Been so busy with all the assignment but still I am enjoying my life in Amsterdam so far !
Weather start to get cold these days (like 9 C at mid day) but I don't mind as long as it's not raining.
However, still manage to plan trip during Christmas holiday to Malta.
Yay!
Here's a video I'd like to share to all of you:
It's about our one beautiful planet called Earth :)
Enjoy !
Saturday, November 20, 2010
Tuesday, September 7, 2010
Brussel - Bordeaux - Basel (BBB)

Bruxelles
Ternyata gak perlu beli tiket karena dari station Centraal bisa walking distance ke pusat kotanya. Karena waktu transitnya bentar, muter-muter 3 jam di sekitar Grote Markt ampe kawasan Notre Dame cukup dengan jalan kaki.
Yang lumayan adalah tiket dari Brussel centraal station ke Charleroi aerport, pertama mesti pake train dulu.
Nyampe station-nya nyambung lagi pake bus ke Charleroi L'aeroport.
Tapi emang jauh banget & untungnya transport di Europe (or I'd say Belgium) yang emang gampang diakses sama turis (palagi turis cewe yang traveling alone kek gw) cukup nyaman dan rasanya gak nyesel bayar mahal.
Anyway, I love Belgium, cowo-cowonya cakep dan ramah.... begitu nyampe station, udah digodain ama tukang jual waffle (waffle Belgia terkenal enak rasanya, tapi waktu itu beli cuman dengan alasan laper.... belum sarapan & nyari harga yg ekonomis tapi kenyang).
Trus, begitu salah naek train, ada cowo yang ngasitau klo sebaiknya naek train yg itu aja karena train ini delay bla bla bla.
Je ne parle français trés bien sedangkan informasi yang kedengeran ama gw pake bahasa prancis, so... baek jg itu cowo ngasitau gw, tampang turis dan kliatan get lost kali ya.
On a journey to Charleroi (or Prancis bacanya 'Sha-le-roa' ... huhuhu... sounds gimana gitu...) sedang enak-enak liat pemandangan lewat jendela bus, gw digodain (lagi) ama cowo-cowo 1 mobil.... sebagai cewe Asia, rasanya pasaran gw di Belgium naek nih...
Bordeaux

Olalala.. Bordeaux is a beautiful city of wine.
Nyampe sini langsung disambut perfect weather , 25 drajad celcius gitu lohhhh...
Langsung perlengkapan cardigan + jaket dilepas deh.... maklum, pas brangkat dari Jerman tuh masi 14 drajad.... Ah Jerman, betapa kejamnya engkau padahal belum juga masuk autumn.
Anyway, gw slalu jatuh cinta sama Prancis, terutama bagian selatan.
C'est pourquoi j'essaye d'apprendre le français (=artinya 'makanya gw blajar bhs prancis.... dikit)
Tapi nyampe sini, sebelom ngobrol ama orang, kalimat andalan gw adalah:
'Excusez moi, parlez vous Anglais ?"
Begitu dia jawab: "Oui" langsung deh nyerocos pake Inggris....
Duh.... maafkan guru prancisku.... tapi kadang berguna juga, karena hari terakhir gw sempet gaol ama anak kecil umur 5 tahun, mais elle ne parle pas anglais, jadi terpaksa gw mencoba untuk praktek prancis gw (yg payah).
Bahkan lebih hebat lg, waktu lagi nongkrong malah ada orang Prancis yang nanya alamat sama gw! (dan karena udah stay di Bordeaux selama beberapa hari akhirnya bisa gw jawab ... huhuhu... not so bad at all).
Sekarang soal transport.
Ticket untuk 1 kali jalan harganya 1.4 € (berlaku selama 1 jam, pake transport apa aja : bus, tram) tapi kalo beli tiket untuk 10 x jalan harganya 10.70 € (jelas lebih efisien kalo qta bakal 10 x jalan selama stay di Bordeaux).
Lebih ekonomis lagi kalo qta tinggal let say selama 5 hari tapi kira-kira bakal pake tiket lebih dari 10x jalan - mending ambil yang 7 jours (berlaku untuk 7 hari) karena harganya sama ajah 10.70 € (klo punya kartu mahasiswa/ ISIC bisa dapet tarif reduit).
Kontroler yang ngecek tiket selama di Bordeaux 5 hari sih qta gak ketemu yah.... makanya pas hari terakhir mulai deh maleus validasi tiket - mesin validasi ada di tram/bus, mstinya tiap masuk divalidasi.

