Setelah kesana kemari di daratan Eropa, akhirnya gw sadar kalo banyak barang-barang yang intentionally atau unintentionally tercecer di beberapa tempat.
Biasanya sih barang-barang yang ketinggalan/ terpaksa ditinggal (karena bagasi penuh)/ alesan lainnya sehingga gak bisa dibawa- jadi alesan supaya bisa beli barang baru.
Maklum penyakit yang satu ini (shopholic tingkat moderate-low) masi suka kambuh-kambuhan.
Padahal tau kalo traveling mestinya gak usah bawa banyak-banyak, tapi masiiiiii aja suka beli-beli barang sepanjang jalan kenangan.
Anyway, kemaren pun jalan keliling 4 negara, 8 kota selama 27 hari dengan travel luggage (standar Ryanair, berat max. 10 kgs) sebenernya bisa. Toch baju-baju gw kan ukuran kecil dan pas lagi musim panas pula. Host gw yang di Itali pun (dia cowo padahal) terkagum-kagum karena barang-barang keperluan 1 bulan bisa masuk koper ituh.
Tapi banyak juga yang mesti direlakan, ini dia list-nya yang keinget (biar nanti gak nyariin, kalo tiba-tiba nyariin)
1. Piyama beludru ungu kesayangan & top coklat mango (direlakan di airport Skavsta Stockholm, gara-gara kelebihan 1 kg!)
2. Kemeja jins & sepatu crocs item (ditinggal di Roma, juga karena udah beli sendal)
3. Celana pendek pink von Dutch kesayangan (ditinggal di airport Charleroi, juga gara-gara kelebihan beberapa ratus gram! *grrrrr*)
4. Celana pendek jins, dress pink, jumpsuit bunga-bunga (ditinggal di Nijmegen, tempat temen)
padahal baru dipake beberapa bulan *hiks*
Itu semua berkat Ryanair yang strict banget timbangannya- tapi ternyata gak di semua airport dicek ama petugasnya. Kemaren balik dari Genova ternyata gak di-cek tuh, jadi lolos aja kalo bawa lebih dari 10 kgs mestinya.
Juga gara-gara pengen beli oleh-oleh terutama di Cannes dan Nice, karena daerah situ terkenal dengan sabun-nya (atau produk yang berbau lavender) jadinya konsumtif deh beli sabun bio.
Lapar mata dot com judulnya.
Trus juga event summer sale yang gila-gilaan di Stockholm bikin orang (kaya gw) ikut-ikutan pengen beli barang, padahal mah gak butuh-butuh amat.
Akhirnya beli celana juga deh (abis murah banget, cuman 50 SEK) dan juga beli stocking (aneh, gw tergila-gila ama stocking yang lucu-lucu, padahal jarang dipake juga).
Di Itali apalagi, semakin parah, terutama pas masuk Zara, dimana kaos-kaos cuman 4-10 Eur, lalu tas kulit 20 Eur.
Juga ada dress yang gw taksir banget, pas dicobain juga ukurannya pas (jarang-jarang loh), tapi setelah gw beli- nyampe rumah agak menyesal. Abis disini kan gw jarang pake dress juga, abis kemana-mana pake transportasi umum rempong deh pake dress.
Akhirnya ditukerin deh (untung blanja di luar kalo nyesel bisa dibalikin barangnya).
Kemaren ini waktu di Kopen, biasanya kalo belanja suka ditemenin Alice, temen gw yang orang Aussie. Dia jadi 'watch-dog'-nya kalo misalnya barang yang dibeli gak ada di-list kebutuhan, dia akan meng-counter argumen gw. Dan akhirnya gw bisa jadi gak beli.
Tapi kalo belanja sendiri, gawat deh... tak terkontrol... dan setelahnya suka agak menyesal.
Okeh, demikian seputar curhat gak penting soal material (ampir sama sekali tidak berhubungan dengan traveling :-)
Ciao ciao!
In the end, gw gak merasa kehilangan apa-apa sih, karena dapet banyak pengalaman tak tergantikan juga.
'Siapa juga yang butuh barang-barang duniawi kalo udah nyampe heaven on earth' , itu dia suara hati gw waktu nyampe Cinque Terre, Italia. Tempat yang luar biasa bellissima (indah) sampe rasanya mo nangis pas nyampe sana
*lebay mode on*
Juga pas nyampe Cannes, tempat dimana artis-artis hollywod ngumpul pas festival film... rasanya gw jadi cewe paling beruntung (se-Indonesia paling engga), bisa nginep di villa yang menghadap langsung ke laut dan diajak touring ama temen CS along french riviera. Pengalaman tak terkatakan deh pokonya . . . . . . . . .
