Sunday, July 15, 2012

Get lost in Surabaya

Judulnya dramatis sih, tapi emang kenyataannya gw sempet kesasar juga koq di kota ini.

Tadinya pengen kasi judul 'Suatu hari di kota Surabaya' tapi kesannya melan banget.
Dan karena seperti biasa, seperti di kota laennya, gw selalu kesasar (walaupun disini kesasar jauh lebih gampang karena bisa nanya orang pake bahasa Indo dan selalu ada pilihan/ godaan untuk pulang aja pake taksi).

Anyway, cerita diawali dengan kepindahan gw ke Surabaya untuk urusan kerjaan.
Jadi sejak dua bulan lalu bermigrasi lah gw ke sebuah tempat kos di daerah deket kampus, yang walkable juga ke kantor.
Karena disini sering field trip, kebanyakan sih gw keliling kota dianter sama supir kantor. Bukan cuman keliling kota tapi juga trip antar kota/ kabupaten malah.

Di luar itu, sering cuman muter-muter di sekitaran tempat kos aja soalnya setelah setiap hari kerja wara-wiri kesana kemari rasanya males untuk jalan-jalan ke tempat yang terlalu jauh.

Sampe kemaren.
Iya kemaren itu gw baru menyadari betapa berharganya hari libur, padahal cuman weekend biasa doang.
Itu karena dua minggu sebelumnya gw terus-terusan kerja/ ada meeting even on saturday and sunday!
Akibatnya, hari kamis pun badan gw gak enak. Kepala berasa berat, gak napsu makan dan agak mual-mual. Sempet ngidam mangga muda juga (loh?!) dan untungnya kantor gw tuh punya pohon mangga yang lagi berbuah. Jadi tinggal nitip ke satpam kantor langsung deh dia tau selera gw metik mangga yang gak terlalu mateng (untuk dibikin manisan).

Kamis pun jadi hari istirahat karena gak enak body itu, tapi sambil ngerjain kerjaan kantor juga di rumah. Berhubung banyak yang mesti diberesin juga, yah kalo engga dikerjain nanti numpuk terus.

Eh, daripada bosen, langsung aja gw kembali ke inti utama dari bLog ini, yaitu cerita jalan-jalan.

Nah, hari sabtu kemaren, akhirnya (setelah dua bulan di surabaya!) gw mencoba naek angkot sendiri. 
Dulu juga udah pernah tapi gak untuk long trip.
Kalo long trip biasanya gw pake taksi (ih manja banget!) abis takut nyasar.
Sekarang mayan jauh, dan gw udah kurang lebih tau jalan-jalan utama dan yang paling penting, jalan balik ke rumah.

Tujuannya adalah gramed expo.
Abis gw tuh geek, doyan buku dan kalo gak baca buku baru suka kambuh alerginya (alesan).

Bagi gw, toko buku dan perpustakaan adalah tempat yang paling menenangkan dan menyenangkan.

Nah, sekarang cerita tentang angkot (atau disebut Len di surabaya) yang gw naekin pertama itu isinya ampir kosong.
Cuman ada satu ibu yang duduk di bangku sebrang gw.

skalian tes kamera lomo baru
 Mungkin juga karena pas hari sabtu siang, orang kan gak pada kerja. 
Jadi dari daerah panjang jiwo tempat gw naek itu isinya cuman berdua doang, sampe akhirnya di kawasan wonokromo naeklah anak muda yang bawa tumpukan ember kosong (kayanya buat jualan).
Kesian deh, anak muda ini kurus ceking bawa setumpuk ember kosong yang gede-gede. Tapi gw sangat menghargai usahanya buat nyari rejeki yang halal!
Seengga-engganya dia gak males-malesan ngamen dan maksa minta-minta ke orang seperti yang sering gw liat di banyak tempat makan di bandung.

