Saturday, June 9, 2012

Quotation


Be kind to yourself and others.
Come from love every moment you can.
Speak of love with others. Remind each other of your spiritual purpose.
Never give up hope.
Know that you are loved.

' The Path of Love ' - Deepak Chopra

Thursday, May 17, 2012

Inget Tuhan kalau mau mati

Judulnya bukan sengaja dibikin kontroversial,
tapi ini sungguhan apa yang gw rasakan pas kemaren terakhir kali naek pesawat.

Entah kenapa pas kemaren itu padahal gw naek pesawat Garuda (dibayarin kantor) dari Jakarta ke Surabaya.
Jelas pesawatnya bagus dan besar, dibanding pesawat tua yang biasa dipunya budget flight (e.g. AirAsia). Tapi karena pas kemaren berangkat masi hangat berita seputar kecelakaan udara Sukhoi, jadi ikutan kepikiran juga sih. Gimana jadinya kalau di penerbangan ini tiba-tiba ada sesuatu yang gak diharapkan terjadi.

Secara pribadi, gw sendiri bukan tipe orang yang takut terbang, in fact moda transportasi jalur udara jadi pilihan utama (kalau ada budgetnya) demi alasan kepraktisan, supaya lebih cepet nyampe.

Tapi ada beberapa kejadian yang emang bikin gw suka mikir-mikir untuk pake pesawat.

Contohnya waktu kemaren tinggal di Eropa, sempet ngalamin yang namanya pesawat terbang di cuaca buruk pas winter. Yang katanya emang bahaya banget kalau landing kalau landasan licin karena salju yang beku.
Hanya gw percaya kalau standar keamanan Eropa kayanya gak mungkin sembarangan, jadi terus terang walaupun tiap kali take off dan landing gw selalu berdoa, tapi gw juga sangat percaya sama kinerja orang-orang Eropa yang gak mungkin sembarangan mengoperasikan layanan.

Salah satu kejadian yang lumayan exceptional mungkin pas gw ngetrip ke Budapest waktu liburan Paskah taun lalu.
Eropa timur memang termasuk daerah yang kurang dikenal, padahal sebenernya gak kalah cantik dan penuh sejarah. Waktu itu udah booking budget flight Wizzair dari Malmo ke Budapest dari jauh-jauh hari (2-3 bulan sebelumnya).
Untuk return ticket Malmo - Budapest sendiri sih sebenernya termasuk murah tapi yang bikin mahal adalah additional cost, e.g. kereta supercepat dari Kopenhagen ke Malmo, plus dari Malmo stat central naek bis khusus ke airport Malmo. Blum lagi dari Budapest Ferihegy airport mesti dilanjut pake kereta lagi ke station central nya di kota.

Total cost yah akhirnya gak murah-murah amat, walaupun masi jauh lebih murah daripada ngetrip dalem kota di Kopenhagen misalnya.

Anyway, pengalaman naek Wizzair untuk pertama kalinya ini lumayan berkesan- dalam artian banyak unexpected things.
Pesawatnya sendiri pesawat tua, dalam kabinnya juga sempit (mirip Ryanair) dan sama banyak yang jualan (kaya naek AirAsia juga).
Wizzair kayanya emang punya negara Eropa timur, jadi pramugari/a banyak yang mukanya kaya teroris Rusia. Bukan mendiskreditkan sih, tapi sungguh kalo naek Wizzair ini langsung berasa kangen sama pramugari/a LionAir yang manis-manis dan ramah.

Trus pas gw berangkat dari Malmo ke Budapest itu cuacanya emang jelek banget.
Aneh padahal udah akhir April, mestinya masuk musim semi tapi masih aja ujan terus dan suhunya 11 derajat Celsius.
Akhirnya di dalem pesawat emang ngalamin turbulensi beberapa kali, bahkan pesawat turun naek pas di ketinggian. Sampe ada beberapa penumpang yang teriak (anak-anak kecil juga ada yang nangis). Penumpang yang di sebelah sama belakang gw juga udah baca-baca doa, dan gw juga udah memanjatkan doa plus mengaku dosa sama YME.

