Si kancil suka mencuri timun
Ayo lekas ditangkap
Jangan diberi ampun
Dari sepenggal lagu anak-anak tersebut diceritakan bahwa ada kancil yang suka mencuri timun. Sehingga harus ditangkap dan dihukum.
Belum lagi dongeng untuk anak-anak yang mengisahkan harimau yang mengancam penduduk kampung. Sehingga para penduduk bersatu padu berusaha menangkap harimau (dan sisa ceritanya terlalu menyedihkan).
Apakah ini yang akan kita ajarkan kepada anak-anak kita ?
Bahwa binatang sering mengancam keberlangsungan hidup manusia ?
Padahal kenyataannya yang terjadi sering sebaliknya.
Di Indonesia, sebuah negara kepulauan yang banyak dikagum turis mancanegara karena keaneragaman bio hayati, ternyata penduduk aslinya kurang menghargai satwa aslinya.
Tidak heran dimasa depan, orang asing akan lebih mengenal kalau orangutan (pongo pygmaeus) adalah satwa yang berasal dari Malaysia atau bahkan Singapura.
Karena negara tetangga kita seperti lebih menghargai keberadaan satwa dan menyadari potensi tersebut bisa mendatangkan banyak pemasukan.
Di negeri kita, dimana pemerintahnya tidak terlalu peduli akan ancaman punahnya satwa endemik, kita sering melihat atau mendengar berita tentang pemburuan satwa demi memperluas kebun kelapa sawit.
Ini ironis sekali, terutama bagi saya yang saat berada diluar negri (dan berita tersebut sampai di mancanegara) - ketika teman-teman bule menanyakan, "Apakah tidak ada hukum yang berlaku untuk melindungi satwa terancam tsb?"
"Bagaimana dengan penduduk, apakah mereka tidak tahu bahwa satwa tersebut hampir punah dan nilainya jauh lebih tinggi daripada duit upahan untuk kebun kelapa sawit?"
Pertanyaan yang datang ke saya sesungguhnya sangat wajar.
Orang bule atau orang luar, bisa jauh lebih menghargai keaneka ragaman hayati daripada orang kita.
Simply karena mereka engga punya hal seperti itu di negeri mereka.
Gak semua negara bisa beruntung tinggal di permata khatulistiwa seperti Indonesia. Gak semua negara bisa punya hutan tropis yang kaya akan keaneka ragaman satwa dan hayati seperti kita.
Negara yang kaya seperti Singapura dan Jerman contohnya, menginvestasikan banyak duit untuk bikin 'hutan tropis' buatan, sebagai salahsatu sarana untuk menarik turis.
Karena kita hidup sangat berdekatan dengan segala 'kekayaan' itu, kita gak sadar bahwa itu harus dipelihara.
Dan sedihnya, kita emang gak pernah diajarkan sewaktu kita bersekolah entah di SD, SMP, atau SMU.
Coba saja kalau saya tanyakan, ada berapa guru yang Anda kenal pernah mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan hidup?
Seperti kalau mengunjungi suatu tempat wisata alam, harus menjaga kebersihan lingkungan, tidak merokok (ya asap rokok berbahaya bagi tumbuhan dan satwa, bukan hanya bagi manusia) dan tidak mengambil apapun dari alam (kecuali hanya mengambil gambar/ foto).
Saya pernah traveling dengan seorang kolega, lulusan S2 dari institusi ternama.
Kami berwisata laut, melakukan kegiatan seperti snorkeling dst.
Lalu dia kepikiran untuk mengambil bintang laut berwarna biru sebagai souvenir !
Bindung laut tsb rencananya akan dia simpan di dalam tas untuk dibawa pulang ke Jakarta.
Tentu saya menjelaskan, bahwa hal tersebut bukanlah ide yang baik.
Bintang laut tempatnya di laut, buken di lemari souvenir.
Mengambil mereka dari rumahnya, sama seperti membunuh mereka.
Karena beberapa jam tanpa air saja makhluk itu akan mati, belum juga pertimbangan bau busuk dari tas karena membawa bangkai.
Hanya foto dan kenangan yang boleh diambil dari laut, begitu yang saya sampaikan.
Untungnya teman saya tidak ngeyel terlalu lama dan langsung melempar bintang laut tsb ke laut.
Ini membuat saya berpikir, inikah wajah dari Indonesia sesungguhnya?
Dimana orang lulusan S2 saja, yang dianggap kaum intelek dan berpendidikan, tapi jauh dari prinsip menjaga alam, binatang dan lingkungan tempat hidupnya?
