Yes, I will be going in the end of this month to my (half) ancestor's country : The Netherlands.
Where I will spend approx. 3 weeks of my sexual reproductive health course (during the day) and sightseeing the beautiful city of Amsterdam (during evening).
I hope the weather won't be so cold during my stay there.
It's going to be spring/ beginning of summer and I expect at least I could wear one of my summer outfits :-)
Then again, I should not have overexpectation about the weather in Amsterdam, as it said that even on July/August (the peak of summer) average high temperature is only 21.8º Celcius -and doesn't feel like I would wear any tank top on such a day.
I made a small research about Ams thou'
And, this one, is always one of my favorite :
http://en.wikipedia.org/wiki/Amsterdam
H minus 1 sebelum keberangkatan & gw bahkan belum ngepak backpacker 65 liter untuk traveling nanti !
Tapi koper 20 kgs sih uda full (bahkan rada kuatir entar bakal overbagage (I hope not)
List barang2 yang bakal dibawa di backpack tsb (karena pake KLM bole bawa barang ke kabin max. 12 kgs included laptop, kamera dst)
1. Laptop + charger + hardisk external
2. Digicam + charger
3. Celana panjang (cukup 1 potong aja) + jaket
4. Travel kit (bawa cairan max 1 liter masuk kabin) : sabun, sampo, lotion
5. Kaos rapih (1 potong aja) + baju utk bobo
6. Sikat gigi + odol + make up kit
7. Tupperware utk minum (air kan gratis tinggal ambil dr keran)
8. Pocket belt + dkk
9. Dokumen penting (termasuk diantaranya paspor, invitation letter, bukti booking tiket, surat dari uni, dst)
10. Handuk, underwear, kaos kaki
11. Obat2an pribadi
12. Raincoat, payung
13. HP + charger
14. Tas kecil
15. Peta + instruction book dari uni + log book pribadi (buat nulis2)
16. Sepatu (baru, gak tega utk masukin ke bagasi.... masi anget soalnya, walopun gak penting jg masuk kabin)
17. Buku bacaan (utk di pesawat biar gak manyun, sengaja beli ke Gramed kemaren:-)
Lalu sudah menyusun itinerary kasar selama disana :
minggu 1 : explore Ams (yang mesti dikunjungi kayanya flea market, soalnya gw doyan barang2 secondhand, terutama yang murah & masi bagus)
minggu 2 (weekend) : visit Belgium, maybe Antwerp, ada beberapa orang yang dikenal.... termasuk Prof. Meheus tapi aneh aja tiba2 visiting dia dalam rangka maen mah.... hihihi
minggu 3 : maybe Maastricht, lalu ke Essen, lalu ke Bologna (huhuy, Italy here I come)
Mudah2an gak bangkrut gara2 kebanyakan belanja (baju titipan orang2, kan gw sedang memulai usaha sebagai personal buyer amatiran.... hehehe)
H&M lagi spring/summer sale soalnya
Sepatu mulai dari 10-25€ (skitar 115 - 280k IDR lah)
Baju/blus mulai dari 8-20€
Terusan/dress mulai dari 15€
Swimsuit (top doank) mulai dari 2€ !
Bikin gw panik aja & pengen blanja blanja blanja compulsively....
Huhuhuhu.... parah.
Tuesday, May 18, 2010
Thursday, February 25, 2010
Krakatau trip [part one]
H minus 7 sebelum keberangkatan gw udah sibuk konsul ke mbah google untuk tanya soal sejarah dari Krakatau atau terkenal dengan Krakatoa ini.
Ternyata tante Wiki juga punya cerita yang lumayan lengkap (ada animasi simulasi dari meletusnya Krakatau di tahun 1800-an hingga keadaan situs tersebut di masa sekarang) dan gimana dari hasil letusan tersebut bisa sampai membuat ribuan orang meninggal, bahkan katanya, letusan Krakatau ini bikin perubahan iklim juga, dashyat bener.
Bisa dibilang termasukan letusan yang termasuk dashyat dalam kurun waktu beberapa abad.