Entah kenapa, tiap kali naek pesawat emang rasanya kita jadi lebih menyadari kalau kehidupan kita sangat rentan.
Tiba-tiba aja kita gak punya kontrol, dan menyerahkan hidup sepenuhnya sama pilot dan kinerja mesin pesawat.

Itu sih perasaan gw.
Tapi mungkin sama juga situasinya kalau naek metromini di Jakarta, menyerahkan hidup kita sepenuhnya sama supir dan mesin angkutan yang tua.

Pengalaman gw waktu naek Wizzair itu juga bikin gw kepikiran lebih berhati-hati dengan hidup gw. Sempet kepikiran, gimana kalau waktu itu pesawat jatuh dan tubuh gw berserakan di suatu tempat jauh dari keluarga dan gak ada orang yang bisa memastikan identifikasi gw.
Dan terus terang, kalo traveling sendirian kadang gw emang gak suka ngabarin siapa-siapa.

Kalau lagi di Eropa tentunya gak ada gunanya ngabarin ortu, apalagi buat mereka gak ada bedanya apakah gw lagi di Kopenhagen atau di Budapest.
Toh sama-sama aj lagi di luar negri, gitu sih pikiran mereka.

Paling yang gw kasitau temen deket gw di kelas, dan ibu kos.
Itu juga karena mereka yang paling sering pengen tau kegiatan gw.

Stelah kejadian itu (dan banyak kejadian near accident lainnya) baru deh gw sadar kayanya penting juga untuk bilang ke orang-orang kalo mau pergi ke suatu tempat.
Dan ngasitau orang gimana caranya kalo mau ngehubungi gw, or just to make sure I was okay.



Friday, April 20, 2012

:: story from graduation day ::

Dear all,
posting ini sebenernya posting lama (yang gw taro di bLog satu lagi, tapi hidden : )
stelah gw baca-baca lagi ternyata mayan bagus juga, jadi gw share disini ^^


tertanggal 2 Agustus 2011

Akhirnya momen yang ditunggu selama ini dateng juga, yaitu acara wisudaan di kampus karena program masterku ini International Health di Kobenhavns Universitet kelar Agustus ini.

Tapi rasanya bukan berarti semuanya selesai, bahkan ini bisa dibilang awal dari sesuatu yang lain, yang lebih menantang.

:: graduation day! ::
being the only Indonesian lady with batik dress in KU ^^
Buat gw, artinya ilmu yang didapat harus diaplikasikan dalam dunia nyata dan kenyataan gak selalu controlable seperti dalam paper yang kita tulis atau exam yang bisa kita pelajari bahan-bahannya sehari sebelumnya.

Tentunya, pas hari wisuda, semua orang harus seengga-engga merasa bahwa ini adalah final dari usaha jerih payah dan perjuangan kita selama satu tahun menempuh program master, bla bla bla. Tapi gw mencoba untuk mengikuti arus optimisme dari temen-temen gw, walopun sebenernya dalam hati masih banyak hal yang kepikiran, seperti contohnya ::

1. Abstrak thesis gw keterima di European Congress of International Health di Barcelona.
Yang artinya mesti nyiapin presentasi poster, terlebih ini menyangkut skala internasional - jadi harus seriusan! Meanwhile, gw belum ngerjain apa-apa karena baru balik dari sommer holiday. Bahkan nulis blog untuk rekap cerita liburan gw aja gak sempet!


Narsis mejeng depan poster di CCIB Barcelona, sama supervisor dari KIT, Amsterdam
*Yay!* my first international conference :-)

2. Pengen publish article karena a) menurut supervisor thesis gw worth to publish, b) sejujurnya gw merasa kalo itu gak dipublish ampir-ampir gak bisa dipake sama orang in practise.