Dari banyak hal yang bisa saya pelajari saat traveling, hal yang paling membanggakan adalah ketika orang luar tau saya dari Indonesia, mereka langsung bilang: "Oh itu negara asalnya Orang Utan / Komodo ! "
Ya betul. Gambar Orang Utan lah yang tertera pada tiket masuk saat saya mengunjungi kebun binatang di Berlin dan Amsterdam.
Betapa bangganya saya berasal dari negeri indah yang namanya Indonesia ini.
Tapi sayang, sekembalinya ke Indonesia, kebanggaan saya tidak berlangsung lama. Karena mengetahui sesungguhnya kita sendiri tidak sadar untuk menjaga kekayaan alamnya.
Apakah karena masyarakat kita terlalu miskin? terlalu bodoh?
Apapun itu mudah-mudah dengan semakin banyak pengalaman yang kita dapat saat traveling, bisa membuat kita lebih sadar dan menghargai apa yang kita punya.
Turis: hanya mengunjungi suatu tempat, foto-foto, pulang meninggalkan sampah
Traveler: mengunjungi suatu tempat, belajar sesuatu dari tempat yang dikunjungi, pulang membawa pengalaman.
Showing posts with label penting buat Indonesia. Show all posts
Showing posts with label penting buat Indonesia. Show all posts
Saturday, September 21, 2013
Sunday, September 30, 2012
.: Pendidikan :. Quo vadis ?
Saat membesarkan anak kita, kita harus ingat bahwa kita adalah penjaga masa depan.
Dengan meninggikan pendidikan mereka, kita meninggikan masa depan umat manusia, masa depan dunia ini.
~Mengutip Immanuel Kant
Baca berita di media dan nonton TV akhir-akhir ini emang bisa bikin galau.
Padahal update berita itu dibutuhkan biar setiap hari gak eneg seputar kerjaan.
Tapi koq syerem ya kalo tau anak jaman sekarang maenannya bunuh-bunuhan, tawuran demi membela nama sekola, senior menanamkan kekerasan pada juniornya dst.
Sebegitu suram- nya kah masa depan Indonesia, yang sudah tidak dijajah bangsa asing, kebingungan mau melawan siapa, sampe-sampe bangsa sendiri juga ditindas.
Seperti kasus kematian anak SMA yang baru-baru ini terjadi, ternyata guru-guru di SMA nya sudah lama mengetahui praktek dan jadwal tawuran. Tapi bukannya mencari solusi dengan mendamaikan, malah yang ada pembiaran.
Seperti kasus kematian anak SMA yang baru-baru ini terjadi, ternyata guru-guru di SMA nya sudah lama mengetahui praktek dan jadwal tawuran. Tapi bukannya mencari solusi dengan mendamaikan, malah yang ada pembiaran.
Kalo gini, wall fb/ twitter orang-orang akan penuh dengan komentar yang 'menghakimi' bahwa si pelaku pembunuhan (yang anak SMA itu) wajib dihukum setimpal dengan perbuatannya.
Tapi kembali kepada pembentukan anak tindak pelaku tsb, memangnya ada anak kecil yang bisa tanpa rasa bersalah membunuh?
Normalnya sih engga. Kecuali kalo memang psikopat dari kecil, yang biasanya timbul dari perlakuan abusive yang dia terima sebelumnya.
Normalnya sih engga. Kecuali kalo memang psikopat dari kecil, yang biasanya timbul dari perlakuan abusive yang dia terima sebelumnya.
Jadi, kalau ada sampe ada anak SMA yang tanpa rasa bersalah melakukan pembunuhan (bahkan merasa puas!!!) bukankah itu kesalahan kita semua?
Kesalahan orangtua, guru, teman, seniornya, masyarakat dan pemerintah- yang mengijinkan tawuran tsb terjadi (terulang!!!)
Kesalahan orangtua, guru, teman, seniornya, masyarakat dan pemerintah- yang mengijinkan tawuran tsb terjadi (terulang!!!)
Sewaktu saya di Belanda, pernah ada siaran TV disana yang mengabarkan Indonesia sewaktu terjadi krisis moneter (tahun 1998) diikuti reformasi di pemerintahan.
Di situ tergambar peristiwa toko-toko dibakar dan dijarah, orang merusak bangunan umum, dan banyak pasukan polisi saling serang/ melempar batu dengan masyarakat sipil.
![]() |
| sumber gambar diambil dari : http://maskolis.blogspot.com/2011/07/kerusuhan-mei.html (keywords: gambar kerusuhan, hasil 1,390,000) |
Teman-teman Belanda saya (yang kebanyakan atheist) menanyakan,
" Indonesia bukannya negara dengan penduduk muslim terbanyak? Di mana peran agama pada waktu (kejadian) itu? "
Tentu saja itu bukan pertanyaan yang bisa saya jawab dengan mudah.