Udah gitu, udara di surabaya kan panas. Mungkin skitar 28-29 derajat celcius, tapi kenapa sih anak muda ini pake jaket. Eh tapi bukan dia ajah, tapi banyak orang juga yang gw liat di jalan pake jaket/ kardigan tebel padahal gw aja bercucuran keringet cuman pake kemeja satu lapis.
Owya, satu hal yang bisa gw amati adalah, jarang banget ada orang keturunan cina yang naek Len disini. Atau mungkin aja pas jurusan yang gw naek itu gak populer.
Beda kaya di bandung, populasi warga keturunan rasanya lebih mingled dan bisa ditemui juga naek angkot. 

Dari wonokromo, lanjut ke stasiun joyoboyo. Lalu gw dengan sotoy ngambil aja Len yang mestinya ke arah darmo/tunjungan plasa. Ternyata bener deh ngelewatin gramed expo, dan akhirnya perginya gak kesasar (pulangnya yang nyasar).

Di gramed expo ini sempet panik pengen beli segala macem buku, mulai bukunya dahlan iskan yang baru, deepak chopra (untung gak ada judul yang dicari). Sampe akhirnya gw pikir untuk stick aja dengan yang ada di list, yaitu brida by paulo coelho. 

buku yang udah lama dicari-cari, gak smua gramed/toko buku punya juga

Dari gramed expo itu tinggal jalan kaki aja ke tunjungan plasa.
Nyampe sana langsung deh mulai baca buku barunya, abis penasaran udah lama baca review-nya!

Ternyata pas lagi ada launching merk parfum baru di ground floor, akibatnya ada pameran kosmetik dan asesoris juga.
Rencana cuman mau liat-liat eh malah ikutan belanja juga.
Ah tenyata gw masih aja lemah sama yang ginian, laen kali ada pentingnya juga bawa temen yang bisa memotivasi untuk nahan godaan.

Trus disitu sekalian makan baked potatoes wendys, yang feels like heaven to me.
Kadang-kadang hidup tuh jadi lebih indah kalau kita punya makanan kesukaan yak?

Pulang dari situ, agak tergoda juga sih untuk naek taksi.
Tapiiii... karena tujuannya adalah exploring, lagian kalaupun nyasar emang tujuannya kan jalan-jalan. Jadi ya gak papa, skalian belajar juga. Dan waktunya memungkinkan juga (untuk nyasar : )
Ternyata bener deh kejadian. Padahal udah tanya sana sini, masi juga nyasar.
Tapi selama masih di indonesia, selalu gampang nanya orang. 
Udah gitu masi nyasar juga, karena orang yang ditanya gak selalu ngasi jawaban tepat.. hehe..
It's okay. That's life. And I'm no hurry.

Stelah 3 kali ganti angkot dan jalan skitar 2 kilo lebih (total hari ini jalan kali mungkin 6-8 kilo) akhirnya nyampe juga di rumah. Biar cape tapi puas karena akhirnya gw bisa balik dengan selamat gak kurang suatu apapun.

Kesan dari perjalanan gw di surabaya adalah (sama seperti kesan waktu pertama kali gw keliling dengan mobil kantor) kotanya bersih. Yang pasti jalan-jalannya lebih bersih dari bandung. Juga gak nemu jalan yang bolong-bolong (kaya di bandung).
Juga walaupun kotanya panas, tapi banyak taman di tengah kota yang rimbun dan terpelihara. Dan gak jadi tempat bencong ngumpul kaya taman maluku di bandung.. hehe.

Rasanya sih selama disini gw gak merasa kangen-kangen amat sama bandung.
Mungkin cuman batagor dan makanan yang bikin gw sedikit kangen sama kota sendiri, tapi sisanya, bisa ditemui di surabaya. Banyak bangunan lama yang tetap dipiara, seperti heritage site di jalan darmo contohnya, juga hotel majapahit (tadinya hotel orange).

