Friday, October 28, 2011

International (Sign) Language

Languages really do catch my interest, for so long.

Indonesian is my mother tongue but I've learned English since I was young (approx. 10-11 years old). So it's been ages English has been my second language, but still I found out that I am not as good as native speakers (of course). I would rate my English fluency something between intermediate level to advance - but then, as long as I survive with my language capability (know how to order food, find direction, even in my case, doing a literature review) I know it's not a problem whether my degree of fluency is advance or not.

HungarianHungarian:: definitely not the easiest one

Just couple of years ago, I also interested in Deutsch (German) and Français (French).
I took a private lesson, and just when I was about to master (well, master my basic lesson- that's what I mean :) I had to leave to Europe for my master program.

But then I found out that my Deutsch was actually really crap in practice, because I couldn't understand what these Germans people were saying. My Français was a bit (slightly a bit) better cause I could understand a bit- at least I got the important point of conversation- but most of the times I kept using English instead of 'parlez Français' (when I was in French speaking area).

It's so lame... I think it's all just the matter of practice and confidence of making mistakes :-)
I'm sure if I settle longer in France or French speaking regions, I'd definitely enhance my Français competency :-)

I also learned a bit of phasa Thai when I was in Thailand (for short time), but every Thai people that I met told me that I had the right accent. So it was really encouraging :-)

Also a bit of Dutch when I was in Netherlands (I was there cumulatively for almost 5 months). I didn't really learn it the way I learned Deutsch or Français. My Dutch language lesson was basically because I hang around with friends and colleagues (and people around me in public spaces :-) who speak Dutch. But I came to conclusion that in Netherlands, almost all the people that I met could speak English very well, so I didn't have to learn Dutch at all :-)

Danish, even though I stayed in Denmark for more than 6 months- is something that I gave up to master. I know how to say basic things e.g. salutations, thanks, sorry, sale/discount, but that's all.
For me it's a bit frustrated to learn, for it pronunciation is tricky - and did not sound as beautiful as French or Italiano. Sorry Danes, but this is the fact from a foreigner.

DanishDanish:: not very encouraging either

Then I also love Itali. Mi amore Italia :-)
And Italiano is a very beautiful language, they also have a lot of meanings in sentences.
For example saying thanks in Italian is 'Grazie' (just like 'Merci' in Français) it has more meaning than just 'thanks' - it's more like 'grace' or 'mercy'. Showing more feelings of compassion and thankful. I just love it.
Not to mention the rhyme when people talked, or even argued about something.
And how they categorize feminine and masculine words/ nouns (similar like French), based on, what?
Anyway, this is the language I'd like to learn more in the future.

ItalianoItaliano:: the language of love!

Sorry it took so long to come to the point, that International Sign Language is totally almost left out in my to-do-list.
I had this motivation to learn from few years back then, it keeps coming on strong nowadays.
Then I found out that I could actually learned it by myself (thanks to google). They put so many videos about it in webs. So I'm going there now.
ISL :: image taken from shutterstock

We'll see how much I'm getting serious about this in the future.

Ciao ciao!

Wednesday, October 12, 2011

AMS - SIN - CGK

Amsterdam, Okt 12

Akhirnya tiba juga saatnya meninggalkan Amsterdam, seperti biasa poknya kalo meninggalkan suatu tempat pasti aja cuacanya jelek.

Deja vu kaya di Kopenhagen, kali ini cuaca di Amsterdam juga jelek, ujan, dingin, angin. Kombinasi yang pas biar gak kangen ama Belanda.

Trus pas mau naek bus dari Diemen ke station Diemen Zuid bus-nya juga penuh banget, smua orang kayanya males pake speda jadinya pake bus.
Sampe nyempil-nyempil deket pintu gituh.

Untungnya orang Belanda baek-baek dan penuh rasa kekeluargaan (gak kaya di Denmark) jadi masi ada orang yang ngasi tempat dan juga bantuin gw ngangkat koper seberat 24 kgs (lebih berat daripada setengah badan gw).

Then, nyampe Schipol janjian ama Alice.
Dia udah gw bilangin tadi malem pokonya gak boleh sedih.
Trus sebelum dia nganter check in, gw hibahkan topi winter yang sebelumnya direbut gw pas peristiwa Sinterklaas taun lalu :)
Topi yang sama-sama kita yang pengen, tapi akhirnya gw yang dapet.
Dan sekarang topi itu jadi punya dia karena gladly I won't have winter this year (hopefully).

