototan dulu karena supir sempet minta 30k per orang kalau mau berangkat cepet #halah.
Lama perjalanan menuju Cemoro Lawang katanya skitar 1-1,5 jam.


WARNING: Banyak bus dari luar kota (Probolinggo/Malang) yang nurunin penumpang di travel agen sepanjang jalan menuju terminal supaya traveler bisa ditawarin dengan harga lebih mahal (75k IDR/ orang). Biasanya mereka akan bilang kalo pake bison itu waktu tempuhnya bakal lebih lama dan lebih baek pake minibus punya mereka kalo mau lebih cepet perjalanan.
And it's all bullshit.

 
on the way to Cemoro Lawang kita bakal disuguhi pemandangan ini


Di Cemoro Lawang bisa nginep di hotel atau di rumah penduduk (homestay).
Kisaran harga waktu kita kesana (pas Kasada festival) agak mahal, skitar 150k IDR per kamar (bisa diisi 4 orang, karena ada 2 bed ukuran besar).
Kalau malem di Cemoro Lawang ini suhunya bisa turun sampe 10 derajat Celcius, jadi paling enak tidur 1 ranjang berdua supaya anget.


pura di Bromo ini jadi venue penting pas acara Kasada


 Untuk liat sunrise di Bromo, ada 2 pilihan : Bisa pake jeep (sewa) atau trekking (total skitar 3 km sampe puncak).
Buat yang gak kuat trekking mending pake jeep aja, walaupun jalur trekking juga sebenernya gak terlalu menantang (hanya berdebu, jadi siap-siap masker/penutup hidup aja).

sunrise-nya udah mulai nongol sementara kita masi ngopi dalam perjalanan,
ini akibatnya kalo berangkat kesiangan !

Kita sendiri berangkat trekking agak siang (gara-gara males bangun) skitar jam 4am. Banyak orang (yang lebih rajin) udah berangkat dari jam 2 atau 3 dini hari.
Pas mau naek tangga ke puncaknya, udah banyak orang banget sampe susah mau ke atas saking padatnya jalur turun/naek.

jalur naek/turun ke puncak ini udah pasti gak mungkin dilalui ibu yang hamil tua saking curamnya


Sunrise dari Bromo emang indah banget.
Dan bikin gw bangga jadi orang Indonesia, karena punya kekayaan alam seperti ini :')


sunrise from the top :: Bromo, i'm so proud of you !


Sayang gw gak banyak ambil gambar yang bagus disini (gak konsen, terlalu banyak pengunjung, debunya bikin alergi dan kecapean pas nyampe atas #alesan).

Perjalanan pulang lewat savanah juga bagus, gak berasa kaya di Indonesia.
Sayang gw udah gak mood ambil gambar pas perjalanan pulang, karena bersin-bersin mulu (alergi debu kali). Tapi percaya deh, beneran bagus ! Bisa jadi tempat foto prewedding juga (kalo vendor-nya mau dibawa kesana... hehe)


Anyway, dari Cemoro Lawang ini kita turun lagi ke Probolinggo pake bison (sama harga 25k).

Sebenernya dari situ tadinya mau ke air terjun Madakaripura.
Kita udah punya kontak person orang yang bisa disewa elf-nya (harga 250k, muat utk 10-15 orang, rute bisa nego). Jadi silakan aja kalau butuh dia untuk perjalanan sekitar Bromo.
It's a good deal anyway.

Namanya mas Aris (no hp. 082 1412 56485)

Dari Probolinggo, got no plan. Akhirnya diputuskan ke Malang- lalu Batu karena disana (menurut peta) ada sumber air panas /natural hotspring.

Probolinggo ke Malang makan waktu 2 jam lebih pake bus (harga tiket 14k IDR, non-AC). 

Nyampe terminal Arjosari Malang, nanya-nanya ke travel agen situ yang memuaskan banget info-nya.
Mbak-nya helpful dan ini dia kontaknya:  Mitra Abadi Tour and Travel (di depan terminal tempat penumpang turun)
Nur Sutikno : 0817 538 025 |  0341- 489 541 |  0821 3370 4299

Menurut info si mbak di travel agen ada tempat kemping juga di daerah Batu, jadi kita mau nyoba kesana.
Namanya Cuban Rondo, tapi untuk kesana harus pake bus dari terminal Landungsari.

Dari terminal Arjosari ini ke terminal Landungsari pake bemo (yang tulisannya ADL) lama perjalanan skitar 45 menit, bayar 2.5k IDR/ orang (murah banget yak?)

