Friday, April 20, 2012

:: story from graduation day ::

Dear all,
posting ini sebenernya posting lama (yang gw taro di bLog satu lagi, tapi hidden : )
stelah gw baca-baca lagi ternyata mayan bagus juga, jadi gw share disini ^^


tertanggal 2 Agustus 2011

Akhirnya momen yang ditunggu selama ini dateng juga, yaitu acara wisudaan di kampus karena program masterku ini International Health di Kobenhavns Universitet kelar Agustus ini.

Tapi rasanya bukan berarti semuanya selesai, bahkan ini bisa dibilang awal dari sesuatu yang lain, yang lebih menantang.

:: graduation day! ::
being the only Indonesian lady with batik dress in KU ^^
Buat gw, artinya ilmu yang didapat harus diaplikasikan dalam dunia nyata dan kenyataan gak selalu controlable seperti dalam paper yang kita tulis atau exam yang bisa kita pelajari bahan-bahannya sehari sebelumnya.

Tentunya, pas hari wisuda, semua orang harus seengga-engga merasa bahwa ini adalah final dari usaha jerih payah dan perjuangan kita selama satu tahun menempuh program master, bla bla bla. Tapi gw mencoba untuk mengikuti arus optimisme dari temen-temen gw, walopun sebenernya dalam hati masih banyak hal yang kepikiran, seperti contohnya ::

1. Abstrak thesis gw keterima di European Congress of International Health di Barcelona.
Yang artinya mesti nyiapin presentasi poster, terlebih ini menyangkut skala internasional - jadi harus seriusan! Meanwhile, gw belum ngerjain apa-apa karena baru balik dari sommer holiday. Bahkan nulis blog untuk rekap cerita liburan gw aja gak sempet!


Narsis mejeng depan poster di CCIB Barcelona, sama supervisor dari KIT, Amsterdam
*Yay!* my first international conference :-)

2. Pengen publish article karena a) menurut supervisor thesis gw worth to publish, b) sejujurnya gw merasa kalo itu gak dipublish ampir-ampir gak bisa dipake sama orang in practise.

3. Keinginan hati gw yang terdalam tentu aja menyelamatkan dunia, lebih spesifik lagi menyelamatkan bangsa Indonesia tercinta dari keterpurukan, kebodohan, kemiskinan, belenggu pemimpin yang zalim dan tidak mengikuti amanah.

Pokonya gw sedih kalo baca berita-berita tentang tanah air.
Apalagi liat komentar orang-orang, gw bisa merasakan dan memahami bahwa rakyat menjerit dan menangis, tapi pemimpinnya seakan-akan ada di belahan dunia lain dan gak peduli sama apa yang terjadi di lapangan.

Sementara gw tau bahwa banyak anak-anak bangsa seperti gw, yang udah menempuh pendidikan tinggi diluar negri- banyak yang males balik ke Indonesia karena putus asa mau ngapain disana.
Tenaga kerja lulusan luar negeri gak selalu dihargai, juga ke-idealis-an mereka gak selalu bisa diterima dalam dunia kerja sesungguhnya.

Karena di dunia kerja Indonesia, kadang bukan kejujuran atau kerja keras yang dihargai, tapi mereka yang bisa 'mengambil hati' atasan atau 'ikut aturan main' yang bisa bertahan.

Sedangkan, jauh sebelum gw belajar ke luar negeri dan mengenal bermacam-macam etos kerja di negeri orang- orangtua gw sudah mengajarkan dan menekankan bahwa :

1. Harus rajin dan kerja keras
" Gak ada anak dari keluarga kita yang males atau bodo."
Itu dia perkataan dari orangtua yang selalu gw inget, dari jaman gw kecil.

2. Harus belajar bertanggung jawab sama keputusan sendiri dan gak ikut-ikutan orang laen.
" Emangnya kalo orang laen nyebur ke sumur, kamu mau ikutan juga ? "
Itu perkataan orangtua yang selalu gw inget, pada saat orang laen di kelas nyontek pas ujian, gw gak pernah mo ikutan!
Karena gw menghargai hasil kerja keras dan usaha sendiri, bukan menghargai nilai hasil contekan!