3. Keinginan hati gw yang terdalam tentu aja menyelamatkan dunia, lebih spesifik lagi menyelamatkan bangsa Indonesia tercinta dari keterpurukan, kebodohan, kemiskinan, belenggu pemimpin yang zalim dan tidak mengikuti amanah.

Pokonya gw sedih kalo baca berita-berita tentang tanah air.
Apalagi liat komentar orang-orang, gw bisa merasakan dan memahami bahwa rakyat menjerit dan menangis, tapi pemimpinnya seakan-akan ada di belahan dunia lain dan gak peduli sama apa yang terjadi di lapangan.

Sementara gw tau bahwa banyak anak-anak bangsa seperti gw, yang udah menempuh pendidikan tinggi diluar negri- banyak yang males balik ke Indonesia karena putus asa mau ngapain disana.
Tenaga kerja lulusan luar negeri gak selalu dihargai, juga ke-idealis-an mereka gak selalu bisa diterima dalam dunia kerja sesungguhnya.

Karena di dunia kerja Indonesia, kadang bukan kejujuran atau kerja keras yang dihargai, tapi mereka yang bisa 'mengambil hati' atasan atau 'ikut aturan main' yang bisa bertahan.

Sedangkan, jauh sebelum gw belajar ke luar negeri dan mengenal bermacam-macam etos kerja di negeri orang- orangtua gw sudah mengajarkan dan menekankan bahwa :

1. Harus rajin dan kerja keras
" Gak ada anak dari keluarga kita yang males atau bodo."
Itu dia perkataan dari orangtua yang selalu gw inget, dari jaman gw kecil.

2. Harus belajar bertanggung jawab sama keputusan sendiri dan gak ikut-ikutan orang laen.
" Emangnya kalo orang laen nyebur ke sumur, kamu mau ikutan juga ? "
Itu perkataan orangtua yang selalu gw inget, pada saat orang laen di kelas nyontek pas ujian, gw gak pernah mo ikutan!
Karena gw menghargai hasil kerja keras dan usaha sendiri, bukan menghargai nilai hasil contekan!

Dan pada saat thesis gw lulus dengan nilai 10 (out of 12) gw gak merasa itu sesuatu yang beyond expectation. Karena toh I put a lot of efforts on it. Juga karena gw tau itu bukan hasil karya ilmiah gw semata, tapi karena ada banyak elemen kemanusiaan disana; ada airmata ibu-ibu yang kehilangan bayinya, yang kehilangan suaminya, yang berjuang mencari akses pengobatan, juga menghadapi stigma dan diskriminasi.

Sekarang setelah gw belajar di beberapa tempat diluar negeri, terutama Belanda dan Denmark;
gw bisa bilang bahwa nilai kerja keras dan kejujuran itu 'eternal' (=valid for all time, essentially unchanging) kalau orang mau maju, dimana pun, kapan pun.

Pada saat gw di Belanda, rasanya gw seperti menempuh perjalanan menembus waktu dimana pendahulu-pendahulu kita, tokoh yang merintis kemerdekaan bangsa RI- yang juga menempuh pendidikan di negeri ini.
Sekarang gw ngerti rasanya jadi mereka. Mereka pasti sedih kaya gw, karena ngeliat bahwa disini segalanya serba maju, kehidupan serba enak dan nyaman (walopun gak selalu enak dan gak selalu nyaman karena cuacanya jelek). Sedangkan di tanah airnya, rakyatnya sendiri miskin dan terjajah. Bahkan sampe masa sekarang menjelang HUT Kemerdekaan RI ke 66- masih aja tuh rakyat kita terjajah sama pemimpinnya sendiri.

profil RA Kartini ini ada di Tropenmuseum, Amsterdam
serasa kembali ke jaman lalu!

Kerja keras dan kejujuran.
Itu aja yang nilai yang emang penting untuk sebuah kemajuan.