Hampir semua tempat, or sudut kota di Bordeaux bagus.
Ini juga termasuk UNESCO World Heritage Site, tapi kata temen gw sih baru berapa tahun belakangan.
Mereka (daerah Bordeaux, province Aquitaine) produksi batu limestone khusus yang kalo dipake untuk material bangunan kokoh banget.
Bisa diliat kalo bangunan disana rata-rata pake batu ini.
Makanannya juga enak-enak, orang Prancis gitu loh... wisata kuliner disana rada gawat, palagi buat cewe, karena banyak pattiserie (maupun makanan dessert lainnya) yang mengancam diet para cewe.
Ugh!
Tapi karena gw underweight, katanya bole tinggal dsana selama 1 tahun untuk menggemukan diri =D
Cowo prancis, as usual romantique... tapi katanya (kata temen gw) kadang mereka pemalu juga.... makanya mereka butuh wine kalo mau pedekate sama cewe.
Hmmm.... gitu ya....
Setelah beberapa gelas wine, mereka baru bisa pede kalo mau deket ama cewe.
Orang Prancis pada umumnya tau apa wine yang bagus, wine yang cuocok klo makan spicy food, or diminum bareng cheese.
As souvenir (biasalah orang Indo kan wajib hukumnya beli oleh-oleh) gw juga beli wine. Tapi minta dipilihin sama temen gw - judulnya 'Grand Vin de Graves - Pessac Lèognan dari tahun 2005.
"It's a good year" kata dia.
Maksutnya "good year" adalah taun itu bagus karena hujannya dikit, banyak matahari, jadi anggur yang diproduksi taun itu rasanya enak (dan mahalll, biasanya).
Lanjut, orang Prancis di Bordeaux juga suka ngumpul ama temen-temen.
Karena banyak uni disini juga bisa dibilang kota studen/ mahasiswa.
Biasanya kan studen gak punya banyak duit, jadi gaya nongkrongnya beli minum (bir lebih murah) lalu nongkrong di view yang asik... contohnya daerah deket Pont du Pierre ... palagi klo malem dsana emang asik & keren untuk nongkrong.
(Tapi banyak angin juga, deket laut kan).
Kalo orang yang dewasanya- karena uda punya banyak duit, biasanya mereka nongkrong di restaurant- yang menengah ke atas biasanya invite temen untuk diner. Pasti selalu minum wine (udah makan malem) wajib dah hukumnya kalo di-invite bawa wine beberapa botol untuk dinikmati bareng.
Sebelum masuk main course, ada appetizer dulu. Kadang appetizernya berupa buah atau keju.... (ah french banget sih) keju-nya mesti dinikmati sambil minum wine juga... -
Lanjut, hal menarik tentang Bordeaux, katanya (kata temen gw) orang prancis disini sedikit 'preserved' alias sedikit gak biasa deket ama strangers.
Tapi waktu nongkrong deket Mirror d'eau qta sempet kenalan ama couple dan si cowonya asal Toulouse.
Orang dari Toulouse biasanya sih lebih ramah, mau nanya-nanya orang.... mirip orang Sunda kali.... hahaha...
Setelah 5 hari yang menyenangkan (karena cuaca mendukung, makanan enak & temen jalan yang asik) akhirnya mesti lanjut balik ke Jerman...
Basel
Sempet transit di Basel, Swiss cuman beberapa jam.
Disini ada tiket terusan berlaku untuk 1 hari 'Tageskarte Basel plus Agglomeration'- bisa dipake langsung dari airport ke pusat kota (cuman 20' juga pake bus) harga tiket 8.50 CHF.
Pilihan paling ekonomis terutama karena gw paling sering nyasar kalo jalan sendiri (walopun pake peta) lagian tar kan mesti balik lagi ke airport untuk connecting flight.
Pengeluaran terbesar gw disini adalah di resto Thai express karena ngidam green curry - yang rasanya mirip sayur lodeh- seharga 14 CHF ! (=124rb rupiah)
Padahal kalo beli pom doner bisa cuman 5 CHF, tapi mulai sick of makanan europe... Roti selalu murah sih... tapi namanya juga orang Indo, slalu ajah pengen ketemu nasi.
Basel kotanya bagus, cuaca pas lagi disini juga masi panas skitar 25-27C
trus tiap kali panas gini (di Europe) slalu banyak orang kluar rumah dan nongkrong buat berjemur.
