Thursday, January 31, 2013

Cambodia (1) .: prelude :.

Perjalanan ke Cambodia atau Kamboja ini sebenernya udah dari awal bulan Januari kemaren.
Tapi biasalah, sibuk sama kerjaan baru dan emang gw agak pemalas untuk nulis detail perjalanan.
Padahal ini salahsatu perjalanan yang paling berkesan. Banyak ketemu temen baru yang menarik selama perjalanan. Trus juga pengalaman-pengalaman gak terlupakan seperti menikmati matahari terbit di kompleks candi Angkor.

Karena tulisan yang gw buat di notes gak terlalu sistematik, akhirnya gw kebingungan sendiri pas mau nulis ulang. Tulisan gw ternyata bener-bener random sampe penulisnya pun gak bisa baca... hehe..

Secara garis besar, perjalanan gw ke Kamboja dimulai dari Phnom Penh lalu berakhir di Siem Reap.

Hanya 4 hari aja dihabiskan di Phnom Penh, dan pada saat gw nyampe bandara cuacanya bagus banget! Pertanda yang bagus di awal : )
Hotel yang gw booking udah mengorganisir supaya ada orang yang jemput sewaktu gw nyampe di bandara internasional Phnom Penh.
Orangnya ramah dan baik banget, trus gw dibawa deh naek tuktuk ala Kamboja untuk pertama kalinya. Dalam waktu 10 menit aja semenjak gw nyampe di Kamboja, gw udah kehilangan topi yang telah menemani traveling selama 2 tahun lebih. Yup, topi gw hilang terbang dibawa angin pas naek tuktuk itu.

Hotel tempat gw nginep ini letaknya di tengah kota, resepsionisnya masih muda banget dan bahasa Inggris nya lumayan. Walaupun ada kata-kata yang gw gak ngerti kalo dia ngomong.. hehe.
Dia juga friendly jadi keesokan harinya gw minta dia ajarin beberapa kata dalam bahasa Khmer.

Semua orang (supir tuktuk, resepsionis, owner hotel) bilang kalo tampang gw kaya orang Khmer.
Jadi kalo gw diem gak mengeluarkan sepatah kata pun pasti orang akan ngajak ngomong pake bahasa Khmer.

Hari pertama gw nyampe hotel langsung tepar bobo di kamar selama beberapa jam. Abis flight gw dari Bandung trus beberapa jam transit di bandara Low Cost Kualalumpur. Lecek juga rasanya setelah bermalam bersama para budget traveler dari seluruh dunia.

Udah gitu keluar muter-muter kota Phnom Penh, yang sebenernya gak terlalu besar juga.

Mengetahui sejarah kelam Kamboja, dimana mereka mengalami pemerintahan komunis dibawah Pol Pot pada pertengahan tahun 1970-an, maka gw sedikit takjub melihat ternyata kota Phnom Penh sendiri lumayan maju infrastrukturnya.
Memang gak semaju kota besar laennya di Asia Tenggara, tapi lumayan lah. Jalanannya besar dan bersih, ampir gak liat kondisi jalan bolong seperti yang ada di jalan Pagarsih, Bandung.

Beberapa hari setelahnya, gw ketemu sama seorang arsitektur asal British (kita kenalan di taman) yang bilang kalo Phnom Penh emang bagian dari negara Kamboja yang kondisinya paling lumayan.
Sisanya di perifer masih terkesan sangat terbelakang dan miskin.
Siem Reap yang pusat turis karena deket sama kompleks Angkor pun gak berkembang seperti Phnom Penh. Hanya di pusat kotanya aja yang berdenyut karena aktivitas para turis.

Anyway, gw akan mulai cerita kali ini dari Siem Reap instead of Phnom Penh.
Bukannya Phnom Penh gak berkesan sih. Di sana gw sempet mengunjungi Tuol Sleng genocide museum, atau area S-21. Ada kesan campur aduk setelahnya; gak percaya, sedih, takjub, miris, dst.

Walaupun gw pernah mengunjungi kamp konsentrari di Dachau sebelumnya, tapi teteup aja gw gak terbiasa menyaksikan brutalisme secara sistemik yang terorganisir.

Bahkan menurut gw, Hitler agak sedikit lebih mending karena yang jadi target adalah orang Yahudi, atau kebangsaan lain (atau warganegara Jerman yang disabel).
Tapi Pol Pot mentarget semua orang Kamboja, yang dianggap musuh politiknya. Dan caranya walaupun sama-sama gak berperikemanusiaan tapi kadarnya lebih brutal. Menurut gw sih...

Seperti contohnya, orang-orang yang akan dibunuh dirantai kaya anjing, lalu digiring ke suatu tempat dan dipukulin sampe mati (karena mereka gak mau buang-buang peluru untuk ngebunuh orang).
Hitler masih agak mending karena caranya yang mengirim ke ruang gas pake sianida.
Tapi tentu aja, brutalisme diantara keduanya sama parahnya dan gak bisa ditolerir.
Selama kepemimpinan Pol Pot ini ditaksir ada sekitar 1,7 - 2 juta orang Khmer yang mati terbunuh.
Jumlah yang fantastis mengingat populasi rakyat Khmer yang ada saat itu cuma 6 - 7 juta.