Juga gw kasi sabun bio dari Genova (kenang-kenangan dan juga karena koper gw overloaded). Pada akhirnya pas ditimbang ternyata koper gw kelebihan 4 kgs! Tapi sama si petugas-nya boleh dicek in juga tanpa bayar kelebihan bagasi.
Gw juga kasi alasan yang reasonable kalo sebenernya gw udah punya niat mau upgrade overbaggage tapi cuman dikasi pilihan bayar pake Dutch PIN card, which was gak smua orang punya (jadi bukan salah gw donk gak bisa upgrade bagasi in advance).
Lagian kalo ngotot tetep disuru bayar juga, gw udah nyiapin alesan kalo berat badan gw kan cuman 40 kgs (sedangkan berat rata-rata orang normal 50 kgs) dan artinya jatah gw boleh dipake untuk excess baggage donk.
Or kalo alesan gak diterima juga, tadinya Alice yang bakal bawa balik barang-barang gw untuk dipaket.
Tapi untungnya boleh masuk juga. . .

Schipol Airport di Amsterdam sendiri jadi salahsatu airport favorit gw di Eropa, karena letaknya gak terlalu jauh dari kota. Juga gampang diakses dari Amsterdam, kalau pake train cuman 20 menit perjalanan dari Centraal station (tiket 6.50 Eur)
Selaen deket juga Schipol airport banyak tempat belanja-nya, baik di terminal kedatangan maupun keberangkatan :)
Memang rencananya gak mau belanja-belanja sih saat ini, karena udah gak ada jatah lagi di bagasi. Tapi bole dong liat-liat. . .
Schipol juga lumayan gede, jadi harus diperhatikan kalau misalnya udah check in, harus liat dimana gate keberangkatan kita. Kalo engga bisa lari-lari tuh pas deket waktu boarding.

Pas waktu gw mau berangkat juga ternyata ngantri banget untuk ngelewati passport check-nya, ngantri-nya bisa panjang banget (bisa 30 menit sendiri untuk ngelewatin immigration check ini). Dan, luckily kali ini petugas yang ngecek paspor gw bukan cuman baek dan gak rese, tapi dia juga bisa bahasa Indonesia. Si petugas bule ini sempet nanya: 'Kamu tinggal dimana?' (Gw jawab: Belanda en Denmark), lalu 'Ngapain disini?' (jawab: Kuliah) dan terakhirnya bilang 'Terima kasi' (pake bahasa Indo) pas ngebalikin paspor gw ^^
Kali aje pacar/istri/kecengan dia orang Indonesia jadi bisa dikit . . .

Okeh, inilah pertama kalinya gw naek Singapore Airlines.
Dan untuk penerbangan long haul flight Amsterdam - Jakarta ada transit di Singapur.
Sengaja pas transit kemaren pilihnya rada lamaan (6 jam) supaya bisa liat-liat Changi dan juga janjian ketemuan ama Mey, my very bestfriend for ages.

Biasanya sih penerbangan middle east (Emirates, Qatar, Etihad airways) jadi pilihan utama kalo traveling ke/dari Eropa - karena biasanya mreka punya penawaran tiket paling ekonomis.
Pernah juga sih pake KLM tapi ternyata setelan kursinya gak terlalu nyaman dan makanannya juga biasa aja. Tapi kenapa kali ini pake SQ simply bcos ada promo tiket one way cuman 500 Eur. Lagian reputasinya SQ kan lumayan terkenal juga, jadi skalian nyobain deh ^^

Review untuk Singapore Airlines: Overall ***

Friendliness (Steward/ress) ****
kecuali 1 cewe yang entah kenapa consistently ignored me, yang laen smuanya oke.


Makanan *** (sejujurnya Emirates lebih enak)


Comfortness *** (Layar monitor untuk nontonnya lebih kecil daripada Emirates)

Friday, October 7, 2011

Ketinggalan pesawat [ tragedi berulang ]

Oke. Mungkin sudah rencana Tuhan kalo selama Eurotrip summer kemaren sebenernya gw menghemat banyak pengeluaran (terutama akomodasi) karena nginep gratis di tempat temen-temen CS. Dan juga dari sekian banyak flight yang gw ambil ke beberapa tempat selama 1 bulan e.g. Copenhagen-Bergen, Bergen-Stockholm, Stockholm-Roma, Nice-Copenhagen, gak ada satupun flight yang ketinggalan atau bermasalah.

Ini tiba-tiba aja dalam 1 minggu gw kehilangan 250 Euro (jumlah yang gak sedikit buat gw) gara-gara ketinggalan 2 flights!

Begini ceritanya . . . .

#1. Ketinggalan flight pertama (Genova, Italia)

Ini kejadian di akhir September, saat itu gw udah seminggu lebih stay di tempat temen di Itali- sebelum rencananya berangkat ke Barcelona untuk acara konferensi International Health.
Untuk acara konferensi itu gw udah nyiapin presentasi poster (jauh-jauh hari, diprint di Amsterdam seharga 70 Eur dan dilipet pas masuk pesawat sama petugas Ryanair. Vervelend!)