Konon, letusan di tahun 1883 ini sampe kedengeran di Australia, juga memusnahkan semua populasi yang ada di Lampung dan Banten.
Ratusan (atau ribuan) mayat-mayat orang yang meninggal ini juga terbawa sapuan ombak sampai ke belahan Afrika...... ckckckck...
Anyway, dibalik latar belakang ceritanya yang dramatis, saat ini pecahan dari Krakatau (gunung Rakata) masih berstatus gunung berapi aktif.
Waktu mamah gw tau, kalau anaknya mau kemping di Krakatau, dia tanya: "Kempingnya dimana? "
Jawab(J): " Ya disitunya."
Mamah (M): " Emang gunung berapinya udah gak aktif ?"
J: " Gatau. Mungkin. "
M: "Koq mungkin sih? Apa gak bahaya? Emang boleh? "
J: " Udah deh mam. Pokonya ada orangnya yang ngurus bilang boleh. "
Lalu, H minus 2 sebelum final day, I already got very very excited.
Konsolidasi dengan anggota tim yang lain juga udah beres.
Backpack 55 liter, isi sleeping bag (ampir gak kepake), matras pinjeman, alat masak dll, all set up.
Dan seperti biasa, kalo menjelang mau trip gini, gw suka gak bisa tidur !
Oh..oh..oh... udah kepikiran betapa menyenangkan ketemu alam (liar) dan segala penghuninya.... Ha ha ha... Lebay.
Lalu, final day has come eventually.
Karena kita mesti berangkat dari terminal Leuwi Panjang sebelum jam 18, (terpaksa) gw ijin kantor jam 16.
Juga ngajak Noor, intern dari Belanda yang lagi magang di kantor, terlibat dalam persekongkolan ini... Ha ha ha.
Ternyata ujan gede..... sounds like not a good beginning.
Gw, Noor, dan Dios masuk bus Bandung - Merak dalam keadaan basah deh jadinya.
Still a long way to go menuju Pelabuhan Merak, dimana kita mesti nyebrang lagi ke Lampung.
Catatan Tiket bus (eksekutif) Bandung - Merak : 50,000 IDR.
Lama perjalanan : 5 jam lebih (spare waktu 6 jam deh biar aman)
Nyampe sana almost midnight, lalu kenalan ama anak-anak laen, managed to find something to eat (midnight snack?!?)
Then ngantri tiket fery, untuk nyebrang ke Lampung. (Tiket dibeliin ama Utine, EO-nya trip)
Fery-nya lumayan crowded, karena long wiken kali yah, tapi overall masi bisa dibilang nyaman, dibanding nyebrang dari Banyuwangi ke Gilimanuk.
Untuk masuk ke ruangan AC, mesti nambah 5,000 IDR lagi (tapi AC-nya gak terlalu berasa juga sih) but somehow, I coped with the situation and got sleep.
Nyampe Pelabuhan Bakauheni (Lampung) yang ternyata far more advanced dari Pelabuhan Merak. It was quite surprising. Dan bersih. Dan fasilitasnya mirip pelabuhan Batam kalo qta mau nyebrang ke Singapur. Okelah.
Dari pelabuhan Bakauheni ini mesti pake perahu lagi untuk ke pulau Sabesi, yang letaknya udah lumayan deket ama pulau sekitar anak Krakatau entar.
Utine dah carter angkot untuk a whole team, dari situ ke tempat perahu bawa kita ternyata lumayan cepet.
Spare waktunya 1 jam dan gw rasa perjalanan less than that, soalnya qta jalan subuh dan jalan di Lampung ternyata lurus, gak banyak mobil, dan gak banyak bolong.
Bisa dibilang supir angkor disini pada jago ngebut (dan gw rasa mereka bakalan stress kalo disuruh jadi supir angkot di Bandung).
Pas nyampe tempat kita ngumpul untuk nyebrang ke Sabesi ituh, after a while sunrise muncul.... Ugh ugh ugh....

So beautiful. And it's only a beginning of our trip.