Baiklah, supaya kita gak terlalu gloomy setelah baca cerita tentang genocide itu, maka akan gw suguhkan gambar-gambar dari Siem Reap . . . .



.: the glorious Angkor Wat :.


Memang ada orang yang bilang kalau Angkor Wat atau candi Angkor mirip sama Borobudur. Mungkin sih, tapi dengan skala yang jauh lebih besar! (Angkor sendiri artinya kota).
Untuk amateur archeological geek seperti gw, ini salahsatu pengalaman artgasm yang intens mengingat kompleks Angkor ini dibangun pada masa 9 abad setelah Masehi. Dimana mereka belum menemukan teknologi canggih yang bisa membantu manusia untuk proses konstruksi.

Yang jauh lebih impressive daripada bangunan candinya sendiri, sebenernya adalah danau buatan yang dibangun di sekeliling kompleks candi Angkor. Danau buatan manusia ini sengaja dibangun untuk keperluan irigasi, karena pada jaman dahulu ibukota dari Kampuchea (atau kerajaan Kamboja) emang terletak di Siem Reap.
Dan karena sistim irigasi yang tergolong maju pada jamannya itu, kerajaan di Siem Reap bisa bertahan hingga 8 abad (mulai abad ke 9 hingga 17 setelah Masehi).


.: dragon boat :.


Telah gw singgung sebelumnya, kalau banyak kata dalam bahasa Khmer yang sama atau mirip dalam bahasa Indonesia. Seperti contohnya Psar untuk pasar. Kata yang sama artinya : naga, garuda.
Seperti yang telah kita ketahui dalam pelajaran sejarah di SMA yang sangat membosankan, bahwa Indonesia di abad 7 -13 setelah Masehi juga merupakan kerajaan Hindu - Budha.
Ada banyak candi peninggalan kerajaan Hindu - Budha, dan salahsatu yang paling terkenal yaitu candi Borobudur (peninggalan kerajaan Budha) dan candi Prambanan (peninggalan kerajaan Hindu).

Bentuk bangunan candi yang gw liat di kompleks Angkor sendiri lumayan mengingatkan akan Prambanan (yang merupakan peninggalan kerajaan Hindu).
Elemen seperti Garuda, Visnu, Hanoman juga bisa ditemui di bas relief candi-candi yang tersebar di kompleks Angkor.

Tapi ada satu elemen yang khas membedakan candi buatan Angkor, yaitu Apsara. Apsara bisa diartikan sebagai dewi khayangan yang tugasnya menghibur mereka yang masuk nirwana (surga).
Apsara ini digambarkan cantik dan bertelanjang dada, dengan perhiasan yang menarik.
Dalam bas relief di candi sekitar Angkor, sebegitu detailnya Apsara ini dilukiskan sampai perhiasan tiap perempuan berbeda.


.: Apsara relief in Bayon temple :.


.: Apsara relief in Angkor Wat :.

Menurut buku panduan wisata, bulan Januari dianggap saat paling tepat untuk turis mengunjungi Kamboja. Karena pada saat itu curah hujan sudah rendah (akhir musim penghujan), tapi juga cuaca belum terlalu panas.
Akibatnya tentu aja banyak turis berduyun-duyun dari seluruh penjuru dunia.
Gerombolan turis dari China, Taiwan, Jepang, Rusia, UK mendominasi sebagian dari pemandangan candi yang gw singgahi.
Gak heran kalau anak-anak kecil penjual cinderamata di kawasan Angkor ini jago beberapa bahasa sekaligus. Mereka bisa ngobrol pake bahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan Melayu dengan para turis. Sambil menawarkan dagangan secara persuasif, anak-anak ini juga suka ngajak maen turis yang sekiranya mau meladeni.

Karena banyak anak-anak kecil yang mencari nafkah padahal seharusnya sekolah, di Phnom Penh ada NGO yang berkampanye gerakan : Think Twice! Let adults earn, and children learn.
Lebih jauh tentang itu akan gw tulis dalam liputan khusus tentang Phnom Penh (kalo inget dan kalo sempet).




Sebagai penutup, gw mau cerita sedikit tentang monks atau biksu.
Karena bangunan candi dianggap bangunan tempat pemujaan bernilai sakral bagi pengikut Budha, maka banyak biksu juga yang berkunjung ke kompleks Angkor ini untuk berdoa.

Yang gw tau, sebagai biksu biasanya kita gak boleh bermewah-mewah. Hidup sesederhana mungkin, punya barang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Bahkan gaya hidup biksu yang ekstrem banget (menurut gw) adalah mereka menggantungkan dari orang untuk makanan sehari-hari.