Daerah skitaran terminal Landungsari ini lumayan rame, banyak tempat makan enak. Sayang pas bulan puasa banyak yg tutup kalo siang.

Untuk ke Cuban Rondo, dari terminal Landungsari ini kita musti naek bus arah Jombang/Kediri. Lama perjalanan skitar 30-45 menit, bayarnya 5k IDR/orang.
Turun depan patung sapi, dari situ bisa jalan kaki ke pos masuk Cuban Rondo (sekitar 2 kilometer lebih) atau naek ojek (5k IDR/ orang).

Tiket masuk wisata alam Cuban Rondo harganya 8k IDR/ orang, udah termasuk asuransi dan surcharge pelayanan & konservasi.
Tempatnya bersih banget, ada guide juga kalo qta mau trekking ke hutannya yang masi liar.
Trus mreka juga bisa bantuin kalo kita pengen nyobain paragliding/ rafting/ wisata alam laennya.

Kontak person disini namanya pak Kotikno : 0858 550 39263

Tempat kemping di Cuban Rondo ini bersih tapi MCK-nya filthy banget dan kalo malem cuman ada dua lampu doang yang nyala (di wc-nya). Creepy.
Tapi di depan ada slogan kalo petugas disana menjamin keamanan kita.
Dan memang aman koq. Lebih aman daripada jalan kaki sendirian tengah malem di Jakarta pastinya.


Dari tempat kemping kita, bisa jalan kaki juga (sekitar 2 km) ke air terjun.
Gak perlu bayar entrance fee lagi di tempat air terjun-nya karena udah termasuk tiket masuk wisata alam.
Aku suka tempat ini, daerah skitaran air terjun ini juga bersih banget, dan masih alami (katanya masih ada monyet juga yang bebas berkeliaran, tapi kita gak nemu).

Kalau pagi hutan ini rame sama suara binatang yang bersahut-sahutan (burung/monyet/makhluk hutan laennya).
Love it !

tempat kemping di Cuban Rondo, daerah Batu

Dari Cuban Rondo, kita nyobain ke Songgoriti juga. Karena disana katanya ada sumber air panas.
Bisa naek bemo turun di pom bensin, jalan ke dalemnya bisa pake bemo lagi atau kalo kuat ya jalan kaki (1.5 km lah)

Sayang sumber air panas-nya gak sesuai yang kita harapkan, karena ternyata gak bisa rendeman tapi cuman dibanjur pake gayung aja (murah sih tiket masuknya cuman 3k IDR)
Karena kadar belerangnya tinggi, jadi bisa dipake untuk terapi e.g. sakit kulit, atau encok dst.

Akhirnya kita cuman ke kolam renang aja di daerah Songgoriti ini.
Kolam renangnya sepi banget (orang kan pada puasa), isinya cuman kita berdua doang... serasa punya private swimming pool deh.
Pemandangan sekitar kolam renang juga enak buat dinikmati sambil berenang siang-siang (ngegosongin kulit supaya keliatan eksotis kaya cewe tropis #halah).


private swimming pool [at] Songgoriti

Owya tiket masuk ke kolam renang Songgoriti cuman 5k IDR

Pengennya sih ke Cangar, tempat natural hotspring yang letaknya agak jauh di Selekta. Soalnya kita sempet liat gambarnya bagus banget euy, kliatannya natural gitu tapi ternyata aksesnya lumayan susah :(
Karena kalau mau pake bemo/angkot cuman ada pagi pas waktu anak sekola, tus kalo mau ksana harus sebelum sore (tutupnya jam 5pm).

Agak menyesal juga sih kenapa kita gak rental sepeda motor aja supaya mobilitasnya lebih gampang.
Sebenernya emang udah coba nyari sepeda motor yang bisa disewa hanya penduduk sana agak takut untuk nyewain karena banyak kejadian ilang/ dicuri sama turis. Kesian deh.
Harganya juga ga terlalu negotiable, gak kaya di Bali.
Mungkin karena jarang juga turis yang kesini.

Stelah putus asa dan sadar kita gak bakal keburu ke Cangar hari itu akhirnya mending muter-muter aja di skitaran alun-alun Batu.

Alun-alun kota Batu ini salahsatu alun-alun paling bagus dan bersih yang pernah gw liat selama di Indonesia.
Keren! Salut untuk pemkot Batu !

Bahkan ada ruang khusus untuk merokok segala.

Di daerah sekitaran alun-alun Batu ini banyak tempat makan, baik bentuk kaki lima (di trotoar, harusnya gak bole tuh) maupun di kedai/ warung/ restauran yang bisa dilalui sambil jalan kaki.