" Gunung-nya udah keliatan dari sini ! " (Norak mode on)
Berlangsunglah sesi poto-poto (baik poto pemandangan maupun poto versi narsis :-)
tapi terus terang, baru kali ini gw merasa gak pede mengeluarkan digicam Kodak gw (padahal dia udah menemani petualangan gw ke 2 benua) dan mulai mikir-mikir (serius) untuk punya SLR juga.
*Hmmmmh*
Manusia emang gak pernah puas. Lanjut.... Akhirnya setelah loading barang-barang, kapal kita berangkat deh.

Ternyata tante Wiki juga punya cerita yang lumayan lengkap (ada animasi simulasi dari meletusnya Krakatau di tahun 1800-an hingga keadaan situs tersebut di masa sekarang) dan gimana dari hasil letusan tersebut bisa sampai membuat ribuan orang meninggal, bahkan katanya, letusan Krakatau ini bikin perubahan iklim juga, dashyat bener.
Bisa dibilang termasukan letusan yang termasuk dashyat dalam kurun waktu beberapa abad.
Konon, letusan di tahun 1883 ini sampe kedengeran di Australia, juga memusnahkan semua populasi yang ada di Lampung dan Banten.
Ratusan (atau ribuan) mayat-mayat orang yang meninggal ini juga terbawa sapuan ombak sampai ke belahan Afrika...... ckckckck...
Anyway, dibalik latar belakang ceritanya yang dramatis, saat ini pecahan dari Krakatau (gunung Rakata) masih berstatus gunung berapi aktif.
Waktu mamah gw tau, kalau anaknya mau kemping di Krakatau, dia tanya: "Kempingnya dimana? "
Jawab(J): " Ya disitunya."
Mamah (M): " Emang gunung berapinya udah gak aktif ?"
J: " Gatau. Mungkin. "
M: "Koq mungkin sih? Apa gak bahaya? Emang boleh? "
J: " Udah deh mam. Pokonya ada orangnya yang ngurus bilang boleh. "
Lalu, H minus 2 sebelum final day, I already got very very excited.
Konsolidasi dengan anggota tim yang lain juga udah beres.
Backpack 55 liter, isi sleeping bag (ampir gak kepake), matras pinjeman, alat masak dll, all set up.
Dan seperti biasa, kalo menjelang mau trip gini, gw suka gak bisa tidur !
Oh..oh..oh... udah kepikiran betapa menyenangkan ketemu alam (liar) dan segala penghuninya.... Ha ha ha... Lebay.
Lalu, final day has come eventually.
Karena kita mesti berangkat dari terminal Leuwi Panjang sebelum jam 18, (terpaksa) gw ijin kantor jam 16.
Juga ngajak Noor, intern dari Belanda yang lagi magang di kantor, terlibat dalam persekongkolan ini... Ha ha ha.
Ternyata ujan gede..... sounds like not a good beginning.
Gw, Noor, dan Dios masuk bus Bandung - Merak dalam keadaan basah deh jadinya.
Still a long way to go menuju Pelabuhan Merak, dimana kita mesti nyebrang lagi ke Lampung.
Catatan Tiket bus (eksekutif) Bandung - Merak : 50,000 IDR.
Lama perjalanan : 5 jam lebih (spare waktu 6 jam deh biar aman)
Nyampe sana almost midnight, lalu kenalan ama anak-anak laen, managed to find something to eat (midnight snack?!?)
Then ngantri tiket fery, untuk nyebrang ke Lampung. (Tiket dibeliin ama Utine, EO-nya trip)
Fery-nya lumayan crowded, karena long wiken kali yah, tapi overall masi bisa dibilang nyaman, dibanding nyebrang dari Banyuwangi ke Gilimanuk.
Untuk masuk ke ruangan AC, mesti nambah 5,000 IDR lagi (tapi AC-nya gak terlalu berasa juga sih) but somehow, I coped with the situation and got sleep.
Nyampe Pelabuhan Bakauheni (Lampung) yang ternyata far more advanced dari Pelabuhan Merak. It was quite surprising. Dan bersih. Dan fasilitasnya mirip pelabuhan Batam kalo qta mau nyebrang ke Singapur. Okelah.
