Monday, February 2, 2015

those skinny feet that took me everywhere

Gak semua yang dibilang orang ke kita itu pasti benar.

Ini kesimpulan yang saya ambil sejak usia dini.

Dulu banget, tentunya sama seperti kebanyakan anak kecil lainnya, orangtua jadi referensi tentang dunia ini. Apa apa yang kita gak ngerti pasti kita tanyain ke ibu/ayah atau mama/papa sebagai sumber informasi primer.

Dulu banget juga, saya yakin orang tua banyak mengajarkan hal-hal yang memang benar adanya. Tapi ada juga informasi yang kurang akurat atau bahkan 'kebohongan' yang mereka sampaikan ke anak-anaknya.

Salah satunya tentang Sinterklas.

Sampe umur 10 tahun lebih, saya percaya luar dalam bahwa Sinterklas memang benar-benar ada. Dan mereka bakal kasih kado ke anak-anak yang baik kelakuannya di akhir tahun.

Sehingga tiba saat dimana fakta yang sebenarnya terungkap… maka dunia pun serasa gempa sesaat. Ternyata… orangtua yang saya percaya selama ini tega membohongi anaknya sendiri.

Maka sejak usia dini saya pun memutuskan bahwa orangtua bukan lah (selalu) jadi sumber informasi yang dibutuhkan.
Beruntungnya, saya tidak pernah merasakan kekurangan sumber bacaan seperti buku, majalah, ensiklopedia ataupun media pertukaran informasi lainnya di masa kecil.

Setelah dewasa (FYI kedewasaan saya dimulai pada umur 18 tahun, saat resmi menjadi mahasiswa semester pertama fakultas kedokteran) banyak informasi yang saya butuhkan tidak lagi berasal dari kata-kata orang tua. Terutama karena pengalaman sebelumnya membuktikan bahwa mereka kadang-kadang (sengaja atau tidak) memberikan saya informasi yang salah.

Salah satunya yang dulu sering saya dengar:

'Orange bule itu jarang mandi, badannya bau keju.'

Sampe sekarang nenek dari pihak ibu saya pun masih suka meng-indoktrinasi dengan pemikiran serupa.

Pernyataan tersebut, kalau ditelaah lebih jauh dari kacamata peneliti sosial demografik misalnya:

'Orang bule yang mana?'
Apakah bule asal Eropa, Amerika, atau Australia.

Kalau yang dimaksud bule asal Eropa, Eropa belah mana?
Apakah orang Belanda, dimana nenek saya memang familiar dengan kebiasaan mereka yang jarang mandi (terutama saat musim dingin).
Atau orang bule Prancis yang memang menurut survey paling jarang ganti underwear dibandingkan cowo asal negara-negara lainnya di daratan Eropa.

Pernyataan diatas bisa dibilang entah terlalu meng-generalisasi, terlalu cepat mengambil kesimpulan, atau hanya prejudice semata.
Entahlah….

Tapi bisa dibilang pernyataan serupa muncul di belahan dunia mana pun.

Saat saya di Belanda, orang lokal punya prejudice sendiri tentang negara tetangga si orang Jerman. Temen-temen bule Belanda di kelas saya juga suka mengeluarkan pernyataan yang sedikit melecehkan tentang orang asal Belgia.

Di Belgia, temen bule saya menyinggung tentang negara Prancis yang mencuri 'Patat Vries' mereka dan menggantinya dengan nama 'French fries'.
Mereka yang di Prancis Utara bilang orang yang tinggal di Prancis Selatan lebih santai, tukang bermalas-malasan dst.
Lalu saat tinggal di Prancis Selatan, orang lokalnya membenci mereka yang berasal dari Prancis Utara (terutama dari kota besar seperti Paris) karena dianggap sombong, tidak sabaran, tidak mengerti kultur selatan yang ramah, penuh toleransi and so on.

Jadi, being a bit here, there and everywhere mengajarkan saya untuk tidak selalu percaya akan pernyataan pertama yang saya dengar ketika tiba di suatu daerah.

Atau in general, gak gampang percaya sama apa pun yang pernah kita dengar sebelumnya.

Mereka yang lebih tau duluan tentang suatu hal, bukan berarti mereka pasti benar.
Lagian ilmu pengetahuan aja selalu berubah… Contohnya orang jaman dulu percaya kalo bumi itu datar.
Dan ilmuwan pertama yang bikin pernyataan kalau bumi itu bulat langsung mendapat pertentangan dari pihak yang berkuasa (termasuk gereja, yang saat itu mengkategorikan sebagai ajaran sesat).