Kali ini tempat yang exist buat jemuran adalah dipinggir sungai Rhine.
Asik juga, sungainya bersih, malah bisa dipake berenang.
Jadi inget sama Cikapundung.....

Basel rasanya cukup mewakili Swiss, kotanya bersih, penduduknya makmur (ampir gak nemu gelandangan rasanya).
Mereka umumnya bicara bahasa kalo gak Prancis, Jerman, ato Inggris (ato bisa ketiganya).
Walopun banyak landscape bagus disini, tapi rasanya gak terlalu impresive... terutama mungkin karena gw udah terlanjur jatuh cinta ama Bordeaux.
J'adore ça . . .
[foto-foto laennya menyusul deh ya]
Tuesday, August 3, 2010
Kiluan :: Hidden paradise & dolphins attractions
This is one of the series of Indonesia :: dangerously beautifulThis trip was out of plan actually, but since I did not have to go to work anymore (already resigned last week)
I thought this suppose to be not a bad idea.
About Kiluan, I did not heard much about it.
So I try to google some information, and this is one of the websites that I found
They put a very nice picture in a front page,
and then there's information about dolphins inhabitation.
I didn't think twice to sign up for the trip, and it's a favorable decision afterall.
The team who arrange the trip, I already known them from previous trip to Krakatau, had contacted the member to inform about the itinerary and budget (which was on the good price) also about meeting point etc.
We also settled to go for camping instead of stay in a rent room- hope the weather will be nice -
It takes approximately 6 hours with public transport (bus) from Bandung to Merak port- our meeting point
(ticket price 50,000 IDR for air conditioned, non-economy bus)
Almost a smooth ride with a bit of traffic jam at Cipularang.
We waited for others members for a while then depart from Merak to Bakauheni port
(ferry ticket cost 10,000 IDR+ 8,000 IDR for upgrade to air conditioned room).
Nearly 3 hours to cross the strait with ferry boat, it was ok since I got asleep instantly.
Then another 6 hours to reach the dock located at Kiluan bay,
where our small fishing boats took us to Pulau (=island) Kelapa.
All the way to this place, it's well worth it.
The beach is so beautiful, with white sands and clear water, also perfect weather.
Moreover, there's nobody but us. Feels like have our own private beach.
Soon after we fixed the tents, everybody dipped into the water etc, you know how it's going (it's on the pics anyway).
It was raining hard a while at night, and some of us a bit worried in the morning for the weather.
As we hoped come this far to see the dolphins, but they wouldn't show up when it was not a perfect weather.
Early boat gets the dolphinsGot up early in the morning and departed with the fishing boat to target zone before 0630,
we had not seen any of this lovely creature until 30 minutes later.
That's the groups of black dolphins, with smaller sizes but higher jumpers.
Then the grey dolphins came around, they are bigger, look very friendly and splash around the boat closely.
I don't know how to describe this experience, 'Amazing' is certainly not enough word to describe it.
An hour to snap these terribly cute mammals, then more boats joined the hunt and we decided to go back to the island. They (the dolphins) wouldn't pop up anyway when there's too much boat on the site.
The combination of amazing site plus dolphins attractions, witty companions, the weather and such experience :
I called it 'a perfect gateaway'
Budget spent 370,000 IDR
(not including transport Bandung to Merak, approx 100,000 IDR)






Saturday, July 3, 2010
Amsterdam part 2 : way to learn history
So far, I have found two ways of learning :
One. By reading books
Two. Through traveling.
And I can tell you which one is more interesting.
Don't get me wrong, books always fascinate me in their own ways.
But I would rather to experience the second option, cause I like people, I like to hear the history from them, how their perspective about something, and the different languages that they use.
It's about the people that I meet along the way, not just the place.
Of course nature could speak for itself. I mean... you know how it feels when you're sitting in the beautiful island with private beach ... when it's so relaxing and peaceful.
I was taking my flight back from Bologna to Dusseldorf when I saw this ranging Alpen beneath my small window.
It was A-W-E-S-O-M-E.
But I thought it would be perfect if I have local people who told me what it's all about.
Di Tropenmuseum Amsterdam (tempatnya pas di sebrang uni gw, Royal KIT- dan studen bisa masuk lewat bagian belakang pake kaart, which is cool I thought :-) qta bisa ngeliat barang-barang peninggalan hasil jajahan Belanda di Indonesia selama 350 tahun.