Nah, dari sekian pertemuan dan pengamatan selama gw keliling di kompleks Angkor (maupun selama di Kamboja) ada yang cukup menarik. Yaitu, beberapa biksu yang gw temui punya kamera SLR yang canggih banget! Saking canggihnya sampe gw bertanya-tanya, siapa ya yang sekiranya ikhlas banget menyumbangkan kamera seperti itu. . . (gw mau minta juga : )

Tuesday, January 22, 2013

random things in January

Rasa-rasanya tahun 2013 bakal membawa banyak perubahan yang bagus dalam hidup gw.

Baru juga memasuki bulan pertama, udah banyak hal yang berkesan terjadi. Ada yang gak enaknya juga sih; seperti ilang telfon selular di Kuala Lumpur (padahal cicilan-nya belum lunas *hiks*). Tapi hal positif-nya lebih banyak dan jauh lebih berharga.

Dari pada penasaran, mending langsung ajar baca dibawah random things yang terjadi di bulan Januari ini ya…


yes i do love horses !
especially with Angkor Wat as a background : )


#1. Cambodia

Yup, Cambodia atau Kamboja udah jadi inceran tempat destinasi gw untuk sekian lama. Selaen pengen dari jaman baheula ziarah ke daerah World Heritage site Angkor, juga penasaran sama sejarah kelam Khmer Rouge (Khmer Merah) yang menghantui negeri ini di pertengahan tahun 1970an.

Selama di Kamboja selama sekitar 1 minggu emang cuman 2 kota yang gw kunjungi, Phnom Penh dan Siem Reap.
Kebanyakan turis ngambil jalur klasik masuk dari Siem Reap dan keluar dari Phnom Penh, atau sebaliknya.

Walaupun banyak kejadian menarik yang pengen gw ceritakan, tapi belum sempet ditulis karena saking sibuknya kegiatan pas udah nyampe Bandung lagi.

Tapi ada beberapa hal yang pengen dibagikan aja yaitu:

- Betapa dekatnya sejarah Kamboja dengan Indonesia.

Kalau dirunut dari sejarah Kamboja di abad 8 - 13, ternyata banyak hal yang menunjukan kedekatan dengan kerajaan Hindu Budha di Indonesia.
Bahkan disebutkan dalam catatan sejarah Kamboja ada seorang raja kerajaan Angkor  di abad ke 8 (Jayawarman II) yang menempuh pendidikan di kerajaan Syailendra di Jawa.

Pada masa kejayaan kerajaan Angkor sendiri, luas wilayahnya mencakup sebagian dari Thailand dan Vietnam. Itulah sebabnya beberapa kebudayaan mereka (dan bahasa) juga mirip-mirip.

Tapi karena banyak perseteruan dan konflik politik terjadi, akhirnya luas wilayah Kamboja yang sekarang lebih kecil daripada dulu di masa keemasannya.
Rakyat Kamboja sendiri masih menyimpan banyak kegetiran, karena walaupun dulu mereka sangat berjaya dan mampu menaklukan Thailand (*) tapi sekarang situasinya jauh tertinggal dari negara tetangganya.

(*) Siem Reap sendiri artinya Siam/Thailand yang dikalahan

Muay Thai boxing contohnya, jauh lebih terkenal di kalangan internasional sebagai martial arts dari Thailand. Padahal Kamboja juga punya martial arts serupa (yang sebenarnya asal muasal dari Thai boxing).

Dan, katanya sih, jangan sekali-sekali menyebutkan bahwa Thailand lebih maju/bagus/ punya ini itu di depan masyarakat asli Khmer!
Mereka gak suka banget denger itu (tapi karena kebanyakan orang Khmer gak ekspresif, mungkin bakal diem aja tapi dongkol dalem hati).

Kurang lebih seperti perasaan kita yang dongkol kalo Malaysia dipuji-puji punya kesenian semacam tari Pendet, reog Ponorogo dst (padahal itu sebenernya asli dari Indonesia!)

#2. New friends along the way

Seperti biasanya, kali ini gw jalan sendirian. Walaupun di awal perencanaan sebenernya seharusnya gw jalan bareng temen. Tapi at the last minutes, gak ada kabar dari temen gw tuh apakah dia jadi atau engga. However karena gw udah halfway beli tiket pp yowes jalan sendiri ajah. Lagian I was too excited to start my trip :)

Ternyata jalan sendirian itu gak murni selalu sendirian juga. Sepanjang jalan gw menemukan banyak orang menarik yang bisa dijadikan teman seperjalanan.
Waktu di Phnom Penh gw kenalan sama cewe Prancis di hostel, akhirnya kita sempet jalan bareng juga di Siem Reap karena rute yang sama.
Pas malem terakhir di Siem Reap kita belanja bareng ke night market, had dinner tus dia nganterin gw ke hotel. Waktu pisahan rasanya sedih banget, padahal kenal deket cuman beberapa hari doang.
Most of times di Phnom Penh sih mengeksplorasi kota sendirian, tap kotanya sendiri gak terlalu besar.