A bit skeptical and critical itu penting juga koq. Apalagi untuk spesies kita.
Itulah yang membedakan homo sapiens dengan makhluk bertulang belakang lainnya.
Secara proporsional, ukuran otak kita mungkin masih kalah dengan dolfin, mamalia dengan kecerdasan tinggi lainnya yang populasinya berkurang (bahkan terancam) karena keberadaan manusia.
Fortunately bukan ukuran otak (semata) yang menentukan kecerdasan, tapi lipatan-lipatan gyrus-nya. Dalam bahasa yang lebih dimengerti: Semakin sering kita menggunakan otak, akan semakin terasah kemampuannya.

Critical thinking, inevitably adalah bagian dari proses otak untuk terus berkembang.
Kebalikannya dari indoktrinasi.

Menerima mentah-mentah sebuah informasi tanpa mempertanyakan keabsahannya sungguh bertentangan dengan proses normal otak yang sehat.
Tapi tentu aja ada sebagian orang yang diuntungkan dengan teknik indoktrinasi.
Di filem-filem maupun kehidupan nyata, umumnya bila sebuah pihak ingin berkuasa (atau berniat melanggengkan kekuasan) maka kebebasan berpikir adalah haram adanya.

Indoktrinasi tentunya penting bagi kekuasaan absolut.
Mau contoh?
Liat aja Korea Utara. Di situ ada indoktrinasi dalam level ekstrim.

Contoh yang gak terlalu ekstrim adalah anggapan sebagian bangsa Indonesia yang berpikir bahwa pemimpin mesti berpostur tinggi, tegap, gagah, tegas dengan latar belakang militer.
(Dan bukannya ceking, kurus, tampang ndeso, dari rakyat sipil).

Psikoanalisisnya?
Karena bangsa kita adalah bangsa yang pernah terjajah.
Terjajah selama 350 tahun bukanlah waktu yang singkat.
Dan penjajahan itu masih menyisakan rekaman mental, bahwa postur orang Belanda (yang cenderung tinggi, tegap, karena diet mereka yang tinggi protein) lebih cocok memimpin dibanding rakyat pribumi (yang cenderung kurus, kering, karena kurang gizi dan kerja paksa).

Jadi revolusi mental memang diperlukan.
Terutama bagi mereka dengan 'mental terjajah'.

Yang kita kira benar selama ini: Pemimpin terlahir dengan figur tertentu, tinggi, tegap dan gagah seperti SBY (yang sempat) jadi idola kaum wanita* selepas pemilu 2004 lalu.
* Sayangnya penulis tidak termasuk dalam golongan mereka yang mengidolakan beliau.

Kenyataannya: Mereka yang berjiwa pemimpin tidak mempunyai kriteria fisik tertentu. Contohnya Suryadi Suryaningrat, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan banyak orang pribumi Nusantara bertampang ndeso lainnya ternyata mampu membawa perubahan signifikan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Maka pesan penutup dalam tulisan ini adalah: Gak semua yang dikatakan orang itu benar. Terutama kalau orang yang jadi referensi kita adalah mereka yang telah berhenti belajar. Atau mereka yang berguru pada ilmu yang outdated.

Hidup ini cuman sekali. Mungkin kita ada disini agar kita mampu mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hidup.

You have mouth, you can ask.
You have eyes, you can read.
You have brain, you can think.
You have time, you can travel.

Camogli, Liguria (IT) autumn 2011

PS. And no, Denmark should not considered as one of the happiest places on earth.


Malapascua, Cebu (PH) summer 2012
Wadi Rum (JO) spring 2014
St. Cergue (CH) winter 2015
milano 02.feb.2015

Sunday, January 25, 2015

.: The Art of Being Ignorant :. Milano - Gennaio 2015 [parte uno]

Tadinya tulisan ini mau saya kasi judul 'The advantage of being ignorant' ... tapi secara prinsip, lebih banyak mudarat-nya menjadi 'ignorant' daripada manfaatnya.

Seengga-engga itu yang saya rasakan selama tinggal 12 hari di Milan.

