Showing posts with label surabaya. Show all posts
Showing posts with label surabaya. Show all posts

Sunday, December 23, 2012

Places of 2012

Penghujung tahun 2012 sepertinya momen yang cocok untuk bikin tulisan tentang beberapa tempat yang sempat dikunjungi selama 12 bulan ke belakang.

Sebagian memang bukan tempat yang baru pertama kali dikunjungi, tapi tetap aja terkesan berbeda -karena perubahan yang sejalan dengan bertambahnya waktu (dan juga jumlah manusia, atau perilaku penduduk).

As always, karena tulisan sbb gak dimaksud untuk dijadikan panduan perjalanan (apalagi gw sadar koq bukan travel writer yang baik) melainkan sekedar kilas balik aja dari beberapa perjalanan yang gw lakukan selama setahun ini.

Here we go . . . . .   .    .

.: pollution, traffic jams, crowded population :.
#1. Jakarta, ID

Jakarta oh Jakarta.
Entah udah dari tahun kapan gw sering bolak balik ke kota ini, karena cuman makan waktu 2-3 jam perjalanan dari Bandung. Ini adalah salahsatu kota yang punya hubungan love and hate relationship sama gw. Love karena disini banyak kesempatan kerja kalau mau karir yang cepat berkembang, juga untuk penggila belanja (seperti gw, yang udah tobat-kumat) banyak diakomodasi oleh sejumlah mall.
Hate, dengan alasan yang jauh lebih banyak: macet, polusi (air, udara, suara), kesenjangan yang sangat lebar antara kaya-miskin, tata ruang kota yang semrawut dst dsb you name it all the problems that could ever exist in big city.

Yah kebanyakan kunjungan gw ke Jakarta selama tahun 2012 emang untuk keperluan bisnis. Karena kepaksa (dan juga ditanggung kantor) tentu tak terhindarkan pertemuan dengan segala hal yang sebenernya gw benci (macet, polusi, berisik) demi bisnis trip.
Jauh di dalam lubuk hati yang tedalam, sebenernya gw menyimpan rasa kagum dan juga kasihan sama sekian juta orang penduduk Jakarta, yang setiap hari mampu bertahan dengan segala permasalahannya.
Berangkat pagi pulang malem, menerjang kemacetan yang bikin putus asa orang kaya gw, belum lagi diperparah oleh banjir di kala musim hujan.

Somehow, dengan adanya pasangan Gub-Wagub baru- sepertinya banyak penduduk yang optimis akan ada perubahan berarti untuk Jakarta. Seperti juga gw, yang sangat terharu dengan pernyataan Jokowi yang mengedepankan semangat melayani sebagai seorang pemimpin.

Banyak hal yang berubah dari semenjak kunjungan gw pertama kalinya ke Jakarta (mungkin 25 tahun yang lalu). Tumbuhnya gedung-gedung pencakar langit, bertambahnya jumlah kendaraan pribadi di jalan, berkurangnya pepohonan di kawasan perkotaan.
Apalagi sekitar tahun 1998 dimana gejolak reformasi memanas, banyak pergolakan (dan pertumpahan darah) terjadi di sini.

Waktu itu umur gw masih 17 tahun dan baru masuk kuliah.
Dan angkatan '98 adalah salahsatu angkatan yang paling historis, dimana banyak temen-temen gw yang kuliah di luar negri mencari keamanan- sementara gw melanjutkan kuliah kedokteran di universitas negri.

Mudah-mudahan dibawah kepemimpinan yang benar, Jakarta (dan Indonesia) bisa dibawa ke perubahan yang lebih baik. Itu harapan gw untuk tahun mendatang.



.: soerabaja :.
#2. Surabaya, ID

Selama usia gw (yang terbilang masih muda ini : ) mungkin udah sekitar 3-4 kali mengunjungi Surabaya. Mostly untuk keperluan jalan-jalan tentunya.
Di tahun 2012 ini, kepindahan gw ke Surabaya berhubungan dengan pekerjaan.