Ada juga satu cewe UK di hostel yang tadinya sempet jadi kandidat untuk jalan bareng, tapi on second thought gak jadi.
Kenapa? Karena gw gak terlalu suka ama dia.
Alesannya? Dia sok tau banget soal Asia Tenggara.
Dia udah pernah ke Malaysia dan sekarang tinggal di Singapura untuk beberapa bulan. Lalu dia cerita dengan sotoynya kalo makanan yang enak di Malaysia itu rendang, rujak dan nasi lemak. Padahal dua makanan yang disebut pertama itu kan asal Indonesia!
Gitu deh bule kalo gak pernah nyampe Indonesia gak usah sok tau (jadi sewot gw jadinya!)

On the way ke Siem Reap kenalan juga ama satu cowo British dan satu cowo Jerman. Si cowo Jerman agak kemudaan buat gw, padahal tampangnya sih lumayan. Sedang si cowo British gak beda jauh umurnya (kayanya).
Akhirnya gw ketemuan lagi sama mereka berdua pas di Siem Reap, saking kecilnya tuh kota.

Lalu di Kuala Lumpur gw kenalan sama satu cewe asal Cheko, dan kita jadi temen jalan karena ngerasa cocok. Dia baru pertama kali nyampe Asia (sebelumnya stay di New Zealand pake working holiday visa). Jadi waktu gw ajakan makan pinggir jalan di kawasan Bukit Bintang mungkin dia ngerasa agak takut (keracunan) juga. Padahal kondisinya jauh lebih terawat daripada street food di Bandung.
Setelahnya dia malah ketagihan makan street food dan pengen menjajal banyak jajanan murah di Chinatown.

#3. New year, new job

Setelah resign dari kerjaan di akhir bulan November kemarin tadinya gw mau rehat dari rutinitas bekerja selama beberapa bulan. Bahkan udah booking tiket ke India segala untuk bulan Feb.
Ternyata ada kabar dari satu organisasi internasional untuk gabung jadi konsultan.
Karena ini kesempatan yang bagus juga untuk karir gw kedepannya, sepertinya gw harus menunda dulu keinginan buat exploring India.

Gak terlalu kecewa juga sih, karena gw emang agak takut untuk jalan sendirian ke India. Terutama setelah ada kasus pemerkosaan massal itu, walau sebenernya banyak orang juga yang tetep mengunjungi India setelah kasus tsb.
Harapan gw sih kalau bisa punya temen buat jalan kesana, kalau bisa cowo (dan kalau bisa seseorang yang tidak menyebalkan : ) supaya lebih aman perasaan.

Sunday, December 23, 2012

Places of 2012

Penghujung tahun 2012 sepertinya momen yang cocok untuk bikin tulisan tentang beberapa tempat yang sempat dikunjungi selama 12 bulan ke belakang.

Sebagian memang bukan tempat yang baru pertama kali dikunjungi, tapi tetap aja terkesan berbeda -karena perubahan yang sejalan dengan bertambahnya waktu (dan juga jumlah manusia, atau perilaku penduduk).

As always, karena tulisan sbb gak dimaksud untuk dijadikan panduan perjalanan (apalagi gw sadar koq bukan travel writer yang baik) melainkan sekedar kilas balik aja dari beberapa perjalanan yang gw lakukan selama setahun ini.

Here we go . . . . .   .    .

.: pollution, traffic jams, crowded population :.
#1. Jakarta, ID

Jakarta oh Jakarta.
Entah udah dari tahun kapan gw sering bolak balik ke kota ini, karena cuman makan waktu 2-3 jam perjalanan dari Bandung. Ini adalah salahsatu kota yang punya hubungan love and hate relationship sama gw. Love karena disini banyak kesempatan kerja kalau mau karir yang cepat berkembang, juga untuk penggila belanja (seperti gw, yang udah tobat-kumat) banyak diakomodasi oleh sejumlah mall.
Hate, dengan alasan yang jauh lebih banyak: macet, polusi (air, udara, suara), kesenjangan yang sangat lebar antara kaya-miskin, tata ruang kota yang semrawut dst dsb you name it all the problems that could ever exist in big city.

Yah kebanyakan kunjungan gw ke Jakarta selama tahun 2012 emang untuk keperluan bisnis. Karena kepaksa (dan juga ditanggung kantor) tentu tak terhindarkan pertemuan dengan segala hal yang sebenernya gw benci (macet, polusi, berisik) demi bisnis trip.
Jauh di dalam lubuk hati yang tedalam, sebenernya gw menyimpan rasa kagum dan juga kasihan sama sekian juta orang penduduk Jakarta, yang setiap hari mampu bertahan dengan segala permasalahannya.
Berangkat pagi pulang malem, menerjang kemacetan yang bikin putus asa orang kaya gw, belum lagi diperparah oleh banjir di kala musim hujan.