Dan perjalanan ke-sekian kalinya ke Milan tentunya bukan perjalanan traveling seperti biasanya.
Tapi lebih menjurus ke hubungan antarpersonal... yang... sepertinya gak usah diceritakan lebih jauh *ehem*

Jadi orang asing di negeri orang bukan pengalaman baru bagi saya.
Sebelumnya saya pernah tinggal beberapa bulan di Belanda, Denmark, dan juga sempat meng-eksplor sejumlah negara baik di Eropa maupun sekitaran Asia.
Biasanya ada kosa kata tertentu yang akan saya pelajari, seperti 'Terima kasih', 'Maaf', 'Halo/ Selamat pagi' dst saat berpindah ke negara baru.

Mempelajari bahasa asing juga bagi saya sesuatu yang menarik dan bukan beban. Dari kecil saya memang familiar dengan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Lalu sempat mempelajari bahasa Jepang selama SMU. Bahasa Jerman dan bahasa Prancis saat beberapa tahun silam. Dan sekarang bahasa Italia masuk ke dalam daftar. 

Saat tinggal di Belanda dan Denmark, saya memang tidak terlalu berusaha untuk mempelajari bahasa setempat karena ... 1) orang sana ampir semuanya ngerti bahasa Inggris. Bahkan tukang sapu jalan pun bisa diajak berkomunikasi pake Inggris. Mungkin cuman orang Belanda asli yang uzur banget gak familiar pake bahasa Inggris. 2) Bahasa Belanda mirip dengan bahasa Jerman. Dan bahasa Denmark juga mirip bahasa Jerman. So, kadang-kadang tanpa ngerti seluruh kalimat pun bisa ngerti artinya apa kalo orang ngomong. Walaupun seringnya ngeblank... 3) Gak kedengeran seksi, jadi gak tertarik untuk belajar serius.

Sebaliknya, saat pertama kali mengunjungi Italia di tahun 2010 (Bologna, dapet cheap flight Ryan Air cuman 20 Eur dari Weeze) saya langsung jatuh cinta dengan bahasa dan ampir segala sesuatu (terutama makanan, cuaca, dan karakter orang) tentang Italia.
Bisa dibilang mereka seperti bernyanyi ketika bicara.
Pesen kopi aja bisa jadi sesuatu yang romantis kalo diucapkan orang Itali : )

Bahasa Italia memang gak se-susah bahasa Prancis dalam pelafalan huruf/ kata. In fact, untuk orang Indonesia pelafalan bahasa Itali termasuk gampang.
Yang susah itu aturan grammar-nya. Mirip-mirip Prancis tapi ada yang bilang lebih susah.
Berbahagialah mereka mahasiswa kedokteran yang pernah belajar (sedikit) kata-kata Latin ketika kuliah. Karena bahasa Italia akarnya dari bahasa Latin juga.

Bagi mereka yang merasa belajar bahasa Inggris itu susah, maka mulailah untuk belajar bahasa lain yang aturannya lebih njelimet... bahasa Rusia mungkin, supaya ntar pas balik lagi belajar Inggris-nya pasti jadi berasa gampang banget.

Anyway,  sebelum melenceng lebih jauh dari judul ... berikut definisi dari Ignorant[adj.]: lacking knowledge or awareness in general.

And yes, it is normal being ignorant when one's went abroad.
Especially when they don't speak the same language.

Bahkan gak usah abroad, waktu saya PTT di Sumbawa aja (baru pindah pulau) orang setempat udah bisa ngata-ngatain saya di depan muka.
Simply because I didn't understand what they've said I didn't get mad or upset.

Ada beberapa keuntungan tentunya being ignorant di negri orang:

1) Kita gak ngerti apa yang orang laen omongin. Kadang kalo hal itu gak penting, maka seharusnya gak usah juga didengar.

Di Indonesia, banyak pembicaraan yang gak pengen saya dengar tapi mau gak mau terdengar.
Informasi gak penting seperti ini bisa jadi sampah emosional. Bikin kepikiran, tapi sebetulnya gak perlu dipikirin juga.

Omong-omong, bahasa Inggris punya 2 kata, hear and listen untuk dengar.
Yang kalo diterjemahkan bedanya cuman dikit. Hear: mendengar, listen: mendengarkan.