And a lot of those, really really amazed me; ada burung cendrawasih (diawetkan), terumbu karang yang bagus dan unik, sampel tanaman yang ada di Indo, miniatur kapal tradisional salahsatu suku di Sulawesi, pokonya koleksinya kalo ditotal mungkin ribuan jumlahnya.
Temenku orang Bangladesh nanyain; "Emangnya elu dijajah Belanda berapa lama?"
Jawab gw: "Tigaratus limapuluh taun. Can't you believe it?"
Dia kaget, katanya: "Yang bener?!? Negeri elu kan gede banget dan Belanda cuman segede gini. Gak kebalik tuh, negeri elu yang ngejajah Belanda ?"
So probably it was a joke at that moment.
Tapi pulangnya perkataan dia bikin mikir juga, kenapa negara yang segitu kecil (dan terletak dibawah laut) bisa ngejajah Indonesia yang luas banget, begitu lama sampe 3 setengah abad.
Salahsatunya mungkin, karena pemerintah Belanda (jaman dahulu kala) sadar kalo mereka gak punya resource yang cukup untuk ngebangun negeri-nya, lalu solusinya adalah mereka mesti cari resource diluar wilayahnya.

Terutama diluar Eropa, karena negara seperti Portugal dan Spanyol udah mulai kolonisasi jauh duluan sebelum Belanda.
Alasan kedua, negeri Belanda sendiri sebenernya gak enak-enak amat untuk hidup.
Iklimnya dingin dan jaman dulu kan gak ada listrik untuk ngangetin ruangan, gas untuk masak makanan etc, yang mungkin bikin mereka mikir untuk kolonisasi ke tempat yang lebih menyenangkan untuk hidup (?!?)
Ini analisis gw semata sih.
Mungkin sama seperti alasan pemerintah Inggris meng-kolonisasi India pada jaman itu dengan 'British East India Company'-nya.
Kenapa Indonesia bisa dijajah begitu lama juga karena letaknya yang begitu luas, dan pemerintah yang disebelah barat tidak bisa berkoordinasi dengan pemerintahan yang disebelah timur (karena jaman itu belum ada sarana komunikasi seperti telefon, e-mail, ataupun Facebook, sehingga belum bisa update status :-)
Yang ujung-ujungnya bikin politik 'devide et impera' alias politik memecah belah a.k.a adu domba berhasil sustain untuk sekian lama (padahal domba tuh binatang yang cinta damai, asal usul aslinya domba bukan untuk diadu karena terlalu baik hati).
Kembali ke topik yang agak serius tadi.
Kenapa juga bangsa Belanda berhasil: Again, setelah analisis gw yang sebenernya gak terlalu evidence-based, tiba pada kesimpulan bahwa sebenernya situasi hidup yang tidak nyaman (kurang resource di negara sendiri, cuaca dingin tidak bersahabat) bikin orang Belanda lebih berusaha untuk kerja keras.
Gak seperti qta di negara tropis bisa nyantai duduk-duduk dibawah sinar matahari, dan waktu musim panas atau musim ujan suhunya kurang lebih sama, di Belanda kalo orang santai gak nyiapin perbekalan untuk musim dingin, kemungkinan mereka akan mati kelaparan atau kedinginan pas musim dingin tiba.
(Ini perlu dibayangkan setting sekitar abad 15, dimana bangsa Belanda memulai kolonisasi ke Asia, jaman itu kan mereka belum punya penghangat ruangan, kulkas, supermarket, dan transportasi 24 jam kaya sekarang).
Kesimpulanku sampai pada suatu analisis sederhana tentang bangsa Eropa, tapi bukan generalisasi, kalo orang Jerman dan Belanda memang tipe pekerja keras. Artinya kalo kerja bener bener keras (hardwork) tapi juga kalo pas waktu libur e.g ngambil cuti, mereka gak mau diganggu urusan kerjaan.
Tapi ini gak berlaku untuk orang Spanyol atau Italia, mereka cenderung lebih santai urusan kerjaan.
Ini juga sebabnya di Italia urusan waktu gak penting-penting amat (mirip jam karet di Indo kali ye...)
Kembali lagi ke soal Amsterdam, I really love it dan setelah balik Indo gw sempet ngobrol sama beberapa orang yang udah pernah ke Ams dan mereka bilang; "It must be good that you have a chance to visit Ams, as it's probably the best place to visit Netherlands."