" Things are just things. Don't get too attached to them. "
[taken from SNOTM]
Monday, September 19, 2011
Friday, September 9, 2011
Genova, again
It's funny that during my second Eurotrip last summer I did not plan intentionally to stay in Genova for a long period. I thought I was just gonna pass it by from Firenze, before then continue the journey to French Riviera.
That's what I like from open plan (and being a single traveler, of course) that you could change your itinerary at the last minute by see what's in front of you.
It happened to me, I just suddenly fall in love with this place.
I fall in love with Italian Riviera, the constant perfect weather and the people.
I even manage to come back here, after a long journey from Amsterdam to Brussel, then Charleroi, to catch a budget flight (Ryanair took my pant away, just because I had 1 kilo excess baggage! Nasty airline. Now I really miss my Airberlin flight with free 20 kgs baggage.)
And a warm welcoming weather then reminds me so much why I want to be here.
Should I mentioned that when I left Amsterdam it was 12 degrees Celcius (with 52 km/h wind speed... yeah, I'm not made it up).
It's a pity that I was too busy after coming back from my 1 month Eurotrip, I didn't have time to summarize the journey (it's all still remain notes in my scrapbook) or write it down in this blog.
But it has been wonderful, magnificent trip in brief.
Almost unreal I would say.
I couldn't describe it in words because it's just too beautiful.
Anyway, in the end my academic life has struck me back to reality.
I spent one week more in Copenhagen to have my oral exam and graduation, then had flight to Germany. Been here and there (physically) in Netherlands, but basically my minds flew somewhere in Liguria.
This place is just intoxicating.

Camogli, Liguria
first night @ Italian Riviera 17072011
traveling notes :
Train ticket (one way) Firenze SMN - Genova Brignole 40Eur (mahal karena beli last minute, tapi bisa dipake berenti di Pisa)
Ryanair return ticket Charleroi (Brussel Zuid) - aeoroporto di Genova 20 Eur (belum termasuk bagasi, standar kabin cuman 10 kgs)
Train ticket (return) Amsterdam CS - Brussel Zuid/Midi 78 Eur
Ticket (combined train+bus, one way) Brussel Zuid/Midi - Charleroi l'aeroport 11.70 Eur
kaos Zara 4Eur; tas Zara 19 Eur; belt H&M 5 Eur
pizza (1 slice) 2.70 Eur; gelato 2 Eur
That's what I like from open plan (and being a single traveler, of course) that you could change your itinerary at the last minute by see what's in front of you.
It happened to me, I just suddenly fall in love with this place.
I fall in love with Italian Riviera, the constant perfect weather and the people.
I even manage to come back here, after a long journey from Amsterdam to Brussel, then Charleroi, to catch a budget flight (Ryanair took my pant away, just because I had 1 kilo excess baggage! Nasty airline. Now I really miss my Airberlin flight with free 20 kgs baggage.)
And a warm welcoming weather then reminds me so much why I want to be here.
Should I mentioned that when I left Amsterdam it was 12 degrees Celcius (with 52 km/h wind speed... yeah, I'm not made it up).
It's a pity that I was too busy after coming back from my 1 month Eurotrip, I didn't have time to summarize the journey (it's all still remain notes in my scrapbook) or write it down in this blog.
But it has been wonderful, magnificent trip in brief.
Almost unreal I would say.
I couldn't describe it in words because it's just too beautiful.
Anyway, in the end my academic life has struck me back to reality.
I spent one week more in Copenhagen to have my oral exam and graduation, then had flight to Germany. Been here and there (physically) in Netherlands, but basically my minds flew somewhere in Liguria.
This place is just intoxicating.

Camogli, Liguria
first night @ Italian Riviera 17072011
traveling notes :
Train ticket (one way) Firenze SMN - Genova Brignole 40Eur (mahal karena beli last minute, tapi bisa dipake berenti di Pisa)
Ryanair return ticket Charleroi (Brussel Zuid) - aeoroporto di Genova 20 Eur (belum termasuk bagasi, standar kabin cuman 10 kgs)
Train ticket (return) Amsterdam CS - Brussel Zuid/Midi 78 Eur
Ticket (combined train+bus, one way) Brussel Zuid/Midi - Charleroi l'aeroport 11.70 Eur
kaos Zara 4Eur; tas Zara 19 Eur; belt H&M 5 Eur
pizza (1 slice) 2.70 Eur; gelato 2 Eur
Friday, August 12, 2011
Italian stories(2) :: Get lost in Rome
So much to say about Rome!
Sampe gak tau mulai dari mana dulu yah ... hmmm . . . .