Selama di Milan, saya jadi jarang juga nonton TV yang isinya berita politik lokal. Walaupun aslinya saya peminat berita politik ketika di kampung halaman, baik lokal maupun internasional.
Informasi itu bisa jadi pedang bermata dua. Berguna dan juga bisa membawa petaka.
Jadi ada baiknya kalau kita gak ngerti bahasa setempat, mengurangi screen-time depan TV dan beban emosional untuk memikirkan masalah-masalah pelik di belahan dunia lain yang gak selalu relevan.

2) Beberapa hari yang lalu, kita abis dinner dan jalan kaki di seputaran Corso Buenos Aires (tempat shopping terkenal di Milan), ada seorang pria pake baju rapih dan jas doang (kita aja yang pake jaket masi kedinginan karena suhu 8 derajat Celsius) lagi duduk di pinggir jalan sambil pegang karton.
Saya tanya apa arti tulisan di karton yang dia pegang. Terjemahannya kurang lebih seperti ini: 
'Saya kehilangan pekerjaan dan punya 2 anak yang harus diberi makan'
Setelah itu saya jadi agak sedih. 
Kadang-kadang saya merasa dunia itu gak adil, karena selalu ada orang miskin, mereka yang kurang beruntung ...
Di Indonesia karena kita udah keseringan liat pengemis, anak jalanan, pengamen dst jadi mungkin malah kebal dengan perasaan kasihan. Malah saya sebel kadang, karena kepikiran koq ada orang tua yang tega-teganya membiarkan anak balita ngamen di jalanan, misalnya.

Tapi menginjakkan kaki di luar negri, terutama negara Eropa yang dianggap makmur, jadinya rasa kasihan itu muncul lagi.
Sempat penampakan gembel atau homeless jadi barang langka bagi saya selama tinggal di Kopenhagen. Sampe akhirnya saya short trip selama 1 minggu ke Budapest (Hongaria) dan penampakan itu kembali muncul. Langsung saya berteriak lagi (dalam hati tentunya, bukan di tengah kota Budapest) bahwa betapa tidak adilnya dunia ini.

Selama dua minggu di Milan, untuk pertama kalinya, tepatnya tiga hari yang lalu, saya menyaksikan seorang pengamen di metro. Seorang pria berumur pertengahan 40-an, tampang timur tengah dengan instrumen musik menyanyikan lagu berbahasa Italia, suaranya juga bagus (gak jelek-jelek amat pastinya). Dan sejauh mata saya memperhatikan gak ada seorang pun di dalam metro yang ngasi duit.
Suara hati saya membenarkan alasan tidak memberikan receh, karena: 'I totally didn't understand what he said.'

It's not always particularly beneficial for 'being ignorant' ... but at least we could forget temporarily that the world is an unfair place somewhere....



 

Wednesday, December 17, 2014

.: Pemulung juga manusia :.

Kebiasaan baik apa yang kita adopsi ketika bepergian ke luar negri ?

Bagi saya, sebuah kebiasaan yang melekat ketika saya sempat tinggal di Eropa dan menetap hingga sekarang adalah kebiasaan memilah sampah domestik.

Baik di Belanda maupun Denmark (atau di kebanyakan negara Eropa), sampah rumah tangga yang dihasilkan orang biasanya harus dipisahkan menjadi beberapa kategori: sampah basah (organik), sampah kertas, sampah plastik (botol), dan sampah gelas. 

Masing-masing ada tempat sampahnya tersendiri karena penanganannya berbeda. Di Belanda dan Jerman bahkan beberapa jenis botol plastik berukuran besar bisa ditukarkan dengan uang jika dikembalikan ke toko.
 

Landlady saya di Kopenhagen pernah menjelaskan alasan environmental hingga ke isu global warming segala di belakang permasalahan sampah ini,  yang sebetulnya bukan hal baru bagi saya. Justru isu tersebut sangat familiar bagi saya, yang memang pecinta lingkungan jauh sebelum saya mengenal teknik memilah-milah sampah.

Sebaliknya, saya malah mengagumi pemahaman si landlady tentang isu lingkungan padahal umurnya 60 tahun lebih. 

Kalo diperhatikan memang kebanyakan teman-teman saya di Eropa concern sama masalah sampah serta isu berkaitan dengan alam atau lingkungan.
Seorang teman yang jelas-jelas mengaku atheis garis keras tapi peduli banget kalo urusan memilah sampah dan konsumen setia produk organik atau ramah lingkungan (eco-friendly).