I'm so totally agree with them.
Terutama juga karena gw kesana pas cuacanya lagi pas, beginning of summer jadi gak terlalu dingin tapi juga udah banyak sinar matahari.
At that moment Dutch people also more genial, ini kata orang juga, mungkin karena mereka kena sinar matahari jadi less depressed :-)
Owhya.... speaking about colonization, bagus juga mereka (negara yang dulunya punya jajahan, in this case Belanda) punya politik 'balas budi' untuk negara bekas kolonisasi (dalam kasus ini, Indonesia) dalam bentuk capacity building dan pemberian beasiswa.
Sekarang saatnya qta membangun lagi mental dan kapasitas sebagai bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajahan (*hah* bahasa gw sok banget sih :-) tapi sayangnya, anak-anak muda jaman sekarang sudah kehilangan idealis dan rasa nasionalis sebagai bangsa Indonesia. (gw termasuk anak muda jaman dulu, karena masih ada 'rasa' idealis dan nasionalis walaupun kadarnya hilang timbul seiring dengan berita di MetroTV tentang tidakadilan pemerintah, eg. kasus ariel-luna :-)
Belum lagi jaman sekarang mana ada yang meng-idolakan Jendral Sudirman atau pahlawan nasional seperti ibu RA Kartini (karena mereka gak pernah masuk infotainment juga)
Jadi bisa dibilang lagu tema (= theme song) untuk bangsa Indo jaman sekarang adalah ;
'mau dibawa kemana bangsa kita'
-hasil pelesetan dari lagu 'mau dibawa kemana hubungan kita'.

One. By reading books
Two. Through traveling.
And I can tell you which one is more interesting.
Don't get me wrong, books always fascinate me in their own ways.
But I would rather to experience the second option, cause I like people, I like to hear the history from them, how their perspective about something, and the different languages that they use.
It's about the people that I meet along the way, not just the place.
Of course nature could speak for itself. I mean... you know how it feels when you're sitting in the beautiful island with private beach ... when it's so relaxing and peaceful.
I was taking my flight back from Bologna to Dusseldorf when I saw this ranging Alpen beneath my small window.
It was A-W-E-S-O-M-E.
But I thought it would be perfect if I have local people who told me what it's all about.
Di Tropenmuseum Amsterdam (tempatnya pas di sebrang uni gw, Royal KIT- dan studen bisa masuk lewat bagian belakang pake kaart, which is cool I thought :-) qta bisa ngeliat barang-barang peninggalan hasil jajahan Belanda di Indonesia selama 350 tahun.And a lot of those, really really amazed me; ada burung cendrawasih (diawetkan), terumbu karang yang bagus dan unik, sampel tanaman yang ada di Indo, miniatur kapal tradisional salahsatu suku di Sulawesi, pokonya koleksinya kalo ditotal mungkin ribuan jumlahnya.
Temenku orang Bangladesh nanyain; "Emangnya elu dijajah Belanda berapa lama?"
Jawab gw: "Tigaratus limapuluh taun. Can't you believe it?"
Dia kaget, katanya: "Yang bener?!? Negeri elu kan gede banget dan Belanda cuman segede gini. Gak kebalik tuh, negeri elu yang ngejajah Belanda ?"
So probably it was a joke at that moment.
Tapi pulangnya perkataan dia bikin mikir juga, kenapa negara yang segitu kecil (dan terletak dibawah laut) bisa ngejajah Indonesia yang luas banget, begitu lama sampe 3 setengah abad.
Salahsatunya mungkin, karena pemerintah Belanda (jaman dahulu kala) sadar kalo mereka gak punya resource yang cukup untuk ngebangun negeri-nya, lalu solusinya adalah mereka mesti cari resource diluar wilayahnya.

Terutama diluar Eropa, karena negara seperti Portugal dan Spanyol udah mulai kolonisasi jauh duluan sebelum Belanda.
Alasan kedua, negeri Belanda sendiri sebenernya gak enak-enak amat untuk hidup.
Iklimnya dingin dan jaman dulu kan gak ada listrik untuk ngangetin ruangan, gas untuk masak makanan etc, yang mungkin bikin mereka mikir untuk kolonisasi ke tempat yang lebih menyenangkan untuk hidup (?!?)
Ini analisis gw semata sih.