Gimana kalau mulai dari cerita gimana akhirnya gw memutuskan pergi ke Roma.
Alesan utama karena nemu tiket murah pake Ryanair dari Stokholm.
Emang murah sih tapi kalo pake budget flight macem Ryanair artinya musti merelakan barang-barang yang overload dibuang. Abis mereka strict banget soal aturan koper yang masuk kabin cuman boleh 10 kgs.
Waktu itu gw kelebihan beberapa ratus gram, dan akhirnya ngebuang 1 celana panjang (untuk tidur) lagian the rest of the journey will be warm. So I won't need it anyway!
Ini juga salahsatu pelajaran tentang kehidupan yang gw dapet selama traveling, yaitu
1. Sesungguhnya kita gak butuh banyak barang untuk bertahan hidup, jadi bawa yang penting-penting aja.
2. Barang yang kita bawa tapi gak kepake akhirnya cuman bikin cape aja, karena mesti dibawa-bawa sepanjang perjalanan.
Masih mending gw traveling 'hanya' selama 30 hari. Kebayang kan banyak orang membawa 'beban emosional' yang tidak penting selama bertahun-tahun.
Just let it go.
Waktu itu saya mendarat di airport Ciampino dari Skavsta, Stokholm. Keduanya sebenernya bukan bandara udara utama, tapi lebih airport untuk maskapai budget.
Karena bukan airport utama jadi letaknya gak deket banget sama kota, beda sama Fiumicino yang lebih deket sama pusat kotanya Roma.
Tapi kalau waktu traveling kita fleksibel gak masalah koq, tinggal naek bus ke Metro Line A. Anagnina (harga tiket 1,20 Eur) lalu disambung pake metro ke pusat kota Roma, st. Termini (1 Eur, single ticket).
Yang berasa bahwa saat itu saya officially sampai di Italia adalah pas naek metro dari airport Ciampino ke city centre ada bapak pengamen yang nyanyi lagu 'Santa Lucia' dengan suara soprano yang indah banget! Berasa nonton live opera dari kursi tempat duduk metro.
Priceless : )
Roma sendiri bukan cuman sekedar kota yang indah secara arsitektur, tapi juga punya nilai historikal yang tinggi.
Hampir semua bangunan kuno yang saya lihat disana, selalu aja ada cerita historis yang sangat menarik di belakangan.
Yang paling terkenal di kalangan turis tentunya kompleks bersejarah Colloseo (atau terkenal dengan nama Colloseum), Foro Romano (Forum Romanum) di bukit Palatine.
Ada juga monumen Vittorio, bangunan megah yang dibangun gak jauh dari kompleks bersejarah Forum Romanum. Tapi ada temen saya orang Italia asli, benci sama monumen Vittorio ini.
Menurut dia bangunan monumen Vittorio itu terlalu modern, gak cocok banget dibangun di kawasan historikal yang usianya beberapa abad.
Dia bilang bangunan bersejarah yang jadi objek turistik di Roma itu cuman sebagian kecil dari yang sudah diketemukan oleh arkeolog. Sisanya masih banyak yang sudah ditemukan tapi masih dipelajari, tapi tidak dibuka untuk umum.
Banyak juga yang diketahui tanpa sengaja, contohnya waktu pemerintah melakukan penggalian untuk bikin jalur metro baru ternyata eh malah ketemu situs bersejarah.
Akibatnya sekarang pemerintah Roma berhenti melakukan penggalian untuk mencari jalur metro karena malah akhirnya jadi penggalian situs bersejarah deh.
Banyak bangunan di Roma juga termasuk dalam UNESCO World Heritage Sites karena situs bersejarahnya pabalatak, tersebar di beberapa tempat.
Sebenernya meng-eksplor kota Roma itu gak cukup cuman 3-4 hari karena banyak banget tempat bagus yang bisa dilihat. . . Mungkin seminggu pun gak cukup, yang pasti saya pengen suatu saat balik kesini lagi, entah spring atau autumn saat cuaca lebih bersahabat.
Tapi yah highlight turis kan biasanya cukup ke Colloseo, Fontana di Trevi, Pantheon, Piazza di Spagna (Spanish steps), Museo di Vaticano, atau Basilica Santo Pietro.
Kalo turis udah nyampe sana dan bisa foto dengan latar belakang tempat tsb, biasanya udah dianggap 'sah' mengunjugi Roma deh : )
Owh ya. . . . cowo-cowo disini (cowo Italia asli maksutnya, bukan turis yang berkunjung),
hmmm . . . cakep-cakep. Yummy Latino :)
Dan tentu aja gak girlie seperti cowo Swedish.