Balik ke Indonesia, saya jadi merasa orang sini koq kebalikannya. Katanya kita bangsa yang beradab, dengan prinsip 'Kebersihan adalah sebagian dari iman' tapi kenyataannya di jalanan ada aja orang sembarangan buang sampah.
Mentang-mentang ada tukang sapu jalanan jadi suka seenaknya buang sampah. Padahal tukang bersihin jalan a.ka tukang sapu itu sama-sama juga manusia kaya kita. Jadi apa susahnya kalo kita sendiri yang buang sampah yang kita hasilkan di tempatnya.

Kebiasaan memilah sampah ini juga saya teruskan di rumah.
Paling engga saya bisa 'meracuni' orang rumah sebelum mengubah dunia.
Botol-botol plastik, bungkus minuman kemasan karton, atau bungkus kopi plastik instan saya kumpulkan di tempat terpisah.

Biasanya hari-hari tertentu ada pemulung yang lewat di depan rumah dan akan mengambil sampah botol plastik atau bungkus karton. Kadang miris rasanya dalam hati saya kalau melihat pemulung itu ngorek-ngorek sampah punya tetangga sebelah, mencari sesuatu yang bisa diambil dari sampah-sampah yang sudah tercampur segala macam kotoran.
Pemulung itu kan manusia juga kan ya.
Kenapa kita gak bisa bikin hidupnya lebih mudah dengan memilah-milah sampah supaya dia lebih bermartabat saat mengerjakan tugasnya.

Itu juga yang saya perhatikan saat tinggal di Eropa, tukang sampah di Kopenhagen misalnya, dengan mobil truknya yang canggih banget dan perlengkapannya yang menjamin keamanan kerja petugasnya.
Emang sih Denmark itu negara kaya dengan jumlah penduduk sedikit makanya bisa beli peralatan mahal untuk mengelola sampah.
Tapi untuk memanusiakan manusia sebenernya gak perlu belajar dari Eropa, karena di negara kita juga banyak orang-orang yang melihat sampah sebagai solusi dan bukan mata pencaharian.

Setahun ke belakang saya juga menjalin hubungan dengan ibu-ibu pengrajin sampah di Cibangkong yang membuat kerajinan tangan dari bekas bungkus minuman instant.
Bahkan mereka juga saya buatkan blog gratis untuk promosi [blog MyDarling]
Sudah sering hasil kerajinan tangan mereka saya bawa ke luar negri dan dihadiahkan kepada teman-teman yang saya kunjungi selama di Belanda, Belgia, Italia.


salah satu waste-based product dari bungkus kemasan kopi instan
.: taken from Mydarling-Bdg.blogspot.com :.
Teman-teman di Eropa yang saya beri hadiah tersebut tentunya sangat terkesan dengan pemberian saya.
Betapa tidak, orang kita bukan hanya berhasil menemukan solusi untuk pengelolaan sampah tapi juga merubahnya menjadi sesuatu yang bernilai jual kembali.
Biasanya saya jelaskan lebih jauh juga ke mereka, kalau sampah sebetulnya masi menjadi masalah persisten di Indonesia. Tapi beberapa orang berhasil menjadi inisiator dan merubah yang tadinya merupakan masalah jadi mata pencaharian.


Saat orang-orang Indonesia punya kesempatan keluar negri, mereka seharusnya bisa mengadopsi kebiasaan baik yang dipunya negara tersebut. 
Gak ada orang Indonesia yang berani buang sampah ketika wisata ke Singapura misalnya, karena takut kena denda disana. Tapi balik lagi ke negaranya maka kebiasaan buang sampah pun dilanjutkan kembali...

Jalan-jalan keluar negri itu bisa jadi sebuah investasi, menambah pengalaman dan koneksi,  merubah mindset ... tapi bisa juga cuman jadi acara buang-buang duit juga ... kalo kita gak dapet apa-apa kecuali foto-foto selfie

So which one are yours ?




Tuesday, December 2, 2014

.: Borobudur & sebuah refleksi :.

taken on 12.08.2014

Borobudur.

Artinya candi atau biara yang terletak di atas gunung.

Jadi salah kalau kita sebut 'Candi Borobudur' karena dalam kata Borobudur itu sendiri sudah terkandung makna candi.

Itu kata seorang tourist guide, yang perkataannya kita curi-dengar saat mengobservasi bas-relief di situs Borobudur.