Somehow, dengan adanya pasangan Gub-Wagub baru- sepertinya banyak penduduk yang optimis akan ada perubahan berarti untuk Jakarta. Seperti juga gw, yang sangat terharu dengan pernyataan Jokowi yang mengedepankan semangat melayani sebagai seorang pemimpin.

Banyak hal yang berubah dari semenjak kunjungan gw pertama kalinya ke Jakarta (mungkin 25 tahun yang lalu). Tumbuhnya gedung-gedung pencakar langit, bertambahnya jumlah kendaraan pribadi di jalan, berkurangnya pepohonan di kawasan perkotaan.
Apalagi sekitar tahun 1998 dimana gejolak reformasi memanas, banyak pergolakan (dan pertumpahan darah) terjadi di sini.

Waktu itu umur gw masih 17 tahun dan baru masuk kuliah.
Dan angkatan '98 adalah salahsatu angkatan yang paling historis, dimana banyak temen-temen gw yang kuliah di luar negri mencari keamanan- sementara gw melanjutkan kuliah kedokteran di universitas negri.

Mudah-mudahan dibawah kepemimpinan yang benar, Jakarta (dan Indonesia) bisa dibawa ke perubahan yang lebih baik. Itu harapan gw untuk tahun mendatang.



.: soerabaja :.
#2. Surabaya, ID

Selama usia gw (yang terbilang masih muda ini : ) mungkin udah sekitar 3-4 kali mengunjungi Surabaya. Mostly untuk keperluan jalan-jalan tentunya.
Di tahun 2012 ini, kepindahan gw ke Surabaya berhubungan dengan pekerjaan.

Lokasi kerja gw sebenernya di Sidoarjo, tapi kantor provinsi ada di Surabaya.
Akibatnya sering banget wara wiri ke kota Pahlawan ini.

Pertama kalinya tinggal di Surabaya (untuk waktu yang lama) rasanya gak berasa jauh dari rumah. Makanannya oke, orang-orangnya ramah walaupun bicaranya medok (hehe), dan surprisingly infrastruktur kotanya termasuk maju (dibanding Bandung).
Sayangnya, walaupun termasuk kota besar- Surabaya gak punya sarana transportasi massal yang bisa diandalkan seperti contohnya busway/ KRL.
Ada sih kereta komuter, tapi frekwensinya kurang banyak. Angkot (yang disebut Len) juga gak terlalu populer dipake penduduk. Kebanyakan lebih suka pake kendaraan pribadi (motor/ mobil) atau pake taksi.
Padahal beberapa kali pengalaman gw pake Len selalu positif, gak ada pengalaman buruk- supirnya gak ugal-ugalan (gak kaya supir angkot 05 di Margahayu, Bandung) dan tarifnya fixed. Juga sebagai penumpang cewe, gw merasa aman walaupun pulang sendiri malem.

Salahsatu observasi gw juga, penduduk keturunan (Chinese) Surabaya terbilang eksklusif, gak berbaur/ mingling seperti layaknya di kota Bandung atau Jakarta.
Terus terang gw jadi agak sebel sama golongan yang seperti ini.
Entah kenapa, mungkin karena gw dibesarkan di keluarga yang berjiwa nasionalis jadinya gak pernah membeda-bedakan/ menganggap satu ras lebih superior dibanding yang lain.
Kalau udah lahir di Indonesia yah namanya tetap penduduk Indonesia.

However
, sedikit banyak jadinya gw merasa beruntung dilahirkan di Bandung yang mengakomodasi cita rasa nasionalis. Dengan pergaulan yang luas jadinya mudah buat gw untuk masuk ke golongan mana aja.

Tapi banyak hal yang gw kagumi dari Surabaya koq. Tata kotanya lebih jelas, pemkot memelihara bangunan jaman Belanda sebagai heritage sites, contohnya di kawasan Darmo, JMP, dan sekitar House of Sampoerna.
Pengalaman gw ikutan tur Surabaya Heritage Track yang merupakan corporate social responsibilty (CSR) dari House of Sampoerna, semakin memperkukuh keyakinan gw bahwa warisan budaya dipelihara dengan baik oleh pemkot-nya.

Waktu di Surabaya, gw sempet ketemuan dengan satu traveler asal Swiss- kita sebut aja namanya P.
Owya, seminggu sebelumnya P ini udah mengunjungi Bandung, kota kelahiran gw.
Lalu gw tanya, apa pendapat dia tentang Bandung dan Surabaya.
Dia bilang, (tentu aja) banyak banget perbedaannya. Pemkot Surabaya terlihat jelas perannya dalam mengurus kota. Sedang Bandung, seperti kota yang gak ada pemerintahnya.
Di Surabaya, ada city tourism centre/office - dimana kita bisa dapet informasi gratis tentang spot wisata, gimana kalau mau eksplor sendiri atau ikut tur dalam kota atau seputar Jatim. Bahkan tersedia leaflet gratis (dan ada website-nya juga). Informasi tsb paling engga dalam 2 bahasa: Indonesia dan Inggis.
Sedangkan pengalaman P di Bandung ? Dia ditawarin sama 1 petugas yang kerja di city tourism centre untuk ikut paket tur dan membayar sejumlah uang, pas dia mau nanya tentang informasi wisata.