Surabaya sebagai kota besar juga masi cenderung aman, dibanding jakarta.
Itu emang cuman perasaan gw aja sih yang subjektif.
Seengganya disini gw gak mendengar banyak peristiwa kriminal.
Juga gak banyak pengamen/ pengemis/ anak jalanan yang gw liat selama perjalanan wara-wiri selama dua bulan ini.
Salut dah dengan walkot surabaya yang bisa membenahi kotanya.

Sayangnya sih, masalah perilaku warga membuang sampah ke kali masi ada.
Dan setiap kali musim hujan katanya udah biasa kalo kali/sungai meluap sampe banjir, tapi masih aja orang-orang terus buang sampah sembarangan.
Gimana dong?
Jadi jangan salahkan pemerintah kalo kita sendiri tidak mau mengubah perilaku membuang sampah.

Cerita ini berakhir dengan pemandangan matahari terbenam pas perjalanan pulang.
Owya, disini langitnya masih biru, engga butek kaya langit di kota jakarta atau bandung yang tercemar polusi.
Jadi matahari terbenam juga masi bagus untuk dinikmati (walaupun gak keliatan jelas di foto dengan efek lomo )


end of the day : )




Tuesday, June 12, 2012

Brida

How do you know that a person is your soulmate ?

This is a question that everyone (include me) probably had in mind when they meet someone.

So this will be my new book (to read). Should have bought it long time ago !

Brida :: Paulo Coelho

“ When you find your path, you must not be afraid. You need to have sufficient courage to make mistakes. Disappointment, defeat, and despair are the tools God uses to show us the way.”

“ Don’t bother trying to explain your emotions. Live everything as intensely as you can and keep whatever you felt as a gift from God. The best way to destroy the bridge between the visible and invisible is by trying to explain your emotions.”

“ But how will I know who my Soulmate is?”
Brida felt that this was one of the most important questions she had ever asked in her life.

“ By taking risks” she said to Brida. ‘ By risking failure, disappointment, disillusion, but never ceasing in your search for Love. As long as you keep looking, you will triumph in the end.”

source:
http://paulocoelhoblog.com/2011/01/09/character-of-the-week-brida/

Monday, June 11, 2012

Past lives (if there's such)

I was not a believer for 'past lives' but as time goes by (or as I read more books about it) I begin doubt myself if there's such thing as it.

Few months ago, just when I left my hometown for a new job, a friend of mine gave me a book about a journey to Santiago de Compostella. It has somewhat mentioned slightly about past lives of the author. Although I was almost always skeptical about it, the book was not fiction-based at all.

On the same time, I bought Aleph (English version, since we still don't have it translated into Indonesian). Written by Paulo Coelho, I have intended to buy it long before when I was still in Italy (but then they didn't have the english version).

It still wrapped up in plastic seal until few weeks ago, when I started my self trip to Bali.
On the way to find myself (again).

The story of the book (I shouldn't mentioned it here) had affected me, I begin wondering what I had been in past lives.

Once when I was really young and began my medical study, I was about to drop out my study (I always wanted to be clothing designer, or vet, or artist) but then I had this dream.
It was too hard to forget, I still could remember it now.
I was standing in a bed and there was my very best friend (we've been together almost forever) she was lying on the bed, asking me to help.
If only I could saved one life during my whole career as a doctor, that would be hers. 
So here I am, few years after that vision, made it all the way as it destined.

There's also one dream, that made me wondering, whether I had been a nurse or also working in clinical in the past.
For sure I was in the middle of the war, and there's this soldier (and I loved him, or it felt like it) who dying in my arms. 
It might seems ridiculous, but I felt that he supposed to be my soulmate. 
Since we couldn't be together in past live, I really hope we could re-connect again in present live.




[ to be continued yah . . . ngantux . . . . mo pingsan dulu ]

PS. and for whoever think that you might be a soldier in the past lives (and died in the middle of the war, in the arms of a lady : )  have your ever thought that i am here waiting for you ?

Sunday, June 10, 2012

I am not a foreigner

Untuk pertama kalinya, setelah balik Indo - akhirnya ngetrip lagi.

Dan seperti biasa, gw ngetrip sendiri aja.