Mungkin sama seperti alasan pemerintah Inggris meng-kolonisasi India pada jaman itu dengan 'British East India Company'-nya.
Kenapa Indonesia bisa dijajah begitu lama juga karena letaknya yang begitu luas, dan pemerintah yang disebelah barat tidak bisa berkoordinasi dengan pemerintahan yang disebelah timur (karena jaman itu belum ada sarana komunikasi seperti telefon, e-mail, ataupun Facebook, sehingga belum bisa update status :-)
Yang ujung-ujungnya bikin politik 'devide et impera' alias politik memecah belah a.k.a adu domba berhasil sustain untuk sekian lama (padahal domba tuh binatang yang cinta damai, asal usul aslinya domba bukan untuk diadu karena terlalu baik hati).
Kembali ke topik yang agak serius tadi.
Kenapa juga bangsa Belanda berhasil: Again, setelah analisis gw yang sebenernya gak terlalu evidence-based, tiba pada kesimpulan bahwa sebenernya situasi hidup yang tidak nyaman (kurang resource di negara sendiri, cuaca dingin tidak bersahabat) bikin orang Belanda lebih berusaha untuk kerja keras.
Gak seperti qta di negara tropis bisa nyantai duduk-duduk dibawah sinar matahari, dan waktu musim panas atau musim ujan suhunya kurang lebih sama, di Belanda kalo orang santai gak nyiapin perbekalan untuk musim dingin, kemungkinan mereka akan mati kelaparan atau kedinginan pas musim dingin tiba.
(Ini perlu dibayangkan setting sekitar abad 15, dimana bangsa Belanda memulai kolonisasi ke Asia, jaman itu kan mereka belum punya penghangat ruangan, kulkas, supermarket, dan transportasi 24 jam kaya sekarang).
Kesimpulanku sampai pada suatu analisis sederhana tentang bangsa Eropa, tapi bukan generalisasi, kalo orang Jerman dan Belanda memang tipe pekerja keras. Artinya kalo kerja bener bener keras (hardwork) tapi juga kalo pas waktu libur e.g ngambil cuti, mereka gak mau diganggu urusan kerjaan.
Tapi ini gak berlaku untuk orang Spanyol atau Italia, mereka cenderung lebih santai urusan kerjaan.
Ini juga sebabnya di Italia urusan waktu gak penting-penting amat (mirip jam karet di Indo kali ye...)
Kembali lagi ke soal Amsterdam, I really love it dan setelah balik Indo gw sempet ngobrol sama beberapa orang yang udah pernah ke Ams dan mereka bilang; "It must be good that you have a chance to visit Ams, as it's probably the best place to visit Netherlands."
I'm so totally agree with them.
Terutama juga karena gw kesana pas cuacanya lagi pas, beginning of summer jadi gak terlalu dingin tapi juga udah banyak sinar matahari.
At that moment Dutch people also more genial, ini kata orang juga, mungkin karena mereka kena sinar matahari jadi less depressed :-)
Owhya.... speaking about colonization, bagus juga mereka (negara yang dulunya punya jajahan, in this case Belanda) punya politik 'balas budi' untuk negara bekas kolonisasi (dalam kasus ini, Indonesia) dalam bentuk capacity building dan pemberian beasiswa.
Sekarang saatnya qta membangun lagi mental dan kapasitas sebagai bangsa yang merdeka dan bebas dari penjajahan (*hah* bahasa gw sok banget sih :-) tapi sayangnya, anak-anak muda jaman sekarang sudah kehilangan idealis dan rasa nasionalis sebagai bangsa Indonesia. (gw termasuk anak muda jaman dulu, karena masih ada 'rasa' idealis dan nasionalis walaupun kadarnya hilang timbul seiring dengan berita di MetroTV tentang tidakadilan pemerintah, eg. kasus ariel-luna :-)
Belum lagi jaman sekarang mana ada yang meng-idolakan Jendral Sudirman atau pahlawan nasional seperti ibu RA Kartini (karena mereka gak pernah masuk infotainment juga)
Jadi bisa dibilang lagu tema (= theme song) untuk bangsa Indo jaman sekarang adalah ;
'mau dibawa kemana bangsa kita'
-hasil pelesetan dari lagu 'mau dibawa kemana hubungan kita'.

Subscribe to:
Posts (Atom)
Cities I've visited
- Create your own travel map or travel blog
- Find cheap flights at TripAdvisor