Lokasi kerja gw sebenernya di Sidoarjo, tapi kantor provinsi ada di Surabaya.
Akibatnya sering banget wara wiri ke kota Pahlawan ini.

Pertama kalinya tinggal di Surabaya (untuk waktu yang lama) rasanya gak berasa jauh dari rumah. Makanannya oke, orang-orangnya ramah walaupun bicaranya medok (hehe), dan surprisingly infrastruktur kotanya termasuk maju (dibanding Bandung).
Sayangnya, walaupun termasuk kota besar- Surabaya gak punya sarana transportasi massal yang bisa diandalkan seperti contohnya busway/ KRL.
Ada sih kereta komuter, tapi frekwensinya kurang banyak. Angkot (yang disebut Len) juga gak terlalu populer dipake penduduk. Kebanyakan lebih suka pake kendaraan pribadi (motor/ mobil) atau pake taksi.
Padahal beberapa kali pengalaman gw pake Len selalu positif, gak ada pengalaman buruk- supirnya gak ugal-ugalan (gak kaya supir angkot 05 di Margahayu, Bandung) dan tarifnya fixed. Juga sebagai penumpang cewe, gw merasa aman walaupun pulang sendiri malem.

Salahsatu observasi gw juga, penduduk keturunan (Chinese) Surabaya terbilang eksklusif, gak berbaur/ mingling seperti layaknya di kota Bandung atau Jakarta.
Terus terang gw jadi agak sebel sama golongan yang seperti ini.
Entah kenapa, mungkin karena gw dibesarkan di keluarga yang berjiwa nasionalis jadinya gak pernah membeda-bedakan/ menganggap satu ras lebih superior dibanding yang lain.
Kalau udah lahir di Indonesia yah namanya tetap penduduk Indonesia.

However
, sedikit banyak jadinya gw merasa beruntung dilahirkan di Bandung yang mengakomodasi cita rasa nasionalis. Dengan pergaulan yang luas jadinya mudah buat gw untuk masuk ke golongan mana aja.

Tapi banyak hal yang gw kagumi dari Surabaya koq. Tata kotanya lebih jelas, pemkot memelihara bangunan jaman Belanda sebagai heritage sites, contohnya di kawasan Darmo, JMP, dan sekitar House of Sampoerna.
Pengalaman gw ikutan tur Surabaya Heritage Track yang merupakan corporate social responsibilty (CSR) dari House of Sampoerna, semakin memperkukuh keyakinan gw bahwa warisan budaya dipelihara dengan baik oleh pemkot-nya.

Waktu di Surabaya, gw sempet ketemuan dengan satu traveler asal Swiss- kita sebut aja namanya P.
Owya, seminggu sebelumnya P ini udah mengunjungi Bandung, kota kelahiran gw.
Lalu gw tanya, apa pendapat dia tentang Bandung dan Surabaya.
Dia bilang, (tentu aja) banyak banget perbedaannya. Pemkot Surabaya terlihat jelas perannya dalam mengurus kota. Sedang Bandung, seperti kota yang gak ada pemerintahnya.
Di Surabaya, ada city tourism centre/office - dimana kita bisa dapet informasi gratis tentang spot wisata, gimana kalau mau eksplor sendiri atau ikut tur dalam kota atau seputar Jatim. Bahkan tersedia leaflet gratis (dan ada website-nya juga). Informasi tsb paling engga dalam 2 bahasa: Indonesia dan Inggis.
Sedangkan pengalaman P di Bandung ? Dia ditawarin sama 1 petugas yang kerja di city tourism centre untuk ikut paket tur dan membayar sejumlah uang, pas dia mau nanya tentang informasi wisata.

Sebagai orang Bandung, tentunya gw merasa sangat MALU.
tapi yah emang begitulah pemkot Bdg. gak ada waktu untuk membenahi kota karena sibuk ngurusin Persib ...