Dan pada saat thesis gw lulus dengan nilai 10 (out of 12) gw gak merasa itu sesuatu yang beyond expectation. Karena toh I put a lot of efforts on it. Juga karena gw tau itu bukan hasil karya ilmiah gw semata, tapi karena ada banyak elemen kemanusiaan disana; ada airmata ibu-ibu yang kehilangan bayinya, yang kehilangan suaminya, yang berjuang mencari akses pengobatan, juga menghadapi stigma dan diskriminasi.

Sekarang setelah gw belajar di beberapa tempat diluar negeri, terutama Belanda dan Denmark;
gw bisa bilang bahwa nilai kerja keras dan kejujuran itu 'eternal' (=valid for all time, essentially unchanging) kalau orang mau maju, dimana pun, kapan pun.

Pada saat gw di Belanda, rasanya gw seperti menempuh perjalanan menembus waktu dimana pendahulu-pendahulu kita, tokoh yang merintis kemerdekaan bangsa RI- yang juga menempuh pendidikan di negeri ini.
Sekarang gw ngerti rasanya jadi mereka. Mereka pasti sedih kaya gw, karena ngeliat bahwa disini segalanya serba maju, kehidupan serba enak dan nyaman (walopun gak selalu enak dan gak selalu nyaman karena cuacanya jelek). Sedangkan di tanah airnya, rakyatnya sendiri miskin dan terjajah. Bahkan sampe masa sekarang menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 66- masih aja tuh rakyat kita terjajah sama pemimpinnya sendiri.

profil RA Kartini ini ada di Tropenmuseum, Amsterdam
serasa kembali ke jaman lalu!

Kerja keras dan kejujuran.
Itu aja yang nilai yang emang penting untuk sebuah kemajuan.

Belanda dan Denmark bukan negara yang kaya akan sumber daya alam.
Mereka gak punya tambang mineral, minyak bumi, batubara, gas alam, ataupun perkebunan kelapa sawit/ kopi. Cuacanya juga ampir selalu jelek sepanjang tahun, jadi sayur mayur dan buah harus di-ekspor dari negara laen yang lebih hangat (Italia, Spanyol, Yunani).
Tapi bisa dibilang di kedua negara ini kerja keras dan kejujuran sangat dihargai.

Tiap kali musti naek sepeda, padahal cuaca 14 derajat (Celcius) dan ditengah ujan- rasanya gw mau nangis. Tapi pada saat yang bersamaan ngeliat temen-temen gw yang laen (yang dari Belanda) dan mereka cuek-cuek aja tuh. Bahkan anak-anak kecil juga biasa aja naek sepeda ditengah ujan, dengan terpaan angin.

Pernah suatu saat gw jalan ama temen baek orang Belanda, dia udah sering banget ke Indonesia untuk keperluan riset maupun jalan-jalan. Dan gw bilang, kalo cuaca jelek kaya gini, orang Indo gak akan jalan keluar, kita pasti tinggal di rumah dan bobo.
Trus dia bilang: 'Yeah but you (Indonesian people) sleep all the time.'

Emang bener sih, sebrapa sering kita liat orang kantoran tidur bahkan pada saat jam kerja?
Kalo disini, orang malu kalo ketauan korupsi waktu pas jam kantor!
Bahkan gw liat temen-temen gw tuh malu kalo buka Fb pas waktunya di sekolah atau pas lagi pake pake komputer sekolah. Buat mereka kalo pas lagi di sekolah ya waktunya belajar, bukan maen-maen yang laen.

:: Selanjutnya soal kejujuran ::
 
Di Kopenhagen, temen kuliah gw ilang kalung emas-nya dikelas seminggu sebelumnya.
Dia bahkan gak sadar kalo kalung emas-nya ilang disitu.
Lalu seminggu setelahnya, ada petugas kebersihan yang masuk ke kelas dan nanya;
" Kalian ada yang kehilangan kalung? Karena gw nemu ini di kelas pas bersih-bersih."