Selaen itu di Italia juga masih ada perilaku gentlemen, seperti lelaki muda ngasi tempat duduk ke perempuan lebih tua (ini perilaku yang hampir musnah di Denmark rasanya).
Tips penting selama di Roma:
1. Cukup bawa botol kosong aja selama bepergian, karena banyak fontana/ sumber air yang bisa diminum di beberapa tempat. Contohnya di depan Colosseo atau di Piazza di Spagna.
Minum langsung dari situ juga boleh, hanya lebih enak kan kalau minum dari botol.
2. Mau masuk chiesa Basilica St. Peitro gak boleh pake celana pendek atau baju terbuka (keliatan bahu). Jadi jangan udah antri panjang taunya depan pintu gak boleh masuk sama penjaganya.
Solusinya kalau udah keburu kesana adalah, di depan jalan masuk Basilica St. Pietro ada banyak tukang dagang pashmina (harga 5 Eur, overprice sih, tapi masuk basilica gratis).
3. Kalau mau beli magnet kulkas untuk oleh-oleh, menurut gw tempat yang paling murah adalah sepanjang jalan dari Colloseo menuju ke monumen Vittorio, harganya bisa cuman 1 Eur/buah (kalau beli 5). Mungkin bisa ditawar lebih murah lagi kalau beli banyak.
Kalau di toko sekitar Fontana di Trevi itu udah lebih mahal, bisa 3-5 Eur/buah, tapi lebih variatif juga desainnya.
4. Katanya Roma termasuk kota pusat turis yang banyak copetnya (sama lah kaya di Paris atau Barcelona). Gada pengalaman buruk sama pickpocket selama disini, tapi pastikan aja barang bawaan aman selalu naek metro, lumayan penuh di line yang menuju pusat turis.
Sebenernya gw udah punya peta Roma sebelum memutuskan mau pergi kemana aja selama disana.
Masalahnya . . . kemampuan gw baca peta emang payah :(
Akhirnya tetep aja suka nyasar, contohnya pas mau pergi ke chiesa Basilica St. Pietro, eh malah jadinya nyasar ke Museo di Vaticani (yah letaknya emang deket, deket disini beberapa ratus meter, tetep aja bete kalau nyasar).
Karena kesasar, akhirnya gw malah masuk antrian untuk ke Museo di Vaticani, ini antrian buset banget, kaya antrian haji! Ada kali 1 kilometer doang untuk antri masuk museum-nya.
Buset ini para turis mau aja dikerjain sama Vatikan, gara-gara cuman mau liat lukisan di Sistine chapel karya Michael d'Angelo kali yah.
Pas kesasar perasaan gw emang udah bilang ini jalan ngaco deh, tapi bingung nanya ke siapa karena disana isinya turis doang!
Gak ada orang Italia-nya (katanya orang Roma benci turis selama musim panas, karena menuh-menuhin kota).
Akhirnya gw kenalan sama Anna & Dante, mereka mahasiswa jurusan tourism yang lagi magang jadi tour guide. Dante campuran USA sama Italian, makanya bahasa Inggris dia bagus banget, tapi tampangnya cakep kaya Italiano (pengen gw poto tapi norak banget yah).
Mereka nganterin gw menuju arah yang benar, yaitu pintu masuk chiesa Basilica St. Pietro.
Wah pokonya berkesan banget ketemu mereka walopun bentar, ini yang bikin hati gw tetap hangat sekalipun traveling sendirian ^^
Kata Anne & Dante, antrian turis hari ini (yang panjangnya udah 1 kilometer itu) gak ada apa-apanya dibanding hari sibuk. Biasanya turis ini udah nangkring dari pagi/subuh untuk ngantri karena kalo kesiangan akan tambah panjang tuh antrian.
Antrian panjang untuk masuk ke Museo di Vaticano ini bayarnya 14 Eur, tapi kalau mau cara yang lebih cepat bisa beli tiket seharga 26 Eur (shortcut gitu deh, tapi masih ngantri juga, hanya gak terlalu panjang).
Si temen gw orang Italia asli bilang kalau Vatikan tuh tajir banget cuman karena buka itu museum, karena pemasukan dari turis aja bisa berapa juta Euro.
Turis yang ngantri kan ribuan per hari. . .
Pokonya kepausan di Vatikan itu bisa cuman ongkang ongkang kaki doang kerjaannya, cukup dari tiket masuk.
Owh ya, karena gw menganut paham anti imperialis, makanya gw juga gak mau masuk museum ini.