Tapi saya bisa bilang, kalau agama di Indonesia itu sebuah keharusan.
Tapi saya bisa bilang, kalau agama di Indonesia itu sebuah keharusan.
Orang tidak boleh menjadi atheist/ tidak bertuhan di negeri ini, yang akibatnya banyak orang mempunyai agama (di KTP) tapi tidak mengerti apa esensi dari agama yang dianutnya.
Sebaliknya di Belanda/ kebanyakan negara di Eropa, orang boleh saja atheist/ agnostik, karena hak memeluk agama/ kepercayaan dianggap sebagai hak individual yang sangat dihormati dan dijaga (oleh negara).
Ada teman atheist saya yang suka mempertanyakan, kenapa sih orang-orang repot punya agama. Kata dia, agama itu cuman dibikin alasan satu negara berperang dengan negara yang lain.
Terlepas dari pandangan dia tentang agama, orangnya sangat sopan dan mencintai makhluk hidup (manusia, binatang, maupun tumbuhan). Dia tidak merokok, tidak minum alkohol, menghindari makan daging. Dan dia sangat menghargai teman-temannya yang memilih untuk beragama.
Terus terang, setelah merasakan betapa aman-nya hidup di negara-negara Eropa, saya sempat merasa takut untuk pulang ke Indonesia.
Saya sudah membayangkan, bahwa saya gak bisa pulang malam sendirian lagi (karena betapa tidak amannya negri ini untuk wanita).
Belum lagi kasus-kasus kejahatan di sarana publik yang saya baca/dengar dari media, sebelum saya kembali.
Ironis memang, di sebuah negri yang banyak dibangun sarana ibadah, tapi tidak menyediakan keamanan bagi penduduknya.
Jawaban untuk masalah kompleks ini, mungkin, salahsatunya adalah pendidikan.
Pendidikan, telah dipikirkan sebelumnya oleh ibu Kartini (pahlawan nasional kita) pada awal tahun 1900, sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk memerdekakan bangsa kita.
| sumber gambar : Koleksi Tropen Museum (dan gw nyampe situ thn 2010 *terharu) |
Beliau melihat pada waktu itu, betapa miskin-nya kaum bumiputra, sehingga hanya orang tertentu saja yang bisa sekolah/ menempuh pendidikan.
Selanjutnya, kita ketahui bahwa sekolah dokter/STOVIA pada jaman itu, banyak melahirkan tokoh-tokoh perintis kemerdekaan.
Hanya kaum cendekiawan yang bisa memikirkan konsep kemerdekaan.
Karena mereka yang miskin, tentu hanya berpikir untuk urusan perut belaka.
Rupanya 67 tahun semenjak kita memproklamasikan kemerdekaan RI, masih ada orang yang bermental 'miskin' yang memikirkan urusan perut belaka.
Mereka ini bisa saja orang yang terdidik, tapi kepintarannya dipakai untuk hal yang merugikan manusia lain (contohnya para koruptor).
Entah apa yang ada di pikiran anak SMA pelaku tawuran yang kerap terjadi di Jakarta, pastinya mereka tidak merasa beruntung di banding teman-temannya di pedalaman Indonesia bagian timur.
Padahal jika mereka mau menggunakan akal pikirannya untuk hal berguna, betapa ditakutinya bangsa kita oleh negara-negara tetangga.
Bayangkan, sumber daya manusia sejumlah 230 juta, yang kompeten dan mampu bersaing di dunia internasional !
Malaysia dan Singapura adalah 2 negara kecil yang belajar dari Indonesia setelah masa kemerdekaannya.
Kini bisa dibilang kalau mereka sudah mampu disamakan dengan negara maju lainnya (dari indikator pembangunan manusia/ Human Development Index).
Apa Indonesia tidak malu, terus-terusan berkutat dengan masalah tawuran, kisruh karena isu SARA, dan masalah tidak penting lainnya, sementara bangsa lain sudah berangkat ke bulan?
Padahal anak-anak muda kita banyak yang menjadi juara pada kompetisi tingkat internasional*.
Yang membuktikan, bahwa kapasitas kita sebenarnya sama dengan bangsa lainnya yang maju!
Yang membuktikan, bahwa kapasitas kita sebenarnya sama dengan bangsa lainnya yang maju!
Kita perlu berdoa dan sektor pendidikan harus berusaha keras, untuk negeri, yang tampaknya bergerak mundur akhir-akhir ini.
Soerabaya, akhir Sept 2012
Subscribe to:
Posts (Atom)
Cities I've visited
- Create your own travel map or travel blog
- Find cheap flights at TripAdvisor