Gw salut sama kejujuran orang Denmark!
Bahkan bisa diliat kalo di museum-museum Kopenhagen namanya pajangan koleksi antik gak selalu dikasi tali pembatas. Karena mereka percaya kalo orang gak akan ngapa-ngapain juga tuh koleksi (gak akan dipegang, apalagi dibawa pulang).
Sayangnya, banyak turis (Asia terutama) yang menyepelekan rasa kepercayaan ini, dan mereka seenaknya aja megang-megang koleksi antik usia ribuan taun itu, padahal udah dikasitau gak boleh!

Refleksinya, stelah lama tinggal dsini dan merasakan bahwa nilai-nilai yang gw anut lebih relevan dibanding kalo gw tinggal diluar negri (sayangnya)- gw jadi males balik Indo.

Sejujurnya, gw tetep cinta Indonesia! Bahkan ada suatu rasa yang kuat dalam hati gw, mungkin sudah ditaruh sama Tuhan, bahwa segala ilmu yang gw peroleh bisa dipake untuk membangun bangsa RI. Tapi saat ini gw merasa pesimis, apakah gw yang masi muda ini bisa dipake dalam rencanaNya.

Tapi lalu dalam Sunday Service di Kopenhagen, pendeta-nya mengingatkan tentang cerita Musa, yang dipanggil Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan Mesir.
Dan dia juga merasa pesimis, karena waktu itu dia masi muda, dan juga gak pinter ngomong etc.

Pesannya satu aja :  kalau Tuhan sudah punya rencana, apa pun pasti terlaksana.

Entah lewat gw yang masih muda ini, atau orang lain... Kita lihat saja nanti di masa depan yah.

Tuesday, March 20, 2012

Lagi :: Presentasi EM

Minggu kemaren ngebantuin (lagi) presentasi Erasmus Mundus, kali ini di Graha Sanusi Unpad. 
Walaupun saya termasuk lulusan Unpad, sayangnya cuman sebentar ngerasain Dipati Ukur (waktu ospek doang sama wisudaan), akibatnya saya emang gak ngerasa bonding sama Unpad Dipati Ukur.

Jatinangor buat saya lebih feels like home, biarpun dulu masih gersang, jauh dari kota, gada bioskop/ mall. 

Anyway, yang terasa berbeda saat presentasi EM kali ini dibanding yang terakhir kali di Hilton adalah . . . kerapihan organizer-nya/ panitia acaranya.

Waktu di Hilton akhir tahun kemaren memang presentasi EM sebagai bagian dari Holland Education Fair (HEF) 2012. Panitia-nya rapih banget organized acaranya, kita dari EM dikasih waktu 30 menit untuk ketemu audience: 15 menit untuk presentasi tentang beasiswa EM, lalu 15 menit untuk tanya jawab.
Saya rasa waktu itu audience yang dateng juga puas, karena materi yang ingin dipresentasikan tersampaikan, tapi juga kalau belum tercover masih dibantu oleh sesi tanya jawab.
Kalau dirasa kurang juga masih bisa menemui alumni EM di booth, dan bisa dapet flyer keterangan tentang beasiswa EM dan Uni Eropa.

Sedangkan kejadian di Unpad kemaren buat saya terasa gak profesional.
Memang sih panitia acaranya anak-anak kuliah, mereka mungkin masih perlu banyak belajar nanti ke depannya.

Begini ceritanya. . .
Seminggu sebelumnya, panitia memang sudah memberitahu bahwa akan ada presentasi tentang beasiswa di Grha Sanusi dan Erasmus Mundus dikasi kesempatan untuk presentasi, juga ada booth (standar ya kalo ini).

Saya menyanggupi permintaan untuk ngebantu presentasi EM di Unpad.
Lalu dihubungkan dengan seorang panitia sebagai kontak person.
Sehari sebelumnya, sudah dikonfirm lewat e-mail dan juga lewat SMS bahwa presentasi EM akan berlangsung sekitar jam 10an.