.: beachwalk, Kuta :.
#3. Kuta-Legian, Bali, ID

Alasan utama kepergian gw ke Bali di tahun 2012 ini adalah: dapet tiket murah.
Ternyata budget flight macem AirAsia bikin orang jadi compulsively booking tiket yang belum tentu juga sesuai dengan kebutuhan.
Yah sebenernya Bali merupakan destinasi wisata yang gak membosankan walaupun sering dikunjungi.
Tapi kesan yang gw dapat semakin ke sini adalah, Bali yang semakin kapitalistik dan turistik.

Apalagi mungkin nama pulau Bali going international setelah dijadikan salahsatu lokasi shooting film Eat, Pray, Love (yang diambil dari buku dengan judul serupa).
Jadi banyak orang/ turis internasional umumnya, mengharapkan pengalaman spiritual yang sama, seperti pengalaman tokoh yang diperankan oleh Julia Roberts.
(btw gw sendiri belum baca buku maupun nonton film-nya, katanya sih bagus tapi .... )

Perubahan mencolok yang gw perhatikan, adalah di sepanjang jalan Legian, Kuta- banyak banget franchise toko swalayan (e.g. Indomart, Alphamart, dkk) setiap 50 meter.
Kesannya jadi acak-acakan, gak teratur dan lagi-lagi, mencerminkan semangat kapitalistik.
Apa memang gak ada aturan yang jelas tentang pendirian toko seperti itu?

Selain itu ada mall baru juga dibangun di dekat pinggiran pantai Kuta. Konsepnya hampir mirip dengan Centro yang juga dibangun dengan bagian menghadap pantai.
Tapi di Beachwalk, itu nama kawasan perbelanjaan yang baru dibangun tsb, lebih mengedepankan konsep Go Green. Ada pesan-pesan tentang menjaga kelestarian lingkungan dan menginisiasi penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi.
I like it.
Yang perlu diperhatikan oleh pengelola mall juga, mungkin supaya gak menyetel AC terlalu dingin di bagian dalam mall. Karena toh buat apa mendengungkan konsep Go Green tapi boros listrik dengan penggunaan AC yang berlebihan?



.: Bromo, Tengger :.
#4. Bromo, ID

Banyak hal yang bisa dikagumi dari Indonesia; makanan enak, cuacanya nyaman sepanjang tahun, dan kekayaan alam yang gak ada habisnya.
Salahsatu daerah kunjungan wisata yang cukup dikenal di kalangan turis internasional adalah Bromo. Yah, Bromo dan Ijen memang cukup dikenal sampe ke mancanegara berkat publikasi tulisan para pelancong asing yang mampir kesitu.

Wisatawan dalam negri sendiri biasanya hanya mengunjungi untuk melihat keindahan pemandangan Bromo (dan berfoto dengan latar belakang gunung sebagai buktinya : )
Sedang wisatawan luar biasanya juga mengenal lebih jauh tentang latar belakang penduduk asli yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger tsb.
Saat mengunjungi Bromo di awal Agustus 2012, penduduk asli sekitar Tengger memang sedang merayakan festival tahunan Kasada.
Walaupun saat itu sebagian besar umat muslim di belahan dunia sedang melaksanakan ibadah puasa, suasana demikian tidak terlihat di kawasan Bromo. Sebaliknya, suasana cukup ramai dengan banyaknya orang yang berjualan makanan/souvenir sehubungan dengan perayaan Kasada.

Indonesia memang unik, menyimpan berbagai macam kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda di setiap penjurunya. Sudah seharusnya kita belajar menghargai keperbedaan itu dan menjaganya sebagai suatu kekayaan daerah. 
Jadi, kenapa dong masih ada komplotan seperti FPI yang ingin supaya semuanya sama dan seragam?