Jalan kaki disini juga nyaman dan aman, gak liat sampah bertebaran sepanjang jalan. Trotoar nya akomodatif (gak banyak tukang kaki lima yang jualan liar, yang kita liat banyak ya cuman di sekitar alun-alun itu aja).
Lalu tiap beberapa puluh kilometer ada pos polisi.

Ini salahsatu kota di Indonesia yang kalo diliat turis luar gak malu-maluin.
Serasa berada di bagian lain dari Indonesia (yang selama ini identik dengan kotor, semrawut, tidak nyaman dll).

Bahkan bemo yang kita naekin pun jauh lebih bersih dan terawat, daripada bemo di Surabaya contohnya. Naek bemo di Surabaya itu udah mah mobilnya keluaran lama, dalam interior-nya juga kumuh (dan berdebu). Makanya di Surabaya cuman orang-orang yang berani dekil aja yang naek bemo.

Sambil nungguin temen gw lagi ngecek imel di warnet, sempet nyobain avocado juice di kedai depan jalan besar (gak tau nama jalan-nya tapi deket banget sama alun-alun kota). Ternyata enak banget, jus-nya kental dan rasanya pas banget ma selera, harganya pun cuman 4 rebu doang! Udah gitu di belakang kedai ada koko yang jualan-nya mayan cakep lagi bersihin kulkas (hhmm... apaan sih, gak nyambung blas)

Anyway, kalau dari kota Batu sini gak punya motor agak susah getting around.
Walaupun angkot/ bemo cukup banyak beredar sampe malem, tapi minibus/elf yang balik ke arah Cuban Rondo agak jarang.
Terakhir berangkat dari kota paling malem jam 8pm - jadi deh kita buru-buru mesti balik karena kalo kemaleman susah nemu kendaraan yang balik kearah sana.

Dalam perjalanan balik ke Cuban Rondo inilah sesuatu yang sangat disesalkan terjadi ...
Yaitu ... ketinggalan sate ayam di dalam kendaraan/ minibus yang kita tumpangi (hiks).

Padahal gw udah ngidam sate ayam ini, dan belinya lumayan mahal (12 rebu).
Salahsatu makanan termahal yang gw beli selama perjalanan ini.

Tapi dipikir-pikir mungkin emang rejeki-nya si bapak yang nganterin kita.
Berhubung kita penumpang terakhir dan dia emang dalam perjalanan balik ke rumah, jadi isinya cuman kita berdua doang di dalem mobilnya.

Akh ya sudah direlakan aja, itung-itung amal.
If it's not belong to me then it's fine.
Besok paginya, kita udah mesti balik lagi deh ke Malang.

Nyampe terminal Arjosari Malang, langsung ambil bus ke Surabaya.
Cukup bayar 10k IDR/ orang (tarif non-AC) langsung nyampe terminal Bungurasih Surabaya hanya dalam waktu 2 jam saja.

Keesokan harinya, gw baca di berita ternyata ada kecelakaan masal bus isi penumpang di daerah Sidoarjo yang ditabrak truk muatan barang, karena ada motor nyelonong.
Akibatnya 26 orang luka berat dan 8 orang langsung masuk kamar mayat.

Puji Tuhan kalo masih dilindungi oleh Yang Diatas selama dalam perjalanan.

Untuk teman-teman pengguna jalan, bila mengemudikan motor: Hati-hati ya jangan asal nyelonong, liat kiri-kanan kalau mau menyebrang.
Dan selalu patuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama.

Bagi mereka yang mengemudikan mobil/ kendaraan roda 4 lainnya :
Hati-hati bila ada motor nyelonong, jangan panik langsung banting setir.
Akibatnya bisa lebih fatal, apalagi kalo kiri-kanan ramai kendaraan.
Juga jangan menyetir kalau lagi ngantuk dan selalu patuhi peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama,

Kenapa pesan-pesan ini gw masukan dalam bLog ?

Karena selama gw di Surabaya ini, udah sering banget jadi saksi mata maupun mendengar perstiwa kecelakaan lalu lintas karena kelalaian pengguna jalan.

Terutama karena tidak menaati lalu lintas (nabrak lampu merah), gak pakai lampu saat malam hari, ataupun etika berkendara yang tidak benar (gak pakai helm).

Walaupun dokter bisa jadi penggangguran kalau gak ada pasien/ orang sakit, tapi sesungguhnya buat kita miris juga kalo liat nyawa orang melayang gara-gara hal sepele.