Sebagai orang Bandung, tentunya gw merasa sangat MALU.
tapi yah emang begitulah pemkot Bdg. gak ada waktu untuk membenahi kota karena sibuk ngurusin Persib ...


.: beachwalk, Kuta :.
#3. Kuta-Legian, Bali, ID

Alasan utama kepergian gw ke Bali di tahun 2012 ini adalah: dapet tiket murah.
Ternyata budget flight macem AirAsia bikin orang jadi compulsively booking tiket yang belum tentu juga sesuai dengan kebutuhan.
Yah sebenernya Bali merupakan destinasi wisata yang gak membosankan walaupun sering dikunjungi.
Tapi kesan yang gw dapat semakin ke sini adalah, Bali yang semakin kapitalistik dan turistik.

Apalagi mungkin nama pulau Bali going international setelah dijadikan salahsatu lokasi shooting film Eat, Pray, Love (yang diambil dari buku dengan judul serupa).
Jadi banyak orang/ turis internasional umumnya, mengharapkan pengalaman spiritual yang sama, seperti pengalaman tokoh yang diperankan oleh Julia Roberts.
(btw gw sendiri belum baca buku maupun nonton film-nya, katanya sih bagus tapi .... )

Perubahan mencolok yang gw perhatikan, adalah di sepanjang jalan Legian, Kuta- banyak banget franchise toko swalayan (e.g. Indomart, Alphamart, dkk) setiap 50 meter.
Kesannya jadi acak-acakan, gak teratur dan lagi-lagi, mencerminkan semangat kapitalistik.
Apa memang gak ada aturan yang jelas tentang pendirian toko seperti itu?

Selain itu ada mall baru juga dibangun di dekat pinggiran pantai Kuta. Konsepnya hampir mirip dengan Centro yang juga dibangun dengan bagian menghadap pantai.
Tapi di Beachwalk, itu nama kawasan perbelanjaan yang baru dibangun tsb, lebih mengedepankan konsep Go Green. Ada pesan-pesan tentang menjaga kelestarian lingkungan dan menginisiasi penggunaan sepeda sebagai sarana transportasi.
I like it.
Yang perlu diperhatikan oleh pengelola mall juga, mungkin supaya gak menyetel AC terlalu dingin di bagian dalam mall. Karena toh buat apa mendengungkan konsep Go Green tapi boros listrik dengan penggunaan AC yang berlebihan?



.: Bromo, Tengger :.
#4. Bromo, ID

Banyak hal yang bisa dikagumi dari Indonesia; makanan enak, cuacanya nyaman sepanjang tahun, dan kekayaan alam yang gak ada habisnya.
Salahsatu daerah kunjungan wisata yang cukup dikenal di kalangan turis internasional adalah Bromo. Yah, Bromo dan Ijen memang cukup dikenal sampe ke mancanegara berkat publikasi tulisan para pelancong asing yang mampir kesitu.

Wisatawan dalam negri sendiri biasanya hanya mengunjungi untuk melihat keindahan pemandangan Bromo (dan berfoto dengan latar belakang gunung sebagai buktinya : )
Sedang wisatawan luar biasanya juga mengenal lebih jauh tentang latar belakang penduduk asli yang berdiam di kawasan pegunungan Tengger tsb.
Saat mengunjungi Bromo di awal Agustus 2012, penduduk asli sekitar Tengger memang sedang merayakan festival tahunan Kasada.
Walaupun saat itu sebagian besar umat muslim di belahan dunia sedang melaksanakan ibadah puasa, suasana demikian tidak terlihat di kawasan Bromo. Sebaliknya, suasana cukup ramai dengan banyaknya orang yang berjualan makanan/souvenir sehubungan dengan perayaan Kasada.

Indonesia memang unik, menyimpan berbagai macam kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda di setiap penjurunya. Sudah seharusnya kita belajar menghargai keperbedaan itu dan menjaganya sebagai suatu kekayaan daerah. 
Jadi, kenapa dong masih ada komplotan seperti FPI yang ingin supaya semuanya sama dan seragam?