Pada hari H, saya tiba di Grha Sanusi Unpad jam 0945, ketemu dengan panitia.
Cek apakah mereka sudah punya slide untuk presentasi- ternyata sudah dan saya duduk dengan manis siap untuk dipanggil.

Ternyata jam 10 lebih baru selesai pidato pembukaan oleh Dekan FE Unpad, lalu tiba-tiba ada moderator (yang juga stand up comedian, gak tau deh siapa) dan memanggil beberapa orang perwakilan dari beasiswa, tapi gak disinggung sedikit pun soal Erasmus Mundus.

Bingung deh, lalu saya menanyakan ke panitia dan juga kontak person saya yang sudah menghubungi sehari sebelumnya.
Ternyata presentasi EM dipindah ke jam 1300 oleh panitia, kontak person saya juga gak tau soal itu.

Saya agak kecewa, karena sudah punya janji sekitar waktu makan siang, juga karena sudah mengusahakan on time tapi ternyata koq diundur tanpa pemberitahuan.
Lalu panitia minta maaf bla bla bla. . . .  saya bilang 'ya gapapa sih kalau saya dapet slot siang juga gak masalah. Jam berapa pun gak masalah. Tapi koq gak diberitahu sebelumnya, jadi saya keburu bikin janji sama orang laen'.

Bukan masalah minta maafnya, tapi juga profesionalitasnya, tolong ke depannya jadi masukan supaya gak terulang lagi seperti ini. Itu deh masukan yang saya bilang ke panitia.

Lalu saya bantu kolega dari EM (yang balik jauh jauh dari Denmark untuk bantu-bantu di Unpad, padahal dia alumnus ITB) di booth Erasmus Mundus, menjawab pertanyaan adik-adik yang tertarik soal beasiswa dan membagikan flyer.

Panitia bilang bisa memajukan slot presentasi EM dari jam 1300 jadi jam 1145.
Yauda deh pikir saya, seengga-engganya jadi gak telat banget ke janji berikutnya.

Lalu tiba-tiba jam 1130 lebih, panitia menghampiri saya dan bilang untuk maju aja ke depan sekarang karena waktunya kosong dan bisa diisi presentasi EM (?!?!)
Saat itu saya masih di booth juga melayani beberapa orang yang bertanya.

Jadi buru-buru deh saya maju ke depan, untuk presentasi.
Juga mengajak kolega saya siapa tau sempet tanya jawab.

Ternyata dengan slot waktu 10 menit, mepet banget waktunya bahkan untuk menyampaikan materi tentang beasiswa EM. Boro-boro ada quiz seperti waktu di Hilton, tanya jawab aja gak sempet.
Udah gitu slide presentasi belum beres, panitia di belakang udah ngasi tanda kalau harus di-cut karena waktu presentasi udah habis.
Daripada nanggung, saya bereskan saja presentasinya- biar audience juga gak kecewa dikasi tau cuman stengah stengah. Sebodo amat deh sama panitia, siapa suruh ngasi slot mepet.

Beres presentasi, saya sempet bilang kalau slot 10 menit presentasi tuh mepet banget, jadinya sori aja deh kalo molor karena daripada materi gak tersampaikan.

Panitianya malah bilang, ' Iya maaf soalnya kalo kelamaan kita takut orang-orang jadi bosen.'

What?!?!?
Gak ada yang bosen selama presentasinya masih in track dan rentang perhatian orang itu kan 20 menit.
Lagian slide presentasi EM penuh dengan gambar-gambar hasil traveling alumni EM :)

Padahal sebelumnya ada presentasi ngalor ngidul tentang beasiswa Djarum (emang sponsornya pabrik rokok . . . ckckck) yang lebih lama dari 20 menit dan entah isinya tepat sasaran gak.