Oke, sekian pesan tentang keselamatan di jalan dan cerita exploring daerah sputaran Jatim.


Tujuan trip berikutnya : Kawah Ijen !

Sunday, July 15, 2012

Get lost in Surabaya

Judulnya dramatis sih, tapi emang kenyataannya gw sempet kesasar juga koq di kota ini.

Tadinya pengen kasi judul 'Suatu hari di kota Surabaya' tapi kesannya melan banget.
Dan karena seperti biasa, seperti di kota laennya, gw selalu kesasar (walaupun disini kesasar jauh lebih gampang karena bisa nanya orang pake bahasa Indo dan selalu ada pilihan/ godaan untuk pulang aja pake taksi).

Anyway, cerita diawali dengan kepindahan gw ke Surabaya untuk urusan kerjaan.
Jadi sejak dua bulan lalu bermigrasi lah gw ke sebuah tempat kos di daerah deket kampus, yang walkable juga ke kantor.
Karena disini sering field trip, kebanyakan sih gw keliling kota dianter sama supir kantor. Bukan cuman keliling kota tapi juga trip antar kota/ kabupaten malah.

Di luar itu, sering cuman muter-muter di sekitaran tempat kos aja soalnya setelah setiap hari kerja wara-wiri kesana kemari rasanya males untuk jalan-jalan ke tempat yang terlalu jauh.

Sampe kemaren.
Iya kemaren itu gw baru menyadari betapa berharganya hari libur, padahal cuman weekend biasa doang.
Itu karena dua minggu sebelumnya gw terus-terusan kerja/ ada meeting even on saturday and sunday!
Akibatnya, hari kamis pun badan gw gak enak. Kepala berasa berat, gak napsu makan dan agak mual-mual. Sempet ngidam mangga muda juga (loh?!) dan untungnya kantor gw tuh punya pohon mangga yang lagi berbuah. Jadi tinggal nitip ke satpam kantor langsung deh dia tau selera gw metik mangga yang gak terlalu mateng (untuk dibikin manisan).

Kamis pun jadi hari istirahat karena gak enak body itu, tapi sambil ngerjain kerjaan kantor juga di rumah. Berhubung banyak yang mesti diberesin juga, yah kalo engga dikerjain nanti numpuk terus.

Eh, daripada bosen, langsung aja gw kembali ke inti utama dari bLog ini, yaitu cerita jalan-jalan.

Nah, hari sabtu kemaren, akhirnya (setelah dua bulan di surabaya!) gw mencoba naek angkot sendiri. 
Dulu juga udah pernah tapi gak untuk long trip.
Kalo long trip biasanya gw pake taksi (ih manja banget!) abis takut nyasar.
Sekarang mayan jauh, dan gw udah kurang lebih tau jalan-jalan utama dan yang paling penting, jalan balik ke rumah.

Tujuannya adalah gramed expo.
Abis gw tuh geek, doyan buku dan kalo gak baca buku baru suka kambuh alerginya (alesan).

Bagi gw, toko buku dan perpustakaan adalah tempat yang paling menenangkan dan menyenangkan.

Nah, sekarang cerita tentang angkot (atau disebut Len di surabaya) yang gw naekin pertama itu isinya ampir kosong.
Cuman ada satu ibu yang duduk di bangku sebrang gw.

skalian tes kamera lomo baru
 Mungkin juga karena pas hari sabtu siang, orang kan gak pada kerja. 
Jadi dari daerah panjang jiwo tempat gw naek itu isinya cuman berdua doang, sampe akhirnya di kawasan wonokromo naeklah anak muda yang bawa tumpukan ember kosong (kayanya buat jualan).
Kesian deh, anak muda ini kurus ceking bawa setumpuk ember kosong yang gede-gede. Tapi gw sangat menghargai usahanya buat nyari rejeki yang halal!
Seengga-engganya dia gak males-malesan ngamen dan maksa minta-minta ke orang seperti yang sering gw liat di banyak tempat makan di bandung.

Udah gitu, udara di surabaya kan panas. Mungkin skitar 28-29 derajat celcius, tapi kenapa sih anak muda ini pake jaket. Eh tapi bukan dia ajah, tapi banyak orang juga yang gw liat di jalan pake jaket/ kardigan tebel padahal gw aja bercucuran keringet cuman pake kemeja satu lapis.
Owya, satu hal yang bisa gw amati adalah, jarang banget ada orang keturunan cina yang naek Len disini. Atau mungkin aja pas jurusan yang gw naek itu gak populer.
Beda kaya di bandung, populasi warga keturunan rasanya lebih mingled dan bisa ditemui juga naek angkot. 