Booking tiket dari Surabaya ke Denpasar juga a bit unplanned (dan kompulsif)

Pada dasarnya bukan untuk jalan-jalan, tapi lebih bertujuan untuk istirahat.
Abis selama di Surabaya gw batuk parah (sampe suara ilang) tapi gak bisa istirahat total karena ada kerjaan di kantor. Juga di tempat kos sekarang (karena isinya abege a.ka anak kuliahan) seringnya ribut -gak pagi, siang atau malem. Jadi untunglah ada rencana liburan, biarpun artinya cuman pindah tempat kos ke Bali.

Gak nyangka ternyata Bali banyak berubah setelah sekian lama gak ditengok.

Pertama kali gw nyambangin Bali (kata ortu) adalah waktu masih jabang bayi, alias waktu dikandung dalam perut si mamah.
Waktu itu ortu ke Bali bawa mobil dari Jawa, road trip ke Bali.
Jadi kebayang kan kalo dari kecil gw udah punya 'ikatan' sama pulau Dewata.

Lalu skitar tahun 1990an (lupa, tapi gw inget waktu itu masih SD) gw ke Bali lagi, ke beberapa tempat termasuk Singaraja, Denpasar, Tanah Lot, Uluwatu dkk. Itu kebetulan pas om (adiknya papah) lamaran, jadi keluarga ikut kesana sekalian liburan. 
Gak lama tahun 1994an juga kesana, tapi kali ini agak mendadak. Karena engkong meninggal. Engkong gw ini walaupun agak nyentrik dan galak (seinget gw) tapi sangat dihormati sama anak-anaknya. Jadi pas beliau meninggal semua keluarga lagi-lagi ngumpul di Bali, melepas untuk terakhir kalinya. 
Gw gak terlalu inget juga kejadian waktu itu, yang gw inget adalah tubuhnya dikremasi -dan agak sereum juga waktu itu liat prosesnya.... Owya, yang gw inget pas proses kremasi adalah.... apinya panas dan besaaaarrr banget.

Setelah itu gw beberapa kali ke Bali, tahun 1997, 2000an dan setelah bom bali kedua (Kuta dan Legian sepiiiiiii banget ampir gak ada turis bule). Dan tahun 2006 / 07 juga kesana lagi.

Yang bisa gw liat pas kemaren terakhir kali ke Bali (palagi kali ini gw nginep di Poppies Lane, biasanya nginep di tempat sodara di Denpasar) adalah.... jadi semakin komersil, turistik dan inauthentic

Di daerah Kuta dan Legian, the most touristic spot, tiap 20 meter ada 'mart' entah Alfa/indo/minimart laennya. Gak ada yang salah sih dengan orang lokal yang mencari peluang usaha, tapi kesannya pabalatak gitu.

Setiap hari gw jalan kaki dari tempat gw nginep ke pantai Kuta atau Legian. My daily walk ini bisa 4 kilometer, pas pagi atau sore sambil mengobservasi kejadian apa aja di sekitaran.

Bisa gw liat kalau banyak cewe-cewe lokal yang agresif sama turis bule, mulai dari manggil-manggil sambil bilang: 'you're handsome' sampe noel/megang badan, narik-narik baju turis bule.

Duh, perasaan gw sebagai cewe Indo tuh gimana ya rasanya.

Sekali lagi, gw gak keberatan dengan cara sebagian orang mencari penghasilan dengan jual diri. Tapi kebayang deh kalo gw jadi cowo bule yang pengen liburan ke suatu tempat eksotik tapi malah diganggu seperti itu, kan gak nyaman juga.
Atau mungkin cowo suka digituin?
Entah lah.

Yang bikin gw sebel juga, karena gw disana jalan sendiri (dan gw emang sengaja gak mau kenalan sama orang, karena emang lagi pengen jalan sendiri) - banyak orang lokal yang nyangka gw mau hunting bule!
Duh kalo mau hunting bule sih ngapain mesti ke Kuta, dimana bule nya yang doyan party, atau bule Aussie yang logatnya kedengeran menyebalkan di kuping gw.