Untung beasiswa ku dapetnya dari pemerintah Uni Eropa, jadi bebas deh kalo mau kampanye anti rokok juga gak merasa berkhianat ^^

Meladeni pertanyaan adik-adik saya tentang beasiswa Erasmus Mundus, bikin saya teringat ke masa lalu saat saya gigih menjadi fakir beasiswa : )

Saya bilang sama mereka, jaman dulu saya masukin aplikasi ke mana aja, mulai dari AusAID, USAID, Chevening, DAAD, NFP/Neso - pokonya mencoba segala macam cara menuju Roma, sampe akhirnya berjodoh dengan Erasmus Mundus di tahun 2010.

Melihat muka mereka yang jauh lebih muda (dan juga polos serta lugu .. hehe) bikin saya jadi ingin memotivasi mereka kalau kuliah S2 di luar negri itu sangat menyenangkan.
Gak traumatik seperti kuliah S2 disini yang bikin kita males ketemu dosen, atau tugas thesis yang bikin stres (thesis diluar juga bisa bikin stres, tapi dalam kadar sewajarnya).

Dengan kuliah diluar kita bisa menikmati interaksi dengan temen-temen dari luar, belajar membangun networking (secara global :) punya pengalaman international dan tentu aja kesempatan traveling. It's priceless hey!

Saya juga membagikan beberapa kartu nama ke adik-adik yang ingin tau lebih jauh soal travel blog saya, hanya demi teaser tentunya.

Mudah-mudahan saat melihat foto dan cerita jalan-jalan di luar, mereka juga bisa lebih semangat untuk memburu beasiswa EM ^^

Buat yang ingin tau lebih banyak soal beasiswa Erasmus Mundus, bisa masuk ke link dibawah- dirintis oleh para alumni EM Indonesia.

http://emundus.wordpress.com/


Good luck !

Thursday, February 23, 2012

:: Film 'bau' medis ::

Akhir-akhir ini saya tergila-gila sama serial 'Trauma' yang diputer di stasiun TV swasta tiap malem.

Memang banyak alasan yang bikin film ini bagus untuk ditonton, para pemaen enak diliat (kalo dibilang semua cakep engga juga sih), alur ceritanya menarik gak bikin bosen, atau terlalu cepet sampe gak ngerti, tapi juga intens sama intervensi medis. Dan karena film ini bercerita tentang profesi medis, asik aja ngeliatnya - mengingatkan sama masa-masa dulu waktu masih pegang pasien di rumah sakit (huhuhu... sok nostalgila deh).

Walaupun dari dulu saya penggemar e.r (emergency room) juga - yang naskahnya ditulis oleh Michael Crichton (dia dokter juga, walaupun lebih terkenal sebagai penulis novel e.g. Jurassic Park, Congo dst) dan serial medis laennya seperti scrubs (yang sebenernya lebih banyak cerita drama-nya).

Melihat orang luar negri (lebih tepatnya mungkin orang USA, abis yang bikin serial medis emang kebanyakan dari sini) yang begitu canggihnya punya teknologi untuk life-saving sampe pake helikopter (seperti di serial Trauma) jadi agak sirik juga.

Agak sirik karena dua hal; pertama, kenapa sih teknologi atau sistem kesehatan kita gak bisa semaju seperti mereka. Satu lagi, kenapa sih kita gak punya serial medis dalam negri yang keren (atau seengga-engganya mendidik masyarakat supaya lebih pintar) seperti mereka.

Ehm . . . sejujurnya ada beberapa channel stasiun TV swasta yang ampir-ampir gak pernah ditonton karena tiap kali isinya gak mutu. Apalagi kalo jam prime time (waktu orang makan malem) biasanya saluran TV penuh sinetron dengan target ibu-ibu.

Alur ceritanya gak masuk akal, yang penting pake aktor/aktris cakep atau cantik.
Pokonya nonton 5 menit aja channel ini udah bikin kesel, pengen protes tapi gak tau ke siapa.