.: changi airport :.
#5. Changi, SG

Katanya ini the best airport in the world.
Singapura tahun 1970 mungkin cuman sebuah kampung, gak punya apa-apa yang bisa dibanggakan. Beda dengan Indonesia yang waktu itu sudah 25 tahun merdeka dan dalam masuk dalam tahap pembangunan oleh pimpinan Orde Baru.
Tapi di tahun 2012 ini, jelas sudah bahwa Singapura bergerak maju dengan sumber daya yang terbatas: Lahan terbatas, miskin akan sumber daya mineral, cuman segelintir penduduk (ya segelintir kalo dibanding penduduk Indonesia yang jumlahnya 230 juta) yang menghargai arti kata kerja keras.
Changi, yang menjadi tempat transit berbagai maskapai dari belahan penjuru dunia, sungguh dibangun dengan fasilitas yang jauh memenuhi syarat. Dengan fasilitas yang nyaman, yang bisa diakses oleh turis backpacker sampai tingkat para pebisnis, gak heran kalau Changi mendapat julukan bandara udara terbaik di seluruh dunia.

Yup, salut untuk Singapura dan ikon-nya yang mendunia. Walaupun tempat ini bukan top destinasi wisata bagi gw tapi Changi memang layak untuk dikunjungi sekalipun hanya buat transit.



.: malapascua :.
#6. Cebu, PH

Kalau gw bisa milih terlahir kembali, mungkin lebih cocok terlahir kembali sebagai orang Filipina. Yah mungkin kehidupan sebagai orang Kristen akan lebih mudah juga di Filipin, tapi manusia biasanya kan akan menjadi lebih kompetitif kalau dibesarkan dalam lingkungan yang menantang.
Mungkin itu juga yang bikin gw menjadi seperti apa adanya sekarang, karena terlahir di Indonesia.

Walaupun pemandangan alam Filipin kurang lebih mirip dengan Indonesia, tapi sepertinya pemerintah sana mengelola lebih profesional sebagai tujuan wisata.
Gampang banget cari informasi tentang tempat-tempat wisata di sana, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh pihak swasta.

Turis pun bisa memilih, mulai dari yang low cost budget seperti para backpacker traveler maupun turis berkantong tebal, cukup variatif pilihan wisata yang ada.

Di daerah Cebu dan Malapascua, dua tempat yang gw kunjungi, memang jadi tujuan utama turis untuk liburan. Banyak turis dari Hongkong, Korea, Jepang yang 'melarikan diri' kesini, untuk mencari cuaca yang lebih jinak saat musim dingin. Selain itu standar hidup yang gak terlalu mahal (bagi turis asing) bikin mereka gak malu-malu menghabiskan duit selama mengunjungi Cebu. Cebu city sendiri bertaburan banyak mall seperti Jakarta.

Secara personal, gw sendiri tergila-gila pedicure selama di Cebu karena murah banget.
Harga 1 paket pedicure yang pernah gw coba di mall adalah 90 Ph pesos ~ 20 rb rupiah.
Kalau di salon pinggir jalan malah ada yang 60 Ph pesos.
Gak heran kalo kebanyakan cewe di Cebu (yang gw liat) punya kuku kaki yang tertata rapih hasil pedicure di salon. Abis murah banget sih!

Cewe Filipina juga sangat memperhatikan penampilan, seengga-engganya kebanyakan yang gw liat di Cebu city. Mereka selalu keliatan dandan (pake make up), stylish, up to date (ngikutin mode) dan bawa cermin kecil ke mana-mana!

Seperti yang orang-orang juga bilang, mungkin lebih cocok kalau gw terlahir sebagai Filipina :-)

Thursday, December 13, 2012

get there and get lost [Ams, NL]

denger-denger katanya multiply mau ditutup ya ?

orang jadi mindahin semua tulisannya ke tempat semacam blogspot.

tulisan gue sendiri di multiply gak banyak sih, karena penggunaannya kurang friendly user buat orang gaptek seperti gue.

tapi ada beberapa yang lucu juga kalo dibaca lagi, jadi gue pindahin aja beberapa tulisan, sekedar untuk nostalgila : )

buat yang mau liat langsung link-nya di multiply bisa klik disini
http://derwanderlust.multiply.com/journal/item/5


tertanggal Nov 27, 2011

lokasi: Diemen, The Netherlands




Salah satu keahlian atau bawaan gue yang gak diragukan lagi adalah : get lost alias tersesat.

It is true that woman just not get along with map (at least in my case).

Jadi solusinya adalah, kalau gue sedang jalan sendirian -dan gak punya orang lain yang bisa diandalkan untuk bantuin baca peta- gak ada pilihan laen kecuali banyak bertanya daripada tersesat/ sotoy.

Untungnya di Belanda semua orang rata-rata ngerti bahasa Inggris, sampe tukang sapu jalan juga bisa.
Tapi sering juga karena malu banyak nanya terus terusan, gue tetep berusaha keras (sebisa mungkin) mencoba mengandalkan peta (dan akhirnya tersesat, juga).
Entah kenapa, tapi harus diakui ... kelemahan ini paling engga menghindarkan gue dari kemungkinan ngelamar profesi jadi supir truk (yang menurut epidemiologi HIV di Indonesia termasuk salahsatu kelompok resiko tinggi.)