Belanda dan Denmark bukan negara yang kaya akan sumber daya alam.
Mereka gak punya tambang mineral, minyak bumi, batubara, gas alam, ataupun perkebunan kelapa sawit/ kopi. Cuacanya juga ampir selalu jelek sepanjang tahun, jadi sayur mayur dan buah harus di-ekspor dari negara laen yang lebih hangat (Italia, Spanyol, Yunani).
Tapi bisa dibilang di kedua negara ini kerja keras dan kejujuran sangat dihargai.

Tiap kali musti naek sepeda, padahal cuaca 14 derajat (Celcius) dan ditengah ujan- rasanya gw mau nangis. Tapi pada saat yang bersamaan ngeliat temen-temen gw yang laen (yang dari Belanda) dan mereka cuek-cuek aja tuh. Bahkan anak-anak kecil juga biasa aja naek sepeda ditengah ujan, dengan terpaan angin.

Pernah suatu saat gw jalan ama temen baek orang Belanda, dia udah sering banget ke Indonesia untuk keperluan riset maupun jalan-jalan. Dan gw bilang, kalo cuaca jelek kaya gini, orang Indo gak akan jalan keluar, kita pasti tinggal di rumah dan bobo.
Trus dia bilang: 'Yeah but you (Indonesian people) sleep all the time.'

Emang bener sih, sebrapa sering kita liat orang kantoran tidur bahkan pada saat jam kerja?
Kalo disini, orang malu kalo ketauan korupsi waktu pas jam kantor!
Bahkan gw liat temen-temen gw tuh malu kalo buka Fb pas waktunya di sekolah atau pas lagi pake pake komputer sekolah. Buat mereka kalo pas lagi di sekolah ya waktunya belajar, bukan maen-maen yang laen.

:: Selanjutnya soal kejujuran ::
 
Di Kopenhagen, temen kuliah gw ilang kalung emas-nya dikelas seminggu sebelumnya.
Dia bahkan gak sadar kalo kalung emas-nya ilang disitu.
Lalu seminggu setelahnya, ada petugas kebersihan yang masuk ke kelas dan nanya;
" Kalian ada yang kehilangan kalung? Karena gw nemu ini di kelas pas bersih-bersih."

Gw salut sama kejujuran orang Denmark!
Bahkan bisa diliat kalo di museum-museum Kopenhagen namanya pajangan koleksi antik gak selalu dikasi tali pembatas. Karena mereka percaya kalo orang gak akan ngapa-ngapain juga tuh koleksi (gak akan dipegang, apalagi dibawa pulang).
Sayangnya, banyak turis (Asia terutama) yang menyepelekan rasa kepercayaan ini, dan mereka seenaknya aja megang-megang koleksi antik usia ribuan taun itu, padahal udah dikasitau gak boleh!

Refleksinya, stelah lama tinggal dsini dan merasakan bahwa nilai-nilai yang gw anut lebih relevan dibanding kalo gw tinggal diluar negri (sayangnya)- gw jadi males balik Indo.

Sejujurnya, gw tetep cinta Indonesia! Bahkan ada suatu rasa yang kuat dalam hati gw, mungkin sudah ditaruh sama Tuhan, bahwa segala ilmu yang gw peroleh bisa dipake untuk membangun bangsa RI. Tapi saat ini gw merasa pesimis, apakah gw yang masi muda ini bisa dipake dalam rencanaNya.

Tapi lalu dalam Sunday Service di Kopenhagen, pendeta-nya mengingatkan tentang cerita Musa, yang dipanggil Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel dari penjajahan Mesir.
Dan dia juga merasa pesimis, karena waktu itu dia masi muda, dan juga gak pinter ngomong etc.

Pesannya satu aja :  kalau Tuhan sudah punya rencana, apa pun pasti terlaksana.

Entah lewat gw yang masih muda ini, atau orang lain... Kita lihat saja nanti di masa depan yah.