Lalu waktu itu ada temen dokter juga posting di wall Fb dia, yang protes kenapa di dalam sinetron ada dokter (peran 'dokter' tentunya, aslinya artis doang pake jas dokter) yang bilang kalo ginjal itu harus ditransfusi ???!???!???

Tentu aja untuk orang-orang yang ngerti medis fakta-fakta yang gak akurat ini bikin kesel.
Emang sih namanya sinetron, alur ceritanya aja gak masuk akal, kenapa juga detail yang lainnya mesti masuk akal?
*grgrgrgr*

Padahal kalau si sutradara atau siapa pun itu yang bertanggung jawab bikin sinetron mau usaha dikit mestinya dia bikin riset dikit. Gimana sih prosedur kalau mau nolong orang yang gagal ginjal, misalnya. Dan mustinya istilahnya transplantasi bukan transfusi.
Dan transplantasi ginjal prosedurnya gak semudah seperti ganti ban bocor di mobil.

Itu sih kalau yang bikin sinetron emang punya tujuan mulia pengen membuat tontonan yang mendidik atau mencerdaskan penonton ya.

Tapi yah, it's real life hey, mereka kan cuman mau duit duit duit.
Makanya sistemnya juga kejar tayang, gak penting isinya apa.
Toh orang yang nonton juga gak ngerti apa artinya istilah tadi.


Kembali ke dampak tayangan sinetron yang tidak mendidik tadi - ada sebuah contoh nyata (dari cerita seorang kolega juga yang menangani pasien) ada seorang pasien yang menyangka dirinya anak angkat dan minta dicek DNA segala hanya karena golongan darahnya beda sama orang tuanya.

Kesian sekali emang, gak semua orang ngerti pelajaran biologi waktu SMA (atau bolos waktu pelajaran tsb) tentang rhesus dkk. Tapi kebodohan itu jadi semakin didramatisir oleh tontonan sinetron soal anak angkat, anak ketuker waktu lahir, dan sterusnya.

Mungkin nanti, di masa depan, saat kebutuhan tontonan yang lebih masuk akal mulai tumbuh, perlu dipikirkan supaya saya berganti profesi untuk jadi penulis naskah yang berbau medis seperti Michael Crichton.

Karena sebenernya dunia medis yang sesungguhnya menarik juga koq, gak kalah banyak intrik-nya seperti sinetron. Ada banyak persaingan, tantangan, tapi sekaligus juga penuh pencitraan di mata orang 'luar'.
Selain itu juga, ada tujuan mulia supaya orang awam bisa membedakan apa yang menjadi hak-nya sebagai pasien - dan tidak mau dibodohi oleh kalangan medis itu sendiri.

Untuk sementara, saya cuman bisa menulis curhat-an di blog ini aja dulu sambil bilang dalam hati, 'Yah namanya juga Indonesia. . .'

Sori ya lagi-lagi bukan soal traveling . . . hehe :D

Tuesday, February 21, 2012

Life :: Random things ::

Well, udah lama gak ngisi bLog ini,
tentunya karena ada kesibukan sehubungan dengan penentuan karir di masa depan
(Gaya banget ngomongnya, bilang aja nyari kerjaan baru : )

Tapi, your job is not your career.

Jadi nyari kerjaan baru gak selalu berhubungan dengan membangun karir.

Ok, karena masi belum official, saya jadinya gak akan ngebahas soal itu.
Lagian ini kan judulnya travel bLog (walaupun karir baru saya nanti mudah-mudahan masi mendukung hobi jalan-jalan tentunya *evil grin*).

Baru-baru ini ada perubahan rencana, soal tadinya mau launching e-book tapi sepertinya harus ditunda. Sori ya . . . ( Geer juga, emang banyak yang kecewa gara-gara gak jadi?!?)

Sebagai gantinya, ada proyek yang lain sih (masih rahasia juga) yang tujuannya bukan (hanya sekedar) teaser supaya orang Indonesia mau lebih exploring tapi lebih ke pembangunan karakter.
Karena melihat dan mencermati, kayanya itu yang lebih urgent untuk situasi bangsa Indonesia masa sekarang.