Apalagi ngantri-nya tidak berperi kemanusiaan kaya gitu, walopun sebenernya gw penasaran sama Sistine Chapel-nya Michael d'Angelo *hiks*
Tapi masuk Basilica St. Pietro juga puas koq. Maklum orang Indonesia liat apa aja disana itungannya bagus . . . hehe
Beberapa expenses selama di Roma :
one way ticket (bisa dipake untuk naek metro) ~ 1 Eur
Lasagna (beli di deket Fontana di Trevi) 7 Eur, termasuk tip
Breakfast 3,20 Eur (brioches+minum)
postcard+ stamp 9 Eur
magnet kulkas 5 @1 Eur
Sampe gak tau mulai dari mana dulu yah ... hmmm . . . .
Gimana kalau mulai dari cerita gimana akhirnya gw memutuskan pergi ke Roma.
Alesan utama karena nemu tiket murah pake Ryanair dari Stokholm.
Emang murah sih tapi kalo pake budget flight macem Ryanair artinya musti merelakan barang-barang yang overload dibuang. Abis mereka strict banget soal aturan koper yang masuk kabin cuman boleh 10 kgs.
Waktu itu gw kelebihan beberapa ratus gram, dan akhirnya ngebuang 1 celana panjang (untuk tidur) lagian the rest of the journey will be warm. So I won't need it anyway!
Ini juga salahsatu pelajaran tentang kehidupan yang gw dapet selama traveling, yaitu
1. Sesungguhnya kita gak butuh banyak barang untuk bertahan hidup, jadi bawa yang penting-penting aja.
2. Barang yang kita bawa tapi gak kepake akhirnya cuman bikin cape aja, karena mesti dibawa-bawa sepanjang perjalanan.
Masih mending gw traveling 'hanya' selama 30 hari. Kebayang kan banyak orang membawa 'beban emosional' yang tidak penting selama bertahun-tahun.
Just let it go.
Waktu itu saya mendarat di airport Ciampino dari Skavsta, Stokholm. Keduanya sebenernya bukan bandara udara utama, tapi lebih airport untuk maskapai budget.
Karena bukan airport utama jadi letaknya gak deket banget sama kota, beda sama Fiumicino yang lebih deket sama pusat kotanya Roma.
Tapi kalau waktu traveling kita fleksibel gak masalah koq, tinggal naek bus ke Metro Line A. Anagnina (harga tiket 1,20 Eur) lalu disambung pake metro ke pusat kota Roma, st. Termini (1 Eur, single ticket).
Yang berasa bahwa saat itu saya officially sampai di Italia adalah pas naek metro dari airport Ciampino ke city centre ada bapak pengamen yang nyanyi lagu 'Santa Lucia' dengan suara soprano yang indah banget! Berasa nonton live opera dari kursi tempat duduk metro.
Priceless : )
Roma sendiri bukan cuman sekedar kota yang indah secara arsitektur, tapi juga punya nilai historikal yang tinggi.
Hampir semua bangunan kuno yang saya lihat disana, selalu aja ada cerita historis yang sangat menarik di belakangan.
Yang paling terkenal di kalangan turis tentunya kompleks bersejarah Colloseo (atau terkenal dengan nama Colloseum), Foro Romano (Forum Romanum) di bukit Palatine.
Ada juga monumen Vittorio, bangunan megah yang dibangun gak jauh dari kompleks bersejarah Forum Romanum. Tapi ada temen saya orang Italia asli, benci sama monumen Vittorio ini.
Menurut dia bangunan monumen Vittorio itu terlalu modern, gak cocok banget dibangun di kawasan historikal yang usianya beberapa abad.
Dia bilang bangunan bersejarah yang jadi objek turistik di Roma itu cuman sebagian kecil dari yang sudah diketemukan oleh arkeolog. Sisanya masih banyak yang sudah ditemukan tapi masih dipelajari, tapi tidak dibuka untuk umum.
Banyak juga yang diketahui tanpa sengaja, contohnya waktu pemerintah melakukan penggalian untuk bikin jalur metro baru ternyata eh malah ketemu situs bersejarah.
Akibatnya sekarang pemerintah Roma berhenti melakukan penggalian untuk mencari jalur metro karena malah akhirnya jadi penggalian situs bersejarah deh.
Banyak bangunan di Roma juga termasuk dalam UNESCO World Heritage Sites karena situs bersejarahnya pabalatak, tersebar di beberapa tempat.
Sebenernya meng-eksplor kota Roma itu gak cukup cuman 3-4 hari karena banyak banget tempat bagus yang bisa dilihat. . . Mungkin seminggu pun gak cukup, yang pasti saya pengen suatu saat balik kesini lagi, entah spring atau autumn saat cuaca lebih bersahabat.
Tapi yah highlight turis kan biasanya cukup ke Colloseo, Fontana di Trevi, Pantheon, Piazza di Spagna (Spanish steps), Museo di Vaticano, atau Basilica Santo Pietro.