Dari wonokromo, lanjut ke stasiun joyoboyo. Lalu gw dengan sotoy ngambil aja Len yang mestinya ke arah darmo/tunjungan plasa. Ternyata bener deh ngelewatin gramed expo, dan akhirnya perginya gak kesasar (pulangnya yang nyasar).

Di gramed expo ini sempet panik pengen beli segala macem buku, mulai bukunya dahlan iskan yang baru, deepak chopra (untung gak ada judul yang dicari). Sampe akhirnya gw pikir untuk stick aja dengan yang ada di list, yaitu brida by paulo coelho. 

buku yang udah lama dicari-cari, gak smua gramed/toko buku punya juga

Dari gramed expo itu tinggal jalan kaki aja ke tunjungan plasa.
Nyampe sana langsung deh mulai baca buku barunya, abis penasaran udah lama baca review-nya!

Ternyata pas lagi ada launching merk parfum baru di ground floor, akibatnya ada pameran kosmetik dan asesoris juga.
Rencana cuman mau liat-liat eh malah ikutan belanja juga.
Ah tenyata gw masih aja lemah sama yang ginian, laen kali ada pentingnya juga bawa temen yang bisa memotivasi untuk nahan godaan.

Trus disitu sekalian makan baked potatoes wendys, yang feels like heaven to me.
Kadang-kadang hidup tuh jadi lebih indah kalau kita punya makanan kesukaan yak?

Pulang dari situ, agak tergoda juga sih untuk naek taksi.
Tapiiii... karena tujuannya adalah exploring, lagian kalaupun nyasar emang tujuannya kan jalan-jalan. Jadi ya gak papa, skalian belajar juga. Dan waktunya memungkinkan juga (untuk nyasar : )
Ternyata bener deh kejadian. Padahal udah tanya sana sini, masi juga nyasar.
Tapi selama masih di indonesia, selalu gampang nanya orang. 
Udah gitu masi nyasar juga, karena orang yang ditanya gak selalu ngasi jawaban tepat.. hehe..
It's okay. That's life. And I'm no hurry.

Stelah 3 kali ganti angkot dan jalan skitar 2 kilo lebih (total hari ini jalan kali mungkin 6-8 kilo) akhirnya nyampe juga di rumah. Biar cape tapi puas karena akhirnya gw bisa balik dengan selamat gak kurang suatu apapun.

Kesan dari perjalanan gw di surabaya adalah (sama seperti kesan waktu pertama kali gw keliling dengan mobil kantor) kotanya bersih. Yang pasti jalan-jalannya lebih bersih dari bandung. Juga gak nemu jalan yang bolong-bolong (kaya di bandung).
Juga walaupun kotanya panas, tapi banyak taman di tengah kota yang rimbun dan terpelihara. Dan gak jadi tempat bencong ngumpul kaya taman maluku di bandung.. hehe.

Rasanya sih selama disini gw gak merasa kangen-kangen amat sama bandung.
Mungkin cuman batagor dan makanan yang bikin gw sedikit kangen sama kota sendiri, tapi sisanya, bisa ditemui di surabaya. Banyak bangunan lama yang tetap dipiara, seperti heritage site di jalan darmo contohnya, juga hotel majapahit (tadinya hotel orange).

Surabaya sebagai kota besar juga masi cenderung aman, dibanding jakarta.
Itu emang cuman perasaan gw aja sih yang subjektif.
Seengganya disini gw gak mendengar banyak peristiwa kriminal.
Juga gak banyak pengamen/ pengemis/ anak jalanan yang gw liat selama perjalanan wara-wiri selama dua bulan ini.
Salut dah dengan walkot surabaya yang bisa membenahi kotanya.

Sayangnya sih, masalah perilaku warga membuang sampah ke kali masi ada.
Dan setiap kali musim hujan katanya udah biasa kalo kali/sungai meluap sampe banjir, tapi masih aja orang-orang terus buang sampah sembarangan.
Gimana dong?
Jadi jangan salahkan pemerintah kalo kita sendiri tidak mau mengubah perilaku membuang sampah.

Cerita ini berakhir dengan pemandangan matahari terbenam pas perjalanan pulang.
Owya, disini langitnya masih biru, engga butek kaya langit di kota jakarta atau bandung yang tercemar polusi.
Jadi matahari terbenam juga masi bagus untuk dinikmati (walaupun gak keliatan jelas di foto dengan efek lomo )


end of the day : )




Your Fonts - Font Generator