Anak-anak muda seperti kehilangan arah. Mereka gak tau apa yang benar dan apa yang salah karena generasi tua-nya juga tidak bisa menjadi contoh/ teladan yang benar.
Apa yang diajarkan di sekolah cuman teoritis, lalu di luar praktek yang mereka lihat jauh berbeda.

Sedih gak sih kalau di masa depan generasi muda kita akan menjadi jajahan dari produk globalisasi?
Anak-anak muda lebih peduli sama segala sesuatu yang sifatnya fisik daripada membangun karakter.

Mereka lebih menghargai orang yang punya gadget canggih daripada orang yang punya karakter tangguh.

Selama saya tinggal di Belanda (sekitaran Amsterdam), jarang saya lihat anak-anak kecil pegang Hp atau gadget canggih.
Disini anak-anak usia SD sudah mahir bermain dengan iPad maupun gadget canggih lainnya.

Di Bandung kawasan perkotaan, dianggap wajar kalau anak SMP sudah punya Hp/ Blackberry (padahal kebutuhan mereka apa sih? BBm-an sama temen yang setiap hari ketemu di sekolah?).
Sedangkan di Belanda, orang yang punya BB yah yang berhubungan sama bisnisnya.

Di kelas saya yang isinya 90% orang Belanda (sisanya 1 orang Spanyol, 1 dari Benin, 1 dari Australia dan 1 dari Indonesia- saya) cuman ada 1 orang yang punya Blackberry.
Dan gak ada yang punya iPhone!
Padahal kelas saya tuh tempat kursus dokter-dokter yang mau jadi Tropical doctors, dan mereka bayar kursus itu mahal banget (kalo saya sih gratis, dapet beasiswa : )
Buat mereka gadget canggih itu gak bikin seseorang jadi lebih cool.

Mereka emang cuman beli barang yang sesuai kebutuhan, dan yang namanya Fb, Twitter, dan yang laen-laennya itu gak populer.
Beberapa temen saya emang punya account profi seperti LinkedIn, tapi gak semua orang punya Fb misalnya.
Yang punya Fb juga gak narsis gonta-ganti status yang gak penting (seperti kebiasaan beberapa orang yang saya kenal di Indo).
Status mereka itu isinya biasanya ngasitau kalo mereka udah punya baby, pindah ke Afrika (tempat kerja baru) atau lebih ke announcement yang bisa dilihat oleh kenalannya.

Kalo orang-orang yang saya kenal di Indo, semua hal yang gak penting bisa jadi inspirasi untuk status Fb. Mulai dari kecengan yang kelakuannya aneh, sebel sama orang, marah-marah sama orang baru ketemu di jalan.
Emang sih silakan aja mo nulis apa pun kan emang account Fb punya sendiri.
Yang males paling ya temennya, yang kepaksa harus ngebaca.

Tapi kalo dipikir-pikir, kenapa sih gak ada temen-temen saya yang di Belanda/Denmark yang punya status norak/ gak jelas gitu.

Kemungkinan, ini baru kemungkinan aja karena hasil analisa saya semata sih.

Orang Belanda/Denmark itu punya satu karakter yang sama yaitu 'tough' . . . ehm terjemahan Indonesia-nya mungkin karakter keras, gak mau keliatan lembek.

Mungkin karena iklim di belahan bumi utara yang gak bersahabat juga yang bikin karakter orang-orang ini jadi gak terlalu sensitif.

Contohnya, waktu saya naek sepeda di Amsterdam, dalam suhu 14 derajat Celcius, dan kecepatan angin 20-30 km/jam. Duh buat saya waktu itu rasanya udah ampun-ampunan deh, apalagi buat yang badannya kecil kaya saya rasanya jarak tempuh 8-12 km tuh seperti gak nyampe-nyampe.
Apalagi yang namanya ujan tuh biasa banget di Belanda, di musim panas pun bisa muncul ujan.
Terlebih saat musim gugur atau winter.