.: changi airport :.
#5. Changi, SG

Katanya ini the best airport in the world.
Singapura tahun 1970 mungkin cuman sebuah kampung, gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Beda dengan Indonesia yang waktu itu sudah 25 tahun merdeka dan dalam masuk dalam tahap pembangunan oleh pimpinan Orde Baru.
Tapi di tahun 2012 ini, jelas sudah bahwa Singapura bergerak maju dengan sumber daya yang terbatas: Lahan terbatas, miskin akan sumber daya mineral, cuman segelintir penduduk (ya segelintir kalo dibanding penduduk Indonesia yang jumlahnya 230 juta) yang menghargai arti kata kerja keras.
Changi, yang menjadi tempat transit berbagai maskapai dari belahan penjuru dunia, sungguh dibangun dengan fasilitas yang jauh memenuhi syarat. Dengan fasilitas yang nyaman, yang bisa diakses oleh turis backpacker sampai tingkat para pebisnis, gak heran kalau Changi mendapat julukan bandara udara terbaik di seluruh dunia.

Yup, salut untuk Singapura dan ikon-nya yang mendunia. Walaupun tempat ini bukan top destinasi wisata bagi gw tapi Changi memang layak untuk dikunjungi sekalipun hanya buat transit.



.: malapascua :.
#6. Cebu, PH

Kalau gw bisa milih terlahir kembali, mungkin lebih cocok terlahir kembali sebagai orang Filipina. Yah mungkin kehidupan sebagai orang Kristen akan lebih mudah juga di Filipin, tapi manusia biasanya kan akan menjadi lebih kompetitif kalau dibesarkan dalam lingkungan yang menantang.
Mungkin itu juga yang bikin gw menjadi seperti apa adanya sekarang, karena terlahir di Indonesia.

Walaupun pemandangan alam Filipin kurang lebih mirip dengan Indonesia, tapi sepertinya pemerintah sana mengelola lebih profesional sebagai tujuan wisata.
Gampang banget cari informasi tentang tempat-tempat wisata di sana, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta.

Turis pun bisa memilih, mulai dari yang low cost budget seperti para backpacker traveler maupun turis berkantong tebal, cukup variatif pilihan wisata yang ada.

Di daerah Cebu dan Malapascua, dua tempat yang gw kunjungi, memang jadi tujuan utama turis untuk liburan. Banyak turis dari Hongkong, Korea, Jepang yang 'melarikan diri' kesini, untuk mencari cuaca yang lebih jinak saat musim dingin. Selain itu standar hidup yang gak terlalu mahal (bagi turis asing) bikin mereka gak malu-malu menghabiskan duit selama mengunjungi Cebu. Cebu city sendiri bertaburan banyak mall seperti Jakarta.

Secara personal, gw sendiri tergila-gila pedicure selama di Cebu karena murah banget.
Harga 1 paket pedicure yang pernah gw coba di mall adalah 90 Ph pesos ~ 20 rb rupiah.
Kalau di salon pinggir jalan malah ada yang 60 Ph pesos.
Gak heran kalo kebanyakan cewe di Cebu (yang gw liat) punya kuku kaki yang tertata rapih hasil pedicure di salon. Abis murah banget sih!

Cewe Filipina juga sangat memperhatikan penampilan, seengga-engganya kebanyakan yang gw liat di Cebu city. Mereka selalu keliatan dandan (pake make up), stylish, up to date (ngikutin mode) dan bawa cermin kecil ke mana-mana!

Seperti yang orang-orang juga bilang, mungkin lebih cocok kalau gw terlahir sebagai Filipina :-)

Sunday, July 15, 2012

Get lost in Surabaya

Judulnya dramatis sih, tapi emang kenyataannya gw sempet kesasar juga koq di kota ini.

Tadinya pengen kasi judul 'Suatu hari di kota Surabaya' tapi kesannya melan banget.
Dan karena seperti biasa, seperti di kota laennya, gw selalu kesasar (walaupun disini kesasar jauh lebih gampang karena bisa nanya orang pake bahasa Indo dan selalu ada pilihan/ godaan untuk pulang aja pake taksi).

Anyway, cerita diawali dengan kepindahan gw ke Surabaya untuk urusan kerjaan.
Jadi sejak dua bulan lalu bermigrasi lah gw ke sebuah tempat kos di daerah deket kampus, yang walkable juga ke kantor.
Karena disini sering field trip, kebanyakan sih gw keliling kota dianter sama supir kantor. Bukan cuman keliling kota tapi juga trip antar kota/ kabupaten malah.