Selama gw disana, ada dua orang yang ngajak kenalan.
Pertama, cowo tampang asia (yang ngakunya dari Singapur) ngejar-ngejar gw di jalan, minta no hape. Udah gw tolak halus masi gak terima juga, akhirnya gw ngeloyor aja tinggalin. 
Kedua, pas gw lagi makan di rumah makan padang (iya selama 3 hari disana gw nyari masakan padang mulu! udah lama banget gak makan padang selama di surabaya).
Kali ini lelaki (umurnya 30an akhir kayanya) tampang asia juga, tapi ngakunya dari Kalifornia, USA. 
Dia bilang mo kenalan dan suka gw, lalu ngajak gw ke Kalifornia kalau mau.

Ya ampun.
Males banget deh.
Udah gw cuekin tapi dia keukeuh ngajak ngobrol.
While I just want to enjoy my food !

Akhirnya energi positif yang sudah gw kumpulkan selama kontemplasi di pantai Legian jadi buyar deh gara-gara cowo pushy ini.
Tus setelah gw bilang: 'you could pick any girl you want here but not me. leave me alone.' baru deh dia nyerah dan ngebiarin gw makan dengan tenang.

Entah kenapa selama gw jalan di sana banyak orang lokal yang ngajak ngomong gw pake bahasa inggris. Mereka bilang soalnya tampang gw mirip filipino, dan kalo cewe indo gak biasanya jalan sendiri.

Kadang trip kaya gini bikin gw krisis identitas.
Kalo ngetrip di luar ya gapapalah gak ada yang nyangka orang indo, karena we're all asian look the same. Sering disangkai orang thai pas di thailand. Juga sering disangka orang filipino selama di denmark.
Yang bener adalah pas gw di belanda, banyak yang nyangka orang indonesia (abis orang indo emang pabalatak di sana).

Anyway, tema ngetrip kali ini emang 'self-discovery'.
Once in a while, dalam hidup gw selalu mempertanyakan, apa sih yang gw pengen.
Dan apa sih yang sebenernya penting untuk dimiliki.
Atau apakah hal-hal yang selama ini gw kejar sebenernya bisa bikin gw lebih bahagia?
and so on, and so on.

Dan buku yang menyertai selama perjalanan ini adalah Aleph - ditulis sama engkong Paulo Coelho, pengarang favorit gw.
Setiap kali baca bukunya dia (Alchemist, 11 Minutes, The Winner Stands Alone dll) rasanya isinya seperti diperuntukkan buat gw seorang.

It's like his words speak directly thru my soul.

Secara gw bukan orang yang lebay, jadi kalo gak percaya silakan baca aja bukunya sendiri.
(ini bukan promosi loh)

Baru aja sore ini ada kejadian, gw chatting lewat skype sama seorang cowo yang gw kenal pas ngetrip tahun lalu di Budapest. Dia orang Latvia tapi sekarang kerja di UK.
Trus dia nanya, gimana rasanya sekarang setelah gw balik indo lagi, dan apakah gw kapok tinggal di luar.

Aneh juga, tapi selama tinggal di luar rasanya gw gak terlalu merindukan pengen balik indo.
Dan sekarang, pas jauh dari bandung gw juga gak terlalu merindukan rumah.

Kali aja gw udah terbiasa jauh dari rumah, 
dan buat gw ' a home is a place where your heart is, not a physical building. '

pantai Legian, Bali

 
 I am not a foreigner because I haven't been praying to return safely home, I haven't wasted my time imagining my house, my desk, my side of bed. I am not a foreigner because we are all travelling, we are all full of the same questions, the same tiredness, the same fears, the same selfishness, the same generosity. I am not a foreigner because, when I asked, I received. When I knocked, the door opened. When I looked, I found.

taken from Aleph. p270.


 
 

 




Your Fonts - Font Generator