Kalo turis udah nyampe sana dan bisa foto dengan latar belakang tempat tsb, biasanya udah dianggap 'sah' mengunjugi Roma deh : )
Owh ya. . . . cowo-cowo disini (cowo Italia asli maksutnya, bukan turis yang berkunjung),
hmmm . . . cakep-cakep. Yummy Latino :)
Dan tentu aja gak girlie seperti cowo Swedish.
Selaen itu di Italia juga masih ada perilaku gentlemen, seperti lelaki muda ngasi tempat duduk ke perempuan lebih tua (ini perilaku yang hampir musnah di Denmark rasanya).
Tips penting selama di Roma:
1. Cukup bawa botol kosong aja selama bepergian, karena banyak fontana/ sumber air yang bisa diminum di beberapa tempat. Contohnya di depan Colosseo atau di Piazza di Spagna.
Minum langsung dari situ juga boleh, hanya lebih enak kan kalau minum dari botol.
2. Mau masuk chiesa Basilica St. Peitro gak boleh pake celana pendek atau baju terbuka (keliatan bahu). Jadi jangan udah antri panjang taunya depan pintu gak boleh masuk sama penjaganya.
Solusinya kalau udah keburu kesana adalah, di depan jalan masuk Basilica St. Pietro ada banyak tukang dagang pashmina (harga 5 Eur, overprice sih, tapi masuk basilica gratis).
3. Kalau mau beli magnet kulkas untuk oleh-oleh, menurut gw tempat yang paling murah adalah sepanjang jalan dari Colloseo menuju ke monumen Vittorio, harganya bisa cuman 1 Eur/buah (kalau beli 5). Mungkin bisa ditawar lebih murah lagi kalau beli banyak.
Kalau di toko sekitar Fontana di Trevi itu udah lebih mahal, bisa 3-5 Eur/buah, tapi lebih variatif juga desainnya.
4. Katanya Roma termasuk kota pusat turis yang banyak copetnya (sama lah kaya di Paris atau Barcelona). Gada pengalaman buruk sama pickpocket selama disini, tapi pastikan aja barang bawaan aman selalu naek metro, lumayan penuh di line yang menuju pusat turis.
Sebenernya gw udah punya peta Roma sebelum memutuskan mau pergi kemana aja selama disana.
Masalahnya . . . kemampuan gw baca peta emang payah :(
Akhirnya tetep aja suka nyasar, contohnya pas mau pergi ke chiesa Basilica St. Pietro, eh malah jadinya nyasar ke Museo di Vaticani (yah letaknya emang deket, deket disini beberapa ratus meter, tetep aja bete kalau nyasar).
Karena kesasar, akhirnya gw malah masuk antrian untuk ke Museo di Vaticani, ini antrian buset banget, kaya antrian haji! Ada kali 1 kilometer doang untuk antri masuk museum-nya.
Buset ini para turis mau aja dikerjain sama Vatikan, gara-gara cuman mau liat lukisan di Sistine chapel karya Michael d'Angelo kali yah.
Pas kesasar perasaan gw emang udah bilang ini jalan ngaco deh, tapi bingung nanya ke siapa karena disana isinya turis doang!
Gak ada orang Italia-nya (katanya orang Roma benci turis selama musim panas, karena menuh-menuhin kota).
Akhirnya gw kenalan sama Anna & Dante, mereka mahasiswa jurusan tourism yang lagi magang jadi tour guide. Dante campuran USA sama Italian, makanya bahasa Inggris dia bagus banget, tapi tampangnya cakep kaya Italiano (pengen gw poto tapi norak banget yah).
Mereka nganterin gw menuju arah yang benar, yaitu pintu masuk chiesa Basilica St. Pietro.
Wah pokonya berkesan banget ketemu mereka walopun bentar, ini yang bikin hati gw tetap hangat sekalipun traveling sendirian ^^
Kata Anne & Dante, antrian turis hari ini (yang panjangnya udah 1 kilometer itu) gak ada apa-apanya dibanding hari sibuk. Biasanya turis ini udah nangkring dari pagi/subuh untuk ngantri karena kalo kesiangan akan tambah panjang tuh antrian.
Antrian panjang untuk masuk ke Museo di Vaticano ini bayarnya 14 Eur, tapi kalau mau cara yang lebih cepat bisa beli tiket seharga 26 Eur (shortcut gitu deh, tapi masih ngantri juga, hanya gak terlalu panjang).
Si temen gw orang Italia asli bilang kalau Vatikan tuh tajir banget cuman karena buka itu museum, karena pemasukan dari turis aja bisa berapa juta Euro.