Di luar itu, sering cuman muter-muter di sekitaran tempat kos aja soalnya setelah setiap hari kerja wara-wiri kesana kemari rasanya males untuk jalan-jalan ke tempat yang terlalu jauh.

Sampe kemaren.
Iya kemaren itu gw baru menyadari betapa berharganya hari libur, padahal cuman weekend biasa doang.
Itu karena dua minggu sebelumnya gw terus-terusan kerja/ ada meeting even on saturday and sunday!
Akibatnya, hari kamis pun badan gw gak enak. Kepala berasa berat, gak napsu makan dan agak mual-mual. Sempet ngidam mangga muda juga (loh?!) dan untungnya kantor gw tuh punya pohon mangga yang lagi berbuah. Jadi tinggal nitip ke satpam kantor langsung deh dia tau selera gw metik mangga yang gak terlalu mateng (untuk dibikin manisan).

Kamis pun jadi hari istirahat karena gak enak body itu, tapi sambil ngerjain kerjaan kantor juga di rumah. Berhubung banyak yang mesti diberesin juga, yah kalo engga dikerjain nanti numpuk terus.

Eh, daripada bosen, langsung aja gw kembali ke inti utama dari bLog ini, yaitu cerita jalan-jalan.

Nah, hari sabtu kemaren, akhirnya (setelah dua bulan di surabaya!) gw mencoba naek angkot sendiri. 
Dulu juga udah pernah tapi gak untuk long trip.
Kalo long trip biasanya gw pake taksi (ih manja banget!) abis takut nyasar.
Sekarang mayan jauh, dan gw udah kurang lebih tau jalan-jalan utama dan yang paling penting, jalan balik ke rumah.

Tujuannya adalah gramed expo.
Abis gw tuh geek, doyan buku dan kalo gak baca buku baru suka kambuh alerginya (alesan).

Bagi gw, toko buku dan perpustakaan adalah tempat yang paling menenangkan dan menyenangkan.

Nah, sekarang cerita tentang angkot (atau disebut Len di surabaya) yang gw naekin pertama itu isinya ampir kosong.
Cuman ada satu ibu yang duduk di bangku sebrang gw.

skalian tes kamera lomo baru
 Mungkin juga karena pas hari sabtu siang, orang kan gak pada kerja. 
Jadi dari daerah panjang jiwo tempat gw naek itu isinya cuman berdua doang, sampe akhirnya di kawasan wonokromo naeklah anak muda yang bawa tumpukan ember kosong (kayanya buat jualan).
Kesian deh, anak muda ini kurus ceking bawa setumpuk ember kosong yang gede-gede. Tapi gw sangat menghargai usahanya buat nyari rejeki yang halal!
Seengga-engganya dia gak males-malesan ngamen dan maksa minta-minta ke orang seperti yang sering gw liat di banyak tempat makan di bandung.

Udah gitu, udara di surabaya kan panas. Mungkin skitar 28-29 derajat celcius, tapi kenapa sih anak muda ini pake jaket. Eh tapi bukan dia ajah, tapi banyak orang juga yang gw liat di jalan pake jaket/ kardigan tebel padahal gw aja bercucuran keringet cuman pake kemeja satu lapis.
Owya, satu hal yang bisa gw amati adalah, jarang banget ada orang keturunan cina yang naek Len disini. Atau mungkin aja pas jurusan yang gw naek itu gak populer.
Beda kaya di bandung, populasi warga keturunan rasanya lebih mingled dan bisa ditemui juga naek angkot. 

Dari wonokromo, lanjut ke stasiun joyoboyo. Lalu gw dengan sotoy ngambil aja Len yang mestinya ke arah darmo/tunjungan plasa. Ternyata bener deh ngelewatin gramed expo, dan akhirnya perginya gak kesasar (pulangnya yang nyasar).