Untuk kesekian kalinya gw merasa bangga saat mengunjungi situs bersejarah warisan budaya dunia di Magelang, Jawa Tengah ini. Borobudur merupakan kompleks candi Budha terbesar di dunia (& situs wisata yang paling sering dikunjungi) dan telah menjadi magnet wisatawan asing maupun lokal selama beberapa dekade.

Ada yang berbeda dengan kunjungan kali ini, karena beberapa alasan:

1. Untuk pertama kalinya gw datang kesini bersama boyfriend bule, WN asal Eropa.
Ini bikin rasa kebanggaan semakin meningkat secara signifikan.
Tadinya dia ke Indonesia cuman mau liat Bali dan gak tertarik tentang Jawa Tengah ataupun Borobudur. Gak pernah denger katanya.
Trus gw kasih liat link Wikipedia tentang Borobudur dan dalam sekejap dia langsung berubah pikiran serta bilang, "Kita harus ke tempat ini ! "

Setelah nyampe tempatnya pun dia sangat terkagum-kagum dengan arsitektur kompleksnya, padahal seminggu sebelumnya kita udah liat banyak situs arkeologikal di kompleks Angkor, Kamboja.
Dan tetep, menurut dia, kompleks candi di Magelang ini lebih spektakuler dibanding Angkor. Juga sistem beli tiket dan transportasi yang kerjasama dengan pihak hotel lebih terorganisasi misalnya, dibandingkan saat kita masuk ke Angkor (memang di sana agak chaotic sih).

Tiket masuk untuk WN Asing jauh lebih mahal beberapa kali lipat daripada tiket untuk turis domestik (tentunya). Tapi juga layanan untuk turis asing lebih prima karena dapet suguhan air minum gratis (bisa pilih teh atau air mineral).

Pendapat bf gw tentang tiket yang lebih mahal ini sih katanya wajar.
Soalnya buat mereka (tamu asing) harga tersebut masih termasuk reasonable, lagi pula situs yang dikunjungi emang worth to visit, pelayanannya juga oke.

Perlu diingat saat masuk kompleks Angkor pun gw yang bertampang Khmer mesti bayar 20 USD cuman gara-gara paspornya warna ijo, sedang orang Khmer asli bisa masuk gratis.
Jadi gak perlu protes kalau tiket-tiket masuk situs wisata di Indonesia berbeda untuk turis asing dibandingkan turis domestik, karena toh di luar negri pun turis Indonesia kadang harus bayar lebih mahal koq dibanding turis lokal negara asalnya.
 

Harga yang lebih mahal itu gak akan mengurangi sedikit pun minat para turis asing untuk mengunjungi situs wisata di negri kita.
Seperti gw yang tetep masuk Petra walaupun harus bayar 60 Jordanian dinar (sekitar 900rb rupiah) untuk kunjungan beberapa jam aja.

2. Untuk pertama kalinya juga gw menikmati indahnya Borobudur di saat matahari baru aja terbit.
Beberapa kunjungan sebelumnya gw selalu nyampe Borobudur saat siang hari, kadang kalau cuaca terlalu panas kan jadi gak terlalu menikmati juga. Belum di siang hari udah terlalu banyak wisatawan datang berkunjung, terutama anak-anak usia sekolah yang sedang karyawisata misalnya.

Nikmatnya Borobudur di pagi hari saat matahari terbit adalah, suasananya ambient, suara kicauan burung menyambut kehadiran kita, serta belum banyak orang memasuki situs. Kebanyakan kalo gw perhatikan emang didominasi turis-turis asing, orang lokalnya hanya para turis guide, atau crew TV yang bikin dokumentasi).

Faktor belum banyak wisatawan dan pencahayaan yang alami dari surya di pagi hari ini memudahkan kita untuk mengambil gambar-gambar cantik dari berbagai sudut dalam situs Borobudur.

Lebih penting lagi daripada sekedar mengabadikan momen, gw dan bf bisa merasakan makna keberadaan Borobudur yang bukan sekedar tempat wisata karena nilai historikalnya, tapi situs ini juga termasuk tempat suci bagi mereka yang beragama Budha, agama mayoritas para nenek moyang kita di masa lampau.

Semasa gw muda, sama seperti anak muda Indonesia lainnya, kadang gw belum tersadarkan betapa 'bernilai'nya Borobudur di mata dunia umumnya, terutama di kalangan umat beragama Budha.