Turis yang ngantri kan ribuan per hari. . .
Pokonya kepausan di Vatikan itu bisa cuman ongkang ongkang kaki doang kerjaannya, cukup dari tiket masuk.
Owh ya, karena gw menganut paham anti imperialis, makanya gw juga gak mau masuk museum ini.
Apalagi ngantri-nya tidak berperi kemanusiaan kaya gitu, walopun sebenernya gw penasaran sama Sistine Chapel-nya Michael d'Angelo *hiks*
Tapi masuk Basilica St. Pietro juga puas koq. Maklum orang Indonesia liat apa aja disana itungannya bagus . . . hehe
Beberapa expenses selama di Roma :
one way ticket (bisa dipake untuk naek metro) ~ 1 Eur
Lasagna (beli di deket Fontana di Trevi) 7 Eur, termasuk tip
Breakfast 3,20 Eur (brioches+minum)
postcard+ stamp 9 Eur
magnet kulkas 5 @1 Eur
Tuesday, August 9, 2011
Leaving Copenhagen!
:: Danes saved the day ! ::
Mon 08.08
Di tanggal cantik ini (yang katanya hoki menurut penanggalan Cina) gw meninggalkan Denmark karena program master yang udah beres.
Tapi rupa-rupanya cuaca gak bersahabat banget sama gw.
Tiba-tiba ujan gede banget pas sore deket waktu gw mo brangkat! Emang dari pagi perasaan udah gak enak sih, soalnya gw tau kalo pagi-pagi ada suara burung berkicau (dan kemaren-kemaren ini mereka selalu ribut, bikin orang kebangun aja) berarti cuaca bakal cerah.
Sedangkan hari ini pagi-pagi sepi banget.... saking sepi sampe bisa diperkirakan 90% confidence interval bahwa cuaca pasti jelek.
Lebih parah lagi, internet di rumah dari kemaren gak jalan!
Jadinya gw gak bisa ngecek weather forecast juga :-(
Karena masih ujan terus-terusan (bukan ujan yang bisa ditunggu, ujan awet kata orang Sunda) padahal udah gelisah pengen berangkat ke airport, jadilah gw putuskan untuk tetep berangkat walaupun ujan.
So, mulailah gw menurunkan 2 koper (1 koper ukuran gede yang beratnya setengah badan gw! dan 1 lagi ukuran kabin) dari lante 4 tempat gw tinggal.
Sebagai tambahan- di tempat gw tinggal gak ada lift- jadi lumayan sehat deh kalo mau olahraga tiap hari. Pantat dan betis gw ajah sekarang kenceng :-) digabung sama naek sepeda tiap hari... hehe..
Anyway, setelah usaha menurunkan 2 koper tersebut, mulailah perjuangan menembus hujan dari rumah menuju stasiun Metro. Yakin deh orang-orang yang ngeliat gw geret-geret koper dalam hati pasti kesian, mungkin dipikirnya : 'Duh ini cewe udah mungil, item, kurus, geret-geret koper segede itu, ditengah ujan pula!'
Tapi gw sih malah ngerasa lega meninggalkan Kopenhagen, karena kalo cuacanya bagus mungkin hati gw bakal lebih berat.
Then, nyampe stasiun metro- guess what . . .
Lift-nya rusak!
Belum pernah selama ampir lebih dari 6 bulan bolak balik stasiun metro itu lift-nya rusak, baru hari ini doank! Pas lagi bawa koper gede pula... Ajaib gak sih...
Tapi kalo Tuhan punya rencana apa pun bisa terjadi. . .
Selama beberapa lama tinggal disini sebenernya gw udah ngerasa bete banget sama kelakuan orang Denmark yang jutek, cold, nyebelin, egois, self-centered etc.
Hanya hari ini ada sesuatu yang beda.
Pas sedang berusaha susah payah (nurunin koper pake tangga), ada cowo bule yang bantuin gw! Dia ngomong pake bahasa Danish (dan honestly gak tau apa yang dia omongin, tapi gw ngerti dia mo bantuin gw), tus langsung aja tuh koper ukuran jumbo dijinjing ama dia dibawa turun tangga.
Langsung aja gw bilang: 'Tusind tak' (beribu terimakasih) berulang-ulang.
Nah, setelah beli tiket lalu turunlah gw pake eskalator dengan koper-koper itu.
Dan. . . tiba-tiba, ada 1 koper gw yang jatoh pas di eskalator!
Heboh banget deh, karena gw takut koper itu bikin celaka cowo (bule laen lagi) depan gw.
Gw udah bilang.. 'Sorry.. sorry ... ' takut aja dia marah atau bete.