Tuesday, March 20, 2012

Lagi :: Presentasi EM

Minggu kemaren ngebantuin (lagi) presentasi Erasmus Mundus, kali ini di Graha Sanusi Unpad. 
Walaupun saya termasuk lulusan Unpad, sayangnya cuman sebentar ngerasain Dipati Ukur (waktu ospek doang sama wisudaan), akibatnya saya emang gak ngerasa bonding sama Unpad Dipati Ukur.

Jatinangor buat saya lebih feels like home, biarpun dulu masih gersang, jauh dari kota, gada bioskop/ mall. 

Anyway, yang terasa berbeda saat presentasi EM kali ini dibanding yang terakhir kali di Hilton adalah . . . kerapihan organizer-nya/ panitia acaranya.

Waktu di Hilton akhir tahun kemaren memang presentasi EM sebagai bagian dari Holland Education Fair (HEF) 2012. Panitia-nya rapih banget organized acaranya, kita dari EM dikasih waktu 30 menit untuk ketemu audience: 15 menit untuk presentasi tentang beasiswa EM, lalu 15 menit untuk tanya jawab.
Saya rasa waktu itu audience yang dateng juga puas, karena materi yang ingin dipresentasikan tersampaikan, tapi juga kalau belum tercover masih dibantu oleh sesi tanya jawab.
Kalau dirasa kurang juga masih bisa menemui alumni EM di booth, dan bisa dapet flyer keterangan tentang beasiswa EM dan Uni Eropa.

Sedangkan kejadian di Unpad kemaren buat saya terasa gak profesional.
Memang sih panitia acaranya anak-anak kuliah, mereka mungkin masih perlu banyak belajar nanti ke depannya.

Begini ceritanya. . .
Seminggu sebelumnya, panitia memang sudah memberitahu bahwa akan ada presentasi tentang beasiswa di Grha Sanusi dan Erasmus Mundus dikasi kesempatan untuk presentasi, juga ada booth (standar ya kalo ini).

Saya menyanggupi permintaan untuk ngebantu presentasi EM di Unpad.
Lalu dihubungkan dengan seorang panitia sebagai kontak person.
Sehari sebelumnya, sudah dikonfirm lewat e-mail dan juga lewat SMS bahwa presentasi EM akan berlangsung sekitar jam 10an.

Pada hari H, saya tiba di Grha Sanusi Unpad jam 0945, ketemu dengan panitia.
Cek apakah mereka sudah punya slide untuk presentasi- ternyata sudah dan saya duduk dengan manis siap untuk dipanggil.

Ternyata jam 10 lebih baru selesai pidato pembukaan oleh Dekan FE Unpad, lalu tiba-tiba ada moderator (yang juga stand up comedian, gak tau deh siapa) dan memanggil beberapa orang perwakilan dari beasiswa, tapi gak disinggung sedikit pun soal Erasmus Mundus.

Bingung deh, lalu saya menanyakan ke panitia dan juga kontak person saya yang sudah menghubungi sehari sebelumnya.
Ternyata presentasi EM dipindah ke jam 1300 oleh panitia, kontak person saya juga gak tau soal itu.

Saya agak kecewa, karena sudah punya janji sekitar waktu makan siang, juga karena sudah mengusahakan on time tapi ternyata koq diundur tanpa pemberitahuan.
Lalu panitia minta maaf bla bla bla. . . .  saya bilang 'ya gapapa sih kalau saya dapet slot siang juga gak masalah. Jam berapa pun gak masalah. Tapi koq gak diberitahu sebelumnya, jadi saya keburu bikin janji sama orang laen'.

Bukan masalah minta maafnya, tapi juga profesionalitasnya, tolong ke depannya jadi masukan supaya gak terulang lagi seperti ini. Itu deh masukan yang saya bilang ke panitia.

Lalu saya bantu kolega dari EM (yang balik jauh jauh dari Denmark untuk bantu-bantu di Unpad, padahal dia alumnus ITB) di booth Erasmus Mundus, menjawab pertanyaan adik-adik yang tertarik soal beasiswa dan membagikan flyer.