Sampai suatu momen mengubah pemikiran gw, yaitu perjalanan keluar negri perdana ke Thailand di tahun 2009. Saat itu gw bawa oleh-oleh miniatur Borobudur yang bisa kita beli di depan pelataran saat memasuki candi. Oleh-oleh ini gw kasih ke beberapa orang, diantaranya host selama di Bangkok.
Dia girang banget dan merasa terharu, katanya bagi umat Budha ziarah ke Borobudur adalah salahsatu cita-citanya selama masih hidup.

Jadi kalau selama ini gw memperlakukan Borobodur sebagai 'sekedar' tempat wisata, maka gw salah besar. Ada makna relijius di dalamnya. Sama kaya kalau kita memasuki gereja-gereja besar di Eropa, kadang ada larangan untuk mengambil gambar misalnya. Terutama saat di tempat ibadah dilaksanakan upacara keagamaan (e.g. misa).

Hebatnya, dan hal ini juga menimbulkan rasa respek yang mendalam bagi gw pribadi, umat Budha memang terkenal dengan rasa toleransinya yang tinggi.
Kalau kita belajar sejarah Indonesia di masa abad 8-14 (bahkan nama Indonesia belum ditemukan pada saat itu) dominasi agama Hindu-Budha tidak menghalangi masuknya agama-agama baru yang dibawa para pedagang India.

Kebayang gak sih, kalau para penguasa kerajaan Hindu-Budha merasa terancam dengan keberadaan ajaran baru yang dibawa para pendatang, maka hingga detik ini hanya akan ada 2 agama yang diakui secara sah di Indonesia.

Rasa toleransi tinggi ini terus menerus dibawa dan diwariskan oleh nenek moyang kita, hingga ke masa kemerdekaan. Oleh karena itulah falsafah 'Bhineka Tunggal Ika' dimasukkan ke dalam dasar-dasar negara Indonesia (betapa arifnya pemikir bangsa kita di masa awal kemerdekaan!).

Founding fathers atau para pendiri bangsa Indonesia sangat menyadari bahwa kemerdekaan kita diraih bukan karena kita berasal dari satu ras yang sama, atau satu agama yang sama, atau satu bahasa yang sama.
Melainkan karena rasa kesatuan yang kita miliki, walaupun dari Sabang hingga Merauke kita berbeda bahasa, suku, dan agama, tapi kita berhasil menyatukan asa untuk merdeka.

Kekuatan 'bersatu' ini tentunya sangat ditakuti pihak musuh yang ingin menaklukan Nusantara. Pelaut dari seluruh dunia juga mereka yang berkebangsaan Eropa mulai dari Portugis, Spanyol dan Belanda melakukan perdagangan dengan pribumi Nusantara. Memang sejak dari dulu kala (hingga sekarang) sumber daya alam yang kita miliki melimpah ruah sehingga menarik minat para investor dan pedagang.

Tapi hanya Belanda yang konsisten menjajah kita untuk sekian lama (katanya 350 tahun!) bukan karena jumlah mereka yang lebih banyak, melainkan karena mereka melihat kelemahan bangsa kita yang besar.
Kelemahan itu digunakan dalam politik adu domba, atau devide et impera, memecah belah.

Anak-anak bangsa kita dikategorikan: ada yang dibilang pribumi, keturunan Asia timur (Melayu peranakan Tiongkok), dan Indo-Belanda.
Dengan masing-masing peran yang berbeda, yang satu di dalam pemerintahan, satu lagi hanya diberi bagian untuk berdagang.
Penggunaan bahasa Belanda juga dilarang bagi pribumi.

Semuanya itu untuk memecah belah.
Karena rasa persatuan adalah musuh besar bagi penjajah.

Nah, kalau saja anak-anak muda kita jaman sekarang belajar sejarah Indonesia di masa lampau, maka sekarang mereka tidak akan mudah terpecah belah dengan isu-isu serupa.

Tidak ada yang baru dibawah matahari. Dan bangsa yang besar seharusnya belajar dari sejarah mereka.

Semua tulisan ini memang awalnya terinspirasi dari Borobudur, relief-relief yang tergambar di situs candinya bukan sekedar menyampaikan pesan tentang kebesaran nenek moyang kita. Tapi juga bisa mengingatkan bahwa bangsa kita tetap bertahan selama belasan abad karena dibangun di atas kemajemukan.
Your Fonts - Font Generator