Eniwei, akhir-akhir ini ada dua kejadian nyasar.
Baru 2 hari kemaren, pas ngambil Dutch residence permit di Orlyplein.
Karena gw abis balik dari Den Haag, jadi dari Den Haag Centraal langsung ambil train arah Ams Centraal dan turun di station Sloterdijk.

Nyampe Sloterdijk, kluar station udah liat peta sih.
Liat peta, dengan yakin gue (ternyata) menuju arah yang salah.
Setelah jalan 10 menit dan gak nemu alamat, lalu nanya orang (2 orang diantaranya gak yakin sama jawaban mereka).
Lalu masuk gedung, tanya satpam. Dia bilang deket sama station.
Akhirnya berjalan balik lagi ke arah station Sloterdijk dan ternyata dong..... gedung yang dicari letaknya pas sebelahan ama station ituh.
Ampun deh..... ada apa sih dengan kemampuan baca peta gue.

Kejadian kedua, baru berlangsung hari ini.
Dan ini hari pertama gw liat salju di Ams !!!! *yipppeeee*
Mayan dingin loh.... 1 drajad gitu loh. Tapi teteup harus brangkat keluar untuk reparasi sepeda.
(btw reparasi = bahasa blanda nya jg reparatie)
Jadi dibawalah itu sepeda- dituntun- sejauh 1.8 km, tapi gak kerasa sih, karena cuacanya adem.... kalo pake kostum yang mendukung sih gapapa.

Yang jadi masalah, nyari alamat yang dituju.....  walopun sudah konsul sama Google map (dan dicatet- gabung sama daftar blanjaan) sperti biasa gw mengalami disorientasi tempat lagi.

Tanya orang (stelah muter di tempat selama 5 menit), akhirnya ada cewe bilang lewat sono. Jalan 350 meter, koq rasanya belum nemu juga, tanya orang lagi. Taunya dia juga gak tau.

Trus ada opa2 yang di dalem rumah ngliatin gue, (kesian kali liat gue muter-muter gak jelas padahal di luar salju). Sepedanya gue parkir depan halaman dia tus gue samperin aja.

Dia baek deh, langsung keluar rumah. Tapi gak bisa bahasa Inggris ! Alamak...

Sementara bahasa Belanda gue hanya sebatas Dankje wel dan Goede morgen ajah, jadi kurang lebih ini hasil pembicaraan kita :

gue (pake bahasa Inggris): Permisi mau tanya kalo Boskriekoord itu belah mana ya?

opa (pake bahasa Belanda): Sepeda elu tuh ban nya kempes ! (sambil nunjuk sepeda gw)

g :  Ehmm... waduh gw gak ngerti. Jadi alamat ini masi jauh ya dari sini?

opa: Kalo mau sepedanya dipompa. Ada tempat reparasi sepeda deket sini. (dia bilang reparatie dan fiets.... aha!)

g : Iya, gw mau bawa sepeda ini ke tempat reparasi. Adanya di alamat ini. (sambil ngasi liat peta yang gue bawa)

opa: Ada tempat reparasi sepeda deket sini, elu bisa lurus kesana tus belok kanan. Deket gereja.

g : Oke makasih. Tapi, kalo alamat Boskriekoord itu dimana yah?

opa: OOOwwwwhhhhh Boskriekoord itu deket. Dari sini lurus, tus belokan ketiga yang ada meneer itu belok kanan. (Akhirnya..... nyambung juga walaupun beda bahasa )

g: Ok!  Dankje wel !



Si Opa baek juga mau bantuin gue, walopun dia gak bisa bahasa Inggris.
Mana dibelain mesti keluar rumah, dia gak pake jaket dan nawarin pengen pompa ban sepeda gue yang kempes lagi ! (Itu kalo gw gak salah nangkep, or mungkin aja gw salah interpretasi).

Okeh.

Sekarang kita masuk ke pelajaran bahasa Belanda.
Kalo bisa Inggris -ada kata yang mirip juga di Dutch
eg. geef - give , nee - no , pijp - pipe dst.

Kalo bisa Jerman- mirip juga sama bahasa Belanda.
eg. haben - heb, lessen - lees, kochen - koken dst.

Banyak kata Indo juga ada di bahasa Blanda eg.
persis, reparasi, komunikasi, birokrasi (smua yang berakhiran -si), gratis, bon, tas, dst.
Orang Blanda juga pake: 'toch?' 
dan surprisingly gue tau artinya.... karena sama kaya: '... iya toh?' (or kurang lebih spt itu).

Nah itu sebabnya selama 3 bulan tinggal kemampuan bahasa Belanda gue samasekali tidak berkembang. Karena gue mikir toh sudah menguasai Indo- Inggris- dan sedikit Jerman, jadi mestinya bisa survive tanpa belajar Dutch taal.

(dan ternyata asumsi itu salah besar).



Your Fonts - Font Generator