Taunya dia malah bantuin pegangin tu koper sampe gw beres turun nyampe bawah. . . . Hari ini pokonya exceptionally mata hati gw dibukakan sama kelakuan baik orang Denmark :-)
Walaupun hari ini hari yang jelek (karena cuacanya) tapi hati gw hangat rasanya *bigsmile*
Karena tau bahwa selalu ada orang yang baek (di Denmark, atopun di mana ajah) yang mau nolong orang laen (despite tampang gw yang 'imigran' :-)
Mon 08.08
Di tanggal cantik ini (yang katanya hoki menurut penanggalan Cina) gw meninggalkan Denmark karena program master yang udah beres.
Tapi rupa-rupanya cuaca gak bersahabat banget sama gw.
Tiba-tiba ujan gede banget pas sore deket waktu gw mo brangkat! Emang dari pagi perasaan udah gak enak sih, soalnya gw tau kalo pagi-pagi ada suara burung berkicau (dan kemaren-kemaren ini mereka selalu ribut, bikin orang kebangun aja) berarti cuaca bakal cerah.
Sedangkan hari ini pagi-pagi sepi banget.... saking sepi sampe bisa diperkirakan 90% confidence interval bahwa cuaca pasti jelek.
Lebih parah lagi, internet di rumah dari kemaren gak jalan!
Jadinya gw gak bisa ngecek weather forecast juga :-(
Karena masih ujan terus-terusan (bukan ujan yang bisa ditunggu, ujan awet kata orang Sunda) padahal udah gelisah pengen berangkat ke airport, jadilah gw putuskan untuk tetep berangkat walaupun ujan.
So, mulailah gw menurunkan 2 koper (1 koper ukuran gede yang beratnya setengah badan gw! dan 1 lagi ukuran kabin) dari lante 4 tempat gw tinggal.
Sebagai tambahan- di tempat gw tinggal gak ada lift- jadi lumayan sehat deh kalo mau olahraga tiap hari. Pantat dan betis gw ajah sekarang kenceng :-) digabung sama naek sepeda tiap hari... hehe..
Anyway, setelah usaha menurunkan 2 koper tersebut, mulailah perjuangan menembus hujan dari rumah menuju stasiun Metro. Yakin deh orang-orang yang ngeliat gw geret-geret koper dalam hati pasti kesian, mungkin dipikirnya : 'Duh ini cewe udah mungil, item, kurus, geret-geret koper segede itu, ditengah ujan pula!'
Tapi gw sih malah ngerasa lega meninggalkan Kopenhagen, karena kalo cuacanya bagus mungkin hati gw bakal lebih berat.
Then, nyampe stasiun metro- guess what . . .
Lift-nya rusak!
Belum pernah selama ampir lebih dari 6 bulan bolak balik stasiun metro itu lift-nya rusak, baru hari ini doank! Pas lagi bawa koper gede pula... Ajaib gak sih...
Tapi kalo Tuhan punya rencana apa pun bisa terjadi. . .
Selama beberapa lama tinggal disini sebenernya gw udah ngerasa bete banget sama kelakuan orang Denmark yang jutek, cold, nyebelin, egois, self-centered etc.
Hanya hari ini ada sesuatu yang beda.
Pas sedang berusaha susah payah (nurunin koper pake tangga), ada cowo bule yang bantuin gw! Dia ngomong pake bahasa Danish (dan honestly gak tau apa yang dia omongin, tapi gw ngerti dia mo bantuin gw), tus langsung aja tuh koper ukuran jumbo dijinjing ama dia dibawa turun tangga.
Langsung aja gw bilang: 'Tusind tak' (beribu terimakasih) berulang-ulang.
Nah, setelah beli tiket lalu turunlah gw pake eskalator dengan koper-koper itu.
Dan. . . tiba-tiba, ada 1 koper gw yang jatoh pas di eskalator!
Heboh banget deh, karena gw takut koper itu bikin celaka cowo (bule laen lagi) depan gw.
Gw udah bilang.. 'Sorry.. sorry ... ' takut aja dia marah atau bete.
Taunya dia malah bantuin pegangin tu koper sampe gw beres turun nyampe bawah. . . . Hari ini pokonya exceptionally mata hati gw dibukakan sama kelakuan baik orang Denmark :-)
Walaupun hari ini hari yang jelek (karena cuacanya) tapi hati gw hangat rasanya *bigsmile*
Karena tau bahwa selalu ada orang yang baek (di Denmark, atopun di mana ajah) yang mau nolong orang laen (despite tampang gw yang 'imigran' :-)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Cities I've visited
- Create your own travel map or travel blog
- Find cheap flights at TripAdvisor