Tapi nyatanya, temen-temen saya di Belanda atau Denmark tuh kayanya tetep aja pada naek sepeda. Emang sih mereka komplen soal cuaca jelek (dan mreka bilang selalu komplen sepanjang taun, karena ampir jelek terus).
Walopun cuaca jelek teteup aja temen-temen saya ini gada yang switching naek kendaraan umum keq. Katanya sih 'Ah lama-lama juga biasa, lagian itu kan cuman ujan air'.

Di Belanda/Denmark kalau saya perhatikan juga kalo cuman ujan kecil sih gada orang tuh yang pake payung atau jas hujan. Semua lalu lalang seakan-akan gak ada apa-apa.
Apalagi di Kopenhagen, tempat saya tinggal, temen-temen saya orang Denmark suka bilang kalo semangat Viking itu 'gak melempem', tangguh, dan pantang menyerah.
Mereka juga suka pake baju tipis padahal suhu masih dingin, katanya supaya badan mereka jadi kebiasa tus lama-lama jadi kuat deh.

Anak-anak kecil di Belanda dan Denmark juga gak dimanja.
Dari kecil dibiasain kena angin (duduk di sepeda) dan maen di salju walaupun dingin.

Viking code
Beda banget begitu saya balik Indo lagi.
Despite cuaca disini hampir sepanjang taun konstan hangat (always summer, kalo saya bilang ke temen-temen bule) tapi akibatnya mental bangsa kita juga jadi keenakan.

Kena ujan dikit langsung sakit. Lupa pake jaket langsung masuk angin.

Itu contoh sederhananya.

Contoh laennya juga banyak.

Dari sekolah kita diajar untuk menghargai hasil bukan proses.
Contohnya, guru selalu memperhatikan murid yang nilainya bagus, bukan yang aktif di kelas selama proses belajar.
Akibatnya, murid lebih termotivasi untuk nyontek (supaya dapet nilai bagus), ketimbang aktif mengikuti proses belajar mengajar.

Owya, ini juga saya rasakan waktu masuk kelas bule-bule ini pertama kali.
Saya merasakan sebagai orang Indo koq saya malu sekali untuk bertanya.
Saya takut salah kalau bertanya, atau pertanyaan saya termasuk 'pertanyaan bodoh' dst.

Akhirnya temen-temen bule saya bilang: 'There's no such thing as stupid question.'
Lagian kita disini kan sama-sama belajar.

Dan mreka para bule tuh independent thinkers sekali.
Itu karena sejak kecil yang namanya opini tuh sangat dihargai.
Opini anak kecil juga dianggap sama kaya orang dewasa.

Gak pernah saya denger kalo ada anak kecil ngomong tus orang dewasanya bilang:
'Ah kamu kan anak kecil, udah deh gak usah ikutan ngomong.'

Karena setiap opini dihargai, mereka juga berani untuk menentukan sikap.
Mereka juga gak suka 'ikut-ikutan'.
Kalau buat kamu cocok ya silakan, tapi belum tentu buat saya juga cocok.

Akibatnya emang kadang-kadang pas kerja kelompok susah sekali menyatukan beberapa independent thinkers ini, tapi yang bagusnya lagi, mereka juga fair banget.

Artinya, kita bisa bertengkar karena berbeda opini saat diskusi dalam kelas.
Tapi diluar kelas, it's all over. Kita jadi temen lagi, karena apa yang kita diskusikan tadi gak usah dibawa personal.

Pokonya semua pengalaman berharga selama saya menempuh studi diluar ini bikin saya kepikiran gimana membangun karakter bangsa Indonesia, terutama anak-anak generasi mudanya. Karena kan mereka yang nanti akan menggantikan generasi tua yang sudah korup dan gak bisa diapa-apain lagi (kecuali sama KPK).

Oke deh, itu dulu cerita tentang random things ya . . . hehehe . . . . kecewa deh gak ada cerita travelingnya ^^
Your Fonts - Font Generator