Panitia bilang bisa memajukan slot presentasi EM dari jam 1300 jadi jam 1145.
Yauda deh pikir saya, seengga-engganya jadi gak telat banget ke janji berikutnya.

Lalu tiba-tiba jam 1130 lebih, panitia menghampiri saya dan bilang untuk maju aja ke depan sekarang karena waktunya kosong dan bisa diisi presentasi EM (?!?!)
Saat itu saya masih di booth juga melayani beberapa orang yang bertanya.

Jadi buru-buru deh saya maju ke depan, untuk presentasi.
Juga mengajak kolega saya siapa tau sempet tanya jawab.

Ternyata dengan slot waktu 10 menit, mepet banget waktunya bahkan untuk menyampaikan materi tentang beasiswa EM. Boro-boro ada quiz seperti waktu di Hilton, tanya jawab aja gak sempet.
Udah gitu slide presentasi belum beres, panitia di belakang udah ngasi tanda kalau harus di-cut karena waktu presentasi udah habis.
Daripada nanggung, saya bereskan saja presentasinya- biar audience juga gak kecewa dikasi tau cuman stengah stengah. Sebodo amat deh sama panitia, siapa suruh ngasi slot mepet.

Beres presentasi, saya sempet bilang kalau slot 10 menit presentasi tuh mepet banget, jadinya sori aja deh kalo molor karena daripada materi gak tersampaikan.

Panitianya malah bilang, ' Iya maaf soalnya kalo kelamaan kita takut orang-orang jadi bosen.'

What?!?!?
Gak ada yang bosen selama presentasinya masih in track dan rentang perhatian orang itu kan 20 menit.
Lagian slide presentasi EM penuh dengan gambar-gambar hasil traveling alumni EM :)

Padahal sebelumnya ada presentasi ngalor ngidul tentang beasiswa Djarum (emang sponsornya pabrik rokok . . . ckckck) yang lebih lama dari 20 menit dan entah isinya tepat sasaran gak.

Untung beasiswa ku dapetnya dari pemerintah Uni Eropa, jadi bebas deh kalo mau kampanye anti rokok juga gak merasa berkhianat ^^

Meladeni pertanyaan adik-adik saya tentang beasiswa Erasmus Mundus, bikin saya teringat ke masa lalu saat saya gigih menjadi fakir beasiswa : )

Saya bilang sama mereka, jaman dulu saya masukin aplikasi ke mana aja, mulai dari AusAID, USAID, Chevening, DAAD, NFP/Neso - pokonya mencoba segala macam cara menuju Roma, sampe akhirnya berjodoh dengan Erasmus Mundus di tahun 2010.

Melihat muka mereka yang jauh lebih muda (dan juga polos serta lugu .. hehe) bikin saya jadi ingin memotivasi mereka kalau kuliah S2 di luar negri itu sangat menyenangkan.
Gak traumatik seperti kuliah S2 disini yang bikin kita males ketemu dosen, atau tugas thesis yang bikin stres (thesis diluar juga bisa bikin stres, tapi dalam kadar sewajarnya).

Dengan kuliah diluar kita bisa menikmati interaksi dengan temen-temen dari luar, belajar membangun networking (secara global :) punya pengalaman international dan tentu aja kesempatan traveling. It's priceless hey!

Saya juga membagikan beberapa kartu nama ke adik-adik yang ingin tau lebih jauh soal travel blog saya, hanya demi teaser tentunya.

Mudah-mudahan saat melihat foto dan cerita jalan-jalan di luar, mereka juga bisa lebih semangat untuk memburu beasiswa EM ^^

Buat yang ingin tau lebih banyak soal beasiswa Erasmus Mundus, bisa masuk ke link dibawah- dirintis oleh para alumni EM Indonesia.

http://emundus.wordpress.com/


Good luck !
Your Fonts - Font Generator