Di gramed expo ini sempet panik pengen beli segala macem buku, mulai bukunya dahlan iskan yang baru, deepak chopra (untung gak ada judul yang dicari). Sampe akhirnya gw pikir untuk stick aja dengan yang ada di list, yaitu brida by paulo coelho. 

buku yang udah lama dicari-cari, gak smua gramed/toko buku punya juga

Dari gramed expo itu tinggal jalan kaki aja ke tunjungan plasa.
Nyampe sana langsung deh mulai baca buku barunya, abis penasaran udah lama baca review-nya!

Ternyata pas lagi ada launching merk parfum baru di ground floor, akibatnya ada pameran kosmetik dan asesoris juga.
Rencana cuman mau liat-liat eh malah ikutan belanja juga.
Ah tenyata gw masih aja lemah sama yang ginian, laen kali ada pentingnya juga bawa temen yang bisa memotivasi untuk nahan godaan.

Trus disitu sekalian makan baked potatoes wendys, yang feels like heaven to me.
Kadang-kadang hidup tuh jadi lebih indah kalau kita punya makanan kesukaan yak?

Pulang dari situ, agak tergoda juga sih untuk naek taksi.
Tapiiii... karena tujuannya adalah exploring, lagian kalaupun nyasar emang tujuannya kan jalan-jalan. Jadi ya gak papa, skalian belajar juga. Dan waktunya memungkinkan juga (untuk nyasar : )
Ternyata bener deh kejadian. Padahal udah tanya sana sini, masi juga nyasar.
Tapi selama masih di indonesia, selalu gampang nanya orang. 
Udah gitu masi nyasar juga, karena orang yang ditanya gak selalu ngasi jawaban tepat.. hehe..
It's okay. That's life. And I'm no hurry.

Stelah 3 kali ganti angkot dan jalan skitar 2 kilo lebih (total hari ini jalan kali mungkin 6-8 kilo) akhirnya nyampe juga di rumah. Biar cape tapi puas karena akhirnya gw bisa balik dengan selamat gak kurang suatu apapun.

Kesan dari perjalanan gw di surabaya adalah (sama seperti kesan waktu pertama kali gw keliling dengan mobil kantor) kotanya bersih. Yang pasti jalan-jalannya lebih bersih dari bandung. Juga gak nemu jalan yang bolong-bolong (kaya di bandung).
Juga walaupun kotanya panas, tapi banyak taman di tengah kota yang rimbun dan terpelihara. Dan gak jadi tempat bencong ngumpul kaya taman maluku di bandung.. hehe.

Rasanya sih selama disini gw gak merasa kangen-kangen amat sama bandung.
Mungkin cuman batagor dan makanan yang bikin gw sedikit kangen sama kota sendiri, tapi sisanya, bisa ditemui di surabaya. Banyak bangunan lama yang tetap dipiara, seperti heritage site di jalan darmo contohnya, juga hotel majapahit (tadinya hotel orange).

Surabaya sebagai kota besar juga masi cenderung aman, dibanding jakarta.
Itu emang cuman perasaan gw aja sih yang subjektif.
Seengganya disini gw gak mendengar banyak peristiwa kriminal.
Juga gak banyak pengamen/ pengemis/ anak jalanan yang gw liat selama perjalanan wara-wiri selama dua bulan ini.
Salut dah dengan walkot surabaya yang bisa membenahi kotanya.

Sayangnya sih, masalah perilaku warga membuang sampah ke kali masi ada.
Dan setiap kali musim hujan katanya udah biasa kalo kali/sungai meluap sampe banjir, tapi masih aja orang-orang terus buang sampah sembarangan.
Gimana dong?
Jadi jangan salahkan pemerintah kalo kita sendiri tidak mau mengubah perilaku membuang sampah.

Cerita ini berakhir dengan pemandangan matahari terbenam pas perjalanan pulang.
Owya, disini langitnya masih biru, engga butek kaya langit di kota jakarta atau bandung yang tercemar polusi.
Jadi matahari terbenam juga masi bagus untuk dinikmati (walaupun gak keliatan jelas di foto dengan efek lomo )


end of the day : )




Your Fonts - Font Generator