Beberapa jam sebelum keberangkatan ke aeroporto di Genova (Christoforo Colombo), gw udah nyiap-nyiapin barang-barang apa aja yang mesti dibawa. Soalnya gak lucu kan kalo ketinggalan belum tentu bisa diambil lagi.
Karena abis konfrens di Barcelona itu bakalan terbang balik ke Amsterdam lalu balik ke Indonesia rencananya. Flight yang direncanakan kalo gak salah mestinya jam 1430, tapi karena persiapan untuk jalan kesana sekitar 1 jam jadi rencana berangkat dari rumah jam 1130an.

aeroporto di Genova aeroporto di Genova penuh kenangan

Ke airport nya sendiri bisa pake bus, ngambil di statiun Principe atau Brignole, Genova.
Makan waktu sekitar 30 menit perjalanan dan tiketnya bisa dibeli on the spot seharga 6 Eur.
Then, ampir mendekati waktu keberangkatan, semua udah siap, gw cabut deh keluar dan meninggalkan rumah temen gw itu. Dan pas udah siap-siap mau keluar dari apartemen-nya, baru nyadar kalo poster gw ketinggalan ! Iya poster seharga 70 Eur yang mesti dibawa untuk presentasi konfrens itu !

Langsung panik deh, karena gw udah gak punya kunci untuk masuk lagi apartement-nya :(
Meanwhile, pas temen gw ditelp untuk balik ke rumah (sekedar bukain pintu buat gw, supaya gw bisa ngambil poster) it would take him at least 1 hour to get there.
Jadi pada saat dia balik pun kalo semisalnya gw berangkat ke airport udah mepet banget waktunya untuk masuk ke gate.

Lemes deh, selaen tiket seharga 60 Eur melayang, juga artinya mesti rebook flight baru untuk terbang ke Barcelona besokannya.

Dan gw dapet dengan harga 150 Eur :(
pake Iberia, berangkat dari Genova malem banget dan nyampe Barcelona tengah malem gitu.

What an expensive lesson.

#2. Ketinggalan flight kedua (Barcelona)

Beberapa hari setelahnya, gw menghabiskan hari-hari di Barcelona untuk konfrens sekalian reuni ama temen-temen international health. Poknya hari-hari yang menyenangkan hal, apalagi Barcelona salahsatu kota favorit (dulu pernah kesini tahun 2009) karena indah dan murah.
Iya standarnya di Spanyol, walaupun Barcelona termasuk kota besarnya, tapi masi termasuk murah lah, dibanding standar harga di Amsterdam misal (kalo Denmark mah gak usah ditanya. Skandinavia pasti lebih tinggi lagi standarnya).

plaza catalunyarevisit plaza Catalunya @Barcelona

Flight dari Barcelona balik ke Amsterdam ini mestinya pagi jam 0830, tapi karena gw udah tau bahwa airport Barcelona ini termasuk gedhe dari ujung ke ujungnya, jadi musti berangkat lebih pagi. Dan banyak tempat shopping-nya juga, jadi kalo berangkat awal kan bisa liat-liat, or belanja (kalo emang bener ada yg worth untuk dibeli :-)

Udah bangun pagi-pagi, barang-barang sih udah siap dari semalem.
Pas turun ke resepsionis baru sadar ternyata jam gw 1 jam lebih telat dari jam dibawah!

Resepsionisnya masi santai lagi ngasi tau : 'Owh keburu koq ...'

Padahal udah cemas tuh, pasti gak keburu nih.
Akhirnya ngejar-ngejar bus untuk ke airport deh, untungnya gak pake ngetem atau macet.
Nyampe airport sih masih keburu, hanya ... SALAH TERMINAL !

Dan dari Terminal 1 ke Terminal 2 itu musti pake bus lagi, dan makan waktu sekitar 20 menit perjalanan karena mayan jauh.
Jadi pas gw nyampe Terminal 2 itu cek in udah boarding time, dan gak keburu deh biarpun lari-lari masuk ke dalem :(

Akhirnya rebooking lagi untuk penerbangan beberapa jam setelah, and cost me 100 Eur !

So, setelah menghemat-hemat pengeluaran tetep aja in the end of the trip ngeluarin total cost 250 Eur untuk rebooking tiket *sighed* nasib ... nasib ...

Monday, September 19, 2011

lost things [post gak penting]

Setelah kesana kemari di daratan Eropa, akhirnya gw sadar kalo banyak barang-barang yang intentionally atau unintentionally tercecer di beberapa tempat.