Dari pelabuhan Bakauheni ini mesti pake perahu lagi untuk ke pulau Sabesi, yang letaknya udah lumayan deket ama pulau sekitar anak Krakatau entar.
Utine dah carter angkot untuk a whole team, dari situ ke tempat perahu bawa kita ternyata lumayan cepet.
Spare waktunya 1 jam dan gw rasa perjalanan less than that, soalnya qta jalan subuh dan jalan di Lampung ternyata lurus, gak banyak mobil, dan gak banyak bolong.
Bisa dibilang supir angkor disini pada jago ngebut (dan gw rasa mereka bakalan stress kalo disuruh jadi supir angkot di Bandung).
Pas nyampe tempat kita ngumpul untuk nyebrang ke Sabesi ituh, after a while sunrise muncul.... Ugh ugh ugh....

So beautiful. And it's only a beginning of our trip.
" Gunung-nya udah keliatan dari sini ! " (Norak mode on)
Berlangsunglah sesi poto-poto (baik poto pemandangan maupun poto versi narsis :-)
tapi terus terang, baru kali ini gw merasa gak pede mengeluarkan digicam Kodak gw (padahal dia udah menemani petualangan gw ke 2 benua) dan mulai mikir-mikir (serius) untuk punya SLR juga.
*Hmmmmh*
Manusia emang gak pernah puas. Lanjut.... Akhirnya setelah loading barang-barang, kapal kita berangkat deh.

Tuesday, November 24, 2009
How to level out the world
I am believe I am just lucky.
That's my attitude to face all the goodness in life.
In other words, I am luckier than most of people in my hometown, even in my home country.
That's also the line I was telling to my friend when we walked down the path on beautiful garden of Alhambra or alongside a beautiful beach in Phuket.

That's my attitude to face all the goodness in life.
In other words, I am luckier than most of people in my hometown, even in my home country.
That's also the line I was telling to my friend when we walked down the path on beautiful garden of Alhambra or alongside a beautiful beach in Phuket.
This is one of my favorites stories, taken from Stories for Parents, Children and Grandchildren - Volume 1 - by my favorite author, as well, Paulo Coelho.
Once when Confucius was travelling with his disciples, he heard tell of a very intelligent boy living in a particular village. Confucius went to see and talk to him and he jokingly asked: 'How would you like to help me do away with all the irregularities and inequalities in the world? 'But why' asked the boy. 'If we flattened the mountains, the birds would have no shelter. If we filled up the deep rivers and the sea, the fish would die. If the head of the village had as much authority as the madman, no one would know where they were. The world is vast enough to cope with the differences.'

The disciples left feeling greatly impressed by the boy's wisdom, and as they journeyed towards the next town, one of them commented that all children should be like that. Confucius said:
'I've known many children who, instead of playing and doing the things appropriate to their age, were busy trying to understand the world. Not one of those precocious children did anything of any great significance later in life because they had never experienced the innocence and healthy irresponsible of childhood.'
ords: Coelho, books, stories, traveling, backpacker, backpacking, Europe, Eurotrip
Wednesday, November 11, 2009
street music ala Parisien
Stasiun kereta di Paris beda banget ya sama stasiun Kebon Kawung di Bandung.
Selain stasiun-nya lebih bersih, yang ngamen juga elit pisan.... ini anak-anak skolah musik kayanya.
Alhasil para pengunjung (termasuk kita, para traveler kere :-) pada nonton dan ngasi duit ... dengan rela tentunya -gak pake intimidasi.
street music, Paris, Gard du Nord, station, entertainment, traveler, traveling, backpacker, backpacking, Eurotrip, Europe, France, cheap travel
street music, Paris, Gard du Nord, station, entertainment, traveler, traveling, backpacker, backpacking, Eurotrip, Europe, France, cheap travel
Subscribe to:
Posts (Atom)
Cities I've visited
- Create your own travel map or travel blog
- Find cheap flights at TripAdvisor