Biasanya sih barang-barang yang ketinggalan/ terpaksa ditinggal (karena bagasi penuh)/ alesan lainnya sehingga gak bisa dibawa- jadi alesan supaya bisa beli barang baru.
Maklum penyakit yang satu ini (shopholic tingkat moderate-low) masi suka kambuh-kambuhan.
Padahal tau kalo traveling mestinya gak usah bawa banyak-banyak, tapi masiiiiii aja suka beli-beli barang sepanjang jalan kenangan.

Anyway, kemaren pun jalan keliling 4 negara, 8 kota selama 27 hari dengan travel luggage (standar Ryanair, berat max. 10 kgs) sebenernya bisa. Toch baju-baju gw kan ukuran kecil dan pas lagi musim panas pula. Host gw yang di Itali pun (dia cowo padahal) terkagum-kagum karena barang-barang keperluan 1 bulan bisa masuk koper ituh.

Tapi banyak juga yang mesti direlakan, ini dia list-nya yang keinget (biar nanti gak nyariin, kalo tiba-tiba nyariin)

1. Piyama beludru ungu kesayangan & top coklat mango (direlakan di airport Skavsta Stockholm, gara-gara kelebihan 1 kg!)
2. Kemeja jins & sepatu crocs item (ditinggal di Roma, juga karena udah beli sendal)
3. Celana pendek pink von Dutch kesayangan (ditinggal di airport Charleroi, juga gara-gara kelebihan beberapa ratus gram! *grrrrr*)
4. Celana pendek jins, dress pink, jumpsuit bunga-bunga (ditinggal di Nijmegen, tempat temen)
padahal baru dipake beberapa bulan *hiks*

Itu semua berkat Ryanair yang strict banget timbangannya- tapi ternyata gak di semua airport dicek ama petugasnya. Kemaren balik dari Genova ternyata gak di-cek tuh, jadi lolos aja kalo bawa lebih dari 10 kgs mestinya.

Juga gara-gara pengen beli oleh-oleh terutama di Cannes dan Nice, karena daerah situ terkenal dengan sabun-nya (atau produk yang berbau lavender) jadinya konsumtif deh beli sabun bio.
Lapar mata dot com judulnya.
Trus juga event summer sale yang gila-gilaan di Stockholm bikin orang (kaya gw) ikut-ikutan pengen beli barang, padahal mah gak butuh-butuh amat.
Akhirnya beli celana juga deh (abis murah banget, cuman 50 SEK) dan juga beli stocking (aneh, gw tergila-gila ama stocking yang lucu-lucu, padahal jarang dipake juga).
Di Itali apalagi, semakin parah, terutama pas masuk Zara, dimana kaos-kaos cuman 4-10 Eur, lalu tas kulit 20 Eur.
Juga ada dress yang gw taksir banget, pas dicobain juga ukurannya pas (jarang-jarang loh), tapi setelah gw beli- nyampe rumah agak menyesal. Abis disini kan gw jarang pake dress juga, abis kemana-mana pake transportasi umum rempong deh pake dress.
Akhirnya ditukerin deh (untung blanja di luar kalo nyesel bisa dibalikin barangnya).

Kemaren ini waktu di Kopen, biasanya kalo belanja suka ditemenin Alice, temen gw yang orang Aussie. Dia jadi 'watch-dog'-nya kalo misalnya barang yang dibeli gak ada di-list kebutuhan, dia akan meng-counter argumen gw. Dan akhirnya gw bisa jadi gak beli.
Tapi kalo belanja sendiri, gawat deh... tak terkontrol... dan setelahnya suka agak menyesal.

Okeh, demikian seputar curhat gak penting soal material (ampir sama sekali tidak berhubungan dengan traveling :-)

Ciao ciao!

Riomaggiore, ITRiomaggiore, Cinque Terre, IT
[pemandangan pas depan station kereta-nya Riomaggiore nih]

In the end, gw gak merasa kehilangan apa-apa sih, karena dapet banyak pengalaman tak tergantikan juga.
'Siapa juga yang butuh barang-barang duniawi kalo udah nyampe heaven on earth' , itu dia suara hati gw waktu nyampe Cinque Terre, Italia. Tempat yang luar biasa bellissima (indah) sampe rasanya mo nangis pas nyampe sana
*lebay mode on*
Juga pas nyampe Cannes, tempat dimana artis-artis hollywod ngumpul pas festival film... rasanya gw jadi cewe paling beruntung (se-Indonesia paling engga), bisa nginep di villa yang menghadap langsung ke laut dan diajak touring ama temen CS along french riviera. Pengalaman tak terkatakan deh pokonya . . . . . . . . .

" Things are just things. Don't get too attached to them. "
[taken from SNOTM]
Your Fonts - Font Generator